STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Pengembangan Manajemen Keuangan Gereja Berdasarkan Prinsip-prinsip Alkitabiah di Jemaat Gereja Kristus Wilayah Jakarta

    No full text
    Gereja dalam melaksanakan visi dan misinya sebagaimana amanat agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20 tentu membutuhkan penyertaan dan berkat-Nya. Salah satu bentuk berkat Tuhan adalah uang yang bisa digunakan untuk pekerjaan pelayanan gereja. Uang adalah hamba yang baik tetapi menjadi buruk bila diperlakukan sebagai majikan. Bila pelayan dan aktivis memperlakukan uang tidak sesuai prinsip-prinsip Alkitab dan iman Kristen yang benar, maka kehadiran uang bukan lagi menjadi berkat malah bisa menjadi kutuk yang mempermalukan gereja. Sering kali gereja gagal menjalankan misinya untuk menjadi terang dan garam karena sikap dan cara para pemimpinnya di dalam memahami serta memperlakukan uang. Selain itu gereja perlu melakukan tata kelola administrasi dan manajemen keuangan secara profesional. Gereja perlu memanfaatkan sistem dan prosedur akuntansi serta pelaporan yang memadai sesuai dengan kebutuhan dari perkembangan organisasi gereja. Semua berkat yang diterima oleh gereja, termasuk uang di dalamnya adalah berasal dari Tuhan, karenanya sedapat mungkin dipakai seturut dengan kehendak Tuhan. Pelaporan keuangan yang dilengkapi dengan sistem pengawasan dan pemerikasaan merupakan bentuk pertanggungjawaban gereja kepada Tuhan melalui sidang jemaat-Nya. Resume hasil angket kepada tiga majelis jemaat Gereja Kristus di wilayah Jakarta menyimpulkan bahwasannya mereka sudah memiliki pemahaman yang benar sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitabiah dan iman Kristen. Mereka juga menyadari bahwa pelaksanaan adminsitrasi dan manajemen keuangan operasional gereja sehari-hari masih banyak menghadapi kendala dan keterbatasan. Gereja mengharapkan adanya peningkatan sistem dan prosedur serta aplikasi manajemen keuangan, di mana tesis ini boleh memberikan masukan dan kontribusinya yang aplikatif. Usulan pengembangan yang ditawarkan bagi pengurus gereja kitanya bisa menjadi sarana yang berguna bagi peningkatan sistem manajemen keuangan yang sudah ada dan berjalan sekarang ini demi mendukung kinerja pelayanan gereja

    Hubungan antara Relasi Ayah-Anak dan Dukungan Sosial dengan Daya Tahan terhadap Stres pada Usia Dewasa Awal

    Get PDF
    Penelitian bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Apakah terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres? Apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres? Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan menggunakan teknik sampling nonprobabilitas berupa sampling purposif. Teknik sampling purposif yaitu subjek yang diambil berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian dan kemudian dilakukan penilaian dan upaya cermat untuk memperoleh sampel yang representatif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program statistik SPPS Statistik 21 dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson untuk pengolahan datanya. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Kristen dari fakultas Ilmu Administrasi (11,3%), Hukum (10,4%), Perikanan (3,5%), Perencanaan Wilayah Kota (0,9%), Kedokteran (20,9%), Ekonomi dan Bisnis (5,2 %), Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (0,9%), Teknik (11,3%), Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (27%), dan Pertanian (8,7%) di Universitas Brawijaya. Usia rata-rata responden adalah 19 tahun dengan jumlah responden laki-laki 38 (33%) dan jumlah responden perempuan 77 orang (67%). Jumlah total subjek penelitian adalah 115 orang. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan alat ukur kuesioner untuk mengukur variabel daya tahan stres, relasi ayah-anak dan dukungan sosial. Instrumen yang digunakan untuk mengukur daya tahan stres adalah skala daya tahan stres dari Heman Elia (1995) yang terdiri dari 34 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi ayah-anak adalah skala Perception of Parents Scale dari Youniss dan Smollar (1991) yang terdiri dari 18 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial adalah skala Social Support- Friend Scale (PSS- Fr) dari Procidano dan Heller 91983) yang terdiri dari 20 item pertanyaan. Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Demikian juga dengan hubungan antara dukungan sosial dan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis penelitian diterima. Hasil dioalah dengan program statistik SPPS Statistik 21 dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Semakin tinggi relasi ayah-anak, maka semakin tinggi daya tahan stres pada usia dewasa awal; terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Semakin tinggi dukungan sosial, semakin tinggi daya tahan stres pada usia dewasa awal. Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah: (1) Saran teoretis yang ditujukan demi peningkatan khasanah ilmu pengetahuan, khususnya mengenai daya tahan stres adalah sebagai berikut: (a) Perlunya memperhitungkan variabel lain yang mempunyai peran pula pada daya tahan stres, seperti faktor ibu. Ayah dan ibu adalah mitra yang aktif dalam melaksanakan peranan sebagai orang tua. Keduanya mempunyai dampak langsung perkembangan anak. Dengan demikian, faktor ibu adalah faktor yang penting untuk diteliti. Diharapkan penelitian mendatang dapat memperhitungkan pula faktor ini. (b) Perlunya memperhitungkan populasi lain, seperti populasi pada usia dewasa menengah. Diharapkan penelitian mendatang dapat memperhitungkan pula populasi ini.Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:Apakah terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres? Apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres? Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan menggunakan teknik sampling nonprobabilitas berupa sampling purposif. Teknik sampling purposif yaitu subjek yang diambil berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian dan kemudian dilakukan penilaian dan upaya cermat untuk memperoleh sampel yang representatif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program statistik SPPS Statistik 21 dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson untuk pengolahan datanya. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Kristen dari fakultas Ilmu Administrasi (11,3%), Hukum (10,4%), Perikanan (3,5%), Perencanaan Wilayah Kota (0,9%), Kedokteran (20,9%), Ekonomi dan Bisnis (5,2%), Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (0,9%), Teknik (11,3%), Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (27%), dan Pertanian (8,7%) di Universitas Brawijaya. Usia rata-rata responden adalah 19,91 tahun dengan jumlah responden laki-laki 38 (33%) dan jumlah responden perempuan 77 orang (67%). Jumlah total subjek penelitian adalah 115 orang. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan alat ukur kuesioner untuk mengukur variabel daya tahan stres, relasi ayah-anak dan dukungan sosial. Instrumen yang digunakan untuk mengukur daya tahan stres adalah skala daya tahan stres dari Heman Elia (1995) yang terdiri dari 34 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi ayah-anak adalah skala Perception of Parents Scale dari Youniss dan Smollar (1991) yang terdiri dari 18 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial adalah skala Social Support- Friends Scale (PSS- Fr) dari Procidano dan Heller (1983) yang terdiri dari 20 item pernyataan. Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Demikian juga dengan hubungan antara dukungan sosial dan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis penelitian diterima. Hasil diolah dengan program statistik SPPS Statistik 21 dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal. Semakin tinggi relasi ayah-anak, maka semakin tinggi daya tahan stres pada usia dewasa awal; Terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan daya tahan stres pada usia dewasa awal.Semakin tinggi dukungan sosial, semakin tinggi daya tahan stres pada usia dewasa awal. Saran yang dapat diberikan melalui penelitian adalah: (1) Saran teoretis yang ditujukan demi peningkatan khasanah ilmu pengetahuan, khususnya mengenai daya tahan stres adalah sebagai berikut: (a) Perlunya memperhitungkan variabel lain yang mempunyai peran pula pada daya tahan stres, seperti faktor ibu. Ayah dan ibu adalah mitra yang aktif dalam melaksanakan peranan sebagai orang tua. Keduanya mempunyai dampak langsung perkembangan anak. Dengan demikian, faktor ibu adalah faktor yang penting untuk diteliti. Diharapkan penelitian mendatang dapat memperhitungkan pula faktor ini (b) Perlunya memperhitungkan populasi lain, seperti populasi pada usia dewasa menengah. Diharapkan penelitian mendatang dapat memperhitungkan pula populasi ini

    Korelasi Aktivitas Rohani terhadap Kematangan Spiritualitas Jemaat Manula Gereja Kristus Ketapang Pos Taman Alfa

    No full text
    Sering kali gereja-gereja menilai pertumbuhan gereja berdasarkan pertumbuhan jemaat yang mereka alami. Selain itu, banyaknya aktivitas rohani juga sering dijadikan indikasi berhasil atau tidaknya gereja tersebut bertumbuh. Tidaklah salah kalau hal ini menjadi salah satu faktor untuk mengukur pertumbuhan gereja, akan menjadi masalah kalau hal ini menjadi satu-satunya alat ukur. Permasalahan yang sering kali dihadapi gereja adalah pergumulan spiritualitas jemaatnya. Walaupun gereja sudah memberikan banyak aktivitas rohani seperti persekutuan kategorial, pendalaman Alkitab, Kelompok Tumbuh Bersama, paduan suara, persekutuan doa dan lain-lain, namun pada kenyataannya banyak jemaat manula tidak memiliki spriritualitas yang baik dalam menghadapi permasalahan di masa tuanya. Permasalahan yang ingin diangkat dan coba dijawab penulis adalah bagaimana sebenarnya korelasi antara aktivitas-aktivitas rohani dengan pertumbuhan spiritualitas jemaat. Apakah banyaknya aktivitas rohani memberikan jaminan pertumbuhan spiritual jemaat? Hal ini adalah penting terutama bagi kaum manula yang pada umumnya sudah lama berjemaat. Apakah kaum manula memiliki spiritualitas yang baik sehingga mampu menghadapi pergumulan dalam masa tuanya. Dari penelitian yang dilakukan, penulis mengambil kesimpulan bahwa banyaknya aktivitas rohani tidak menjamin pertumbuhan spiritualitas kaum manula, namun kualitas aktivitas rohanilah yang membuat pertumbuhan kualitas spiritual

    Studi tentang Pemahaman Blended Worship dalam Korelasinya dengan Pengalaman Beribadah menurut Robert Webber berdasarkan Firman Tuhan dan Penerapannya di Gereja Kristus Ketapang

    No full text
    Perkembangan gaya beribadah (worship style) dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi topik diskusi yang utama di antara pemimpin ibadah. Gereja-gereja, termasuk gereja tradisional injili telah terpaku kepadanya. Salah satu gaya beribadah yang banyak didiskusikan adalah blended worship yang digagas oleh Robert Webber, yang sangat menitikberatkan pengalaman beribadah. Gereja Kristus Ketapang telah menerapkan blended worship secara terbatas dalam tiga tahun belakangan ini dengan tujuan mengadakan ibadah yang kontekstual, serta menghadirkan pengalaman beribadah bagi jemaat. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa ibadah pada esensinya adalah spiritual discipline, pengalaman rohani yang mengubah setiap aspek hidup kita semakin tunduk dan taat kepada Allah. Pelayan ibadah mempunyai peranan penting dalam memimpin jemaat masuk ke dalam sebuah pengalaman beribadah. Oleh karena itu pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Bagaimanakah pemahaman ibadah yang dimiliki oleh pelayan ibadah di Gereja Kristus Ketapang? Aspek apakah yang mempengaruhi pengalaman beribadah mereka dalam kaitan dengan penerapan blended worship? Proyek ini akan mengamati dan memverifikasi pemahaman ibadah dan pengalam beribadah berdasarkan hasil wawancara terhadap para pelayan ibadah. Penemuan dari pertanyaan tersebut akan dipaparkan dan dijelaskan dalam tesis ini. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa para pelayan ibadah telah menunjukkan kegairahan yang cukup besar untuk memahami ibadah, namun belum menggambarkan pemahaman secara alkitabiah yang cukup mengakar. Mereka juga memiliki pemahaman dasar bahwa aspek spiritualitas pribadi mempengaruhi pengalaman beribadah, namun tetap dipengaruhi oleh aspek teknis ibadah: lagu/pujian, musik/aransemen, dan multimedia. Kesimpulannya, para pelayan ibadah di Gereja Kristus Ketapang perlu mendapatkan pembinaan berkesinambungan dalam hal spiritualitas, teologis, dan teknis beribadah yang dikaitkan dengan penerapan blended worship

    Kebiasaan Merokok dari Pasien yang Datang ke Klinik Aeskulap Batam ditinjau dari Firman Tuhan -- Sebuah Studi di Klinik Aeskulap Batam

    No full text
    Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan sebagian orang, termasuk orang Kristen, yang sulit dihentikan. Hanya sedikit perokok yang mau berhenti dari kebiasaan ini dengan alasan sosioekonomi. Berdasarkan wawancara dengan pasien Kristen yang datang ke klinik Aeskulap Batam didapati bahwa mereka beranggapan bahwa orang Kristen boleh merokok karena hal itu tidak dilarang didalam Alkitab. Tesis ini akan menyoroti masalah merokok ini dari sudut pandang firman Tuhan dan medis. Pandangan firman Tuhan tentang merokok dikaitkan dengan tujuan hidup anak Tuhan, yaitu bahwa baik hidup ataupun mati, semuanya adalah bagi Tuhan, dan bahwa setiap anak Tuhan adalah orang tebusan. Artinya, ia bukan lagi miliknya sendiri, tetapi milik Kristus, dan tubuhnya adalah bait Allah, oleh karena itu orang Kristen wajib menjaga kekudusan hidupnya. Dari sisi medis jelas bahwa merokok membahayakan kesehatan, tidak hanya kesehatan perokok sendiri, tetapi juga kesehatan orang-orang di sekitarnya. Mengingat bahwa tubuh orang percaya adalah bait Allah, maka selayaknyalah seorang anak Tuhan menjaga tubuhnya untuk kemuliaan nama-Nya, salah satu caranya adalah dengan cara berhenti merokok bagi mereka yang melakukannya. Hal ini tentunya bukan sesuatu yang mustahil, asalkan seseorang bersedia taat pada firman Tuhan dan memiliki komitmen bahwa baik hidup maupun mati, semuanya adalah bagi kemuliaan Sang Pencipta

    Pemahaman dan Pelibatan Peran Roh Kudus oleh Guru-guru dalam Proses Mengajar di Sekolah Kristen

    No full text
    Sekolah kristen telah hadir di Indonesia puluhan tahun yang lalu melalui sebuah panggilan misi di dunia pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan Kristen memahami bahwa sekolah merupakan salah satu alat misi di tangan Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi-Nya. Artinya, sekolah Kristen adalah alat restorasi antara manusia yang berdosa dengan Allah Penyelamat. Sekolah Kristen juga berperan menolong para murid untuk menemukan karunia yang diberikan Tuhan sehingga mereka dapat menolong orang lain di mana mereka berada. Peran pendidikan Kristen melalui sekolah Kristen dalam menjalankan misi ini tidak bisa lepas dari peran Roh Kudus di dalamnya. Misi besar ini akan dijalankan oleh guru-guru di sekolah-sekolah Kristen. Oleh karena itu setiap guru di sekolah Kristen harus memahami dan melibatkan peran Roh Kudus, salah satunya adalah melalui proses belajar dan mengajar. Pertanyaannya adalah: apakah guru-guru sudah memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan pelibatan peran-Nya dalam proses mengajar mereka di kelas? Berdasarkan pemikiran itulah maka penulis melakukan penelitian terhadap beberapa guru yang mengajar di sekolah Kristen. Apakah mereka memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan pelibatan-Nya dalam prose mengajar mereka? Hasil penelitian melalui metodologi penelitian kualitatid dengan cara wawancara menunjukkan bahwa guru-guru tersebut memiliki pemahaman tentang Roh Kudus dan mereka tahu bahwa pelibatan ROh Kudus dalam proses mengajar adalah sangat penting. Pemahaman pentingnya peran Roh Kudus dalam proses mengajar didasarkan pemahaman oleh guru-guru bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang membawa pada kekekalan. Oleh karena itu, guru-guru tidak bisa hanya memiliki pengetahuan Alkitab, keterampilan pedagogi, serta wawasan dan pengetahuan yang baik saja, akan tetapi, mereka membutuhkan kuasa Ilahi melalui kehadiran Roh Kudus dalam diri mereka untuk mengerjakan pekerjaan ini. Roh Kudus bekerja dalam proses mengajar dan membuat firman Tuhan mempengaruhi murid-murid sehingga kebenaran firman Tuhan yang disampaikan menjadi efektif

    Tinjauan Alkitabiah terhadap Pandangan Egalitarian dan Komplementarian: Suatu Analisis Eksegetikal terhadap 1 Timotius 2:8-15.

    No full text
    Di tengah-tengah kebangkitan peran wanita di dunia secara umum, bagi kekristenan, pertanyaan mengenai apakah wanita boleh mengajar dan memimpin di gereja, justru menjadi hal yang terus diperdebatkan oleh orang Kristen dari masa ke masa. Mengapa? Hal ini ternyata disebabkan oleh adanya beberapa tulisan Paulus yang menentang/membatasi pelayanan wanita. Namun di sisi lain, di sepanjang Alkitab dari PL hingga PB, justru ditemukan berbagai pelayanan yang dilakukan oleh para wanita. Jadi sesungguhnya apakah wanita boleh melayani dan memimpin di gereja? Kaum injili pun terbagi menjadi dua kelompok menanggapi isu ini yaitu kelompok egalitarian dan komplementarian. Egalitarian adalah kelompok yang menekankan bahwa wanita sepenuhnya memiliki kesempatan yang sama dengan pria untuk melayani dan memimpin. Bagi mereka, Alkitab tidaklah membatasi peran wanita. Mengenai teks 1 Timotius 2:8-15, yang merupakan tulisan Paulus yang paling kontroversial mengenai isu wanita ini, menurut egalitarian, perintah ini ditujukan kepada jemaat Efesus waktu itu saja berkenaan dengan situasi yang sedang terjadi dalam jemaat sehingga teks ini tidaklah bersifat transkultural dan universal di segala waktu dan tempat. Namun bertentangan dengan egalitarian, bagi komplementarian, 1 Timotius 2:11-12 adalah perintah Paulus yang memang melarang wanita untuk mengajar dan memimpin atas pria dalam konteks bergereja. Alasannya, dalam perintah ini Paulus jelas mendasarkan perintahnya pada kisah penciptaan yang dicatat dalam 1 Timotius 2:13-14 dan oleh sebab ini pun, larangan Paulus ini bersifat transkultural, permanen, dan otoritatif untuk diterapkan oleh gereja di segala tempat dan sepanjang waktu. Lalu apakah maksud sesungguhnya dari teks ini? Dari eksegesis teks ini, didapati bahwa nasihat Paulus ini memang sebenarnya ditujukan secara khusus kepada jemaat wanita Efesus waktu itu sesuai dengan latar belakang budaya dan tantangan yang mereka hadapi agar mereka bisa menjadi kesaksian hidup bagi komunitas sekitar. Dengan demikian, teks ini memang tidaklah tepat jika dipakai untuk membatasi peran wanita di gereja masa kini. Namun meskipun demikian, bukan berarti teks ini tidak lagi berlaku pada masa kini. Ada prinsip dasar dari teks ini yang masih bisa diterapkan zaman sekarang, tetapi sifatnya tidak transkultural dan universal di segala waktu dan tempat. Prinsip dasar itu adalah jika dalam kondisi tertentu pelayanan dan kepemimpinan wanita menjadi batu sandungan, maka hendaklah wanita memilih membatasi menggunakan haknya untuk melayani dan memimpin di gereja. Dengan demikian, diharapkan hidup mereka tetap menjadi berkat. Namun jika tidak terdapat kondisi demikian, maka teks ini tidak tepat dipakai untuk membatasi pelayanan dan kepemimpinan wanita di gereja

    Tinjauan Pidato Stefanus Dalam Kisah Para Rasul 7 Dalam Hubungannya Dengan Penganiayaan Saulus dan Relasinya Terhadap Teologi Umat Pilihan Paulus

    No full text
    Pidato Stefanus di hadapan Mahkamah Agama yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 7 merupakan pidato yang penting dalam keseluruhan kitab Kisah Para Rasul karena menjadi tanda dalam keseluruhan kitab atas dimulainya pengabaran Injil kepada bangsa bukan Yahudi. Pidato ini memiliki dua tema besar, yaitu: kehadiran dan penyembahan kepada Allah dapat dilakukan di segala tempat dan Yesus Kristus adalah Mesias yang ditolak orang Yahudi. Pidato Stefanus membuat Mahkamah Agama sakit hati dan marah sehingga ia dirajam batu hingga mati. Pidato ini tidak hanya berdampak pada kematian dirinya tetapi juga pada penganiayaan yang dialami jemaat Kristen di kota Yerusalem sehingga mereka hams menyebar ke selumh Yudea dan Samaria. Tokoh penting dalam penganiayaan ini adalah seorang Farisi yang bemama Saulus. Sebagai seorang Farisi yang hidup di era Bait Allah Kedua, Saulus memiliki tiga teologi utama yaitu: monoteisme, pemilihan, dan eskatologi. Ketiga teologi ini membuatnya memiliki semangat yang kuat {zealous) untuk hidup kudus dan taat melakukan Taurat. Dengan tiga teologi ini ia melihat pidato Stefanus dan iman jemaat Kristen merupakan penghujatan, penyesatan dan kanker yang membahayakan agama Yahudi sehingga hams segera dimusnahkan. Saulus percaya bahwa Yesus yang mati di kayu salib adalah manusia yang dikutuk Allah sehingga tidak mungkin adalah Mesias. Demikian juga pidato Stefanus yang merendahkan Bait Allah merupakan pidato yang sama artinya merendahkan Taurat. Karena itu, dengan melakukan penganiayaan Saulus melihat dirinya sebagai pihak yang dipakai Allah untuk melakukan penghakiman kepada orang Yahudi yang tidak taat seperti yang telah dilakukan Pinehas, Elia, dan Matatias. Penganiayaan jemaat Kristen di kota Yemsalem dilanjutkan Saulus di kota Damysik. Tetapi penganiayaaan ini tidak tercapai karena di tengah perjalanan ia bertemu dengan Yesus Kristus. Pertemuannya ini mengakibatkan pembahan yang besar pada dirinya. la percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias dan ia menjadi tokoh yang memperjuangkan bangsa bukan Yahudi untuk dapat masuk menjadi umat pilihan Allah di dalam iman kepada Yesus Kristus dan tanpa melalui Taurat. Pidato Stefanus memiliki relasi dalam mempersiapkan pemahaman Paulus mengenai umat pilihan Allah. Pertama, pidato Stefanus yang berkata bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang ditolak orang Yahudi telah mempersiapkan Paulus untuk percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang menggenapi hukum Taurat sehingga bangsa Yahudi dan bukan Yahudi dapat sama-sama menjadi anak-anak Allah dan keturunan Abraham di dalam Yesus Kristus. Kedua, pidato Stefanus yang berkata bahwa kehadiran dan penyembahan kepada Allah dapat dilakukan di segala tempat telah mempersiapkan Paulus untuk memahami bahwa jemaat Kristen pada dasarnya merupakan bait-bait Allah yang menghadirkan Allah di segala tempat

    Apakah Inkarnasi Mengubah Allah? : Tinjauan terhadap Doktrin Inkarnasi dalam Kaitannya dengan Doktrin Ketidakberubahan Allah (Immutability of God)

    No full text
    Doktrin inkarnasi menyatakan penambahan natur manusia secara utuh pada pribadi Yesus Kristus yang memiliki natur ilahi sejak kekekalan. Pembahasan mengenai inkarnasi Yesus mengundang banyak perdebatan, salah satunya mengenai doktrin ketidakberubahan Allah (immutability of God). Sekilas, doktrin inkarnasi dan doktrin ketidakberubahan Allah seakan berkontradiksi dan tidak cocok satu sama lain. Allah yang menjadi manusia menandakan sifat Allah yang dapat berubah. Melalui makalah ini, penulis akan meninjau kaitan kedua doktrin ini dan menunjukkan bahwa inkarnasi tidak mengubah Allah

    Sebuah Studi terhadap Matius 25:31-46 : Konsep Perbuatan Baik menurut Tuhan Yesus dan Implikasinya di dalam Pelayanan Perkotaan

    Get PDF
    Matius 25:31-46 adalah salah satu pengajaran Tuhan Yesus mengenai penghakiman di akhir zaman. Penghakiman Tuhan Yesus berdasarkan perbuatan baik yang dilakukan bagi kemuliaan Tuhan. Para penafsir ada yang berbeda pendapat dalam mengartikan bagian ini. Oleh karena itu pemahaman mengenai perbuatan baik harus dipahami berdasarkan keseluruhan konsep pengajaran Tuhan Yesus di dalam Perjanjian Baru. Pelayanan perkotaan mencakup berbagai perbuatan baik kepada sesama. Tuha memiliki perhatian kepada perkotaan. Di dalam Alkitab dapat dilihat mengenai perkembangan perkotaan dan juga pandangan Tuah terhadap perkotaan. Banyak organisasi dan komunitas Kristen yang mengambil peran pelayanan ini. Namun sejauh manakah perbuatan baik yang sudak dilakukan di perkotaan berkenan kepada Tuhan? Perbuatan baik yang berkenan kepada Tuhan adalah suatu perbuatan yang muncul dari kasih orang percaya kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan-Nya, yang dinyatakan melalui perbuatan baik supaya setiap orang yang belum atau yang sudah mengenal Allah dapat memuliakan Allah. Terdapat beberapa penekanan penting mengenai perbuatan baik yang berkenan kepada Allah, yaitu perbuatan ini hanya dapat dilakukan oleh setiap orang percaya; orang percaya perlu menyatakan identitas imannya ketika melakukan perbuatan baik; orang percaya perlu memandang, melakukan dan memiliki tujuan pelayanan perkotaan sama seperti Tuhan; objek sasaran perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya di perkotaan mencakup semua orang baik orang percaya maupun orang yang belum percaya. Dengan demikian setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang percaya di perkotaan akan memuliakan dan memperkenan hati Tuhan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇