STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Naskah Khotbah Topikal : Bergaul Akrab Dengan Firman-Nya

    No full text
    Saudara, apakah arti Best Friend menurut saudara? (Jemaat respon). Tempat curhat?teman yang paling dekat?Teman yang akan terus diajak ngobrol? Benar, yang namanya best friend memang selalu seperti iu. Biasanya, kita akan sangat senang ketika menghabiskan waktu kita dengan best friend kita. Kita kayaknya pingin terus ngobrol sama Dia, bergaul terus sama Dia. Kalau sehari gak ngobrol aja, kayaknya ada sesuatu yang kurang. Saya punya seorang teman. Nah, teman saya ini punya dua orang best friend. Kemana-mana mereka musti bareng . Makan bareng, waktu belajar bareng, lagi istirahat juga bareng. Setiap kali saya bertemu dengan teman saya ini, dua orang itu selalu ada di sampingnya. Teman saya ini punya satu sifat buruk, yaitu agak keras kepala; susah mendengarkan nasihat orang. Kami sebagai teman-temannya sudah sering menasehatinya untuk beberapa hal, namun tetap aja dia gak mau dengar. Tapi, saudara, begitu dua orang itu yang menasehatinya, dia langsung mendengarkan. Saya kadang sampai berpikir, besar sekali pengaruh dari seorang best friend ini

    Peran dan Kualifikasi Hamba Tuhan Musik (Music Minister) dalam Pelayanan Purnawaktu di Gereja Injili di Indonesia.

    No full text
    Pelayanan ibadah dan musik merupakan bidang pelayanan yang sangat penting, bahkan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pelayanan gereja. Karena itu, gereja seharusnya memberikan perhatian yang lebih, salah satunya ialah dengan menyediakan orang yang dapat bertanggung jawab untuk mengatur pelayanan musik dan ibadah di gereja. Hamba Tuhan musik (music minister) seharusnya menjadi seorang yang tepat untuk memegang tanggung jawab atas pelayanan tersebut. Hamba Tuhan musik yang melayani secara purnawaktu di gereja sesungguhnya memiliki peran yang penting dan membutuhkan kualifikasi-kualifikasi agar peran-peran penting tersebut dapat dijalankan dengan maksimal. Melalui studi pustaka, penulis melihat bagaimana peran dan kualifikasi seorang hamba Tuhan musik yang ada dalam konteks pelayanan gereja di luar Indonesia. Saat ini gereja-gereja di luar Indonesia, secara khusus Amerika, sebagian besar telah menyadari betapa pentingnya kehadiran seorang hamba Tuhan musik untuk memimpin dan mengembangkan pelayanan musik gereja. Hamba Tuhan musik sesungguhnya berperan sebagai pemimpin pelayanan musik gereja. Dalam perannya itu, banyak tanggung jawab kepemimpinan yang harus dilakukan, beberapa contoh seperti mengoordinasi musik dan ibadah, membimbing dan melatih pelayan musik dan ibadah, bahkan memimpin organisasi pelayanan musik gereja. Karena demikian, tentunya dibutuhkan beberapa kualifikasi untuk para hamba Tuhan musik, agar pelayanan musik di gereja dapat dipimpin dan dikembangkan dengan maksimal. Dalam konteks gereja injili di Indonesia, melalui wawancara dengan beberapa hamba Tuhan musik yang melayani secara purnawaktu, penulis menemukan bahwa peran dan kualifikasi yang dibutuhkan bagi hamba Tuhan musik untuk melayani di gereja injili di Indonesia tidak jauh berbeda dengan konteks pelayanan di luar Indonesia, khususnya di Amerika. Perbedaannya ada pada pola pelayanan hamba Tuhan itu sendiri. Hamba Tuhan dalam konteks pelayanan gereja di Amerika memang lebih terfokus dengan setiap bidang pelayanannya masing-masing, sedangkan hamba Tuhan, khususnya gereja injili di Indonesia, lebih diharapkan untuk bisa terlibat di seluruh bidang pelayanan gereja yang ada. Namun memang lebih baik jika hamba Tuhan musik di Indonesia pun dapat menentukan fokus pelayanannya. Peran yang dapat diambil tidak hanya mengatur pelayanan musik dan ibadah, ataupun mendidik para pelayannya, tetapi juga diharapkan dapat terlibat dalam pelayanan lainnya, seperti mendidik dan memperhatikan jemaat, serta memberitakan firman Tuhan, walaupun dengan tuntutan, ekspektasi, dan intensitas yang tidak besar. Dengan peran yang cukup menyeluruh, tentu kualifikasi yang dibutuhkan juga tidak hanya berhenti pada pengetahuan dan keterampilan musik saja. Hamba Tuhan musik perlu mengembangkan diri terus-menerus, agar pelayanannya di gereja dapat semakin maksimal dan pelayanan musik dan ibadah juga dapat semakin berkembang

    Resensi Buku : The Pastor's Ministry

    No full text

    Perbandingan Konsep Epistemologi dan Implikasinya dalam Pendidikan dari Surat 2 Petrus dengan Filsafat Neopragmatisme Richard Rorty.

    No full text
    Pascamodern merupakan suatu zaman yang menolak kebenaran, pengetahuan, dan nilai atau moralitas objektif dan absolut. Pascamodern menekankan peran manusia di dalam menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai. Secara tidak langsung, pascamodern menolak keberadaan realitas eksternal (Allah) yang berdaulat dan mengendalikan kehidupan manusia. Salah satu pandangan pascamodern yang cukup berpengaruh adalah filsafat neopragmatisme yang dikembangkan oleh Richard Rorty. Konsep epistemologinya berkenaan dengan pengetahuan dan kebenaran menekankan daya imajinasi dan kreativitas bahasa untuk melakukan edifikasi yang melibatkan aktivitas hermeneutika dan poetika untuk mempertahankan keberlangsungan percakapan. Percakapan yang terus berlangsung dengan mengutamakan otoritas konsensus dalam komunitas diharapkan dapat menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai. Pemikirannya berdampak pada praktik pendidikan yang mengutamakan kebebasan berimajinasi dan berkreasi dalam bahasa untuk menciptakan kosa kata baru untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik. Hal ini khususnya praktik pendidikan yang menekankan demokratisasi pendidikan dan reformasi kurikulum yang meninggalkan penekanan pada aspek rasionalitas. Praktik ini meliputi proses akulturasi dan individuasi. Akulturasi dilakukan dengan bercermin pada pengalaman para pendahulu yang telah berhasil menciptakan kondisi baik (worship hero). Individuasi dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang baru sebagai yang lebih baik (berguna) untuk menciptakan kondisi yang lebih baik. Pendidikan Kristen memiliki perspektif yang berbeda dengan konsep pendidikan dalam filsafat neopragmatisme Rorty. Surat 2 Petrus menunjukkan konsep epistemologi alkitabiah yang bersumber dari Allah dan diwahyukan kepada manusia sehingga manusia memiliki standar epsitemologi yang objektif. Konsep epistemologi tersebut berdampak pada praktik pendidikan Kristen yang mengagungkan kebenaran, pengetahuan serta nilai absolut dan objektif yang bersumber dari Allah. Pendidikan Kristen dijalankan sesuai dengan kebenaran firman Allah yang dinyatakan dalam bahasa manusia (Alkitab) untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai desain Allah. Pendidikan Kristen juga mengutamakan pengenalan yang benar akan Allah yang diwujudkan dalam kehidupan saleh (godly living) di antara relasi dengan sesama orang percaya maupun orang tidak percaya. Pendidikan Kristen juga berorientasi pada pengharapan akan kekekalan di masa yang akan datang sehingga pendidikan Kristen mempersiapkan anak didik dan peserta didik untuk bertemu dengan Allah secara pribadi

    Mendramakan Doktrin Sebagai Bentuk Partisipasi Kaum Injili Pada Dialog Antar-Iman di Indonesia

    Get PDF
    Melihat betapa minimnya karya kaum injili mengenai partisipasi pada ruang publik, skripsi ini bertujuan untuk memberikan suatu model bagi kaum injili untuk berpartisipasi di dalam ruang publik di Indonesia, secara khusus dialog antar-iman. Dengan berpartisipasi di dalam ruang publik lewat dialog antar-iman, seorang injili dapat memberikan dampak di dalam ruang publik ini, terutama di dalam penyelesaian masalah kemiskinan, ekologi ataupun ketidakadilan sosial yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu, seorang injili juga tetap dapat menjadi kontekstual sambil memproklamasikan Injil Kristus. Dengan berpartisipasi di dalam dialog antar-iman, seorang injili sedang mengerjakan sabda Yesus yang diutarakan pada kothbah di bukit, menjadi terang dan garam di tengah-tengah dunia. Dengan demikian, seorang injili pun perlu menjadi terang dan garam bagi Indonesia. Namun, alih-alih menjadi terang dan garam di Indonesia, ada kesan bahwa kaum injili justru menjadi komunitas yang tertutup, komunitas ghetto. Kaum injili menjadi tidak berbaur dengan dunia. Kepasifan membuat rasa kehadiran dari kaum injili menjadi tawar, keadaan non-partisipatif dalam dialog antar-iman dari kaum injili membuat terang dari kaum injili ini terasa kian redup di dalam ruang publik. Hal ini pun diperparah dengan kondisi multi-kultur konfliktif yang ada di Indonesia. Sebagai solusinya, penulis melihat bahwa konsep teatrikal dari Kevin J. Vanhoozer, drama doktrin dapat menjadi solusi dari permasalahan partisipasi dan juga carut marutnya dialog antar-iman ini. Penulis melihat bahwa dengan mendramakan doktrin di dalam ruang publik, seorang injili dapat berpartisipasi di dalam dialog antar-iman di Indonesia. Bentuk mendramakan doktrin di dalam ruang publik ini tertuang di dalam konsep teater interaktif-injili, yaitu suatu pertunjukan yang sedang dilakukan oleh kaum injili di dalam kesehariannya. Pertunjukan yang sedang dilakukan oleh kaum injili di dalam teater interaktif-injili ini dapat memberikan kesaksian di ruang publik. Sebagai wujud nyata dari karya kaum injili pada ruang publik, ada empat performa-interaktif yang menjadi bagian di dalam teater interaktif-injili ini, yaitu performa-interaktif rekonsiliasi, performa-interaktif keterbukaan, performa-interaktif profetik, dan performa-interaktif pencarian kebenaran. Dengan melaksanakan empat performa ini di dalam teater interaktif-injili, seorang injili sedang berpartisipasi di dalam dialog antar-iman di dalam ruang publik di Indonesia

    Eksegesis Terhadap Galatia 4:21-51 dengan Menggunakan Pendekatan Sosio-Historis-Gramatikal dan Pendekatan Epistolaris

    Get PDF

    Inti Teks dari Perikop "Perempuan Kanaan Yang Percaya" ( Matius 15:21-28) dan Paralelisemenya Dengan Markus 7:24-30

    No full text
    Perikop "Perempuan Kanaan yang percaya" (Matius 15:21-28) dan perikop "Perempuan Siro-Fenisia yang percaya" ( Markus 7:24-30) memiliki beberapa kemiripan. Makalah hermeneutika ini khusus mengkaji keberadaan paralelisme di antara kedua perikop ini. Dengan melakukan analisis konteks sastra, pertimbangan kritik sumber, dan kritik redaksi, penulis menyimpulkan adanya paralelisme di antara kedua perikop ini, khususnya penulis INjil Matius menyusun sedemikian rupa dengan maksud teologis tertentu. Pada bagian akhir, penulis merumuskan ini teks yang hendak disampaikan penulis Injil Matius melalui perikop ini

    Baptisan Roh Kudus pada Saat Regenerasi : Tinjauan terhadap Pandangan Pentakosta dan Karismatik berdasarkan Perspektif Reformed dan Implikasinya bagi Orang Kristen Masa Kini

    No full text
    Baptisan Roh Kudus merupakan sebuah berkat yang pasti diterima oleh setiap orang Kristen sejati. Namun konsep mengenai baptisan Roh Kudus ternyata membuahkan perdebatan di beberapa kalangan orang percaya. Kaum pentakosta dan karismatik memandang baptisan Roh Kudus sebagai sebuah second blessing. Pandangan ini didasari oleh beberapa landansan Alkitan dengan penafsiran yang berbeda ketika dibandingkan dengan perspektif teologi reformed. Makalah ini akan meninjau dasar berpikir kaum pentakosta dan karismatik berdasarkan perspektif teologi reformed

    Prinsip Relasi Paulus-Timotius dalam Kepemimpinan di Gereja dan Implikasinya bagi Relasi Hamba Tuhan Senior-Junior Masa Kini: Sebuah Eksposisi terhadap 1 dan 2 Timotius.

    No full text
    Relasi antarmanusia pada umumnya, baik secara personal maupun komunal tidak pernah terlepas dari muatan kepentingan, perselisihan, penguasaan, permusuhan, dan penindasan. Kasih dan berempati seperti lapisan tipis yang tidak mampu menjaga relasi harmonis secara permanen. Oleh karena hal itu, maka di setiap bidang kehidupan yang melibatkan manusia dalam relasi dengan sesamanya, potensi terjadinya konflik akan selalu mungkin. Para hamba Tuhan sebagai bagian dari komunitas manusia juga tidak terlepas dari konflik. Tidak jarang konflik yang terjadi berujung pada perpecahan gereja. Bila ditelaah lebih lanjut konflik ini terjadi dalam relasi hamba Tuhan senior-junior, penyebabnya antara lain: karena senior sebagai pemimpin tidak membangun relasi yang seharusnya dengan junior, demikian juga sebaliknya dengan junior. Oleh karena itu pentingnya pemahaman akan sebuah relasi yang benar yaitu: relasi yang dibangun dalam bentuk pemuridan dan pembimbingan dari seorang senior dan pemimpin di gereja. Berdasarkan pemahaman akan pentingnya sebuah relasi dalam bentuk pemuridan dan pembimbingan oleh seorang pemimpin bagi rekan-rekan yang dipimpinnya, maka penulis dalam skripsi ini memfokuskan penelitian pada prinsip relasi pemuridan dan kepemimpinan yang dilakukan Paulus kepada Timotius menurut surat 1 dan 2 Timotius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi relasi pemuridan dan kepemimpinan Paulus kepada Timotius bagi relasi hamba Tuhan senior-junior. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif dengan penelitian lapangan, dan metode eksposisi. Selain itu penulis akan menggunakan beberapa sumber kepustakaan yang akan disejajarkan dengan prinsip-prinsip pemuridan dan kepemimpinan Paulus kepada Timotius, untuk mendapatkan hasil yang lebih relevan dan aplikatif bagi pembaca. Setelah melakukan penelitian terhadap prinsip relasi pemuridan dan kepemimpinan yang dilakukan Paulus kepada Timotius, penulis mendapati tiga peran yang dapat dilakukan senior dan pemimpin demi membangun relasi senior-junior yang baik, yaitu: pertama, relasi senior-junior sebagai guru dan murid, kedua, relasi senior-junior seperti bapak dan anak, ketiga,relasi senior-junior seperti rekan dan sahabat. Apabila senior-junior dapat menjalankan pola relasi seperti ini, maka diharapkan akan tercipta sebuah pelayanan yang saling membangun bagi Kristus

    Mematikan Dosa

    No full text
    Dosa merupakan suatu permasalahan yang serius, akan tetapi bagi manusia zaman ini dosa sepertinya dianggap remah. Begitu mudahnya orang-orang melakukan suatu tindak kejahatan di dunia ini dengan mengatasnamakan agama, seolah-olah dosa tidak berpengaruh dalam kehidupan mereka. Umat kristen percaya bahwa kuasa dosa telah dikalahkan oleh Yesus di atas kayu salib. Apakan kuasa dosa masih menguasai orang yang telah percaya kepada Kristus? Mengapa seolah-olah pengampunan dosa itu tidak berdampak kepada orang yang telah diampuni dosanya? Apakah umat Kristen masih berjuang untuk mematikan dosa? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis akan menjelaskan kuasa kematian, dan kebangkitan Yesus dalam dosa, serta peranan Roh Kudus dalam mematikan dosa

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇