Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service)
Not a member yet
434 research outputs found
Sort by
Pelatihan Peningkatan Komitmen dan Motivasi Anggota untuk Mewujudkan Koperasi yang Tangguh pada Koperasi Harapan Maju Kuranji Kota Padang
Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan komitmen anggota dalam mewujudkan koperasi yang tangguh melalui pelatihan di Koperasi Harapan Maju Kuranji, Kota Padang. Mitra dalam kegiatan ini adalah anggota koperasi yang berjumlah 50 orang dari total 456 anggota. Metode pelaksanaan meliputi pengisian kuesioner untuk mengidentifikasi kebutuhan anggota, Focus Group Discussion (FGD), serta pemaparan materi oleh tim pengabdian. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman anggota tentang peran koperasi, serta peningkatan motivasi dan komitmen mereka dalam berpartisipasi aktif. Evaluasi melalui kuesioner pra dan pasca pelatihan menunjukkan peningkatan kesadaran dan keterlibatan anggota dalam koperasi. Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat koperasi. Rekomendasi mencakup perlunya pelatihan berkelanjutan dan peningkatan insentif bagi anggota agar koperasi terus berkembang dan berkelanjutan.
Training on Enhancing Member Commitment and Motivation to Build a Resilient Cooperative at Harapan Maju Kuranji Cooperative Padang City
This community service aims to enhance the motivation and commitment of members in building a resilient cooperative through training at the Harapan Maju Kuranji Cooperative in Padang City. The partners in this activity are cooperative members, with 50 participants out of a total of 456 members. The implementation methods include questionnaires to identify member needs, Focus Group Discussions (FGD), and material presentations by the service team. The results show an increased understanding of the cooperative’s role, as well as improved motivation and commitment among members to participate actively. Evaluations through pre- and post-training questionnaires indicate a rise in awareness and engagement within the cooperative. The conclusion of this activity confirms that training is an effective strategy for strengthening cooperatives. Recommendations include the need for continuous training and increased incentives for members to ensure cooperative growth and sustainability
Dewantara Eco Seat: Ubah Sampah Plastik Jadi Furnitur Bernilai Berbasis Pelatihan di Kelompok Belajar Paket C Yayasan Ki Hadjar Dewantara Malang
Pelatihan pembuatan kursi dan meja ecobrick di Kelompok Belajar Paket C Yayasan Ki Hadjar Dewantara Malang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah plastik menjadi produk bernilai guna. Permasalahan utama yang dihadapi adalah tingginya konsumsi botol plastik yang menghasilkan sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Metode yang digunakan adalah pelatihan langsung melalui pendekatan partisipatif, mulai dari penyuluhan, demonstrasi teknis, hingga praktik pembuatan ecobrick berbahan botol plastik bekas dan kain perca. Hasil dari Pelatihan ecobrick yang dilaksanakan pada 28 April 2025 di Yayasan Ki Hadjar Dewantara melibatkan 20 peserta didik Paket C dengan tingkat kehadiran lebih dari 90%, berlangsung selama lima jam, dan mencakup sesi pembukaan, pemaparan materi, hingga praktik pembuatan ecobrick dari botol bekas dan sampah plastik. Meskipun menghadapi kendala seperti jarak lokasi dan kurangnya fokus peserta, kegiatan berhasil diatasi dengan strategi keberangkatan bersama dan pendekatan interaktif. Temuan menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya memperkuat pemahaman peserta terhadap konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), tetapi juga menumbuhkan semangat wirausaha sosial di lingkungan pendidikan nonformal. Kesimpulannya, pelatihan ini merupakan model edukasi lingkungan yang efektif dan dapat direplikasi dalam skala lebih luas guna mendukung ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Dewantara Eco Seat: Transforming Plastic Waste into Valuable Furniture through Training-Based Program in Paket C Learning Group at Ki Hadjar Dewantara Foundation, Malang
The ecobrick chair and table-making training at the Paket C Learning Group of the Ki Hadjar Dewantara Foundation in Malang aims to raise community awareness and skills in managing plastic waste into valuable products. The main issue addressed is the high consumption of plastic bottles, which generates unmanaged waste and harms the environment. This project employed a participatory approach involving education sessions, technical demonstrations, and hands-on practice using used plastic bottles and fabric scraps. The results indicated a significant improvement in participants' ability to create eco-friendly furniture. The ecobrick chairs and tables produced are functional, aesthetically pleasing, and hold economic potential. Findings revealed that the training strengthened participants’ understanding of the 3R principles (Reduce, Reuse, Recycle) and fostered a spirit of social entrepreneurship within the non-formal education setting. In conclusion, this training serves as an effective environmental education model and can be replicated on a larger scale to support community-based circular economies
Optimalisasi Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Edukasi Interaktif Berbasis Sekolah di SMK KP Cicalengka
Permasalahan kesehatan reproduksi di kalangan remaja masih menjadi isu yang kompleks dan sensitif, yang membutuhkan pendekatan edukatif yang efektif dan relevan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang kesehatan reproduksi melalui program edukasi interaktif berbasis sekolah di SMK KP Cicalengka. Metode yang digunakan adalah edukasi partisipatif berbasis bukti ilmiah, diskusi terbuka, dan pemeriksaan kesehatan dasar. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap isu kesehatan reproduksi. Selain itu, siswa menunjukkan perubahan sikap yang lebih positif dan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat. Pemeriksaan kesehatan dasar turut memberikan gambaran kondisi awal kesehatan siswa dan menjadi media refleksi bagi peserta didik. Program ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3 dan SDG 4) serta membuktikan efektivitas pendekatan kontekstual dan partisipatif dalam pendidikan kesehatan remaja. Dengan demikian, program edukasi interaktif ini layak untuk direplikasi dan dikembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih luas.
Optimizing Adolescent Reproductive Health Through School-Based Interactive Education at SMK KP Cicalengka
Adolescent reproductive health remains a complex and sensitive issue requiring effective and contextually relevant educational strategies. This study aims to enhance students' knowledge and awareness of reproductive health through a school-based interactive education program conducted at SMK KP Cicalengka. The methods applied included evidence-based participatory education, open discussions, and basic health examinations. Pre-test and post-test results indicated a significant improvement in students’ understanding of reproductive health issues. Moreover, students showed more positive attitudes and increased awareness of the importance of a healthy lifestyle. The basic health screening provided initial insights into students' physical health and encouraged self-reflection. This program supports the achievement of Sustainable Development Goals (SDG 3 and SDG 4) and demonstrates the effectiveness of participatory and contextual approaches in adolescent health education. Thus, the interactive educational program is suitable for broader implementation and further developmen
PELATIHAN UPSKILLING PENGEMBANGAN PRODUK INOVATIF UNTUK PANDAI BESI DI DESA MEKARMAJU KABUPATEN BANDUNG
Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin pandai besi tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman, para pengrajin menghadapi tantangan dalam hal inovasi produk. Minimnya kemampuan dalam berinovasi menjadi salah satu alasan produk mereka kalah bersaing dengan produk industri modern. Melalui program pengabdian masyarakat ini, Tim Telkom University akan menyelenggarakan pelatihan upskilling yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengrajin dalam berinovasi dan memasarkan produk secara efektif. Pelatihan ini mencakup materi tentang tata cara mendesain produk yang inovatif beserta cara marketing yang tepat. Dari data pre-test dan post-test, didapatkan hasil bahwa pemahaman warga atas inovasi produk naik dari 60 persen menjadi 69,7 persen. Dari peningkatan pemahaman ini diharapkan program ini dapat meningkatkan daya saing produk pandai besi Desa Mekarmaju di pasar lokal maupun nasional di masa depan.
Upskilling Training for Innovative Product Development for Blacksmiths in Mekarmaju Village, Bandung Regency
Mekarmaju Village in Bandung Regency, is known as a center for traditional blacksmithing. However, as time goes by, the craftsmen face challenges in product innovation. Lack of innovation is one reason their products are unable to compete with modern industrial products. Through this community service program, the Telkom University Team will conduct upskilling training aimed at improving the craftsmen's ability to innovate and market their products effectively. This training includes materials on how to design innovative products and appropriate marketing methods. Pre-test and post-test data showed that residents' understanding of product innovation increased from 60 percent to 69.7 percent. This increased understanding is expected to increase the competitiveness of Mekarmaju Village's blacksmithing products in the local and national markets in the future.Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin pandai besi tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman, para pengrajin menghadapi tantangan dalam hal inovasi produk. Minimnya kemampuan dalam berinovasi menjadi salah satu alasan produk mereka kalah bersaing dengan produk industri modern. Melalui program pengabdian masyarakat ini, Tim Telkom University akan menyelenggarakan pelatihan upskilling yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengrajin dalam berinovasi dan memasarkan produk secara efektif. Pelatihan ini mencakup materi tentang tata cara mendesain produk yang inovatif beserta cara marketing yang tepat. Dari data pre-test dan post-test, didapatkan hasil bahwa pemahaman warga atas inovasi produk naik dari 60 persen menjadi 69,7 persen. Dari peningkatan pemahaman ini diharapkan program ini dapat meningkatkan daya saing produk pandai besi Desa Mekarmaju di pasar lokal maupun nasional di masa depan
Pemberdayaan Kreativitas Siswa SDN Sepatan 1 Melalui Pelatihan Motion Graphic Berbasis Aplikasi CapCut
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di SDN Sepatan 1 bertujuan untuk memperkenalkan konsep dasar motion graphic sekaligus melatih keterampilan praktis siswa dalam menggunakan aplikasi CapCut sebagai salah satu media pembelajaran berbasis teknologi digital. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan peningkatan literasi digital di tingkat sekolah dasar, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan aplikasi yang mudah diakses. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup penyampaian materi secara interaktif, praktik langsung penggunaan aplikasi, hingga pembuatan karya sederhana berupa video motion graphic yang diproduksi oleh siswa sendiri. Selama empat kali pertemuan, siswa kelas 5B dan 5C terlibat aktif, tidak hanya dalam mendengarkan penjelasan, tetapi juga dalam praktik mandiri serta diskusi kelompok. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pretest, posttest, observasi keterlibatan siswa, dan kuesioner kepuasan. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan, di mana rata-rata nilai pretest sebesar 39,7 meningkat menjadi 85,5 pada posttest dengan nilai N-gain sebesar 0,76, termasuk dalam kategori tinggi. Selain peningkatan kompetensi, siswa menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk berkreasi secara digital. Dengan demikian, kegiatan PKM ini terbukti efektif dalam mendukung pencapaian literasi digital sekaligus memperkuat tujuan pendidikan berkualitas sebagaimana tercantum dalam SDGs poin 4.
Empowering the Creativity of SDN Sepatan 1 Students through Motion Graphic Training Using CapCut Application
The Community Service Program (PKM) conducted at SDN Sepatan 1 aimed to introduce the basic concepts of motion graphics while simultaneously training students’ practical skills in using the CapCut application as a digital learning medium. This program was designed to address the need for enhancing digital literacy at the elementary school level, particularly in fostering students’ creativity through the use of accessible applications. The implementation method included interactive material delivery, hands-on practice with the application, and the creation of simple projects in the form of motion graphic videos produced by the students themselves. Over four sessions, students from classes 5B and 5C actively participated, not only by listening to explanations but also through independent practice and group discussions. The evaluation of activities was carried out through pretests, posttests, observation of student engagement, and satisfaction questionnaires. The results of the analysis showed a significant improvement, where the average pretest score of 39.7 increased to 85.5 in the posttest, with an N-gain value of 0.76, which falls into the high category. In addition to increased competence, students also demonstrated higher motivation to engage in digital creativity. Thus, this PKM activity proved to be effective in supporting the achievement of digital literacy and strengthening the goal of quality education as outlined in SDG point 4.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di SDN Sepatan 1 bertujuan untuk memperkenalkan konsep dasar motion graphic sekaligus melatih keterampilan praktis siswa dalam menggunakan aplikasi CapCut sebagai salah satu media pembelajaran berbasis teknologi digital. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan peningkatan literasi digital di tingkat sekolah dasar, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan aplikasi yang mudah diakses. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup penyampaian materi secara interaktif, praktik langsung penggunaan aplikasi, hingga pembuatan karya sederhana berupa video motion graphic yang diproduksi oleh siswa sendiri. Selama empat kali pertemuan, siswa kelas 5B dan 5C terlibat aktif, tidak hanya dalam mendengarkan penjelasan, tetapi juga dalam praktik mandiri serta diskusi kelompok. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pretest, posttest, observasi keterlibatan siswa, dan kuesioner kepuasan. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan, di mana rata-rata nilai pretest sebesar 39,7 meningkat menjadi 85,5 pada posttest dengan nilai N-gain sebesar 0,76, termasuk dalam kategori sedang–tinggi. Selain peningkatan kompetensi, siswa menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk berkreasi secara digital. Dengan demikian, kegiatan PKM ini terbukti efektif dalam mendukung pencapaian literasi digital sekaligus memperkuat tujuan pendidikan berkualitas sebagaimana tercantum dalam SDGs poin 4
Membangun Lingkungan Kampus Responsif Darurat: Pelatihan dan Peningkatan Kompetensi Basic Live Support bagi Civitas Akademik Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang
Keselamatan komunitas kampus merupakan prioritas utama, khususnya di lingkungan dengan aktivitas fisik intensif seperti Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Rendahnya pemahaman Bantuan Hidup Dasar di kalangan non-medis berpotensi memperburuk outcome keadaan darurat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BLS) dan berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi civitas akademik yang mempunyai relevansi dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) atau SDG 4 (Quality Education pada peningkatan kesiapsiagaan darurat penyebaran kompetensi BLS di lingkungan akademik.Metode yang digunakan adalah eksperimen one-group pretest-posttest design terhadap 22 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar AHA 2020 selama 8 jam yang mencakup modul teoritis dan sesi praktik dengan manikin QCPR. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan penilaian keterampilan objektif sebelum dan setelah pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Rata-rata kesalahan per responden turun dari 2,09 pada pre-test menjadi 0,09 pada post-test, yang merepresentasikan peningkatan pemahaman sebesar 95,69%. Sebanyak 90,91% peserta berhasil mencapai skor sempurna pada post-test. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan Bantuan Hidup Dasar berbasis simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menangani keadaan gawat darurat. Kesimpulan bahwa pelatihan BHL merupakan intervensi yang strategis untuk membangun budaya keselamatan kampus. Oleh karena itu, direkomendasikan integrasi pelatihan ini ke dalam kurikulum non-formal, disertai dengan pelatihan penyegaran berkala dan perluasan cakupan ke seluruh unit universitas.
Basic Live Support Training to Build an Emergency Response Campus
The safety of the campus community is a top priority, especially in environments with intensive physical activity like the Faculty of Sport Sciences at Malang State University. Poor understanding of Basic Life Support among non-medical personnel has the potential to worsen emergency outcomes. This community service aims to evaluate the effectiveness of Basic Life Support (BLS) training and contribute to improving the competency of the academic community that is relevant to SDG 3 (Good Health and Well-Being) or SDG 4 (Quality Education) in improving emergency preparedness and disseminating BLS competency in the academic environment. The method used was a one-group pretest-posttest design experiment with 22 students selected by purposive sampling. The intervention was an 8-hour AHA 2020 Basic Life Support training that included theoretical modules and practical sessions with QCPR manikins. Data were collected through knowledge questionnaires and objective skill assessments before and after the training. The results showed a very significant improvement. The average error per respondent decreased from 2.09 in the pre-test to 0.09 in the post-test, which represents an increase in understanding of 95.69%. A total of 90.91% of participants managed to achieve a perfect score on the post-test. These findings prove that simulation-based Basic Life Support training is effective in improving knowledge and practical skills in handling emergencies. The conclusion is that BHL training is a strategic intervention to build a campus safety culture. Therefore, it is recommended that this training be integrated into the non-formal curriculum, accompanied by periodic refresher training and expanded to all university units.Keselamatan komunitas kampus merupakan prioritas utama, khususnya di lingkungan dengan aktivitas fisik intensif seperti Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Rendahnya pemahaman Basic Life Support (BHL) di kalangan non-medis berpotensi memperburuk outcome keadaan darurat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BLS) dalam meningkatkan kompetensi civitas akademik. Metode yang digunakan adalah eksperimen one-group pretest-posttest design terhadap 22 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar AHA 2020 selama 8 jam yang mencakup modul teoritis dan sesi praktik dengan manikin QCPR. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan penilaian keterampilan objektif sebelum dan setelah pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Rata-rata kesalahan per responden turun dari 2,09 pada pre-test menjadi 0,09 pada post-test, yang merepresentasikan peningkatan pemahaman sebesar 95,69%. Sebanyak 90,91% peserta berhasil mencapai skor sempurna pada post-test. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan Bantuan Hidup Dasar berbasis simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menangani keadaan gawat darurat. Ksimpulkan bahwa pelatihan BHL merupakan intervensi yang strategis untuk membangun budaya keselamatan kampus. Oleh karena itu, direkomendasikan integrasi pelatihan ini ke dalam kurikulum non-formal, disertai dengan pelatihan penyegaran berkala dan perluasan cakupan ke seluruh unit universitas
Optimalisasi Pisang Sebagai Bahan Baku Tepung Pisang Untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Santri Pondok Pesantren Ash Sholihuddin
Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi santri Pondok Pesantren Ash Sholihuddin melalui inovasi pengolahan pisang menjadi tepung pisang berbasis potensi lokal. Permasalahan utama mitra adalah belum adanya kegiatan ekonomi produktif meskipun terdapat potensi pisang yang melimpah di sekitar pondok. Kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan dengan melibatkan 25 santri melalui pelatihan kewirausahaan, pendampingan produksi, penyediaan teknologi tepat guna (oven, slicer, dan grinder), serta penguatan pemasaran digital. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipatif, pre–post test pengetahuan, dan wawancara reflektif peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan teknis dan motivasi santri dalam produksi tepung pisang, terbentuknya produk uji coba, penyusunan SOP produksi, serta identitas merek dan kemasan. Program ini efektif meningkatkan kapasitas dan semangat kewirausahaan santri, serta menjadi langkah awal pembentukan unit usaha pesantren berbasis potensi lokal yang mendukung tujuan SDGs 4, 8, dan 12.
Optimization of Bananas as Raw Material for Banana Flour to Enhance the Economic Independence of Students at Ash Sholihuddin Islamic Boarding School
This community service program aimed to enhance the economic independence of students at Ash Sholihuddin Islamic Boarding School through innovation in processing bananas into banana flour. The main challenge was the lack of productive economic activities despite the abundant banana resources surrounding the pesantren. The program was conducted over three months, involving 25 students, through entrepreneurship training, production assistance, provision of appropriate technology (oven, slicer, grinder), and digital marketing enhancement. The impact was evaluated through participant observation, pre–post knowledge tests, and reflective interviews. The results indicated significant improvement in students’ technical and entrepreneurial capacities, evidenced by the establishment of a prototype product, a standardized operating procedure (SOP), and brand identity. The program effectively empowered students to utilize local agricultural resources, promoting the emergence of a student-based business unit aligned with Sustainable Development Goals (SDGs) 4, 8, and 12 on quality education, decent work and economic growth, and responsible consumption and production.Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi santri Pondok Pesantren Ash Sholihuddin melalui inovasi pengolahan pisang menjadi tepung pisang. Permasalahan utama mitra adalah belum adanya kegiatan ekonomi produktif meskipun terdapat potensi pisang yang melimpah di sekitar pondok. Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan kewirausahaan, pendampingan produksi, penyediaan teknologi tepat guna (oven, slicer, dan grinder), serta penguatan pemasaran digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan teknis dan motivasi santri dalam produksi tepung pisang, terbentuknya produk uji coba, penyusunan SOP produksi, serta identitas merek dan kemasan. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas dan semangat kewirausahaan santri serta menjadi langkah awal terbentuknya unit usaha pesantren berbasis potensi lokal
Pelatihan Akuntansi Bagi Usaha Mikro di Bawah Naungan Majelis Ulama Indonesia
Program pelatihan akuntansi ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan bagi pelaku Usaha Mikro yang berada di bawah binaan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Latar belakang kegiatan ini berangkat dari rendahnya literasi akuntansi UMKM, yang mengakibatkan lemahnya kemampuan pelaku usaha dalam menyusun laporan keuangan yang rapi dan sesuai standar. Pelatihan diberikan melalui ceramah, diskusi, dan latihan soal yang disusun secara praktis dan aplikatif. Materi mencakup pencatatan transaksi, jurnal penyesuaian, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana. Efektivitas pelatihan dievaluasi menggunakan pendekatan kuantitatif melalui uji paired sample t-test. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan skor peserta antara pre-test dan post-test (rata-rata meningkat dari 66,13 menjadi 76,77), dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05). Peningkatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berdampak nyata dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan akuntansi peserta. Dampaknya tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha dan akses pembiayaan, tetapi juga memperkuat keberlanjutan dan kepercayaan diri pelaku usaha. Program ini juga mendukung pemberdayaan ekonomi umat dan penguatan peran MUI dalam pembinaan UMKM berbasis syariah.
Accounting Training for Micro Businesses Under the Auspices of the Indonesian Ulema Council
This accounting training program aims to enhance financial management capacity among micro-business actors under the guidance of the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia/MUI). The program was initiated in response to the low level of accounting literacy among micro, small, and medium enterprises (MSMEs), which often lack the ability to prepare standardized and accurate financial reports. The training was delivered through lectures, discussions, and practical exercises, with materials designed to be accessible and applicable. Key topics included transaction recording, adjusting journal entries, and the preparation of basic financial statements. The effectiveness of the training was evaluated using a quantitative approach with a paired sample t-test. The results indicated a significant improvement in participants’ scores between the pre-test and post-test phases (mean increase from 66.13 to 76.77), with a significance value of 0.000 (p < 0.05). This finding demonstrates a meaningful impact of the training on participants’ understanding and skills in accounting. Beyond technical skills, the program contributed to better financial efficiency, increased access to financing, enhanced business sustainability, and greater confidence among entrepreneurs. Furthermore, the training supports the broader agenda of empowering the ummah’s economy and strengthens MUI’s role in guiding Sharia-based micro-enterprises
Edukasi Mitigasi Bencana bagi Siswa SDN Wage 2 sebagai Upaya Peningkatan Kesiapsiagaan Dini
Indonesia merupakan negara yang rawan bencana, khususnya banjir dan angin puting beliung yang kerap melanda wilayah-wilayah padat penduduk. Anak-anak sekolah dasar menjadi kelompok paling rentan karena minimnya pemahaman dan keterampilan dalam menghadapi bencana. Kegiatan edukasi mitigasi bencana yang dilakukan di SDN Wage 2 Sidoarjo bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi dua jenis bencana utama tersebut. Metode yang digunakan bersifat partisipatif, seperti storytelling, video edukatif, role-playing, simulasi evakuasi, dan praktik lapangan seperti penanaman biopori. Kegiatan ini melibatkan siswa kelas 4 hingga 6 sebagai sasaran utama karena dinilai telah memiliki kesiapan kognitif untuk memahami materi kebencanaan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam tiga aspek: pemahaman bencana, tindakan evakuasi, dan kesiapan mental. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang menyenangkan, kontekstual, dan berkesinambungan mampu meningkatkan ketangguhan siswa dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu direplikasi dan diintegrasikan secara sistematis ke dalam kurikulum pendidikan dasar, terutama di daerah rawan bencana.
Disaster Mitigation Education for SDN Wage 2 Students as an Effort to Enhance Early Preparedness
Indonesia is a disaster-prone country, especially to floods and whirlwinds that frequently strike densely populated areas. Primary school children are the most vulnerable group due to their limited knowledge and skills in disaster management. The disaster mitigation education activities conducted at SDN Wage 2 Sidoarjo aim to enhance students' preparedness in facing these two main types of disasters. The methods used are participatory, such as storytelling, educational videos, role-playing, evacuation simulations, and field practices such as biopori planting. The activities involved students from grades 4 to 6 as the primary target group because they are deemed to have the cognitive readiness to understand disaster-related materials. The results of the activities show a significant improvement in three aspects: understanding of disasters, evacuation actions, and mental readiness. These findings indicate that an engaging, contextual, and continuous educational approach can enhance students' resilience in facing disasters. Therefore, similar activities should be replicated and systematically integrated into the basic education curriculum, especially in disaster-prone areas
Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Menuju Indonesia Emas 2025: Talkshow dan Ceramah kepada Siswa SMA Negeri 3 Semarang
Kesehatan reproduksi remaja merupakan aspek fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Edukasi yang efektif dan ramah remaja dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan serta membentuk sikap bertanggung jawab terkait kesehatan seksual dan reproduksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk talkshow dan ceramah interaktif kepada 59 siswa SMA Negeri 3 Semarang. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 80 menjadi 93 untuk siswa laki-laki dan dari 86 menjadi 93 untuk siswa perempuan. Pendekatan non-otoriter dan partisipatif terbukti efektif menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, membuka ruang dialog, dan menurunkan stigma terkait isu reproduksi. Talkshow sebagai metode penyampaian informasi mampu membangun keterlibatan aktif peserta dan mendorong keberanian mereka menyampaikan pertanyaan tentang topik sensitif. Meskipun terdapat beberapa hambatan seperti keterbatasan waktu dan kendala teknis, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan berbasis komunikasi terbuka dan dukungan komunitas sangat relevan dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja. Disarankan agar kegiatan serupa dilanjutkan secara berkala dengan model pendampingan lanjutan berbasis sekolah.
Adolescent Reproductive Health Education Towards Golden Indonesia 2025: Talkshow and Lecture for SMA Negeri 3 Semarang Student
Adolescent reproductive health is a fundamental aspect of human development in achieving the Golden Indonesia 2045 vision. Effective and youth-friendly education is essential to enhance knowledge and foster responsible attitudes toward sexual and reproductive health. This community service activity was implemented through an interactive talkshow and lecture involving 59 students of SMA Negeri 3 Semarang. Evaluation was conducted using pre-test and post-test assessments to measure participants’ knowledge improvement. Results showed an increase in average scores from 80 to 93 for male students and from 86 to 93 for female students. A non-authoritarian and participatory approach proved effective in creating an inclusive learning environment, enabling open dialogue and reducing the stigma surrounding reproductive issues. The talkshow format successfully facilitated active student engagement and encouraged confidence in addressing sensitive topics. Despite challenges such as limited time and technical issues, this activity demonstrated that open-communication-based education supported by community involvement is highly relevant in enhancing adolescent reproductive health literacy. It is recommended that similar programs be conducted regularly with continued school-based mentoring models to ensure long-term impact