STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Penerapan Hukuman Mati Terhadap Pengedar Narkotika di Indonesia Berdasarkan Perspektif Kristen Injili
Pro-kontra hukuman mati tetap menjadi perdebatan yang hangat di kalangan masyarakat dunia. Negara Indonesia menerapkan hukuman mati bagi beberapa kasus tindak kejahatan tertentu. Salah satu jenis kejahatan yang diganjar dengan hukuman mati ialah pengedaran narkotika. Presiden Joko Widodo selaku kepala negara Republik Indonesia mengambil tindakan tegas untuk menghukum para pengedar yang merajalela mencari mangsa. Warna sari hukuman mati menjadi perdebatan baik di kalangan pemerintahan maupun kalangan akademik. Kalangan yang menyetujui hukuman mati berpendapat bahwa hukuman mati dapat menjadi alat represi yang kuat bagi pemerintah untuk menegakkan keadilan bagi pihak yang menjadi korban. Sementara itu, kalangan yang tidak menyetujui hukuman mati berpendapat bahwa hukuman mati bertentangan dengan hak asasi manusia.
Perdebatan mengenai hukuman mati tidak hanya menjadi bagian di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di dalam kekristenan. Dalam dunia kekristenan, perdebatan hukuman mati terbagi menjadi dua bagian, yakni kalangan yang mendukung hukuman mati dan kalangan yang tidak mendukung. Kalangan yang menyetujui hukuman mati berpendapat bahwa melalui hukuman, keadilan dapat ditegakkan. Sebaliknya, bagi kalangan yang tidak menyetujui hukuman mati berpendapat bahwa kasih dan pengampunan harus diberikan kepada para terpidana. Menariknya ialah masing-masing kalangan mempunyai dasar firman Tuhan bagi setiap argumen mereka.
Peneletian ini berfokus pada hukuman mati bagi tindak pidana narkotika sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Selain itu, Firman Tuhan akan dipakai sebagai landasan untuk menjawab pro-kontra hukuman mati yang yang ada. Kebenaran yang berasal dari firman Tuhan inilah yang menjadi dasar dari perspektif kaum Kristen Injili terhadap pelaksanaan hukuman mati.
Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, maka penulis merumuskan kesimpulan akhir penelitian. Kaum Injili setuju dengan pelaksanaan hukuman mati bagi para pengedar narkotika. Kaum Injili berpendapat bahwa pelaksanaan hukuman mati tersebut tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa pemerintah diberi kuasa oleh Tuhan untuk menegakkan keadilan. Dengan kata lain, kelompok Injili mendukung penerapan hukuman mati bagi para pengedar narkotika
Kontribusi Doktrin Trinitas dan Motif Organik Herman Bavinck terhadap Diskusi Kekinian Mengenai Trinitas dan Pluralisme Agama dari Sudut Pandang Teologi Injili
Isu pluralisme agama sudah menjadi persoalan yang sangat umum. Namun, irisan antara studi Trinitas dan pluralisme agama baru saja berkembang beberapa dekade belakangan ini. Ironisnya, kaum injili, sekalipun sudah banyak terlibat dalam diskusi teologi agama-agama, hanya sebagian kecil saja yang mengaitkan studi Trinitas dengan pluralisme agama-agama. Kebanyakan teolog agama-agama trinitarian yang berkecimpung dalam diskusi ini justru adalah yang non-injili, atau setidaknya, yang memiliki nilai-nilai teologis yang berbeda dan tidak alkitabiah. Perkembangan di dalam studi mengenai Herman Bavinck, salah seorang tokoh Neo-Calvinis dari Belanda, yang tadinya terlupakan, sekarang menjadi subur oleh karena terbitnya keempat volume dari magnum opus-nya, yakni Reformed Dogmatics. Beberapa monograf yang membahas mengenai teologi Bavinck mulai bermunculan, salah satunya yang paling berpengaruh adalah dari James Eglinton, Trinity and Organism. Dengan mengikuti tesis dan hermeneutika yang ditawarkan oleh Eglinton, penulis meyakini doktrin Trinitas Bavinck dapat memberikan kontribusi yang positif dan konstruktif bagi kaum injili dalam membangun sebuah teologi agama-agama. Penulis memakai dua pandangan kontemporer yang diberikan oleh Veli-Matti Karkkainen dan Joas Adiprasetya terhadap penggunaan doktrin Trinitas sebagai kerangka dasar dalam membangun teologi agama-agama. Penulis mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dari model panenteisme trinitarian yang diberikan oleh kedua teolog tersebut. Akhirnya, sebagai tujuan utama dari penulisan tesis ini, penulis menunjukkan keunggulan model trinitarianisme klasik dari Bavinck dengan motif organiknya untuk membangun sebuah teologi agama-agama kovenantal. Pada intinya, teologi agama-agama menempatkan kekristenan sebagai agama yang benar, di mana melaluinya, Allah Trinitas sebagai Realitas Ultimat menyatakan diri-Nya. Kekristenan menjadi sebuah penggenapan subversif bagi agama-agama non-Kristen, melalui Kristus yang adalah pusat organis dari penyataan Allah Trinitas
Mengingat dan Menguduskan Sabat : Sebuah Telaah Terhadap Dimensi Eskatologis Sabat dan Implikasinya Bagi Kehidupan Umat Allah Masa Kini
Makalah ini berisi telaah mendalam mengenai dimensi eskatologis hari Sabat yang menjadi salah satu ciri khas kehidupan umat Kristen. Dimensi eskatologis tersebut adalah pertama, Sabat sebagai perhentian atau peristirahatan final dari segala pekerjaan, serta kedua, Sabat sebagai perayaan atas kemenangan Ilahi di dalam pertarungan melawan kuasa kegelapan yang terjadi sepanjang zaman. Argumentasi dibangun melalui rekonstruksi teologis dari konsep-konsep Sabat yang dapat ditemukan dalam beberapa bagian metanarasi Alkitab
Tinjauan Terhadap Konsep Kesatuan dengan Kristus dari Yohanes Calvin Berdasarkan Surat-surat Paulus dan Implikasinya bagi Spiritualitas Kristen Masa Kini.
Kesatuan dengan Kristus merupakan aspek yang sentral dalam teologi Kristen. Secara sederhana kesatuan dengan Kristus berbicara mengenai menyatunya orang percaya dengan Kristus. Kesatuan ini merupakan hal yang penting, karena berkaitan dengan relasi yang terbangun antara manusia dengan Allah. Oleh kemurahan Allah, manusia yang berdosa dapat memiliki relasi yang dekat di dalam Kristus.
Banyak tokoh memberikan penafisran atau pemahaman yang beragam berkaitan dengan konsep kesatuan dengan Allah ini. Penafsiran ontologis menyatakan kesatuan secara mistik dengan Allah, sehingga manusia dapat bercampur dengan Allah. Penafsiran sakramental berpendapat bahwa kesatuan yang terbentuk ketika berlangsungnya sakramen. Penafsiran yang lain hanya menekankan kesatuan dengan Allah dalam hal moral. Dari berbagai penafsiran yang ada mengenai kesatuan ini, hal yang menjadi pertanyaan adalah mengenai definisi dan makna dari kesatuan dengan Kristus. Pertanyaan ini merujuk suatu hal yang mendasar dalam mencari makna kesatuan dengan Kristus yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, yaitu Alkitab.
Yohanes Calvin, sebagai pionir teolog Reformed, menaruh perhatian kepada konsep kesatuan dengan Kristus dalam tulisan-tulisannya. Ia menyatakan kesatuan dengan Kristus sebagai hal yang penting bagi iman Kristen, khususnya sebagai dampak dari kehidupan yang diselamatkan oleh Kristus. Penekanan yang diberikan Calvin mengenai kesatuan dengan Kristus menjadi akar bagi doktrin iman, seperti pembenaran dan pengudusan hidup.
Jikalau demikian, apakah pemahaman Calvin tersebut sesuai dengan kebenaran Alkitab? Hal yang paling mendasar dari permasalahan ini adalah membahas makna kesatuan dengan Kristus berdasarkan pemikiran Calvin. Surat-surat Paulus, sebagai dasar Alkitab, ternyata mencatat aspek kesatuan antara Kristus dengan orang percaya. Ketika Paulus menuliskan bahwa orang percaya berada “dalam Kristus,” maka ia sedang menunjukkan orang percaya yang memiliki kesatuan dengan Kristus. Dalam beragam metafora dan pengungkapan, Paulus memberikan suatu gambaran bahwa Kristus memiliki relasi yang nyata dengan umat-Nya.
Surat-surat Paulus sebagai dasar Alkitab akan dipakai untuk meninjau pemikiran Calvin mengenai makna dari kesatuan dengan Kristus. Berdasarkan peninjauan ini menyatakan bahwa sebagian besar pemikiran Calvin mengenai kesatuan dengan Kristus di sandarkan kepada kebenaran Alkitab khususnya surat-surat Paulus. Selain itu, implikasi kesatuan ini terhadap spiritualitas merujuk kepada bagaimana terjadi intimasi antara orang percaya dan Kristus yang mengarah kepada keserupaan dengan Kristus
Tinjauan Etis Teologis Terhadap Perilaku Homoseksual Berdasarkan Etika Paulus Dalam Roma 1:26-27 dan 1 Korintus 6:9-10.
Homoseksual menjadi isu yang berkembang pesat. Isu ini memengaruhi masyarakat bahkan beberapa gereja mulai membuka diri, menerima perilaku homoseksual, bahkan mengesahkan pernikahan sejenis. Pihak-pihak yang mendukung homoseksual menyatakan bahwa Alkitab tidak melarang perilaku ini, perilaku ini bukan dosa, bahkan perilaku ini dianggap sebagai bagian natur seseorang dan akibat dosa penyembahan berhala. Larangan terhadap perilaku dan tindakan homoseksual dalam Alkitab juga dianggap tidak relevan dengan permasalahan homoseksual masa kini.
Pembahasan beragam isu homoseksual tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sejarah homoseksual mulai dari masa Timur Dekat Kuno, Greco-Roman, dan masa modern. Pada masa Timur Dekat Kuno, sebagian besar perilaku homoseksual berkaitan dengan penyembahan berhala dan kepercayaan masyarakat Mesopotamia kuno. Tindakan ini menjadi bagian integral dalam masyarakat tersebut. Perilaku homoseksual pada masa Timur Dekat Kuno memengaruhi perilaku homoseksual pada masa Greco-Roman. Praktik homoseksual masa Greco-Roman lebih dikenal dengan pederasty. Selain pederasty, tindakan homoseksual juga dilakukan oleh orang seusia bahkan oleh perempuan. Budaya Greco-Roman memberikan pengaruh besar terhadap praktik homoseksual modern terutama dalam pembagian peran aktif dan pasif. Pada masa modern, pencarian penyebab perilaku homoseksual memunculkan kubu biological essentialism yang berusaha membuktikan bahwa perilaku homoseksual merupakan natur dan social constructionism yang memandang penyebab homoseksual dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan.
Di tengah-tengah beragam pandangan dan perkembangan homoseksual, umat Tuhan seharusnya melihat kembali pada Alkitab sebagai dasar hukum yang absolut. Larangan terhadap perilaku dan tindakan homoseksual telah tertulis dalam Alkitab baik PL maupun PB. Perilaku ini mendapat penolakan dalam kedua bagian kitab tersebut, secara lebih spesifik dalam Roma 1:26-27 dan 1 Korintus 6:9-10. Roma 1:26-27 menekankan perilaku ini sebagai salah satu wujud penolakan manusia terhadap Allah. Sedangkan dalam 1 Korintus 6:9-10, perilaku ini disamakan dengan dosa tindakan tidak bermoral lainnya. Dalam 1 Korintus 6:9-10, penghukuman terhadap tindakan homoseksual memiliki muatan eskatologis. Dari eksposisi Roma 1:26-27 dan 1 Korintus 6:9-10 didapati bahwa homoseksual bukanlah akibat penyembahan berhala. Perilaku ini bertentangan dengan Alkitab dan merupakan dosa. Perilaku homoseksual juga bertentangan dengan natur penciptaan dan konsep kasih Kristen
Penggunaan Ilustrasi dalam Khotbah Yesus di Bukit dan Implikasinya bagi Khotbah Ekspositori Masa Kini.
Khotbah merupakan hal penting dalam kehidupan kekristenan baik masa lampau maupun masa kini. Namun realita masa kini menunjukkan bahwa sebuah khotbah tidak menjadi hal penting. Hal ini terlihat dari respons jemaat dalam mendengarkan sebuah khotbah yaitu adanya beberapa jemaat yang tertidur, bermain dengan gadget mereka, berbicara dengan teman yang ada di samping mereka dan terkadang membaca buku yang tidak berkaitan dengan khotbah yang disampaikan. Dengan melihat kepentingan khotbah dan realita yang terjadi sekarang ini, khotbah mengalami krisis. Khotbah yang dianggap merupakan hal penting menjadi tidak begitu penting karena tidak didengarkan dengan sunguh-sungguh. Jemaat justru melakukan hal lain ketika khotbah seharusnya didengarkan.
Dengan melihat permasalahan tersebut, penulis melihat hasil survei yang menunjukkan bahwa pendengar masa kini membutuhkan khotbah yang menarik. Pendengar merasa bosan jika isi dan penyampaiannya terkesan biasa-biasa saja. Dalam survei tersebut, bagian khotbah yang disoroti salah satunya adalah penggunaan ilustrasi dalam sebuah khotbah. Secara tidak langsung khotbah masa kini membutuhkan ilustrasi yang tepat dan baik.
Oleh karena itu, penulis meneliti penggunaan ilustrasi dalam Khotbah Yesus di Bukit (Mat. 5-7). Terlihat bahwa respons kekaguman pendengar dalam mendengarkan khotbah Yesus bukan hanya karena penyampaian-Nya tetapi isi khotbah-Nya juga menarik sehingga pendengar kagum akan apa yang disampaikan Yesus. Isi khotbah Yesus memuat penggunaan gambaran-gambaraan. Dalam khotbah Yesus terdapat humor, peribahasa, amsal, perumpamaan, analogi, puisi, perbandingan. Isi khotbah Yesus ini menarik perhatian pendengar pada waktu itu. Dengan beragam ilustrasi yang dipakai Yesus, ini menunjukkan bahwa ilustrasi perlu digunakan dalam sebuah khotbah masa kini yaitu dalam khotbah ekspositori.
Khotbah ekspositori adalah sebuah khotbah yang setia pada pesan Alkitab dan setia untuk menolong jemaat dalam memahami firman Tuhan. Dengan pemahaman ini seorang pengkhotbah perlu untuk memahami unsur-unsur penting dalam khotbah ekspositori serta menggunakan unsur tersebut dengan optimal. Salah satu unsur yang perlu untuk diperhatikan adalah penggunaan ilustrasi bagi pendengar yang membutuhkan adanya ilustrasi. Ilustrasi memiliki peranan yang penting dalam khotbah agar sebuah khotbah dapat efektif.
Pendengar masa kini berbeda dengan pendengar masa lampau. Dengan berbagai kondisi yang ada, pendengar membutuhkan hal yang menarik dalam sebuah khotbah. Dengan melihat dari berbagai segi, ilustrasi memiliki peranan penting untuk membuat khotbah masa kini menarik. Ilustrasi yang digunakan dengan tepat dan baik akan menarik untuk didengarkan. Ilustrasi adalah unsur khotbah yang cocok bagi pendengar pascamodernisme yang memang menyukai sebuah cerita. Pendengar masa kini membutuhkan hal yang menarik dalam khotbah dan salah satunya adalah penggunaan ilustrasi yang tepat dan baik
Studi Tentang Metode Pemuridan Melalui Kelompok Kecil dan Implikasinya Bagi Praktik Pemuridan Jemaat Lanjut Usia di Gereja.
Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi dan menjadikan murid-murid Kristus. Panggilan pemuridan ditujukan kepada semua orang percaya, termasuk di dalamnya orang percaya dari kalangan kaum lanjut usia. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa kaum lanjut usia juga sebetulnya membutuhkan proses pemuridan sekalipun di masa tua mereka. Namun demikian, harus diakui bahwa melakukan pemuridan kepada kaum lanjut usia bukanlah suatu hal yang mudah. Kaum lanjut usia memiliki kebutuhan dan permasalahannya sendiri yang membuatnya membutuhkan suatu metode pemuridan tertentu yang dapat berjalan sesuai dan memenuhi kebutuhan serta permasalahan mereka. Berangkat dari masalah ini, penulis terdorong untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemahaman konsep metode pemuridan melalui kelompok kecil dan juga pemahaman karakteristik serta permasalahan yang dimiliki oleh kaum lanjut usia. Dari penelitian terhadap kedua hal tersebut, penulis menemukan adanya kesesuaian antara apa yang dimiliki oleh metode pemuridan melalui kelompok kecil dengan apa yang dibutuhkan oleh kaum lanjut usia. Komunitas menjadi kata yang menghubungkan kesesuaian di antara keduanya. Metode pemuridan melalui kelompok kecil yang berdasar pada komunitas mampu menjawab kebutuhan kaum lanjut usia yang memiliki kebutuhan terhadap dukungan sosial dari komunitas tertentu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pemuridan melalui kelompok kecil dapat menjawab kebutuhan pemuridan bagi kaum lanjut usia. Pemahaman tersebut mendorong penulis untuk menarik implikasi penelitian ini bagi praktik pemuridan jemaat lanjut usia di gerejadalam hal ini penulis membatasi keadaan kaum lanjut usia yang dimaksud adalah dalam keadaan kondisi sehat atau tidak sakit parahyang meliputi unsur pengajaran, penyembahan, persekutuan, dan pengutusan yang menjadi empat unsur utama di dalam metode pemuridan melalui kelompok kecil
Tinjauan Teologis-Alkitabiah Terhadap Model Kontekstual Injil Menurut Phil Parshall dan Relevansinya Bagi Pelayanan Penginjilan di Indonesia
Kontekstualisasi Injil adalah salah satu isu yang sedang ramai dibicarakan baik di kalangan akademisi maupun praktisi misi. Pendekatan kontekstual Injil bukan pendekatan yang baru, karena Alkitab khususnya Perjanjian Baru telah memaparkan secara implisit mengenai pola pendekatan ini. Pada dasawarsa terakhir penginjilan kontekstualisasi kepada kaum muslim, menjadi satu isu yang penting dalam usaha-usaha pemberitaan Injil diAsia secara khusus di Indonesia. Karena itu, bermunculan pola-pola pendekatan kontekstual Injil yang berhubungan dengan pendekatan budaya maupun pendekatan religius. Phil Parshall, seorang akademisi dan praktisi misi yang selama 40 tahun berkecimpun dalam dunia penginjilan untuk kaum muslim tradisional khususnya di Bangladesh dan Filipina mengemukakan model pendekatan kontekstualisasi Injil dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan inkarnasional yang ditujukan kepada pemberita Injil, pendekatan spiritual teologis untuk menjembatani pemahaman Islam mengenai ajaran-ajaran dalam Alquran dengan kekristenan, dan pendekatan ritual-ritual keagamaan dalam proses akomodasi budaya yang memungkinkan munculnya satu gereja yang indigenos dan alkitabiah. Islam tradisional di Indonesia adalah Islam yang merupakan hasil asimilasi dan akulturasi dengan kepercayaan pra Islam seperti animisme, dinamisme serta kepercayaan Hindu dan Budha. Islam tradisional adalah Islam yang akomodatif dengan budaya setempat, sehingga mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya. Pendekatan kontekstualisasi injil Parshall, mengacu kepada pengajaran yang diajarkan oleh Alkitab, gereja mula-mula, gereja zaman reformasi dan telah dipraktikan oleh beberapa praktisi misi di Indonesia dan terbukti membawa banyak orang Muslim tradisional untuk percaya kepada Yesus. Model pendekatan yang dikemukakan Parshall, berkaitan dengan pendekatan spiritual teologis memiliki beberapa kelemahan secara teologia, karena itu perlu pendalaman secara hermeneutik dan teologis, namun yang berkaitan dengan pendekatan inkarnasional dan tradisi ritual sosial keagamaan, relevan untuk dipraktikkan dalam konteks pemberitaan Injil bagi masyarakat muslim tradisional di Indonesia
Pendekatan Sapiential Apologetics Kevin J. Vanhoozer : Evaluasi, dan Sketsa Penerapannya dalam Apologetika Pascamodern terhadap Masalah Kejahatan
Studi Tentang Konsep Pernikahan Dalam Matius 19:1-9 Dan Implikasinya Bagi Gereja-Gereja Injili Dalam Menghadapi Masalah Tingginya Angka Perceraian di Indonesia.
Pernikahan adalah rancangan terbaik Allah bagi manusia. Sejak manusia diciptakan, Allah mengetahui bahwa tidak baik kalau manusia hidup seorang diri saja. Itulah sebabnya Ia menciptakan lembaga pernikahan supaya manusia dapat saling mengasihi, berbagi, dan membangun satu dengan yang lainnya. Dalam rancangan-Nya yang sempurna, Allah tidak pernah menghendaki terjadinya perceraian. Bahkan, Allah sangat membenci perceraian (Mal. 2:16). Namun, karena ketegaran hati manusia, perceraian akhirnya diizinkan terjadi hanya dengan alasan perzinahan saja.
Seiring dengan perkembangan zaman, perceraian tidak dapat dibendung lagi. Indonesia menempati tingkat tertinggi angka perceraian se-Asia Pasifik. Perceraian terjadi akibat banyaknya konflik yang terjadi di antara pasangan suami-istri. Konflik yang berkepanjangan tanpa solusi yang baik, menyebabkan masalah besar timbul dalam kehidupan pernikahan masa kini. Masalah ekonomi, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dan perselingkuhan merupakan masalah-masalah besar yang menjadi alasan perceraian terjadi di antara pasangan suami-istri. Banyak orang berpikir, perceraian adalah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Namun, ternyata pemikiran itu salah sebab perceraian bukan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah. Perceraian.justru menimbulkan masalah lain.
Perceraian memiliki dapat positif dan negatif. Dampak negatif, dari perceraian jauh lebih menonjol daripada dampak positif. Dampak negatif ini bukan hanya dirasakan oleh suami-istri dan orang tua, namun juga anak-anak. Faktanya, dampak terburuk dari perceraian orang tua akan dialami oleh anak-anak. Anak-anak korban perceraian ini akan kehilangan figur orang tua, menjadi minder, nakal, dan kehilangan masa depan. Realita ini tidak dapat dibiarkan begitu saja
Selain pemerintah, gereja adalah salah satu institusi yang harus bertanggung jawab untuk mengantisipasi terjadinya perceraian. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh gereja adalah memberi perhatian khusus kepada pasangan suami-istri dengan menyediakan wadah atau sarana yang dapat menjaga keutuhan pernikahan jemaatnya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh gereja-gereja khususnya gereja-gereja Injili di Indonesia untuk mengantisipasi terjadinya perceraian di tengah-tengah jemaatnya. Bimbingan pranikah, mentoring pra dan pasca pernikahan serta pembinaan-pembinaan dapat dilakukan gereja-gereja Injili. Namun perlu diingat, semua upaya itu harus dilakukan sesuai terang firman Tuhan sambil terus berharap Allah Tritunggal akan menerangi hati setiap pasangan suami-istri supaya dalam menjalankan kehidupan pernikahan selalu menghadirkan Tuhan baik saat susah maupun senang