Empiricism Journal
Not a member yet
400 research outputs found
Sort by
Evaluasi Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah (SAK-EMKM) Pada UMKM Produsen Cakalang di Bitung
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK-EMKM) pada UMKM produsen ikan cakalang di Kota Bitung dengan studi kasus pada UD. Sederhana III. Penelitian ini didasarai oleh rendahnya kemampuan pelaku UMKM dalam menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi, yang berdampak pada keterbatasan akses permodalan, kesulitan pengambilan keputusan, dan lemahnya daya saing. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan yang divalidasi dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UD. Sederhana III belum menerapkan SAK-EMKM secara optimal. Pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual dan sederhana, terbatas pada transaksi pemasukan dan pengeluaran tanpa pemisahan akun yang sistematis. Hambatan internal meliputi rendahnya pengetahuan akuntansi, keterbatasan sumber daya manusia, serta anggapan bahwa pembukuan formal tidak mendatangkan manfaat langsung. Hambatan eksternal mencakup minimnya pendampingan, pengawasan pemerintah, dan dukungan lembaga keuangan. Penerapan SAK-EMKM sangat penting untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta kredibilitas laporan keuangan. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi pelaku UMKM agar mampu menyusun laporan keuangan sesuai standar dan meningkatkan daya saing usaha.
Evaluation of the Implementation of Financial Accounting Standards for Micro, Small and Medium Entities (SAK-EMKM) on MSME Producers of Cakalang in Bitung
Abstract
This study aims to evaluate the implementation of the Financial Accounting Standards for Micro, Small, and Medium Entities (SAK-EMKM) in small-scale tuna (cakalang) processing enterprises in Bitung City, using UD. Sederhana III as a case study. The research is motivated by the limited ability of MSME actors to prepare financial statements in accordance with accounting standards, which constrains access to capital, complicates decision-making, and weakens business competitiveness. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through interviews, observations, and documentation. Data analysis was conducted through reduction, presentation, and conclusion-drawing, validated using source triangulation. The results indicate that UD. Sederhana III has not yet implemented SAK-EMKM optimally. Financial recording is still conducted manually and in a simple manner, limited to income and expenditure transactions without systematic account classification. Internal barriers include limited accounting knowledge, lack of human resources, and the perception that formal bookkeeping provides no direct benefits. External barriers involve insufficient supervision, limited government assistance, and inadequate institutional support from financial institutions. The implementation of SAK-EMKM is crucial to enhance transparency, accountability, and the credibility of financial reports. Therefore, continuous training and institutional mentoring are essential to enable MSME actors to prepare standardized financial statements and improve business competitiveness
Kepemimpinan Partisipatif Dan Etos Kerja Kolektif: Identitas Manajemen Pada Tradisi Mapalus Minahasa
Kearifan Kearifan lokal Mapalus di Minahasa merepresentasikan sistem sosial-ekonomi berbasis gotong royong yang telah lama menjadi ciri budaya masyarakat setempat. Meskipun berbagai studi sebelumnya telah membahas Mapalus sebagai bentuk solidaritas sosial, masih terdapat celah penelitian terkait bagaimana nilai-nilai tersebut diartikulasikan dalam konteks kepemimpinan partisipatif dan etos kerja kolektif sebagai identitas manajemen komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kepemimpinan partisipatif dan etos kerja kolektif berfungsi sebagai identitas manajemen dalam budaya Mapalus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi, melibatkan 15 informan kunci yang terdiri atas tokoh adat, kepala jaga, dan anggota kelompok Mapalus di tiga desa di Kabupaten Minahasa. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan selama tiga bulan, serta studi dokumentasi terhadap arsip dan naskah budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Mapalus bersifat partisipatif dan egaliter, menekankan musyawarah, keadilan, dan tanggung jawab bersama dalam pembagian tugas. Mekanisme kontrol sosial dijalankan melalui norma adat dan nilai resiprositas moral yang memperkuat disiplin kolektif. Etos kerja kolektif yang terbentuk mencerminkan identitas manajemen khas Minahasa, yaitu bekerja sebagai ibadah sosial, solidaritas sebagai modal utama, dan keadilan sebagai bentuk timbal balik moral. Temuan ini memperluas pemahaman tentang manajemen berbasis budaya dengan menunjukkan bahwa Mapalus tidak hanya berperan dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai sistem manajemen sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan ketahanan budaya. Penelitian ini membuka ruang bagi pengembangan model manajemen partisipatif berbasis kearifan lokal dalam konteks pembangunan masyarakat Indonesia.
Participatory Leadership and Collective Work Ethic: Management Identity in the Mapalus Tradition of Minahasa
Abstract
The local wisdom of Mapalus in Minahasa represents a socio-economic system based on mutual cooperation, which has long been a defining feature of the local community’s culture. Although previous studies have discussed Mapalus as a form of social solidarity, there remains a research gap concerning how these values are articulated within the context of participatory leadership and collective work ethic as a form of community management identity. This study aims to analyze how participatory leadership and collective work ethic function as management identities within the Mapalus culture. The research employed a qualitative descriptive method with an ethnographic approach, involving 15 key informants consisting of traditional leaders, neighborhood heads (kepala jaga), and members of Mapalus groups across three villages in Minahasa Regency. Data were collected through in-depth interviews, participant observation conducted over three months, and documentation studies of local cultural archives and manuscripts. The results show that leadership within Mapalus is participatory and egalitarian, emphasizing deliberation, fairness, and shared responsibility in task distribution. Social control mechanisms are maintained through customary norms and moral reciprocity values that reinforce collective discipline. The collective work ethic that emerges reflects a distinctive Minahasan management identity—working as a form of social devotion, solidarity as the main capital, and justice as a manifestation of moral reciprocity. These findings expand the understanding of culture-based management by demonstrating that Mapalus not only functions in economic activities but also serves as a social management system that strengthens community cohesion and cultural resilience. The study opens opportunities for developing participatory management models grounded in local wisdom within the context of Indonesian community development.Mapalus Minahasa memiliki kearifan lokal yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kepemimpinan partisipatif dan etos kerja kolektif berfungsi sebagai identitas manajemen dalam budaya Mapalus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi, melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Mapalus tidak bersifat hierarkis, melainkan partisipatif, menekankan musyawarah, keadilan, dan tanggung jawab bersama. Kepemimpinan partisipatif ini berfungsi untuk mengatur pembagian tugas, memperkuat solidaritas, dan memelihara disiplin sosial melalui mekanisme kontrol berdasarkan norma adat. Etos kerja kolektif yang lahir dari Mapalus mencerminkan identitas manajemen khas Minahasa, yaitu bekerja sebagai ibadah sosial, solidaritas sebagai modal utama, dan resiprositas moral sebagai bentuk keadilan. Temuan ini menegaskan bahwa Mapalus berperan tidak hanya dalam kegiatan ekonomi tetapi juga sebagai sistem manajemen yang mampu memperkuat identitas budaya, solidaritas sosial, dan ketahanan masyarakat
Peran Guru Sebagai Agen Inovasi dalam Transformasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Digital pada MAN 2 Mataram
Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam PAI secara umum telah banyak dilakukan, namun, kajian tentang peran guru sebagai agen inovasi (change agent) melalui lensa Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dalam konteks madrasah aliyah negeri, serta faktor pendukung, penghambat, dan strategi mitigasinya, masih terbatas. Artikel ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan mengeksplorasi peran guru PAI sebagai agen inovasi dalam transformasi pembelajaran di era digital di MAN 2 Mataram. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data dianalisis secara tematik dengan menggunakan triangulasi sumber untuk memastikan kredibilitas dan konfirmabilitas temuan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa guru PAI telah menerapkan berbagai inovasi berbasis teknologi. Penggunaan platform Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom dan pemanfaatan media sosial (WhatsApp Group) untuk berdiskusi dan membagikan materi merupakan bentuk inovasi yang paling dominan. Selain itu, penerapan model project-based learning dan flipped classroom juga terbukti efektif. Inovasi-inovasi ini secara konkret ditunjukkan dengan peningkatan partisipasi aktif siswa dalam forum diskusi online, peningkatan ketepatan pengumpulan tugas, serta perluasan akses belajar di luar jam kelas. Faktor pendukung utama meliputi kompetensi digital guru, dukungan kebijakan sekolah, dan ketersediaan infrastruktur teknologi. Sementara itu, hambatan yang dihadapi adalah kesenjangan kompetensi digital antar guru dan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menekankan pentingnya integrasi teknologi, pedagogi, dan konten keagamaan (TPACK) dalam pembelajaran PAI, serta menjadi acuan bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan Islam yang adaptif dan berkelanjutan di era digital.
The Role of the Teacher as an Agent of Innovation in the Transformation of Islamic Religious Education Learning in the Digital Era at MAN 2 Mataram
Abstract
The adoption of Information and Communication Technology (ICT) in Islamic Religious Education (PAI) has been widely implemented in general. However, studies focusing on the role of teachers as innovation agents (change agents) through the lens of Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) in the context of public senior Islamic high schools (madrasah aliyah negeri), along with the supporting factors, barriers, and mitigation strategies, remain limited. This article aims to fill this gap by exploring the role of PAI teachers as agents of innovation in the transformation of learning in the digital era at MAN 2 Mataram. The research approach used was qualitative with a case study design. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation studies. Data were analyzed thematically using source triangulation to ensure the credibility and confirmability of the findings. The results reveal that PAI teachers have implemented various technology-based innovations. The use of Learning Management System (LMS) platforms like Google Classroom and the utilization of social media (WhatsApp Group) for discussion and material sharing were the most dominant forms of innovation. Furthermore, the implementation of project-based learning and flipped classroom models also proved effective. These innovations were concretely demonstrated by increased active student participation in online discussion forums, improved timeliness of assignment submission, and expanded learning access beyond school hours. The main supporting factors included teacher digital competence, school policy support, and the availability of technological infrastructure. Meanwhile, the obstacles faced were disparities in digital competence among teachers and limited resources. This research contributes by emphasizing the importance of integrating technology, pedagogy, and religious content (TPACK) in PAI learning, and serves as a reference for developing adaptive and sustainable Islamic education policies and practices in the digital era
Analisis Strategi Pemasaran Produk Pertanian Dengan Dukungan Teknologi Digital di Pedesaan
Petani di pedesaan Minahasa Selatan memiliki banyak komoditas pertanian, namun masih bergantung pada tengkulak dengan harga jual rendah sehingga keuntungan mereka sangat kecil. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemasaran digital bagi produk pertanian pohon nira yang diolah menjadi gula aren dengan menggunakan analisis SWOT serta matriks IFAS dan EFAS. Produk gula aren memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan lokal, Namun, pemasaran terkendala oleh keterbatasan akses teknologi dan keterampilan digital petani. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan petani, konsumen, dan pengepul, serta analisis literatur terkait. Untuk menggali pemahaman mendalam tentang praktik pemasaran dan penggunaan teknologi digital melalui analisis literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama produk gula aren terletak pada kualitasnya yang alami dan khas lokal, dengan peluang besar dari meningkatnya akses pasar digital. Berdasarkan analisis IFAS dan EFAS, faktor kekuatan dan peluang memiliki skor tinggi (1,45 dan 1,35), menandakan potensi besar pengembangan pemasaran digital. Namun, keterbatasan keterampilan digital dan akses internet (skor kelemahan 1,10) masih menjadi kendala. Penggunaan platform facebook ads dan media sosial terbukti meningkatkan pendapatan petani hingga 10–15%. Strategi yang direkomendasikan mencakup pelatihan digital, diversifikasi pemasaran online–offline, untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani. kelemahan seperti keterbatasan keterampilan digital dan akses internet . Strategi yang dihasilkan mencakup pelatihan digital bagi petani, diversifikasi pemasaran melalui platform digital dan offline, serta penguatan citra produk. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi pemasaran produk pertanian yang berkelanjutan dengan dukungan teknologi digital, serta diharapkan dapat meningkatkan daya saing gula aren di pasar yang lebih luas.
Analysis of Agricultural Product Marketing Strategies with Digital Technology Support in Rural Areas
Abstract
Farmers in the rural areas of South Minahasa have various agricultural commodities but still depend on middlemen who buy their products at low prices, resulting in very small profits. This study aims to formulate a digital marketing strategy for palm sap products processed into palm sugar using SWOT analysis as well as IFAS and EFAS matrices. Palm sugar has great potential as a leading local commodity; however, its marketing is hindered by farmers’ limited access to technology and digital skills. Data were collected through interviews with farmers, consumers, and collectors, as well as relevant literature analysis to gain a deeper understanding of marketing practices and the use of digital technology. The results show that the main strength of palm sugar lies in its natural quality and local uniqueness, with significant opportunities from the growing access to digital markets. Based on IFAS and EFAS analyses, the strength and opportunity factors received high scores (1.45 and 1.35), indicating a strong potential for digital marketing development. However, limited digital skills and internet access (weakness score 1.10) remain major challenges. The use of Facebook Ads and social media platforms has been shown to increase farmers’ income by 10–15%. Recommended strategies include digital training, diversification of online–offline marketing, and strengthening product branding to enhance competitiveness and farmers’ welfare. Weaknesses such as limited digital literacy and internet access still require improvement. Overall, this study contributes to the development of sustainable agricultural product marketing strategies supported by digital technology and is expected to enhance the competitiveness of palm sugar in broader markets
Komunikasi Ritual pada Prosesi Adat Memarek sebagai BentukAdopsi Budaya Bali di Kabupaten Lombok Utara
Penelitian "Komunikasi Ritual pada Prosesi Adat Memarek sebagai bentuk adopsi budaya bali di kabupaten lombok utara" memiliki sasaran untuk meneliti makna dari komunikasi ritual serta simbol yang ada di dalam tradisi Memarek yang merupakan bentuk dari salah satu akulturasi budaya bali yaitu ritual metatah. Ritual ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur, doa untuk keselamatan, dan permohonan berkah terkhusus bagi anak perempuan yang akan menginjak dewasa. Walaupun terdapat perbedaan kepercayaan di kalangan masyarakat namun tradisi ini dapat bertahan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori interaksi simbolik untuk memahami makna dari simbol dan interaksi sosial dalam setiap tahapan proses ritual yang dilaksanakan. Pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok (FGD) dengan mengundang beberapa tokoh adat, masyarakat dan beberapa pihak yang terlibat dalam tradisi terkait di Desa Tegal maja, Dusun Leong Timur, Kabupaten Lombok Utara. Selain itu untuk menganalisis data digunakan metode Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) Terdapat proses adopsi budaya pada prosesi tradisi mengasah gigi yang merupakan salah satu rangkaian tradisi memarek. Tradisi mengasah gigi sangat lekat dengan budaya bali yaitu (2) Adopsi budaya yang terjadi dianalisis menggunakan teori akulturasi budaya dan teridentifikasi dengan strategi integrasi budaya. (3) Komunikasi ritual pada proses integrasi budaya, terdapat 3 hal yang menjadi perhatian penelitian yaitu (a) persilangan unsur budaya (tradisi dan ritual), (b) proses ritual, (C) proses interaksi.
Ritual Communication in the Memarek Traditional Procession as a Form of Balinese Cultural Adoption in North Lombok Regency
Abstract
The research "Ritual Communication in the Memarek Traditional Procession as a form of Balinese cultural adoption in North Lombok Regency" aims to examine the meaning of ritual communication and symbols in the Memarek tradition, which is a form of Balinese cultural acculturation, namely the metatah ritual. This ritual is carried out to express gratitude, prayers for safety, and requests for blessings, especially for girls who are about to reach adulthood. Although there are differences in beliefs among the community, this tradition can survive until now. This research uses a descriptive qualitative approach method with symbolic interaction theory to understand the meaning of symbols and social interactions in each stage of the ritual process carried out. Data collection was carried out through in-depth interviews and focus group discussions (FGD) by inviting several traditional leaders, the community and several parties involved in related traditions in Tegal Maja Village, Leong timur Hamlet, North Lombok Regency. In addition, to analyze the data, the Miles and Huberman method was used, consisting of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of this study are (1) There is a process of cultural adoption in the tooth sharpening tradition procession which is one of the series of the marek tradition. The tradition of sharpening teeth is closely linked to Balinese culture, namely (2) The cultural adoption that occurs is analyzed using the theory of cultural acculturation and identified with cultural integration strategies. (3) Ritual communication in the cultural integration process, there are 3 things that are the focus of research, namely (a) the intersection of cultural elements (tradition and ritual), (b) the ritual process, (c) the interaction process.Penelitian "Komunikasi Ritual pada Prosesi Adat Memarek sebagai bentuk adopsi budaya bali di kabupaten lombok utara" memiliki sasaran untuk meneliti makna dari komunikasi ritual serta simbol yang ada di dalam tradisi Memarek yang merupakan bentuk dari salah satu akulturasi budaya bali yaitu ritual metatah. Ritual ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur, doa untuk keselamatan, dan permohonan berkah terkhusus bagi anak perempuan yang akan menginjak dewasa. Walaupun terdapat perbedaan kepercayaan di kalangan masyarakat namun tradisi ini dapat bertahan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori interaksi simbolik untuk memahami makna dari simbol dan interaksi sosial dalam setiap tahapan proses ritual yang dilaksanakan. Pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok (FGD) dengan mengundang beberapa tokoh adat, masyarakat dan beberapa pihak yang terlibat dalam tradisi terkait di Desa Tegal maja, Dusun Leong Timur, Kabupaten Lombok Utara. Selain itu untuk menganalisis data digunakan metode Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) Terdapat proses adopsi budaya pada prosesi tradisi mengasah gigi yang merupakan salah satu rangkaian tradisi memarek. Tradisi mengasah gigi sangat lekat dengan budaya bali yaitu (2) Adopsi budaya yang terjadi dianalisis menggunakan teori akulturasi budaya dan teridentifikasi dengan strategi integrasi budaya. (3) Komunikasi ritual pada proses integrasi budaya, terdapat 3 hal yang menjadi perhatian penelitian yaitu (a) persilangan unsur budaya (tradisi dan ritual), (b) proses ritual, (C) proses interaksi.
Ritual Communication in the Memarek Traditional Procession as a Form of Balinese Cultural Adoption in North Lombok Regency
Abstract
The research "Ritual Communication in the Memarek Traditional Procession as a form of Balinese cultural adoption in North Lombok Regency" aims to examine the meaning of ritual communication and symbols in the Memarek tradition, which is a form of Balinese cultural acculturation, namely the metatah ritual. This ritual is carried out to express gratitude, prayers for safety, and requests for blessings, especially for girls who are about to reach adulthood. Although there are differences in beliefs among the community, this tradition can survive until now. This research uses a descriptive qualitative approach method with symbolic interaction theory to understand the meaning of symbols and social interactions in each stage of the ritual process carried out. Data collection was carried out through in-depth interviews and focus group discussions (FGD) by inviting several traditional leaders, the community and several parties involved in related traditions in Tegal Maja Village, Leong timur Hamlet, North Lombok Regency. In addition, to analyze the data, the Miles and Huberman method was used, consisting of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of this study are (1) There is a process of cultural adoption in the tooth sharpening tradition procession which is one of the series of the marek tradition. The tradition of sharpening teeth is closely linked to Balinese culture, namely (2) The cultural adoption that occurs is analyzed using the theory of cultural acculturation and identified with cultural integration strategies. (3) Ritual communication in the cultural integration process, there are 3 things that are the focus of research, namely (a) the intersection of cultural elements (tradition and ritual), (b) the ritual process, (c) the interaction process
Pengaruh Financial Knowledge, Self Control, dan Financial Attitude Terhadap Saving Behavior dengan Financial Self Efficacy Sebagai Variabel Moderasi
Generasi Z yang sedang memasuki dunia kerja menghadapi tantangan finansial yang kompleks, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan perkembangan gaya hidup konsumtif. Salah satu upaya penting untuk menciptakan kestabilan finansial adalah dengan membangun perilaku menabung. Perilaku ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain financial knowledge, self control, dan financial attitude. Namun, seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap perilaku menabung masih dapat dipengaruhi oleh tingkat keyakinan diri seseorang dalam mengelola keuangan atau financial self efficacy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh financial knowledge, self control, dan financial attitude terhadap saving behavior dengan financial self efficacy sebagai variabel moderasi pada Generasi Z di UIN Malang yang sedang bekerja di berbagai sektor. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teori yang digunakan oleh Malhotra dengan jumlah responden penelitian sebanyak 95 orang. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Likert 1–5. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) dengan bantuan software SmartPLS versi 3.0. Analisis data meliputi pengujian outer model (validitas dan reliabilitas), inner model (uji R-square dan Q-square), serta pengujian hipotesis menggunakan teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial knowledge, self control, dan financial attitude berpengaruh signifikan terhadap saving behavior. Selain itu, financial self efficacy terbukti mampu memoderasi pengaruh financial knowledge terhadap saving behavior, namun financial self efficacy tidak mampu memoderasi pengaruh self control maupun financial attitude terhadap saving behavior.
The Effect of Financial Knowledge, Self Control, and Financial Attitude on Saving Behavior with Financial Self Efficacy as a Moderating Variable
Abstract
Generation Z entering the workforce faces complex financial challenges, especially amidst economic uncertainty and the development of a consumptive lifestyle. One important effort to create financial stability is to build savings behavior. This behavior is influenced by various factors, including financial knowledge, self-control, and financial attitude. However, how much influence these three factors have on saving behavior can still be influenced by the level of one's confidence in managing finances or financial self-efficacy. The purpose of this study is to determine the effect of financial knowledge, self-control, and financial attitude on saving behavior with financial self-efficacy as a moderating variable in Generation Z at UIN Malang who are working in various sectors. This research uses a quantitative approach method. The sampling technique used the theory used by Malhotra with a total of 95 research respondents. The measurement scale used is a Likert scale of 1-5. The data analysis method in this study uses Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) with the help of SmartPLS software version 3.0. Data analysis includes testing the outer model (validity and reliability), inner model (R-square and Q-square tests), and hypothesis testing using bootstrapping techniques. The results showed that financial knowledge, self-control, and financial attitude have a significant effect on saving behavior. In addition, financial self efficacy is proven to be able to moderate the effect of financial knowledge on saving behavior, but financial self efficacy is not able to moderate the effect of self control or financial attitude on saving behavior
Pengembangan Framework Penelitian Berorientasi Dampak untuk Percepatan Lulusan Studi Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi UNDIKMA
Tingkat kelulusan tepat waktu mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Undikma Mataram pada angkatan 2019, 2020, dan 2021 masih tergolong rendah, yaitu rata-rata hanya sekitar 50%. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya peningkatan akreditasi program studi menuju predikat unggul. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengembangkan framework percepatan kelulusan studi yang berorientasi pada dampak. Penelitian menggunakan metode pengembangan pendidikan berdasarkan 10 langkah Borg and Gall, meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan model konseptual, validasi oleh pakar, uji coba melalui Focus Group Discussion (FGD), hingga implementasi dan publikasi hasil. Produk utama berupa model framework percepatan studi dan instrumen pengukuran validitas serta lembar observasi capaian studi. Data dikumpulkan melalui validasi ahli dan observasi mahasiswa, kemudian dianalisis secara deskriptif. Validasi dilakukan oleh dua dosen pakar untuk menilai kelayakan isi dan konstruk model. Uji dampak dilakukan terhadap 10 mahasiswa yang sedang menjalani bimbingan skripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa framework yang dikembangkan dinilai layak dan memiliki potensi untuk mempercepat kelulusan mahasiswa. Meski demikian, tantangan utama mahasiswa dalam menerapkan framework ini terletak pada pengelolaan waktu dan pengambilan keputusan akademik. Secara strategis, framework ini dinilai mampu menjadi pijakan sistematis dalam meningkatkan mutu akademik dan kinerja institusional program studi secara berkelanjutan, khususnya dalam konteks percepatan kelulusan dan akreditasi unggul.
Development of an Impact-Oriented Research Framework for Accelerating Student Graduation in the Information Technology Education Program at UNDIKMA
Abstract
The on-time graduation rate of students in the Information Technology Education (PTI) Study Program at Undikma Mataram for the 2019, 2020, and 2021 cohorts remains relatively low, averaging only around 50% of total new student enrollment per cohort. This condition poses a significant challenge for the study program in its efforts to improve accreditation status toward an “Excellent” rating. To address this issue, this study aims to develop an impact-oriented graduation acceleration framework. The research employed an educational development approach using Borg and Gall’s ten-step model, including preliminary study, planning, conceptual and hypothetical framework development, expert validation, revision, Focus Group Discussion (FGD) trials, further revision, implementation in the PTI Study Program, final revision, and scientific publication as a substitute for dissemination. The outputs of this research include a graduation acceleration framework model, research instruments for validity assessment, and observation sheets for evaluating learning outcomes. Data were collected through expert validation and student observation, then analyzed descriptively. Model feasibility was assessed by two expert lecturers, focusing on content and construct validity. The framework’s impact was examined through responses from ten students undergoing thesis supervision. Results indicate that the developed framework is feasible and holds potential to accelerate student graduation. However, the main challenges faced by students during implementation involve time management and academic decision-making, which affect consistency in timely study completion. Strategically, this framework offers a systematic foundation for improving academic quality and institutional performance in achieving sustainable excellence in accreditation
Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Berdasarkan Teori Apos Ditinjau dari Konseptual Tempo
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan pemahaman konsep matematis berdasarkan teori APOS ditinjau dari konseptual tempo yang dikategorikan menjadi 4 (empat), yaitu gaya kognitif reflektif, impulsif, cepat akurat, dan lambat tidak akurat. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif deskriptip. Subjek pada yang dipilih pada penelitian berdasarkan teknik purposive yaitu 4 (empat) siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tasikmalaya, yang dikategorikan dari setiap kategori gaya kognitif konseptual tempo. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes gaya kognitif, soal tes, dan wawancara. Instrumen penelitian menggunakan Matching Familiar Figure Test (MFFT) guna mengetahui gaya kognitif konseptual tempo siswa dan, soal tes kemampuan pemahaman konsep matematis guna mengetahui penguasaan materi siswa berdasarkan teori APOS. Teknik analisis data penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh siswa dengan gaya kognitif reflektif (SR) tercapai tahapan APOS, yaitu aksi, proses, objek, dan skema; siswa dengan gaya kognitif impulsif (SI) tercapai tahapan APOS pada tahap aksi saja; siswa dengan gaya kognitif cepat akurat (SCA) tercapai tahapan APOS, yaitu aksi, proses, objek, dan skema; siswa dengan gaya kognitif lambat tidak akurat (SLTA) tercapai tahapan APOS, di tahap aksi saja. Hasil tersebut menunjukan adanya pola yang konsisten antara karakteristik gaya kognitif dengan pencapaian tahap berpikir menurut teori APOS. Pemahaman konsep matematis dipengaruhi oleh bagaimana individu membangun struktur mental, sebagaimana dijelaskan dalam teori APOS, serta bagaimana siswa memproses informasi secara kognitif sesuai dengan gaya kognitif konseptual tempo. Karena itu, integrasi antara keduanya dapat memberikan kontribusi signifikan dalam merancang pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan belajar.
Analysis of Students’ Mathematical Conceptual Understanding Based on Apos Theory in Terms of Conceptual Tempo
Abstract
The aim of this study is to analyze students’ mathematical concept understanding abilities based on APOS theory, viewed from the perspective of conceptual tempo, which is categorized into four cognitive styles: reflective, impulsive, fast-accurate, and slow-inaccurate. The research method used is descriptive qualitative research. The subjects were selected through purposive sampling, consisting of four ninth-grade students from SMP Negeri 4 Tasikmalaya, each representing one category of conceptual tempo cognitive style. Data collection techniques included a cognitive style test, a mathematical concept understanding test, and interviews. The research instruments comprised the Matching Familiar Figure Test (MFFT) to identify students’ conceptual tempo cognitive styles, and a test on mathematical concept understanding to assess students’ mastery of the material based on APOS theory. The data analysis technique involved data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the research findings, the student with a reflective cognitive style (SR) achieved all stages of APOS (Action, Process, Object, and Schema); the student with an impulsive cognitive style (SI) only reached the Action stage; the student with a fast-accurate cognitive style (SCA) achieved all stages of APOS; and the student with a slow-inaccurate cognitive style (SLTA) also only reached the Action stage. These results indicate a consistent pattern between the characteristics of cognitive styles and the stages of thinking achieved according to APOS theory. Understanding of mathematical concepts is influenced by how individuals construct mental structures as described in APOS theory, as well as how they cognitively process information according to their conceptual tempo cognitive style. Therefore, integrating both aspects can make a significant contribution to designing more adaptive and needs-based learning approaches
Penerapan Sistem Enterprise Resource Planning Terhadap Kinerja Keuangan pada Perusahaan Retail di Bursa Effek Indonesia Tahun 2020-2024
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) terhadap kinerja keuangan pada perusahaan retail yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Objek penelitian adalah dua perusahaan retail, yaitu PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), yang telah mengimplementasikan ERP minimal selama satu tahun pada periode 2020–2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif, uji paired sample t-test, analisis regresi linier sederhana, dan uji koefisien determinasi (R²). Data yang dianalisis berupa rasio keuangan yang meliputi Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), dan Debt to Equity Ratio (DER), sebelum dan sesudah penerapan ERP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ERP berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Uji t-test menunjukkan perbedaan signifikan pada seluruh indikator keuangan setelah ERP diterapkan. Selain itu, hasil analisis regresi menunjukkan nilai R² sebesar 0,657, yang berarti 65,7% variasi kinerja keuangan (ROA) dapat dijelaskan oleh penerapan ERP. Peningkatan kinerja keuangan lebih besar terjadi pada PT Matahari Department Store Tbk dibandingkan PT Ace Hardware Indonesia Tbk, menunjukkan perbedaan efektivitas implementasi ERP antar perusahaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ERP merupakan sistem strategis yang mendukung efisiensi operasional dan keuangan, serta dapat dijadikan landasan pengambilan keputusan di era digitalisasi.
The Implementation of Enterprise Resource Planning System on Financial Performance of Retail Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange in 2020–2024
Abstract
This study aims to analyze the impact of implementing the Enterprise Resource Planning (ERP) system on the financial performance of retail companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research focuses on two retail companies PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) and PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) which have implemented ERP for at least one year during the 2020–2024 period. The study uses a quantitative approach with descriptive analysis, paired sample t-test, simple linear regression analysis, and the coefficient of determination (R²) test. The financial ratios analyzed include Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), and Debt to Equity Ratio (DER), both before and after ERP implementation. The results indicate that ERP implementation has a significant impact on improving financial performance. The t-test shows a significant difference in all financial indicators after ERP implementation. Furthermore, the regression analysis reveals an R² value of 0.657, indicating that 65.7% of the variation in financial performance (ROA) can be explained by ERP implementation. The improvement in financial performance is more pronounced in PT Matahari Department Store Tbk compared to PT Ace Hardware Indonesia Tbk, reflecting varying levels of ERP implementation effectiveness across companies.This research concludes that ERP is a strategic system that enhances operational and financial efficiency and serves as a foundation for decision-making in the digital era
Demographic and Clinical Patterns of Acute Otitis Media in a Secondary Care Setting
Acute Otitis Media (AOM) is an acute inflammation of the middle ear lasting less than three weeks and is a common condition in low-income countries such as Indonesia. Prompt and appropriate care is essential to prevent progression to more severe forms. This study aimed to describe the characteristics of AOM patients treated at the ENT Outpatient Clinic of Deli Serdang Lubuk Pakam Regional General Hospital in 2017. This was a descriptive cross-sectional study involving 102 AOM cases identified through total sampling at the ENT Outpatient Clinic of Deli Serdang Lubuk Pakam Regional General Hospital throughout 2017. The measured variables included age, gender, affected ear, chief complaint, treatment, and hearing impairment. Male patients accounted for 57.8% of cases, while females comprised 42.2%. Most patients were aged 0–5 years. The left ear was most affected (51.9%). The most frequent symptom was ear pain, reported in 36.3% of cases. All patients received medical treatment. Hearing impairment was observed in 54.9% of patients. Conclusion: AOM was most prevalent among male children aged 0–5 years. Ear pain was the most common presenting complaint. Medical therapy was the primary treatment modality, and over half of the patients experienced hearing impairment