Discourse of Physical Education
Not a member yet
42 research outputs found
Sort by
Upaya Peningkatan Hasil Belajar Chest Pass Menggunakan Media Target Dalam Permainan Bola Basket
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan hasil belajar Chest Pass siswa kelas IX 6 SMP Negeri 16 Palembang tahun pelajaran 2024/2025. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas IX 6 SMP Negeri 16 Palembang tahun pelajaran 2024/2025 berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan penilaian hasil belajar Chest Pass permainan bola basket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kuantitatif dengan persentase Berdasarkan hasil penelitian diperoleh fakta penggunaan media target dapat meningkatkan hasil belajar Chest Pass pada siswa kelas IX 6 SMP Negeri 16 Palembang tahun pelajaran 2024/2025. Dari hasil analisis yang diperoleh peningkatan yang signifikan dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Hasil belajar Chest pass pada pra siklus dalam katagori tuntas yaitu 47% atau 17 anak siswa. Hasil belajar Hasil belajar Chest pass pada siklus I dalam kategori tuntas yaitu 72% atau 26 siswa, dan Hasil belajar Chest pass siklus II dalam kategori tuntas yaitu 92% atau 33 siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan pembelajaran Chest Pass menggunakan media target meningkatkan hasil belajar Chest Pass siswa kelas IX 6 SMP Negeri 16 Palembang tahun pelajaran 2024/2025.
Efforts To Improve Chest Pass Learning Out Comes Using Target Media In BasketBall Games
Abstract
This research aims to improve learning outcomes Chest Pass class IX 6 students at SMP Negeri 16 Palembang for the 2024/2025 academic year. This research uses the Classroom Action Research (PTK) method. The data source for this research is 36 students in class IX 6 of SMP Negeri 16 Palembang for the 2024/2025 academic year. Data collection techniques using observation and assessment of learning outcomes Chest Pass basketball game. The data analysis technique used in this research is descriptive based on quantitative analysis with percentages. Based on the research results, it is clear that the use of target media can improve learning outcomes. Chest Pass for class IX 6 students at SMP Negeri 16 Palembang for the 2024/2025 academic year. From the results of the analysis, significant improvements were obtained from pre-cycle, cycle I and cycle II. Learning outcomes Chest pass in the pre-cycle in the complete category, namely 47% or 17 students. Learning outcomes Learning outcomes Chest pass in cycle I in the complete category, namely 72% or 26 students, and learning outcomes Chest pass cycle II in the complete category, namely 92% or 33 students. The conclusion of this research is the application of Chest Pass learning using media target improve learning outcomes Chest Pass class IX 6 students at SMP Negeri 16 Palembang for the 2024/2025 academic year
Pengembangan Modul Ajar Berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Senam Lantai di SMK PGRI 3 Malang
Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk pembelajaran senam lantai pada siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang. Penelitian ini menggunakan model ADDIE (Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, Evaluasi) untuk merancang dan mengevaluasi modul. Modul divalidasi oleh ahli media (97%), ahli pembelajaran (87%), dan ahli materi (77%). Uji coba lapangan dilakukan pada 35 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok, kecil dan besar. Kelompok kecil memperoleh skor rata-rata 79,75%, sementara kelompok besar 80%, menunjukkan bahwa modul diterima dengan baik oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul PBL efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap teknik senam lantai dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Modul ini valid dan dapat digunakan, dengan rekomendasi untuk penyesuaian materi agar lebih sesuai dengan kemampuan siswa serta perbaikan elemen visual agar lebih mudah dipahami. Integrasi multimedia dan fitur interaktif juga disarankan untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa.
Development of a Problem Based Learning (PBL) Based Teaching Module for Floor Gymnastics at SMK PGRI 3 Malang
Abstract
This study aims to develop a Problem Based Learning (PBL) based teaching module for floor gymnastics in class X at SMK PGRI 3 Malang. The ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) was used to design and evaluate the module. The module was validated by media experts (97%), learning experts (87%), and content experts (77%). A field trial was conducted with 35 students divided into small and large groups. The small group achieved an average score of 79.75%, while the large group scored 80%, indicating that the module was well-received. The results showed that the PBL-based module effectively improved students' understanding of floor gymnastics techniques and increased student engagement. The module is valid and effective, with recommendations for further content adjustments to better align with student abilities and improvements in visual elements for better readability. The integration of multimedia and interactive features is also recommended to enhance the learning experience
Efektivitas Latihan Taktis Six-Shot Rallies terhadap Ketepatan Smash pada Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis Tingkat SMP: Studi Pra-Eksperimen Satu Kelompok
Latar belakang: Akurasi smash pada atlet muda sangat dipengaruhi integrasi footwork, pemosisian, kontrol raket, dan pengambilan keputusan. Reviewer menekankan perlunya pelaporan statistik yang lengkap, konsistensi istilah, serta penjelasan mekanisme dan keterbatasan. Tujuan: Menilai efektivitas latihan taktis six-shot rallies terhadap ketepatan smash siswa ekstrakurikuler bulu tangkis. Metode: Pra-eksperimen satu kelompok pada 10 siswa SMPN 4 Mataram. Intervensi berlangsung 4 minggu (12 sesi, 3 sesi/minggu). Variabel utama adalah skor akurasi berbasis target-zone (20 percobaan). Asumsi normalitas (Shapiro–Wilk) terpenuhi; analisis menggunakan paired t-test (?=0,05). Kendali kualitas mencakup penilai ganda (rerata skor), protokol feeder standar, serta standardisasi waktu/peralatan. Etik: izin sekolah, parental consent, dan assent siswa. Hasil: Rata-rata meningkat dari 66,50±5,36 (pretest) menjadi 86,40±4,93 (posttest); ?=+19,90 poin (?+29,9%). Perbedaan signifikan: t(9)=10,74; p<0,001; SE=1,85; 95% CI [15,71; 24,09]. Ukuran efek berpasangan sangat besar: Cohen’s d<sub>z</sub>=3,40. Pembahasan: Temuan selaras dengan rasional mekanistik bahwa peningkatan ketepatan muncul dari rangkaian footwork ? positioning ? sudut datang ? kontrol ayunan. Keterbatasan: Sampel kecil (n=10), desain tanpa kontrol, potensi efek belajar, variabilitas feeder, dan durasi singkat. Kesimpulan: Six-shot rallies efektif dan bermakna secara praktis untuk meningkatkan akurasi smash pada konteks reli pendek khas pemain muda. Disarankan studi terkontrol bersampel lebih besar dengan evaluasi retensi
Efektivitas Latihan Bola Gantung vs Keseimbangan terhadap Performa Smash Kedeng Sepak Takraw pada Siswa SMA
Latar Belakang: Bukti terbaru menunjukkan latihan spesifik-tugas (bola gantung) dan latihan berbasis stabilitas (keseimbangan) sama-sama berpotensi meningkatkan pukulan atas pada sepak takraw, namun keunggulan komparatifnya pada konteks sekolah belum tegas. Tujuan: Menilai efektivitas latihan bola gantung dibanding latihan keseimbangan terhadap peningkatan performa smash kedeng, dengan fokus pada perubahan skor (?) dan ukuran efek. Metode: Desain dua-kelompok pretest–posttest; 24 siswa ekstrakurikuler dibagi seimbang (n=12/kelompok) melalui ordinal pairing dan alokasi acak. Intervensi terstruktur 3×/minggu selama 6–8 minggu. Pengukuran mengikuti SOP uji akurasi dengan reliabilitas antar-penilai. Uji asumsi menggunakan Shapiro–Wilk (n<50) dan Levene; analisis paired t (dalam-kelompok) serta uji t independen pada ?/ANCOVA (antar-kelompok). Hasil: Kelompok bola gantung meningkat dari 10,00±3,72 ke 20,75±3,52 (?=10,75; t(11)=8,28; dz=2,39). Kelompok keseimbangan meningkat dari 11,67±4,50 ke 20,08±3,70 (?=8,41; t(11)=6,92; dz=2,00). Perbedaan ? antar-kelompok sebesar 2,34 poin, t?1,32; d?0,54; 95% CI selisih ? melintasi nol (tidak signifikan). Kesimpulan: Keduanya efektif dengan efek sangat besar dalam-kelompok; bola gantung memperlihatkan tren keunggulan praktis namun belum signifikan pada ukuran sampel ini. Implikasi: Program sekolah disarankan mengombinasikan drill bola gantung sebagai inti dengan modul keseimbangan/inti yang terstruktur, serta pelaporan ?, CI 95%, dan ukuran efek untuk evaluasi kualitas
Membangun Karakter Positif melalui Pendidikan Jasmani di Sekolah: Sinergi antara Fisik dan Moral
Pendidikan jasmani di sekolah tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga berperan penting dalam pembentukan karakter positif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana sinergi antara aspek fisik dan moral dalam pendidikan jasmani dapat membangun nilai-nilai seperti disiplin, kerjasama, sportivitas, dan ketangguhan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen di beberapa sekolah menengah di Kecamatan Belo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan jasmani mampu menanamkan nilai-nilai karakter secara efektif, meskipun masih terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan waktu pembelajaran dan fasilitas. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan jasmani dapat berfungsi sebagai media yang efektif untuk membentuk karakter siswa secara holistik. Rekomendasi meliputi penguatan kurikulum berbasis karakter dan pelatihan guru untuk meningkatkan integrasi nilai-nilai moral dalam pendidikan jasmani.
Fostering Positive Character through Physical Education in Schools: A Synergy between Physical and Moral Development
Abstract
Physical education in schools is not only aimed at improving physical fitness but also plays a crucial role in shaping students' positive character. This study explores how the synergy between physical and moral aspects in physical education can foster values such as discipline, teamwork, sportsmanship, and resilience. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis in several secondary schools in Belo District. The findings indicate that physical education effectively instills character values, despite challenges such as limited instructional time and inadequate facilities. The study concludes that physical education serves as an effective medium for holistic character development. Recommendations include strengthening character-based curricula and providing teacher training to enhance the integration of moral values in physical education
Kesadaran dan Motivasi Anak Binaan terhadap Olahraga di Sentra Paramita Mataram
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengaruh lingkungan sosial, fasilitas, dan motivasi intrinsik terhadap kesadaran berolahraga anak binaan di Sentra Paramita Mataram. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan 10 anak binaan sebagai subjek penelitian. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar anak binaan hanya berolahraga sesuai jadwal panti, sementara lainnya memiliki inisiatif mandiri. Hambatan utama partisipasi meliputi rasa malas dan rendahnya motivasi. Dukungan dari pengasuh dan fasilitas yang memadai berdampak positif namun kurang efektif dalam membangun motivasi intrinsik. Penelitian ini menyimpulkan perlunya program olahraga yang mengedukasi anak binaan tentang manfaat olahraga dan meningkatkan motivasi intrinsik melalui pendekatan sosial dan penghargaan. Rekomendasi utama adalah pengembangan program olahraga terstruktur yang melibatkan kegiatan tim dan dukungan teman sebaya.
Awareness and Motivation of Foster Children toward Sports at Sentra Paramita Mataram
Abstract
The aim of this study is to understand the influence of social environment, facilities, and intrinsic motivation on the sports awareness of children at Sentra Paramita Mataram. A qualitative descriptive approach was used, employing observation, in-depth interviews, and documentation techniques, with 10 children as the research subjects. The findings reveal that most children only engage in sports according to the schedule set by the institution, while others exhibit independent initiative. The main barriers to participation include laziness and low motivation. Support from caregivers and adequate facilities have a positive impact, but are less effective in fostering intrinsic motivation. This study concludes that there is a need for an educational sports program that informs children about the benefits of physical activity and enhances intrinsic motivation through social approaches and rewards. The primary recommendation is the development of a structured sports program that involves team activities and peer support
Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar melalui Permainan Bola Kaki dan Bola Tangan pada Siswa SDN Wanasari 13 Kabupaten Bekasi
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar siswa kelas I SDN Wanasari 13 melalui penerapan metode permainan bola kaki dan bola tangan. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart, yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus melibatkan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan motorik kasar siswa. Pada tahap pratindakan, tingkat ketuntasan siswa hanya mencapai 31,25%. Setelah siklus I, persentase ketuntasan meningkat menjadi 43,75%, dan pada siklus II mencapai 75%. Peningkatan ini dipengaruhi oleh partisipasi aktif siswa, peran guru sebagai fasilitator, serta desain aktivitas permainan yang menarik dan bervariasi. Kesimpulannya, metode permainan bola efektif untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar siswa. Rekomendasi penelitian ini mencakup integrasi permainan bola ke dalam kurikulum pendidikan jasmani, pelatihan guru, dan penyediaan fasilitas yang memadai di sekolah.
Improving Gross Motor Skills through Football and Handball Games in Students of SDN Wanasari 13, Bekasi Regency
Abstract
This study aims to improve the gross motor skills of first-grade students at SDN Wanasari 13 through the implementation of football and handball games. The study employed a Classroom Action Research (CAR) design using the Kemmis and McTaggart model, consisting of two cycles. Each cycle included the stages of planning, action, observation, and reflection. The results indicated a significant improvement in students' gross motor skills. In the pre-action stage, the students' proficiency rate was only 31.25%. After Cycle I, it increased to 43.75%, and by Cycle II, it reached 75%. This improvement was influenced by active student participation, the role of teachers as facilitators, and well-structured, engaging game activities. In conclusion, ball games proved effective in enhancing students' gross motor skills. The study recommends integrating ball games into the physical education curriculum, training teachers, and improving school facilities to support these activities
Evaluasi Tingkat Keterampilan Gerak Dasar Siswa Sekolah Dasar Menggunakan Canadian Agility and Movement Skill Assessment (CAMSA) Score
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keterampilan gerak dasar siswa sekolah dasar menggunakan Canadian Agility and Movement Skill Assessment (CAMSA) Score. Penelitian ini melibatkan 51 siswa kelas V di SDN 29 Mataram yang dipilih dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori progressing (45,10%), diikuti oleh kategori beginning (25,50%), achieving (19,60%), dan excelling (9,80%). Secara keseluruhan, siswa menunjukkan tingkat keterampilan gerak dasar yang cukup baik, meskipun terdapat perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan, dengan siswa laki-laki memiliki skor rata-rata lebih tinggi. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa usia 11 tahun memiliki keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan usia 10 tahun. Temuan ini menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan gerak dasar pada usia sekolah dasar yang mendukung perkembangan fisik dan psikologis siswa. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan adalah untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan keterampilan gerak dasar, seperti motivasi, dukungan keluarga, dan aktivitas fisik di luar sekolah.
Evaluation of Fundamental Movement Skills in Elementary School Students Using the Canadian Agility and Movement Skill Assessment (CAMSA) Score
Abstract
This study aims to evaluate the fundamental movement skills of elementary school students using the Canadian Agility and Movement Skill Assessment (CAMSA) Score. The study involved 51 fifth-grade students from SDN 29 Mataram, selected through total sampling. The results indicate that the majority of students were classified into the progressing category (45.10%), followed by the beginning category (25.50%), achieving category (19.60%), and excelling category (9.80%). Overall, students demonstrated a reasonable level of fundamental movement skills, with differences observed between boys and girls, as boys had higher average scores. The study also revealed that 11-year-olds had better movement skills compared to 10-year-olds. These findings emphasize the importance of developing fundamental movement skills during elementary school, supporting physical and psychological development. Future research is recommended to explore the factors influencing differences in fundamental movement skills, such as motivation, family support, and physical activity outside of school
Efektivitas Program Neuromuscular Five terhadap Kekuatan Otot Tungkai pada Pemain Sepak Bola Usia 17 Tahun: Uji Coba Teracak Dua Lengan di Klub Komunitas
Latar belakang: Pelatihan neuromuskular (NMT) diperkirakan meningkatkan kekuatan tungkai melalui adaptasi saraf—peningkatan rekrutmen unit motor, efisiensi stretch–shortening cycle (SSC), dan koordinasi inter-/intramuskular—sebelum kontribusi hipertrofi mendominasi. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas program Neuromuscular Five (NMT-5) terhadap kekuatan otot tungkai pada pemain sepak bola usia 17 tahun di klub komunitas. Metode: Uji coba teracak dua lengan (1:1) dengan alokasi tersembunyi dan penilai sebisa mungkin dibutakan. Dua kelompok (N=26; intervensi=13, kontrol=13) mengikuti program latihan masing-masing dengan frekuensi setara. Outcome utama adalah kekuatan isometrik tungkai (kg) menggunakan leg dynamometer terstandar. Analisis prasyarat normalitas terpenuhi; uji t berpasangan digunakan untuk perubahan dalam-kelompok, dan uji t tidak berpasangan untuk perbandingan antar-kelompok. Hasil: Kelompok intervensi meningkat dari 105,88±16,48 kg menjadi 125,07±17,60 kg (?=+19,19 kg; 95%CI [+17,82; +20,56]; p<0,001). Kelompok kontrol meningkat dari 107,88±13,14 kg menjadi 112,69±12,85 kg (?=+4,81 kg; 95%CI [+3,32; +6,30]; p<0,001). Perbedaan rerata post-test antar-kelompok sebesar +12,38 kg cenderung mendukung intervensi namun belum signifikan pada ?=0,05 (p=0,052; 95%CI [?0,09; +24,86]). Kesimpulan: NMT-5 menghasilkan peningkatan dalam-kelompok yang besar dan bermakna pada kekuatan tungkai remaja, dengan arah efek antar-kelompok yang menjanjikan. Studi lanjutan dengan sampel lebih besar dan analisis utama ANCOVA dianjurkan untuk memperkuat inferensi kausal serta menilai kontribusi relatif adaptasi saraf dan hipertrofi
Student Sport Culture in Urban and Rural Schools: A Comparative Study in Papua
This study aims to examine differences in student sport culture between urban and rural schools in Papua, focusing on cultural perceptions of the body, participation rates, and physical education curriculum implementation. A quantitative survey method was employed, involving 100 students, with 50 from urban schools and 50 from rural schools. Data were analyzed using t-tests and multiple linear regression. The results show that urban students and teachers had more positive perceptions of physical education, with mean scores of 4.2 and 4.5, compared to 3.5 and 3.8 in rural schools (t = 5.67, p < 0.001). Daily participation rates were higher among urban students (40%) compared to rural students (20%). Urban students were primarily motivated by health benefits (50%), while rural students were motivated by recreational and social aspects (40%). Recommendations include developing culturally relevant curricula, improving rural school infrastructure, providing teacher training, fostering community involvement, and integrating technology to enhance access and participation