STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Peran Hamba Tuhan Sebagai Teolog di Gereja Dalam Tinjauan Surat 1 dan 2 Timotius Serta Implikasinya Bagi Hamba Tuhan Masa Kini
Kebenaran Kristen adalah landasan bagi gereja dan orang-orang Kristen hidup sebagai umat Allah di tengah dunia ini. Sebagai landasan hidup, kebenaran tersebut menjadi hal penting yang senantiasa diajarkan kepada orang-orang Kristen. Namun, faktanya adalah pengajaran kebenaran/doktrin di dalam gereja menurun, bahkan mengalami krisis. Hal tersebut dapat berdampak besar pada kehidupan gereja dan orang-orang Kristen di dalamnya. Padahal, pengajaran doktrin kristen di dalam gereja menjadi pengajaran utama yang harus di berikan oleh hamba Tuhan, sebagaimana panggilannya sebagai seorang teolog. Namun, tampaknya peran tersebut telah bergeser dan terabaikan. Melihat realitas tersebut, pare teolog kembali menyuarakan panggilan hamba Tuhan sebagai teolog di gereja. Peran hamba Tuhan sebagai teolog bukanlah sebuah pilihan melainkan panggilan yang melekat erat dalam diri setiap hamba Tuhan yang melayani di gereja.
Dalam penelitian ini penulis bertujuan melihat apakah peran hamba Tuhan sebagai teolog adalah mandat Alkitab, apakah peran tersebut merupakan jawaban bagi zaman ini, dan bagaimana hamba Tuhan menjalankan peran tersebut di gereja. Secara umum , metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah kepustakaan (library research). Tulisan ini adalah sumber penelitian yang memfokuskan pada pengolahan data dari sumber-sumber acuan pustaka yang ada. Sumber-dumber yang digunakan adalah sumber utama dan sumber pendukung, baik dalam bentuk buku maupun jurnal akademis. Dalam bagian tertentu, penulis juga menggunakan metode wawancara tertulis kepada empat orang hamba Tuhan yang melayani di Indonesia. Pendekatan yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif-analitis dan sintesis.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, penulis menyimpulkan tiga hal: pertama, peran hamba Tuhan sebagai teolog adalah mandat Alkitab. Itu artinya, setiap hamba Tuhan pada masa kini di panggil untuk menjalankan peran tersebut. kedua, peran hamba Tuhan sebagai teolog merupakan jawaban bagi zaman ini. Ketika dunia mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, hamba Tuhan mengajarkan kepada umat Allah satu-satunya kebenaran Kristus yang memimpin kehidupan mereka. Ketiga, hamba Tuhan menjalankan perannya sebagai teolog dengan cara terlebih dahulu memperlegkapi diri dengan kebenaran dan setia mewujudnyatakan kebenaran itu di tengah konteks zamannya
Homoseksualitas Masa Kini : Suatu Tinjauan Menurut Etika Kristen
Homoseksualitas kini tidak lagi hanya dipahami sebagai bentuk perilaku melainkan sebagai suatu bentuk orientasi seksual yang muncul di luar kehendak manusia. Implikasinya, homoseksual dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan tidak berdosa. Evaluasi terhadap konsep ini dijelaskan dari sudut pandang biblika dan teologis untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sulit mengenai keberdosaan homoseksual
Tinjauan Terhadap Konsep Langit dan Bumi yang Baru Serta Implikasinya Bagi Peranan dan Tanggung Jawab Gereja Untuk Penatalayanan Lingkungan di Indonesia.
Kerusakan lingkungan atau krisis ekologi merupakan masalah yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Krisis ini sudah seharusnya menjadi suatu perhatian bersama bagi banyak pihak, termasuk orang-orang Kristen. Namun, usaha konservasi lingkungan akan tampak sia-sia, jika pada akhir zaman nanti, langit dan bumi yang sekarang ini akan dihancurkan dan diganti dengan langit dan bumi yang baru. Untuk mengkaji permasalahan tersebut, penulis akan melakukan riset biblika terhadap teks Yesaya 65:17; 2 Petrus 3:10-13; Wahyu 21:1-5a yang berbicara langsung mengenai langit dan bumi yang baru. Hasil penelitian ini akan menunjukkan, apakah langit dan bumi ini akan dihancurkan dan digantikan dengan yang baru, atau langit dan bumi ini tidak dihancurkan, tetapi dipulihkan dan ditransformasi menjadi baru?
Alkitab menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu adalah “baik” bahkan “sangat baik” (Kej. 1:31). Namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka bumi ikut dikutuk (Kej. 3:17) dan akhirnya rusak karena manusia (Kej. 6:12). Namun Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya begitu saja. Melalui penebusan dan pengorbanan Kristus, seluruh ciptaan akan mengalami pemulihan (Mat. 19:28; Kis. 3:21; Rm. 8:19-23; Ef. 1:9-10; Kol. 1:15-20). Kemudian, melalui kebangkitan tubuh-Nya, tubuh orang-orang percaya juga akan dibangkitkan pada akhir zaman, sekaligus ini menjadi pengharapan pemulihan seluruh ciptaan. Dengan adanya kebangkitan tubuh, maka ini juga menunjukkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang rendah dan jahat, seperti yang dipahami oleh gnostisisme, platonisme, dan neo-platonisme. Dengan pemahaman ini, lebih masuk akal bila langit dan bumi ini tidak dihancurkan, melainkan dipulihkan menjadi baru (renewal).
Dengan keyakinan pengharapan bahwa langit dan bumi yang sekarang akan diperbarui, maka usaha penatalayanan lingkungan tidak akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Pengharapan ini seharusnya memberikan suatu motivasi dan semangat di dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan, khususnya bagi gereja di dalam merespons isu krisis ekologis. Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya, dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi, seperti yang telah dilakukan oleh Kristus. Jika penebusan Kristus membawa pemulihan dan pendamaian pada seluruh ciptaan, maka gereja juga harus menjadi agen pemulihan dan pendamaian bagi seluruh ciptaan
Studi Eksposisional Perintah "Hormatilah Ayah dan Ibumu" Dalam Keluaran 20:12 dan Efesus 6:1-3 dan Relevansinya Terhadap Pelayanan Panti Wreda Kristen
Secara global populasi lansia akan terus mengalami peningkatan tahun demi tahun. Populasi lansia di Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi dari pada populasi lansia di wilayah Asia dan global setelah tahun 2050. Pertanyaannya, seberapa serius perhatian gereja terhadap jemaat kaum lansia dibandingkan dengan pelayanan komisi lainnya seperti pelayanan remaja dan anak-anak? Fokus gereja bukanlah kepada kelompok kaum lansia, gereja dan jemaat pada umumnya mengabaikan pelayanan kepada kaum lansia.
Hal ini menarik perhatian penulis sebagai seorang hamba Tuhan, bagaimana pelayanan kaum lansia dapat dimaksimalkan sesuai dengan keberadaan dan kondisi mereka. Bagaimana anak-anak dan gereja dapat menerapkan perintah kelima dalam Keluaran 20:12 dan Efesus 6:1-3, menghormati orang tua sampai akhir hidup mereka. Melalui studi penggalian Alkitab, penulis menyimpulkan bahwa perintah kelima bukan sekadar hormat secara literal tetapi mengandung janji yang harus ditepati.
Penelitian lainnya mengenai pelayanan panti wreda Kristen, penulis mengadakan studi banding melalui hasil wawancara dan kunjungan ke beberapa panti wreda di tiga lokasi yang berbeda. Melalui studi ini, penulis menyimpulkan bahwa pengelolaan panti wreda yang baik akan menjadi berkat bagi kaum lansia dan keluarga mereka. Menurut pengamatan penulis, panti wreda Kristen yang ideal memberikan kehidupan yang jauh lebih baik bagi para penghuninya.
Panti Wreda Kristen yang berdasarkan firman Tuhan akan menjadi sarana bagi kaum lansia untuk tetap bertumbuh dan semangat di dalam menjalani kehidupan di masa tua mereka. Dengan demikian, keluarga serta masyarakat tidak lagi memandang negatif pelayanan panti wreda sebagai “tempat untuk membuang orang tua,” atau sebagai sikap tidak hormat kepada orang tua
Mencari Jejak-jejak Autograf Perjanjian Lama di dalam Septuaginta
Untuk sekian lama, Septuaginta sebagai terjemahan Kitab Suci Ibrani yang pertama telah dipinggirkan dan tidak memperoleh tempat dalam usaha untuk mencari autograf (naskah asli Alkitab) Perjanjian Lama yang telah lama hilang itu. Namun demikian, perkembangan terbaru dalam studi terhadap naskah-naskah kuno Alkitab justru menunjukkan bahwa Septuaginta memiliki sumbangsih besar dalam pencarian autograf Perjanjian Lama. Hal ini dibuktikan melalui penggunaan metode kritik tekstual oleh para sarjana Alkitab, yakni dengan melakukan penelitian dan perbandingan terhadap naskah-naskah kuno Alkitab Perjanjian Lama, seperti Teks Masoret, Pentateukh Samaria, Gulungan Laut Mati, dan Septuaginta
Analisis Dan Evaluasi Pendekatan Imajinasi Walter Brueggemann Dalam Praktik Teks Yesaya 55
Dalam perkembangan dunia penafsiran Alkitab, khususnya dalam teks PL, banyak sarjana telah berusaha untuk merumuskan rumusan terbaik dalam mendekati PL. Berbagai pendekatan telah diusulkan dari zaman ke zaman, dan sekarang zaman telah berada pada sebuah babak baru: zaman post-modern di mana pendekatan yang lama harus dikembangkan sehingga dapat mengikuti tuntutan zaman, khususnya dalam hal penafsiran.
Tulisan ini menjelaskan mengenai penelitian terhadap pendekatan imajinasi yang dikembangkan oleh Walter Brueggemann dengan mempertanyakan bagaimana konsep dari pendekatan imajinasi yang dikembangkan oleh Brueggemann. Pendekatan imajinasi ini dikembangkan Brueggemann sebagai sebuah respons atas keadaan penafsiran di Amerika Serikat yang sangat dipengaruhi oleh Eichrodt dan von Rad dengan penekanan mereka dalam kritik historis. Itulah sebabnya, dalam pendekatan yang diusulkan oleh Brueggemann ini menolak kritik historis dan berfokus pada sisi post-modern dalam penafsiran teks PL. Penekanan dalam pendekatan imajinasi Brueggemann ini pun lebih menitik beratkan pada pembaca sebagai sumber kebenaran tersebut dan membuka kemungkinan akan pluralitas penafsiran yang begitu besar. Dan dalam menguji praktik pendekatan ini, penulis memilih teks Yesaya 55 sebagai lapangan berteologi dan mendapati hasil penafsiran yang sangat terbuka dengan tidak ada standar dalam penafsiran itu sendiri. Oleh sebab itu, problem-problem penafsiran dengan metode ini perlu mendapat respons dan kritik terkait dalam hal penafsiran ini. Memang perlu diakui, pendekatan yang dikembangkan Brueggemann ini tidak sempurna, namun terdapat hal-hal baik yang dapat dijadikan sebagai unsur komplementer dalam penafsiran, sehingga pendekatan ini seharusnya tidak ditolak sepenuhnya
Studi Eksposisi terhadap Konsep “Dusta” dalam Alkitab dan Implikasinya bagi Pembinaan Jemaat
Dosa dusta sering kali menjadi dosa yang dipandang lebih ringan dibandingkan dengan dosa-dosa lainnya seperti mencuri, membunuh, berzina, menyembah berhala, dan sebagainya. Dengan perkembangan zaman yang semakin maju, moral dunia bukannya semakin membaik, tetapi semakin merosot dan memprihatinkan. Dari moral yang sederhana—berkata jujur, hingga moral dalam bentuk perbuatan telah mengalami kemunduran. Kondisi ini tidak hanya mewabah dalam masyarakat sekuler, melainkan berimbas ke dalam gereja Tuhan.
Semakin hari dunia mengarah kepada relativisme. Begitu juga dengan kebenaran. Bagi dunia, sebuah kebenaran termasuk dalam bagian relativisme sehingga untuk mengatakan kebenaran dianggap bukan hal utama di dalam karakteristik seseorang. Dengan begitu, peluang untuk berdusta sangat terbuka lebar. Inilah yang menjadi tugas gereja selaku pembawa kebenaran karena Kristus, sang Kepala gereja adalah Kebenaran.
Oleh karena itu, dalam membahas isu ini, ada tiga bagian besar yang dipaparkan dalam tulisan ini. Pertama, menjelaskan asal mula munculnya dosa dusta dan penjelasan mengenai bahaya dosa dusta yang tidak jauh berbeda dengan dosa lainnya. Kedua, bagaimana Alkitab membahas mengenai larangan sampai hukuman atas dosa dusta. Ketiga, memperlihatkan cara gereja Tuhan di dalam menyikapi dosa dusta yang merusak kehidupan orang percaya. Penulis memiliki dugaan sementara di awal penulisan mengenai topik ini. Penulis melihat bahwa kecenderungan orang percaya untuk melakukan dosa dusta lebih tinggi dibandingkan melakukan dosa-dosa lain yang dilarang oleh Tuhan. Mengapa demikian? Karena berdusta tidak kasat mata, tidak dapat diketahui oleh lawan bicara secara langsung, dan tidak kentara. Akibatnya, gereja Tuhan yang dipanggil untuk menjadi teladan akan kebenaran, kurang berfungsi sebagaimana mestinya.
Selanjutnya, mengenai metode penelitian dan hasil penelitian tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian pustaka, dengan menggunakan literatur-literatur yang tersedia di perpustakaan, baik berupa fisik ataupun elektronik. Penulis juga melakukan eksposisi terhadap beberapa bagian Alkitab—PL dan PB, dengan menggunakan beberapa buku tafsiran. Yang terakhir mengenai hasil penelitian. Di awal, penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai dari tulisan ini antara lain: ingin menyadarkan kembali akan otoritas Alkitab yang mengajarkan tentang kebenaran, memberi pemahaman terhadap konsep mengenakan manusia baru dan menanggalkan manusia lama, meluruskan kembali konsep kebenaran yang seharusnya menjadi identitas utama orang Kristen dari beberapa bagian Alkitab yang dieksposisi, dan mengajak semua orang percaya untuk hidup kudus, benar, dan berintegritas sesuai dengan firman Tuhan. Dari tujuan-tujuan tersebut, penulis melihat hasil penelitian yang menjadi kesimpulan akhir penulis tidak menyimpang. Alkitab berbicara dengan tegas akan larangan terhadap perkataan dusta dan pembinaan terhadap jemaat perlu dikerjakan oleh para pemimpin yang sudah memahami arti integritas sebagai orang percaya
Meneropong makna penderitaan manusia menurut konsep teodise C.S. Lewis
Ketika berhadapan dengan fenomena penderitaan manusia, kecenderungan yang dilakukan oleh kaum injili adalah meneropong penderitaan manusia tersebut berdasarkan kacamata kedaulatan dan providensia Allah yang tidak terelakkan atas diri manusia. Sikap pasrah berkaitan dengan kedaulatan Allah yang mutlak tersebut, tanpa disadari sebenarnya telah memunculkan konsep “fatalisme praktis.” Akibatnya, relasi erat antara hukum alam dan tanggung jawab manusia pada akhirnya menjadi hal yang terabaikan. Studi tentang konsep teodise C.S. Lewis ini diharapkan mampu memberikan paradigma baru bagi kaum injili di Indonesia dalam memandang masalah penderitaan manusia. Paradigma baru tersebut adalah cara pandang yang aktif dan positif terhadap peran hukum-hukum alam sebagai wahyu umum di balik fenomena penderitaan tersebut. Konteks natural kehidupan manusia dengan hukum-hukum alam yang tetap dan beraturan diharapkan dapat menjadi “kunci” untuk membuka “pintu rahasia” fenomena penderitaan manusia