STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Menuju Pendekatan Penginjilan dan Pemuridan yang Efektif kepada Kaum Lanjut Usia Tionghoa

    Get PDF
    Artikel ini membahas pendekatan penginjilan dan pemuridan terhadap kaum lanjut usia Tionghoa yang bersumber dari hasil penelitian yang dilakukan penulis semasa masih sebagai mahasiswa pascasarjana di Singapore Bible College tahun 2000. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan melakukan interviu mendalam kepada 14 hamba Tuhan yang melayani kaum lansia (14 gereja mewakili 7 denominasi) serta 28 orang lansia yang merupakan anggota persekutuan lansia dari gereja-gereja tersebut. Penelitian dilakukan di Singapura dengan dua pertimbangan: (1) terdapat kemiripan historis dan kultur budaya antara orang-orang tua Singapura dan Kalimantan Barat; dan (2) belajar dari gereja-gereja Tionghoa Singapura yang telah terlebih dulu menjangkau kelompok usia ini. Implikasi hasil penelitian tersebut adalah untuk gereja Tionghoa di Kalimantan Barat, tapi terbuka pula kemungkinan untuk diterapkan di gereja Tionghoa di daerah lain yang memiliki kaum lansia dengan latar belakang budaya, kepercayaan, bahasa, dan tingkat pendidikan serupa. Artikel ini dibagi menjadi empat bagian utama: Pertama, memahami kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh kaum lansia; kedua, tantangan didalam melayani kelompok usia tersebut; keteiga, kajian hasil penelitian akan pendekatan yang efektif dalam upaya penginjilan dan pemuridan; keempat, implikasi bagi pelayanan kaum lansia di Kalimantan Barat dan perkembangannya sampai saat ini

    Tantangan Media Sosial Bagi Kaum Muda dan Tanggapan Gereja di Dalam Pelayanan Pastoral

    Get PDF

    Eksegesis Kanonikal terhadap Kitab Ezra-Nehemia dan Implikasinya bagi Kepemimpinan Gereja Masa Kini.

    Get PDF
    Kitab Ezra dan Nehemia dalam kanon Ibrani merupakan satu kitab yang pada perkembangannya dipisah menjadi dua kitab yang berbeda. Eksegesis dengan pendekatan kanonikal melihat kedua kitab ini merupakan dua kitab yang berdiri sendiri dengan keunikan masing-masing meskipun ada pandangan yang berpendapat bahwa kedua kitab ini ditulis oleh pengarang yang sama, memiliki tema yang mirip, adanya faktor kesamaan literatur, urutan sejarah dan bukti sejarah. Berdasarkan persamaan tersebut, Ezra dan Nehemia merupakan pemimpin yang dipanggil untuk memulihkan tatanan kehidupan umat Allah. Ezra adalah seorang imam dan ahli Taurat yang berupaya mengembalikan ibadah dan penyembahan hanya kepada Allah Israel. Perannya sebagai pemimpin terlihat dari bagaimana ia dapat membangun kembali Bait Suci dan memperbaiki kehidupan umat Allah yang sesuai dengan perjanjian, salah satunya dengan memurnikan bangsa Israel dari perempuan kafir. Sedangkan Nehemia, tampil sebagai pemimpin yang mewakili kaum awam, seorang juru minuman raja yang dipanggil Allah untuk pulang ke Yehuda setelah mendengar kabar kehancuran tembok kota Yerusalem. Kepemimpinannya berdampak dalam segi fisik, yaitu pembangunan kembali tembok Yerusalem. Dengan peran mereka masing-masing, bangsa Israel dapat bangkit untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai umat Allah. Hal ini dapat tercapai karena keduanya saling bekerja sama dengan melakukan visi, misi, dan nilai-nilai yang Allah berikan sesuai panggilan mereka. Kepemimpinan Ezra dan Nehemia merupakan model bagi para pemimpin gereja masa kini dalam menggumulkan visi, misi, dan nilai kerja sama dalam pelayanan. Pengalaman Ezra dan Nehemia menunjukkan bahwa baik rohaniwan maupun kaum awam, keduanya dipanggil Allah untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang membangun bangsa Israel. Meskipun pada kenyataannya, masing-masing pemimpin akan melakukan peran yang berbeda tetapi mereka memiliki panggilan yang sama, yaitu untuk melaksanakan agenda Allah. Allah mempercayakan kemampuan-kemampuan yang berbeda sesuai dengan peran mereka dalam menjalankan visi dan misi-Nya. Visi dan misi tersebut dapat dicapai dengan efektif ketika pendeta dan pemimpin awam dapat terlibat aktif dan saling bekerja sama

    Kenosis Dalam Kristologi

    Get PDF

    Misi Mengakhiri Zaman : Apakah Kita Dapat Mengetahui Tibanya Akhir Zaman melalui Misi Global menurut Teologi Matius? - Matius 24:14

    No full text

    Relevansi Apologetika Berdasarkan Argumentasi Moral terhadap Pergumulan Anak Remaja Pascamodern Masa Kini.

    No full text
    Seorang anak ketika memasuki masa remaja akan mengalami perkembangan baik secara kognitif maupun moral. Secara kognitif, seorang remaja mulai berpikir secara kritis dan mereka gemar dengan kemungkinan-kemungkinan, dan salah satu bidang yang akan mereka kritisi adalah agama. Anak remaja tidak lagi membutuhkan pengajaran dogmatis seperti halnya ketika mereka masih kecil. Anak remaja membutuhkan alasan-alasan yang logis akan agama yang mereka anut, secara khusus alasan-alasan yang logis untuk keberadaan Allah. Jika gereja tidak menyediakan jawaban atas pergumulan anak remaja ini maka cepat atau lambat gereja akan kehilangan generasi muda. Secara moral, ketika memasuki usia remaja seorang remaja mulai mengambil keputusan moral secara mandiri. Hal ini jauh berbeda dari masa kanak-kanak mereka di mana segala keputusan moral sangat dipengaruhi, bahkan bergantung kepada lingkungan mereka. Pada umumnya keputusan-keputusan moral yang diambil oleh seorang remaja lebih berupa keputusan moral yang abstrak (imperatif kategoris), dibandingkan keputusan moral yang konkret (Dasa Titah yang ada di dalam Alkitab, misalnya). Tidak heran jika pada akhirnya seorang remaja menolak agama sebab mereka menganggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan mereka. Kedua perkembangan yang sedang dialami oleh anak remaja membawa dampak terhadap pandangan mereka terhadap agama. Keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang remaja (baik keputusan moral maupun berkenaan dengan pertanyaan kritis tentang agama) tidak murni dari diri mereka saja. Kebudayaan di sekitar mereka memiliki andil cukup besar, dan dalam konteks masa kini kebudayaan tersebut adalah kebudayaan pascamodern. Salah satu dampak yang dibawa oleh pascamodernisme adalah relativisme. Memang benar bahwa relativisme tidak mempengaruhi keseluruhan anak remaja, namun relativisme tetap mempengaruhi pandangan anak remaja terhadap agama serta moral. Jelas kombinasi antara faktor internal (perkembangan kognitif serta moral) dan eksternal (pascamodern) membawa dampak yang buruk bagi seorang remaja. Pertanyaannya, apakah ada sebuah metode yang dapat digunakan untuk para pelayan remaja untuk menjawab pergumulan anak remaja? Argumentasi moral mampu menjawab kebutuhan tersebut. Memang benar jika selama ini argumentasi moral hampir selalu diterapkan kepada penganut ateisme, namun ternyata argumentasi moral juga relevan untuk menjawab pergumulan anak remaja pascamodern masa kini. Ada tiga hal yang menjadikan argumentasi moral ini relevan: pertama, ia memberikan argumentasi yang baik untuk keberadaan Allah (menjawab pergumulan kognitif anak remaja), kedua, argumentasi moral mematahkan relativisme pascamodern (menjawab tantangan relativisme serta pergumulan moral remaja), dan ketiga, argumentasi moral sesuai dengan perkembangan moral anak remaja, sehingga mudah dipahami oleh anak remaja itu sendiri

    Tinjauan Kritis Terhadap Dikotomi Pendekatan Kepada Kebudayaan Dalam Praktik Misi Gereja Kalimantan Evangelis Jemaat Pedesaan Kalimantan Barat

    No full text
    Pekerjaan misi memerlukan pendekatan yang strategis, salah satunya adalah pendekatan melalui kebudayaan. Dalam pekerjaan misi di Kalimantan ada dua sikap yang ditunjukkan oleh pelaku misi, pertama, sikap menolak kebudayaan suku Dayak, sikap misionaris pada waktu itu sangat negatif dan menolak segala sesuatu mengenai kebudayaan yang ada hubungannya dengan sikap hidup yang lama. Mereka memandang kebudayaan Dayak sebagai kebudayaan kafir. Akibat dari sikap dan tindakan ini, banyak orang Dayak yang tidak mau menjadi Kristen, sehingga pekerjaan misi berjalan sangat lambat. Kedua, sikap gereja sesudah zaman zending mulai terbuka, meskipun masih diliputi oleh keragu-raguan dan kurang jelas, hal ini dikarenakan pemimpin gereja angkatan tua masih terikat pandangan-pandangan sebelumnya. Baru pada 1940 gereja menyadari secara serius bahwa masalah kebudayaan harus ditelaah secara menyeluruh. Sikap yang terbuka terhadap kebudayaan memberi dampak yang signifikan bagi kemajuan gereja dan pekabaran Injil. Selanjutnya, penelitian ini mengevaluasi dua pendekatan yang dilakukan oleh pelaku misi, baik itu evaluasi terhadap sikap yang menolak maupun sikap yang terbuka terhadap kebudayaan. Hal ini dilakukan untuk memahami apa saja kekuatan dan kelemahannya, serta merumuskan suatu kerangka yang alkitabiah tentang kebudayaan, mengenai batasan-batasan yang jelas tentang apa saja yang perlu ditinggalkan dan apa saja yang masih bisa digunakan, khususnya dalam praktik misi. Kesimpulan akhir dari studi ini adalah bahwa tidak semua kebudayaan negatif, ada hal-hal yang baik dari kebudayaan yang bisa digunakan untuk praktik misi. Karena itu perlu usaha untuk meneliti, menggali, serta menyeleksi kebudayaan yang bisa digunakan untuk prakti misi serta perlu usaha sosialisasi yang intensif kepada gereja yang ada di desa-desa supaya mereka tidak terjebak dalam keragu-raguan dan sinkretisme

    Keselamatan dari Orang Kristen yang Bunuh Diri

    No full text
    Bunuh diri bukanlah fenomena baru dan merupakan fenomena yang tidak kunjung padam. Kejadian tersebut tidak hanya menimpa negara-negara bagian dunia seperti Australia, Belgia, Denmark, Belanda, Afrika Selatan, dan masih banyak lagi, namun juga terjadi di Indonesia. Walaupun angka kematian yang diakibatkan karena tindakan bunuh diri belum diketahui datanya secara pasti dan akurat, namun angka kematian di Indonesia dengan cara bunuh diri menunjukkan angka yang cukup signifikan. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahun ada sekitar satu juta orang di dunia yang tewas akibat bunuh diri. Kasus-kasus bunuh diri tersebut dapat terjadi pada orang dari segala usia. Selain itu, hal tersebut tidak terbatas pada etnis tertentu ataupun golongan agama tertentu. Menyikapi fenomena tersebut kekristenan pun tidak tinggal diam. Perdebatan di kalangan umat Kristen berkisar tentang keselamatan orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Sebagian orang mengatakan bahwa orang yang bunuh diri tidak diselamatkan dan tidak akan masuk surga karena orang tersebut belum sempat minta ampun kepada Tuhan. Sebagian orang berpandangan bahwa orang yang bunuh diri tetap masuk surga karena sudah dibenarkan oleh Tuhan lewat penebusan di kayu salib sekali untuk selamanya. Banyaknya perdebatan yang terjadi di kalangan Kristen membuat banyak orang Kristen menjadi bingung mengenai hal tersebut. Oleh karena itu, penulis ingin menelaah lebih lanjut masalah keselamatan dari orang Kristen yang bunuh diri. Artikel ini akan memaparkan mengenai pengertian bunuh diri, penyebab bunuh diri, bunuh diri dalam Alkitab, dan bagaimana keselamatan orang Kristen yang bunuh diri. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan akhir untuk menentukan posisi di antara perdebatan-perdebatan yang ada dan implikasinya dalam kehidupan orang Kristen

    Suatu Tinjauan terhadap Konsep Pelayanan Misi yang Terintegrasi berdasarkan Firman Tuhan dan Implikasinya bagi Gereja Presbyterian Jemaat Berbahasa Indonesia di Singapura

    No full text
    Sejarah yang panjang dalam pelayanan misi yang bersifat dualisme telah terukir dalam pelayanan dari gereja Tuhan dalam suatu jangka waktu yang panjang. Dualisme ini adalah bagaimana gereja memiliki pemahaman misi dan praktik misi. Di pihak yang satu, sangat menekankan semangat pelayanan yang mengedepankan pelayanan misi sebagai pelayanan yang bersifat rohani dan cenderung mengabaikan hal yang bersifat jasmani. Keselamatan jiwa adalah segalanya, dan tugas pelayanan misi adalah mengabarkan Injil untuk keselamatan jiwa-jiwa ini. Pihak yang lain sangat menekankan aspek secara jasmani atau pelayanan yang bersifat sosial, di mana yang terpenting pelayanan dan praktik misi adalah untuk pemberdayaan manusia untuk keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan. Keduanya tampak seperti terpisah, dengan penekanan yang berbeda, dan melalui paradigma baru dalam konsep misi bahwa keduanya sebetulnya adalah perlu saling melengkapi dan menjadi utuh, maka konsep ini dapat disebutkan sebagai konsep pelayanan misi yang terintegrasi, dimana mempersatukan keduanya yang sama pentingnya dalam melaksanakan suatu transformasi manusia yang seutuhnya. Pelayanan misi yang terintegrasi ini menjadi suatu jawaban untuk mengatasi persoalan dualisme, dan konsep ini pun dikaji apakah sesuai dengan perspektif ajaran dan konsep misi dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Baru. Kajian ini juga menjadi suatu evaluasi bagi konsep pelayanan dan praktik misi di GPO, apakah sudah menyaksikan dan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di muka bumi melalui kebenaran, keadilan, damai sejahtera, dan kasih yang dapat mentransformasi kehidupan suatu komunitas dengan memperhatikan secara holistik diri manusia yang membutuhkan kasih Allah. Gereja dipanggil untuk melaksanakan misi pelayanan yang terintegrasi yang membawa kasih dan keadilan Allah yang membawa suatu transformasi hidup dalam kehidupan manusia di dunia ini bagi segala kemuliaan Allah

    Ibadah Trinitarian: Definisi, Implikasi, dan Aplikasi

    No full text
    Pada hakikatnya, ibadah kristiani adalah ibadah yang bersifat trinitarian. Artinya, ibadah berdasarkan karya Allah Tritunggal. Penulis merumuskan ibadah trinitarian sebagai ibadah yang ditujukan untuk kemuliaan Bapa dan hanya dimungkinkan melalui karya Kristus yang diterapkan oleh Roh Kudus dalam diri orang-orang percaya. Bapa surgawi menjadi tujuan ultima dari seluruh penyembahan korporat karena Dia adalah sumber dari segalanya. Karya Kristus sebagai Imam menghantar serta menyempurnakan ibadah kita di hadapan Bapa. Kita dapat menerima dan mengalami manfaat karya Kristus karena pekerjaan Roh Kudus. Dua implikasi penting lahir dari ibadah trinitarian, yaitu berpusat pada Kristus (christological) dan menekankan hubungan yang penuh kasih di antara sesama umat Tuhan (relational). Kristus menjadi fokus ibadah karena Dia merupakan perwujudan terbaik dan puncak karya penebusan dari Allah Tritunggal atas dunia ini. Sedangkan, kasih dalam Tubuh Kristus menjadi cerminan yang sepatutnya dari hubungan internal dari Allah Tritunggal

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇