STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Terhadap Kristologi Korelasional Paul F. Knitter dari Perspektif Eksklusivisme
Kesadaran akan kepelbagaian di zaman ini telah menghasilkan berbagai tanggapan. Pluralisme agama merupakan salah satu respons terhadap kemajemukan agama di zaman ini. Respons pluralisme terhadap kemajemukan agama telah memberikan tantangan terhadap teologi Kristen tradisional. Salah satunya adalah kristologi. Paul F. Knitter, seorang pluralis menyikapi zaman kemajemukan agama ini dengan menciptakan kristologi korelasional yaitu suatu kristologi yang ditafsir ulang oleh Knitter untuk disesuaikan dengan pandangan pluralismenya. Yesus yang diberitakan sebagai Tuhan yang absolut, normatif dan satu-satunya oleh Alkitab diganti menjadi Yesus yang nonabsolut, nonnormatif. Kristologi korelasional Knitter menjadikan Yesus hanya sebagai salah satu dari juru selamat yang begitu banyak yang juga terdapat di dalam agama-agama lain.
Kristologi yang berdasarkan praksis merupakan seruan kepada orang percaya untuk terlibat dalam pembebasan. Knitter melihat Yesus hanya sebagai contoh dan teladan mengenai apa artinya hidup mengasihi dan mempedulikan orang yang miskin dan terpinggirkan. Apa yang Yesus lakukan menjadi dorongan kepada semua orang Kristen untuk melakukan yang sama. Karena itu Knitter menyimpulkan bahwa yang paling penting dalam kristologi adalah praksis yaitu mengusahakan keadilan dan perdamaian dalam dunia ini. Tinjauan terhadap kristologi Knitter menyimpulkan bahwa kristologinya merupakan seruan untuk menyesuaikan Yesus dengan konteks dan pandangan aktual masa kini. Wajah Yesus dalam kristologi Knitter digambar berdasarkan berbagai perpaduan konteks pergumulan manusia zaman ini, akibatnya kristologi ortodoks disingkirkan untuk memberi tempat kepada kristologi yang lebih kontemporer.
Penghargaan yang minim terhadap otoritas Alkitab dalam pemikiran teologis Knitter menjadi sebab ia sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang bertentangan dengan kristologi yang berdasarkan pada Perjanjian Baru. Knitter memilih otonomi manusia dalam mengetahui terlepas dari Allah menjadi sebab perbedaan pemahaman kristologinya dengan kristologi tradisional. Metodologi dalam berteologi yang tidak berdasarkan kesetiaan kepada Alkitab tetapi lebih berdasar pada konteks pergumulan yang berlaku di zaman ini menjadi sebab dari perbedaan kristologi Knitter dengan kristologi yang selama ini dimengerti oleh Kristen ortodoks
Tinjauan Kritis terhadap Ibadah Kontemporer dari Perspektif Mazmur 95 dan Wahyu 4-5.
Ibadah kontemporer adalah suatu bentuk ibadah yang berasal dari gerakan Pentakosta dan Karismatik. Liturgi yang sederhana dan mengalir (free-flowing), penggunaan musik dan lagu yang populer, suasana sukacita dan kebebasan jemaat untuk berekspresi merupakan ciri khas dari ibadah kontemporer. Lahirnya ibadah kontemporer adalah untuk menjangkau orang-orang yang ada di tiap zamannya, baik zaman di mana ibadah kontemporer ini lahir dan berkembang, maupun zaman sekarang. Tujuan implisit lainnya adalah menjadi sarana penginjilan bagi orang-orang yang belum percaya.
Ibadah kontemporer mengalami perkembangan yang pesat karena banyak diadaptasi ataupun diadopsi oleh kalangan di luar Pentakosta dan Karismatik. Hal ini disebabkan karena ibadah kontemporer mudah diterima oleh orang-orang yang hidup di tiap zamannya. Selain kalangan yang menerima, muncul juga kalangan tertentu yang menentang serta menolak secara ekstrem ibadah ini. Kalangan yang kontra menuduh ibadah kontemporer sebagai ibadah yang sekuler, hanya berorientasi kepada manusia, tidak lagi berfokus kepada Allah. Dengan demikian, timbullah dua golongan sebagai respons terhadap ibadah kontemporer, yaitu golongan yang pro dan golongan yang kontra.
Alkitab banyak mengajarkan tentang prinsip-prinsip yang sangat penting di dalam ibadah Kristen, misalnya terdapat di dalam Mazmur 95 dan Wahyu 4-5. Prinsip yang paling penting adalah ibadah harus tetap berfokus kepada Allah sebagai subjek dan objek dari penyembahan. Seluruh unsur di dalam ibadah Kristen merupakan suatu persembahan kepada Allah, sebagai ucapan syukur kepada Allah. Puji-pujian, doa, serta ekspresi tubuh maupun emosi yang diungkapkan di dalam ibadah, dilandasi oleh sikap hati yang takut akan Allah serta menghormati Allah. Ibadah yang berkenan kepada Allah juga ditandai dengan kerendahan hati untuk mau mendengarkan serta melakukan firman Allah yang disampaikan dalam bentuk khotbah di dalam ibadah. Ibadah yang God-centered, yang berpusat kepada Allah, adalah ibadah yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan jemaat sebagai penyembah, tetapi yang terutama, adalah ibadah yang meninggikan Allah sebagai fokus utama di dalam ibadah Kristen.
Prinsip-prinsip ibadah yang diajarkan Alkitab senantiasa menjadi landasan bagi praktik ibadah Kristen di sepanjang zaman, khususnya bagi praktik ibadah kontemporer. Secara subjektif, ibadah kontemporer memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan yang sudah seharusnya kembali kepada firman Tuhan agar supaya ibadah kontemporer pun, tetap menjadi bentuk ibadah yang God-centered, menjadikan Allah sebagai pusat penyembahan
Tinjauan Kritis Konsep Pendidikan Inklusif bagi Anak dengan Autistic Spectrum Disorders dari Sudut Konsep Pendidikan Kristen
Konsep pendidikan inklusif merupakan sebuah konsep yang lahir dari ketidakpuasan orang tua dan tenaga pendidik terhadap konsep-konsep pendidikan anak berkebutuhan khusus yang pernah diterapkan. Konsep pendidikan inklusif dibangun untuk merangkul anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat belajar bersama dengan teman-teman sebaya mereka di kelas reguler. Pendidikan inklusif memiliki keunggulan dari sisi materi dan metode pengajaran yang dirancang hati-hati untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Penerapan pendidikan inklusif diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autistic Spectrum Disorders (ASD). Pendidikan inklusif memfokuskan konsepnya pada manusia (human-centered), karena konsep ini sangat menjunjung tinggi hak anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan dan tidak didiskriminatif. Tujuan akhir dari pendidikan inklusif ini adalah semua pihak diuntungkan, terutama anak-anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut berbeda dengan konsep Alkitab yang mengatakan bahwa pendidikan haruslah berpusat pada Allah, agar setiap peserta didik memiliki pengenalan yang benar tentang Allah, sehingga mereka dapat membawa perubahan bagi dunia. Dengan demikian, konsep pendidikan inklusif bagi anak dengan ASD tidak dapat digunakan begitu saja dalam pendidikan Kristen dan sekolah minggu. Konsep pendidikan inklusif baru dapat diterapkan apabila konsep tersebut telah diolah kembali dan tunduk kepada otoritas Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran yang absolut. Pendidikan inklusif yang sudah tunduk di bawah otoritas firman Tuhan akan membawa peserta didik untuk mengenal Allah dan memuliakan-Nya
Analisis terhadap Problematika Kesungguhan Tawaran Injil dalam Hubungannya dengan Doktrin Pilihan
Korelasi antara doktrin pilihan dan kesungguhan tawaran Injil menimbulkan problematika: jika Allah telah memilih hanya sebagian orang untuk diselamatkan, mungkinkah Ia menawarkan pertobatan itu kepada semua orang dan mengharapkan dengan sungguh-sungguh pertobatan mereka? Tidakkah kedua hal ini, pilihan Allah atas sebagian orang dan kesungguhan tawaran Injil-Nya bagi semua orang, kontradiktif? Berdasarkan analisis dari berbagai sumber, penulis menyimpulkan bahwa kesungguhan tawaran Injil tidak berkontradiksi dengan doktrin pilihan. Harmoni di antara keduanya sesuai dengan Canons of Dort sebagai salah satu pengakuan iman Reformed, hasil pembuktian eksegesis beberapa bagian Alkitab, dan studi mengenai kehendak Allah yang tersembunyi dan dinyatakan
Kasih Allah sebagai Respon terhadap Dosa Idolatry Umat Israel dalam Kitab Hosea
Gambaran dosa idolatry dalam Alkitab membentang mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Idolatry tidak sekadar dalam bentuk penyembahan terhadap patung, gambar atau bentuk tertentu secara visual, melainkan segala sesuatu yang diinginkan hati melebihi Allah adalah dosa idolatry. Salah satu bagian Perjanjian Lama yang memuat topik tentang idolatry adalah kitab Hosea. Kitab Hosea mewakili gambaran tentang idolatry dalam Alkitab baik dalam konteks literal maupun dalam konteks figuratif. Dalam konteks literal terlihat melalui penyembahan umat Israel terhadap Baal. Dalam konteks figuratif terlihat melalui kebergantungan umat Israel pada kekuatan sendiri dan negara kafir sehingga mengabaikan Allah.
Dosa idolatry telah merusak relasi umat dengan Allah. Bukan hanya itu, setiap pelaku dosa seharusnya berakhir dengan penghukuman, namun di tengah-tengah keadaan ini, kasih Allah hadir dan dinyatakan melalui kitab Hosea kepada para idolater. Tujuan dari pernyataan kasih Allah ini adalah untuk menganugerahkan pembebasan bagi umat dan memperbaharui kehidupan mereka. Melalui kasih Allah, umat beroleh kesempatan untuk berbalik dan merestorasi kembali kehidupan serta relasi bersama dengan Allah. Dosa idolatry merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya di masa kini. Kecintaan akan uang, kuasa dan cinta adalah beberapa dari sekian banyaknya contoh-contoh idolatry yang nyata keberadaannya dan banyak menjerat kehidupan manusia termasuk di dalamnya orang Kristen. Ada banyak orang yang terjerumus di dalam dosa ini yang akhirnya menjauhkan mereka dari Allah dan bahkan mereka sedang berada di ambang kehancuran. Di tengah-tengah keadaan ini, proklamasi kasih Allah yang dinyatakan kepada umat Israel di Hosea juga berlaku bagi umat masa kini. Gereja perlu mengambil peran untuk menyuarakan dan menyalurkan kasih Allah seperti yang telah dinyatakan di Hosea kepada para idolater dan para idolater perlu untuk merespons kasih Allah di dalam kehidupan mereka sehingga mereka juga menerima pemulihan dari Allah. Dengan melakukan perannya, niscaya gereja sebagai mediator Allah dapat menyalurkan kasih Allah dengan tepat kepada para idolater dan niscaya mereka akan mendapatkan pemulihan yang sejati bagi kehidupan mereka dan relasi dengan Tuhan
Pembinaan Iman Kristen yang Integratif dan Holistik : Suatu Upaya untuk Mencegah dan Mengatasi Pengaruh Negatif Kecanduan Games Komputer terhadap Anak Remaja
Perkembangan teknologi begitu pesat saat ini, produk-produk yang dihasilkan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, baik itu yang bermanfaat, maupun yang dapat menimbulkan dampak negatif. Salah satu produk yang banyak menimbulkan dampak negatif di kalangan anak remaja adalah games komputer. Dampaknya adalah banyaknya alokasi waktu untuk bermain games komputer hingga pada tingkat kecanduan, sehingga menimbulkan banyak masalah. Banyak orang tua, guru dan rohaniwan melihat pentingnya perhatian pada pembinaan anak remaja agar dapat mencegah dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games komputer ini. Alkitab mencatat perintah Tuhan yang utama kepada orang tua untuk mengajarkan berulang-ulang kepada anak-anak untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Perintah ini adalah suatu fondasi iman yang akan mempersiapkan anak dalam menghadapi tantangan zaman. Maka, pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Apakah pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat mencegah dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games komputer terhadap anak remaja? Penemuan dari pertanyaan tersebut akan dipaparkan dan dijelaskan dalam penulisan ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat menurunkan tingkat kecanduan terhadap games komputer pada anak remaja, khususnya pada anak-anak yang berusia lebih muda. Sedangkan anak-anak remaja yang tidak mendapatkan pembinaan iman Kristen, semakin meningkat tingkat kecanduan terhadap games komputer. Jadi kesimpulannya, perlu diambil langkah pencegahan agar anak-anak remaja tidak semakin tinggi tingkat kecanduannya terhadap games komputer dengan mengadakan pembinaan sejak dini. Sedangkan untuk mereka yang telah tinggi tingkat kecanduannya, dapat diambil langkah mengatasinya dengan memberikan pembinaan iman Kristen yang integratid dan holistik. Pembinaan ini juga dilaksanakan untuk orang tua agar memahami dan menerapkan perintah Tuhan yang utama untuk membangun fondasi iman yang kokoh pada anak
Dari Kristologi Menuju Fiat Justitia : Sebuah Tinjauan Terhadap Keadilan Sosial Menurut Karl Barth
Konsep Kesombongan Menurut 1 Petrus 5:5-6 dan Implikasinya bagi Pemimpin Kristen yang Bergumul dengan Sisi Gelap Kehidupannya.
Kejatuhan pemimpin Kristen tidak hanya terdapat dalam Alkitab tetapi juga terjadi pada masa kini. Kejatuhan ini memiliki dampak yang fatal dan mendapatkan sorotan tajam dari dunia, karena tidak hanya berpengaruh buruk bagi diri sendiri, tetapi juga bagi kekristenan. Dari kejatuhan pemimpin Kristen didapati bahwa kepemimpinan mereka tidak memperhatikan dan tidak menghidupi makna kepemimpinan Kristen sesungguhnya, yaitu memuliakan Allah. Akhirnya mereka didapati tidak menjaga kualitas hidup mereka, sehingga mereka terjatuh dalam kesombongan yang tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga terjatuh dalam kesombongan sebagai sisi gelap kepemimpinan yang membawa kepada lembah kegelapan dosa.
Kesombongan merupakan tindakan yang dibenci oleh Allah, bahwasanya kesombongan merupakan dosa yang telah mengeluarkan, mendongkel Allah dari takhta kehidupan manusia dan menggantinya dengan tahta diri. Manusia meninggikan dirinya lebih dari Allah dan merendahkan orang lain. Kesombongan merupakan pemberontakan terhadap Allah, karena hatinya dipalingkan dari Allah. Dosa kesombongan telah ada sejak manusia diciptakan, dan kejatuhan manusia sebagai pemimpin pertama menunjukkan adanya kesombongan yang menguasai hati manusia. Kesombongan duduk dengan manis dan siap menerkam keluar jika tidak diwaspadai dengan pertolongan dari Allah.
Petrus dalam 1 Petrus 5:5-6 menyadari betapa berbahayanya kesombongan bagi kehidupan pemimpin Kristen. Petrus menasihati para pembacanya untuk tidak terjatuh dalam dosa kesombongan, karena hukuman Allah menanti bagi mereka yang sombong. Sebaliknya Petrus menasihati mereka untuk hidup dengan mengenakan kerendahan hati.
Melalui perjalanan rohani, seorang pemimpin Kristen dibawa kepada perjalanan yang panjang dan menyakitkan untuk memulihkan diri dari dosa kesombongan. Pemulihan ini hanya dapat terjadi dengan terbuka kepada Allah, mengevaluasi diri, dan mengaku bahwa diri adalah ciptaan, kecil di hadapan Allah yang besar dan berkuasa. Melalui perjalanan rohani, hati seorang pemimpin dimurnikan kembali untuk dapat mengenakan kerendahan hati dan dimampukan untuk memimpin dan melayani, supaya orang lain menemukan Allah, mengalami perubahan dan nama Allah dipermuliakan. Kepemimpinan Kristen sudah seharusnya yang pertama dan terutama hanya membawa kemuliaan Allah, karena kemuliaan adalah milik Allah
Makanan dan Iman: Sebuah Tinjauan Kritis terhadap Tren Fast Food
Makna dari makan sudah mengalami pergeseran arti seiring dengan perkembangan yang masif dari industri fast food. Industri ini telah menjadikan makan sekadar sebagai aktivitas instan yang tidak lagi memperhatikan masalah ekologi, sosial, dan spiritualitas. Makanan dipandang sebagai barang komoditi, dan manusia terhisab dalam konsumerisme. Di dalam teologi Kristen, makan merupakan latihan spiritualitas yang membawa kita masuk ke dalam persekutuan dengan ciptaan yang lain demi tujuan yang sama, yaitu memuliakan nama Tuhan