STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Konsep Pengampunan dalam Efesus 4:31-32 dan Implikasinya terhadap Pembimbingan Pastoral bagi Orang-orang yang Mengalami Kepahitan dalam Keluarga.

    No full text
    Pengampunan merupakan suatu hal yang paling penting dalam kehidupan orang-orang Kristen. Orang-orang berdosa diselamatkan oleh karena pengampunan yang Allah berikan kepada setiap manusia. Yesus pun dalam pengajaran-Nya (Mat. 6:14-15) mengajarkan murid-murid-Nya untuk dapat mengampuni seperti Kristus mengampuni. Bahkan melalui suratnya kepada jemaat di Efesus dalam Efesus 4:31-32, Paulus mengingatkan mereka untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan kejahatan. Tidak hanya itu, Paulus menginginkan jemaatnya untuk dapat ramah seorang dengan yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni seperti Kristus telah mengampuni. Namun, dalam realita kehidupan sehari-hari orang Kristen banyak dari mereka yang mengalami kepahitan dan belum dapat mengampuni sesama mereka, khususnya keluarga. Manusia sulit mengampuni orang yang telah menyakiti bahkan membuatnya terluka, apa lagi jika yang menyakitinya adalah keluarga – orang-orang yang terdekat dengan mereka dan sangat sering mereka jumpai. Oleh sebab itu, banyak muncul perceraian, bunuh diri, dan juga anak-anak yang keluar (tidak mau berelasi lagi) dari rumah mereka. Dengan demikian, muncullah pertanyaan-pertanyaan, seperti: bagaimanakah konsep pengampunan yang tepat menurut Paulus dalam Efesus 4:31-32? Apakah yang dimaksud dengan kepahitan dalam keluarga dan dari mana asalnya? Bagaimana cara seorang hamba Tuhan membimbing jemaat yang mengalami kepahitan dalam keluarga? Dari pertanyaan-pertanyaan berikut muncullah sebuah hipotesis yang mengatakan bahwa pengampunan merupakan salah satu karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang telah menerima Kristus dan telah menjadi manusia baru. Untuk menjawab pertanyaan dan menguji hipotesis di atas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan menggunakan metode studi eksegetikal dan kepustakaan dalam melakukan penelitian ini. Setelah melakukan penelitian ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa seseorang dapat mengampuni keluarganya jika ia sudah tahu dengan jelas dan mengalami bahwa Allah dalam Kristus telah mengampuninya. Seseorang pun mengerti bahwa ia dapat mengampuni keluarganya hanya dengan pertolongan kuasa Tuhan. Dengan demikian, seseorang akan bisa mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuninya

    Studi tentang Makna Amanat Agung dalam Injil Matius 28:19-20 dan Implikasinya bagi Konsep Penginjilan dan Pemuridan dalam Gereja Masa Kini.

    No full text
    Perintah Amanat Agung menjadi salah satu tugas dan tanggung jawab terpenting bagi setiap pengikut Kristus. Pada umumnya orang Kristen atau gereja Tuhan mengetahui isi dari perintah Amanat Agung yang terdapat dalam Matius 28:19-20, sayangnya ternyata tidak jarang orang Kristen atau gereja Tuhan memahami dan memaknainya dengan tidak tepat. Hal ini berpengaruh ke dalam pengaplikasian dan pelaksanaannya, baik secara individual maupun secara komunitas kehidupan umat dalam misi-Nya. Perintah Amanat Agung bukan hanya sekedar sebuah program atau melakukan penginjilan saja. Untuk itu, lewat studi penelitian ini penulis akan mendeskripsikan makna yang sebenarnya Amanat Agung dalam Matius 28:19-20. Tujuannya adalah untuk dapat menegaskan kembali makna Amanat Agung yang sesungguhnya dalam kehidupan setiap pengikut-Nya baik secara individual maupun secara komunitas. Adapun penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kepustakaan {library research). Pengelolaan dari sumber literatur-literatur kepustakaan akademik baik dalam bentuk buku maupun artikel atau jurnal. Penelitian ini akan dikerjakan dengan metode deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa pcnekanan perintah Amanat Agung bukan hanya pada proklamasi awal Injil-tidaklah cukup hanya mendengar Injil tetapi lebih kepada pengalaman pemuridan dengan respons komitmen sepenuh hati mengikuti Dia dan menjadi murid-Nya yang setia. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang mengikuti Guru mereka. Murid adalah orang yang rela tunduk dan menyerahkan diri kepada kehendak dan tujuan sang guru. Memuridkan seseorang berarti membawanya kepada Kristus supaya dia menjadi serupa dengan Kristus. Pemuridan adalah perjalanan seumur hidup belajar dari Yesus bagaimana menjalani hidup seseorang seolah-olah Yesus yang menjalani hidup tersebut. Penginjilan dan pemuridan keduanya penting untuk pertumbuhan gereja sebagai komunitas iman. Gereja berfungsi sebagai alat Tuhan dan menjadi wadah persekutuan di mana setiap anggota tubuh Kristus dapat bertumbuh melalui hubungan kasih, dan dipcrlengkapi untuk mengerjakan misi Allah di tengah dunia. Oleh karena itu, perintah Amanat Agung tidak hanya menekankan salah satu di antara penginjila

    Tinjauan Alkitabiah Terhadap Peran Perbuatan Baik Dalam Penghakiman Terakhir Menurut Surat-surat Paulus Berdasarkan Eksposisi Roma 2:6-11, Roma 14:10-12, 1 Korintus 3:14-15

    Get PDF
    Alkitab jelas mengatakan bahwa Allah akan menghakimi setiap manusia berdasarkan perbuatannya. Pada waktu penghakiman terakhir, Allah akan menyingkapkan segala perbuatan manusia, dan akan membalas mereka berdasarkan perbuatannya. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang menyangkut keselamatan orang percaya. Jika orang sudah dibenarkan oleh Kristus, mengapa harus dihakimi? Apakah penghakiman berdasarkan perbuatan terhadap orang percaya mempengaruhi keselamatan mereka? Jika memang tidak mempengaruhi keselamatan akhir orang percaya, mengapa mereka harus dihakimi? Apa esensi penghakiman terakhir bagi orang percaya? Sebenarnya ketegangan antara “dibenarkan karena iman” dan “dihakimi berdasarkan perbuatan” timbul dari berbagai ayat di Alkitab yang menyatakannya secara eksplisit. Dalam penelitian ini penulis mengambil tiga bagian dari surat Paulus, yakni Roma 2:6-11; 14:10-12 dan 1 Korintus 3:14-15. Ketiga bagian ini telah menjadi perdebatan yang hangat di antara para sarjana Perjanjian Baru, karena di dalamnya menyatakan secara eksplisit bahwa setiap orang akan mendapat hidup kekal jika tekun berbuat baik (Rm. 2:6-11), setiap orang akan memberikan pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah (Rm. 14:12) serta menyatakan adanya upah yang diterima seseorang pada penghakiman terakhir (1Kor. 3:14-15). Karya ini membuktikan bahwa perbuatan baik tidak menjadi dasar pembenaran seseorang. Perbuatan baik merupakan hasil karya Roh Kudus yang senantiasa memancarkan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Allah. Upah yang didapatkan orang percaya kelak adalah kebahagiaan mereka karena melihat apa yang mereka kerjakan selama di dunia bernilai kekal yakni melakukan apa yang menyenangkan Tuhan. Dengan demikian perbuatan baik tidak menjadi dasar pembenaran, namun harus tetap menghadapi penghakiman terakhir. Esensi penghakiman terakhir bagi orang percaya adalah sebuah momen di mana orang percaya akan dinyatakan sebagai orang yang benar di hadapan seluruh dunia. Allah akan menyatakan mereka benar dan menyempurnakan karya keselamatan-Nya dalam hidup orang percaya

    Kritik terhadap Teologi Proses dan Pembelaan terhadap Pandangan "Greater God" dalam menanggapi Masalah Kejahatan

    No full text
    Selama berabad-abad, para teolog Kristen mencoba menanggapi pergumulan filosofis mengenai masalah kejahatan. Bapa-bapa Gereja dan tokoh-tokoh reformasi di masa lalu telah mencoba menanggapi permasalahan ini dengan argumen kebaikan yang lebih tinggi (greater good). Tetapi solusi-solusi semacam itu ditolak mentah-mentah setelah peristiwa Holocaust (Auschwitz), yang merupakan peristiwa kejahatan sangat dahsyat dan mengakibatkan penderitaan banyak sekali orang. Solusi tradisional dianggap sudah tidak relevan dalam menanggapi masalah kejahatan. Teologi proses kemudian mencoba menanggapi masalah ini dengan cara mereduksi atribut-atribut Allah. Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengkritik pandangan kontemporer khususnya teologi proses dalam menanggapi masalah kejahatan, dan juga membela pandangan greater good sebagai solusi yang masih tetap dapat dipertahankan walaupun dengan beberapa penyesuaian

    Meneropong teks dalam konteks : Katekimus Heidelberg P/J 53

    No full text
    Katekismus Heidelberg merupakan salah satu warisan tradisi iman Reformed yang memuat pengajaran yang begitu kaya dan limpah mengenai doktrin Allah Roh Kudus. Secara eksplisit, pengajaran tentang doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg memang hanya terdapat dalam P/J 53. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pengajaran doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg hanya termaktub di dalam bagian ini saja. Tulisan ini mencoba menganalisis kekayaan doktrin Allah Roh Kudus, secara khusus P/J 53, dalam tiga konteks: konteks masa lalu yang menjadi latar belakang terbentuknya Katekismus Heidelberg, konteks makro dan mikro P/J 53 secara tekstual, dan relevansinya bagi konteks masa kini, khususnya Indonesia

    Nilai Kognitif Emosi di dalam Fungsi Edifikasi Musik dan Penerapannya dalam Ibadah.

    Get PDF
    Dikotomi mengenai kognisi dan afeksi merupakan permasalahan yang sering terjadi di dalam hidup kekristenan. Pemisahan ini pun terjadi di dalam hal ibadah dan akan memengaruhi pandangan gereja tersebut terhadap musik. Bagi sebagian gereja yang menganggap kognisi (pengetahuan) adalah yang terutama, musik (sebagai perangsang emosi) dapat dianggap tidak terlalu penting. Sedangkan, bagi sebagian gereja yang menganggap afeksi adalah hal yang utama, musik akan diutamakan dengan maksud untuk merangsang emosi. Maka dari itu, di dalam skripsi ini, pembahasan yang akan dilakukan adalah pembahasan dari aspek kognitif serta estetis dari emosi. Emosi itu sendiri bukanlah suatu irrational force, karena emosi juga mempunyai nilai kognitif. Hal yang menarik, hubungan keduanya merupakan hubungan timbal balik. Satu sisi, pengetahuan perlu dipertajam dengan reaksi emosi (afektif), namun di sisi lain, ―penajaman kognitif ini justru akan membuat nilai afektif itu sendiri meningkat. Sumbangan teoretis ini dapat diaplikasikan di dalam penerapan tentang musik. Satu sisi, musik dipercaya dapat membawa manfaat rohani (edifikasi) di dalam ibadah karena melalui musik tersebut jemaat dapat lebih memahami pesan kognitif dari Firman Tuhan. Di sisi lain, Firman Tuhan pun dapat meningkatkan pemahaman seseorang akan musik. Pembahasan ini penting untuk diangkat karena dikotomi mengenai kognitif dan afektif di dalam ibadah merupakan masalah mendasar dan umum terjadi di dalam gereja. Padahal, sebenarnya kognitif dan afektif (penerapan lebih spesifiknya: pengetahuan dan pengalaman akan Firman) merupakan hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kesatuan kognisi dan emosi baru benar-benar dapat terjadi jika ada―pribadi yang menjadi objek. Konsep Alkitab melalui kata Yada dan Ginosko juga menunjukkan bahwa pengenalan akan―pribadi (Allah) tidak bisa dilepaskan daripada kesatuan kognisi dan emosi. Di dalam skripsi ini, penulis akan membahas mengenai hubungan emosi dengan musik yang akan menjadi titik terang atau contoh sederhana mengenai kesatuan afektif dan kognitif di dalam ibadah. Dengan kata lain, penulis juga berpendapat bahwa musik dapat membantu jemaat untuk dapat memahami nilai kognisi (Firman Tuhan) di dalam ibadah. Melalui studi kepustakaan yang dilakukan, penulis memulainya dengan pembahasan secara deskriptif mengenai nilai kognitif emosi. Kemudian, setelah dilakukan analisa dan sintesa dengan fungsi edifikasi musik, penulis menyimpulkan dan menyertakan bagaimana penerapan konsep tersebut di dalam ibadah. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan penelitian ini adalah musik sebagai sebuah titik terang mengenai kesatuan aspek kognitif dan afektif merupakan hal yang penting di dalam sebuah ibadah, karena dapat menolong jemaat untuk dapat lebih memahami frman Tuhan. Oleh karena itu, gereja harus memperhatikan perancangan musik dalam ibadah

    Tinjauan Terhadap Konsep Pengudusan Anugerah Radikal dari Konsep Pengudusan Reformed

    Get PDF
    Di era pascamodern ini, ada banyak sekali doktrin atau pengajaran-pengajaran yang ditawarkan kepada jemaat Tuhan, termasuk pengajaran mengenai pengudusan orang percaya. Beragam doktrin pengudusan tersebut sesungguhnya membingungkan orang percaya, baik yang hanya sekadar mendengar maupun yang juga menerima pengajaran mengenai pengudusan. Keberagaman pengajaran tersebut sesungguhnya perlu ditinjau kebenarannya, apakah sesuai dengan Alkitab – yang adalah dasar kebenaran orang percaya – atau tidak. Salah satu dari keberagaman ajaran yang mengajarkan mengenai doktrin pengudusan adalah ajaran Anugerah Radikal. Anugerah Radikal meyakini bahwa ketika seseorang telah menerima anugerah keselamatan – berkaitan dengan pembenaran dan pengudusan – maka anugerah tersebut sudah terjadi sekali dan berlaku untuk selamanya. Oleh sebab itu, Anugerah Radikal meyakini bahwa anugerah pembenaran dan anugerah pengudusan telah sempurna diterima oleh orang percaya. Implikasinya, dalam kehidupannya, orang percaya tidak perlu melakukan usaha apapun untuk memperoleh dan mempertahankan anugerah tersebut (Ibr. 10:10). Bahkan, dalam kehidupannya, orang percaya tidak perlu lagi bergumul dengan dosa-dosanya. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah konsep pengajaran tersebut sesuai dengan apa yang Alkitab katakan? Sesungguhnya, apa yang diajarkan Anugerah Radikal perlu dipikirkan kembali kebenarannya. Memang benar, beberapa ayat Alkitab yang diambil menyatakan pemikiran mereka. Namun, sesungguhnya, para penganut Anugerah Radikal perlu melihat ayat-ayat lainnya yang berkontradiksi dengan pengajaran mereka. Beberapa ayat Alkitab menyatakan bahwa orang percaya masih harus menajalani suatu proses pengudusan yang terus-menerus selama hidupnya. Oleh karena itu, Alkitab pun menyatakan bahwa orang percaya akan terus bergumul dengan dosa serta mengaku dosanya di hadapan Tuhan (Yak. 5:16; Why. 2-3). Dalam hal ini, teologia Reformed memiliki konsep pengudusan yang lebih sesuai dengan ayat-ayat Alkitab (baik yang menyatakan pengudusan yang sempurna maupun ayat-ayat yang menyatakan pengudusan membutuhkan proses seumur hidup). Dengan kata lain, teologi Reformed merupakan ajaran yang dapat dipercaya karena kesesuaian pemikirannya dengan Alkitab

    Persahabatan : Sumbangsih moralitas tradisi Kristen bagi moralitas bangsa Indonesia

    No full text
    Untuk betul-betul menjadi terang, kekristenan perlu menggumulkan sumbangsihnya bagi moralitas bangsa. Menggunakan ide tradisi Alasdair MacIntyre dan teologi natural Alister McGrath, penulis menawarkan sebuah konstruksi teologi yang membuka kemungkinan ide moralitas Kristen diperhitungkan dalam pembicaraan moralitas bangsa. Penulis kemudian menawarkan konsep persahabatan dalam kekristenan sebagai contoh nyata sumbangsih kekristenan bagi moralitas bangsa

    Rupa-rupa Angin Pengajaran: Pergumulan 30 Tahun Membaca "Arah Angin" Teologi Kekinian

    No full text
    Tidak ada yang lebih urgen bagi gereja dan pendeta pada masa kini selain memikirkan ulang posisi teologi mereka dan teologi seperti apa yang mereka ajarkan kepada jemaatnya, sebab apa yang kita pikirkan sedang membentuk kita dan apa yang terbentuk pada kita itulah yang diajarkan kepada para pendengar kita

    Tinjauan Keselamatan Jiwa Orang Percaya yang Bunuh Diri Bersadarkan Konsep Keselamatan Paulus dalam Galatia 4:4-7.

    No full text
    Saat ini, semakin banyak orang melakukan tindakan bunuh diri. Motif dari tindakan bunuh diri ini sangat beragam, seperti menderita penyakit terminal dan tidak ada harapan untuk sembuh, depresi, mengalami bullying, mengalami permasalahan ekonomi. Bunuh diri secara umum dikategorikan sebagai sebuah penyakit dan akibat dari gejala-gejala psikologis seperti depresi. Namun di dalam kekristenan bunuh diri dikategorikan sebagai sebuah dosa yang dilakukan oleh manusia. Beberapa orang berpendapat bahwa orang percaya tidak dapat melakukan tindakan bunuh diri, namun pada kenyataannya ada orang percaya yang melakukan bunuh diri, atau setidaknya melakukan percobaan bunuh diri. Bapak-bapak gereja menghubungkan tindakan bunuh diri dengan keselamatan orang percaya. Mereka berpendapat bahwa orang percaya yang melakukan tindakan bunuh diri akan kehilangan keselamatan yang sudah mereka dapatkan di dalam Kristus. Namun ahli pikir modem berpendapat bahwa bunuh diri tidak menghllangkan keselamatan jiwa orang yang sudah percaya kepada Kristus karena hal ini hanyalah masalah etika belaka. Perdebatan ini terus berlanjut karena Alkitab tidak secara eksplisit berbicara perihal bunuh diri dan hukuman atas tindakan bunuh diri. Sekalipun Alkitab tidak secara eksplisit berbicara perihal tindakan bunuh diri, namun Alkitab banyak berbicara perihal keselamatan jiwa orang percaya. Salah satu yang paling banyak berbicara perihal keselamatan adalah Rasul Paulus. Oleh karena itu, penulls melakukan eksegesis terhadap surat Paulus kepada jemaat di Galatia untuk mendapatkan konsep keselamatan Paulus. Konsep ini akan penulis gunakan untuk menlnjau tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh orang percaya. Penulis menggunakan konsep keselamatan Paulus dalam Galatia untuk menjawab beberapa isu yang berkaitan dengan tindakan bunuh diri dan kekristenan, misal “orang percaya tidak bisa melakukan tindakan bunuh diri” dan “orang Kristen yang melakukan tindakan bunuh diri akan langsung pergi ke neraka.” Bagaimana pun, bunuh diri tetaplah dosa karena tindakan bunuh diri dinilai sebagai sebuah usaha untuk melawan Allah, sang Pencipta, yang memberikan hidup bagi manusia, juga sebagai ekspresi dari fokus kepada diri sendiri ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak menyenangkan. Namun, dosa akibat tindakan bunuh diri masih dapat diampuni, karena Yesus menyebutkan hanya satu saja dosa yang tidak dapat diampuni, yakni menghujat Roh Kudus

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇