STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Khotbah yang "diurapi" oleh Roh Kudus
Pada satu sisi, setiap pengkhotbah yang rindu kuasa Roh Kudus nyata melalui khotbahnya akan bergumul untuk melihat “urapan” Roh Kudus itu. Di sisi lain, ada juga pengkhotbah-pengkhotbah yang malah takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka. Seperti apakah khotbah yang “diurapi” oleh Roh Kudus itu? Mengapa juga ada para pengkhotbah malah sepertinya takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka? Dan bagaimanakah menumbuhkembangkan keyakinan atau iman seseorang kepada Roh Kudus untuk berkarya melalui khotbahnya? Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
Respons Pendengar Jemaat Lansia Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australian Terhadap Khotbah Ekspositori
Dalam pelayanan khotbah ekspositori, seorang pengkhotbah perlu untuk memahami berita dari teks Alkitab yang dikhotbahkannya dan menyampaikan berita tersebut kepada para pendengarnya. Seorang pengkhotbah perlu membuat khotbah sedemikian rupa sehingga para pendengarnya dapat memahami, merespons terhadap kebenaran, dan melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, bagaimana respons pendengar jemaat lansia IPC Randwick Sydney terhadap khotbah aplikatif? Aplikasi khotbah sangat ditekankan di dalam Alkitab, hal ini terlihat di dalam pengajaran Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Salah satu contohnya adalah khotbah rasul Paulus yang dalam khotbah-khotbahnya sangat menekankan agar setiap pendengar dapat merespons berita kebenaran dengan melakukannya. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan melakukan wawancara kepada tiga jemaat lansia IPC Randwick Sydney yang mewakili jemaat lansia gereja tersebut. Penelitian ini menunjukkan bagaimana respons pendengar terhadap khotbah yang telah didengarnya. Bagi mereka, uraian kebenaran Alkitab tidaklah cukup, kebenaran juga harus dinyatakan dengan pengalaman pribadi. Mereka terbuka terhadap emosi mereka, sehingga sebuah komunikasi yang menyentuh hati merupakan sebuah pola yang perlu diperhatikan oleh pengkhotbah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa khotbah yang aplikatif secara siginifikan telah menarik perhatian pendengar, sehingga mereka dapat memahami pesannya, serta dapat memotivasi pendengar untuk melakukan firman Tuhan. Dengan demikian, khotbah yang aplikatif akan membuat khotbah itu mengena pada kebutuhan pendengar dalam menjangkau pendengar jemaat lansia
Ethics in the message of Isaiah
Form-critical studies in the ethical basis of Isaiah has reached an impasse. Many ethical injunctions in Isaiah 1-39 does not fit into either wisdom or legal categories according to form-critical approaches. This article will re-examine the ethical basis of Isaiah 1-39 by employing a literary-canonical approach
Tinjauan Teologis Terhadap Perilaku Bunuh Diri Berdasarkan Perspektif Kristen Injili
Bunuh diri merupakan sebuah hal yang sampai saat ini menjadi perdebatan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa negara dan agama mengizinkan bunuh diri dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit yang dialami oleh seseorang. Bahkan bunuh diri menjadi salah satu budaya yang sering kali dianut oleh sebuah negara untuk menunjukkan rasa malu dan hormat seseorang. Kalangan yang menyertujui bunuh diri berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah hal yang wajar dilakukan oleh seseorang yang sudah tidak dapat bertahan dalam menjalani kehidupan mereka. Bunuh diri juga dianggap menjadi salah satu jalan keluar terbaik bagi setiap permasalahan yang sedang terjadi. Akan tetapi bagi kalangan yang tidak menyetujui bunuh diri, tindakan tersebut dianggap melanggar hukum Allah dan merupakan sebuah dosa yang tidak dapat diampuni.
Perdebatan mengenai bunuh diri tidak hanya menjadi perdebatan di kalangan masyarakat saja, melainkan juga terjadi di kalangan orang-orang Kristen. Tindakan bunuh diri menjadi sebuah pertanyaan apakah orang Kristen diperbolehkan untuk melakukan bunuh diri? Beberapa kalangan injili seperti Agustinus, Thomas Aquinas, dan Barclay berpendapat bahwa tindakan bunuh diri merupakan sebuah tindakan yang berdosa dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. Kalangan injili juga mengatakan bahwa dengan melakukan tindakan bunuh diri berarti manusia sudah merusak gambar dan rupa Allah. Alkitab dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga manusia dilarang melakukan bunuh diri dengan alasan dan cara apa pun. Selain itu, manusia juga wajib menjaga, memelihara, dan menghargai kehidupan yang telah Allah berikan
Konsep Sabat dalam Perjanjian Baru dan Implikasinya bagi Kehidupan Jemaat Tuhan di Tengah Tantangan Kesibukan Masa Kini
Konsep Sabat merupakan pembahasan yang kontroversial, baik berkaitan dengan hari pelaksanaannya maupun relevansinya. Dalam Perjanjian Baru, pemaknaan Sabat memicu ketegangan antara orang Farisi dan Ahli Taurat dengan Yesus karena mereka melihat Yesus melanggar aturan Sabat yang berlaku di antara mereka. Para penafsir Alkitab juga memahami secara berbeda berkaitan dengan konsep ini. Keberagaman makna ini menimbulkan pertanyaan, yaitu apakah pengajaran Yesus dan para rasul membatalkan praktik Sabat? Apa makna Sabat yang diajarkan oleh Yesus dan para rasul? Selain berkaitan dengan pemaknaan Sabat, tantangan kesibukan masa kini juga menjadi faktor yang menyebabkan praktik Sabat dilihat sebagai praktik yang tidak relevan dan tidak dapat dilakukan di dunia masa kini. Oleh karena itu, penulis rindu melalui penelitian ini dapat diperoleh pemahaman Sabat secara utuh dan bagaimana melaksanakan Sabat di tengah dunia masa kini.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pertama penulis meneliti beberapa teks dalam Injil yang berkaitan dengan Sabat yaitu: Matius 12:1-14 (bdk. Mrk. 2:23-3:6 dan Luk. 6:1-11); Lukas 4:31-37 (bdk. Mrk. 1:21-28); Lukas 4:38-39 (bdk. Mat. 8:14-17 dan Mrk. 1:29-31); Lukas 13:10-17; Lukas 14:1-6; Yohanes 5:1-18; dan Yohanes 9:1-41. Kedua, penulis juga meneliti tulisan para Rasul berkaitan dengan topik ini, khususnya surat-surat Rasul Paulus dan Surat Umum, yaitu Roma 14:5-6; Galatia 4:8-11; Kolose 2:16-17; dan Ibrani 4:1-13. Ketiga, penulis menghubungkan hasil penelitian tersebut dalam kaitan dengan gaya hidup manusia di zaman ini, yaitu kesibukan.
Melalui penelitian ini, penulis menemukan ada dua faktor utama yang menyebabkan manusia tenggelam dalam kesibukan, yaitu kekhawatiran dan tuntutan produktivitas. Kedua faktor ini membuat manusia hidup dalam sense of urgency sehingga tidak ada kata “istirahat” atau “Sabat” bagi hidupnya. Sementara itu, kesibukan membawa dampak buruk bagi manusia, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual. Manusia membutuhkan “istirahat”, tetapi ironisnya manusia justru menghindari kata “istirahat” itu sendiri. Di tengah konsep dunia yang menawarkan kesibukan dan menyatakan bahwa Sabat tidak relevan, pengajaran Yesus dan para rasul justru menyatakan bahwa Sabat diperlukan dan sangat relevan bagi manusia. Yesus dan para rasul sama sekali tidak bermaksud meniadakan Sabat, melainkan membawa Sabat kembali pada makna semula. Sabat merupakan hak istimewa, yaitu anugerah yang Allah berikan bagi umat-Nya sejak karya penciptaan dan digenapi melalui Kristus. Sabat merupakan waktu bagi umat Allah untuk mengingat dan merayakan Allah yang telah membebaskan mereka. Sabat juga dimaknai sebagai redemption rest, yaitu karya keselamatan dalam pribadi Kristus yang membawa mereka yang percaya kepada peristirahatan kekal. Sabat merupakan waktu di mana umat Allah menunjukkan kasih dan belas kasihan, baik kepada diri sendiri maupun kepada sesama. Sabat adalah wujud kebergantungan kepada Allah yang menciptakan dan memelihara kehidupan manusia. Melalui Sabat, manusia belajar melepas kontrol atas dirinya sendiri dan menyerahkannya kepada Allah yang menciptakan dan memegang kehidupan mereka. Melalui Sabat, manusia belajar untuk menikmati Allah dan karya-Nya, dalam relasi dengan Allah dan sesama. Oleh karena itu, Sabat perlu dipraktikkan secara intensional dimulai dengan langkah-langkah kecil
Religious Affections Jonathan Edward dan relevansinya bagi ibadah komunal
Artikel ini mencoba untuk membahas kontribusi dari salah satu tulisan penting Jonathan Edwards, yaitu A Treatise Concerning Religious Affections, bagi ibadah komunal. Sebagaimana karya ini bermanfaat dalam mengevaluasi kerohanian seseorang dan merumuskan apa itu spiritualitas yang autentik, risalah ini juga dapat bermanfaat di dalam mengevaluasi dan merancang ibadah komunal. Berfokus pada tiga tanda pertama dari dua belas indikator spiritualitas yang sejati menurut Edwards, tulisan ini mengusulkan bahwa risalah ini dapat berfungsi sebagai penawar dari tiga pemahaman menyimpang dalam ibadah komunal: ibadah yang legalistik, narsisistik, dan terapeutik
The Apostle and the apostolic church
How should a contemporary reader understand the complexities of the early church? Many scholars utilize a religious studies perspective to understand the early church concluding that the church grew as a direct result (synthesis) of group conflicts (in particular, the Pauline and Petrine communities). This essay approaches the early church from a different paradigm. Using theological analysis, the author concludes that although the early church contained elements of diversity, she exhibits significant unity. The Catholic Epistles (the letters of James, Peter, John, and Jude) are independent letters that are interconnected by the Jerusalem tradition, and the theologies of these letters reflect the unique character of the early church. Therefore, it is important that NT scholars should give more attention to the Catholic Epistles so that the early church can be understood from a more constructive perspective
Pengampunan sebagai Nilai Hikmat: Analisis Naratif Kejadian 50:15-21 dan Implikasinya bagi Rekonsiliasi Kristen Masa Kini
Konflik telah menjadi bagian kehidupan individu, keluarga dan gereja. Oleh karena itu, pengampunan dan rekonsiliasi menjadi tema sentral dalam keseluruhan iman Kristen. Namun kenyataannya, orang-orang percaya lebih suka menuruti kecenderungan alamiah mereka untuk melawan/lari (fight/flight) saat terjadi konflik/pelanggaran. Satu tokoh Alkitab yang penuh dengan hikmat, Yusuf, mampu mempraktikkan pengampunan dan rekonsiliasi di tengah berbagai kesulitan dan tantangan.
Penulis mengangkat beberapa pertanyaan berkaitan dengan hal tersebut. Pertama, bagaimana hikmat Yusuf dalam mengampuni saudara-saudaranya dan implikasi dari prinsip-prinsip dalam analisis tersebut bagi praktik rekonsiliasi orang Kristen masa kini? Kedua, seperti apakah potret rekonsiliasi, hambatan-hambatannya, dan bagaimanakah orang percaya masa kini seharusnya mengupayakan rekonsiliasi? Ketiga, bagaimana prinsip-prinsip pengampunan Yusuf menjadi dasar rekonsiliasi dan pedoman bagi orang percaya untuk melakukan rekonsiliasi dalam lingkup individu, keluarga, dan komunitas gereja? Terakhir, bagaimanakah kesimpulan yang didapatkan dari penulisan skripsi ini?
Penulis melakukan penggalian melalui sebuah eksegesis narasi terhadap Kejadian 50:15-21 yang merupakan rekapitulasi dari keseluruhan kisah Yusuf. Metodologi yang digunakan adalah metode analisis tematis tipe pemodelan, yaitu metode eksegesis terhadap suatu narasi Alkitab yang mengangkat tema-tema minor dalam suatu bagian, yang selanjutnya akan dikembangkan untuk mencari dan menemukan ilustrasi kehidupan yang religius dari tokoh-tokoh Alkitab. Metode ini dilakukan dengan menganalisis latar belakang (setting), jenis sastra (genre), tema dan tujuan, sudut pandang (point of view), karakterisasi (characterization), dan pengulangan (repetition), juga elemen-elemen lain yang diperlukan.
Dari studi naratif terhadap Kejadian 50:15-21 penulis memperoleh empat prinsip pengampunan dan rekonsiliasi yang dapat diterapkan dalam meletakkan dasar pemahaman yang benar dan berimbang mengenai keduanya: pembalasan adalah hak prerogatif Allah, pengampunan dan rekonsiliasi sebagai anugerah Allah, pengampunan sebagai syarat rekonsiliasi dan rekonsiliasi sebagai jalan dua arah. Empat hal tersebut menjawab kesulitan-kesulitan dalam mempraktikkan pengampunan dan rekonsiliasi orang percaya masa kini. Ketika orang percaya menghadapi kesulitan yang disebabkan faktor latar belakang kebudayaan, faktor psikologis, faktor teologis, pemahaman yang keliru atas pengampunan dan rekonsiliasi, dan proses yang tidak mudah dalam mengampuni dan berekonsiliasi maka firman Tuhan harus tetap ditaati. Dengan demikian pengampunan dan rekonsiliasi dapat dilakukan oleh setiap orang percaya