Repository UNTAR (Universitas Tarumanagara)
Not a member yet
43693 research outputs found
Sort by
Pengaruh Keadilan Organisasi terhadap Komitmen Organisasi dengan Mediasi Keterikatan Kerja pada Pegawai Tetap PT X
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keadilan organisasi terhadap komitmen organisasi dan peran keterikatan kerja sebagai mediator. Pengambilan data dilakukan di PT X, anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang fabrikasi baja, otomotif dan pekerjaan penunjang konstruksi seperti pekerjaan tanah dan instalasi rangka baja. Partisipan dalam penelitian ini adalah pegawai yang bekerja di PT X dan sudah berstatus sebagai pegawai tetap, sebanyak 190 orang. Pengukuran komitmen organisasi dilakukan menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari Mowday, Steers & Porter (1979), keadilan organisasi menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari Colquitt (2001), dan keterikatan kerja menggunakan alat ukur Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9) dari Schaufeli, Bakker & Salanova (2006). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh langsung keadilan organisasi terhadap komitmen organisasi, dengan nilai korelasi sebesar 0,66 dan tingkat kontribusi sebesar 43%. Keterikatan kerja berperan sebagai mediator hubungan antara keadilan organisasi dan komitmen organisasi dengan nilai korelasi total sebesar 0,5784 dan nilai kontribusi meningkat sebesar 59%
Hubungan Role Stress, Technostress, dan Kinerja Guru Sekolah Menengah Atas
Guru diharapkan memiliki empat standar kompetensi dalam bekerja, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. Dalam memenuhi kompetensi tersebut, penggunaan teknologi juga dilibatkan untuk bekerja. Adanya tuntutan yang banyak dapat menimbulkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan role stress, technostress, dan kinerja pada guru di Sekolah Menengah Atas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif-korelasional. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian terdiri dari tiga, yaitu Technostress Scale, Teacher Role Stressors Survey, dan Individual Work Performance Questionnaire. Total partisipan yang sudah didapatkan dalam penelitian ini sebanyak 168 orang. Data yang didapatkan diolah dengan menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistic 26 dengan analisis utama menggunakan korelasi Spearman dan Pearson, serta dilanjutkan dengan analisis uji beda. Uji korelasi menggunakan Pearson jika hasil dari uji normalitas menunjukkan data terdistribusi secara normal. Jika hasil uji normalitas menunjukkan data tidak terdistribusi secara normal, maka uji korelasi dilakukan dengan menggunakan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi negatif signifikan antara role stress dan kinerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada korelasi positif signifikan antara technostress dan role stress. Namun, tidak ada korelasi antara kinerja dan technostress
Peran Person-Environment Fit terhadap Work Engagement pada Karyawan yang Bekerja di Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pekerjaan yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata di Indonesia, karyawan harus mempraktikkan perilaku kerja yang positif seperti work engagement (WE). Penelitian sebelumnya membuktikkan bahwa person- environment fit (P-E fit) sebagai sebuah job resource berperan dalam menentukan tingkat WE seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran P-E fit terhadap WE pada karyawan yang bekerja di sektor pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 202 karyawan yang bekerja pada tour and travel agent di Jakarta dan Surabaya. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring. P-E fit diukur menggunakan Perceived Person-Environment Fit Scale (PPEFS) oleh Chuang et al. (2016), dan WE diukur menggunakan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) oleh Schaufeli et al., (2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa P-E fit memiliki peran yang positif dan signifikan terhadap work engagement sebesar 67.2% dengan nilai F = 410.32 dan p = .672
Gambaran strategi coping stress remaja dengan orang tua bercerai di Kota Tangerang
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran coping stress pada remaja pasca perceraian orang tua. Keadaan yang berbeda harus dihadapi oleh remaja akibat perceraian orang tua. Remaja harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan sosial, tempat tinggal, dan keadaan finansial. Keadaan yang berubah tersebut dapat menyebabkan tekanan berupa stres pada remaja yang mengalaminya. Penyebab stres tersebut membuat remaja harus mengatasinya dengan strategi coping stress. Coping stress adalah usaha seseorang dalam mengatasi keadaan yang berat, dengan kata lain adalah usaha seseorang dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupannya. Penelitian ini dilakukan terhadap empat partisipan, yaitu partisipan dengan usia 15-19 tahun, yaitu remaja pasca orangtua bercerai. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara dan hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa sumber stres yang dirasakan berasal dari dalam diri sendiri, lingkungan, dan keluarga. Kemudian, reaksi stres yang timbul dan dirasakan oleh keempat partisipan berupa reaksi fisik dan reaksi psikologis. Keempat partisipan dapat mengatasi stres yang dialami dengan menggunakan kedua bentuk coping yaitu problem focused coping dan emotion focused coping
Gambaran Self-Regulated Learning Pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Secara Daring
Penyebaran COVID-19 ini turut berdampak dalam dunia pendidikan. Pemerintah Indonesia menekan penyebaran COVID-19 dengan melakukan pembelajaran secara daring. Sejalan dengan hal ini, maka self-regulated learning perlu diterapkan dalam melaksanakan pembelajaran secara daring. Self-regulated learning merupakan salah satu hal yang penting untuk meningkatkan motivasi belajar pada siswa. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran self-regulated learning pada mahasiswa selama pembelajaran secara daring. Penelitian ini melibatkan 304 partisipan yang terdiri dari 128 laki – laki dan 176 perempuan. Alat ukur untuk variabel self-regulated learning yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah alat ukur self-regulated learning yang dibuat oleh Herdiati (2014) dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negri Jakarta yang berdasarkan teori serta dimensi-dimensi yang dikemukan oleh Zimmerman (1989). Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dan jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non-experimental yang bersifat deskriptif. Peneliti melakukan kategorisasi pada self-regulated learning pada partisipan tersebut dan mendapatkan hasil bahwa kategori sedang merupakan kategori paling banyak sebesar 95,7%. Peneliti juga mendapatkan data pada 304 partisipan memilki self-regulated learning yang cenderung tinggi yang berarti pada umumnya mahasiswa sudah dapat menerapkan self-regulated learning dengan cara memotivasi diri, mencari literatur tambahan untuk menambah wawasan, dan juga saling bantu antar mahasiswa dalam pembelajaran. Selain itu peneliti juga melakukan uji self-regulated learning berdasarkan jenis kelamin dan usia sehingga mendapatkan hasil bahwa perempuan memiliki self-regulated learning lebih tinggi dari pada laki-laki serta memiliki perbedaan apabila ditinjau berdasarkan usia
Hubungan Antara Academic Self-Efficacy dengan Academic Burnout Pada Siswa Kelas X dan XI SMA X
Kelelahan akademik merupakan perasaan lelah yang dialami oleh individu akibat adanya tuntutan yang tinggi di bidang akademik. Kelelahan ini dapat membuat individu mengalami penurunan dalam kualitas belajar nya. Salah satu faktor yang dapat menghindari individu dari rasa lelah ini yaitu efikasi diri akademik. Efikasi diri akademik merupakan kepercayaan individu pada dirinya sendiri di bidang akademik. Individu yang memiliki kepercayaan diri yang baik di bidang akademik akan membantu dirinya untuk terhindar dari rasa lelah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri akademik dengan kelelahan akademik. Untuk mengetahui hasil dari tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan menggunakan kuantitatif korelasional. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 306 siswa aktif kelas X dan XI di salah satu SMA Negeri di Kota Serang dengan penyebaran non-probability purposive sampling. Analisis penelitian ini menggunakan Teknik pearson correlation dan menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan negatif dan signifikan antara efikasi diri akademik dengan kelelahan akademik pada siswa kelas X dan XI di SMAN X kota serang dengan nilai korelasi -0,505** p<0.01, hal ini berarti individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan memiliki tingkat kelelahan akademik yang rendah
Vicarious Shame dalam Konteks Outgroup-Ingroup Remaja
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran vicarious shame outgroup-ingroup pada remaja. Partisipan penelitian ini adalah remaja berusia 14-21 tahun sebanyak 238 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik convenience sampling. Vicarious shame outgroup-ingroup diukur menggunakan vignette yang dikembangkan peneliti. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara vicarious shame ingroup dan vicarious shame outgroup pada remaja
Peran Keterlibatan Ayah Terhadap Harga Diri Remaja
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keterlibatan ayah terhadap harga diri remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non-eksperimental dan melibatkan 125 remaja. Terdapat dua kuisoner yang digunakan dalam pengambilan data, yaitu alat ukur Father Involvement Scale oleh Goncy dan Van Dulman (2010), alat ukur Self Esteem Scale oleh Rosenberg (1965). Pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan program IBM Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berperan terhadap harga diri remaja ( t = 6.233, p = 0,000, R² = 0,235). Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada orang tua khususnya ayah untuk mempertimbangkan dalam memberikan kenyaman emosional untuk remaja dan untuk remaja sebagai gambaran mempersepsikan bahwa keterlibatan ayah berperan dalam mencapai suatu tujuan yang baru yang ingin jelas dijelajahi secara luas, baik didukung kondisi internal maupun eksternal
Hubungan Beban Kerja dengan Work engagement pada Tenaga Kesehatan: Psychosocial safety climate sebagai Moderator
Tenaga kesehatan adalah individu yang memiliki pengetahuan atau keahlian khusus untuk mengabdikan diri dalam bidang kesehatan. Tenaga kesehatan dituntut untuk memberikan kualitas layanan terbaik, sehingga perlu diperhatikan mengenai work engagement dari tenaga kesehatan. Work engagament sendiri dapat dipengaruhi oleh faktor internal yaitu kepribadian dan faktor eksternal antara lain beban kerja dan psychosocial safety climate. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel psychosocial safety climate dapat memoderasi hubungan beban kerja dengan work engagement pada tenaga kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan pendekatan inferensial. Partisipan penelitian sebanyak 215 subyek dengan kriteria bekerja menjadi tenaga kesehatan, sudah bekerja minimal enam bulan, berusia 20-60 tahun dan berdomisili tempat tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Partisipan dipilih menggunakan non probability sampling dengan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah The Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Job Demands-Resources Questionnaire (JD-RQ) serta Psychosocial Safety Climate Survey (PSC-12). Berdasarkan uji korelasi antara variabel beban kerja dengan work engagament menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan work engagement (p > 0.05). Pada analisis penelitian Moderated Regression Analysis (MRA) menunjukan nilai β = 0.004 yang menggambarkan bahwa variabel interaksi bernilai positif, sehingga dapat disimpulkan ketika psychosocial safety climate meningkat, maka hubungan beban kerja dengan work engagement akan mengalami peningkatan dan ketika psychosocial safety climate menurun, maka hubungan beban kerja dengan work engagement akan mengalami penurunan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel psychosocial safety climate dapat memoderasi hubungan beban kerja dengan work engagement
Pengaruh Kualitas Kerhidupan Kerja pada Karyawan Divisi HRD dan Sustainability di PT X
Komitmen organisasi karyawan dapat dipengaruhi dengan adanya ekspektasi mengenai kehidupan kerja di perusahaan tempat bekerja. Menurut Feldman (1993) kualitas kehidupan kerja merupakan kualitas hubungan antara karyawan dan lingkungan kerja secara keseluruhan. Pada PT X terdapat banyak karyawan yang mencari pekerjaan di perushaan lain sehingga terjadi peningkatan karyawan yang berpindah dan disebut sebagai turnover. Turnover adalah sikap perilaku seseorang untuk meninggalkan organisasi, dan turnover menggambarkan tindakan aktual untuk keluar dari organisasi (Aydogdu & Asikgil, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap komitmen organisasi pada karyawan. Partisipan dalam penelitian ini adalah 169 orang karyawan pada PT X dengan Teknik pengambilan data yaitu purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan penyebaran kuesioner Walton Quality Work Life (α = 0,896) dan Organizational Commitment Questionnaire (α = 0,694). Dengan menggunakan uji korelasi Pearson juga menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja terhadap komitmen organisasi memiliki peran positif dengan r = 0.422**, dan p = 0.000. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas kehidupan kerja memberikan sumbangan sebesar 17% terhadap komitmen organisasi pada karyawan PT X, sedangkan sisanya 83% merupakan sumbangan dari variabel lain yang merupakan faktor diluar penelitian. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi PT X dalam membuat kebijakan untuk meningkatkan komitmen organisasi