STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Karunia Bahasa Roh : Tinjauan terhadap Karunia Roh di dalam Alkitab dan Fenomena yang Terjadi di Masa Kini

    No full text
    Beberapa kali penulis mendapatkan kesempatan untuk mengikuti suatu kebaktian dari gereja Karismatik. Suatu hal yang tidak asing bagi penulis ialah ketika ibadah sedang berlangsung, tepatnya di tengah-tengah pujian-pijian, jemaat-jemaat mulai berkata-kata dalam bahasa asing dengan diiringi musik. Suara yang terdengar dari mulut mereka adalah suku kata yang terus menerus di ulang, dan mereka mengkalim bahasa itu adalah bahasa roh. Bagi beberapa dominasi gereja, setuju bahwa karuia ini masih ada dan perlu dicari atau diusahakan, namun ada banyak kalangan juga yang menggangap bahwa karunia ini sudah tidak ada lagidan sudah berhenti setelah zaman rasul-rasul. Dengan demikian manakah peryataan yang benar mengenai karunia yang satu ini? Apakah karunia ini sudah tidak ada lagiataukah karunia ini harus dimiliki semua orang kristen? Oleh karena itu, tilisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan apa yang Alkitab katakan tentang karunia ini

    Pemahaman dan Pelibatan Peran Roh Kudus oleh Guru-guru dalam Mengajar di Sekolah Kristen.

    No full text
    Sekolah Kristen telah hadir di Indonesia puluhan tahun yang lalu melalui sebuah panggilan misi di dunia pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan Kristen memahami bahwa sekolah merupakan salah satu alat misi di tangan Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi-Nya. Artinya, sekolah Kristen adalah adalah alat restorasi antara manusia yang berdosa dengan Allah Penyelamat. Sekolah Kristen juga berperan menolong para murid untuk menemukan karunia yang diberikan Tuhan sehingga mereka dapat menolong orang lain di mana mereka berada. Peran pendidikan Kristen melalui sekolah Kristen dalam menjalankan misi ini tidak bisa lepas dari peran Roh Kudus di dalamnya. Misi besar ini akan dijalankan oleh guru-guru di sekolah-sekolah Kristen. Oleh karena itu setiap guru di sekolah Kristen harus memahami dan melibatkan peran Roh Kudus, salah satunya adalah melalui proses belajar dan mengajar. Pertanyaannya adalah: apakah guru-guru sudah memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan pelibatan peran-Nya dalam proses mengajar mereka di kelas? Berdasarkan pemikiran itulah maka penulis malakukan penelitian terhadap beberapa guru yang mengajar di sekolah Kristen. Apakah mereka memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan pelibatan-Nya dalam proses mengajar mereka? Hasil penelitian melalui metodologi penelitian kualitatif dengan cara wawancara menunjukkan bahwa guru-guru tersebut memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan mereka tahu bahwa pelibatan Roh Kudus dalam proses mengajar adalah sangat penting. Pemahaman pentingnya peran Roh Kudus dalam proses mengajar didasarkan pemahaman oleh guru-guru bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang membawa pada kekekalan. Oleh karena itu, guru-guru tidak bisa hanya memiliki pengetahuan Alkitab, keterampilan pedagogi, serta wawasan dan pengetahuan yang baik saja, akan tetapi, mereka membutuhkan kuasa Ilahi melalui kehadiran. Roh Kudus dalam diri mereka untuk mengerjakan pekerjaan ini. Roh Kudus bekerja dalam proses mengajar dan membuat firman Tuhan mempengaruhi murid-murid sehingga kebenaran firman Tuhan yang disampaikan menjadi efektif

    Signifikansi IDMC dalam Meneropongi Faktor-faktor Penghambat Pemuda GKIM Majesty untuk Menjadi Pemimpin Kelompok Kecil Pemuridan

    No full text
    Amanat Agung Tuhan Yesus: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka...dan ajarlah mereka ..." (Mat. 28:19-20). Kita bisa melihat bahwa penekanan amanat ini ada pada mengajarkan, menjadi saksi, dan menjadi murid. Kesalahan konsep mengenai Amanat Agung: Bukan "pesan untuk diberitakan" tapi "kehidupan yang dihidupi." Bukan "jumlah" melainkan "ketaatan". Bukan "murid" melainkan "memuridkan semua bangsa". Jadi inti dari pelayanan yang dinyatakan di dalam Amanat Agung dan Perintah Agung adalah pemuridan yang direncanakan. Pemahaman pemuridan secara Alkitabiah ini menempatkan Amanat Agung di dalam misi inti dari gereja. Tetapi apa yang gereja-gereja pada umumnya lakukan di dalam pelayanannya bagi dunia? Pemuridan seperti apa yang seharusnya diadakan? Mengapa pemuridan tidak bisa berkembang, faktor-faktor penghambat apa yang menyebabkan tidak semua mereka yang sudah dibimbing dalam kelompok kecil pemuridan ini dapat secara langsung menjadi pemimpin kelompok kecil pemuridan berikutnya? Inilah yang akan menjadi sorotan penulis di dalam menulis dan merencanakan penelitiannya di dalam tesis ini, yang penulis tujukan bagi gereja-gereja pada umumnya dan khususnya bagi gereja di mana penulis melayani. Penelitian tesis ini berfokus pada pertanyaan: "Mengapa pemuda GKim Ka Im Tong cabang Majesty sulit menjadi pemimpin kelompok kecil pemuridan?" Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat

    Konsep Intimasi Kristus Dengan Jemaat-Nya Sebagai Analogi dari Pernikahan Berdasarkan Efesus 5:22-33 dan Implikasinya untuk Menjaga Intimasi Pernikahan Kristen.

    No full text
    Pernikahan merupakan lembaga sosial terkecil yang dibentuk oleh Allah mendahului semua lembaga sosial lainnya. Walaupun kecil, lembaga ini begitu penting karena menjadi fondasi dan dasar yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Sejak semula, Allah merancang pernikahan yang sehat, di mana setiap individu di dalamnya dapat merasakan dan memenuhi kebutuhan intimasi satu sama lainnya. Bahkan, pernikahan dijadikan Allah sebagai analogi hubungan-Nya dengan umat-Nya. Pernyataan ini dengan jelas tertulis di dalam Efesus 5:32, pernikahan sebagai cermin hubungan Kristus dan jemaat. Akan tetapi, rancangan Allah akan pernikahan menjadi rusak ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia menjadi egois, mementingkan dirinya sendiri, dan tidak mau melayani pasangannya sehingga hubungan pernikahan pun menjadi tidak sempurna. Hubungan pernikahan kemudian dilihat seperti hubungan kontrak, yang dapat berakhir dengan perceraian apabila masing-masing individu tidak dapat lagi saling memberikan keuntungan. Dari tahun ke tahun angka perceraian semakin meningkat. Bukan hanya terjadi pada pasangan suami-isteri yang tidak mengenal Allah, namun perceraian juga terjadi pada pasangan Kristen. Perceraian dapat terjadi secara legal, namun juga dapat terjadi secara emosional yang seringkali tidak kelihatan kasat mata. Melalui perceraian, manusia merusak rancangan Allah akan pernikahan, bahkan merusak gambaran kesatuan Kristus dengan jemaat. Ketika pasangan Kristen bercerai, mereka tidak dapat lagi bersaksi dan merepresentasikan hubungan Kristus-jemaat kepada dunia. Salah satu penyebab perceraian adalah kurangnya intimasi pernikahan. Intimasi menyatukan dan meleburkan dua orang menjadi satu, baik dalam aspek seksual, emosional, maupun spiritual. Itu sebabnya, suami-isteri seharusnya menjaga dan meningkatkan intimasi dalam pernikahan mereka. Untuk menjaga dan meningkatkan intimasi dalam pernikahan dibutuhkan suatu usaha dan komitmen yang harus terus-menerus dilakukan. Efesus 5:22-33 merupakan jawaban bagi suami-isteri dalam usaha mencapai dan meningkatkan intimasi pernikahan. Dalam perikop ini, suami-isteri diperintahkan untuk mencontoh relasi Kristus-jemaat yang sarat dengan intimasi. Suami seharusnya mencontoh perilaku Kristus yang mengasihi jemaat; isteri seharusnya mencontoh perilaku jemaat yang tunduk kepada Kristus. Kasih dan tunduk menjadi dasar dalam sebuah hubungan suami-isteri yang tidak dapat ditawar atau dihilangkan untuk merasakan intimasi

    Gaya Pengasuhan dan Identitas Diri Remaja

    No full text

    Konsep Pengampunan dalam Matius 18:21-35 dan Implikasinya pada Konseling Pastoral terhadap Korban Kekerasan Seksual.

    No full text
    Di tengah marak dan banyaknya jumlah kasus kekerasan seksual dewasa ini, kebingungan terjadi di tengah komunitas Kristen terkait persoalan antara kekerasan seksual dan pengampunan. Salah satu kesulitan di sini berkaitan dengan pengajaran Kristus dalam perikop Matius 18:21-35. Rohaniwan atau konselor perlu memahami konsep pengampunan di sini secara tepat sehingga dapat menerapkannya secara efektif dalam langkah-langkah penanganan konseling pastoral terhadap korban. Menjawab persoalan di atas, penelitian ini dilakukan untuk menemukan konsep pengampunan yang benar menurut Matius 18:21-35. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, yakni penelitian kepustakaan berkenaan dengan konsep pengampunan dalam Matius 18:21-35 dan konseling pastoral terhadap korban kekerasan seksual. Penemuan dari penelitian ini menjadi bahan acuan dalam pembuatan rancangan penanganan konseling pastoral berbasis konsep pengampunan terhadap korban kekerasan seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pengampunan dalam Matius 18:21-35 adalah suatu konsep yang terintegrasi dari aspek belas kasihan dan keadilan yang diekspresikan dengan segenap hati berdasarkan pengalaman serta penghayatan menyeluruh atas anugerah pengampunan ilahi yang diterima seseorang dari Allah melalui Kristus untuk diteruskan kepada sesama. Dengan dasar pemahaman teologis tersebut, rohaniwan atau konselor Kristen kemudian menerapkan prinsip Christ-centered biblical counseling dan melengkapi pengetahuan teologisnya dengan pengetahuan psikologis. Diawali dengan membangun rasa aman bagi klien, rancangan konseling menuju pengampunan kemudian disusun dalam beberapa fase, yaitu: (1) Fase mengklarifikasi dampak serangan dan emosi-emosi negatif klien; (2) Fase menetapkan batasan-batasan yang sesuai untuk melindungi keamanan diri klien; (3) Fase membimbing klien mengambil keputusan untuk mengampuni; (4) Fase mengevaluasi kembali dan memahami sisi kemanusiaan pelaku; (5) Fase memperluas anugerah pengampunan; dan (6) Fase terminasi dengan klien

    Anak Manusia : Suatu Reinterpretasi terhadap Konsep Mesianis Yahudi

    Get PDF
    Tulisan ini memusatkan perhatian pada penelitian makna sebutan Anak Manusia yang sering kali digunakan Yesus untuk menyebut diri-Nya sendiri. Dengan menggunakan pendekatan topikal, penulis berpendapat bahwa ungkapan tersebut merupakan sebuah reinterpretasi yang dilakukan oleh Yesus terhadap konsep Mesias yang dipahami oleh orang Israel pada zaman-Nya. Paradigma populer mengenai Mesias revolusioner yang dipahami oleh orang Israel ditafsirkan kembali, dikritik, sekaligus dipatahkan oleh Yesus yang menegaskan klaim mesianis-Nya justru melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus bukanlah seorang oportunis yang memanfaatkan situasi untuk menarik simpati dan dukungan massa. Ia memilih jalan yang jauh dari kebiasaan manusia yang haus akan kuasa, yaitu jalan penderitaan, jalan sejati, jalan Anak Manusia

    Tinjauan terhadap dosa yang dianggap pantas

    Get PDF

    Konsep Spiritualitas Kerja Daniel dalam Kitab Daniel 1-6 dan Relevansinya bagi Pekerja Kristen di Dunia Kerja Masa Kini

    Get PDF
    Bagi pekerja Kristen, bekerja adalah panggilan Allah untuk mengusahakan dunia milik kepunyaan-Nya. Allah sendiri adalah seorang pekerja, dan Ia memanggil manusia yang diciptakan-Nya serupa dan segambar dengan-Nya untuk bekerja. Oleh karena itu seharusnyalah setiap pekerja Kristen bekerja dengan baik dan benar untuk dapat memperkenankan hati Tuhan. Namun, banyak masalah dan tantangan yang mereka hadapi. Masalah-masalah dan tantangan-tantangan tersebut adalah persaingan yang sangat ketat, kejahatan-kejahatan dalam dunia kerja, godaan materialisme, pandangan yang salah terhadap pekerjaan, dan spiritualitas kerja sekuler yang booming saat ini. Semuanya ini, jika tidak dihadapi dengan baik dapat mengakibatkan para pekerja ini kehilangan jiwanya. Mereka tidak bertumbuh secara rohani dan tidak memuliakan nama Tuhan. Daniel adalah seorang pekerja yang bekerja sebagai seorang negarawan. Ia juga menghadapi banyak tantangan dan masalah dalam pekerjaannya. Ia menghadapi masalah penggantian nama, makanan dan minuman dari meja raja, budaya dan agama orang Babel yang menentang Allah, kondisi politik yang tidak stabil, atasan yang kejam dan rekan sekerja yang iri hati. Namun, Daniel dapat tetap setia kepada Allah dan mempermuliakan nama Tuhan. Daniel dapat setia kepada Tuhan karena ia memiliki disiplin spiritualitas kerja yang baik. Disiplin spiritualitas kerjanya terwujud nyata dalam lima hal, yaitu: (1) kehidupannya yang berpegang pada firman Tuhan; (2) membangun dukungan komunitas; (3) percaya pada kuasa Allah; (4) memiliki kualitas kompetensi dan karakter yang unggul; dan (5) memiliki hubungan yang akrab dengan Allah melalui kehidupan doanya yang disiplin dan teratur. Pekerja Kristen masa kini juga dipanggil untuk setia kepada Tuhan dalam pekerjaannya. Caranya adalah dengan mengupayakan disiplin spiritualitas kerja seperti yang dilakukan Daniel. Pekerja Kristen harus benar-benar mengupayakan suatu kehidupan yang berpegang pada firman Tuhan, membangun sebuah komunitas pendukung, percaya dan bergantung pada kuasa Allah dalam pekerjaan, bertumbuh dalam kompetensi dan karakter dan membangun kehidupan doa yang teratur

    Studi Perbandingan Keadilan Sosial dari Perspektif Pancasila dengan Kitab Taurat.

    No full text
    Keadilan sosial telah menjadi konsep yang krusial untuk memberikan pedoman pada setiap individu, kelompok, dan negara untuk berelasi. Manusia yang cenderung tamak dan tidak peduli dengan sesamanya, dapat dibatasi untuk tidak “memperkosa” hak sesamanya dengan konsep keadilan sosial ini. Indonesia sendiri sebagai negara hukum memiliki sumber konsep keadilan sosial dari Pancasila. Segala bentuk konstitusi di Indonesia berdasarkan pada Pancasila. Dengan kata lain setiap institusi dan masyarakat di Indonesia juga harus berlandaskan pada Pancasila. Hal ini menjadi dilema bagi orang Kristen yang hidup di negara Indonesia, karena orang Kristen memiliki Alkitab sebagai dasar pedoman kehidupan mereka. Di dalam Alkitab pun, khususnya kitab Taurat terdapat dasar konsep teologis keadilan sosial. Dilema ini akan membawa orang Kristen pada dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah orang Kristen membuang konsep keadilan Pancasila dari kehidupannya dan tidak mau tahu tentang konsep tersebut, dan ini akan membahayakan kesatuan negara. Ekstrem kedua orang Kristen menerima konsep keadilan sosial Pancasila secara bulat-bulat, tanpa mengetahui konsep teologis keadilan sosial di dalam Alkitab, yang dapat mengakibatkan kesalahan konsep. Dilema ini biasanya membuat orang Kristen menjadi apatis dan akhirnya tidak melaksanakan keadilan sosial tersebut di dalam kehidupannya. Sebuah solusi untuk menghindari tindakan apatis ini adalah dengan mengetahui kedua konsep keadilan sosial tersebut, sehingga orang Kristen di Indonesia tidak berada dalam ketidaktahuan dan dapat mengambil sikap. Skripsi ini akan membantu pembaca Kristen dengan memaparkan konsep keadilan sosial yang terkandung di dalam Pancasila, dan memaparkan konsep teologis keadilan sosial dalam kitab Taurat terutama yang terkandung dalam hukum-hukum yang tercantum dalam kitab Taurat. Lalu, penulis akan membandingkan kedua konsep ini sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas setiap konsep yang dimiliki oleh keduanya. Pembaca Kristen seyogianya tidak lagi bersikap apatis dan memiliki pandangan Kristen yang benar tentang konsep keadilan sosial. Apabila orang Kristen sudah memiliki konsep yang benar, maka ia dapat menentukan sikap dan melaksanakan keadilan sosial yang benar dikehendaki oleh Allah

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇