STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Proskuneō dalam Yohanes 4:19-24 dan Penerapannya bagi Penyembahan Masa Kini
Menyembah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seluruh orang. Penyembahan dapat dilakukan kepada berbagai macam objek, misalnya kepada patung, benda-benda atau lokasi-lokasi tertentu yang dianggap keramat bahkan diri sendiri. Berbagai macam jenis penyembahan yang ada menimbulkan kebingungan dalam menentukan penyembahan yang mana yang benar.
Kebingungan tentang menyembah juga dialami oleh seorang perempuan Samaria. Ia bingung tentang tempat yang tepat untuk menyembah. Bagi kaumnya, tempat menyembah adalah Gunung Gerizim, sedangkan kaum Yahudi mengatakan Yerusalem adalah tempat menyembah Tuhan. Tuhan Yesus memberikan pemahaman yang baru kepada perempuan Samaria tersebut tentang penyembahan yang benar, yaitu penyembahan yang terjadi ketika ada pertemuan antara Tuhan dengan manusia dan memungkinkan manusia untuk menyembah dalam roh dan kebenaran. Menyembah dalam roh artinya penyembahan yang terjadi dalam ranah spiritual dan tidak terikat pada hal-hal fisikal. Menyembah dalam kebenaran artinya adalah penyembahan yang tidak dilakukan dalam kepalsuan dan terjadi berdasarkan karya Kristus yang menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, menyembah dalam roh dan kebenaran adalah penyembahan yang tidak mempersoalkan tempat tertentu untuk menyembah, melainkan tentang pribadi penyembah dan karya Tuhan Yesus yang memungkinkan penyembahan yang benar dapat terjadi.
Bukti nyata dari penyembahan yang dilakukan dalam roh dan kebenaran adalah transformasi yang dapat terlihat langsung dalam kehidupan penyembah. Penyembahan yang demikianlah yang dikehendaki oleh Bapa
Studi mengenai Kelahiran Anak Dara
Doktrin kelahiran anak dara sudah menjadi perdebatan panjang bagi para teolog sampai hari ini. Dalam kekristenan, doktrin ini telah menjadi bagian penting, khususnya dalam Pengakuan Iman Rasuli. Namun demikian, hanya ada dua bagian dalam PB yang membahas secara detail mengenai kelahiran anak dara, yaitu kitab Matius dan Lukas. Oleh sebab itu, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan secara alkitabiah tentang apa dan makna doktrin kelahiran anak dara bagi kekritenan masa kini
Jaminan Keselamatan Orang Percaya
Banyak sekali orang Kristen yang hidupnya tidak seperti Yesus dan menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang tidak percaya. Mahatma Gandhi mengatakan jika semuan orang Kristen hidup seperti Yesus, maka seluruh India pasti sudah menjadi Kristen. Gandhi hanya tertarik pada Yesus dan tidak tertarik pada perilaku orang Kristen yang tidak baik. Salah satu hal yang mungkin membuat perilaku orang Kristen tidak baik adalah karna konsep keselamatan orang Kristen, khususnys teologi Calvin yang percaya bahwa sekali selamat tetap selamat maka orang percaya dapat melakukan dosa sebebas-bebasnya. Oleh karena itu banyak orang Kristen tidak setuju bahwa keselamatan tidak bisa Hilang. Sebenarnya di dalam kekristenan sendiri ada dua pandangan yang saling bertentangan mengenai jaminan keselamatan, yaitu kaum Arminian dan Calvinis. Banyak orang percaya juga masi ragu akan keselamatan yang dimilikinya salah satunya adalah John Bunyan. Oleh karena itu dalam makalah ini akan menjawab pertanyaan apakah dosa bisa menghilangkan keselamatan yang dimiliki orang percaya atau tidak
Membedah A Patre Filioque : Sebuah Analisis Teologis terhadap Perdebatan Historis mengenai Prosesi Roh Kudus dalam Trinitas
Salah satu perbedaan paham yang menyebabkan perpecahan antara gereja Timur (Ortodoks) dan Barat (Roma Katolik dan Protestan) adalah isu mengenai prosesi Roh Kudus. Gereja Timur percaya bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan dari Anak (filioque). Artikel ini berupaya untuk menganalisis perbedaan pandangan kedua belah pihak yang sebenarnya berakar pada perbedaan konsep Trinitas mereka. Melalui rekonstruksi hermeneutis, penulis sependapat dengan pandangan gereja Barat yang menafsirkan prosesi Roh Kudus dalam konteks ekonomis dan bukan ontologis
Penelitian tentang Proses Pengambilan Keputusan pada Para Eksekutif Gereja Injili, dalam Terciptanya Standar Ganda Pengambilan Keputusan di Dunia Bisnis dan Negara
Perkembangan dunia bisnis yang pesat tentunya disertai dengan keberadaan para pimpinan di dalam organisasi, hal ini pun berlaku bagi para pemimpin Kristen yang juga terlibat dalam pelayanan di gereja, secara khususnya pada gereja injili. Dalam menjalankan kedua peran ini, menurut beberapa penulis buku Kristen antara lain: R. Paul Stevens dan Peter Tsukahira, sering terjadi suatu pemisahan dalam proses berpikir mengenai Tuhan, spiritualitas, dan bisnis. Pemisahan proses berpikir ini mengakibatkan terciptanya standar ganda dalam proses pengambilan keputusan para pimpinan ataupun eksekutif Kristen di dalam memimpin perusahaannya. Bagaomanakah dengan panggilan menjadi terang yang dituliskan oleh Rasul Matius pada Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga." Penelitian ini adalah untuk mempelajari beberapa faktor penyebab terjadinya standar ganda dalam proses pengambilan keputusan. Bagaimana sikap yang diambil para eksekutuf Kristen dalam melihat semua faktor yang ada melalui kebenaran firman Tuhan. Penulis memakai tokoh Daniel dan mendalami kitab Daniel sebagai acuan. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif untuk mendalami hal spiritualitas dan penerapannya serta penelitian kualitatif terbatas. Pada akhir penelitian didapatkan bahwa pengalaman hidup, kekuatan rasional berpikir dan keterbatasan pemahaman atas spiritualitas dan kehidupan spiritualitas merupakan faktor utama terciptanya standar ganda proses pengambilan keputusan ini
Crucial Moral Principle : Meloloskan Allah dari Jebakan Raymond D. Bradley
Crucial Moral Principle dalam titik tertentu dapat menjadi standar yang baik untuk menilai moralitas tindakan seseorang. Sayangnta, dengan standar itu, Raymond D. Bradley menunjukkan bahwa Allah yang diajukan oleh kekristenan tidak menggambarkan Allah yang sempurna, sebab berdasarkan apa yang diceritakan dalam beberapa teks perjanjian lama, Allah memerintahkan orang Israel untuk melakukan tindakan yang melanggar Crucial Moral Principle. Dengan mengasumsikan bahwa tindakan yang diinisiasi Allah juga menjadi tanggung jawab-Nya, Bradley menuduh bahwa iman Kristen menjadi tidak logis bila ditambahkan dengan kepercayaan bahwa Alkitab adalah penuntun hidup manusia. Artikel ini ditulis dengan niat membuktikan bahwa Allah, baik melalui inisiatif, tindakan secara langsung, maupun perintah-Nya, tidak melanggar Crucial Moral Principle melalui bantahan terhadap tiga klausul dalam Crucial Moral Principle
Sebuah Penelitian tentang Kurikulum Homeschooling berdasarkan Ulangan 6:4-9 serta Penerapannya oleh Orang Tua
Pendidikan homeschooling merupakan model pendidikan alternatif yang semakin banyak dijalankan oleh keluarga-keluarga, termasuk di Indonesia. Alasan yang paling banyak diajukan adalah alasan religius dan moral, atau karena lingkungan sekolah semakin tidak kondusif dan dikhawatirkan akan berpengaruh buruk terhadap proses tumbuh kembang anak. Bagi keluarga-keluarga Kristen alasan religius ini didasarkan pada Ulangan 6:4-9 yang mengingatkan orang percaya untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan segenap jiwa, dan segenap kekuatan, serta memerintahkan mereka untuk mengajarkan perintah-perintah Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak dan keturunan mereka. Tesis ini meneliti tentang dua kurikulum homeschooling yang mengacu kepada Ulangan 6:4-9, yaitu Advanced Training Institute International dan Christ Centered Curriculum. Seberapa jauh kedua kurikulum tersebut mengintegrasikan firman Tuhan dalam filosofi pengajaran dan dalam berbagai mata pelajarannya. Penggunaan kedua kurikulum tersebut diteliti pada komunitas Advanced Training Institute Indonesia dengan mewawancarai dua belas keluarga yang menjadi responden. Dari penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa para orang tua yang menggunakan kurikulum ATII dan CCC sangat terfasilitasi untuk melaksanakan mandat dalam Ulangan 6:4-9, yaitu mengajarkan firman Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak mereka
Penelitian terhadap Konsep Keindahan menurut Firman Tuhan dan Dosen-dosen Kristen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha
Setiap orang mempunyai konsep keindahan yang berbeda-beda dan setiap kebudayaan mempunyai apresiasi seninya masing-masing. Apa yang dikategorikan sebagai karya "seni" dan "bukan seni" di berbagai budaya tidak selalu sama. Keindahan adalah kata yang menghubungkan spiritualitas, teologi, dan kesenian. Ada perbedaan yang mendasar dari konsep keindahan menurut firman Tuhan dan konsep keindahan yang dijelaskan oleh para ahli filsafat. Seni adalah ekspresi jiwa sang seniman yang mewakili karakter pribadinya. Karyanya adalah bagian dari sikap hidupnya, kesaksian imannya dan pandangan hidupnya. Peran yang diberikan Tuhan sesuai keunikan, autensitas dan karakter pribadi si seniman, membentuk style dalam karya seni yang dihasilkan. Seni mengkomunikasikan nilai-nilai kebenaran lewat perenungan yang mendalam dari seniman tentang pengalaman kehidupan keseharian. Besar kecilnya nilai seni bergantung pada kejujuran seniman dan nilai-nilai yang diyakininya. Tujuan seni adalah untuk meningkatkan kesadaran manusia tentang realitas kehidupan dan memperkaya kualitas hidup manusia dan menambah keindahan. Mempelajari tentang konteks seni tidak terlepas dari nilai-nilai budaya masyarakat yang mencakup ideologi sosial, masalah infrastruktur, struktur perkembangan sejarah seni, tradisi seni, akulturasi budaya, dan masalah seni. Penelitian ini adalah mengenai pemahaman konsep keindahan dosen-dosen Fakultas Kristen Maranatha dan apakah pemahamannya sudah sesuai dengan konsep keindahan menurut firman Tuhan
Konsep Ras Paulus Berdasarkan Eksposisi Galatia 3:28; Kolose 3:10-11; dan Efesus 2:11-22, dan Implikasinya Terhadap Problem Rasisme Dalam Gereja Tionghoa di Indonesia.
Ideologi tentang hierarki ras merupakan konstruksi sosial buatan manusia. Ideologi ini pertama kali diciptakan oleh bangsa Eropa di abad pertengahan untuk membenarkan sistem perbudakan terhadap bangsa lain. Cara menjalankan ideologi ini adalah dengan menanamkan kepercayaan tentang adanya ras superior dan inferior. Sementara, untuk mendukung kepercayaan tersebut, segala upaya pembelaan dilakukan, mulai dari dukungan biologis sampai teologis. Pengklasifikasian ras superior dan inferior sangat bergantung pada ciri fisik masing-masing orang atau kelompok. Dalam hal ini, ideologi hierarki ras jelas sangat menguntungkan orang kulit putih sebab mereka berada di posisi paling atas dan layak untuk memperbudak orang berwarna kulit lainnya. Berdasarkan kerangka ideologi hierarki ras inilah pemerintah kolonial Belanda membagi sistem sosial masyarakat Indonesia ke dalam tiga kasta besar: Eropa, Tiongkok, pribumi (warga asli Indonesia).
Pembagian masyarakat berdasarkan ras oleh Belanda berdampak pada segregasi di berbagai sektor sosial masyarakat, misalnya: tempat tinggal, politik, dan ekonomi. Segregasi dalam berbagai sektor tersebut menyebabkan kesenjangan ekonomi dan sosial di antara warga Tionghoa dan pribumi selama sekian ratus tahun lamanya. Akhirnya, konflik bertajukkan ras tidak dapat dielakkan lagi―tidak jarang pula korban berjatuhan akibat konflik tersebut. Kedua kelompok saling berbenturan, namun sering kali yang menjadi korban adalah warga keturunan Tionghoa. Konflik tersebut menorehkan pengalaman pahit, menyisakan duka, dan luka yang begitu mendalam bagi warga Tionghoa. Pengalaman sakit hati inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal sikap rasisme orang Tionghoa kepada pribumi dalam gereja.
Menanggapi permasalahan ini, penulis mencoba menawarkan solusi yakni konsep ras Paulus. Secara singkat, konsep ras Paulus dapat dijabarkan ke dalam tiga poin pengajaran yakni: dibaptis di dalam Kristus, kesatuan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, serta manusia baru di dalam Dia. Inti dari ketiga pengajaran tersebut adalah bahwa semua umat percaya telah disatukan dalam satu identitas di dalam Kristus. Di dalam Kristus ada pengampunan, penerimaan, kesamaan, saling menghargai, dan menghormati. Tujuan akhir dari kebersatuan umat percaya di dalam Kristus adalah kesatuan umat percaya dalam gereja. Gereja dimampukan untuk bersatu sebab Kristus yang telah terlebih dahulu melakukannya bagi umat percaya.
Pengajaran Paulus mengenai identitas umat percaya, salib Kristus, dan tugas gereja, menjadi dasar teologis bagi umat percaya di masa kini (khususnya bagi gereja Tionghoa) untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Di dalam Kristus, identitas seseorang tidak lagi dilihat berdasarkan ciri fisik, etnis, suku, dan golongan. Oleh sebab itu, tidak ada istilah superior-inferior, serta pembedaan perlakuan dalam gereja. Di dalam Kristus juga ada kasih, kasih yang cukup untuk mengampuni sesama dan membalut hati yang terluka oleh pengalaman masa lalu
Pengembangan Pelayanan Gereja Kristus Yesus Jemaat Jakarta terhadap Kaum Miskin
Membicarakan tentang pelayanan terhadap kaum miskin terdengar baik dan noble, seolah-olah membuat gereja dan orang Kristen naik derajat menjadi penuh kasih, dan telah menjadi pelaku firman Kristus. Tetapi kenyataannya tidak begitu mudah dalam menerapkannya, karena konsep pemahaman landasan pelayanan tersebut masih banyak tersaturasi antara firman Tuhan dengan pengertian serta terjemahan masing-masing pimpinan gereja sendiri. Banyak pemimpin gereja dan bahkan hamba-hamba Tuhan melihat suatu fakta bahwa kemiskinan di sekitar kita sudah sangat memprihatinkan dan dalam tahapan yang sebenarnya mempermalukan Allah, karena kemiskinan membuat konsep penciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah menjadi sesuatu yang memalukan Allah. Alkitab mulai dari Perjanjian Lama sejak zaman penciptaan manusia hingga kedatangan Tuhan Yesus di Perjanjian Baru memuat hati, pikiran dan perintah Tuhan dengan jelas, bahwa Allah ingin keadilan dan kebenaran Allah hadir di tengah-tengah umat manusia, hendaknya semua pengikut Kristus menjadi pelaku kasih dengan mengasihi sesama manusia. Sesama manusia disini bukan hanya orang-orang yang kita kenal dan satu iman dengan kita, tetapi sesama manusia termasuk musuh kita dan orang-orang yang bahkan tidak satu iman dengan kita. Sayangnya, gereja dan para pemimpinnya rupanya masih memilah-milah dengan dasar pemikiran mereka sendiri-sendiri dalam melaksanakan amanat Tuhan tersebut yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Amanat Agung Kristus kepada setiap orang percaya. Hasil penelitian menyatakan bahwa gereja perlu dengan serius secara konsisten mengajarkan firman Tuhan secara benar dalam mengerti dan menangkap perintah Allah secara holistik dan menyeluruh serta tidak parsial, khususnya berkaitan dengan pelayanan terhadap kaum miskin. Gereja perlu memiliki suatu program yang terintegrasi di dalam, bukan hanya mementingkan pelayanan ibadah atau pelayanan misi saja, tetapi mempergunakan seluruh kemampuan yang Tuhan titipkan kepada gereja-Nya termasuk sumber daya manusianya untuk mengabarkan Injil, membina jemaat, tetapi juga mengentaskan kemiskinan dengan berdasarkan firman Allah dalam Alkitab. Bukan hanya bicara iman, tetapi tanpa perbuatan, tetapi dengan perbuatan sambil menyatakan iman Kristen. Semuanya harus berjalan secara paralel dan bersamaan dengan pembagian alokasi dana dan tenaga serta pikiran yang berimbang