STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Relevansi Praktik Pelayanan Paduan Suara sebagai Media Pengajaran Firman Allah dalam Ibadah Kristen Menurut Kolose 3:16.
Gereja-gereja menghadapi pertanyaan seputar relevansi praktik pelayanan paduan suara dalam ibadah Kristen. Eksistensi pelayanan paduan suara gereja mendapat tantangan serius. D1 banyak tempat kegiatan paduan suara gereja sudah mulai dihentikan, sementara di beberapa tempat yang lain sudah mulai dikurangi. Salah satu cara untuk membuktikan bahwa praktik pelayanan paduan suara masih dibutuhkan dalam ibadah-ibadah Kristen serta bermanfaat untuk pertumbuhan kerohanian jemaat adalah dengan mengadakan penelitian yang dapat membuktikan bahwa praktik pelayanan paduan suara relevan dengan firman Tuhan, dalam hal ini dengan Kolose 3:16.
Dari penelitian kepustakaan ini terbukti bahwa praktik pelayanan paduan suara adalah relevan dan menjadi media pengajaran firman Allah kepada jemaat di dalam ibadah. Tujuan utamanya adalah agar firman Allah dalam bentuk pengajaran, nasihat, dan tegiiran dapat tinggal di dalam hati setiap jemaat secara individu dan komunitas. Paduan suara dapat menjadi alat pengajaran, juga menegur dan menasihati jemaat melalui repertoar lagu paduan suara yang mengacu pada Mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani. Agar paduan suara dapat menjadi alat yang efektif, paduan suara harus memiliki keunggulan kualitas paduan suara, yaitu bersuara merdu, ekspresif, serta komunikatif, supaya pesan firman dan pengajaran, atau pun nasihat dan kesaksian yang dinyanyikan dapat masuk ke dalam pikiran serta hati umat Allah.
Lagu yang akan dinyanyikan harus dipilih sedemikian rupa, sesuai dengan kebutuhan jemaat serta konteks ibadah. Teks lagu harus memiliki kekuatan teologis serta kekuatan liris, kemudian seluruh lagu secara utuh harus memiliki kekuatan musikal. Sikap baik dan penuh anugerah juga harus dimiliki oleh anggota paduan suara maupun dirigen sebagai pembawa berita, karena sikap dan tindakan dapat disaksikan oleh jemaat dapat memengaruhi penerimaan jemaat akan isi lagu yang dinyanyikan
Perbandingan Konsep Doa Martin Luther dan Konsep Doa Teresa dari Avila
Penelitian ini ditulis dengan latar belakang adanya keinginan untuk membandingkan konsep doa Injili dari Martin Luther dengan konsep doa mistik yang dikembangkan oleh Teresa dari Avila. Diharapkan melalui penelitian ini, kekayaan yang dimiliki oleh setiap tradisi doa yang akan dijabarkan dapat memberikan sumbangsih bagi teologi doa orang Kristen pada zaman ini. Pertanyaan yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah apakah perbedaan dari konsep doa Martin Luther dan konsep doa Teresa dari Avila. Pertanyaan ini akan dijawab menggunakan metode penelitian perbandingan dengan menggunakan dialog antara konsep doa tradisi injili dan mistik dan konsep doa di dalam Alkitab sebagai pembanding. Metode yang dilakukan adalah metode studi pustaka.
Hipotesis dari skripsi ini adalah konsep doa Martin Luther berakar di dalam tradisi profetik dan konsep doa Teresa dari Avila berakar di dalam tradisi mistik. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa Martin Luther dan Teresa dari Avila mengembangkan konsep yang berbeda karena berbagai latar belakang dan perbedaan teologis yang mereka miliki. Namun demikian, kedua konsep doa ini masih berakar di dalam teologi yang sehat dari sudut pandang injili, sebab mereka mendasarkan teologi mereka dari konsep anugerah dari Agustinus. Di sisi lain, kedua konsep doa ini memberikan sumbangsih yang besar terhadap konsep doa kekristenan pada zaman sekarang
Konsep otoritas Alkitab di hadapan fakta kesalahan tekstual : sebuah diskusi teologis
Studi kritik Alkitab menunjukan bahwa berbagai salinan Alkitab, Pl dan PB, memiliki banyak kesalah tekstual. Masalah yang muncul ialah dihadapan fakta berbagai kesalahan tekstual yang ada, masihkah Alkitab memiliki otoritas? Para oponen menilai jelas tidak karena fakta kesalahan tekstual menimbulkan problematika yang serius berkaitan dengan ketidakpastian makna teks
Nyanyian Mazmur dan Relevansinya Bagi Gereja Reformed Masa Kini
Nyanyian Mazmur adalah jenis nyanyian jemaat yang sudah ada dari ribuan tahun lalu dan digunakan dalam ibadah-ibadah umat Allah termasuk dalam gereja Reformed. bahkan, seorang tokoh gerakan Reformasi, John Calvin menekankandn juga memikirkan penggunaan nyanyian Mazmur dalam gereja. Melihat fakta sejarah tersebut, penulis menemukan suatu kenyataan yang berbeda terjadi pada gereja Reformed masa kini. Gereja Reformed masa kini sudah sangat jarang menggunakan nyanyian Mamzur dalam ibadah mereka, bahkan bilamana mereka menyanyikan sebuah Mazmur, mereka (jemaat) tidak mengetahui bahwa pujian tersebut diambil dari Mazmur.
Ada dua pertanyaan besar yang harus dijawab dalam penelitian ini. Pertama, mengapa nyanyian Mazmur harus dinyanyikan di dalam ibadah gereja Reformed? Kedua, apa relevansi menyanyikan nyanyian Mazmur di gereja Reformed masa kini? Hipotesis dari masalah ini adalah nyanyian Mazmur relevan dengan ibadah gereja Reformed. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian literatur. Hasil penelitian ini adalah nyanyian Mazmur relevan digunakan dalam ibadah gereja Reformed masa kini ditinjau dari sudut sejarah, tradisi, filosofi, dan teologi
Tinjauan Terhadap Konsep Model Dialog Anta-Umat Beragama Paul F. Knitter Berdasarkan Konsep Model Dialog Antar-Umat Bergama Partikultularisme Injili
Keragaman agama menyebabkan sulit hidup damai tanpa adanya konflik antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama yang lainnya. Apalagi jika satu penganut agama memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa agamanya yang paling benar dan pemeluk agama lain adalah orang kafir yang perlu dimusnahkan. Perlu adanya dialog agar satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain tidak mengalami kesalahpahaman. Konflik sering terjadi karena pemeluk agama tidak memahami dengan benar ajaran dari agama yang ia anut dan ia memiliki pemahaman yang salah mengenai ajaran dari agama lain. Dialog menolong pemeluk agama untuk bisa mengerti dengan jelas ajaran agamanya sendiri dan mengerti ajaran agama lain. Permasalahannya untuk menciptakan dialog yang terbuka namun tetap mempertahankan identitas tidaklah mudah. Jika tidak hati-hati dialog justru dapat jatuh kepada munculnya konflik akibat adanya penghakiman bahwa pemeluk agama lain kafir. Namun, dialog juga dapat membuat pemeluk agama menganggap bahwa semua agama benar dan dapat memberikan keselamatan. Paul F. Knitter berusaha untuk merumuskan model dialog agar terciptanya perdamaian. Namun, model dialog Knitter ini akhirnya jatuh pada pemahaman bahwa konsep Allah dalam semua agama benar dan setiap agama memiliki tujuan keselamatan masing-masing yang juga benar. Sedangkan, model dialog Knitter ini tidak dapat diterapkan oleh paham partikularisme injili yang melandaskan Alkitab sebagai dasar untuk mengerti segala kebenaran yang manusia terima. Model dialog Knitter tidak bisa diterapkan karena model ini berkontradiksi dengan konsep Alkitab mengenai keunikan Yesus, walaupun Knitter juga berusaha menggunakan Alkitab sebagai dasar. Di sisi lain, Knitter mengkritik partikularisme injili yang hanya terfokus pada perdebatan teologi sehingga tidak bisa menciptakan dialog yang menciptakan perdamaian. Selain itu, partikularisme injili tidak menyadari untuk bertindak bagi kesejahteraan manusia yang menderita di dunia ini. Menanggapi pertentangan yang ada, skripsi ini dibuat untuk meninjau secara mendalam sebenarnya apakah kesalahan dan kelebihan dari model dialog Knitter yang telah banyak dipakai dalam dialog antar-umat beragama
Apologetika Prasuposisional Triperspektivalisme John M. Frame Relevansinya Bagi Gereja-gereja Injili dalam Menghadapi Tantangan Pluralisme Agama di indonesia
Dunia milenial ketiga dipenuhi dengan fakta pluralitas baik dalam budaya, bahasa, wawasan dunia (worldview), moralitas, seni, dan agama. Fakta ini kemudian berkembang menjadi sebuah filosofi yang disebut sebagai pluralisme. Pluralisme menjadi kesadaran baru yang menganggap bahwa semua keyakinan memiliki kesamaan secara umum satu dengan yang lain. Pluralisme dilatarbelakangi dengan kondisi pasca Perang Dunia II yang berdampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatif adalah berkenaan dengan ketidakselarasan antara iman Kristen dan perbuatannya sehingga Yesus tidak lagi menjadi Tuhan yang relevan dan unik bagi kehidupan manusia masa kini. Berdasarkan dampak tersebut, maka tidak mengherankan jika pluralisme agama mencetuskan gagasan bahwa tidak ada satupun agama yang boleh mengklaim bahwa ia adalah satu-satunya keyakinan yang paling benar di antara agama-agama lainnya. Pemikiran mengenai pluralisme agama didukung oleh sejumlah tokoh seperti John Hick, Stanley J. Samartha, Raimundo Panikkar, dan Paul F. Knitter. Indonesia adalah negara yang pluralistik termasuk dalam hal agama. Kondisi pluralistis ini dikelola dengan Pancasila dan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika.” Walaupun demikian, bangsa Indonesia tetap menghadapi problematika pluralitas agama. Hal ini disebabkan dua sikap ekstrem dari para teolog dan praktisi Kristen. Pertama, menekankan persamaan di antara agama-agama sehingga dapat meniadakan keunikannya. Kedua, menekankan perbedaan antara Kristen dan agama-agama lain sehingga kekristenan yang paling benar sedangkan agama lainnya salah. Penekanan tentang persamaan di antara agama-agama kerap kali dilakukan oleh golongan ekumenis yang beberapa di antaranya adalah kaum pluralis seperti Th. Sumartana, Ioanes Rakhmat (awal), dan John A. Titaley. Dengan demikian, pluralisme agama bukan hanya menjadi filosofi melainkan memengaruhi ranah teologi menjadi cara berteologi. Kaum injili (gereja-gereja injili) sudah semestinya mengambil tindakan untuk membela keunikan iman Kristen di tengah tantangan pluralisme agama di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan berapologetika. Dari sekian banyak metode apologetika, apologetika prasuposisional triperspektivalisme John M. Frame diasumsikan relevan untuk menjawab tantangan pluralisme agama di Indonesia. Penelitian tentang relevansi tersebut dilakukan secara kepustakaan berdasarkan sejumlah literatur yang terdapat di perpustakaan. Selain itu, penelitian tersebut juga didukung dengan pendekatan deskriptif, eksplanatif, dan evaluatif. Akhirnya, ketika penelitian telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa apologetika prasuposisional triperspektivalisme John M. Frame relevan untuk menghadapi tantangan pluralisme agama di Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan melalui apologetika konstruktif (normatif), defensif (eksistensial), dan ofensif (situasional). Namun, perlu diketahui bahwa apologetika Frame adalah salah satu alat untuk membawa kaum pluralis untuk menundukkan segala pemikiran dan hatinya kepada Tuhan yang berotoritas, memegang kontrol, dan hadir di mana dinyatakan oleh Kitab Suci dan pribadi Yesus Kristus
Konsep Yobel di dalam Alkitab dan Kontribusinya bagi Etika Sosial Kaum Injili
Tahun Yobel adalah salah satu tahun yang paling bersejarah bagi bangsa Israel untuk merayakan adanya suatu pembebasan. Tahun ini begitu penting bagi melindungi kesejahteraan sosial umat Israel. Hanya saja tidak banyak pembahasan mengenai tahun Yobel dalam catatan sejarah, termasuk dalam teks-teks Perjanjian Lama. Oleh karena itu tidak banyak juga penelitian dan pembahasan mengenai tahun Yobel ini, sedangkan pada kenyataannya, konsep dari tahun Yobel ini memiliki signifikansi yang besar terhadap praksis hidup umat Allah, bahkan untuk diterapkan di masa sekarang ini. Teologi dari tahun Yobel ini pada hakikatnya memberi sumbangsih yang besar terhadap etika di dalam Kekristenan. Secara khusus dalam penelitian kali ini, penulis akan memfokuskannya kepada etika sosial sebagaimana yang Allah sudah tetapkan pada tahun Yobel di masa umat Israel. Maka itu, tulisan ini tidak hanya melihat tahun Yobel ini secara historis semata, melainkan penulis akan melihatnya dalam terang sejarah penebusan (historical redemptive) di mana nantinya Yesus sendiri yang akan menjadi penggenapan dari tahun Yobel dan membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa. Penelitian tahun Yobel pada tulisan ini akan mengkaitkannya dengan teologi biblika sehingga teologi dari tahun Yobel ini dapat dilihat juga dalam keseluruhan Alkitab.
Setelah pembahasan terhadap teologi tahun Yobel, maka penulis juga akan mengimplikasikannya ke ranah etika sosial kaum injili. Dalam hal ini, penulis akan lebih memfokuskan kepada isu etika kekayaan dan keadilan sosial sebagai benang merah dari tahun Yobel menuju etika sosial. Melalui pembahasan etika ini, maka kaum Injili dapat melihat urgensi dari tanggung jawab sosial yang diperlukan. Tanggung jawab sosial tentunya akan diikuti oleh konsep etika sosial yang benar dalam Kekristenan. Dalam hal inilah penulis akan membahasnya dan mendorong kaum injili untuk berbagian dalam permasalahan sosial yang mewabah di masa sekarang ini
Kualifikasi Seorang Penatua di Gereja Masa Kini Berkaitan dengan Kehidupan Keluarga menurut Surat-Surat Pastoral.
Salah satu ciri gereja presbiterian adalah adanya sejumlah penatua yang berperan untuk membantu pendeta dalam memimpin jemaat, serta melakukan urusan gerejawi. Pada umumnya, pemilihan penatua dilakukan sesuai dengan Tata Gereja yang mengacu pada syarat-syarat dalam 1 Timotius 3:1-7 dan Titus 1:5-9. Sayangnya, banyak gereja yang hanya memerhatikan kualifikasi penatua berkaitan dengan karakter, keaktifan pelayanan, dan kemampuan penatua tanpa melihat ke dalam kehidupan keluarga penatua. Padahal, kehidupan keluarga menjadi cerminan dari pola kepemimpinan dan kemampuan penatua dalam mengatur anggota keluarganya. Dengan kata lain, kehidupan keluarga penatua dapat menjadi acuan bagi gereja dalam menentukan apakah penatua tersebut layak dalam memimpin jemaat Allah. Lalu, apa dan bagaimana kualifikasi pemilihan seorang penatua berkaitan dengan kehidupan keluarganya yang sesuai dengan kebenaran Alkitab?
Paulus telah menekankan kualifikasi penatua berkaitan dengan kehidupan keluarganya dalam 1 Timotius 3:2, 4-5 dan Titus 1:6. Melalui eksposisi teks, didapati ada tiga prinsip yang dapat diterapkan bagi pemilihan penatua di gereja masa kini, yaitu pertama, penatua harus memiliki kehidupan seksualitas yang kudus dengan lawan jenisnya; kedua, kehidupan pernikahan penatua dapat diteladani oleh jemaat; dan ketiga, kehidupan anak-anak penatua pun dapat turut menjadi berkat bagi jemaat dalam tingkah laku dan ketundukannya sebagai seorang anak. Ketiga prinsip tersebut berhubungan dengan kemampuan seorang penatua sebagai pemimpin, baik di rumah maupun gereja. Dengan demikian, gereja-gereja masa kini diharapkan dapat kembali memikirkan secara serius syarat-syarat bagi pemilihan penatua berkaitan dengan kehidupan keluarganya yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan