STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Alkitabiah di dalam Mendisiplinkan Anak Sebagai Solusi dari Budaya Kekerasan dan Permisif
Di dalam usaha orang tua untuk membentuk generasi muda yang dilengkapi dengan disiplin diri yang baik memerlukan adanya didikan yang baik dan disertai dengan penerapan disiplin yang benar di dalam sebuah keluarga. Tetapi di dalam pelaksanaanya masih didapati banyaknya dampak negatif yang memengaruhi kehidupan anak-anak pada masa kini. Tidak jarang orang tua menerapkan konsep disiplin yang keliru sehingga pada akhirnya mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Permasalahan ini timbul dari orang tua yang menerapkan konsep disiplin yang otoriter. Mereka menerapkan tindakan pendisiplinan yang melampaui batas hingga akhirnya orang tua justru melakukan tindakan kekerasan di dalam rumah tangga. Di lain pihak, ada juga orang tua yang tidak terlalu memedulikan anak-anak mereka. Dengan alasan memberikan kebebasan bagi anak-anak, orang tua juga akhirnya harus berurusan dengan pihak yang berwajib karena dianggap mengabaikan tanggung jawab mereka terhadap anak-anak mereka. Hal ini sering terjadi di dalam keluarga yang menerapkan disiplin yang permisif.
Penelitian ini akan berfokus terhadap konsep disiplin yang otoriter dan permisif mengenai beberapa hal dasar yang digunakan orang tua untuk menetapkan konsep disiplin yang mereka pilih, langkah-langkah yang diambil untuk menerapkan konsep disiplin tersebut dan dampak akhir yang diberikan kepada anak-anak melalui tindakan pendisiplinan tersebut. Hasil dari penelitian ini pada akhirnya akan dibandingkan dengan konsep disiplin yang alkitabiah seperti yang telah tertulis di dalam Alkitab.
Berdasarkan studi literatur dan studi banding yang telah dilakukan, maka penulis merumuskan kesimpulan akhir penelitian ini bahwa konsep disiplin yang marak diterapkan di dalam keluarga Kristen masa kini masih belum bisa menjawab kebutuhan orang tua di dalam upaya mereka untuk mendidik anak-anak dengan benar. Oleh karena itu, setiap orang tua di dalam keluarga Kristen diajarkan untuk menerapkan konsep disiplin yang alkitabiah agar anak-anak boleh bertumbuh di dalam karakter, emosi, dan kerohanian yang baik untuk mengenal Allah yang benar
Karunia Rohani Jemaat Berdasarkan Teologi Paulus dan Implikasinya Bagi Usaha Pendayagunaan Jemaat Gereja Masa Kini
Karunia rohani adalah sebuah kemampuan atau fungsi khusus yang Allah berikan bagi setiap orang percaya dengan tujuan untuk membangun tubuh-Nya, yaitu gereja, di muka bumi ini. Paulus, seorang rasul yang merintis dan memimpin gereja mula-mula, beberapa kali menyebutkan dan menjelaskan tentang topik karunia rohani ini dalam tulisan-tulisannya yang tercatat di Perjanjian Baru, khususnya dalam surat Roma 12:3—8, 1 Korintus 12—14, dan Efesus 4:7—16. Ia menganalogikan orang-orang percaya sebagai anggota-anggota dari tubuh yang memiliki fungsinya masing-masing, namun dalam keperbedaan tersebut bekerja bersama-sama untuk kemuliaan Allah serta pembangungan jemaat.
Sayangnya, beberapa kali dalam sejarah kekristenan, gereja tidak mempraktikkan hal ini dengan tepat. Misalnya pada masa-masa sebelum Reformasi, gereja dipimpin oleh Paus secara absolut sehingga orang-orang percaya tidak berbagian dalam pembangunan tubuh Kristus sebagaimana semestinya. Setelah Reformasi, keadaan gereja semakin baik dengan adanya sistem dan struktur dalam gereja yang semakin alkitabiah. Namun demikian, pada zaman modern ini, orang-orang percaya kembali kurang menyadari peran mereka dalam pembangunan tubuh Kristus karena pengaruh perkembangan zaman yang individualis.
Dalam skripsi ini, penulis mengkaji topik karunia rohani dengan mengeksposisi tulisan-tulisan Paulus mengenai topik ini, kemudian penulis juga meninjau pendayagunaan karunia-karunia ini sepanjang sejarah kekristenan, dan akhirnya penulis menarik implikasinya bagi pendayagunaan karunia-karunia rohani tersebut bagi zaman ini—bagaimana pentingnya karunia-karunia tersebut dan bagaimana seharusnya setiap oknum dalam gereja menyikapinya.
Pertama-tama, para pemimpin di dalam gereja perlu menyadari peran utama mereka, yaitu memperlengkapi seluruh jemaat agar dapat menjalankan perannya masing-masing dengan maksimal di dalam tubuh Kristus. Setiap hal yang para pemimpin putuskan dan lakukan, baik dalam pembuatan program-program gereja atau upaya praktis lainnya, harus berdasarkan pada ingat-ingatan ini. Para pemimpin bukanlah solois di dalam tubuh Kristus. Mereka adalah dirigen yang mengarahkan dan menolong setiap orang percaya melantunkan perannya dengan maksimal sehingga tercipta sebuah harmoni yang indah dan mendatangkan damai sejahtera.
Sebaliknya, jemaat juga perlu menyadari bahwa mereka bukanlah penonton yang duduk di bangku dalam gedung gereja untuk menyaksikan pertunjukan-pertunjukan rohani. Mereka adalah bagian dari orkestra yang memiliki perannya masing-masing untuk memperlengkapi tubuh Kristus. Peran itu bisa menjadi sangat menonjol maupun kurang terlihat, namun hal tersebut tidak mengurangi atau menambahi pentingnya keberadaan setiap anggota di dalam tubuh Kristus. Semua sama-sama berfungsi dan diperlukan di dalam gereja
Tinjauan Terhadap Pemahaman dan Praktik Spiritualitas Ignatius Berdasarkan Alkitab
Kesibukan sudah bukan lagi menjadi gaya hidup yang asing pada masa kini.
Di era globalisasi ini, setiap orang, tidak peduli apakah anak-anak ataupun orang dewasa, berada dalam fase hidup yang penuh ketergesa-gesaan dan dipenuhi dengan serentetan aktivitas yang hams diselesaikan dengan cepat. Di dalam ritme kehidupan yang serba cepat, ada banyak orang mengalami dampak negatif dalam segi spiritualitas mereka. Berbagai orang dari segala jenis profesi setuju bahwa di dalam kesibukan, spiritualitas seringkali akhimya mengalami penuranan.
Fenomena ini pada dasamya mengimplikasikan dua hal. Pertama, kehidupan spiritualitas dan aktivitas sehari-hari merupakan dua hal yang sulit untuk dibuat berjalan beriringan secara seimbang. Akan ada ketimpangan dari salah satu di antaranya. Kedua, mayoritas orang masih menganggap aktivitas sehari-hari dan spiritualitas mempakan dua hal yang terpisah dan tidak dapat disatukan. Akibatnya, terdapat anggapan-anggapan bahwa bekerja lebih sekuler dari pada berdoa, ataupun pergi ke gereja mempakan hal yang lebih sakral dari pada pergi ke tempat hiburan. Keterpisahan yang terjadi seperti ini akan sangat menghambat pertumbuhan kerohanian seseorang. Di era yang serba cepat dan sibuk, aktivitas sehari-hari dan spiritualitas seseorang adalah dua hal yang dapat direkonsiliasi.
Adapun Ignatius dari Loyola, memiliki perhatian yang sama dengan apa yang terjadi pada konteks masa kini. Dalam spiritualitasnya, ia mengarahkan pembacanya untuk dapat memiliki hidup yang terintegrasi di hadapan Tuhan. Hal ini dibangun dari pemahamarmya akan Allah yang Mahahadir sehingga dalam segala tempat dan suasana, seseorang dapat tetap bertumbuh di dalam Kristus. la pun mencetuskan suatu dasar spiritualitasnya, yaitu menemukan Tuhan dalam segala hal (finding God in all things), yang kemudian diwujudkan dalam salah satu praktik spiritualitasnya yaitu, berkontemplasi dalam kehidupan sehari-hari (contemplative in action). Ignatius dari Loyola merupakan seorang berkebangsaan Spanyol yang ingin membagikan pengalaman hidupnya dengan Allah agar setiap orang percaya dapat memuliakan Allah lewat seluruh hidupnya
Memandang Penderitaan Melalui Perspektif The Already and The Not Yet dari Rasul Paulus
Penderitaan merupakan peristiwa yang dapat dialami setiap orang. Penderitaan telah membuat orang menangis, mempertanyakan atau bahkan meninggalkan Allah. Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah tidak ada? Bukankah kalau Allah ada maka penderitaan tidak ada? Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah sudah kalah dan tidak lagi berkuasa atas dunia? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui perspektif the already and the not yet dari rasul Paulus. Penulis menjelaskan bahwa penderitaan merupakan panggilan orang percaya karena berada di masa the already and the not yet, yaitu masa di mana Yesus Kristus telah menang atas kuasa dosa, kutuk alam semesta dan pemerintahan Iblis serta merupakan masa hadirnya pemerintahan Allah di dunia, meski semua ini belum mencapai kepenuhannya. Karena itu orang percaya tidak perlu takut atau meninggalkan iman Kristen.
Kata-kata kunci: Penderitaan, Paulus, Eskatologi, The Already and the Not Yet, Ciptaan Baru, Pemerintahan Allah, Pemerintahan Iblis, Kuasa Dosa, Kutuk Alam Semest
Studi tentang Kesaksian Pribadi Paulus dalam Surat-suratnya dan Implikasinya bagi Penggunaan Kesaksian Pribadi Pengkhotbah sebagai Ilustrasi
Ilustrasi merupakan bagian yang signifikan di dalam khotbah karena ilustrasi diperlukan untuk memberi penerangan terhadap penjelasan yang kurang niampu untuk dipahami pendengar. Dalam menyampaikan ilustrasi, pengkhotbah dapat menggunakan berbagai jenis, tetapi jenis yang paling berdampak bagi pendengar masa kini adalah eerita. Cerita tersebut dapat diambil dari berbagai sumber, baik dari cerita hidup bahkan eerita fiktif sekalipun. Namun, eerita akan menjadi lebih hidup apabila cerita tersebut berasal dari kesaksian pribadi pengkhotbah itu sendiri. Melalui kesaksian pribadi pengkhotbah, pendengar akan merasakan bahwa kebenaran yang disampaikan adalah nyata adanya. Ada banyak dampak positif dari penggunaan kesaksian pribadi, misalnya kesaksian pribadi pengkhotbah dapat membuat firman Tuhan semakin hidup, memberikan pengharapan kepada pendengar, menggugah pendengar untuk melakukan sesuatu berdasarkan firman Tuhan tanpa malu atau takut, memberi teladan bagi pendengar, menumbuhkan rasa hormat dan empati terhadap pengkhotbah, mempersiapkan pengkhotbah untuk membahas salah satu keprihatinan yang terdalam daii masalah jemaat, baik secara individu maupun komunal. Namun, kesaksian pribadi juga memiliki dampak negatif. Hal yang terutama adalah kesaksian pribadi dapat rnengaburkan fokus pendengar terhadap Injil, menimbulkan respons keraguan terhadap pengkhotbah, menimbulkan jarak antara pengkliotbah dan pendengar, serta menurunkan “harga” dan kualitas Idiotbah itu sendiri. Berangkat dari hal ini, sangat penting bagi pengkhotbah untuk memperhatikan penggunaan kesaksian pribadi yang tepat untuk menghindari dampak negatif
Kesaksian pribadi Paulus dalam beberapa bagian suratnya, yakni 2 Korintus 11:7-33,2 Korintus 12:1-10, dan 1 Timotius 1:12-17 telah memberikan contoh dari penggunaan kesaksian pribadi yang tepat. Melalui metode kepustakaan dan pendekatan deslcriptif-analitis dan sintesis yang dilakukan penulis, terdapat prinsip- prinsip yang dapat menjadi landasan bagi pengkhotbali dalam menggunakan kesaksian pribadi dalam ilustrasi. Prinsip-prinsip tersebut antara lain mencakup hal konten dan teknis. Dalam hal konten, pengkliotbah peiiu untulc memperhatikan kembali isi kesaksian pribadi, yang mana harusnya tidak menjadi fokus khotbah melainkan hanya menjadi penunjang kebenaran yang ingin disampaikan. Dalam hal teknis, pengkhotbah perlu untuk memperhatikan iiitensitas pcnyampaian dan pemilihan kata yang tepat
Hubungan antara Relasi Ayah-Anak dan Kedewasaan Spiritual dengan Depresi pada Usia Dewasa Muda.
Hubungan antara Relasi Ayah-Anak dan Kedewasaan Spiritual dengan Depresi pada Usia Dewasa Muda. Tesis, Program Studi: Magister Teologi, Sekolah Tinggi Teologi SAAT, Malang. Pembimbing: Heman Elia, M.Psi.
Kata Kunci: relasi ayah-anak, kedewasaan spiritual, depresi, usia dewasa muda
Pernyataan Masalah
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan berikut ini: Apakah terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan depresi pada usia dewasa muda? Apakah terdapat hubungan antara kedewasaan spiritual dengan depresi pada usia dewasa muda?
Metode
Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling yang bertujuan untuk mendapatkan dan mencakup sebanyak-banyaknya sampel yang representatif dan sesuai dengan tujuan penelitian. Data penelitian diolah dengan menggxmakan program statistik SPSS dengan teknik korelasi Rank Spearman.
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa dari Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Jumlah total subyek penelitian sebanyak 100 mahasiswa. Subjek penelitian ini terdiri dari 55 orang laki-laki dan 45 orang perempuan. Rata-rata responden berusia 24-25 tahun.
Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menggunakan alat ukur kuesioner untuk mengukur variabel relasi ayah-anak, kedewasaan spiritual, dan depresi. Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi ayah-anak adalah Perception of Parents Scale (POPS) dari Youniss dan Smollar, skala ini terdiri dari 18 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kedewasaan spiritual adalah Spiritual Maturity Index (SMI) yang disusun oleh Craig W. Ellison, instrumen ini terdiri dari 30 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur depresi adalah The Beck Depression Inventory yang disusim oleh Aaron T. Beck, instrumen ini terdiri dari 21 item.
Hasil
Hasil pengolahan data memperlihatkan adanya hubungan antara relasi ayah- anak dengan depresi pada usia dewasa muda. Hasil pengolahan data yang kedua menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kedewasaan spiritual dengan depresi pada usia dewasa muda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima, sedangkan hipotesis kedua ditolak.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: pertama, terdapat hubungan antara relasi ayah-anak dengan depresi pada usia dewasa muda. Semakin baik relasi ayah-anak, semakin rendah tingkat depresi pada usia dewasa muda. Kedua, tidak terdapat hubungan antara tingkat kedewasaan spiritual dengan tingkat depresi pada usia dewasa muda.
Saran
Saran yang peneliti berikan bagi penelitian selanjutnya adalah dengan menambahkan subjek penelitian yang lebih beragam, misalnya subjek penelitian dari kampus Kristen, berbagai gereja serta subjek penelitian dari tingkatan usia yang berbeda. Variabel tingkat depresi juga dapat dilihat dalam dinamika kelompok kecil (kelompok sel) yang saat ini banyak digiatkan di berbagai kalangan gereja. Penelitian lebih lanjut juga dapat dilakukan dengan memperhatikan variabel iman dan pengharapan dalam populasi non-Kristen maupim Kristen. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah Satu wacana tambahan bagi pandangan yang lebih baik mengenai para penderita depresi di kalangan Kristen. Penelitian ini sekaligus menjadi wacana bagi praktisi keluarga dan orang tua dalam menyadari pentingnya relasi ayah-anak dalam kesehatan mental anak, terkhusus dampaknya terhadap tingkat depresi anak
Analisis terhadap Konsep Eklesiologi-Trinitarian Miroslav Volf dari Perspektif Eklesiologi-Trinitarian Injili
Pada dua dekade terakhir kalangan injili diundang untuk terlibat dalam diskusi eklesiologi dan Trinitas, setelah selama beberapa waktu nampaknya isu ini tidak terlalu menarik bagi mereka. Bangkitnya diskusi trinitarian yang pada akhirnya memiliki signifikansi kepada berbagai area teologi yang lain menjadi topik yang menarik untuk dieksplorasi. Ini menjadi tantangan sekaligus harapan bagi kalangan injili untuk turut serta dalam memikirkan kembali konsep eklesiologi dari kerangka doktrin Allah Tritunggal. Interaksi teologis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman doktrin gereja dari perspektif trinitarian. Miroslav Volf merupakan satu dari beberapa tokoh yang berusaha mengeksplorasi mengenai apa gereja itu dan bagaimana seharusnya gereja hidup di dalam dunia. Berangkat dari kegelisahan teologis atas konteks yang terjadi dan latar belakang pengalaman hidup, dia mencoba menjawabnya dengan menjadikan gereja sebagai solusi atas permasalahan yang ada. Melalui kerangka teologi trinitarian sosial yang berpusat kepada perichoresis, dia berpendapat bahwa gereja adalah komunitas yang merupakan gambar refleksi dari komuni kasih Allah Tritunggal. Karakteristik persekutuan Ilahi dari Trinitas yang senantiasa memberi diri di dalam kasih, dengan puncaknya di atas kayu salib, perlu menjadi identitas yang dimiliki oleh komunitas orang percaya. Gereja menjadi komunitas yang penuh kasih dan penerimaan, pengampunan, dan rekonsiliasi, sehingga gereja disebut sebagai komunitas yang menghidupi teologi merangkul. Gereja yang demikian menjadikan dirinya sebagai komunitas egalitarian-ekumenikal yang memiliki semangat kesetaraan sekaligus keterbukaan, baik di dalam relasi komunitas itu sendiri sampai kepada relasi gereja di tengah dunia. Konsep berpikir Volf perlu mendapatkan perhatian dari kalangan injili untuk memikirkan ulang pemahaman terhadap gereja dari perspektif trinitarian. Gereja merupakan komunitas yang merefleksikan persekutuan kasih Allah Tritunggal. Gereja perlu memahami dirinya sebagai komunitas yang bersifat relasional. Trinitarian relasional dapat menjadi kerangka yang dipakai untuk membangun doktrin gereja, di mana Allah Tritunggal berelasi di dalam ketiga Pribadi Ilahi-Nya, yang intim, unik dan khusus, tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan. Pribadi Ilahi yang berelasi di dalam diri Allah Tritunggal dinyatakan dalam diri Yesus Kristus, sehingga manusia dapat berbagian dalam mengalami kesempurnaan relasi kasih Ilahi. Paradigma kristo-trinitarian seperti ini menjadikan setiap pribadi di dalam komunitas gereja sadar bahwa mereka memiliki kesamaan esensi sebagai gambar Allah dan ciptaan yang ditebus di dalam Kristus, sekaligus perbedaan masing-masing pribadi yang unik. Ini menjadikan gereja senantiasa mengusahakan dirinya sebagai komunitas yang melestarikan kasih yang harmonis, di dalam kesamaan dan keberbedaan, seperti dalam diri Trinitas. Keserupaan dengan Kristus merupakan identitas trinitarian yang dihidupi masing-masing pribadi di dalam komunitas yang senantiasa berelasi dengan harmonis dalam kasih. Dengan demikian, gereja menjadi komunitas relasional-harmoni, yang hidup sebagai gambar yang merefleksikan persekutuan kasih Allah Tritunggal
Tinjauan Konsep Gereja Misioner berdasarkan Missio Dei Kaum Injili dan Implikasinya bagi Gereja Kristen Injili Indonesia Bengkulu.
Pergumulan untuk menjadi Gereja Misioner adalah pergumulan gereja sepanjang masa. Gereja-gereja mengenakan istilah ini sebagai identitas mereka di tengah-tengah dunia. Namun, dalam pelaksanaannya tidak sedikit gereja yang mengalami kesalahpahaman. Pada umumnya kesalahpahaman ini diakibatkan oleh minimnya pemahaman mengenai Gereja Misioner itu sendiri yang berakar dari kesalahpahaman dalam memaknai misi. Untuk dapat memahaminya, sejatinya gereja perlu mengenal posisi mereka dalam misi Allah atau missio Dei. Gereja adalah komunitas dari missio Dei. Allah Tritunggal mengundang dan memakai seluruh umatnya dalam rangka menjadi saksi-Nya di dalam dunia. Pemahaman ini harus sungguh-sungguh gereja maknai sebelum gereja sibuk memikirkan hal-hal yang harus dilakukan oleh gereja misioner.
Dalam penelitian ini, penulis akan secara khusus membahas mengenai GKII Bengkulu, salah satu gereja yang menggumulkan visi menjadi gereja misioner. Setelah puluhan tahun gereja melakukan usahanya, penulis mendapati bahwa masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian gereja. Oleh karena itu, metode penelitian yang penulis lakukan adalah analisis SWOT yang didasarkan pada dua hal, yaitu konsep gereja misioner berdasarkan missio Dei kaum Injili dan keadaan GKII Bengkulu. Hasil dari analisis tersebut merupakan evaluasi bagi gereja. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapati bahwa hipotesa awal penulis sejalan dengan hasil akhir, yaitu bahwa GKII Bengkulu adalah salah satu gereja yang berada di persimpangan jalan. Maka dari itu, pada bagian akhir penulis memberikan sejumlah saran yang dapat menjadi pertimbangan gereja dalam rangka menjadi gereja misioner