STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Menghujat Roh Kudus sebagai dosa yang tidak bisa diampuni dan kaitanya dengan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya

    Get PDF

    Lesson Plan: Serahkan Semua Dapat Semua. Lukas 18:18-30

    No full text

    Studi Komparatif Konsep Pendidikan Agama Kristen (PAK) Multikultural dengan Konsep Pendidikan Agama Kristen (PAK) Injili

    Get PDF
    PAK multikultural merupakan konsep pengajaran iman Kristen yang bertitik tolak dari persoalan sosial dalam masyarakat multikultural dan berfokus pada penyelesaian persoalan sosial tersebut. Konsep pendidikan ini bertujuan mewujudkan perdamaian dalam masyarakat multikultural. Konsep PAK multikultural ini berbeda dengan konsep PAK injili. PAK injili bertujuan untuk membentuk anak didik yang hidup serupa dengan Kristus dan mengerjakan maksud Allah dalam hidupnya. Konsep PAK multikultural ini pertama-tama dibangun oleh fondasi sosiologi dan ditunjang dengan fondasi biblika dan teologi. Fondasi biblika bersumber dari bagian Alkitab yang menekankan pada sikap yang perlu dimiliki dalam berelasi di tengah masyarakat multikultural. Selain itu, konsep pendidikan ini juga didukung oleh fondasi teologi yang menyatakan bahwa Alkitab adalah kitab multikultural, keselamatan yang bersifat inklusif, serta kemanusiaan Kristus. Hal ini berbeda dengan PAK injili. PAK injili pertama-tama dibangun dari fondasi biblika dan teologi dan selanjutnya didukung oleh fondasi sosiologi. Fondasi biblika PAK injili berasal dari bagian Alkitab yang menekankan pentingnya seseorang mengalami keselamatan dan bertumbuh sebagai murid Kristus yang taat. Fondasi teologi PAK injili bersumber dari pemahaman Alkitab adalah firman Allah, keselamatan yang bersifat eksklusif serta keilahian Yesus Kristus. Dalam pengembangan PAK sekolah di Indonesia, guru dapat mempertimbangkan model PAK yang ditawarkan oleh PAK multikultural dan PAK injili. Tetapi harus disadari bahwa model PAK multikultural tidak sepenuhnya dapat diterima, karena model PAK tersebut banyak mereduksi pemahaman iman Kristen yang dinyatakan oleh Alkitab. Pada akhirnya, dalam pengembangan konsep PAK pendidik Kristen harus kembali kepada konsep pendidikan yang dinyatakan oleh Alkitab

    Apakah Yesus Kristus Adalah Allah? Suatu Tinjauan Terhadap Kata Logos dan Theos Dalam Yohanes 1:1 Dari Sudut Pandang Monoteisme Barat

    Get PDF
    Penulis akan menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda di dalam tulisan ini, yakni membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dari konsep monoteisme barat. Untuk itu pertama-tama penulis akan menjabarkan konsep tentang monoteisme barat dengan mengacu pada buku Introduction on the Philosophy of Religion. yang kedua penulis akan mencoba mengeksegesiskan Yohanes 1:1 sebagai suatu bukti bahwa penggunaan kata logos dan theos pada ayat tersebut memang memastikan bahwa Yesus adalah Allah

    Analisis Kritis Terhadap Konsep dan Penggunaan Intuisi dalam Apologetika C. S. Lewis

    No full text
    C. S. Lewis merupakan salah satu tokoh apologetika kaum awam di era modern yang dianggap sukses di dalam usaha apologetikanya. Salah satu yang menarik dari metode apologetika Lewis adalah penggunaan intuisi sebagai sumber untuk mengetahui kebenaran tentang Tuhan. Salah satu hal yang berperan penting di dalam pemahaman Lewis mengenai intuisi adalah konsep manusia dan dosa. Lewis percaya bahwa manusia, sebagai ciptaan Tuhan, memiliki kesadaran akan Tuhan. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Kesadaran ini tetap ada di dalam diri manusia meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dosa hanya menyebabkan keterbatasan di dalam kesadaran manusia akan Tuhan. Yang dimaksudkan dengan keterbatasan adalah ketidakmampuan manusia untuk memaknai keberadaan Tuhan dengan benar, berdasarkan fakta yang benar dan intuisi yang manusia miliki. Bagi Lewis, ketidakmampuan manusia untuk memaknai dengan benar ini menjadi bagian dari tugas apologetika. Pembelaan iman yang Lewis percayai adalah sebuah usaha untuk menunjukkan kebenaran iman Kristen sebagai kemungkinan terbaik dari segala kemungkinan yang ada. Analisis kritis yang diberikan meliputi dua aspek, yakni konsep intuisi yang dikaitkan dengan keberdosaan manusia, dan penggunaan intuisi dalam apologetika Lewis. Berdasarkan terang kebenaran firman Tuhan, manusia berdosa adalah manusia yang mati, yang tidak dapat memiliki kesadaran yang benar akan Tuhan. Yang dimaksudkan kesadaran adalah keutuhan dari fakta, intuisi, serta pemaknaan. Dari sudut pandang ini, ada perbedaan cara pandang antara pengajaran Alkitab dan Lewis. Analisis kritis yang berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam apologetika didasarkan pada pemahaman konsep biblika mengenai apologetika, yang tertuang dalam 1 Petrus 3:15-16. Konsep apologetika Lewis tidak melanggar prinsip-prinsip alkitabiah apologetika. Lebih lanjut, analisis penggunaan juga meliputi keefektifan metode apologetika Lewis di dalam konteksnya. Penggunaan intuisi dalam apologetika Lewis dianggap efektif karena dapat mencapai tujuan apologetika dan juga mendapatkan respons positif dari pembaca (maupun pendengar). Di dalam konteks menjawab tantangan ateisme dan skeptisisme, metode Lewis dinilai berhasil. Hanya, jika metode ini digunakan dalam konteks pluralitas agama, maka metode Lewis ini perlu pelengkap untuk dapat menjawab tantangan pluralitas dan pluralisme yang ada

    Yesus ῤαββί yang Ilahi: Sebuah Analisis terhadap Gelar Yesus sebagai ῤαββί dalam Injil Yohanes untuk Membuktikan Keilahian Yesus

    Get PDF
    Alkitab mencatat serangkaian gelar yang dikenakan pada diri Yesus. Selayaknya nama atau panggilan seseorang yang mengindikasikan identitas, gelar-gelar Yesus juga memainkan peran yang sama, yaitu sebagai materi rekonstruksi potret Yesus. Keempat Injil diakui sebagai pemberi sumbangsih terbesar bagi rekonstruksi identitas Yesus, meski keempat Injil bukanlah murni catatan biografi Yesus. Terhadap keragaman gelar keilahian Yesus, para penyelidik skeptis justru menilai posisi keempat Injil sebagai tulisan yang mengalami distorsi penulis atau bahkan rekayasa para murid dan gereja mula-mula. Para penulis Injil dipandang memiliki agenda khusus untuk memopulerkan Yesus yang adalah ikon dari komunitas mereka, khususnya Injil Yohanes yang sarat akan tujuan kristologinya. Sementara itu, kalangan prokristologi justru memilih untuk tinggal berkutat pada ratusan gelar yang secara eksplisit bernada ilahi. Sebagai akibatnya, gelar-gelar netral-termasuk gelar rabbi disisihkan karena dipandang tidak berdaya mendukung keilahian Yesus. Gelar rabbi yang tidak terhitung dalam daftar gelar yang berintensi kelihaian ini justru menjadi gelar yang kuat mendominasi peran dan pelayanan Yesus. Di antara keempat Injil, Yohanes terbukti sebagai yang paling konsisten dalam menggunakan gelar rabbi pada diri Yesus. Gelar rabbi dalam Injil Yohanes muncul delapan kali yang diikuti oleh serangkaian pengakuan ilahi dalam diri Yesus dari para penggunanya. Lewat gelar rabbi Yohanes menampilkan secara konsisten otoritas Yesus sebagai seorang guru Yahudi yang sesuai dengan konteks kontemporer-Nya. Kesimpulan ini juga membela posisi penulis Injil yang tidak serta-merta menulis dengan subjektivitas yang merekayasa sejarah. Selain itu, gelar Yesus sebagai rabbi juga merujuk pada identitas Mesianik Yesus yang merupakan penggenapan dari PL. Puncaknya, gelar rabbi yang disebutkan oleh Maria Magdalena dalam bentuk infleksinya rabbouni merupakan panggilan ilahi berkualitas lebih tinggi yang merupakan bagian dari proklamasi kebangkitan Yesus. Dalam pemakaiannya, gelar Yesus sebagai rabbi juga bersinggungan dengan gelar-gelar ilahi lainnya. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa gelar rabbi terbukti mengandung unsur ilahi yang mampu mendukung keilahian Yesus. Yesus adalah rabbi yang ilahi

    Belajar dari Bapa Gereja Agustinus: Sebuah Pendekatan terhadap Khotbah Doktrin Trinitas

    Get PDF
    Tulisan ini mengupas pendekatan bapa gereja Agustinus dalam mengkhotbahkan doktrin Trinitas, yang terangkum dalam prinsip fides quaerens intellectum (iman mencari pengertian), dimana iman harus diutamakan dan iman mendahului pengertian. Setelah itu baru memberdayakan akal budi manusia secara benar dan tepat untuk memperjelas akan apa yang telah diterima melalui iman. Penerapan prinsip ini dalam khotbah berarti seorang pengkhotbah perlu menekankan aspek iman doktrin ini baru setelah itu menjelaskan kandungan doktrin tersebut

    Naskah khotbah : persepuluhan : wajib atau tidak?

    Get PDF

    Studi Perbandingan Pengusiran Roh Jahat antara Budaya Yahudi, Zaman Yesus, dan Praktik Kekinian.

    No full text
    Pengusiran roh jahat adalah praktik yang sudah dilakukan sejak lama. Sebelum praktik kekinian, Yesus sudah melakukannya terlebih dahulu. Sebelum Yesus mengusir roh jahat pun, orang Yahudi sudah pernah mempraktikkannya. Hal inilah yang membuat adanya perkembangan dan perbedaan dari zaman ke zaman. Sesungguhnya, setiap umat Kristen harus kembali kepada Yesus dan mencontoh pengusiran roh jahat yang pernah dilakukan-Nya. Walaupun memang tidak dapat persis, namun ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan para pengusir roh jahat kekinian. Orang Yahudi melakukan pengusiran roh jahat dengan kuasa yang lebih besar dari roh yang hendak diusir mereka. Pribadi mana pun mampu mengusir roh jahat mana pun, selama ia memiliki kuasa yang lebih besar dari roh jahat tersebut. Mereka juga banyak melakukan ritual dan perkataan yang dianggap sebagai metode-metode paling efektif untuk mengusir roh jahat. Yesus melakukan pengusiran roh jahat dengan kuasa-Nya. Yesus tidak menggunakan kuasa yang ada di luar dari diri-Nya karena Ia berotoritas atas segala roh jahat di dunia. Para pengikut-Nya mengusir roh jahat dengan kuasa Yesus. Tidak ada ritual dan perkataan yang dianggap sebagai metode-metode paling efektif pada saat itu. Kedua jenis pengusiran roh jahat tersebut memperlihatkan adanya beberapa kesamaan dan perbedaan. Perbedaan yang ada di antara kedua hal tersebut lebih banyak. Kedua hal yang berbeda itu banyak diserap di dalam praktik kekinian. Ada yang mengikuti praktik budaya Yahudi dan ada juga mengikuti praktik zaman Yesus. Tinjauan perbandingan pengusiran roh jahat zaman Yahudi, zaman Yesus, dan kekinian ini memiliki implikasi dalam terhadap praktik kekinian untuk dapat melakukannya sesuai dengan Alkitab. Dengan demikian, pengusir roh jahat kekinian dapat melakukan praktik yang benar dan menyatakan kebesaran Allah kepada banyak orang

    Maria Magdalena sebagai Saksi Kunci Kebangkitan Yesus : Analisis terhadap Peran Maria Magdalena dalam Peristiwa Kebangkitan Yesus untuk Membuktikan Keabsahan dari Peristiwa Kebangkitan Yesus

    Get PDF
    Kebangkitan Yesus adalah peristiwa yang sangat signifikan bagi kehidupan orang Kristen. Paulus dalam 1 Korintus 15:14 mengatakan: andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Tanpa peristiwa kebangkitan, kekristenan hanya akan menjadi sebuah kebodohan belaka karena seluruh dasar iman Kristen dipertaruhkan di dalam kepercayaan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut. Fakta kebangkitan ini tidak semudah itu diterima oleh pihak-pihak non-Kristen atau pihak-pihak skeptis. Keragu-raguan ini muncul dengan pertimbangan bahwa tidak mungkin ada orang yang sudah meninggal, lalu hidup kembali. Berkenaan dengan keragu-raguan ini, banyak asumsi dimunculkan tentang kosongnya kubur Yesus, tentang perjumpaan Yesus dengan pengikut-pengikut-Nya, dan tentang narasi kebangkitan Yesus di dalam Injil, antara lain: mayat Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya; pengikut Yesus hanya mengalami halusinasi, atau kitab Injil hanyalah tulisan yang dibuat oleh gereja mula-mula dan hanya sebuah tulisan yang subjektif. Asumsi-asumsi yang dikeluarkan ini membawa pengaruh kepada pertahanan kepercayaan dan iman orang-orang Kristen. Banyak orang akhirnya menjadi ragu dan meninggalkan kekristenan. Berkaitan dengan keragu-raguan berbagai pihak, perlu ada pembuktian dari peristiwa kebangkitan Yesus tersebut. Kesaksian perempuan, khususnya kehadiran Maria Magdalena yang memberikan kesaksian tentang kebangkitan Yesus menjadi salah satu sarana untuk membuktikan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus memang benar pernah terjadi dan bukan hanya isapan jempol semata. Perempuan yang pada masa tersebut dianggap sebagai pihak minoritas dan tidak dipandang oleh masyarakat sekitar, namun dipercayakan dan dititipkan sebuah berita besar bagi keberlangsungan iman orang Kristen. Pertanyaan mulai muncul apakah kesaksian dari pihak minoritas dan tidak dianggap masyarakat ini dapat dipercaya, khususnya untuk membuktikan sahnya kebangkitan Yesus. Dengan hadirnya pembuktian atas peristiwa kebangkitan sekali lagi, akan menolong gereja dan orang-orang Kristen untuk beriman dengan sungguh akan Kristus dan kebangkitan-Nya yang menyelamatkan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇