Repository UNTAR (Universitas Tarumanagara)
Not a member yet
43693 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Perilaku Impulsive Buying dengan Subjective Well-Being Pada Dewasa Awal
Perkembangan dalam bidang pemasaran telah mendorong banyak perusahaan untuk melakukan strategi pemasaran yang kreatif sehingga dapat menarik minat pelanggan dalam membeli produk mereka. Namun, ini juga telah memicu fenomena impulsive buying yang merupakan suatu tindakan untuk berbelanja tanpa adanya perencanaan sebelumnya, ada juga beberapa penelitian menunjukkan tindakan tersebut dapat menghasilkan dampak emosional negatif bagi individu, yang pada akhirnya berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari. Fenomena impulsive buying ini juga umum terjadi pada orang dewasa awal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah terdapat korelasi antara impulsive buying dengan subjective well-being pada orang dewasa awal. Subjective well-being sendiri juga merupakan kualitas hidup yang diinginkan oleh banyak orang Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan menerapkan teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara daring sesuai kebutuhan peneliti. Terdapat 366 partisipan berusia 18-25 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Alat yang digunakan untuk mengukur impulsive buying adalah impulsive buying tendency scale (IBTS) dan subjective well-being digunakan Satisfaction With Life Scale (SWLS) serta positive affect and negative affect scale (PANAS). Hasil analisis data utama penelitian menunjukkan korelasi negatif antara perilaku impulsive buying dan subjective well-being, dengan nilai (r = -.140 dan p = .007 < .05) yang menyatakan bahwa jika impulsive buying tinggi maka tingkat subjective well-being rendah begitu juga sebaliknya
Hubungan antara Future Anxiety dengan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyelesaikan Skripsi
Beberapa penelitian menemukan bahwa mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi cenderung merasakan yang dinamakan kecemasan akan masa depan (future anxiety). Fenomena ini umum terjadi dikarenakan usia ini adalah usia awal untuk mulai memiliki pekerjaan dan keluarga. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi adalah kelompok individu yang akan mendominasi kelompok kerja kita di beberapa tahun yang akan datang, sehingga fungsi sosial dan keadaan psikologis mereka sangat perlu kita perhatikan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan antara future anxiety dengan psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara online sesuai kebutuhan peneliti. Partisipan dari penelitian ini terdiri dari 377 partisipan yang memiliki rentang usia 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur Future Anxiety adalah Future Anxiety Scales (FAS) sedangkan psychological well-being menggunakan alat ukur psychological well-being scales. Hasil penelitian yang didapat menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif Syang signifikan antara future anxiety dengan psychological well-being, dengan nilai r= .523** dan p= .000 < .05. Hal ini juga berarti semakin tinggi future anxiety maka semakin rendah psychological well-being, dan semakin rendah future anxiety maka akan semakin tinggi psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skrips
Faktor-Faktor Penyebab Individu Mengalami Psychological Distress (Studi Narrative Review)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan seorang individu mengalami psychological distress dengan data yang diambil berupa penelitian-penelitian sebelumnya. Psychological distress merupakan sebuah kondisi emosional yang tidak nyaman yang dialami seseorang sebagai tanggapan terhadap tuntutan atau stres tertentu yang dapat mengakibatkan penderitaan, baik jangka pendek maupun panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah narrative review. Narrative review adalah tinjauan kritis terhadap penelitian yang sudah pernah diterbitkan mengenai topik tertentu. Hasil kajian menemukan empat artikel penelitian kuantitatif yang relevan dengan tujuan penelitian, kemudian ditemukan enam faktor yang menyebabkan psychological distress, yaitu: (a) attachment anxiety, (b) reflective functioning, (c) well-being, (d) kecanduan media sosial, (e) stres akademik, dan (f) koneksi komunitas
Hubungan Antara Self-Compassion Dengan Subjective Well-Being Pada Remaja Broken Home
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara Self-Compassion dan Subjective Well-Being pada remaja yang berasal dari keluarga broken home. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kuantitatif korelasional, dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring yang disebarkan melalui media sosial. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 315 remaja yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Self-Compassion dan Subjective Well-Being, dengan nilai korelasi Spearman sebesar 0.621 (p < 0.05). Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat Self-Compassion, semakin tinggi pula tingkat Subjective Well-Being remaja. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan Self-Compassion dapat memberikan kontribusi positif terhadap Subjective Well-Being remaja. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa, keluarga, dan profesional psikologi mengenai pentingnya Self-Compassion dalam meningkatkan Subjective Well-Being individu, serta mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini
Body Appreciation sebagai Bentuk Validitas Konstruk Self Acceptance Scale Penyandang Disabilitas Fisik
Penelitian ini bertujuan untuk menguji body appreciation sebagai informasi psikometris khususnya construct validity (convergent evidence) dari alat ukur penerimaan diri (self-acceptance). Body appreciation adalah penghargaan individu terhadap kondisi fisik yang dimiliki. Body appreciation ditandai dengan melihat bentuk tubuh secara positif, memiliki kepuasan pada kondisi fisik/bentuk tubuh, dan melihat tubuh sebagai sesuatu yang berharga. Penerimaan diri (self- acceptance) adalah kemampuan dalam menerima pandangan/perasaan serta perlakuan negatif dari orang lain. Alat ukur self-acceptance yang akan diuji adalah Self Acceptance Scale (SAS) bagi Penyandang Disabilitas Fisik (PDF). Partisipan pada penelitian ini berjumlah 118 remaja penyandang disabilitas fisik, berusia 12 s.d. 21 tahun (M = 17.15; SD = 2.293). Untuk menguji body appreciation sebagai construct (convergent evidence) dari pengukuran self acceptance, digunakan metode korelasi Pearson Correlation. Berdasarkan hasil analisis, skor alat ukur penerimaan diri (SAS-PDF), dapat diprediksi oleh body appreciation (tingkat penghargaan individu terhadap tubuhnya). Penelitian ini dapat membantu guru atau pendamping remaja dalam memberikan pemahaman mengenai disabilitas/keterbatasan fisik. Guru dapat mendorong siswa untuk menghargai tubuh yang dimilikinya. Dengan menghargai tubuh, remaja penyandang disabilitas fisik dapat lebih melakukan penerimaan diri. Melalui penerimaan diri, diharapkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh remaja dapat lebih efektif
Self-Acceptance sebagai Prediktor dari Self-Compassion (Studi pada Remaja Penyandang Disabilitas)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-acceptance dalam memprediksi self-compassion. Self-acceptance atau penerimaan diri merupakan kemampuan dan kemauan individu dalam menerima apa yang diinginkan, dirasakan, serta berbagai kecakapan dan keterbatasan pada diri. Self-compassion atau welas kasih kepada diri adalah pemikiran yang positif terhadap diri sendiri dengan memberikan kebaikan dan perhatian terhadap diri. Partisipan berjumlah 118 remaja penyandang disabilitas berusia 12 hingga 21 tahun (M = 17.15; SD = 2.293). Dengan menggunakan metode uji korelasi Pearson Correlation, didapatkan hasil bahwa self-acceptance memiliki hubungan positif dengan self-compassion, r(118) = 0.266, p < 0.01. Artinya, semakin remaja dapat menerima dirinya (memiliki self-acceptance) semakin remaja memiliki self-compassion atau menaruh perhatian terhadap diri dan berusaha memberikan kebaikan pada diri dengan berusaha meningkatkan kualitas diri. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru dalam membantu siswa, khususnya penyandang disabilitas fisik, untuk memahami dirinya dengan baik
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDIT REPORT LAG PADA PERUSAHAAN INFRASTRUKTUR, UTILITAS, DAN TRANSPORTASI TAHUN 2021-2023
Stakeholders require relevant financial information to make informed decisions.
However, audited financial statements of publicly traded entities are often
submitted late to the Financial Services Authority (OJK). The ongoing process of
completing a series of financial statement audits may lead to delays in the timely
submission and publication of these reports. This study aims to analyse how audit
report lag in infrastructure, utilities, and transportation companies listed on the
Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2021 to 2023 is influenced by the size of the
Public Accounting Firm (KAP), auditor switching, profitability (ROA), company
size, and ownership dispersion. This research adopts a quantitative approach using
a multiple linear regression analysis model, with secondary data derived from
financial statements and annual reports. The data were processed and tested using
SPSS 25. The results indicate that auditor switching does not have a significant
effect on audit report lag, while the size of the KAP, ROA, company size, and
ownership dispersion have a significant negative effect.
Keywords: Audit Report Lag; Audit Firm Size; Auditor Switching; ROA;
Company Size; Ownership.
Para pemangku kepentingan memerlukan informasi keuangan yang relevan untuk
membuat keputusan. Laporan keuangan entitas go public yang telah diaudit
seringkali dikirim terlambat kepada Otoritas Jasa Keuangan. Proses yang
berlangsung dalam penyelesaian rangkaian audit laporan keuangan berpotensi
memicu keterlambatan perusahaan dalam menyampaikan dan mempublikasikan
laporan keuangan yang telah ditentukan. Tujuan dari penelitian ini untuk
menganalisis bagaimana audit report lag di perusahaan infrastruktur, utilitas, dan
transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2021-2023
dipengaruhi oleh ukuran KAP, auditor switching, profitabilitas, ukuran perusahaan,
dan ownership dispersion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan model analisis regresi linear berganda, serta data sekunder berupa laporan
keuangan dan laporan tahunan. Data tersebut kemudian diolah dan diuji
menggunakan SPSS 25. Hasil uji menunjukkan bahwa auditor switching tidak
berpengaruh signifikan terhadap audit report lag, sementara ukuran KAP, ROA,
ukuran perusahaan, dan ownership dispersion memiliki pengaruh negatif yang
signifikan.
Kata Kunci: Ukuran KAP, Auditor Switching, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan,
dan Ownership Dispersion
Scoping Review: Dampak Self-Regulated Learning pada Mahasiswa
Mahasiswa memerlukan kemampuan self-regulated learning (SRL) agar mampu bertahan dan sukses di bidang akademis. SRL merupakan suatu proses dinamis ketika pelajar mengaktifkan dan mempertahankan tindakan, pikiran, dan emosinya untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan oleh individu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merangkum literatur yang ada mengenai dampak SRL pada mahasiswa. Scoping review ini dilaksanakan dan dilaporkan berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR). Sebanyak enam database dilibatkan dalam proses pencarian literatur yang relevan dengan menggunakan kata kunci seperti “self-regulated learning” dan “college / university student”. Sebanyak 654 artikel yang terbit di antara tahun 2014 dan 2024 teridentifikasi. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan enam kriteria inklusi dan tiga kriteria eksklusi, serta dievaluasi untuk mengetahui kelayakannya berdasarkan empat kriteria (partisipan, kerangka teoretis, pengukuran, dan hasil penelitian). Berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, dan kelayakan; diperoleh 16 artikel. Dari enam belas artikel tersebut, diperoleh sebanyak 12 dampak SRL. Keduabelas dampak SRL tersebut dikategorisasi berdasarkan teori ekologi yang terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu personal, microsystem, dan mesosystem. Dengan mengetahui berbagai dampak SRL pada mahasiswa, diharapkan para penyelenggara atau praktisi pendidikan tinggi dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya memberikan bimbingan untuk meningkatkan/mempertahankan kemampuan SRL mahasiswa
Peranan Kontrol Diri terhadap Perilaku Phubbing pada Emerging Adulthood
Individu yang berada dalam masa peralihan remaja akhir menuju dewasa awal disebut sebagai emerging adulthood, dalam fase ini individu cukup sulit untuk dipisahkan dari smartphonenya. Penggunaan smartphone yang berlebihan menimbulkan adanya fenomena phubbing. Phubbing dapat dicegah dengan adanya kontrol diri yang tinggi di dalam diri individu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meneliti “Peranan Kontrol Diri terhadap Perilaku Phubbing pada Emerging Adulthood”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan instrumen The Brief Self Control (BSCS) dari Tangney et al. (2004) untuk mengukur variabel kontrol diri dan Generic Scale of Phubbing (GSP) dari Chotpitayasunondh dan Douglas, (2018) untuk mengukur variabel perilaku phubbing. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 389 orang yang berusia 18 hingga 25 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat peran antara variabel kontrol diri terhadap variabel phubbing sebesar 20% atau R² = .200
ANALISIS PENILAIAN RISIKO DETEKSI (DETECTION RISK) PADA PERENCANAAN PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN X.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian risiko
deteksi (detection risk) dalam perencanaan pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD) di Pemerintah Kabupaten X. Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan
oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menilai kewajaran dan keakuratan laporan
keuangan yang disusun oleh entitas pemerintah daerah. Risiko deteksi merupakan salah satu
komponen kunci dalam risiko audit, yang melibatkan kemungkinan bahwa auditor gagal
mendeteksi kesalahan yang signifikan. Faktor-faktor seperti kompleksitas transaksi, sistem
pengendalian internal, dan kualitas data mempengaruhi tingkat risiko deteksi, sehingga auditor
perlu merancang prosedur pemeriksaan yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif dengan data primer yang diperoleh dari wawancara dan kuesioner,
serta data sekunder dari dokumentasi laporan keuangan dan hasil audit sebelumnya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa BPK menetapkan risiko pemeriksaan sebesar 5% untuk entitas
Pemerintah Kabupaten X. Terdapat 84 akun dengan risiko deteksi sedang, yang memerlukan
pengujian moderat, dan 12 akun dengan risiko deteksi tinggi, yang memerlukan pengujian
terbatas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan sistem
pengendalian internal dan meningkatkan kualitas audit di Pemerintah Kabupaten X.
Kata Kunci: Risiko deteksi, Pemeriksaan Laporan Keuangan, Penilaian Risiko Audit Sistem
Pengendalian Internal
This study aims to analyze the factors influencing the assessment of detection risk in the
planning of financial statement audits for the Local Government Financial Statements (LKPD)
of X Regency. The audit of these financial statements is conducted by the Supreme Audit Board
(BPK) to assess the fairness and accuracy of financial reports prepared by local government
entities. Detection risk is a key component of audit risk, reflecting the possibility that auditors
may fail to identify significant errors. Factors such as transaction complexity, internal control
systems, and data quality impact the level of detection risk, necessitating well-designed audit
procedures.The study employs both qualitative and quantitative approaches, drawing on
primary data from interviews and questionnaires, as well as secondary data from financial
reports and previous audit results. The findings reveal that BPK sets the audit risk at 5% for X
Regency. There are 84 accounts with moderate detection risk, requiring moderate testing, and
12 accounts with high detection risk, requiring more limited testing. The study aims to offer
recommendations for improving internal control systems and enhancing audit quality in X
Regency.
Keywords: Detection risk, Financial Statement Audit, Audit risk assessment, Internal Control
System