STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Descendit In Inferna : Doktrin Turunnya Kristus kedalam Kerajaan Maut dalam Pengakuan Iman Rasuli
Gelar Yesus sebagai Kurios dalam Teologi Paulus, Pandangan Yesus serta Implikasinya bagi Umat Kristen Masa Kini
Tinjauan terhadap Praktik Pujian dalam Ritual Pengusiran Setan
Melantunkan puji-pujian saat melakukan ritual pengusiran setan (exorcism) merupakan praktik yang biasa dilakukan oleh umat Kristiani, termasuk pendeta. Praktik ini tidak hanya dilakukan oleh pendeta dari kalangan kharismatik tetapi juga dari kalangan injili. Biasanya para pendeta akan membentuk suatu tim pengusiran setan yang terdiri dari tiga, atau bahkan lebih, orang. Tim tersebut tidak hanya berfungsi untuk memegangi orang yang kerasukan atau membantu pendeta bila ada sesuatu yang dibutuhkan namun juga untuk menaikkan puji-pujian. Dari fenomena ini saja tampak pujian dipercaya memegang peranan yang cukup penting dalam ritual pengusiran setan. Walaupun praktik menyanyikan pujian ini masuk dalam daftar penting dan sudah biasa dilakukan oleh para pendeta ketika mengusir setan, sebenarnya ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dalam pikiran penulis. Pertanyaan ini muncul karena penulis merasa bingung: mengapa hampir di setiap ritual pengusiran setan selalu menyanyikan pujian? Apakah pujian memiliki fungsi dalam ritual pengusiran setan? Apakah menyanyikan pujian saat melakukan ritual pengusiran setan itu memiliki dasar yang alkitabiah? Dengan berdasar dari pertanyaan-pertanyaan di atas maka penulis tertarik untuk membahas peran atau fungsi pujian dalam ritual pengusiran setan dalam agama Kristen. Penulis pertama-tama akan membahas tentang mengapa pujian itu penting dalam pengusiran setan sekaligus mengupas dasar-dasar Alkitab di dalamnya. Setelah itu penulis akan membahas orientasi dan kuasa puji-pujian dalam pengusiran setan
Tinjauan terhadap Keunikan Genre Narasi dalam Perjanjian Lama beserta Penerapannya dalam Menafsirkan dan Mengkhotbahkan Narasi Hakim-Hakim
Kerajaan (Allah) dan Kebenaran-Nya: Sebuah Eksegesis terhadap Matius 6:33
Satu tema utama di dalam Injil Matius adalah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Banyak yang telah membahasnya dan berusaha untuk mengusulkan arti yang representatif dari tema penting ini. Artikel ini sekali lagi akan menguji tema ini dalam perikop yang spesifik dan konteks historisnya. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa arti dari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya ketika dipahami dalam konteks historis dari teksnya bisa berbeda dari pengertian yang selama ini diterima secara umum. Maka artikel ini dapat memberikan kontribusi kepada pemahaman yang lebih jauh dari tema penting ini
Tinjauan Kritis Terhadap Ekklesiologi Jurgen Moltmann Berdasarkan Ajaran Alkitab
Globalisasi, kemajuan teknologi, pluralisme, perubahan iklim, serta dampaknya terhadap masalah sosial, ekonomi, dan ekologi menjadi tantangan gereja masa kini. Namun kenyataannya, gereja belum menunjukkan peran aktual untuk menanggapi tantangan-tantangan tersebut. Keadaan ini membangkitkan pemikiran untuk memulihkan paradigma bergereja dengan melakukan reaktualisasi eklesiologi supaya gereja menunjukkan fungsinya yang sejalan dengan eksistensinya. Salah satu pemikiran berasal dari J¨¹rgen Moltmann, seorang teolog eskatologi yang ekstrim. Moltmann mengajukan eklesiologi yang bersifat mesianis, relasional, dan misioner. Moltmann berasumsi bahwa eklesiologi harus menyatakan peran mesianis gereja secara transformatif dan harus dapat menggerakkan gereja agar memerankan fungsi misionernya secara kritis, baik terhadap dirinya maupun dunia, agar transformasi itu dapat terjadi. Asumsi ini bersifat filosofis-empiris dan bertolak dari sebuah pertanyaan pokok: bagaimana gereja menjawab persoalan humanitas. Secara filosofis, Moltmann terpengaruh filsafat pengharapan eskatologis dari Marxisme humanistis dan mengintegrasikannya dengan teologi politis. Melalui integrasi ini, ia membangkitkan fungsi kritis eklesiologi agar memberi pengharapan kepada orang miskin dan terhilang. Pemikiran tadi menjadi dasar bagi Moltmann untuk membangun eklesiologi berdasarkan pandangan dunia panenteisme. Pandangan dunia ini tercermin dalam pendekatan eklesiologinya yang menjadikan hubungan perikoresis Allah Tritunggal sebagai model relasional gereja di dalam sejarah. Menurutnya, gereja harus berada di dalam sejarah Allah Tritunggal supaya menggenapkan misi transformatif Allah dan gereja harus menjadi tumpuan pengharapan bagi dunia. Moltmann membagi struktur eklesiologinya menjadi tiga bagian pokok, antara lain: korelasi eklesiologi dengan kristologi untuk memperlihatkan partisipasi gereja dengan Kristus; korelasi eklesiologi dan eskatologi untuk memperlihatkan partisipasi gereja di dalam Kerajaan Allah; dan korelasi eklesiologi dengan pneumatologi untuk memperlihatkan kepedulian gereja yang ditandai oleh empat tanda gereja humanistis, yaitu: kesatuan dalam kebebasan, am dan kemitraan, kekudusan dalam kemiskinan, dan apostolis dalam penderitaan. Pertanyaan pokok penelitian ini adalah, apakah eklesiologi Moltmann dapat menjadi solusi terhadap pergumulan eklesiologi masa kini? Melalui tinjauan kritis, ada dua masalah pokok dalam eklesiologi Moltmann, sebagai berikut: pertama, permasalahan dalam pandangan dunia eklesiologi yang bersifat panenteistis. Moltmann mengembangkan pandangan dunia panenteisme dari J. Boehme, J. von Schelling, dan W. Hegel. Kedua, permasalahan struktur eklesiologi, antara lain: korelasi eklesiologi dan kristologi tentang tensi eklesiologi yang bersifat dogmatis-etis; korelasi eklesiologi dan eskatologi yang bertendensi universalisme; dan korelasi eklesiologi dan pneumatologi yang berkaitan dengan kepedulian gereja terhadap persoalan kemanusiaan. Kesimpulannya adalah: eklesiologi Moltmann mengutamakan tanggung jawab gereja secara sosial; mengasingkan gereja dari TUHAN Allah yang menciptakan gereja; dan menjauhkan gereja dari landasan kebenaran, yaitu Alkitab
Studi Eksegesis Kitab Wahyu 21:1-4 dan Implikasinya bagi Konsep Mengenai Eksistensi Surga
Konsep "Datanglah Kerajaan-Mu Jadilah Kehendak-Mu di Bumi Seperti di Surga" dalam Pemberitaan Kerajaan Surga Yesus Kristus
Ketika Yesus datang ke dunia ini , Ia datang dengan sebuah misi. Misi tersebut membentuk dan mengarahkan seluruh kehidupan-Nya di dunia ini. Misi itu pula yang menjadi pekerjaan para murid-murid-Nya, yakni mereka yang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Sentral di dalam misi Yesus adalah pemberitaan mengenai Kerajaan Allah. Berita inilah yang banyak dijelaskan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan-perumpamaan-Nya serta berbagai perkataan-perkataan Yesus lainnya. Di tengah luasnya konsep Kerajaan Allah itu Yesus menyisipkan sebuah doa yang dikenal sebagai doa "Bapa Kami." Dalam doa tersebut ada sebuah frase "datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga." Apa yang menjadi signifikansi dari doa ini? Mengapa komunitas pilihan Yesus diajarkan untuk mengucapkan litani singkat dan sederhana ini? Terlebih lagi, apa hubungan doa ini -- terkhusus frase ini -- dalam pemberitaan Yesus mengenai Kerajaan Allah? Artikel ini berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertama akan digariskan pengharapan Kerajaan Allah di masa ketika Yesus memulai pemberitaan-Nya mengenai kerjaan Allah. Berikutnya pemberitaan Yesus mengenai Kerajaan Allah secara spesifik akan diuraikan. Lalu. doa "Bapa Kami," terkhusus frasa "datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" dibahas dalam terang gambaran besar Kerajaan Surga seperti yang sudah diberitakan Yesus. Akhirnya, implikasi dari wacana ini dituturkan
Relevansi Supremasi Kristus dalam Kolose 1:15-20 bagi Pelayanan terhadap Masyarakat Kristen Jawa.
Sebagai bagian dari wilayah Asia Kecil yang eksis pada zaman Greco-Roman abad pertama, masyarakat Kolose tidak dapat lepas dari pengaruh pluralisme dan sinkretisme pada masa itu. Dalam konteks masyarakat yang pluralis dan sinkretis tersebut, jemaat Kolose hidup, bermasyarakat, dan membudaya di sana. Tidak heran apabila kemudian didapati bahwa jemaat Kolose mulai terpengaruh untuk melakukan praktik-praktik sinkretisme yang sudah biasa terjadi di sana. Oleh karena itu, Paulus kembali menegakkan supremasi Kristus di tengah-tengah jemaat Kolose yang pluralis dan sinkretis tersebut. Sekalipun tidak secara langsung, melainkan melalui surat, Paulus mendeklarasikan bahwa Kristus adalah Tuhan karena Ia adalah Allah yang mencipta dengan menyatakan supremasi-Nya dalam penciptaan. Selain itu, ia juga mendeklarasikan bahwa Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat yang sejati dengan menyatakan supremasi-Nya dalam penebusan. Dengan demikian, Paulus ingin supaya jemaat kembali mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat yang sejati.
Ternyata, konteks jemaat Kolose yang demikian tersebut senada dengan konteks kehidupan orang Kristen Jawa di mana mereka hidup dalam konteks masyarakat Jawa yang pluralis dan sinkretis. Pluralisme masyarakat Jawa dibangun oleh rasa toleransi yang begitu tinggi terhadap sesama dalam kehidupan bermasyarakat yang berlaku secara universal dengan maksud untuk menjaga keharmonisan kosmos dalam tatanan keselarasan. Hal inilah yang kemudian memicu lahirnya sinkretisme dalam masyarakat Jawa di mana setiap kebudayaan baru, termasuk kepercayaan religius, diakomodasi dengan baik demi menjaga keharmonisan masyarakat dalam tatanan keselarasan. Sekali lagi, sekalipun mereka adalah orang Kristen, namun mereka dilahirkan dalam kebudayaan Jawa yang pluralis dan sinkretis sehingga paradigma tersebut—mau tidak mau—tetap melekat dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, deklarasi Paulus tentang supremasi Kristus yang menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang mencipta dan Allah yang menebus menjadi berita yang tidak hanya autentik, tetapi juga relevan dan sangat bermakna untuk dinyatakan dalam pelayanan terhadap masyarakat Kristen Jawa yang pluralis dan sinkretis sehingga mereka dapat kembali diyakinkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat yang sejati