STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Hassatan sebagai Figur Minimalis dan Antagonis dalam Zakharia 3:1-2
Pertanyaan utama dari artikel ini adalah mengenai siapakan hassatan dalam Zakharia 3:1-2. Jawaban dari pertanyaan ini akan diberikan melalui sebuah studi mendalam mengenai hassatan, metafora-metafora yang dipakai dan plot dari cerita yang dikisahkan dalam bagian tersebut. Melalui sebuah rekonstruksi terhadap identitas hassatan, penulis menyimpulkan bahwa meskipun hassatan tidak dapat diidentifikasi, figur ini cukup minor namun antagonistis terhadap Allah dan umat-Nya
Kerajaan Allah: Sebuah Tinjauan Eksegesis
Pemahaman mengenai kerajaan Allah adalah pemahaman yang tidak boleh diabaikan oleh pengikut Kristus. Di dalam diskusi dan telaah mengenai kerajaan Allh, menurut N.T. Wright, kita sering melupakan pembahasan tentang bagaimana Allah menjadi Raja di dalam Yesus Kristus. Ini disebabkan pembacaan kitab-kitab Injil yang sudah dibatasi oleh kerangka berpikir seturut kredo-kredo gerejawi, seperti Pengakuan Iman Rasuli misalnya. Di dalam artikel ini, pembahasan mengenai kerajaan Allah dipandang secara lebih utuh sesuai dengan maksud awal dari penulisan kitab-kitab Injil, secara khusus dari kitab Matius. Pembahasan juga dilakukan mengikuti jalur naratif Perjanjian Lama yang menjadi latar belakang naratif kitab-kitab Injil
Studi Roma 13:1-7 : Ketaatan kepada Pemerintah sebagai Wujud Kesadaran Moral
Saat ini, demokrasi di Indonesia sedang dalam keadaan bahaya karena ada upaya dari para elite politik untuk memasung kedaulatan rakyat. Mereka mengabaikan tanggung jawab moral kepada rakyat. Demokrasi yang dikuasai para elite politik yang demikian akan melahirkan pemerintah yang hanya memikirkan kelompok tertentu bukan rakyat banyak. Studi Roma 13:1-7 dengan pendekatan analisis colon mengajarkan bahwa ketaatan merupakan suatu wujud tanggung jawab moral yang tinggi kepada Allah selain kesadaran akan adanya murka Allah. Ketaatan itu harus dimiliki oleh para elite politik sebagai bagian dari warga negara (dalam hal ini ketaatan kepada pemerintah). Ketaatan kepada pemerintah dari setiap elite politik menunjukkan tanggung jawab moral yang baik. Jika demokrasi dikuasai oleh orang demikian, kehidupan demokrasi di Indonesia akan sehat dan menyejahterakan rakyat
Mitos dan Realitas Konsep Keselamatan Dalam Teologi Arminian
Dalam karya ini penulis akan membahas mengenai mitos dan realita doktrin keselamatan dalam teologi Arminian. Sebelum kita membedah terlebih dalam mengenai hal ini penting untuk kita ketahui bahwa kalangan Arminian sendiri terbagi dalam beberapa aliran misalnya, Classical Arminian dan Wesleyan Armenian
Studi Perbandingan Dasar Pemikiran dan Perilaku Spending dari Sudut Ilmu Ekonomi dengan Wawasan Dunia Kristen
Spending merupakan suatu aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh setiap manusia dalam kehidupan. Perilaku spending seseorang dipengaruhi oleh dasar pemikiran yang dimiliki oleh orang tersebut. Dasar-dasar konsep yang mempengaruhi, antara lain: konsep mengenai uang, kesuksesan finansial, kekayaan dan kebebasan finansial. Keempat konsep ini berdampak dalam setiap perilaku ekonomi manusia, terutama dalam perilaku spending.
Ilmu ekonomi dan wawasan dunia Kristen memiliki pemahaman yang berbeda mengenai konsep-konsep yang mempengaruhi perilaku spending. Ilmu ekonomi membangun konsep dengan berfokuskan pada manusia, yakni berfokus kepada kebahagiaan dan kepuasan manusia sebagai individu dan kelompok. Ilmu ekonomi mendorong manusia untuk memiliki banyak uang dan mencapai kesuksesan finansial yang ditunjukkan melalui kepemilikan kekayaan materi dan kondisi kehidupan yang bebas secara finansial. Ilmu ekonomi juga hanya berorientasi pada kehidupan kekinian manusia selama di bumi. Lain halnya dengan wawasan dunia Kristen yang membangun konsep-konsep ekonomi yang berpusatkan kepada Allah. Allah adalah Pemilik segala sesuatu dan satu-satunya Pribadi yang memperoleh kepuasan dalam pengelolaan harta yang dilakukan manusia. Manusia adalah penata layan Allah yang mengelola harta Allah dengan tuntunan, arahan dan prinsip-prinsip kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Tujuan akhir hidup manusia dalam wawasan dunia Kristen adalah menjadi penata layan yang berhasil di hadapan Allah. Selain itu, wawasan dunia Kristen juga memiliki orientasi hidup kekekalan yang melihat bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia di bumi membawa dampak pada kekekalan. Perilaku spending yang dihasilkan dari kedua pandangan nampak mirip, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang esensial dalam fokus dari konsep, tujuan dan orientasi hidup. Ketiga hal ini mempengaruhi perilaku spending manusia, baik dalam pengendalian spending maupun keputusan memberi
Etos Kerja Seorang Hamba Menurut Kolose 3:22-25 dan Implikasinya bagi Pelayanan Tenaga Kerja Wanita di Luar Negeri.
Dalam skripsi ini dipaparkan banyaknya permasalahan yang muncul dalam dunia TKW yang mengakibatkan mereka harus dikembalikan ke negara asal. Salah satu penyebab permasalahan ini adalah prinsip etos kerja yang mereka miliki. Etos kerja yang mereka miliki adalah sebuah etos kerja yang berpusatkan pada pencapaian hasil dan kepuasan yang orientasinya adalah untuk diri sendiri. Hal ini sangat berbeda dengan etos kerja Kristen yang diajarkan Paulus dalam Kolose 3:22-25.
Melalui Kolose 3:22-25 Paulus meletakkan satu dasar yang penting yang harus dimiliki oleh para hamba Kristen, yaitu memahami dirinya sebagai gambar dan rupa Allah. Seseorang yang memahami makna menjadi gambar dan rupa Allah akan terlihat dari kehidupan spiritualnya sehari-hari. Ia adalah seorang yang dekat dengan Tuhan, memiliki relasi yang intim dengan Tuhan, menyediakan waktu untuk saat teduh dan doa pribadi, agar ia terus-menerus mengalami pertumbuhan iman. Dengan memahami akan gambar dan rupa Allah maka seorang hamba Kristen bisa melayani dengan tulus hati. Ketulusan hati ini dapat ditunjukkan dalam motivasi kerja yang murni untuk Tuhan. Mengerjakan pekerjaan dengan baik untuk Tuhan, dan juga menunjukkan kasih yang tulus kepada majikan semua untuk Tuhan. Selain itu, seorang hamba Kristen juga bisa menunjukkan dirinya sebagai gambar dan rupa Allah melalui bekerja dengan segenap hati dan pikiran dalam melakukan pelayanannya. Seorang hamba Tuhan juga mengerjakan pelayanannya dengan tulus hati dan segenap hati tujuannya untuk Tuhan, bukan untuk manusia, oleh sebab seorang hamba Kristen bekerja bukan untuk mencari upah yang berasal dari dunia ini, yang berupa penghargaan dari manusia. Tetapi seorang hamba Kristen tahu bahwa ia akan menerima upah yang kekal dari Tuhan dan juga selama bekerja di dunia, ia mengejar perkenan dan penghargaan dari Tuhan saja.
Empat prinsip ini yang harus dimiliki oleh para TKW Kristen sekarang ini. Dengan tujuan agar para TKW Kristen dapat menjadi garam dan terang dunia di sekitarnya, khususnya bagi para majikan yang belum mengenal Kristus. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan peran gereja dan hamba Tuhan sebagai mediator, yaitu pertama, dengan cara kerja sama melakukan jejaring pelayanan antara gereja Indonesia dalam negeri dengan PJTKI di Indonesia. Kedua, kerja sama antara gereja Indonesia luar negeri dan gereja lokal di luar negeri dengan agen-agen TKW di luar negeri. Dengan satu harapan jejaring pelayanan ini dapat menolong para TKW dalam meningkatkan etos kerja mereka. Lebih dari itu, agar para TKW yang hidup jauh dari keluarga, kesepian dan bahkan menderita dapat merasakan kasih Tuhan Yesus Kristus
Teologi Agama dari Perspektif Reformed : Sebuah Sketsa
Di kalangan Injili, teologi agama, yaitu sebuah pandangan teologis Kristen terhadap agama-agama lain, tidak banyak dibahas. Di tengah-tengah kekurangan tersebut penulis mencoba memberikan kontribusi untuk membangun teologi agama dari perspektif reformed. Dari perspektif reformed, manusia adalah makhluk religius dalam pengertian bahwa ia secara narutal akan mencari Allah karena penyataan Allah secara umum kepada manusia. Tetapi karena dosa manusia, respon ini menjadi respon yang salah arah, respon kepada sesuatu yang lain selain kepada Allah yang benar. Namun, karena anugerah umum Allah, manusia tersebut tidak sepenuhnya hidup dalam kesalahan, tetapi dapat memiliki kebenaran-kebenaran relligius yang menjadikan kepercayaan mereka mirip atau serupa dengan Kristen
Perbandingan Konsep Kematian dan Kehidupan di Balik Kematian Suku Toraja dengan Konsep Kematian dan Kehidupan di Balik Kematian dalam Alkitab
Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak dapat dipisahkan dari kebudayaannya, karena sifat budaya mengikat. Hal yang sama terjadi dengan orang-orang Toraja yang terikat tradisi nenek moyang, khususnya tradisi rambu solo yang diwariskan turuntemurun.Tradisi tersebut dilatarbelakangi oleh kepercayaan leluhur orang Toraja sebagai penganut Aluk Todolo. Ritual rambu solo adalah upacara orang mati yang di dalamnya tersirat kepercayaan suku leluhur suku Toraja tentang kematian dan kehidupan di balik kematian. Leluhur suku Toraja meyakini bahwa kematian adalah jalan untuk kembali ke langit dan menjadi manusia ilahi sama seperti pada waktu penciptaan pertama. Orang mati yang belum mendapatkan ritual rambu solo rohnya masih gentayangan; ia akan berpindah dari dunia orang mati menuju ke langit hanya jika sudah diupacarakan sesuai ritual rambu solo. Roh orang mati yang sudah menjadi manusia ilahi akan memelihara dan memberkati keturunannya yang masih hidup. Roh tersebut dan orang hidup tetap memiliki relasi dan
saling membutuhkan satu dengan yang lain. Konsep kematian dan kehidupan di balik kematian suku Toraja sangat berbeda dengan konsep kematian dan kehidupan di balik kematian dalam Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa manusia mengalami kematian akibat dosa mereka. Manusia yang berdosa bukan hanya mengalami kematian fisik tetapi juga kematian rohani. Setelah mengalami kematian secara fisik, roh manusia akan berada di dunia orang mati sambil menantikan kebangkitan tubuh mereka pada hari kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Selama dalam masa penantian orang mati tidak dapat berelasi dengan orang hidup karena dunia mereka berbeda dan terpisah jauh. Apabila ada orang hidup yang berelasi dengan roh orang mati, maka sebenarnya ia sedang terlibat pekerjaan Iblis. Pada hari kebangkitan
orang percaya akan mendapatkan tubuh kemuliaan dan menikmati kebahagiaan yang sempurna dalam perjamuan bersama dengan Anak Domba, sedangkan orang tidak percaya akan dihakimi dan mendapatkan hukuman kekal dalam api neraka. Oleh karena suku Toraja mayoritas beragama Kristen, selayaknya firman Tuhanlah yang menjadi dasar kehidupan supaya mereka dapat memahami bahwa kematian akan membawa mereka kepada Allah melalui Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat
Sebuah Apologetika untuk Menghadapi Evolusi Ateistik dengan Intelligent Design.
Penjelasan mengenai asal usul keberadaan makhluk hidup merupakan kebutuhan mendasar manusia. Salah satu konsep yang dibangun karenanya adalah teori evolusi ateistik. Dengan berdasarkan metodologi naturalisme, kalangan evolusi ateistik berupaya menyediakan jawaban yang rasional dan ilmiah. Mereka menggunakan teori evolusi Darwin dengan beberapa tambahan, yakni mengenai proses mutasi genetik dalam kaitannya dengan seleksi alam. Mereka mengungkapkan bahwa proses seleksi alam—hanya yang kuat yang dapat bertahan—dan dipadu dengan konsep mutasi genetik dapat mengubah sebuah mikroorganisme secara gradual menjadi organisme tingkat tinggi. Mereka mengatakan bahwa seluruh makhluk hidup merupakan hasil dari evolusi. Konsep ini hendak meniadakan intervensi Allah sebagai Pencipta dari keberadaan makhluk hidup di bumi.
Karena bertentangan dengan konsep kekristenan, apologetika terhadap konsep evolusi ateistik harus dilakukan. Pertama, hal yang harus dilakukan adalah evaluasi terhadap konsep evolusi ateistik. Dari hasil penelitian didapati bahwa teori ini memiliki banyak kelemahan dan ketidaksesuaian dengan data fosil. Seleksi alam dan mutasi genetik (yang dibatasi oleh hukum alam dan jumlah materi yang ada dalam alam) tidak mampu membentuk organisme dalam berbagai fila yang baru sebagaimana yang ditemukan pada era Kambrium. Kedua, sebuah opsi yang lebih baik daripada konsep evolusi ateistik harus diajukan oleh pihak Kristen. Intelligent Design merupakan opsi yang dapat dipertanggungjawabkan, ilmiah, dan sesuai dengan bukti-bukti fosil. Intelligent Design memberi bukti bahwa makhluk hidup adalah hasil desain. Makhluk hidup tidak tercipta karena proses acak, melainkan karena sebuah perancangan. Hanya Pribadi yang berinteligensilah yang mampu menciptakan makhluk hidup.
Apologetika terhadap konsep evolusi ateistik dengan Intelligent Design, diharapkan mampu menguatkan iman orang percaya dan membuat spiritualitas mereka semakin bertumbuh. Selain bagi orang percaya secara umum, apologetika ini juga bertujuan untuk mengobarkan semangat para pengajar biologi Kristen untuk tidak mendikotomikan ilmu pengetahuan dan kekristenan, namun justru menguatkan iman para anak didiknya melalui ilmu biologi yang diajarkan. Dalam mengajarkan teori evolusi, hendaknya pengajaran yang objektiflah yang disampaikan, baik konsepnya maupun kelemahan-kelemahan dan juga kritik terhadap teori evolusi