STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Praktik Dan Teori Liturgy Of The Hours Sebagai Alternatif Pembentukan Spiritualitas Yang Menghubungkan Ibadah Komunal Dan Kehidupan Sehari-Hari Jemaat
Ibadah merupakan sebuah keseluruhan hidup manusia yang berfokus kepada Tuhan. Namun permasalahannya pada saat ini, manusia melakukan pemisahan-pemisahan di dalam kehidupan. Pemisahan yang terjadi adalah pemisahan antara aktivitas atau tindakan yang tertuju kepada Tuhan dan aktivitas yang tidak tertuju kepada Tuhan. Tindakan yang tertuju kepada Tuhan dilakukan di dalam gereja seperti pelayanan, doa, ibadah dan berbagai macam hal-hal yang lain, sementara contoh aktivitas yang tidak tertuju kepada Tuhan adalah pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan di luar gereja. Pemisahan ini berdampak kepada cara pandang manusia melihat kehidupan ibadah sebagai sebuah keseluruhan. Pemisahan ini disebabkan oleh paham sekularisme yang memberikan dampak kepada isu dikotomi dan individualistik di dalam kehidupan manusia. Pemisahan ini menjadikan ibadah komunal terpisah dengan kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri fenomena ini yang terjadi di dalam gereja pada masa kini.
Menanggapi permasalahan ini, penulis berusaha untuk menghubungkan antara ibadah komunal dengan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan teknik liturgi doa yang biasa dikenal dengan liturgy of the hours, baik secara teori maupun praktik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, komparatif, dan analisis dalam melihat permasalahan dengan metode studi pustaka dalam melihat permasalahan yang ada.
Penelitian ini diawali dengan pemaparan mengenai konsep liturgy of the hours secara keseluruhan baik itu pengertian, sejarah, bentuk, dan makna liturgi doa tersebut. Pemaparan mengenai teori ini bertujuan sebagai sebuah fondasi dalam melihat teori dan praktiknya pada masa dulu. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan permasalahan spiritualitas dan kaitannya dengan paham sekularisme, isu dikotomi dan konsep individualistik. Pada akhirnya, penelitian ini akan melihat pengaruh dan dampak liturgy of the hours dalam menanggapi permasalahan spiritual ini dan implikasi serta aplikasi di dalam kehidupan ibadah pada masa kini.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa liturgy of the hours mampu menjadi salah satu alternatif di dalam menyelesaikan permasalahan spiritual yang ada di dalam kehidupan manusia pada masa kini. Liturgy of the hours baik secara teori maupun praktik menjadi sebuah metode pembentukan spiritual yang baik dan menarik di dalam zaman pada masa kini. Liturgy of the hours dengan konteks Kristen mampu menjadi sebuah jembatan dalam menghubungkan permasalahan keterpisahan atau pemisahan di dalam kehidupan manusia antara ibadah komunal dan ibadah dalam kehidupan sehari-hari
Aransemen Ulang Himne Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Apresiasi Generasi Muda Gereja Injili Terhadap Lagu-lagu Himne.
Lagu himne merupakan lagu yang diwariskan secara turun-temurun oleh gereja-gereja Injili. Gereja beranggapan bahwa lagu ini memiliki nilai-nilai yang baik sehingga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun perkembangan dunia musik saat ini membuat generasi muda gereja-gereja Injili kurang mengapresiasi lagu-lagu himne yang ada di gereja mereka masing-masing. Lagu himne dinilai sudah kuno, ketinggalan zaman, dan tidak relevan lagi di zaman ini. Hal ini membuat mereka enggan untuk menyanyikan lagu-lagu himne di dalam ibadah remaja-pemuda yang mereka lakukan.
Untuk melihat permasalahan tersebut lebih jelas, maka penulis melakukan penelitian kepada remaja-pemuda gereja-gereja Injili di Indonesia. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan cara menyebarkan kuesioner kepada peserta SAAT Youth Camp 2016 (SYC) pada acara kapita selekta mengenai reformasi musik gereja. Kemudian penulis mengambil seratus responden berdasarkan dua kriteria yang telah penulis tetapkan, yaitu usia 16-28 tahun dengan latar belakang gereja Injili dan aktif melayani di bidang ibadah.
Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa minat generasi muda gereja Injili terhadap lagu himne sangat kurang. Untuk menangani masalah tersebut, melalui penelitian ini penulis mendapati bahwa cara yang paling efektif untuk menjawab permasalahan di atas adalah melalui aransemen ulang. Lagu himne dapat kembali diminati dengan aransemen ulang menggunakan iringan band, karena band menjadi alat musik yang pada umumnya digunakan oleh musik kontemporer. Namun, aransemen ulang himne menggunakan band bukan berarti dapat dilakukan dengan bebas tanpa adanya batasan. Mengenai hal ini, banyak di antara remaja-pemuda yang kurang mengerti cara mengaransemen himne yang baik dan benar. Oleh sebab itu dalam karya tulis ini, penulis memberikan langkah-langkah praktis mengenai hal tersebut, sehingga karya ini dapat dipakai untuk menjadi salah satu bahan atau acuan untuk mengetahui bagaimana melakukan aransemen himne yang baik dan benar
Apakah yang Cape Town Perlu Katakan pada [Kaum Injili di] Indonesia? : Suatu Tinjauan dan refleksi terhadap Komitmen Cape Town dan Implikasinya pada Kaum Injili di Indonesia
Dokumen Komitmen Cape Town merupakan salah satu dokumen yang sangat penting di dalam sejarah kaum injili. Namun, penulis melihat bahwa dokumen ini jarang sekali dibahas di dalam kancah perteologian di Indonesia. Dengan demikian, artikel ini akan membahas butir-butir pemikiran dari Komitmen Cape Town dan mengontekskannya ke dalam dua konteks sosial di Indonesia, yaitu kondisi multikultur dan multikulturalisme dan juga kemiskinan dan ketimpangan. Hasil akhir dari pembahasan ini adalah sepuluh buah saran (dalam bentuk indikatif dan imperatif) yang dapat menjadi acuan bagi kaum injili di Indonesia
Self Leadership Pemimpin Sekolah Kristen: Sebuah Analisis Naratif
Self-leadership adalah proses memimpin diri sendiri, yaitu ke dalam diri sendiri. Self-leadership merupakan kepemimpinan yang dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi belum tentu dilakukan secara efektif. Secara khusus self-leadership yang dilakukan oleh pemimpin Kristen di sekolah-sekolah Kristen harus mengandung nilai-nilai Kristen. Ketika pemimpin sekolah Kristen menghadapi berbagai tantangan kemajuan zaman, mereka di tuntut memiliki kredibilitas dan integritas sebagai pemimpin Kristen yang menghadirkan nilai-nilai Kristen
Tinjauan Kritis Terhadap Doktrin Anugerah Pendahuluan John Wesley Berdasarkan Pandangan Calvin
Dampak Dosa Asal Terhadap Status Manusia Sebagai Gambar Allah dan Imputasi Kebenaran Kristus Serta Implikasinya Bagi Panggilan Umat Tebusan
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Statusnya sebagai gambar Allah memberikan konsekuensi pada tugas dan panggilan untuk menjadi wakil Allah untuk berkuasa atas ciptaan lainnya. Melalui tugas itu manusia dapat berelasi dengan Allah dan memuliakan Allah. Untuk dapat melaksanakan tugas itu Allah menempatkan mereka di Taman Eden. Allah juga memberikan peraturan untuk ditaati manusia. Namun, manusia tidak dapat menaati perintah Allah tersebut dan mau mengikuti kehendak mereka sendiri. Akibatnya manusia terpisah dari Allah. Manusia jatuh di dalam dosa. Dosa manusia pertama diimputasikan kepada keturunan mereka. Dosa merusak total status manusia dan tatanan ciptaan yang awalnya teratur menjadi tidak teratur.
Inkarnasi Yesus Kristus menjadi solusi atas akibat dosa manusia. Imputasi kebenaran Kristus diperhitungkan sebagai kebenaran umat pilihan. Murka Allah ditimpakan kepada Kristus sebagai ganti manusia. Kristus menjadi korban pengganti
untuk menanggung murka Allah dan menebus manusia yang berdosa. Kumpulan umat tebusan dipanggil untuk dapat meneladani sikap hidup Kristus ketika ada di dunia ini, yaitu sikap hidup yang mengosongkan diri dan memandang kepada kebenaran Allah. Pusat hidup umat tebusan adalah kebenaran dan kekudusan. Dengan demikian, orang percaya bisa menghadirkan shalom di dunia ini
Hyper-Grace Gospel : Sebuah AnaIisis dari Perspektif Biblika Reformed
Artikel ini berisi penjabaran singkat tentang fenomena Hyper-Grace Gospel dan ajaran -ajarannya seobjektif mungkin. Setelah itu, penulis menganalisis masing-masing konsepnya dari perspektif biblika reformed dengan menunjukkan ketidakkonsistenan dan kelemahan penafsiran Alkitab dari konsep para penganut Hyper-Grace Gospel, kemudian penulis membandingkan konsep Hyper-Grace Gospel dengan teologi Reformed
Upaya Meningkatan Minat Terhadap Lagu Himne Pada Remaja-Pemuda GKI Pregolan Bunder Surabaya.
Sebagian besar lagu-lagu himne yang tersebar di kalangan gereja injili bukanlah merupakan lagu-lagu himne yang muncul secara tiba-tiba. Sebagian besar lagu-lagu ini berisi pengalaman iman seseorang, serta ayat-ayat Alkitab yang diparafrasekan. Pada hari ini, ada banyak pernyataan yang tidak asing dilontarkan mengenai lagu-lagu himne yang dinyanyikan di gereja injili. Perkembangan musik gereja yang terjadi pada hari ini membawa pergesaran yang signifikan terhadap lagu-lagu gereja, khususnya di kalangan remaja-pemuda. Tidak dapat dipungkiri lagu yang dikatakan sebagai warisan ini menjadi sulit dipertahankan keberadaannya di dalam nyanyian jemaat, khususnya remaja-pemuda.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu apa yang menjadi pandangan remaja-pemuda GKI Pregolan Bunder terhadap lagu-lagu himne yang mereka nyanyikan serta upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat mereka di dalam menyanyikan lagu-lagu himne yang ada. Dengan melihat bentuk masalah ini, maka penggalian informasi yang digunakan adalah dengan menggunakan metode kualitatif dalam bentuk wawancara secara langsung kepada remaja-pemuda GKI Pregolan Bunder. Penelitian ini diawali dengan studi pustaka mengenai konsep himne pada zaman Yahudi yang membentuk konsep awal tentang himne.
Seiring berjalannya waktu, konsep serta definisi himne pada masa Yahudi hingga masa sekarang terus mengalami perubahan yang signifikan. Dalam pembuatannya pun, himne pada masa Yahudi hingga sekarang terus mengalami perubahan, khususnya dalam bentuk-bentuk musik dan bahasa.
Ada beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat dalam menyanyikan lagu himne di kalangan remaja-pemuda. Upaya-upaya ini mencakup music leadership training (pembinaan musik), hymn arrangement (aransemen himne), hymn of the month (himne bulanan), dan introduction of 20th-21st century hymns (memperkenalkan lagu-lagu himne abad 20 dan 21). Hal ini dilakukan agar gereja-gereja injili yang memutuskan untuk menjadikan lagu himne sebuah tradisi dan sebuah kewajiban dapat melakukan upaya-upaya di atas guna memperkenalkan lagu-lagu himne kepada remaja-pemuda.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa remaja-pemuda menyanyikan lagu himne setiap minggu sebagai bentuk tradisi dan kewajiban. Hal ini terlihat dari pandangan serta pengertian mereka yang bermacam-macam mengenai lagu himne yang mereka nyanyikan di GKI Pregolan Bunder. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa dengan cara-cara tertentu, lagu himne dapat mereka nyanyikan dengan cara yang dapat mereka terima