Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service)
Not a member yet
    434 research outputs found

    Optimalisasi Kreativitas Sosial Media Dengan Pelatihan Content Creator

    No full text
    Sosial media berkembang sangat cepat sehingga memberikan dampak pada peran sosial media itu sendiri. Sosial media telah menjadi wadah multifungsi, hal tersebut terjadi karena setiap orang memiliki kebebasan untuk menyampaikan ide dan pendapatnya kepada masyarakat tanpa batasan jarak. Salah satu potensi sosial media saat ini adalah menjadi media konten dengan pelakunya yang disebut content creator. Akan tetapi untuk menjadi seorang content creator banyak aspek yang perlu diperhatikan agar tetap menarik para penonton. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan content creator dipilih dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman masyarakat luas sebagai upaya optimalisasi kreativitas sehingga konten yang diproduksi dapat disaksikan secara luas. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan kerja secara komunitas yang dilaksanakan di Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan pelatihan ini bekerjasama dengan salah satu lembaga Balai Latihan Kerja Komunitas Al-Muaawanah sehingga diharapkan peserta pelatihan akan memiliki skill dan memiliki daya saing untuk melanjutkan ke dunia kerja dalam bidang content creator ataupun advertisement. Jumlah mitra yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah Lembaga Balai Latihan Kerja Al-Muaawanah. Metode yang digunakan dalam pegabdian ini adalah metode pelatihan yang mana pelatihan dilakukan dalam waktu lima hari. Pelatihan ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai konten kreator, perencanaan konten, konsep konten, produksi dan pengeditan konten sehingga peserta mampu mencapai tahap publikasi yang baik. Kegiatan ini dapat digunakan sebagai modal untuk menyalurkan bakat serta peningkatan bakat peserta dalam bidang content creator dan dapat ditingkatkan sebagai peluang untuk mendapatkan penghasilan serta bersaing di dunia kerja. Optimizing Social Media Creativity With Content Creator Training Social media is developing so fast that it has an impact on the role of social media itself. Social media has become a multifunctional platform, this happens because everyone has the freedom to convey their ideas and opinions to the public without distance restrictions. One of the potentials of social media today is to become a content medium with the perpetrators being called content creators. However, to become a content creator, there are many aspects you need to pay attention to in order to keep attracting viewers. Therefore, content creator training activities were chosen with the aim of increasing public understanding as an effort to optimize creativity so that the content produced can be widely viewed. This activity was carried out in the form of community work training which was carried out in Medali Village, Puri District, Mojokerto Regency. This training activity is in collaboration with one of the Al-Muaawanah Community Job Training Center institutions institutions so that it is hoped that the training participants will have the skills and competitiveness to continue into the world of work in the field of content creator or advertisement. The number of partners involved in this research is the Al-Muaawanah Job Training Institute. The method used in this service is a training method where training is carried out within five days. This training can increase understanding of content creators, content planning, content concepts, content production and editing so that participants are able to reach a good publication stage. This activity can be used as capital to channel talents and improve participants' talents in the content creator field and can be increased as an opportunity to earn income and compete in the world of work.

    Sosialisasi Sasaran Keselamatan Pasien Pada Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Pelabuhan ratu

    No full text
    Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu sistem di mana rumahsakit membuat layanan kepada pasien lebih aman. Hingga aktivitas ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Pelabuhan Ratu dengan jumlah partisipan 15 orang perawat. Metode sosialisasi yang digunakan yaitu dengan ceramah serta dialog dengan memberikan modul tentang sasaran keselamatan pasien. Tujuan dalan pengabdian pada masyarakat (PKM) ini yaitu untuk memberikan pemahaman kepada Pimpinan di rumah sakit akan dempak yang akan terjadi jika sasaran keselamatan pasien tidak di laksanakan dengan baik. Dari angket didapatkan hasil kalau ada perbedan pengetahuan saat sebelum serta setelah di bagikan sosialisasi sasaran keselamatan pasien dengan nilai P- Value: 0, 001. Disarkan pengabdian pada masyarakat (PKM) semacam ini bisa dicoba secara teratur baik di posisi yang sama ataupun berbeda, dengan topic lain yang bisa menunjang terjadinya mutu pelayanan keperawatan di Rumah Sakit lebih baik lagi. Socialization Of Patient Safety Targets To Nurses In Pelabuhan Ratu Hospital Patient safety is a system in which hospitals make services to patients safer. Until this activity was carried out at the Pelabuhan Ratu Regional General Hospital with a total of 15 nurses. The socialization method used is by lectures and dialogues by providing modules on patient safety goals. The purpose of this community service (PKM) is to provide an understanding to the leadership at the hospital about the impact that will occur if patient safety goals are not carried out properly. From the questionnaire, it was found that there were differences in knowledge before and after the socialization of patient safety goals with a P-Value: 0.001. It is recommended that this kind of community service (PKM) can be tried regularly either in the same or different positions, with Another topic that can support the quality of nursing services in hospitals is even bette

    Program Kemitraan Masyarakat: Menumbuhkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Problem Solving Skills Mahasiswa Melalui Proses Pembuatan Dan Pemurnian Bioetanol

    No full text
    Mitra pengabdian ini adalah program studi pendidikan kimia. Kurikulum merdeka belajar menekankan pada integrasi antara pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Mengacu pada implementasi kurikulum merdeka belajar program studi pendidikan kimia diharapkan mampu melahirkan tenaga pendidik yang kreatif, inovatif dan memiliki keterampilan memecahkan masalah dalam menjawab tuntutan pendidikan abad 21. Keterampilan memecahkan masalah mutlak dimiliki oleh tenaga pendidik dalam mendesain pembelajaran yang kreatif, inovatif dan kontektual. Pendekatan kontektual khususnya berkaitan dengan lingkungan sangat diperlukan untuk melahirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Tujuan dari kegiatan ini adalah menumbuhkan keterampilan memecahkan masalah mahasiswa melalui sintesis dan pemurnian bioetanol dari limbah organik. Kegiatan ini dilakukan dilaboratorium Kimia Universitas Pendidikan Mandalika. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah gelar teknologi. Keterampilan memecahkan masalah mahasiswa diukur menggunakan instrumen test urain. Data yang diperoleh selanjutnya didesrifsikan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil kegiatan menghasilkan keterampilan memecahkan masalah mahasiswa mengalami peningkatan secera perlahan. Belum terbiasanya mahasiswa merumuskan masalah dan memberikan solusi alternatif dari permasalahan yang diberikan membuat keterampilan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah masih rendah. Keterampilan mahasiswa mulai meningkat setelah tim pengabdian memberikan bimbingan dan arahan terkait proyek yang dilakukan dilaboratorium. Kreativitas mahasiswa mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari kemampuan mahasiswa merangkai alat dan memodifikasi alat destilasi yang digunakan dalam pemurnian bioetanol. Berdasarkan temuan kegiatan ini terbukti mampu menumbuhkan keterampilan pemecahan masalah mahasiswa. Community Partnership Program: Growing Students' Critical Thinking and Problem Solving Skills through Bioethanol Manufacturing and Purification Process  This service partner is a chemistry education study program. The independent learning curriculum emphasizes the integration of knowledge and skills obtained through learning with a scientific approach. Referring to the implementation of the independent learning curriculum, the chemistry education study program is expected to be able to produce educators who are creative, innovative and have problem-solving skills in responding to the demands of 21st century education. Problem-solving skills are absolutely owned by educators in designing creative, innovative and contextual learning. A contextual approach, especially with regard to the environment, is needed to produce more meaningful learning. The purpose of this activity is to develop students' problem-solving skills through the synthesis and purification of bioethanol from organic waste. This activity was carried out in the Chemistry Laboratory of the Mandalika Education University. The method used in this activity is a technology degree. Students' problem solving skills are measured using a urine test instrument. The data obtained is then described in the form of tables and figures. The results of the activity resulted in students' problem-solving skills increasing slowly. Students who are not used to formulating problems and providing alternative solutions to the problems given make students' skills in solving problems still low. Student skills began to increase after the service team provided guidance and direction regarding projects carried out in the laboratory. Student creativity has increased. This can be seen from the ability of students to assemble tools and modify distillation equipment used in bioethanol purification. Based on the findings of this activity it is proven to be able to foster students' problem solving skills

    Optimalisasi Tata Kelolah Keuangan BUMDes Guna Mewujudkan Pemerataan Dan Pertumbuhan Ekonomi Desa Balaroa Pewunu

    No full text
    Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) merupakan lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa melalui pengelolaan kegiatan ekonomi. Dalam pengelolaan keuangan Bumdes, perlu juga diperhatikan prinsip keuangan yang sehat, yaitu pengelolaan keuangan yang transparan, akuntabel, berkelanjutan, dan bertanggung jawab. Salah satu yang menjadi permasalahan BUMDes di Desa Balaroa Pewunu adalah terkait dengan tata kelolah keuangan dimana BUMDes dalam membuat laporan keuangannya masih dilakukan dengan cara tradisional yakni hanya berbasis buku kas keluar masuk, sehingga dari segi akuntabilitas pelaporan keuangan masih kurang akuntabel. Tujuan dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini adalah memberikan pelatihan penyusunan laporan keuangan berbasis excel. Kegiatan di laksanakan dengan dua metode yakni Transfer Pengetahuan (knowledge transfer) dan Model Community development yaitu pendekatan yang melibatkan mitra secara langsung sebagai obyek dan subyek dalam pelaksanaan PkM. Hasil pelatihan penyusunan laporan keuangan BUMDes berbasis excel pada perangkat desa dan pengelolah BUMdes Balaroa Pewunu, menunjukan semua peserta telah mampu mengoperasikan dan menyusun laporan keuangan BUMdes dari Pencatatan berupa jurnal sampai dengan dengan neraca dan laporan laba rugi. Rekomendasi berikutnya perlunya pelatihan ini dilakukan kembali namun dengan memberikan contoh tambahan berupa laporan keuangan konsolidasi, diman BUMDes pada umumnya memiliki berbagai jenis unit bisnis sehingga pelunya mengetahui penyusunan laporan keuangan konsolidasi Optimizing BUMDes Financial Management to Achieve Equity and Economic Growth in Balaroa Pewunu Village Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) is an institution that aims to improve the welfare of the community in the village through the management of economic activities. In the financial management of Bumdes, it is also necessary to pay attention to sound financial principles, namely transparent, accountable, sustainable and responsible financial management. One of the problems of BUMDes in Balaroa Pewunu Village is related to financial management where BUMDes in making their financial reports are still carried out in a traditional way, namely only based on cash books in and out, so that in terms of financial reporting accountability is still less accountable. The purpose of this Community Service program (PKM) is to provide training in preparing excel-based financial reports. Activities are carried out with two methods, namely knowledge transfer and community development model, namely an approach that involves partners directly as objects and subjects in the implementation of PkM. The results of the training on the preparation of excel-based BUMDes financial reports on village officials and managers of BUMdes Balaroa Pewunu, showed that all participants were able to operate and compile BUMdes financial reports from recording in the form of journals to balance sheets and income statements. The next recommendation is the need for this training to be carried out again but by providing additional examples in the form of consolidated financial statements, where BUMDes generally have various types of business units so it is necessary to know the preparation of consolidated financial statements.

    Identifikasi Dan Pengembangan Diversifikasi Produk Kuliner Tradisional Di Desa Wisata Towale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah

    No full text
    Tujuan program pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan kepada 20 orang masyarakat Desa Towale, terdiri dari 7 pelaku usaha kuliner tradisional, 5 yang akan memulai usaha kuliner, dan 5 yang belum memiliki usaha kuliner, serta dihadiri oleh kepala desa, tokoh masyarakat, dan anggota pokdarwis. Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai  diversifikasi produk kuliner tradisional dengan sentuhan modern dan memberikan pendampingan untuk pengembangan usaha kuliner tradisional, yang akan mendukung perkembangan Desa Towale sebagai desa wisata.Program pengabdian ini dilakukan dalam 2 tahap: pertama, observasi lapangan untuk mengidentifikasi potensi dan kendala pelaku usaha kuliner, dan kedua, penyuluhan dan pendampingan dalam bentuk ceramah dan diskusi FGD oleh tim pengabdian.Manfaat dari program ini adalah meningkatkan pengetahuan kepada  pelaku usaha kuliner tradisional dalam  mendukung pengembangan desa wisata, meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara. Hasil pengukuran pre-test dan post-test menunjukkan bahwa 92% peserta lebih memahami bagaimana mengidentifikasi potensi kuliner dan mengembangkan produk kuliner traditional daerah. Dengan pemahaman ini, diversifikasi produk menjadi faktor penting dalam pengembangan Desa Towale sebagai desa wisata yang terkenal, hal ini memerlukan peran serta dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha wisata di sekitar Desa Towale. The Identification and Development of Traditional Culinary Product Diversification in Towale Tourist Village, Donggala Regency, Central Sulawesi The purpose of this community service program is to provide knowledge to 20 people in Towale Village, consisting of 7 traditional culinary entrepreneurs, 5 individuals who are starting culinary businesses, and 5 who do not yet have culinary businesses. The program is also attended by the village head, community leaders, and members of the local community development group (pokdarwis). The objective of this program is to impart an understanding of diversifying traditional culinary products with a modern touch and to provide support for the development of traditional culinary businesses, which will contribute to the growth of Towale Village as a tourist destination.This community service program consists of two phases: first, field observations to identify the potential and challenges faced by culinary entrepreneurs, and second, education and support in the form of lectures and focus group discussions (FGD) conducted by the service team. The benefits of this program include enhancing the knowledge of traditional culinary entrepreneurs in supporting the development of the tourist village, increasing the number of local and international tourists visiting, and promoting traditional culinary products. Pre-test and post-test measurements show that 92% of the participants have a better understanding of how to identify culinary potential and develop local traditional culinary products. With this understanding, product diversification becomes a crucial factor in the development of Towale Village as a renowned tourist destination, requiring active participation and involvement from all community members and tourism entrepreneurs in the vicinity of Towale Villag

    Workshop Pembuatan Alat Permainan Edukatif untuk Anak Usia Dini Berbasis Printable

    No full text
    Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi kreativiatas guru-guru pendidikan anak usia dini khususnya di taman kanak-terkait dengan alat permainan edukatif berbasis printable yang sesuai dengan tema-tema pembelajaran di lingkungan PAUD. Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah metode ceramah, diskusi, tanya jawab, eksperimen dan proyek pemberian tugas yang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok distimulasi untuk dapat menghasilkan karya berdasarkan kreativitas masing-masing guru. Hasil dari kegiatan PKm ini adalah guru dapat menghasilkan minimal 4 jenis Alat Permainan Edukatif (APE) sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak berbasis printable. Selain itu, guru lebih kreatif dalam membuat alat permainan edukatif yang menyenangkan untuk anak usia dini.  Guru-guru PAUD  juga  memiliki wawasan luas terkait jenis-jenis alat yang dapat digunakan untuk membuat alat permainan edukatif.   Workshop On Making Educational Game Tools For Early Childhood Based On Printables  The implementation of this activity aims to stimulate the creativity of early childhood education teachers, especially in kindergartens, related to print-based educational game tools that can be creative according to learning themes in the PAUD environment. The methods used in this activity are lectures, discussions, questions and answers, experiments and assignment projects divided into small groups. Each group is stimulated to be able to produce works based on their respective creativity. The result of this Community Service activity is that teachers can produce at least 4 types of APE according to the age and stages of child development based on printable. In addition, teachers are more creative in making fun educational game tools for early childhood.  PAUD teachers also have broad insights regarding the types of tools that can be used to make educational game tools.

    Pelatihan Prototype IPA dan Kalkulator AI (Artificial Intelligence) Guru SLB Meningkatkan Literasi Sains dan Numerasi

    No full text
    Kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan di SLB Baiturrahman dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru-guru di sekolah mitra dalam menyusun Prototype IPA dan Kalkulator AI berbasis Mit App inventer versi 2, sebagai langkah awal dalam memperbaiki/meningkatkan literasi sains dan numerasi siswa tuna netra di SLB Baiturrahman. Dalam kegiatan ini, ada 3 kegiatan inti yang telah dilakukan Tahap perencanaan Program yakni melibatkan mitra dalam mengidentifikasi dan melakukan analisis kebutuhan, kedua pelaksanaan program yakni melaksanakan pelatihan kalkulator AI dan Prototype IPA dan terkahir melaksanakan evaluasi yakni evaluasi untuk peserta pelatihan dan evaluasi kegiatan pelatihan penyusunan prototype IPA dan Kalkulator AI. Dari hasil kegiatan pengabdian yang telah dilakukan di atas, rencana selanjutnya tim pelaksana akan melakukan monitoring dan evaluasi sebagai tindak lanjut dari kegiatan pengabdian. Monitoring dan evaluasi ini akan dilakukan ±1 bulan setelah kegiatan berlangsung sampai tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian ini tercapai. Adapun hasil pretest dan posttest pada pelatihan Prototype IPA dan Kalkulator AI menunjukan hasil yang menyatakan bahwa kemampuan mitra meningkat dari pretest pelatihan  prototype IPA 38,44 %, untuk hasil posttest 67,44%.untuk pelatihan kalkulator AI hasil pretest 62,22 %, untuk hasil posttest 83,33%. Agar pelaksanaan kegiatan pengabdian dapat berjalan dengan baik maka perlu pendampingan lebih lajut terutama bagi guru yang sama sekali tidak memiliki kemampuan IT, agar kegiatan lebih menghemat waktu atau efisien. Kelanjutan dari kegiatan pengabdian ini berdasarkan kesepakatan dengan mitra akan membentuk tim volunter untuk pendampingan keberlanjutan  pelatihan Prototype IPA dan Kalkulator AI berbasis Mit App inventer versi 2 untuk semua guru yang menjadi pengampu pada kelas tuna netra yang kemarin berkendala dalam mengikuti pelatihan. Science Prototype and AI (Artificial Intelligence) Calculator Training for Special School Teachers Increases Scientific Literacy and Numeracy This service activity was carried out at Baiturrahman SLB with the aim of increasing the knowledge and skills of teachers at partner schools in preparing Science Prototypes and AI Calculators based on Mit App inventor version 2, as a first step in improving/increasing the scientific literacy and numeracy of blind students in SLB Baiturrahman. In this activity, there are 3 core activities that have been carried out in the Program planning stage, namely involving partners in identifying and conducting needs analysis, secondly implementing the program namely carrying out training on AI calculators and Science Prototypes and finally carrying out evaluations namely evaluation for training participants and evaluation of prototype preparation training activities IPA and AI Calculator. From the results of the service activities carried out above, the implementation team's next plan is to carry out monitoring and evaluation as a follow-up to the service activities. This monitoring and evaluation will be carried out ± 1 month after the activity takes place until the objectives of implementing this service activity are achieved. The pretest and posttest results on the Science Prototype and AI Calculator training showed results stating that the partners' abilities increased from the pretest to the Science prototype training by 38.44%, to the posttest results 67.44%. For the AI calculator training the pretest results were 62.22%, for posttest results 83.33%. So that the implementation of service activities can run well further assistance is needed, especially for teachers who do not have IT skills at all, so that activities save time or are more efficient. The continuation of this service activity based on an agreement with partners will be to form a volunteer team to assist in the continuation of the Mit App inventor version 2 based Science Prototype and AI Calculator training for all teachers who are teachers in blind classes who yesterday had problems participating in the training

    Pelatihan Responden Sensori Pangan untuk Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Pendidikan Mandalika Menggunakan Variasi Skala Hedonik

    No full text
    Responden sensori merupakan suatu profesi esensial yang berperan penting dalam pengembangan produk pangan di era industri modern saat ini. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan responden sensori kepada mahasiswa strata 1 Program Studi Kehutanan Universitas Pendidikan Mandalika dengan menggunakan variasi skala hedonik. Kegiatan ini menggunakan pendekatan assessing learning yang dibagi menjadi tiga tahap: teori, praktek, dan evaluasi. Sebanyak 30 orang partisipan dari mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Pendidikan Mandalika dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Pelatihan responden sensori menggunakan 2 skala hedonik yaitu: skala hedonik tingkat 5 dan skala hedonik tingkat 9. Sampel yang dijadikan bahan penilaian adalah teh herbal. Partisipan memberikan penilaian dalam parameter warna, aroma, dan rasa. Teh herbal dibuat dalam 4 konsentrasi berbeda untuk melatih sensitifitas partisipan dalam melakukan uji sensori. Hasil evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan bahwa partisipan memperoleh peningkatan skor rata – rata sebesar 50% berdasarkan aspek kompetensi: penilaian kuantitatif uji sensori, penilaian deskriptif uji sensori, tingkat skala hedonik uji sensori, dan sensitifitas penilaian uji sensori. Skala hedonik tingkat 9 memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan skala hedonik tingkat 5 bagi partisipan. Hal ini terlihat dari nilai variabilitas data skala hedonik tingkat 9 (simpangan baku, standard error, dan varian) yang lebih tinggi dibandingkan skala hedonik tingkat 5. Dapat disimpulkan bahwa pelatihan responden sensori pada mahasiswa strata 1 Program Studi Kehutanan Universitas Pendidikan Mandalika mampu meningkatkan pemahaman partisipan terkait uji sensori sebesar rata – rata 50% dengan efektifitas lebih tinggi pada skala hedonik tingkat 5 dibandingkan skala hedonik tingkat 9. Direkomendasikan untuk menggunakan skala hedonik tingkat 5 dalam pelatihan hingga partisipan mahir dibandingkan memaksakan menggunakan skala hedonik tingkat 9. Food Sensory Respondent Training for Forestry Student of Universitas Pendidikan Mandalika Using Various Hedonic Scale  Sensory respondents are an essential profession that is vital in developing food products in today's modern industrial era. The purpose of this community service activity is to provide sensory respondent training to undergraduate students of the Mandalika Education University Forestry Study Program using a variety of hedonic scales. This activity uses an assessing learning approach divided into three stages: theory, practice, and evaluation. A total of 30 participants from Student of Forestry Study Program of Universitas Pendidikan Mandalika are chosen using purposive sampling. The training of sensory respondents used hedonic scale level 5 and hedonic scale level 9. The sample used as the assessment material was herbal tea. Participants rated the color, aroma, and taste parameters. Herbal tea was made in 4 different concentrations to train participants' sensitivity in conducting sensory tests. Evaluation results using pre-test and post-test showed that participants obtained an average score increase of 50% based on competency aspects: quantitative assessment, descriptive assessment, hedonic scale level, and sensitivity of sensory test assessment. Hedonic scale level 9 has a higher difficulty level than the hedonic scale level 5 for participants. This result can be seen from the value of the hedonic scale 9 data variability (standard deviation, standard error, and variance), which is higher than the hedonic scale level 5. It can be concluded that the training of sensory respondents increased participants' understanding of sensory testing by an average of 50% with higher effectiveness on the hedonic scale level 5 than the hedonic scale level 9. It is recommended that sensory training for participant should be focused on hedonic scale level 5 instead of hedonic scale level

    Implementasi Manajemen Rantai Pasok pada Produksi Instan Jahe oleh UMKM Mangrove

    No full text
    Sekarang produksi jahe semakin berkembang dan tidak hanya disajikan secara tradisional, melainkan juga dimodifikasi menjadi berbagai jenis pangan olahan, termasuk minuman instan. Salah satu UMKM yang memproduksi instan jahe adalah UMKM Mangrove yang berlokasi di Desa Enu. Pada era globalisasi saat ini, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dituntut untuk meningkatkan kinerja rantai pasok yang dimilikinya. Manajemen rantai pasok dapat memaksimalkan koordinasi antar organisasi yang terlibat dalam rantai pasokan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Namun, salah satu kelemahan dari UMKM dalam berkembang adalah ketidakjelasan dalam mengidentifikasi rantai pasok yang digunakan, termasuk UMKM Mangrove yang belum memahami penerapan manajemen rantai pasok. Oleh karena itu, Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang implementasi manajemen rantai pasok kepada anggota UMKM Mangrove. Metode pelaksanaan kegiatan ini melalui observasi, identifikasi rantai pasok, dan penerapan informasi dan pengetahuan. Hasil dari pelaksanaan tersebut adalah pengidentifikasian manajemen rantai pasok mulai dari pemasok hingga konsumen, sehingga UMKM Mangrove telah berhasil mengimplementasikan manajemen rantai pasok pada produksi instan jahe. Implementation of Supply Chain Management in Instant Ginger Production by UMKM Mangrove  Now ginger production is growing and is not only served traditionally, but also modified into various types of processed food, including instant drinks. One of the SMEs that produce instant ginger is the Mangrove MSME located in Enu Village. In the current era of globalization, Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) are required to improve their supply chain performance. Supply chain management can maximize coordination between organizations involved in the supply chain to achieve competitive advantage. However, one of the weaknesses of MSMEs in developing is the lack of clarity in identifying the supply chain used, including Mangrove MSMEs who do not understand the application of supply chain management. Therefore, Community Service is carried out to provide an understanding of the implementation of supply chain management to members of UMKM Mangrove. The method of implementing this activity is through observation, supply chain identification, and the application of information and knowledge. The result of this implementation is the identification of supply chain management from suppliers to consumers, so that MSMEs Mangrove has successfully implemented supply chain management in the production of instant ginger

    Sosialisasi dan Pelatihan tentang Pencegahan Infeksi Kecacingan di SD Muhammadiyah 1 Pontianak

    No full text
    Provinsi Kalimantan Barat cakupan POPM periode 1 tahun 2022 tidak POPM. Dimana tantangan program yang dihadapi adalah Perilaku Hygiene dan sanitasi yang masih kurang baik, situasi pandemi yang mengakibatkan terkendalanya pelaksanaan POPM dan penyediaan obat. Sehingga perlunya peningkatan akses air bersih, sanitasi, perilaku hygiene dapat mendukung program eliminasi/eradikasi penyakit tropis terabaikan. Selain itu, sosialisasi dan pelatihan di nilai mampu memberikan kontribusi dalam upaya pencegahan infeksi kecacingan. Hasil dari kegiatan ini menunjukan bahwa adanya peningkatan skor pengetahuan siswa-siswi sebelum dan setelah dilakukannya sosialisasi dan pelatihan perilaku hygiene. Diharapkan sosialisasi dan pelatihan dapat dilakukan oleh Anak Sekolah Dasar secara rutin dengan materi dan pelatihan yang bervariasi. Socialization and Training on Prevention of Worm Infection at Muhammadiyah 1 Elementary School,  The province of West Kalimantan, during the 2022 period, did not achieve full coverage of the School-Age Children Mass Drug Administration (POPM). The program faced several challenges, including poor hygiene and sanitation behavior, the impact of the ongoing pandemic on the implementation of the POPM, and limited availability of medication. Therefore, there is a need to improve access to clean water, sanitation, and hygiene practices to support the elimination/eradication of neglected tropical diseases. Furthermore, raising awareness and providing training can contribute to preventing worm infections. The results of these activities demonstrate an improvement in students' knowledge scores before and after the implementation of hygiene promotion and training. It is expected that regular hygiene promotion and training sessions will be conducted by primary school children, covering various topics and training materials.    

    0

    full texts

    434

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇