Repository UNTAR (Universitas Tarumanagara)
Not a member yet
43693 research outputs found
Sort by
Perancangan buku ilustrasi mengenai ragam jenis tanaman herbal yang bermanfaat untuk kesehatan (DKV - 3068)
Tanaman herbal merupakan jenis tanaman obat yang memiliki fungsi dan khasiat yang telah dipercaya untuk dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Terdapat beberapa bagian tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai obat seperti daun, batang, buah, akar, dan bunga. Di zaman sekarang, khususnya generasi muda / millenial, tanaman obat yang bersumber dari alam kurang popular di kalangan mereka. Mereka lebih mengenal obat-obatan medis dari anjuran dokter untuk dikonsumsi saat sakit. Masih banyak dari mereka yang kurang mengenal dan mengetahui tentang tanaman herbal serta manfaatnya untuk kesehatan disebabkan kurangnya pengetahuan tentang tanaman herbal. Maka dari itu diperlukannya solusi mengenai hal tersebut, yaitu dengan dibuatnya perancangan buku ilustrasi sebagai media untuk memperkenalkan akan ragam jenis tanaman herbal beserta manfaatnya untuk kesehatan. Buku ilustrasi memiliki potensi untuk dalam penerapan informasi seperti ini, dengan adanya ilustrasi dapat menarik minat dan perhatian para pembaca.
Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode kualitatif dengan melakukan survei kuesioner yang disebar secara online melalui gform kepada para target audience yang berusia 20-30 tahun serta melakukan studi literatur yang diambil dari berbagai sumber seperti jurnal, artikel, website, dan buku. Dengan dibuatnya pengembangan ini, diharapkan dapat membantu terutama para generasi muda agar dapat menambah wawasan dan mengenal lebih banyak mengenai tanaman herbal yang ada di Indonesia
Perancangan desain komunikasi visual pada tokoh horor Indonesia (DKV - 3081)
Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi dan internet menjadi sangat besar sehingga muncul pekerjaan yang dapat dikerjakan secara luring melewati internet, dari youtuber, influencer, dan live streaming. Salah satu cabang budaya yang muncul dari live streaming adalah VTuber. VTuber adalah istilah dari singkatan virtual youtuber, dimana manusia asli menggunakan avatar karakter anime untuk membuat konten live streaming di platform Youtube atau Twitch. Di tahun 2016, muncul adanya VTuber pertama bernama Kizuna Al, namun dengan munculnya pandemi Covid-19, industri VTuber berkembang secara pesat. Metode yang digunakan saat perancangan laporan tugas akhir ini menggunakan data primer dengan mewawancarai penggemar virtual youtuber dan melakukan survei dan data sekunder dengan melakukan studi pustaka dari berbagai penulisan. Visual branding merupakan hal penting untuk virtual youtuber, hal tersebut itu digunakan untuk membuat virtual youtuber tersebut menonjol dari yang lainnya dan mudah diingat dibenak penggemar. Mengamati dari roster virtual youtuber, adanya kurang desain virtual youtuber yang berbasis tokoh horor Indonesia, banyak dari mereka melekat dengan desain atau motif budaya Jepang atau western meskipun mereka adalah virtual youtuber yang berasal dari Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh budaya anime yang sangat terikat dengan budaya Jepang. Dengan itu, tujuan perancangan ini betujuan untuk menghasilkan model virtual youtuber dengan desain yang terinspirasi dari tokoh horor Indonesia sebagai visual branding utama, dengan target sasaran berusia 19-24 tahun dan sebagai penggemar virtual youtuber
Gambaran Psychological Well-being pada Generasi "The Club Sandwich"
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menggambarkan psychological well-being pada generasi “the club sandwich”. Penelitian ini melibatkan 161 individu yang sudah dewasa dengan rentang usia 30 – 65 tahun yang memunyai beban tanggungan yaitu keluarga inti dan orang tuanya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ryff’s Psychological Well-Being Scale (1989). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pada dimensi yang terdapat dalam teori psychological well-being, partisipan mayoritas berada dalam kategori skor sedang dan memiliki variasi antara skor rendah dan tinggi pada masing-masing dimensi. Hal ini menunjukan bahwa pentingnya dukungan keluarga, penguasaan terhadap lingkungan, pertumbuhan diri sendiri, memiliki tujuan hidup, dan penerimaan diri dalam meningkatkan psychological well-being pada generasi “the club sandwich”
Job Embeddedness dan Task Performance pada Frontliner Bank X: Peran Grit sebagai Moderator
Perkembangan yang pesat dan modern telah terjadi pada industri perbankan di Indonesia, di mana sudah banyak bermunculan berbagai macam perusahaan perbankan. Peningkatan kinerja setiap karyawan menjadi hal yang diperlukan dalam pencapaian kinerja perusahaan yang maksimal. Pada suatu perusahaan perbankan, Frontliner menjadi pihak terpenting dalam pencapaian task performance. Penelitian ini bertujuan untuk menggali tentang pengaruh job embeddedness terhadap task performance, serta peran grit sebagai variabel moderator pada pengaruh job embeddedness terhadap task performance. Populasi pada penelitian ini menggunakan tenaga frontliner pada Bank X dari berbagai posisi pekerjaan, seperti customer service, teller, account officer, dan relationship officer dengan sampel sebanyak 108 partisipan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui google form menggunakan skala Likert. Kuesioner terdiri dari 27 butir pertanyaan, yang terdiri dari 12 item Job Embeddedness Scale, 5 item Individual Work Performance Scale: Task Performance, dan 10 item Grit-O Scale. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode regresi linear sederhana dan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menemukan bahwa job embeddedness secara signifikan dan positif memengaruhi task performance sebesar 17% (p = 0.00 0.05)
Peran Celebrity Worship Syndrome terhadap Psychological Well-Being Emerging Adulthood Para Penggemar BTS
Penggemar boy band BTS atau Army dikenal sebagai fandom terkuat karena kekompakannya untuk bersatu memuja BTS. Perilaku memuja yang berlebihan dapat disebut sebagai celebrity worship syndrome (CWS) yaitu kondisi dimana penderitanya memiliki sikap obsesif dan fanatik berlebihan terhadap idolanya. CWS kerap kali dikaitkan dengan dampak negatif, seperti impulsive buying, adiksi internet, agresi berlebihan, serta kesehatan mental buruk. Namun, di sisi lain CWS pada tingkat rendah memiliki dampak positif seperti sebagai wadah relasi sosial, strategi koping stres, mendapatkan motivasi, dan juga dukungan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CWS dapat berperan dalam psychological well-being (PWB) emerging adulthood (18-25 tahun) para penggemar BTS. Partisipan penelitian ini berjumlah 203 orang, yaitu 185 perempuan dan 18 laki-laki yang sebagian besar di antaranya memiliki CWS dan PWB pada tingkat sedang. Variabel CWS diukur dengan Celebrity Attitude Scale (CAS) dengan empat skala Likert dan PWB diukur dengan Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWBS) dengan enam skala Likert. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan teknik non-probability purposive sampling untuk pengambilan data. Melalui uji regresi sederhana, ditemukan bahwa CWS memiliki peran sebesar 8.7% terhadap PWB
Pengaruh Religious Commitment dan Self-Efficacy terhadap Academic Dishonesty pada siswa SMA Negeri di Jakarta Barat
Sulitnya dalam mengembangkan potensi spiritual siswa mengakibatkan munculnya fenomena perilaku kecurangan akademik (academic dishonesty). Fenomena academic dishonesty ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor demografi dan faktor psikososial. Faktor psikososial tersebut adalah religious commitment dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pengaruh religious commitment dan self-efficacy terhadap academic dishonesty pada siswa SMA Negeri. Partisipan penelitian ini adalah siswa SMA Negeri di Jakarta Barat yang berusia 14-17 tahun (N = 259). Penelitian dilakukan di SMA Negeri Jakarta Barat pada tanggal 2 Oktober 2023 sampai 16 Oktober 2023. Instrumen yang digunakan adalah FoCQ, RCI-A, dan SEQ-C. Frequency of Cheating Questionnaire (FoCQ) dikembangkan oleh Šorgo et al. (2015), Religious Commitment Inventory for Adolescents dikembangkan oleh Miller et al. (2013), dan Self-Efficacy Questionnaire for Children (SEQ-C) dikembangkan oleh Muris (2001). Analisis regresi menunjukkan nilai F = 5.269, p = 0.006 (p < 0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh religious commitment dan self-efficacy terhadap tingkat academic dishonesty pada siswa SMA Negeri sebesar 4% (R² = 0.040). Adanya pengaruh religious commitment dan self-efficacy terhadap tingkat academic dishonesty pada siswa SMA Negeri mengimplikasikan bahwa siswa yang memiliki academic dishonesty yang tinggi dapat dikurangi dengan mempertimbangkan pembelajaran dan psikoedukasi mengenai religious commitment dan self-efficacy
Pertanggungjawaban Pidana Anak Yang Melakukan Pencemaran Nama Baik Kepada Institusi melalui Media Elektronik (Studi Kasus Putusan Nomor 3 /PID.SUS-ANAK/2020/PN SGM )
Salah satu bentuk atau dimensi kejahatan baru kontemporer yang telah menarik perhatian signifikan dari seluruh dunia adalah kejahatan dunia maya. Pencemaran nama baik adalah kejahatan baru yang sering dilakukan di media sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, dan dapat mengakibatkan kerugian aktual dan immaterial. Pencemaran nama baik didefinisikan sebagai "setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang berisi penghinaan dan/atau pencemaran nama baik" berdasarkan pasal 27 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum (KUH) tentang Informasi dan Transaksi Pemilu. Istilah "juvenile delinquency," yang mengacu pada perilaku yang menentang norma-norma sosial dan hukum serta yang berlaku untuk anak di bawah umur, adalah terjemahan dari istilah kenakalan anak. Mengingat masalah yang disebutkan di atas, dianggap penting untuk memastikan apakah remaja terlibat dalam pelanggaran pencemaran nama baik dan apa kewajiban hukum untuk menuntut mereka yang melakukan kejahatan tersebut. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian berjudul Pertanggungjawaban Pidana Anak yang Menghina Lembaga melalui Media Elektronik (Studi Kasus Putusan Nomor 3/PID. SUS-ANAK/2020/PN SGM)
Pembaruan Berat atau Lamanya Sanksi (Strafmaat) Pidana Minimum Khusus terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP
Dalam 5 (lima) tahun terakhir sampai 2022 korupsi terus menunjukan tren kenaikan baik dari segi jumlah kasus dan jumlah tersangka, tercatat hingga tahunn 2022 korupsi telah menimbulkan dampak negatif yang merugikan negara hingga mencapai Rp 42.800 triliun. Korupsi di Indonesia diatur dalam peraturan perundang-undangan di luar KUHP, pengaturan terkait korupsi diatur dalam UU Tipikor. Seiring berkembangnya zaman dan didasari oleh keadaan dalam masyarakat pengaturan terhadap korupsi juga mengalami pembaruan, pembaruan ini dapat dilihat dari terdapatnya beberapa pasal yang masuk ke dalam KUHP Nasional. Masuknya delik korupsi ke dalam KUHP Nasional mendapat banyak pendapat pro dan kontra dari banyak lapisan masyarakat, ditambah lagi pada pengaturan pasalnya terjadi pengurangan strafmaat pidana minimum khusus. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk dapat menganalisis dan menguraikan landasan pemikiran dan strafmaat pidana minimum khusus dalam KUHP Nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah normatif evaluatif, dengan menggunakan sumber data sekunder. Dan dari penelitian ini kesimpulan yang dapat ditarik adalah masuknya delik korupsi ke dalam KUHP Nasional bukanlah hal yang baru, serta terkait pengurangan sanksi pidana minimum khusus adalah bentuk perwujudan asas keadilan antara orang sipil dan pejabat negara yang sama-sama melakukan korupsi agar pengancaman sanksinya sama rata
Peran Self-Esteem dan Need to Belong terhadap Parasocial Relationship pada Dewasa Awal (Penggemar K-Pop yang Belum Memiliki Pasangan)
Korean Wave atau budaya korea, dengan internet support saat ini telah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menarik banyak penggemar tak terkecuali pada usia dewasa awal (20-40) tahun. Terjadinya interaksi secara online antara penggemar dan idola K-Pop semakin lama dapat berkembang menjadi parasocial relationship. Hubungan parasosial merupakan kondisi bagi seseorang dalam interaksinya dengan selebritas mengenai rasa setia, persahabatan, serta kuatnya keterlibatan emosional. Pada usia dewasa awal, mencari hubungan yang intim merupakan salah satu tugas perkembangan, umumnya dipenuhi dengan hubungan romansa dan pernikahan. Saat hubungan yang intim ini tidak terpenuhi pada dewasa awal, besar kemungkinan individu akan merasa terisolasi. Dalam hal ini, meskipun bersifat maya parasocial relationship disebut dapat memberikan kedekatan dan keintiman bagi individu yang terlibat. Need to belong sebagai motivasi seseorang untuk memperoleh hubungan dan self-esteem sebagai pandangan mengenai diri sendiri, diduga berperan pada parasocial relationship. Dengan ini, penelitian bertujuan untuk melihat adakah peran dari self-esteem dan need to belong terhadap penggemar K-Pop usia dewasa awal yang belum memiliki pasangan (belum menikah ataupun tidak sedang menjalani hubungan romansa berpacaran). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan 382 partisipan. Alat ukur yang digunakan yaitu adaptasi Rosenberg Self-Esteem Scale, Need to Belong Scale, dan Multiple Parasocial Relationships Scale. Hasil menunjukkan bahwa need to belong secara individual signifikan berperan terhadap parasocial relationship (R2 = .076, p < 0.05). Hal ini berarti semakin tinggi need to belong yang dimiliki maka semakin tinggi pula parasocial relationship dengan idolanya
Kepastian Hukum Tanggung Jawab Pelaku Usaha Dalam Melakukan Kewajiban Yang Kadaluarsa Terhadap Konsumen Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Studi Kasus: Putusan Nomor 93/Pdt.Sus-BPSK/2021/PN Jkt.Pst)
Keberadaan pelaku usaha sebagai subjek hukum tentunya memiliki kedudukan yang sangat penting baik di dalam negeri ataupun luar negeri. Hal ini memberikan dampak baik supaya terciptanya hak dan kewajiban dalam hubungan bisnis sehingga tercapainya kepastian hukum. Namun pada praktiknya masih banyak pelaku usaha yang mengalami kerugian akibat dari perbuatan konsumen yang tidak memiliki itikad baik. Akibat kejadian ini berakibat memberikan dampak yang kurang baik bagi keberadaan pelaku usaha karena pelaku usaha telah dirugikan. Dari latar belakang di atas permasalahan yang dibahas bagaimana kepastian hukum tanggung jawab bagi pelaku usaha yang mengalami kerugian dalam melakukan kewajiban yang kadaluarsa menurut UUPK dan bagaimana putusan BPSK Nomor 009/A/BPSK-DKI/XII/2020 dan Putusan Nomor 93/Pdt.Sus-BPSK/2021/PN Jkt.Pst telah sesuai atau tidak sesuai berdasarkan UUPK. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Hasil dari penelitian ini Kepastian hukum yang dapat dilakukan pelaku usaha berupa mendapat perlindunga hukum represif yaitu melakukan gugatan secara perdata berupa ganti rugi atau bisa dengan melalui jalur pidana yaitu perbuatan yang tidak menyenangkan Sehingga pelaku usaha mendapatkan haknya yang telah dilanggar karena pelaku usaha memiliki hak mendapat perlindungan hukum. Putusan yang diputus tidak sesuai dengan yang telah diatur dalam UUPK, hal ini dikarenakan majelis tidak mempertimbangkan pada asas dan tujuan dari perlindungan konsumen sebagaimana telah diatur UUPK. Majelis hanya melihat dari sisi konsumen saja tidak melihat dari sisi pelaku usaha tersebut sehingga majelis dalam memutus perkara tidak sesuai karena perlu mempertimbangkan pada kedua sisi yaitu sisi pelaku usaha dan sisi konsumen