STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Naskah Khotbah : Mengasihi Allah dan Mengasihi Sesama - I Yohanes 4:17-21

    No full text

    Berkibar dibelakang Layar : Sebuah Refleksi terhadap Peranan Figur Andreas dan Signifikansinya terhadap Konsep Pemuridan di dalam Injil Yohanes

    No full text
    Andreas menjadi salah satu murid Yesus yang penting dan diuraikan secara luar biasa di dalam Injil Yohanes. Figur Andreas dipaparkan sedemikian rupa, terkhusus dalam dimensi pemuridan. Dinamika pemuridan dalam Injil Yohanes menekankan konsep iman percaya para murid serta orang banyak kepada Yesus Kristus. Figur Andreas ini menjadi sangat penting untuk melihat sentralitas pemuridan: mengikut Yesus, menjadi murid-Nya, dan membawa orang lain juga menjadi murid-Nya. Uniknya, signifikansi peran Andreas dalam Injil Yohanes sangat besar justru ditengah "kemunculannya" yang sedikit jika dibandingkan murid-murid Yesus lainnya. Andreas menjadi contoh yang baik mengenai murid yang diubahkan menjadi pengikut-Nya yang sejati

    Keselamatan Bayi setelah Meninggal : Pandangan Calvinis dan Arminian

    No full text
    Di dalam jaman postmodern salah satu isu yang sering dihindari sebagian orang adalah moralitas. Mengapa? karena isu ini dapat mengarah kepada satu titik akhir yaitu engenai keselamatan. Bagi orang yang tidak mengenal Allah, mereka memilikiparadigma bahwa moralitas yang baik kemungkinan akan menyelamatkan mereka dari api neraka. Namun paradigma ini akan terbentur kepada satu isu yang akan dibahas bagaiman dengna kematian bayi yang masih didalam kandungan, atau yang baru lahir yang masi belum dapat melakukan perbuatan moral? Paper ini akan menjawab pertanyaan diatas dari sudut pandang Calvinis dan Arminian. Paper ini akan terlebih dahulu memberikan perspektif umum Alkitab mengenai natur bayi dan janin sebagai seorang manusia, kemudian berlanjut pada menjelaskan pandangan Calvinis dan Arminian dalam merespon hal ini

    Suatu Tinjauan terhadap Makna Kuasa Doa Orang Benar di dalam Konteks Ketetapan Allah berdasarkan Yakobus 5:16b-18.

    No full text
    Doa secara umum dipahami sebagai sebuah relasi dengan Tuhan, komunikasi dengan Tuhan, mendengarkan Tuhan, meminta dan menerima berkat Tuhan. Relasi dengan Tuhan merupakan hal yang terutama di dalam doa, di mana orang Kristen dapat bersekutu dengan Tuhan sehingga mereka dapat semakin mengenal Tuhan. Namun pada kenyataannya, orang Kristen sering kali salah mengartikan makna doa yang sesungguhnya sehingga doa digunakan untuk meminta apa saja yang diinginkannya. Kesalahan tersebut membuat orang Kristen berpikir bahwa doa dapat mengubah ketetapan Allah. Kesalahan tersebut juga terlihat dari berbagai jenis pengajaran tentang cara berdoa dengan motivasi untuk mengajukan permintaan kepada Tuhan, yaitu: pertama, Tuhan menantikan kedatangan orang Kristen untuk meminta berkat kepada-Nya dan Tuhan siap menyalurkan berkat kepada mereka. Kedua, orang Kristen harus melakukan kontak dengan Tuhan melalui persekutuan sehingga jalur komunikasi dalam meminta akan tercapai. Permintaan orang Kristen membuat perubahan dalam kehidupannya. Doa syaafaat menghubungkan orang lain dengan kuasa Tuhan. Ketiga, orang Kristen harus memutuskan dengan tegas apa ia minta, rajin menyelidiki Alkitab sehingga waktu dibutuhkan siap untuk digunakan, menyebutkan kebutuhan yang diperlukan, berjalan dengan iman dan percaya akan mendapat jawaban, memiliki pikiran dan keinginan yang kuat, merenungkan janji Tuhan, mengangkat pujian, dan mengucap syukur atas apa yang dilakukan Tuhan untuknya. Berdasarkan konsep pengajaran Yakobus, doa adalah relasi dengan Tuhan sehingga doa yang dipanjatkan orang benar adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan bukan kehendak diri orang itu. Kuasa doa orang benar tidak mengubah ketetapan Tuhan melainkan untuk berelasi dengan Tuhan, bukan untuk meminta atau mendesak Tuhan. Dasar doa orang benar terlihat dari kehidupan doa yang lebih mengutamakan relasi dengan Tuhan dan lebih berfokus kepada Pribadi Tuhan. Dasar doa orang benar tidak digunakan untuk motivasi yang tidak benar dan tidak digunakan untuk mendesak Tuhan mengabulkan doanya. Relasi orang benar dapat terwujud dengan adanya kehadiran Kristus sebagai Mediator dan ia dapat menyatakan imannya kepada Kristus dan dengan adanya kehadiran Roh Kudus di dalam kehidupannya sehingga ia dapat berelasi dengan Kristus dan Bapa. Doa orang benar tidak mengubah ketetapan Tuhan melainkan untuk berelasi dengan Tuhan sehingga ia dapat mengalami pembaruan dengan pertolongan Roh Kudus, semakin memahami kehendak Tuhan serta melakukan kehendak Tuhan. Keefektifan doa orang benar tidak terpisah dari ketetapan Tuhan melainkan selaras dengan ketetapan Tuhan yang membuat orang benar menyesuaikan diri, taat, dan tunduk kepada ketetapan yang telah diberikan Tuhan demi kebaikan hidup orang benar dan untuk kemuliaan Tuhan

    "Menguduskan" Pancasila : Sebuah Tinjauan terhadap Kekudusan Allah sebagai Standar Moral Komunitas Israel dalam Narasi Kitab Yosua dan Implikasinya bagi Pembentukan Moral Bangsa Indonesia

    No full text
    Negara Indinesia terkenal sebagai negara muultikultur dan multietnis tapi juga multiagama. Keadaan demikian di padukan dengan keindahan alam yang luar biasa, membuat negara archipelago ini marak dikunjungi turis mancanegara. Setidaknya ada lima agama besar yang diakui oleh pemerintah Indonesia, yaitu Islam, Budha, Hindu, Katolik, dan Kristen. Kelima agama diatas berusaha untuk mengkontekstualkan iman dan ajaran mereka dalam praktik kehidupan bernegara dengan pancasila sebagai pot yang mewadahinya. Kebebasan berekpresi kelima agama dalam pot pancasila, secara tidak langsung merujuk pada penetapan standar moral bangsa

    Tinjauan Pidato Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7 dalam Hubungannya dengan Penganiayaan Saulus dan Relasinya terhadap Teologi Umat Pilihan Paulus.

    No full text
    Pidato Stefanus di hadapan Mahkamah Agama yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 7 merupakan pidato yang penting dalam keseluruhan kitab Kisah Para Rasul karena menjadi tanda dalam keseluruhan kitab atas dimulainya pengabaran Injil kepada bangsa bukan Yahudi. Pidato ini memiliki dua tema besar, yaitu: kehadiran dan penyembahan kepada Allah dapat dilakukan di segala tempat dan Yesus Kristus adalah Mesias yang ditolak orang Yahudi. Pidato Stefanus membuat Mahkamah Agama sakit hati dan marah sehingga ia dirajam batu hingga mati. Pidato ini tidak hanya berdampak pada kematian dirinya tetapi juga pada penganiayaan yang dialami jemaat Kristen di kota Yerusalem sehingga mereka harus menyebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Tokoh penting dalam penganiayaan ini adalah seorang Farisi yang bernama Saulus. Sebagai seorang Farisi yang hidup di era Bait Allah Kedua, Saulus memiliki tiga teologi utama yaitu: monoteisme, pemilihan, dan eskatologi. Ketiga teologi ini membuatnya memiliki semangat yang kuat (zealous) untuk hidup kudus dan taat melakukan Taurat. Dengan tiga teologi ini ia melihat pidato Stefanus dan iman jemaat Kristen merupakan penghujatan, penyesatan dan kanker yang membahayakan agama Yahudi sehingga harus segera dimusnahkan. Saulus percaya bahwa Yesus yang mati di kayu salib adalah manusia yang dikutuk Allah sehingga tidak mungkin adalah Mesias. Demikian juga pidato Stefanus yang merendahkan Bait Allah merupakan pidato yang sama artinya merendahkan Taurat. Karena itu, dengan melakukan penganiayaan Saulus melihat dirinya sebagai pihak yang dipakai Allah untuk melakukan penghakiman kepada orang Yahudi yang tidak taat seperti yang telah dilakukan Pinehas, Elia, dan Matatias. Penganiayaan jemaat Kristen di kota Yerusalem dilanjutkan Saulus di kota Damysik. Tetapi penganiayaaan ini tidak tercapai karena di tengah perjalanan ia bertemu dengan Yesus Kristus. Pertemuannya ini mengakibatkan perubahan yang besar pada dirinya. Ia percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias dan ia menjadi tokoh yang memperjuangkan bangsa bukan Yahudi untuk dapat masuk menjadi umat pilihan Allah di dalam iman kepada Yesus Kristus dan tanpa melalui Taurat. Pidato Stefanus memiliki relasi dalam mempersiapkan pemahaman Paulus mengenai umat pilihan Allah. Pertama, pidato Stefanus yang berkata bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang ditolak orang Yahudi telah mempersiapkan Paulus untuk percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang menggenapi hukum Taurat sehingga bangsa Yahudi dan bukan Yahudi dapat sama-sama menjadi anak-anak Allah dan keturunan Abraham di dalam Yesus Kristus. Kedua, pidato Stefanus yang berkata bahwa kehadiran dan penyembahan kepada Allah dapat dilakukan di segala tempat telah mempersiapkan Paulus untuk memahami bahwa jemaat Kristen pada dasarnya merupakan bait-bait Allah yang menghadirkan Allah di segala tempat

    Proposal Pengembangan Model Ibadah Umum untuk Meningkatkan Rasa Haus Jemaat akan Tuhan di GKKA Indonesia Jemaat Banjarmasin

    No full text
    Seseorang yang telah bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi seharusnya memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh dan mengenal Yesus yang telah menganugerahkan hidup kekal kepadanya. Bentuk kerinduannya akan diwujudkan dengan melibatkan diri dalam berbagai aktivitas rohani. Aktivitas tersebut ada yang bersifat pribadi seperti saat teduh atau berpuasa maupun aktivitas yang bersifat komunal seperti hadir dalam ibadah minggu di gereja, hadir di dalam persekutuan-persekutuan doa, melibatkan diri dalam pelayanan-pelayanan di gereja, misalnya pelayanan paduan suara, pelayanan sebagai guru sekolah minggu, maupun sebagai penatalayan dalam ibadah umum. Di sisi lain, gereja mengerahkan segenap sumber daya yang dimiliki untuk menyusun dan menjalankan program-program dan aktivitas-aktivitas yang dapat memfasilitasi jemaat bertumbuh imannya. Melalui program-program tersebut diharapkan jemaat semakin bertumbuh kerinduan dan kehausannya akan Tuhan. Salah satu bentuk kegiatan gereja yang pasti diikuti oleh seluruh jemaat adalah ibadah umum. Dengan mengikuti ibadah umum seseorang seharusnya dapat merasakan hadirat Tuhan dan mempunyai kerinduan dan rasa haus akan Tuhan. Pertanyaannya adalah, apakah ibadah umum yang diselenggarakan oleh gereja sudah membuat seseorang memiliki rasa haus akan Tuhan? Supaya dapat mencapai tujuan tersebut gereja harus mampu membuat ibadah yang ada menjadi ibadah yang transformatif, yaitu ibadah yang biblikal, dinamis, dan dapat membawa jemaat merasakan hadirat Tuhan. Dengan pemahaman tersebut, penulis melalukan penelitian terhadap ibadah umum yang diadakan di gereja GKKA Indonesia Jemaat Banjarmasin untuk mengetahui apakah ibadah yang selama ini diadakah sudah membuat jemaat memiliki rasa haus akan Tuhan. Dari hasil penelitian yang didapat ternyata ibadah yang ada belum membuat jemaat memiliki rasa haus akan Tuhan. Di akhir penulisan tesis ini, penulis mengajukan proposal pengembangan model ibadah umum yang diharapkan dapat membuat jemaat memiliki rasa haus akan Tuhan

    Tinjauan terhadap Praktik Hipnosis dan Korelasinya dengan Kuasa Gelap

    No full text
    Hipnosis atau dikenal dengan praktik hipnotis di dalam masyarakat, merupakan hal yang cukup populer dari era modern sampai saat ini. Hipnosis sangat dikenal di dalam dunia kedokteran atau psikologi. Biasanya hipnosis digunakan sebagai anesti, pengganti obat bius, seperti operasi gigi dan dapat digunakan di dalam proses melahirkan. Di dalam dunia psikologi, hipnosis digunakan oleh psikiater untuk mencari tahu memori-memori masa lalu dari pasien dan memberikan terapi dengan memberikan sugesti yang positif kepada pasien, seperti mengobati fobia, latah, kecanduan dan lain-lain. Selain di dunia medis, hipnosis juga dipopulerkan di dalam dunia hiburan. Di Indonesia, ada beberapa acara televisi yang memperbolehkan hipnosis untuk pertunjukkan hiburan, seperti acara dari Uya Kuya, Romy Rafael dan lain-lain. Di dalam penyelidikan, memang ada pendapat yang pro dan kontra mengenai hubungan hipnosis dengan kuasa kegelapan, termasuk di dalam kalangan Kristen. Ada yang dengan tegas melarang hipnosis karena praktik ini berhubungan dengan unsur-unsur kegelapan, okultisme, New Age Movement atau dari agama-agama kuno, namun ada yang melihat hipnosis sebagai sesuatu yang bermanfaat di dalam konseling dan tidak berkaitan langsung dengan kuasa kegelapan. Kemudian di sisi lain, di dalam dunia sains, para ahli mengatakan hipnosis tidak mempunyai kaitan dengan hal gaib atau mistik. Hipnosis dapat dijelaskan secara ilmiah dan hipnosis adalah sains. Namun ada pihak-pihak lain yang mengatakan bahwa hipnosis adalah sains gadungan. Martin and Deidre Bobgan mengatakan "we cannot call hypnosis a science, but we can say that it has been an integral part of the occult for thousands of years." Jadi, ada anggapan yang berbeda-beda dan bertentangan mengenai hipnosis ini, apakah ini sesuatu yang netral atau berkaitan dengan kuasa gelap? Oleh sebab itu, di dalam tulisan ini, penulis akan menyelidiki hipnosis, khususnya yang digunakan di dalam dunia pengobatan yang diklaim sebagai fenomena natural ini, maupun jenis hipnosis yang lain. Melalui penyelidikan, penulis akan melihat kebenaran dari klaim tersebut dan apakah praktik ini bebas dari kaitan kuasa kegelapan dan apa prinsip Alkitab yang harus kita pegang di dalam menanggapi fenomena ini

    Menilik Korelasi Wujud Sisi Gelap Pemimpin terhadap Manajemen Konflik di antara Pemimpin Gereja Kristus Yesus Jemaat Mangga Besar

    No full text
    Menghadapi pergumulan dan tantangan abad 21 pemimpin gereja dituntut untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, yaitu memberi pengaruh kepada perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun tidak. Pemimpin juga dituntut mengenal dan mengatasi sisi gelap kepribadian yang membentuk dirinya menjadi pemimpin dengan kecenderungan tertentu. Demikian pula saat menghadapi konflik dalam kepemimpinannya, pemimpin juga dituntut untuk dapat menangani konfliknya dengan baik dan bertanggung jawab. Sisi gelap seorang adalah desakan batin, tekanan, dan disfungsi personalitas seseorang yang sering kali tercetus tanpa pertimbangan atau tetap tidak disadari sampai ia mengalami tekanan emosi. Karena ini merupakan bagian dari diri yang mengintai di bawah bayang-bayang kepribadian seseorang maka disebut sebagai sisi gelap kepribadian seseorang. Sisi gelap walaupun kedengaran cukup menyeramkan, sebenarnya merupakan konsekuensi alami dari perkembangan manusia. Setiap pemimpin yang sudah menyadari dan sedapat mungkin mengatasi sisi gelapnya juga dituntut untuk dapat mengatasi konflik yang terjadi dalam kepemimpinannya dengan memakai gaya manajemen konflik tertentu. Pemimpin harus memahami, menyadari, dan mengatasi sisi gelap kepribadiannya. Setelah ia sanggup mengatasi sisi gelapnya, maka ia akan lebih mampu mengatasi konflik yang terjadi dalam hidup dan kepemimpinannya. Permasalahan yang ada adalah mengingat sisi gelap kepribadian seseorang membentuk wujud kepemimpinan dengan kecenderungan tertentu dan wujud kepemimpinan itu sendiri akan mengambil gaya manajemen konflik tertentu pula, maka penulis merasa perlu menilik dan menganalisis apakah terdapat korelasi antara wujud sisi gelap pemimpin terhadap gaya manajemen konflik dalam kepemimpinannya. Dari hasil penelitian ini ditemukan memang terdapat korelasi antara wujud sisi gelap yang membentuk pemimpin dengan kecenderungan kompulsif di kemajelisan GKYjMB dengan gaya manajemen konflik yang diambilnya, yakni kolaborasi dan kompromi. Namun demikian, ditemukan adanya ketidaksesuaian antara hasil penelitian dengan pembahasan dari landasan teori yang menyatakan pemimpin dengan kecenderungan kompulsif, akan mengambil gaya manajemen konflik mendominasi bukan kolaborasi atau kompromi

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇