STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Favoritisme dalam Keluarga Ishak dan Yakub menurut Kejadian 25:19-34; 37:1-11 dan Implikasinya bagi Keluarga-keluarga Kristen Masa Kini.

    No full text
    Favoritisme sering kali terjadi dalam keluarga-keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, tidak terkecuali bagi keluarga-keluarga Kristen masa kini. Hal ini terjadi karena setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda-beda dan tidak menutup kemungkinan orang tua akan lebih cenderung memfavoritkan mereka yang lebih menarik perhatiannya. Favoritisme pun menimbulkan ketidakadilan dalam keluarga dan menimbulkan dampak-dampak seperti saling iri hati antara sesama anggota keluarga, menimbulkan pertengkaran saudara, dan bahkan menjadi salah satu akar penyakit mental dalam diri anak. Alkitab mencatat bahwa favoritisme bukan hal yang baru. Favoritisme juga terjadi dalam keluarga Ishak (Kej. 25:19-34), dan Yakub (Kej. 37:1-11) dan hal ini pun menimbulkan dampak-dampak tertentu dalam keluarga mereka. Pertama, dimulai dari dampak yang terjadi terhadap diri anak. Oleh karena Ishak memfavoritkan Esau maka ia menjadi anak yang semakin bebas dan liar (remeh dan ceroboh). Dengan keremehan dan kecerobohan Esau, Yakub berhasil menipunya dengan dibantu oleh Ribka yang memfavoritkannya. Begitu pula dalam keluarga Yakub. Yakub memfavoritkan Yusuf sehingga ia menjadi anak yang semakin naif. Anak-anak Yakub menjadi iri hati kepada Yusuf dan akhirnya membuang ia jauh dari ayahnya. Anak-anak Yakub berpikir melalui hal ini mereka mungkin akan mendapatkan kasih sayang Yakub karena Yusuf telah pergi. Namun mereka malah melihat Yakub yang berganti memfavoritkan Benyamin, saudara kandung Yusuf, anak dari istri yang dicintainya, Rahel. Kedua, dampak yang terjadi terhadap relasi orang tua-anak, baik Ishak, Ribka, Yakub, Lea, dan Rahel. Di satu sisi, mereka menjadi dekat dengan anak-anak yang mereka favoritkan, namun di sisi lain, hal ini membuat mereka kehilangan anak-anak yang mereka favoritkan karena terasing jauh dari mereka. Ketiga, dampak yang terjadi terhadap relasi anak-anak, baik Esau-Yakub, Yusuf dan saudara-saudaranya, membuat mereka saling iri hati, dan menimbulkan pertengkaran saudara. Keluarga Ishak dan Yakub menjadi keluarga yang terpecah belah akibat favoritisme yang terjadi dalam keluarga mereka. Tentunya keluarga-keluarga Kristen masa kini tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi favoritisme yang mungkin akan terjadi juga dalam keluarga-keluarga mereka. Oleh karena itu, beberapa implikasi praktis dipaparkan dalam skripsi ini dengan harapan dapat membantu keluarga-keluarga Kristen masa kini mengatasi permasalahan favoritisme dalam keluarga mereka sehingga keluarga-keluarga Kristen dapat menjadi keluarga-keluarga yang semakin memuliakan Allah

    Tinjauan terhadap Terapi Kognitif dalam Pemulihan Depresi dari Perspektif Mazmur 42 & 43.

    No full text
    Depresi merupakan permasalah psikologis yang serius. Ketika seseorang mengalami gangguan depresi, orang tersebut akan sulit mengerjakan aktivitas sehari-harinya, bahkan mengakhiri hidup merupakan pilihan yang sering kali diambil oleh seorang penderita depresi. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, depresi juga mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya, terutama orang-orang dekatnya di mana mereka akan dikagetkan dengan perubahan orang yang mengalami depresi tersebut. Beberapa penelitian menyatakan bahwa jumlah orang yang mengalami depresi terus meningkat secara signifikan dari tahun-ke tahun. Hal ini seharusnya menjadi urgensi bagi komunitas Kristen, yang adalah perpanjangan tangan Allah bagi pemulihan dalam dunia ini, untuk bertindak dalam membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik dalam merespons epidemi depresi ini. Terapi kognitif sekuler merupakan penemuan yang fenomenal dalam perkembangan penelitian di bidang psikologi berkaitan dengan usaha pemulihan depresi. Telah diakui oleh para ahli bahwa terapi kognitif merupakan salah satu terapi yang sangat manjur dalam memulihkan gangguan depresi. Kemanjuran terapi kognitif sekuler dalam memulihkan gangguan-gangguan kejiwaan, terutama depresi, telah menyedot banyak sekali perhatian para ahli dari berbagai kalangan, termasuk kalangan Kristen. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa para sarjana sekuler yang mencetuskan terapi kognitif mendasarkan teorinya atas filosofi yang menyatakan ketidakpercayaan akan adanya sosok ilahi atau tidak percaya sosok ilahi yang berintervensi. Dasar filosofi yang seperti ini tidak dapat diterima oleh kekristenan. Hal ini kemudian menghadirkan pendekatan baru dalam terapi kognitif di mana muncul beberapa ahli psikoterapi Kristen yang berusaha mengadopsi konsep terapi kognitif sekuler untuk mewujudkan suatu model terapi kognitif yang berdasar atas nilai-nilai kristiani. Terapi kognitif dalam pendekatan Kristen ini dinamakan sebagai terapi kognitif Kristen. Mazmur 42 dan 43 merupakan salah satu teks dalam Alkitab yang memiliki beberapa kemiripan signifikan dengan konsep dalam terapi kognitif, yaitu: perhatian terhadap orang yang mengalami depresi, dan pemulihan depresi dengan melakukan restrukturisasi pemulihan. Teks Mazmur 42 dan 43 ini menarik untuk diteliti lebih dalam berkaitan dengan pemulihan depresi. Penelitian terhadap Mazmur 42 dan 43 ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam menegaskan pemikiran Kristen tentang kritik terhadap terapi kognitif sekuler, namun juga memperkaya konsep dalam terapi kognitif Kristen

    Hubungan antara Sifat Cemas dan Pengampunan dengan Kepuasan Pernikahan pada Istri

    No full text
    Apakah terdapat hubungan antara sifat cemas dengan kepuasan pernikahan pada istri? Apakah terdapat hubungan antara pengampunan dengan kepuasan pernikahan pada istri? Teknik sampling yang digunakan adalah sampling purposif yaitu melakukan pemilihan sampel yang representatif sesuai dengan tujuan penelitian. Subjek penelitian adalah para istri yang telah menikah selama minimal dua tahun dan berada dalam status pernikahan aktif (bukan janda karena bercerai atau suami telah meninggal) dari berbagai gereja Injili di kota Malang, yaitu Gereja Kristus Tuhan III - Pahlawan Trip sebanak 41 subjek, Gereja Kristen Kalam Kudus - Semeru sebanyak 35 subjek, Gereja Kristen Indonesia - Kebon Agung sebanyak 14 subjek, dan Gereja Persekutuan Kristen sebanyak 15 subjek. Total subjek dari empat gereja tersebut berjumlah 105 responden. Instrumen yang digunakan untuk mengukur sifat cemas adalah Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) yang telah direvisi, disusun oleh Janet A. Taylor pada tahun 1953 dan terdiri dari 28 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pengampunan adalah Family Forgiveness Scale (FFS), disusun oleh Margie W. Pollard, Ruth A. Anderson, William T. Anderson, dan Glenn Jennings pada tahun 1998 dan terdiri dari 40 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan adalah Quality Marriage Index (QMI), disusun oleh R. Norton tahun 1983, dan terdiri dari enam item. Ketiga instrumen di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik korelasi bivariate Product Moment yang akan mengukur korelasi antara sifat cemas dengan kepuasan pernikahan serta pengampunan dengan kepuasan pernikahan pada istri. Hasil pengolahan data secara statistik adalah: tidak terdapat hubungan antara sifat cemas dengan kepuasan pernikahan pada istri (r= - 0,106; p > 0.05), dengan demikian hipotesisi pertama ditolak. Terdapat hubungan antara pengampunan dengan kepuasan pernikahan pada istri (r= 0.606; p < 0,01), semakin tinggi tingkat pengampunan semakin tinggi tingkat kepuasan pernikahan pada istri, dengan demikian hipotesis kedua diterima. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara sifat cemas dengan kepuasan pernikahan pada istri. Terdapat hubungan antara pengampunan dengan kepuasan pernikahan pada istri. Semakin tinggi tingkat pengampunan, semakin tinggi tingkat kepuasan pernikahan pada istri. Penelitian lebih lanjut dapat menyelidiki bukan hanya sifat cemas namun juga aspek kecemasan yang lain, melakukan penggolongan usia pernikahan serta menyelidiki faktor lain yang mungkin dapat memberi dampak bagi kepuasan pernikahan seperti keseimbangan peran suami-istri dalam rumah tangga. Penelitian lebih lanjut dapat pula melibatkan subjek dari kalangan non Kristen untuk dapat memperoleh temuan baru terkait kepuasan pernikahan dalam keyakinan agama yang berbeda

    Studi tentang Efektivitas Ilustrasi yang Berbentuk Cerita didalam Khotbah Ekspositori bagi Pendengar Masa Kini

    No full text
    Dalam sebuah khotbah ekspsitori, tugas utama seorang pengkhotbah adalah memahami berita dari teks Alkitab yang dikhotbahkan dan membawa berita tersebut kepada para pendengarnya. Seorang pengkhotbah perlu menyusun khotbahnya sedemikian rupa, sehingga pare pendengarnya dapat memahami dan memberi respons terhadap kebenaran yang disampaikan. Khotbah seperti itu dapat dikatakan sebagai sebuah khotbah yang efektif. Salah satu unsur khotbah yang penting untuk tercapainya tujuan tersebut adalah ilustrasi khotbah. Pertanyaannya, apakah benar ilustrasi khotbah itu membuat khotbah lebih efektif? Ilustrasi khotbah seperti apa yang dapat membuat khotbah lebih efektif? Penggunaan ilustrasi yang berbentuk cerita di dalam pengajaran firman Allah bukanlah hal yang baru. Allah menggunakan berbagai cerita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada umat. Khotbah-khotbah para nabi pada Perjanjian Lama dan khotbah-khotbah Yesus juga menggunakan cerita-cerita. Khotbah-khotbah para nabi dan Yesus itu menjadi efektif karena cerita itu disampaikan untuk tujuan tertentu, berkaitan erat dengan berita, dan disampaikan dengan baik. Selain itu, studi tentang cara kerja otak manusia, bagaimana manusia berkomunikasi, bagaimana manusia belajar, dan studi tentang khotbah, menunjukkan bahwa ilustrasi yang berbentuk cerita merupakan sarana yang baik untuk tersampaikannya pesan. Jika kita hubungkan hal ini dengan para pendengar masa kini, maka kita menemukan orang-orang lebih menyukai dan lebih mudah memahami informamsi yang bersifat visual dibanding dengan yang bersifat verbal. Mereka cenderung lebih mudah menerima jika suatu kebenaran itu disampaikan dengan cara yang lebih persuasif. Bagi mereka, pembuktian logis tidaklah cukup, kebenaran itu juga harus dinyatakan dengan pengalaman pribadi. Mereka terbuka terhadap emosi mereka, sehingga sebuah komunikasi yang menyentuh hati merupakan sebuah pola yang tepat. Karena itu, salah satu metode yang tepat untuk menyampaikan kebenaran bagi mereka yang hidup di zaman ini, bahkan di segala zaman, adalah melalui penyampaian cerita. Sebuah cerita dapat menjadi sebuah sarana yang baik dalam menyampaikan sebuah pesan pengajaran, karena ia tidak hanya menyentuh proses berpikir seseorang, tetapi juga emosi dan imajinasinya. Dalam hal khotbah, ilustrasi yang berbentuk cerita merupakan unsur penting dalam khotbah di zaman ini. Melalui penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa khotbah yang menggunakan ilustrasi yang berbentuk cerita secara signifikan lebih menarik perhatian pendengar, lebih mudah dipahami pesannya, dan lebih menginspirasi/memotivasi pendengar, dibandingkan dengan khotbah yang tidak menggunakan ilustrasi yang berbentuk cerita. Dengan demikian, penggunaan ilustrasi yang berbentuk cerita dalam khotbah ekspositori akan membuat khotbah itu menjadi lebih efektif dalam menjangkau pendengar masa kini

    Konsep Iman melalui Studi Narasi Abraham dari Kejadian 11:27-22:19 dan Implikasinya bagi Orang Beriman.

    No full text
    Iman merupakan hal yang krusial bagi orang percaya. Iman menjadi fondasi bangunan kehidupan mereka. Oleh karena itu harusnya iman berakar kuat, hidup, dan memiliki dampak. Namun realitasnya, perjalanan menghidupi iman tidaklah mudah. Orang percaya mengalami berbagai pergulatan iman dari berbagai dimensi kehidupan, baik dari dalam maupun dari luar gereja yang bisa berakibat timbulnya keraguan bahkan hilangnya iman. Melalui studi narasi Kejadian 11:27-22:19 penulis Perjanjian Lama menyingkapkan kehidupan hamba Tuhan yang patut diteladani. Tuhan memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim menuju tempat yang akan ditunjukkan kepadanya. Tuhan mengikat perjanjian dengan Abraham, Ia menjanjikan keturunan, berkat, dan nama yang masyhur, dan olehnya semua kaum di muka bumi mendapat berkat. Sebelum Allah menggenapi janji-janji tersebut Abraham sempat mengalami beberapa krisis kepercayaan. Namun, dari krisis tersebut ia semakin mengenal Allah. Janji yang paling krusial adalah janji keturunan. Sara yang mandul akhirnya melahirkan anak laki-laki bernama Ishak, ialah satu-satunya anak perjanjian dan ahli waris Abraham. Abraham mengalami ujian setelah kelahiran Ishak. Allah memintanya mempersembahkan Ishak. Ia membawa Ishak ke Gunung Moria untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran. Sang “Jehova Jireh” itu mendapatinya sungguh-sungguh taat dan percaya dan Ia menyediakan domba pengganti bagi Ishak. Ia pun lulus ujian dan disebut bapa orang beriman. Abraham menyadari eksistensi Tuhan, ia menyadari statusnya sebagai orang pilihan, ia memegang teguh janji Tuhan. Ia taat kepada Tuhan, ketaatan ini diperhitungkan sebagai kebenaran. Oleh karena iman ia memperoleh pembenaran dan ia menjadi teladan serta saksi iman yang baik bagi orang percaya. Dalam berbagai dimensi kehidupan yang dihadapinya ia tetap percaya dan taat secara total kepada Allah. Hal inilah yang seharusnya juga dimiliki oleh orang percaya, yaitu percaya dan taat kepada Tuhan

    Pergumulan Identitas dan Spiritualitas Anak Hamba Tuhan.

    No full text
    Kehidupan anak hamba Tuhan yang diwarnai dengan berbagai macam sorotan dari lingkungan sosial, baik dari keluarga, gereja, maupun sekolah, menjadikan kehidupan mereka tidak mudah. Sorotan kemudian berubah menjadi tuntutan yang memaksa anak hamba Tuhan berkehidupan yang lebih sempurna dibanding anak-anak seusianya. Munculnya beragam tuntutan di tengah masa pertumbuhan diri memberikan pergumulan tersendiri bagi anak hamba Tuhan terutama dalam segi identitas diri dan spiritualitas mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana realita yang dihadapi anak hamba Tuhan ketika mereka mencari identitas diri dan spiritualitas mereka serta bagaimana lingkungan sosial berperan dalam menolong anak hamba Tuhan melewati masa-masa ini. Dengan melihat bentuk permasalahan yang ada, penggalian informasi dirancang dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam bentuk wawancara langsung yang didahului dengan penggalian sumber pustaka dan biblika yang akan menjadi dasar di dalam proses penelitian selanjutnya. Para ahli perkembangan mengatakan bahwa masa remaja akhir menjadi masa yang kritis karena masa ini menjadi masa remaja mencari dan menentukan jati diri yang juga berkaitan dengan iman akan Tuhan. Kemudian, para ahli menunjukkan adanya kaitan yang penting di antara identitas diri dan spiritualitas. Spiritualitas di dalam kekristenan melihat pertumbuhan iman seseorang dipegang oleh faktor utama, yaitu Allah. Sebagai dasar Alkitab yang menjadi landasan utama, penulis merujuk dari tulisan Paulus dalam Roma 12:5 dan 2 Korintus 5:17 yang menjabarkan dampak keberadaan seseorang di dalam Kristus (ἐν Χριστῷ). Di dalam Kristus, orang percaya mempunyai identitas baru, yaitu menjadi satu keluarga dalam kesatuan tubuh Kristus sehingga setiap anggota wajib menggunakan pikiran Kristus dalam menerima dan menghargai sesamanya (Rm. 12:5). Kemudian, di dalam Kristus, orang percaya mempunyai identitas baru, yaitu menjadi ciptaan baru, sehingga hanya di dalam Kristus ada identitas yang sejati (2Kor. 5:17). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa anak hamba Tuhan benar-benar mengalami berbagai kesulitan dalam mencari identitas diri sesuai dengan latar belakang kehidupan responden yang akhirnya juga berdampak pada spiritualitas pribadi mereka dalam arti mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di tengah kesulitan yang ada, hasil penelitian memperlihatkan bahwa mereka diubahkan karena ada anugerah Tuhan di dalam diri mereka dan juga komunitas yang mendukung. Hanya saja baru sedikit dari responden yang merasakan peran komunitas, terutama komunitas keluarga, gereja, dan sekolah, dalam mendukung pertumbuhan iman mereka di dalam Tuhan

    Analisis Pendekatan Kanonikal Brevard Childs, Evaluasi, dan Perkembangannya dalam Studi Biblika.

    No full text
    Dekade-dekade akhir abad ke-20 menyaksikan kanon menjadi ulasan yang hangat di dalam studi biblika. Brevard Spring Childs adalah motor utama gerakan ini dengan pendekatan kanonikalnya. Berbagai publikasinya diarahkannya untuk mengembalikan Alkitab sebagai Kitab Suci gereja. Bermodalkan konsep kanon yang merupakan inti proposalnya, nyatalah Childs telah mencerahkan masa depan studi biblika. Tahun ini, 35 tahun sudah usia pendekatan kanonikal Childs, namun belum terlalu jelas posisi kebanyakan pihak dalam studi biblika. Di satu sisi, berbagai kritikan ditujukan terhadap pendekatan kanonikalnya ini. Di sisi lain, perkembangan dan penyerapan pendekatan Childs terus terjadi. Untuk memberi secercah penerangan, terutama bagi studi biblika Indonesia yang masih minim dalam diskusi tentang kanon, skripsi ini akan menganalisis pendekatan kanonikal Childs. Setelah deskripsi atas pendekatannya digelontorkan, skripsi akan menjabarkan kritikan atas pendekatan kanonikal serta respon dari Childs atau penerusnya. Seusai itu, skripsi ini akan meninjau perkembangan dari pendekatan Childs yang dilakukan oleh murid, kolega, dan sarjana biblika lain yang dipengaruhi oleh Childs

    Studi mengenai Pertimbangan-pertimbangan Lintas Budaya dalam Mengkomunikasikan Injil kepada Orang-orang Kepercayaan Marapu di Sumba Timur

    No full text
    Pulau sumba terletak di sebelah luar paling selatan pulau di Indonesia dalam wilayah propinsi Nusa tenggara Timur. Pulau Sumba terdiri dari empat kabupaten Sumba Timur, Tengah, Barat, dan Barat Daya. Penduduknya di sebut dengan sebutan Tau Humba (oreang Sumba) dan memiliki kepercayaan atau agama Marapu. Menurut data Kependudukan yang dikeluarkan pemerintah kabupaten Sumba Timur tahun 2013, jumlah orang-orang yang beraga Marapu d Sumba Timur 34.128 dari total penduduk 227.732 jiwa. Ini berarti masih banyak orang-orang Marapu belum mengenal Tuhan. Sebab itu penting bagi seseorang yang ingin melakukan penginjilan untuk memahami pertimbangan-pertimbangan lintas budaya agar jurang antara Injil dan orang-orang yang belum percaya dapat bertemu

    Penelitian tentang Awal Kehidupan dan Aborsi menurut Firman Tuhan dan Ilmu Kedokteran sebagai Respons terhadap Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 61/2014 tentang Pengecualian atas Larangan Aborsi serta Pemahaman dan Penerapannya bagi Dokter-dokter Kristen di Tangerang

    No full text
    Kapan kehidupan manusia berawal sebagai satu pribadi manusia seutuhnya masih terus menjadi perdebatan di kalangan filsuf, teolog, psikolog, dan juga para dokter. Dengan disahkannya UU Kesehatan tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 61/2014 tentang kesehatan reproduksi yang mengatur tentang pengecualian atas larangan aborsi, maka di Indonesia dapat dilakukan tindakan aborsi jika ada kondisi darurat medik dan jika ibu merupakan korban perkosaan pada janin yang usinya kurang dari 40 hari terhitung dari hari pertama haid terakhir. Firman Tuhan menyebutkan janin dalam kandungan sebagai manusia seutuhnya. Ilmu kedokteran mempelajari embriologi yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sel baru yang terbentuk segera setelah pertemuan inti sel sperma dengan inti sel telur akan menggandakan DNA. Segera setelah sintesis DNA dan kromosom yang lengkap termasuk yang menentukan jenis kelamin, maka lengkaplah embrio ini menjadi manusia sebagai satu individu/pribadi. Pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Kapankah awal kehidupan manusia dimulai? Selanjutnya, pertanyaan tersebut berkembang menjadi: Apakah aborsi sesuai dengan firman Tuhan? Penemuan jawaban dari kedua pertanyaan ini akan dipaparkan dan dijelaskan dalam tesis ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, menurut responden, sebuah kehidupan manusia berawal sejak terjadinya pembuahan akibat pertemuan sel sperma dan sel telur. Menurut ilmu kedoteran terkini, segera setelah pertemuan tersebut embrio sudah memiliki struktur DNA yang lengkap dan jenis kelaminnya sudah ditentukan pada hari pertama. Alkitab menuliskan adanya pribadi/kehidupan manusia sejak masih ada di dalam kandungan. Itu sebabnya responden menolak pengecualian larangan aborsi yang diatur oleh PP Nomor 61/2014. Jadi kesimpulannya, awal mula kehidupan manusia seutuhnya yang adalah ciptaan Allah dimulai sejak hari pertama pembuahan. Alkitab menolak aborsi dengan segala alasan. Dokter-dokter Kristen perlu memahami PP ini dan firman Tuhan yang mendasarinya sehingga dapat tetap menerapkan kebenaran firman-Nya

    Tinjauan Kritis terhadap Konsep Roh Teritorial dalam Kaitannya dengan Penafsiran terhadap Daniel Pasal 10

    No full text
    Isu utama yang ditinjau dalam artikel ini adalah mengenai konsep roh teritorial yang dianggap memiliki dasar Alkitabiah dalam Daniel pasal 10. Melalui argumentasi teologis, ekstrabiblikal, dan biblikan, penulis menunjukkan bahwa konsep roh teritorial tidak memiliki dukungan yang solid dari penafsiran terhadap Daniel pasal 10 secara teliti. Kesimpulan yang diperoleh penulis adalah Daniel pasal 10 merujuk pada roh jahat yang bekerja di balik kekuasaan sosio-politik bangsa-bangsa yang memusuhi Israel, dan bukan kuasa roh jahat yang berdaulat atas wilayah-wilayah teritorial fisik tertentu

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇