STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tindakan Aktif Orang Kristen dalam Menyongsong Akhir Zaman : Sebuah Tinjauan Eksegetikal Terhadap Frasa "Mempercepat Kedatangan Hari Allah" Dalam 2 Petrus 3:13A
Kedatangan hari Tuhan merupakan suatu hal yang tentu dinanti-nantikan oleh setiap umat percaya. Tuhan Yesus berkata bahwa tidak seorang pun mengetahui hari itu ( Mat. 24:36; Kis. 1:7 ), tetapi di sisi lain Petrus menasihatkan jemaat Diaspora untuk mempercepat kedatangan hari itu melalui kehidupan mereka ( 2Ptr. 3:13a ). Tulisan ini menyakini bahwa manusia dapat sekaligus bertanggungjawab melakukan tindakan-tindakan aktif dalam "mempercepat" kedatangan hari Allah itu, tetapi tindakan-tindakan aktif yang dapat dilakukan manusia itu sama sekali tidak bertentangan dengan kerahasiaan hari Allah yang ditetapkan di dalam prapengetahuan dan kedaulatan Allah
Studi Komparasi Konsep Logos (Firman) dalam Injil Yohanes 1:1-5 dengan Konsep Dao dalam Dao De Jing “Lao Zi” dan Implikasinya bagi Penginjilan Terhadap Kalangan Daoisme.
Dewasa ini banyak pihak yang hendak mencoba menyamakan ajaran kepercayaan mereka dengan pengajaran Kristen. Ada juga orang Kristen yang menyamakan ajaran Kristen dengan ajaran Buddha, bahkan ada yang menyamakan ajaran Yesus Kristus dengan Lao Zi. Hal tersebut merupakan sebuah ancaman bagi iman kekristenan. Penyamaan pengajaran maupun Pribadi Yesus dengan pengajaran kepercayaan lain membuat pengajaran Kristen yang benar dan objektif menjadi kabur dan tidak jelas.
Konsep Dao adalah salah satu konsep terpenting dalam pengajaran daoisme. Huruf Dao merupakan kombinasi dari ideogram “jalan” dan “kepala.” Dao secara harfiah berarti “jejak” atau “jalan” bahkan dapat diartikan “mengatakan” atau “dikatakan” dan secara kiasan dapat diartikan sebagai “hakikat,” “takdir,” “prinsip,” “ jalan yang benar.”
Konsep Dao menurut Lao Zi dalam Dao De Jing mempunyai makna sebagai sumber misteri, metafisik dari kebenaran absolut, realitas terakhir, dasar yang kekal dari ada. Dalam Dao De Jing, Lao Zi menjelaskan Dao dengan beberapa atribut. Misalnya: Dao adalah yang kekal, pencipta alam semesta, tidak dapat diberi nama, tidak dapat ditangkap oleh indra manusia dan Dao disebut juga sebagai hukum alam yang tidak berubah. Secara ilmiah, Dao dikenal sebagai tindakan murni. Dalam pengertian tindakan murni, Dao dapat bermakna sebagai yang aktual. Dao dapat berwujud ketika Dao berupa tindakan dalam menjadikan atau menciptakan segala sesuatu. Dengan kata lain, Dao adalah tindakan murni tanpa pribadi.
Konsep Firman dalam Injil Yohanes merujuk kepada suatu Pribadi dan bukan hanya sekadar rasio ataupun gagasan seperti pemahaman filsuf Yunani dan orang Yahudi. Firman adalah Pribadi yang ada sebelum alam semesta ini ada. Pribadi tersebut bersama-sama dengan Allah dalam karya penciptaan alam semesta ini. Pribadi yang memiliki karakter Allah dan Pribadi yang datang ke dalam dunia yang gelap untuk memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Secara lebih lanjut, Yohanes menjelaskan bahwa Pribadi tersebut adalah Anak Allah, Yesus Kristus, sumber kehidupan dan terang dunia, Sang Mesias yang dijanjikan. Dengan kata lain Yohanes menyatakan bahwa Firman sebagai suatu entitas metafisik yang mempunyai pribadi. Pribadi dari Firman adalah Anak Allah (Yesus Kristus) yang berinkarnasi menjadi manusia (1:14).
Melalui studi komparasi antara konsep Firman dalam Injil Yohanes 1:1-5 dan konsep Dao dari Lao Zi dalam Dao De Jing, maka dalam persamaan dan perbedaan kedua konsep tersebut dapat dijadikan suatu peluang untuk memberitakan Injil. Melalui peluang-peluang yang ada, maka Injil dapat diberitakan dengan cara berdialog atau berapologetika. Penginjilan bukan hanya sebatas mengajak para penganut daoisme percaya kepada Yesus Kristus, namun juga membutuhkan bimbingan lanjut agar mereka mengalami pertumbuhan di dalam kerohanian
Studi Eksegesis 1 Tesalonika 4:13-18 dan Implikasinya terhadap Peran Gereja dalam Pendampingan Pastoral Pasca-Pemakaman karena Peristiwa Kematian Mendadak
Kematian anggota keluarga secara mendadak telah menimbulkan suatu kedukaan mendalam bagi jemaat yang menghadapinya secara langsung. Unsur ketidaksiapan dan berbagai situasi dukacita yang kompleks akan bermunculan pada keluarga yang ditinggalkan sebagai respons atas kasus kematian mendadak tersebut. Proses dukacita serta pemulihan yang berat akan dijalani oleh jemaat yang berduka secara berbeda satu dengan yang lainnya berdasarkan faktor-faktor penentu. Tidak hanya itu saja, peristiwa tersebut juga telah memunculkan identifikasi terhadap beragam karakteristik serta kebutuhan yang timbul dalam diri jemaat yang berduka. Karakteristik dan kebutuhan tersebut juga dirasakan secara langsung oleh jemaat Tesalonika yang merasakan kehilangan orang-orang yang dikasihi. Jemaat Tesalonika merasakan kesedihan dan kebingungan yang luar biasa mengenai mereka yang telah meninggal dalam Kristus sebelum kedatangan-Nya kembali. Beragam pertanyaan pun timbul sebagai reaksi atas kedukaan yang dialami pada saat itu.
Dengan konteks yang berkaitan erat, kebutuhan utama yang paling diperlukan dari jemaat yang berduka pada dasarnya adalah pendampingan kedukaan yang utuh. Mengacu kepada firman Tuhan, gereja bertanggung jawab secara penuh dalam menjawab adanya kebutuhan pendampingan pastoral kedukaan bagi jemaat yang mengalami kehilangan untuk mengalami pemulihan secara utuh. Berangkat dari hal ini, sangat penting bagi gereja untuk mengetahui dengan baik mengenai karakteristik serta kebutuhan dari jemaat yang berduka karena kematian anggota keluarganya secara mendadak, hingga penanganan pastoral yang holistik dan rehabilitatif.
Bagian firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 4:13-18 telah memberikan kerangka teologis yang utuh mengenai pengharapan eskatologis dalam menjawab isu kedukaan tersebut. Hal itu juga sekaligus menjadi landasan bagi pendampingan pastoral yang dilakukan gereja kepada jemaat yang berduka dalam konteks tersebut. Pada akhirnya, penelitian ini akan menghasilkan kerangka pelayanan yang maksimal bagi gereja untuk berperan aktif dalam melakukan pelayanan pastoral yang holistik kepada setiap jemaat yang berduka. Peran gereja tersebut mencakup banyak aspek di dalamnya, mulai dari sistem pembinaan yang menyeluruh terhadap warga gereja, hingga pendampingan pastoral yang dikerjakan oleh pemimpin dan seluruh anggota gereja
Tinjauan Terhadap Konsep Demitologisasi Rudolf Bultman
Jantung dari iman Kristen adalah Yesus Kristus. Kehidupan Yesus yang ditulis di dalam Perjanjian Baru memberikan pernyataan kepada manusia mengenai rancangan keselamatan Allah yang dikerjakan di dalam-Nya. Di dalam Injil juga ditulis pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus selama di dunia. Namun apa jadinya jika yang ditulis di dlaam perjanjian Baru tidak sepenuhnya merupakan fakta sejarah? Apakah penulisan Perjanjian BAru dipengaruhi oleh mitos-mitos yang beredar pada zaman itu? Dalam menanggapi hal ini, Rudolf Bultman, seorang teolog yang sangat berpengaruh di zamannya, mengemukakan sebuah metode interpretasi Alkitab yang disebut sebagai "Demitologisasi." Makalah ini hendak mengangkat pemikiran tokoh ini, khususnya metode yang ditemukannya di dlaam menginterpretasikan Alkitab. Makalah ini hendak memaparkan konsep demitologisasi Bultman dan evaluasi terhadap pandangannya
Dari Seminari Menuju Ladang : Sebuah Tinjauan terhadap Proses Berkegiatan di STT SAAT dalam Sudut Pandang Drama Pemuridan Kevin J. Vanhoozer dan Aplikasinya
Yesus Kristus sebagai Allah yang Disembah : Sebuah tinjauan terhadap penyembahan mula-mula Kepada Yesus di tengah konsep Monoteisme Yahudi
Penyembahan kepada Yesus Kristus sebagai Allah sudah menjadi ciri kehidupan Kristen selama ribuan tahun lamanya. Namun, bagi umat Kristen mula-mula yang mayoritas adalah orang Yahudi, penyembahan kepada Yesus Kristus dianggap sebagai suatu penghujatan kepada YHWH karena iman monoteisme mereka hanya menyembah YHWH saja. Tulisan ini menyajikan sebuah tinjauan historis mengenai penyembahan mula-mula kepada Yesus sebagai Allah. Penyelidikan dibangun di atas kesaksian Petrus, Paulus, serta analisis teologis dari himne Kristus yang terdapat dalam Filipi 2:6-1
Kedaulatan Allah Dalam Pelayanan Hambanya: Analisis Naratif 1 Raja-Raja 19 dan Implikasinya Terhadap Hamba Tuhan yang Mengalami Kesendirian Dalam Pelayanan.
Elia adalah nabi Allah bagi bangsa Israel. Peran dari seorang nabi adalah menunjukkan kehadiran Allah melalui perkataan dan tindakan. Sayangnya, 1 Raja-raja 19 menunjukkan pelarian Elia ke padang gurun Bersyeba. Mengapa demikian? Elia merasa kecewa dan marah kepada Allah, karena Ia tidak segera menghukum bangsa Israel yang telah berubah setia. Elia merasa sendiri di tengah bangsa Israel. Tetapi, Allah menunjukkan rencana-Nya kepada Elia melalui peristiwa di gunung Sinai, yaitu melalui kejadian alam hingga pernyataan-Nya. Akhir dari kisah narasi tersebut adalah Elia dimampukan untuk kembali melayani bangsa Israel.
Permasalahan yang dihadapi oleh Elia adalah permasalahan kesendirian. Hal ini disebabkan oleh putus atau punahnya sebuah relasi. Permasalahan ini dapat disebabkan oleh faktor sosial, psikologis, dan rohani seseorang. Permasalahan kesendirian yang disebabkan oleh sosial berbicara mengenai perpindahan tempat atau komunitas. Sedangkan, permasalahan kesendirian yang disebabkan oleh psikologis berkaitan dengan masa lalunya. Terakhir, permasalahan kesendirian yang disebabkan oleh rohani lebih karena keberdosaan manusia sehingga salah fokus dalam pelayanan. Jadi, permasalahan yang dihadapi oleh Elia sejatinya berbicara mengenai permasalahan kesendirian yang diakibatkan oleh faktor rohani.
Permasalahan yang dihadapi oleh Elia seakan sejalan dengan apa yang dialami oleh hamba Tuhan masa kini. Mengacu kepada data Lifeway Research, ditemukan bahwa 83% hamba Tuhan mengalami permasalahan kesendirian yang diakibatkan oleh faktor kerohanian. Mereka menggantikan tujuan dari hamba Tuhan, yaitu menikmati Allah dengan tujuan pribadi, seperti mengembangkan gereja hingga gereja menjadi besar dalam kuantitas, hingga fokus kepada diri sendiri agar dicintai oleh jemaat. Akhirnya, hamba Tuhan memunculkan beragam permasalahan di gereja akibat dari permasalahan kesendirian.
Oleh karena itu, melalui analisa naratif, hamba Tuhan kembali diingatkan kepada permasalahan yang terjadi kepada Elia, sehingga hamba Tuhan dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan panggilan pelayanan. Selain itu, permasalahan kesendirian yang dijabarkan akan membantu hamba Tuhan untuk menyadari faktor-faktor penyebab permasalahan tersebut. Berdasarkan cara-cara Allah dalam menolong Elia, maka di bagian akhir akan berisi aplikasi praktis dalam penyelesaian permasalahan kesendirian yang dihadapi hamba Tuhan masa kini