Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service)
Not a member yet
434 research outputs found
Sort by
Transformasi Digital Masyarakat: Pemberdayaan Melalui Program Computer Operator Assistant
Masyarakat di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat terkenal dengan desa wisatanya. Akan tetapi pemuda desa dan perangkat desa di desa tersebut belum banyak yang memanfaatkan teknologi secara maksimal terutama untuk kegiatan bisnis. Oleh karena itu, tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pemanfaatan teknologi komputer sehingga memperkuat aspek ekonomi dan pengetahuan digital mereka. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberdayakan komunitas atau kelompok masyarakat di Desa Sesaot melalui pelatihan keterampilan sebagai Computer Operator Assistant. Dalam program ini peserta diajarkan tentang pengoperasian komputer, aplikasi perkantoran dan keterampilan administrasi dasar. Sasaran kegiatan pengabdian ini adalah pemuda desa dan perangkat desa yang berjumlah 16 orang. Peserta diberikan uji kompetensi untuk mengetahui perbedaaan kemampuan peserta terhadap teknologi komputer sebelum dan setelah pelatihan diberikan. Sebelum pelatihan, dari 16 peserta terdapat 5 orang yang tidak lulus uji kompetensi. Adapun setelah pelatihan diperoleh seluruh peserta lulus uji komptensi. Hasil uji kompetensi sebelum dan sesudah pelatihan kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon dan diperoleh hasil signifikan sebesar 0.000 yang menujukkan bahwa ada pengaruh pelatihan ketrampilan komputer terhadap hasil ujian kompetensi peserta. Melalui program Computer Operator Assistant, masyarakat terutama pemuda desa dan perangkat desa Sesaot mengalami transformasi digital yang positif, meningkatkan kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan, dan menghadapi tantangan masa depan yang semakin digital dengan lebih percaya diri. Program pengabdian ini berperan penting dalam mengurangi kesenjangan digital dan memberdayakan masyarakat dalam era teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang.
Digital Transformation of Society: Empowerment Through the Computer Operator Assistant Program
The community in Sesaot Village, Narmada District, West Lombok Regency is famous for its tourist village. However, not many village youth and village officials in the village make maximum use of technology, especially for business activities. Therefore, the aim of this community service is to increase community independence in the use of computer technology so as to strengthen their economic aspects and digital knowledge. This community service activity is carried out by empowering communities or community groups in Sesaot Village through skills training as a Computer Operator Assistant. In this program participants are taught computer operation, office applications and basic administrative skills. The target of this service activity is village youth and village officials, totaling 16 people. Participants are given a competency test to determine differences in participants' abilities towards computer technology before and after the training is given. Before the training, of the 16 participants there were 5 people who did not pass the competency test. After the training, all participants passed the competency test. The results of the competency test before and after training were then analyzed using the Wilcoxon test and a significant result of 0.000 was obtained, indicating that there was an influence of computer skills training on the participants' competency test results. Through the Computer Operator Assistant program, the community, especially village youth and Sesaot village officials, experienced a positive digital transformation, increased independence in various aspects of life, and faced the challenges of an increasingly digital future with more confidence. This service program plays an important role in reducing the digital divide and empowering society in the era of information and communication technology that continues to develop
Pemberdayaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Tatanan Rumah Tangga Di Kelurahan Karamat Kota Sukabumi Sebagai Bentuk Preventif Kejadian Demam Berdarah
Upaya pemberantasan penyakit DBD yang terus dilakukan sampai saat ini adalah usaha untuk memutuskan mata rantai dengan memberantas vektor penularannya, yaitu nyamuk Aedes aegypti dengan cara memberantas jentik nyamuk. Berdasarkan hasil survei langsung ke Dinas Kesehatan, Kota Sukabumi termasuk ke dalam wilayah endemik DBD di Jawa Barat dengan incidence rate (IR) atau angka kesakitan mencapai 113/100.000 penduduk, jauh di atas batas yakni 49/100.000 jiwa. Bahkan di awal tahun 2022 sudah ada 3 korban meninggal, yang mana dua dari tiga kasus meninggal tersebut terjadi di Kecamatan Gunungpuyuh, dan salah satu korban meninggal berasal dari Kelurahan Karamat. Ketidaktahuan masyarakat terkait penerapan PHBS di tatanan keluarga sebagai upaya preventif kejadian DBD di masyarakat, bahkan menurut penuturan Koordinator PKK Kelurahan Karamat, di lingkungan rumahnya banyak teradapat air menggenang dan baju yang bergelantungan sembarangan. Subjek dan objek dalam kegiatan ini adalah masyarakat Kelurahan Karamat Kecamatan Gunungpuyuh Kota Sukabumi. Kegiatan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalah ini adalah dengan memberikan penyuluhan tentang penerapan PHBS di tatanan keluarga sebagai upaya preventif terjadinya DBD. Kesimpulan yang bisa ditarik dalam kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penerapan PHBS di tatanan keluarga sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. sebelum dilakukan penyuluhan menunjukan 74% masyarakat belum memahami secara jelas tentang PHBS rumah tangga, kemudian setelah dilaksanakan penyuluhan pemahaman masyarakat terkait PHBS ini mengalami peningkatan menjadi 85% memahami.
Empowerment of Clean and Healthy Life Behavior Management Household Order in Karamat Village, Sukabumi City As A Form of Prevention Incident of Dental Fever
Efforts to eradicate DHF that have been carried out to date are efforts to break the chain by eradicating the vector of transmission, namely the Aedes aegypti mosquito by eradicating mosquito larvae. Based on the results of a survey directly to the Health Service, Sukabumi City is included in the DHF endemic area in West Java with an incidence rate (IR) or morbidity rate reaching 113/100,000 population, far above the limit of 49/100,000 people. In fact, at the beginning of 2022 there were 3 victims who died, of which two of the three cases of death occurred in Gunungpuyuh District, and one of the victims who died came from the Karamat Village. Ignorance of the community regarding the implementation of PHBS in the family setting as an effort to prevent DHF incidents in the community, even according to the PKK Coordinator of the Karamat Village, in his home environment there was a lot of stagnant water and clothes hanging carelessly. The subjects and objects in this activity were the people of Karamat Village, Gunungpuyuh District, Sukabumi City. Activities carried out to solve this problem are by providing counseling about the implementation of PHBS in the family setting as a preventive measure for DHF. The conclusion that can be drawn in this activity is that there is an increase in community knowledge about the application of PHBS in the family setting before and after being given counseling. before the counseling was carried out, it showed that 74% of the community did not clearly understand household PHBS, then after the counseling was carried out, the community's understanding regarding PHBS increased to 85% understood
Pelatihaan Monolog dengan Teknik Permodelan bagi MGMP Bahasa Indonesia Kota Ternate
Monolog memiliki kompleksitas dan kekhususan tersendiri karena meskipun merupakan wicara seorang diri, wicara ini disapaikan di hadapan orang lain. Perkembangan monolog perlu diikuti dengan pembinaan agar sekolah dan masyarakat tidak memandangnya sebagai pementasan drama yang ala kadarnya. Monolog perlu disikapi sebagai genre pementasan drama, yang bila dikemas dengan sungguh-sungguh dapat menjadi tontonan teter yang menarik.Permasalahan yang dihadapi adalah masih banyak guru Bahasa Indonsia belum memeiliki ketrampilan dalam bermonolog. Pelatihan ini dilaksanakan di laboratorium Komputer SMA 4 Kota Ternate yang merupakan kerja sama Tim PKM Fakutas Keguruan dan Ilmu Pndidikan Universitas Khairun dengan Musyawarah Guru Bahasa Indonesia Kota Ternate yang berjumlah 24 orang. Tujuannya agar setelah mengikuti peltihan, peserta pelatihan dapat mementaskan monolog dengan baik dan dapat melatih siswa bermonolog dalam kegitan pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan Pelatihan Monolog dilaksanakan dengan menggunakan Teknik Permodelan. Pelatihsn dilakukan melalui 3 tahapan yaitu tahap pertama tahap penyajian materi, kemudian tahap pementasan atau permodelan monolog dan yang ketiga adalah praktek monolog oleg guru-guru peserta pelatihan.Hasil yang diperoleh yaitu berdasarkan hasil pengamatan, nara sumber menilai sebagian besar guru yang tampil sudah bagus dalam bermonolog. Hanya ada bebarap guru saja yang kelihatan agak malu sehngga kurang bisa berekspresi secara maksimal. Selain itu, hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar guru sudah bisa bermonolog dengan baik. Terlihat dari tabel hasil evaluasi kemampuan guru dalam bermonolog terdapat 6 orang atau 33,3% guru yang termasuk dalam kriteria sangat baik, 11 orang atau 61,1% guru yang berkemampuan baik, 1 orang atau 5,5% yang masuk dalam kriteria kurang baik dalm bermonolog, dan tidak ada guru atau 0% yang termasuk dalam kriteria sangat kurang. Ini menunjukkan bahwa solusi atau harapan kegiatan pelatihan agar 75% guru yang ikut dalam pelatihan ini dapat bermonolog dengan baik bisa tercapai
Monologue Training with Modeling Techniques for Indonesian Language MGMP Ternate City
Monologue has its own complexity and specificity because even though it is a solo speech, it is delivered in front of other people. The development of monologues needs to be followed by coaching so that schools and communities do not view them as perfunctory drama performances. Monologue needs to be considered as a genre of drama performance, which if properly packaged can become an interesting tethered spectacle. The problem faced is that there are still many Indonesian teachers who do not have the skills in monologue. This training was carried out in the Computer laboratory of SMA 4 Ternate City which is a collaboration of the PKM Team of the Faculty of Teacher Training and Education at Khairun University with the Indonesian Language Teacher Conference of Ternate City, totaling 24 people. The goal is that after attending the training, the trainees can perform monologues well and can train students in monologues in Indonesian language learning activities. Monologue Training Activities are carried out using Modeling Techniques. The training is carried out through 3 stages, namely the first stage of presenting the material, then the stage of staging or modeling the monologue and the third is the practice of monologue by the trainee teachers. The results obtained are based on observations, resource persons assessed that most of the teachers who performed were good in monologues. There are only a few teachers who look a little embarrassed so they can't express themselves optimally. In addition, the results of the evaluation showed that most of the teachers were able to monologue well. It can be seen from the table that the results of the evaluation of the ability of teachers in monologue are 6 people or 33.3% of teachers who are included in the very good criteria, 11 people or 61.1% of teachers who have good abilities, 1 person or 5.5% who fall into the criteria are not good in monologue, and there is no teacher or 0% which is included in the very poor criteria. This shows that the solution or hope of training activities so that 75% of teachers who participate in this training can monologue well can be achieved
Program Penerapan Teknologi Inovasi Educational QR Code di Ekowisata Pulau Lusi Sidoarjo
Eduwisata merupakan konsep pariwisata yang ramah lingkungan dengan memprioritaskan sumber daya dan pendidikan. Pulau Lusi merupakan salah satu eduwisata yang belum mampu menyajikan media informasi sehingga wisatawan tidak mendapatkan informasi secara detail tentang berbagai jenis tanaman yang ada di kawasan wisata tersebut. Program ini bertujuan untuk mengembangkan wisata Pulau Lusi dengan menerapkan teknologi QR Code yang dapat diakses melalui smartphone. Mitra dalam kegiatan pengabdian merupakan sebanyak 20 orang Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang turut aktif dalam kegiatan pengelolaan aset ekowisata Pulau Lusi. Metode pelaksanaan program ini dilakukan dengan enam tahapan yaitu observasi lapangan, wawancara, uji coba aplikasi, pelatihan penggunaan aplikasi, dan evaluasi. Educational QR Code yang telah dikembangkan di Pulau Lusi mampu memudahkan wisatawan dalam mendapatkan informasi penting mengenai infografis tanaman sehingga sangat mendukung perkembangan Pulau Lusi sebagai wisata berbasis edukasi.
Educational QR Code Innovation Technology Implementation Program in Ecotourism Lusi Sidoarjo Island
Eduwisata is an environmentally friendly tourism concept by prioritizing resources and education. Lusi Island is one of the edutourism that has not been able to present information media so that tourists do not get detailed information about various types of plants in the tourist area. This program aims to develop Lusi Island tourism by applying QR Code technology that can be accessed via smartphones. Partners in the service activities are as many as 20 Tourism Awareness Groups (POKDARWIS) who actively participate in the management of Lusi Island ecotourism assets. The method of implementing this program is carried out in six stages, namely field observation, interviews, application trials, application use training, and evaluation. The Education QR Code that has been developed on Lusi Island is able to make it easier for tourists to get important information about plant infographics so that it really supports the development of Lusi Island as an educational-based tourism.
Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Digital Marketing
Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada peserta tentang kewirausahaan berbasis digital marketing. Rumusan masalah yang dihadapai kurangnya pengetahuan dan keterampilan peserta tentang kewirausahaan berbasis digital marketing dan Metode pelaksanaan yang diberikan yaitu memberikan materi/ceramah tentang penguatan jiwa berwirausaha berbasis digital marketing setelah itu pelatihan, diskusi dan praktik memulai usaha online. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama dua hari, tanggal 31 Maret-1 April 2023. Peserta pada kegiatan ini adalah peserta BLK komunitas LAZ DASI NTB dengan jumlah 12 orang. Lokasi pengabdian berada di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Program pengabdian masyarakat mengacu kepada permasalahan yang ada di lapangan yaitu masih minimnya pemahaman tentang motivasi jiwa kewirausahaan pada golongan usia produktif, dalam hal ini peserta BLK LAZ DASI NTB. Simpulan yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wirausaha berbasis digital marketing sebesar 47,51%. Dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan tersebut diarapkan peserta pelatihan dapat lebih percaya diri dalam memulai dan mengembangkan kreativitasnya khususnya dalam usaha online.
Digital Marketing-based Entrepreneurship Training
This community service seeks to offer participants knowledge and skills concerning digital marketing-based entrepreneurship. The formulation of the problem was the participants' lack of knowledge and skills in digital marketing-based entrepreneurship, and the implementation method provided was to provide material and lectures on strengthening the spirit of digital marketing-based entrepreneurship, followed by training, discussion, and practice in starting an online business. This community service project will last two days, from March 31 to April 1, 2023. A total of 12 members from the LAZ DASI NTB community (BLK) participated in this activity. The service is provided in Sesaot Village, Narmada District, and West Lombok. The community service program addresses issues in the field, specifically a lack of awareness of the motivation of entrepreneurial spirit in the productive age group, in this case BLK LAZ DASI NTB participants. This community service activity has resulted in a 47.51% improvement in the knowledge and abilities of digital marketing-based entrepreneurs. Trainees might be more confident in starting and growing their creativity, especially in online enterprises, as their knowledge and skills improve
Strategi Dalam Mengembangkan Minat dan Bakat Mahasiswa Melalui Analisis SWOT (Studi Kasus: Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Mataram)
Program studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Mataram merupakan satu-satunya Prodi Kehutanan Perguruan Tinggi Pemerintah, yang ada di kawasan Bali dan Nusa Tenggara dengan jumlah mahasiswa setiap tahunnya yang terus bertambah. Pertambahan mahasiswa tersebut berbanding terbalik dengan jumlah mahasiswa yang mengikuti kompetisi dan perlombaan di bidang Akademik. Berdasarkan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) Tahun 2020 – 2022 menunjukkan prestasi akademik mahasiswa Prodi Kehutanan masih minim yaitu sekitar 1.3%. Hal tersebut perlu ditindak lanjuti untuk meningkatkan motivasi dalam menunjang minat dan bakat mahasiswa. Pengembangan minat dan bakat dapat diawali dengan melakukan analisis SWOT, sehingga tujuan dari pengabdian ini yaitu mengetahui posisi Prodi Kehutanan dalam menentukan rencana strategi pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam meningkatkan prestasi akademik melalui analisis SWOT. Pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif dan kemudian dikembangkan kedalam data kuantitatif, dengan mengkaji faktor internal dan eksternal melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama stakeholder Prodi Kehutanan dan penjamin mutu internal Fakultas sebanyak 21 orang. . Hasil analisis berdasarkan perhitungan IFAS dan EFAS menunjukkan bahwa posisi Prodi Kehutanan berada pada kuadran III dengan titik (x = -0.4) dan (y = 0.07) yang menunjukkan strategi WO (Weakness-Opportunity) yaitu Prodi Kehutanan harus “mengubah strategi” dengan meminimalisir kendala dan kelemahan internal agar dapat meningkatkan prestasi mahasiswa.
Strategy To Develop the Interest and Talent of Students Through SWOT Analysis (Case Study: Forestry Study Program the Faculty of Agriculture, University of Mataram)
The forestry study program at the Faculty of Agriculture, University of Mataram is the only forestry study program at a state university in the Bali and Nusa Tenggara region, with an increasing number of students applying each year. However, the increased number of students did not correlate positively with the number of students participating in various academic competitions or events, hence the low achievement recorded. Based on the 2020-2022 Forestry study program performance report, the academic achievement of students in the forestry study program was very low at only 1.3%. This problem needs to be followed up to increase motivation in supporting student interests and talents. The development of interests and talents can be started by conducting a SWOT analysis, so that the purpose of this service is to find out the position of the Forestry Study Program in determining strategic plans for developing student interests and talents in increasing academic achievement through SWOT analysis. Data collection was carried out using a qualitative approach and then developed into quantitative data, by examining internal and external factors through Focus Group Discussion (FGD) activities with Forestry Study Program stakeholders and the Faculty's internal quality assurance. Analysis based on IFAS and EFAS calculations showed that the Forestry study program was located in the 3rd quadrant, with points (x = -0.4) and (y = 0.07) indicating that the Forestry study program should adopt WO strategy (weaknesses-opportunities). This means that the Forestry program needs to change its strategy by minimizing the obstacles and internal weaknesses to take advantage of the opportunities that exist in Order To Upgrade Students’ Capabilitie
Pelaksanaan Asesmen Diagnostik Mata Pelajaran Bahasa Inggris Tingkat SMP Negeri dan SMA Negeri: Penguatan Implementasi Kurikulum Merdeka di Kab. Lombok Tengah
Asesmen diagnostik sangat penting diterapkan oleh guru karena ini merupakan proses yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan atau kinerja siswa selama atau sebelum membelajarkan bahasa Inggris di kelas. Dalam konteks kurikulum Merdeka, asesmen diagnostik digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa secara individu. Dengan demikian, tujuan pengabdian ini adalah melatih guru bahasa Inggris dalam melakukan asesmen diagnostic di SMP Negeri dan SMA Negeri dalam rangka sebagai penguatan implementasi Kurikulum merdeka. Dengan demikian, untuk mencapai harapan tersebut maka pengabdian ini dilakukan dengan empat tahapan kegiatan, yaitu tahapan identifikasi masalah; analisis kebutuhan penyelesaian masalah; pelaksanaan kegiatan ini, dan melakukan refleksi kegiatan asesmen diagnostic. Dari hasil asesmen diagnostik ini, guru dapat mengevaluasi kekuatan dan kelemahan siswa dalam masing-masing keterampilan berbahasa, serta merancang strategi pembelajaran yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka. Selain itu, asesmen diagnostik juga dapat membantu guru untuk menilai aspek non-akademik siswa seperti sikap, nilai, dan keterampilan sosial yang juga penting dalam pembelajaran bahasa Inggris. Guru dapat menggunakan instrumen seperti kuesioner atau rubrik penilaian untuk mengumpulkan informasi tentang aspek non-akademik siswa. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris, guru-guru Bahasa Inggris di SMA dan SMP di Lombok Tengah dapat mengikuti program pengabdian yang bertemakan asesmen diagnostik dalam kurikulum Merdeka. Program ini dapat membantu guru-guru dalam mengembangkan kompetensi asesmen diagnostik yang efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam keterampilan berbahasa Inggris.
Implementation of Diagnostic Assessment in English Subject at Public Junior High Schools and Public Senior High Schools: Strengthening the Implementation of the Independent Curriculum in Central Lombok Regency
Diagnostic assessment is crucially important for teachers as it is a process used to gather data on students' abilities or performance in English language learning in the classroom, either during or prior to instruction. In the context of the Independent Curriculum, diagnostic assessment is employed to identify individual students' learning needs. Thus, the aim of this engagement is to train English language teachers in implementing diagnostic assessment at Public Junior High Schools and Public Senior High Schools, as a means of strengthening the implementation of the Independent Curriculum. To achieve this goal, the engagement is conducted in four stages: problem identification, needs analysis for problem-solving, implementation of the activities, and reflection on diagnostic assessment practices. Through the results of diagnostic assessment, teachers can evaluate students' strengths and weaknesses in each language skill and design appropriate learning strategies to address their learning needs. Additionally, diagnostic assessment also assists teachers in assessing students' non-academic aspects, such as attitudes, values, and social skills, which are equally important in English language learning. Teachers can employ instruments such as questionnaires or assessment rubrics to gather information on students' non-academic aspects. To enhance the quality of English language instruction, English language teachers in Central Lombok at both the junior and senior high school levels can participate in a diagnostic assessment program within the Independent Curriculum. This program can support teachers in developing effective and efficient diagnostic assessment competencies, thereby improving students' learning outcomes in English language skills
Pelaksanaan Bimbingan Belajar Pada Siswa Sekolah Dasar di Desa Balanti Kecamatan Baras Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat
Tujuan kegiatan ini yaitu untuk melaksanakan bimbingan belajar pada siswa sekolah dasar di Desa Balanti Kecamatan Baras Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat. Sasaran dari bimbingan belajar ini adalah seluruh siswa sekolah dasar yang beragama Hindu mulai dari kelas I sampai kelas VI dengan jumlah 32 orang. . Metode pembimbingan yang diterapkan yaitu pembimbingan secara intensif. Pembimbingan dilaksanakan mulai dari pekerjaan rumah yang dituntut dari sekolah siswa masing-masing, sampai pada pembimbingan bagian materi yang kurang dipahami siswa disekolah mulai dari persiapan kegiatan sampai pelaksanaan kegiatan. Hasil dari pelaksanaan bimbingan belajar ini yaitu siswa mampu memahami dan menyerap materi pelajaran, siswa menjadi lebih fokus belajar, siswa banyak belajar hal baru, dan siswa mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dari sekolah, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, motivasi belajar siswa, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, fokus belajar siswa serta siswa memiliki pengetahuan yang lebih khususnya berkaitan dengan materi pelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar siswa yang dapat dilihat dari beberapa nilai siswa yang mengikuti bimbingan belajar mengalami peningkatan setelah mengerjakan dan mengumpulkan tugas serta sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Berdasarkan hasil tes diperoleh rata-rata hasil belajar sebesar 82 dengan selisih rata-rata adalah 14,76%. Analisis t-hitung diperoleh 8,571, dan t-tabel = 2,086 dari hasil analisis data tersebut bahwa t-hitung > dari t-tabel
Implementation of Tutoring for Elementary School Students in Balanti Village Baras District Pasangkayu Regency West Sulawesi Province
Tensive mentoring. Guidance is carried out starting from homework that is required from each student's school, to mentoring the part of the material that is not understood by students at school starting from the preparation of activities to the implementation of activities. The results of the implementation of this tutoring are that students are able to understand and absorb subject matter, students become more focused on learning, students learn a lot of new things, and students get better knowledge from school, so as to improve student learning outcomes, student learning motivation, student understanding on the subject matter, the focus of student learning and students have more knowledge, especially related to the subject matter. This can be proven by the increase in student learning outcomes which can be seen from some of the scores of students who follow tutoring have increased after doing and collecting assignments and in accordance with the expected goals. Based on the test result obtained an average learning result of 82 with an average difference of 14,76%. T-count analysis obtained 8,571 and T-table = 2,086 from the results of the data analysis that t-count > from t-table.
Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Literasi Media Sosial Dalam Menghadapi Hoaks
Tujuan dari kegiatan ini adalah peningkatan sumber daya manusia melalui literasi media sosial dalam perspektif share information dan ketrampilan dalam menangkal penyebaran hoaks. Mitra dari kegiatan ini adalah 1 (satu) mitra, yaitu masyarakat binaan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Sanggar Seni Budaya “Petra Cilik” Kupang. Metode yang digunakan dalam menyuluh dan melatih peserta adalah workshop. Peserta kegiatan sebanyak 49 orang yang ditentukan menggunakan teknik Slovin pada probabilitas 10% dari total populasi masyarakat binaan LKP Petra Cilik (mitra kegiatan) sebanyak 98 orang. Hasil pengabdian menunjukkan sebagian besar peserta, yakni 46 peserta (93,88%) telah mampu menggunakan media sosial, menganalisis, dan mengkritisi pesan informasi yang bersifat hoaks. Sementara sebesar 3 (tiga) peserta (6,12%) telah mampu menggunakan media sosial dan menganalisis pesan informasi yang ada. Dengan demikian, pelatihan ini menghasilkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan ketrampilan individu dalam menangkal hoaks, yaitu cerdas dan konstruktif dalam menanggapi-menerima-menyebarluaskan informasi yang diterima dan mampu menghindari penyebaran hoaks. Implikasinya, individu mampu meminimalisir penyebaran hoaks dan dampak negatifnya di masyarakat.
HR Improvement Through Social Media Literacy in Dealing with Hoaxes
The purpose of this activity is to increase human resources through social media literacy in the perspective of sharing information and skills in preventing the spread of hoaxes. The partners of this activity are 1 (one) partner, namely the community assisted by the Course and Training Institute (LKP) of the “Petra Cilik” Kupang Cultural Arts Studio. The method used in educating and training the participants is a workshop. There were 49 activity participants who were determined using the Slovin technique at a probability of 10% of the total population of LKP Petra Cilik (activity partners) of 98 people. The results of the training showed that most of the participants, namely 46 participants (93.88%) were able to use social media, analyze and criticize information messages that were hoaxes. Meanwhile, 3 (three) participants (6.12%) were able to use social media and analyze existing information messages. Thus, this training resulted in an increase in individual knowledge and skills in counteracting hoaxes, namely being smart and constructive in responding-receiving-distributing information received and being able to avoid the spread of hoaxes. The implication is that individuals are able to minimize the spread of hoaxes and their negative impact on society
Pengembangan Kemasan (Packaging) Dalam Meningkatkan Pemasaran UMKM Arak Ngacuh
Inovasi kemasan sangat penting bagi produsen minuman keras setelah legalisasi arak oleh Pemerintah. Ini membantu pengembangan UMKM dengan ide inovatif untuk menarik konsumen dan memperluas pasar. Fokus utama adalah meningkatkan daya saing pengerajin arak dengan kemasan menarik dan unik. Langkah pertama adalah mengidentifikasi desain, bahan, dan pesan kemasan yang sesuai dengan citra produk arak serta melakukan riset pasar untuk memahami tren konsumen. Pengerajin arak dapat menciptakan kemasan visual dan memberikan pengalaman unik kepada konsumen. Aspek fungsional kemasan, seperti kepraktisan dan kemampuan menjaga kualitas produk, juga penting untuk menarik konsumen. Teknologi inovatif seperti label pintar atau kemasan ramah lingkungan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan. Strategi pemasaran yang terencana dengan baik sangat dibutuhkan untuk memperkenalkan kemasan baru ini kepada konsumen. Media sosial, promosi, dan kerja sama dengan toko atau distributor sangat penting dalam memperluas pasar. Dengan menggabungkan inovasi kemasan, pemahaman pasar, dan strategi pemasaran yang efektif, pengerajin arak dapat meningkatkan daya saing dan mencapai kesuksesan lebih besar di pasar yang dinamis.
Packaging Development in Improving Marketing of Arak Ngacuh UMKM
Packaging innovation is very important for liquor producers after the legalization of arak by the Government. This helps develop MSMEs with innovative ideas to attract consumers and expand the market. The main focus is to increase the competitiveness of wine craftsmen with attractive and unique packaging. The first step is to identify designs, materials and packaging messages that match the image of the arak product and conduct market research to understand consumer trends. Wine craftsmen can create visual packaging and provide unique experiences to consumers. Functional aspects of packaging, such as practicality and the ability to maintain product quality, are also important to attract consumers. Innovative technologies such as smart labels or eco-friendly packaging can add significant value. A well-planned marketing strategy is needed to introduce this new packaging to consumers. Social media, promotions, and collaboration with stores or distributors are very important in expanding the market. By combining packaging innovation, market understanding and effective marketing strategies, wine makers can increase their competitiveness and achieve greater success in a dynamic market.