STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Pembenaran melalui Kesatuan dengan Kristus : Sebuah Tinjauan atas Doktrin Imputasi

    Get PDF
    Imputasi adalah doktrin penting dalam kekristenan. Namun, setelah melakukan studi eksegesis terhadao teks-teks penting yang dianggap mendukung doktrin ini: Roma 4:1-25 dan 2 Korintus 5:21, penulis menyimpulkan bahwa teks-teks tersebut tidak berbicara mengenai kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada orang percaya. Di sisi lain, Roma 4:1-25 menekankan mengenai pembenaran karena iman kepada Yesus yang sudah dibangkitkan untuk pembenaran kita. Sedangkan dalam 2 Korintus 5:21, "Dia (Yesus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita," tidak berbicara mengenai imputasi dosa orang percaya kepada Yesus, tetapi menyatakan mengenai Yesus yang adalah kurban dosa yang tidak bercacat. Selain itu, beberapa ayat dalam 2 Korintus 5 (ay. 14-15, 17, 18, 19, 21) justru menyatakan bahwa pembenaran dilakukan kepada orang percaya karena mereka telah menyatu dengan Kristus. Karena Kristus telah dibenarkan dengan kebangkitan-Nya, orang percaya yang ada di dalam-Nya pun dibenarkan juga bersama-sama dengan Kristus (Rm. 4:25)

    Studi Eksegetikal terhadap Peran dan Misi Bangsa Israel dalam Kitab Keluaran 19:4-6 dan Implikasinya bagi Peran dan Misi Gereja Masa Kini.

    Get PDF
    Tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata hanyalah untuk memuliakan-Nya. Akan tetapi, akibat kejatuhan manusia dalam dosa, manusia lebih memilih untuk memuliakan diri sendiri daripada memuliakan Allah. Dosa membuat manusia tidak lagi hidup sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Namun, Allah tidak tinggal diam dengan masalah ini. Allah memiliki kerinduan untuk menjangkau bangsa-bangsa yang tidak lagi memuliakan-Nya supaya kembali memuliakan-Nya. Allah memilih bangsa Israel untuk menjadi alat-Nya dalam menggenapi rencana-Nya tersebut. Oleh karena itu, Allah memberikan bangsa Israel sebuah peran dan misi untuk menggenapi rencana-Nya. Bagaimanakah cara bangsa Israel menjalankan peran dan misi yang telah diberikan Allah kepada mereka di dalam Perjanjian Lama? Peran dan misi bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama mengalami perbedaan pendapat. Michael Goheen dan Arie De Kuiper berpendapat bahwa peran dan misi bangsa Israel adalah sentripetal, yaitu sebuah usaha penjangkauan yang dilakukan untuk menarik bangsa-bangsa lain datang ke Yerusalem melalui kekudusan bangsa Israel. Sedangkan Walter Kaiser dan Johannes Verkuyl berpendapat bahwa peran dan misi bangsa Israel adalah sentrifugal, yaitu sebuah usaha penjangkauan yang dilakukan dengan cara pergi ke luar kepada bangsa-bangsa lain untuk memproklamasikan kebesaran Yahweh kepada mereka. Keluaran 19:4-6 merupakan salah satu bagian yang menjadi perdebatan mengenai peran dan misi bangsa Israel. Dengan demikian studi eksegetikal terhadap peran dan misi bangsa Israel dalam kitab Keluaran 19:4-6 sangat penting untuk dilakukan. Hasil dari eksegesis ini merupakan hal yang sangat signifikan bagi peran dan misi gereja masa kini karena peran dan misi gereja masa kini berakar dari peran dan misi bangsa Israel. Gereja yang berkenan di hadapan Tuhan adalah gereja yang menjalankan peran dan misi gereja sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Hal inilah yang akan diselidiki dalam skripsi ini: studi eksegetikal terhadap peran dan misi bangsa Israel dalam kitab Keluaran 19:4-6 dan implikasinya bagi peran dan misi gereja masa kini

    Memahami Doktrin Dosa Asal Melalui Perspektive Kovenan Penciptaan Dalam Teologi Reformed

    Get PDF

    Allah Yang Berbela Rasa: Tinjauan Terhadap Konsep Teodise Dalam Teologi Proses

    Get PDF
    Makalah ini hendak meninjau teodise proses di bawa terang firman Tuhan, untuk menolong orang kristen mengambil sikap yang tepat dalam menyikapi realitas kejahatan. Untuk itu penulis akan memaparkam konsep-konsep mengenai Allah dan masalah kejahatan dalam teologi proses, kemudian memberikan evaluasi teologi-biblis terhadap teodisenya guna menghasilkan pandangan yang tepat sebagai pegangan orang Kristen dalam menghadapi masalah kejahatan

    Tinjauan Peran Guru di dalam Pendidikan berdasarkan Firman Tuhan

    Get PDF
    Sosok guru adalah seorang yang identik dengan tugas dan tanggung jawab untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak hingga mereka menjadi manusia yang cerdas, memiliki pengetahuan yang luas, dewasa dalam berpikir, mandiri, berkarakter dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, tentu tidaklah berlebihan jikalau kita juga mengatakan bahwa seorang guru adalah alat yang berada dalam wilayah yang memiliki pengaruh kuat, baik atau buruk, dalam kehidupan individu, keluarga, dan bangsa. Apa yang dilakukan oleh guru dan siapa guru di hadapan peserta didik (generasi muda) akan membentuk kebiasaan-kebiasaan dan karakter, serta menentukan kehidupan iman dan moral mereka. Kemajuan zaman dan teknologi yang cepat menjadi tantangan yang besar di dalam dunia pendidikan. Mereka yang terlibat di dalam dunia pendidikan-baik itu guru maupun peserta didik-terkena dampak dari perubahan zaman yang serbacepat dan tidak menentu ini. Dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan oleh guru dan peserta didik sudah merupakan bagian yang sepertinya tidak terpisahkan di dalam dunia pendidikan Indonesia. Ternyata proses pendidikan tidak sepenuhnya menghasilkan manusia-manusia yang berpendidikan dan beriman kepada Allah. Pemerintah sebagai institusi negara tentu menyadari betul persoalan yang sedang terjadi ini. Maka dari itu, pemerintah berusaha untuk menghasilkan tenaga-tenaga pendidik yang profesional di dalam bidangnya. Profesional yang dimaksudkan oleh pemerintah dan pandangan umum tentu saja berkaitan dengan kompetensi yang dimiliki oleh mereka yang hendak atau yang telah menjadi guru. Keahlian dan keterampilan mengajar, kemampuan menjalankan peran yang beragam di dalam dunia pendidikan menjadi syarat mutlak dari seorang guru agar disebut sebagai tenaga profesional. Walaupun hal tersebut sudah digalakkan dan dijalankan, tetapi tetap saja persoalan yang terjadi di dalam dunia pendidikan tidak sepenuhnya terjawab, khususnya dalam hal membentuk karakter, moral dan iman dari seorang guru dan peserta didik. Konsep umum tentang guru yang profesional sebenarnya perlu dikaji dan diperlengkapi oleh pandangan Alkitab. Melalui penyelidikan Alkitab-membaca dan melakukan eksegesis kata-kata tertentu tentang guru dan kegiatan belajar mengajar-ternyata seorang guru hendaknya mengajar, mengevaluasi, dan mengintegrasikan pengetahuan yang diajarkan sesuai dengan kebenaran Alkitab. Tugas utama dari guru adalah mengajarkan dan mengenalkan peserta didik untuk takut akan Tuhan. Guru berperan sebagai agen iman yang mengenalkan dan membawa anak untuk beriman kepada Allah melalui pengetahuan yang diajarkan dan yang diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari

    Sebuah Tinjauan terhadap Pengaruh Dikotomi Forma Materi dari Neoplatonisme pada Konsep Surga dari Agustinus

    No full text
    Ada sebuah pemahaman yang bersirkulasi di dalam kekristenan bahwa: ketika kita meninggal, maka diri kita akan masuk ke surga dan akan meninggalkan dunia ini. Surga ini dipahami sebagai sebuah dunia spiritual, dan bagian dari diri manusia yang diselamatkan adalah jiwanya. Timbul masalah di sini, bagaimana menjelaskan pemahaman ini dengan bagian lain dari Alkitab yang berbicara mengenai kebangkitan tubuh dan langit dan bumi yang baru. Tampaknya pemahaman ini kurang tepat secara alkitabiah, dan menurut beberapa teolog Kristen pandangan ini jika dirunut ke belakang, akan ditemukan akarnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani -- terkhusus Platonisme dan Neo-Platonisme. Salah satu tokoh besar Kristen yang menyerap filsafat ini adalah Agustinus. Untuk menemukan jawabannya perlu meneliti konsep surga dari Agustinus. Dengan asumsi bahwa konsep surga Agustinus dipengaruhi oleh filsafat Platonisme dan Neo-Platonisme, maka diperlukan kejelasan elemen apa dalam filsafat tersebut yang mempengaruhi teologi dari Agustinus. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai perkembangan filsafat Yunani untuk menemukan aspek mayor apa ayng diusung dalam filsafat mereka. Agustinus sendiri membangun teologinya melalui pergumulan -- dan salah satu pertanyaan utamanya adalah mengenai problem kejahatan. Ia menemukan bahwa filsafat Platonisme dan Neo-Platonisme dapat membantunya untuk menjelaskan problem ini. Ia mengadopsinya dan filsafat tersebut mempengaruhi konsep surganya. Bagaimana konsep surganya, dan bagaimana serta di bagian mana filsafat Platonisme dan Neo-Platonisme mempengaruhi konsep surganya sehigga menimbulkan pemahaman tentang surga yang spiritual. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka diperlukan juga konsep yang alikitabiah mengenai surga. Oleh karena itu penulis juga meneliti bagaimana Alkitab, baik dalam PL maupun PB mempresentasikan gambaran mengenai surga. Dari perbandingan antara konsep surga yang dipresentasikan oleh Alkitab dengan konsep surga Agustinus, maka dapat diketahui pengaruh dari filsafat Platonisme dan Neo-Platonisme di dalamnya

    Apologetika Kristen Terhadap Klaim Ateis Baru Mengenai Masalah Kejahatan dengan Eksistensi Allah dan Agama adalah Kejahatan.

    No full text
    Kaum Ateis Baru begitu gencar menyerang semua agama, secara khusus agama-agama monoteisme. Kekristenan adalah salah satu sasaran serangan dari Ateis Baru. Masalah yang cukup pelik yang mereka angkat sebagai senjata adalah masalah kejahatan. Masalah kejahatan memang bukan hal yang baru. Tiga argumen umum dari masalah kejahatan adalah argumen logika, evidensial dan kejahatan tak beralasan. Ateis Baru tidak secara langsung menggunakan tiga argumen tersebut. Tiga argumen tersebut tercampur dalam semua argument-argumen yang mereka berikan. Dengan semua argumen tersebut mereka menolak keberadaan Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahabaik. Kekristenan yang percaya kepada Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahabaik perlu menjawab masalah kejahatan ini untuk membuktikan kepercayaan Kristen tidak salah. Sebenarnya masalah kejahatan tidak dapat meniadakan eksistensi Allah, masalah kejahatan hanya dapat mengusik satu dari tiga atribut kemahaan Allah. Oleh karena itu, kekristenan perlu memberikan pembelaan dan penjelasan untuk mempertahankan ketiga atribut kemahaan Allah tersebut. Secara ringkas Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahabaik tidak memberikan kejahatan, kejahatan adalah hasil dari kehendak bebas manusia dan hukum alam. Tetapi Allah memiliki tujuan untuk semua kejahatan yang terjadi, tidak ada kejahatan tanpa alasan. Semua argumen Ateis Baru tentang masalah kejahatan tidak dapat meniadakan eksistensi Allah maupun mengusik satu dari atribut kemahaan Allah. Ateis Baru tidak hanya melihat masalah kejahatan sebagai senjata untuk menyerang eksistensi Allah. Mereka juga melihat kejahatan adalah hasil dari didikan agama. Mereka mempermasalahkan kejahatan atas nama agama yang menyimpulkan bahwa agama mengajarkan kejahatan dan agama itu jahat. Kekristenan tidak memungkiri bahwa memang ada kejahatan-kejahatan yang dilakukan atas nama agama, tetapi itu tidak dapat menyimpulkan bahwa agama melakukan kejahatan. Kekristenan tidak mengajarkan kejahatan. Kekristenan meneladani Pribadi, kehidupan dan karakter Kristus yang selalu mengajarkan kasih bukan kejahatan. Kekristenan mengakui bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan atas nama agama Kristen telah gagal menjadi pengikut Kristus. Dengan demikian klaim Ateis Baru ini tidak dapat menyerang kekristenan. Sebenarnya Ateis Baru menginginkan sebuah dunia yang lebih damai dan penuh kasih. Tetapi apakah mereka yakin bahwa ateisme dapat memberikan dunia yang mereka inginkan? Lebih baik mereka bergabung menjadi pengikut Kristus, meneladani Kristus dan mengusahakan kedamaian di dunia. Jika lebih banyak orang seperti Kristus tentu dunia ini akan menjadi lebih damai dan jauh dari kejahatan

    Studi Perbandingan Konsep Konflik menurut Fred Luthans dan Konsep Konflik menurut Alkitab

    Get PDF
    Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari konflik. Karena itu, ada banyak tokoh sekuler yang membahas masalah konflik dan cara menanggulanginya. Salah satunya adalah Fred Luthans. Konsep konflik Fred Luthans merupakan konsep yang didasarkan pada pemikiran Edward Tolman tentang teori kognitif dan pendekatan behavioristik yang dikembangkan oleh Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B. F. Skinner. Di dalam membangun konsepnya, Luthans menggunakan organisasi sebagai ruang lingkupnya. Baginya, orang yang bekerja di dalam suatu organisasi dengan latar belakang yang berbeda jauh lebih sering terlibat konflik ketimbang orang yang tidak bekerja di dalam organisasi tertentu. Jika konflik yang ada dibiarkan terus-menerus, maka hal itu bisa berdampak pada kinerja orang tersebut, dan bisa merugikan organisasi di mana ia bekerja. Untuk itu, Luthans mendorong setiap orang yang ada di dalam organisasi agar memiliki kemampuan bernegosiasi. Adapun pendekatan ini digunakan untuk menolong orang-orang yang ada di dalam organisasi agar mereka bisa berdialog dan menghasilkan kesepakatan yang memuaskan bagi kedua belah pihak yang terlibat konflik. Dalam membangun konsepnya, Luthans sangat menekankan keberadaan manusia sebagai makhluk yang memiliki kualitas intelegensi yang tinggi dan merupakan sumber daya yang memberikan sumbangsih tertinggi dalam organisasi. Karena itu, Luthans sangat mengagungkan kekuatan manusia. Jika ditinjau dari kebenaran Alkitab, maka dapat ditemukan bahwa konsep manusia menurut Luthans tidaklah menyeluruh. Dalam hal ini, Alkitab tidak hanya menyoroti kekuatan atau kelebihan manusia dari makhluk lainnya, tetapi juga menyatakan kelemahan manusia sebagai makhluk ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Oleh sebab itu, semua pikiran, jiwa, dan kehendak manusia telah dicemari oleh dosa. Untuk itu, manusia harus bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus agar dapat memahami segala sesuatunya yang terjadi di dalam dunia ini melalui sudut pandang Allah. Adapun tujuan dari pengenalan Allah dalam konteks konflik ini adalah agar manusia dapat menyelesaikan konflik sesuai dengan kehendak Allah dan dapat memuliakan-Nya sebagaimana tujuan awal manusia diciptakan oleh Allah. Dengan demikian, konsep konflik Fred Luthans tidak serta-merta dapat langsung digunakan sebagai pedoman bagi orang Kristen dalam menyelesaikan konflik yang ada. Hal ini dikarenakan semua konsep yang ada di dalam dunia ini harus tunduk kepada otoritas Alkitab sebagai firman Tuhan yang mutlak. Karena itu, semua prinsip penyelesaian konflik harus ditujukan bagi kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan manusia

    Tinjauan Teologis terhadap Konsep Malaikat Thomas Aquinas dari Sudut Pandang Alkitab.

    No full text
    Thomas Aquinas adalah seorang teolog abad pertengahan. Pemikiran-pemikirannya cukup banyak diterima sampai hari ini. Secara khusus mengenai malaikat, ia sangat banyak menguraikan tentang doktrin malaikat. Oleh karena itu, tidak heran ia dijuluki sebagai doktor dalam bidang malaikat (angelic doctor). Meskipun Aquinas adalah seorang yang pintar dan banyak memberikan penjabaran detail tentang malaikat, tetapi pandangannya tentu tidak terlepas dari konteks zaman pada waktu itu. Oleh karena itu, konsep malaikat yang dibangun Aquinas perlu diuji kembali kebenarannya berdasarkan Alkitab. Ada beberapa konsep malaikat Aquinas yang dapat diterima. Pertama, natur malaikat sebagai makhluk roh, memiliki atribut ilahi tetapi tetap sebagai ciptaan yang memiliki permulaan. Kedua, malaikat memiliki pengetahuan dan kehendak yang lebih tinggi dari manusia, tetapi tetap terbatas. Ketiga, malaikat melakukan tugas yang diperintahkan Allah bukan yang berasal dari dirinya sendiri. Beberapa konsep ini dapat diterima karena tidak bertentangan dengan Alkitab bahkan memiliki dukungan-dukungan dari Alkitab. Selain konsep-konsep yang dapat diterima, ada juga konsep yang perlu ditinjau kembali kebenarannya. Pertama, mengenai waktu penciptaan malaikat. Aquinas berpendapat bahwa malaikat diciptakan di luar waktu penciptaan alam semesta. Kedua, mengenai wujud malaikat. Aquinas berpendapat bahwa malaikat sama sekali tidak memiliki tubuh dalam bentuk apa pun. Aquinas juga menyatakan bahwa semua peristiwa kemunculan malaikat dalam PL adalah suatu lambang (figurative) yang merujuk kepada Anak Allah yang akan mengambil rupa manusia. Ketiga, mengenai pengetahuan dan kehendak malaikat. Aquinas menyatakan adanya pembedaan pengetahuan malaikat, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Keempat, mengenai malaikat pelindung. Aquinas menyatakan bahwa setiap manusia di muka bumi ini memiliki malaikat pelindungnya masing-masing sejak ia dilahirkan ke dalam dunia ini. Beberapa bagian Alkitab yang dijadikan pendukung oleh Aquinas adalah Mazmur 91:11 dan Matius 18:10. Beberapa pendapat Aquinas di atas kurang memiliki bukti dari Alkitab. Tidak ada ayat-ayat pendukung langsung yang dapat meneguhkan pandangan Aquinas. Mengenai malaikat pelindung, memang ada ayat yang mendukung, tetapi ayat tersebut hanya menunjukkan bahwa malaikat pelindung itu ada. Ayat tersebut tidak menyatakan bahwa setiap individu memiliki malaikat pelindung masing-masing. Dunia malaikat memang bukan hal yang mudah untuk dipahami. Alkitab sendiri tidak memberikan banyak detail tentang malaikat. Banyak hal tentang malaikat yang tidak pasti, yang pasti malaikat adalah ciptaan Allah yang berbeda dengan manusia. Mereka bersifat roh dan tidak terbatas oleh ruang. Mereka diciptakan untuk melakukan tugas Allah. Oleh karena ketidakpastian dari detail konsep malaikat, maka perlu hati-hati untuk membangun konsep malaikat, bukan hanya tidak bertentangan dengan Alkitab, tetapi juga tidak melebih-lebihkan apa yang Alkitab tuliskan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇