Empiricism Journal
Not a member yet
    400 research outputs found

    Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas XI dalam Menyelesaikan Masalah SPLTV

    No full text
    Kemampuan berpikir kreatif matematis merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran matematika abad ke-21. Kemampuan ini memungkinkan siswa untuk menyelesaikan masalah secara fleksibel, orisinal, dan dengan berbagai cara penyelesaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas XI dalam menyelesaikan masalah pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak 23 siswa yang dipilih berdasarkan kategori tingkat kemampuan akademik tinggi, sedang, dan rendah. Instrumen yang digunakan meliputi soal tes berpikir kreatif matematis dan pedoman wawancara. Data dianalisis berdasarkan indikator berpikir kreatif yang mencakup kelancaran (fluency), fleksibilitas (flexibility), orisinalitas (originality), dan elaborasi (elaboration). Data dianalisis menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi untuk mengklasifikasikan kemampuan siswa ke dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,35% siswa memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi, 78,26% sedang, dan 17,39% rendah. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis berdasarkan tingkat akademik siswa, serta perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih variatif untuk mengembangkan kreativitas matematis siswa secara merata. Analysis of the Mathematical Creative Thinking Ability of 11th Grade Students in Solving SPLTV Problems Abstract Mathematical creative thinking ability is one of the essential competencies in 21st-century mathematics education. This ability enables students to solve problems flexibly, originally, and through various solution methods. This study aims to analyze the mathematical creative thinking ability of 23 grade students in solving problems related to the topic of Three-Variable Linear Equation Systems (SPLTV). The research method used is descriptive qualitative, with seven student participants selected based on high, medium, and low academic ability levels. The instruments used include a mathematical creative thinking test and interview guidelines. Data were analyzed based on creative thinking indicators, including fluency, flexibility, originality, and elaboration. The data were further analyzed using the mean and standard deviation to classify students' abilities into high, medium, and low categories. The results showed that 4,35% of students demonstrated a high level of creative thinking ability, 78,26% were at a medium level, and 17,39% were at a low level. These findings indicate a variation in students' mathematical creative thinking abilities based on their academic levels and highlight the need for more varied teaching approaches to evenly develop students' mathematical creativity

    Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil dan Dukungan Suami dengan Frekuensi Kunjungan ANC di Puskesmas Karang Taliwang

    No full text
    Antenatal carepenting untuk mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil. Puskesmas Karang Taliwang adalah salah satu dari sebelas puskesmas yanga ada diwilayah Kota Mataram. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan melihat data data sekunder tahun 2020 target K1 73,91 belum mencapai 100 % dan K4 98% belum 100%. Faktor yangutama supaya ANC baik tampaknya adalah pengetahuan ibu hamil dan dukungan suami oleh karena itu perlu dibuktikan secara ilmiah melalui peneitian. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah Untuk Mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamildan Dukungan Suami dengan Frekuensi Kunjungan ANC. Penelitian Deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Jumlahsampel dalam penelitian sebanyak 78 orang. Pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah uji Coefisien Conringensi C. Berdasarkan analisis dengan menggunakan uji Coefisien Conringensi C dengan aplikasi SPSS di peroleh nilai P value sebesar 0,000< ? Tabel 0,05 sehingga dapat di simpulkan bahwa Tingkat pengetahuan ibu hamil dengan frekuensi kunjungan ANC di Puskesmas Karang Taliwang memiliki hubungan , sedangkan untuk variabel dukungan suami dengan frekuensi kunjungan ANC di Puskesmas Karang Taliwang memiliki hubungandengan nilai P value sebesar 0,000<? Tabel 0,05. Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dan dukungan suami dengan frekuensi kunjungan ANC. Saran Bagi Kepala Puskesmas Melakukan peningkatan pengetahuan ibu hamil secara intensif seperti kelas ibu hamil dengan melibatkan suami disetiap pertemuan guna untuk meningkatkan dukungan suami ibu hamil. The Relationship Between Pregnant Mothers’ Knowledge Leveland Husbands’ Supporttoward Frequency of ACN in Karang Taliwang Public Health Centerin Abstract Antenatal care is essential for the early detection of abnormalities or potential complications during pregnancy. Karang Taliwang Community Health Center is one of eleven primary healthcare centers located in the city of Mataram. A preliminary study based on secondary data from 2020 showed that the target coverage for the first ANC visit (K1) was 73.91%, while the fourth visit (K4) was 98%, both of which had not yet reached full (100%) coverage. One of the main factors contributing to the effectiveness of ANC appears to be the pregnant woman’s knowledge and the support from her husband. Therefore, these factors need to be examined scientifically through research. This study aims to investigate the relationship between the level of knowledge among pregnant women and husband support with the frequency of ANC visits. A descriptive-analytic method with a cross-sectional design was employed. The sample consisted of 78 respondents. Data were collected through a questionnaire, and the analysis was conducted using the Contingency Coefficient (C) test. Based on the analysis using SPSS software, the relationship between pregnant women's knowledge and ANC visit frequency yielded a p-value of 0.000, which is less than the significance level of ? = 0.05. Similarly, the relationship between husband support and ANC visit frequency also resulted in a p-value of 0.000 < ? = 0.05. These results indicate a significant relationship between both the level of knowledge of pregnant women and husband support with the frequency of ANC visits at Karang Taliwang Health Center. Recommendation it is advised that the Head of the Health Center intensively enhance pregnant women's knowledge, for instance, by organizing antenatal classes that actively involve husbands in every session, to improve the level of support provided by them

    Analisis Implementasi Peraturan Daerah Kota Mataram No 1 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah mengetahui implementasi peraturan daerah Kota Mataram No.1 Tahun 2019 tentang pengelolaan Sampah dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi peraturan daerah Kota Mataram No.1 Tahun 2019 tentang pengelolaan Sampah. Pada penelitian sebelumnya banyak menyoroti pola pengelolaan sampah rumah tangga, zero waste dan lainnya. Namun, belum banyak penelitian yang mendalami tentang implementasi pengelolaan sampah di Kota Mataram. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan mengetahui bagaimana implementasi dan faktor yang mempengaruhi peraturan daerah Kota Mataram no. 1 tahun 2019 tentang pengelolaan sampah.  penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Lokasi penelitian ada tiga tempat yaitu Dinas lingkungan hidup, TPST dan TPA Regional. Informan dalam penelitian ini ada 6 orang. Adapun kriteria dalam pemilihan informan yaitu memiliki pemahaman pengetahuan tentang pengelolaan sampah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Peraturan Daerah Kota Mataram No. 1 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah berjalan dengan baik, namun belum maksimal. Faktor pendorongnya adalah dukungan pemerintah yang memberikan legitimasi dan anggaran, serta hadirnya Perda No. 2 Tahun 2023 yang memperkuat pengurangan sampah plastik sekali pakai, sehingga kebijakan lebih terarah dan konsisten. Sementara itu, faktor penghambatnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah serta keterbatasan sarana pengangkutan, yang berdampak pada tingginya volume sampah di TPA dan tidak efektifnya program pemilahan. Analysis of the Implementation of Mataram City Regional Regulation No.1 of 2019 Concerning Waste Management Abstract The purpose of this study is to determine the implementation of Mataram City Regional Regulation No. 1 of 2019 concerning Waste Management and to determine the factors that influence the implementation of Mataram City Regional Regulation No. 1 of 2019 concerning Waste Management. In previous studies, many highlighted the pattern of household waste management, zero waste and others. However, there are not many studies that delve into the implementation of waste management in Mataram City. Therefore, this study attempts to fill this gap by determining how the implementation and factors that influence Mataram City Regional Regulation No. 1 of 2019 concerning Waste Management. This study uses a qualitative approach with a descriptive type. Data collection techniques used are interview techniques, observation and documentation. Data analysis techniques used are data analysis techniques using the Miles and Huberman model, namely data reduction, data presentation, drawing conclusions. There are three research locations, namely the Environmental Service, TPST and Regional TPA. There are 6 informants in this study. The criteria for selecting informants are having an understanding of knowledge about waste management. The results of this study indicate that the implementation of Mataram City Regional Regulation No. 1 of 2019 concerning Waste Management is running well, but not yet optimally. The driving factors are government support, which provides legitimacy and funding, and the enactment of Regional Regulation No. 2 of 2023, which strengthens the reduction of single-use plastic waste, resulting in more targeted and consistent policies. Meanwhile, the inhibiting factors are low public awareness of waste sorting and limited transportation facilities, which result in high waste volumes at landfills and ineffective sorting programs

    Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK EMKM) pada Usaha Kerajinan Bambu

    No full text
    UMKM merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi kendala serius dalam pengelolaan keuangan, terutama rendahnya literasi akuntansi dan minimnya pemanfaatan teknologi digital. Namun belum banyak studi yang fokus pada implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) pada sektor kerajinan berbasis budaya lokal seperti bambu di Tomohon. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan SAK EMKM melalui akuntansi digital dalam meningkatkan tata kelola keuangan UMKM kerajinan bambu di Desa Kinilow, Kota Tomohon. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan dua informan utama, yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengrajin bambu belum menerapkan pencatatan keuangan sesuai SAK EMKM dan masih mencampurkan keuangan usaha dengan pribadi, sehingga laba tidak terukur secara akurat. Melalui penerapan aplikasi akuntansi digital sederhana seperti BukuKas, diperoleh laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan dan laba bersih sebesar Rp8.900.000 per periode. kemuan ini menunjukkan bahwa akuntansi digital berbasis SAK EMKM mampu meningkatkan efisiensi pencatatan, transparansi, dan kualitas pengambilan keputusan. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan, pelatihan penggunaan aplikasi akuntansi digital, serta pendampingan berkelanjutan bagi UMKM kerajinan bambu agar mampu mengelola keuangan secara profesional dan berdaya saing. Analysis of the Application of Financial Accounting Standards for Micro, Small and Medium Entities (SAK EMKM) in Bamboo Craft Businesses Abstract Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are an essential sector in Indonesia’s economy; however, they continue to face serious challenges in financial management, particularly due to low accounting literacy and limited use of digital technology. Nevertheless, few studies have focused on the implementation of the Financial Accounting Standards for Micro, Small, and Medium Entities (SAK EMKM) in craft industries based on local cultural traditions, such as bamboo craftsmanship in Tomohon. This study aims to analyze the application of SAK EMKM through digital accounting in improving financial governance among bamboo craft MSMEs in Kinilow Village, Tomohon City. The research employed a qualitative case study approach involving two main informants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using an interactive model. The findings reveal that bamboo artisans have not yet applied financial recording in accordance with SAK EMKM and still mix business and personal finances, resulting in inaccurate profit measurement. By utilizing a simple digital accounting application such as BukuKas, financial reports were produced showing the financial position and a net profit of IDR 8,900,000 per period. These findings indicate that digital accounting based on SAK EMKM can enhance the efficiency of financial recording, transparency, and the quality of decision-making. This study emphasizes the importance of improving financial literacy, providing training on digital accounting applications, and ensuring continuous mentoring for bamboo craft MSMEs to enable professional and competitive financial management

    Pengembangan E-Modul Pembelajaran IPAS Berbasis Kearifan Lokal untuk Peserta Didik SD

    No full text
    Pada era digital yang berkembang pesat, nilai kearifan lokal dan budaya perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Namun, banyak siswa yang kurang tertarik pada pembelajaran IPAS berbasis kearifan lokal, terutama di tengah dominasi game online. Selain itu, materi IPAS yang diajarkan guru cenderung mengacu pada buku teks nasional, sehingga kurang relevan dengan fenomena dan praktik lokal yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pengembangan e-modul pembelajaran IPAS berbasis kearifan lokal untuk siswa SD dan mengetahui kelayakan serta kepraktisan e-modul tersebut. Penelitian ini menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) dengan pengumpulan data melalui angket, observasi, dan dokumentasi di SDN 43. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan e-modul berhasil dilakukan secara sistematis melalui lima tahapan ADDIE, menghasilkan output yang jelas dan saling terkait. E-modul yang dikembangkan telah memenuhi standar kelayakan sebagai bahan ajar dengan nilai rata-rata 63,5 dan persentase kelayakan 79%, yang termasuk dalam kategori layak. Aspek materi dan tampilan mendapatkan skor terbaik, menunjukkan bahwa konten berbasis budaya lokal serta tampilan yang menarik dapat meningkatkan relevansi dan daya tarik bahan ajar. Developmet of IPAS Learning E-Modul Based on Local Wisdom for Elementary School Students   Abstract In the rapidly evolving digital era, local wisdom and cultural values must be instilled in children from an early age. However, many students show a lack of interest in learning science and social studies (IPAS) based on local wisdom, especially in the context of online gaming dominance. Additionally, much of the IPAS material taught by teachers still relies on national textbooks, which fail to address local phenomena, environments, and practices relevant to students' daily lives. As a result, students often struggle to grasp concepts that are not connected to their personal experiences. This study aims to 1) determine the procedure for developing an IPAS e-module based on local wisdom for elementary school students, and 2) assess the feasibility and practicality of the resulting e-module. The research uses the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) with data collected through questionnaires, observation, and documentation at SDN 43. The results indicate that the e-module development was successfully conducted in a systematic manner following the five ADDIE stages, producing clear and interconnected outputs. The developed e-module meets the feasibility standards as teaching material with an average score of 63.5 and a feasibility percentage of 79%, categorized as feasible. The material and design aspects received the highest scores, demonstrating that locally based content and attractive visuals can enhance the relevance and appeal of learning materials.Pada era digital yang terus berkembang ini, nilai kearifan lokal dan budaya perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Namun kenyataannya, banyak yang merasa kurang tertarik pada pembelajaran IPAS berbasis kearifan lokal, terutama di tengah dominasi game online. Tujuan penelitian adalah 1) mengetahui prosedur pengembangan emodul pembelajaran IPAS berbasis kearifan lokal untuk peserta didik SD dan 2) mengetahui kelayakan dan kepraktisan emodul yang dihasilkan. Penelitian adalah penelitian pengembangan menggunakan menggunakan model ADDIE dengan lima tahapan yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 43 Cakranegara dengan melibatkan validasi media dan materi oleh ahli, penilaian guru, dan respon siswa. Pengumpulan data menggunakan lembar validasi, penilaian guru, respon siswa. Adapun luaran wajib dari penelitian antara lain 1) Emodul pembelajaran IPAS berbasis kearifan lokal, 2) artikel penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 4, dan 3) rekomendasi kebijakan untuk pihak-pihak terkait. &nbsp

    Penerapan Teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam Sepak Bola: Dampak dan Kontroversi

    No full text
    Era modernisasi olahraga ditandai oleh kemajuan teknologi yang menjadi faktor penting dalam mendukung transparansi dan profesionalisme, termasuk dalam dunia sepak bola melalui penerapan Video Assistant Referee (VAR) sebagai inovasi untuk meningkatkan akurasi dan keadilan dalam pengambilan keputusan wasit. Berdasarkan sintesis data kuantitatif dan kualitatif dari 15 artikel penelitian nasional dan internasional (2019–2025), kajian ini menunjukkan bahwa VAR secara konsisten meningkatkan akurasi keputusan wasit dalam situasi krusial seperti gol, penalti, dan kartu merah, yang tercermin antara lain dari temuan penurunan jumlah foul, kartu kuning, dan offside per pertandingan serta peningkatan jumlah penalti yang diberikan setelah implementasi VAR di berbagai liga. Namun demikian, data juga mengindikasikan munculnya persoalan baru, seperti keterlambatan pengambilan keputusan dan gangguan terhadap alur permainan akibat proses review, peningkatan tekanan psikologis bagi pemain pada momen-momen penentuan, serta ketidakpuasan sebagian penonton yang terkait dengan kurangnya transparansi komunikasi dalam proses peninjauan. Dalam konteks Indonesia, efektivitas VAR masih dihadapkan pada tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, variabilitas kompetensi sumber daya manusia, dan kesiapan institusional dalam mengadopsi standar operasional yang sejajar dengan praktik terbaik internasional. Dengan demikian, penerapan VAR yang ideal tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi memerlukan kolaborasi antara aspek teknologis, manajerial, dan etika olahraga agar mampu membangun sistem perwasitan yang adil, transparan, dan berintegritas, sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap ritme dan esensi permainan sepak bola. Implementation of Video Assistant Referee (VAR) Technology in Football: Impacts and Controversies Abstract The era of sports modernization is marked by technological advances that have become an important factor in supporting transparency and professionalism, including in the world of soccer through the implementation of Video Assistant Referee (VAR) as an innovation to improve the accuracy and fairness of referees' decisions. Based on a synthesis of quantitative and qualitative data from 15 national and international research articles (2019–2025), this study shows that VAR consistently improves the accuracy of referees' decisions in crucial situations such as goals, penalties, and red cards, as reflected, among other things, in findings of a decrease in the number of fouls, yellow cards, and offsides per match and an increase in the number of penalties awarded after the implementation of VAR in various leagues. However, the data also indicates the emergence of new problems, such as delays in decision-making and disruption to the flow of the game due to the review process, increased psychological pressure on players at decisive moments, and dissatisfaction among some spectators related to a lack of transparency in communication during the review process. In the Indonesian context, the effectiveness of VAR still faces challenges in the form of limited infrastructure, variability in human resource competencies, and institutional readiness in adopting operational standards that are in line with international best practices. Therefore, the ideal implementation of VAR does not only depend on the availability of technology, but requires collaboration between technological, managerial, and sports ethics aspects in order to build a fair, transparent, and ethical refereeing system, while minimizing the negative impact on the rhythm and essence of the game of soccer

    Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Pasien Gagal Ginjal Dalam Terapi Hemodialisis

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani terapi hemodialisis di RSU Royal Prima Medan. Penelitian ini dapat berkontribusi pada praktik klinis atau kebijakan rumah sakit dalam meningkatkan kepatuhan terapi hemodialisis. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 57 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai dukungan keluarga dan kepatuhan pasien, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia di atas 40 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan SMA, serta telah menjalani hemodialisis selama satu tahun. Nilai rata-rata dukungan keluarga sebesar 42 menunjukkan kategori baik, sedangkan kepatuhan terapi memiliki nilai rata-rata 3,5 yang juga termasuk kategori baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,309 dengan p < 0,001, menandakan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan pasien hemodialisis, meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik dukungan keluarga, semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam dukungan emosional dan motivasi agar pasien tetap konsisten menjalani pengobatan. Sehingga disarankan untuk meningkatkan dukungan keluarga di lingkungan rumah sakit atau klinis. The Influence of Family Support on Adherence to Hemodialysis Therapy in Kidney Failure Patients Abstract This study aims to determine the relationship between family support and adherence in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis therapy at Royal Prima Medan General Hospital. This study can contribute to clinical practice or hospital policy in improving adherence to hemodialysis therapy. The study used an analytical design with a cross-sectional approach, involving 57 respondents determined using the Slovin formula. Data were collected through a questionnaire regarding family support and patient adherence, then analyzed using the Spearman correlation test. The results showed that the majority of respondents were over 40 years old, male, had a high school education, and had undergone hemodialysis for one year. The average value of family support was 42, indicating a good category, while adherence to therapy had an average value of 3.5, also in the good category. The results of the statistical test showed a correlation coefficient value of r = 0.309 with p < 0.001, indicating a significant positive relationship between family support and adherence in hemodialysis patients, although the strength of the relationship was relatively weak. This indicates that the better the family support, the higher the level of patient adherence in undergoing therapy. These findings emphasize the importance of the family's role in emotional support and motivation so that patients remain consistent in undergoing treatment. So it is recommended to increase family support in the hospital or clinical environment.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani terapi hemodialisis di RSU Royal Prima Medan. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 57 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai dukungan keluarga dan kepatuhan pasien, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia di atas 40 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan SMA, serta telah menjalani hemodialisis selama satu tahun. Nilai rata-rata dukungan keluarga sebesar 42 menunjukkan kategori baik, sedangkan kepatuhan terapi memiliki nilai rata-rata 3,5 yang juga termasuk kategori baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,309 dengan p < 0,001, menandakan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan pasien hemodialisis, meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik dukungan keluarga, semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam dukungan emosional dan motivasi agar pasien tetap konsisten menjalani pengobatan

    Birokratisasi Islam di Indonesia, Brunei, dan Malaysia: Systematic Literature Review (SLR)

    No full text
    Penelitian ini menganalisis perkembangan kajian akademik mengenai birokratisasi Islam di Indonesia, Malaysia, dan Brunei melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik. Meskipun ketiga negara berada dalam konteks sosial dan tradisi keislaman yang serupa, literatur menunjukkan bahwa birokratisasi Islam berkembang melalui model yang berbeda: pluralistik–kompetitif (Indonesia), legal–birokratik terpusat (Malaysia), dan monarki–sentralistik (Brunei). Dengan menggunakan kerangka PRISMA, penelitian ini menyeleksi 20 artikel terindeks Scopus yang relevan hingga November 2025 dan menganalisisnya melalui analaisi basis data scopus dan  perangkat VOSviewer untuk memetakan tren publikasi, jaringan kolaborasi, kata kunci dominan, serta struktur intelektual penelitian. Hasil temuan literatur birokratisasi Islam di Indonesia, Malaysia, dan Brunei menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan agama di Asia Tenggara berkembang melalui tiga model berbeda: pluralistik-kompetitif di Indonesia, legal-birokratik terpusat di Malaysia, dan monarki-sentralistik di Brunei. Penelitian ini memberikan kontribusi melalui pemetaan konseptual yang komprehensif, identifikasi research gap, serta rekomendasi arah riset masa depan, termasuk pentingnya kajian tentang digitalisasi layanan keagamaan, dampak terhadap minoritas, serta hubungan antara birokrasi agama dan masyarakat sipil. The Bureaucratization of Islam in Indonesia, Malaysia, and Brunei: A Systematic Literature Review (SLR) Abstract This study analyzes the development of academic research on the bureaucratization of Islam in Indonesia, Malaysia, and Brunei using a Systematic Literature Review (SLR) combined with bibliometric analysis. Although the three countries share similar socio-religious contexts and Islamic traditions, the literature shows that the bureaucratization of Islam has evolved into distinct models: pluralistic–competitive in Indonesia, centralized legal–bureaucratic in Malaysia, and monarchical–centralistic in Brunei. Using the PRISMA framework, this study selected 20 relevant Scopus-indexed articles published up to November 2025 and examined them through Scopus-based analysis and VOSviewer to map publication trends, collaboration networks, dominant keywords, and the intellectual structure of the field. The findings demonstrate that state–religion relations in Southeast Asia develop across three different bureaucratic models: a pluralistic–competitive regime in Indonesia, a centralized legal–bureaucratic regime in Malaysia, and a monarchical–centralistic regime in Brunei. This study contributes to the literature by providing a comprehensive conceptual mapping, identifying key research gaps, and proposing future research directions, including the need to explore digitalization of religious services, impacts on minority communities, and the evolving relationship between religious bureaucracy and civil society.  Abstrak Penelitian ini menganalisis perkembangan kajian akademik mengenai birokratisasi Islam di Indonesia, Malaysia, dan Brunei melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik. Meskipun ketiga negara berada dalam konteks sosial dan tradisi keislaman yang serupa, literatur menunjukkan bahwa birokratisasi Islam berkembang melalui model yang berbeda: pluralistik–kompetitif (Indonesia), legal–birokratik terpusat (Malaysia), dan monarki–sentralistik (Brunei). Dengan menggunakan kerangka PRISMA, penelitian ini menyeleksi 20 artikel terindeks Scopus yang relevan hingga November 2025 dan menganalisisnya melalui analaisi basis data scopus dan  perangkat VOSviewer untuk memetakan tren publikasi, jaringan kolaborasi, kata kunci dominan, serta struktur intelektual penelitian. Hasil temuan literatur birokratisasi Islam di Indonesia, Malaysia, dan Brunei menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan agama di Asia Tenggara berkembang melalui tiga model berbeda: pluralistik-kompetitif di Indonesia, legal-birokratik terpusat di Malaysia, dan monarki-sentralistik di Brunei. Penelitian ini memberikan kontribusi melalui pemetaan konseptual yang komprehensif, identifikasi research gap, serta rekomendasi arah riset masa depan, termasuk pentingnya kajian tentang digitalisasi layanan keagamaan, dampak terhadap minoritas, serta hubungan antara birokrasi agama dan masyarakat sipil. Kata kunci: Birokratisasi, Islam, Indonesia, Malaysia, Brunei, SL

    Relasi Ontologis  Manusia, Tanaman Lokal, dan Ekosistem Dalam Sistem Agroforestri:  Kajian Literatur di Kawasan Tambora

    No full text
    Agroforestri di kawasan Tambora umumnya dipahami sebagai sistem produksi dan konservasi, sementara dimensi ontologis relasi manusia–tanaman–ekosistem masih jarang dikaji secara eksplisit. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis agroforestri Tambora melalui perspektif ontologi relasional, sehingga agroforestri dipahami sebagai sistem sosio-ekologis yang ko-konstitutif. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur kualitatif dengan kerangka analisis tematik, berdasarkan artikel ilmiah internasional dan nasional bereputasi yang diseleksi secara sistematis dari basis data Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, dan Taylor & Francis.Hasil sintesis menunjukkan bahwa agroforestri Tambora membentuk relasi timbal balik antara manusia, tanaman, dan ekosistem vulkanik yang tidak dapat dipisahkan secara sektoral. Pada dimensi sosial-budaya, tanaman berfungsi sebagai medium transmisi pengetahuan dan identitas masyarakat; pada dimensi ekologis, keanekaragaman spesies dan struktur vegetasi multistrata meningkatkan resiliensi lanskap; pada dimensi ekonomi, diversifikasi tanaman memperkuat ketahanan mata pencaharian; sementara pada dimensi ontologis, agroforestri dipahami sebagai ruang keberadaan bersama (co-being), di mana manusia dan alam saling membentuk. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi eksplisit pendekatan ontologi relasional dalam kajian agroforestri berbasis konteks lokal Tambora, yang melampaui analisis teknis-ekonomis konvensional. Kajian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan studi agroforestri dan menjadi dasar alternatif bagi perumusan kebijakan dan pengelolaan lanskap berkelanjutan yang lebih kontekstual. Kata kunci: agroforestri; ontologi relasional; novelty konseptual; sistem sosio-ekologis; tambora Relational Ontology of Agroforestry in Tambora: A Literature Review of Human–Plant–Ecosystem Relations Abstract Agroforestry in the Tambora region is generally understood as a system of production and conservation, while the ontological dimension of human–plant–ecosystem relations is still rarely examined explicitly. This study aims to address this gap by analyzing Tambora agroforestry through the lens of relational ontology, so that agroforestry is understood as a co-constitutive socio-ecological system. The study employs a qualitative literature review with a thematic analysis framework, based on reputable international and national scholarly articles that were systematically selected from Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, and Taylor & Francis. The synthesis indicates that Tambora agroforestry forms reciprocal relations among humans, plants, and volcanic ecosystems that cannot be separated into sectoral domains. In the socio-cultural dimension, plants function as media for the transmission of knowledge and community identity; in the ecological dimension, species diversity and multi-strata vegetation structure enhance landscape resilience; in the economic dimension, crop diversification strengthens livelihood security; while in the ontological dimension, agroforestry is understood as a space of co-being, in which humans and nature mutually constitute one another. The novelty of this study lies in the explicit integration of a relational ontology approach into agroforestry research grounded in the local Tambora context, moving beyond conventional technical-economic analyses. This review offers a conceptual contribution to the development of agroforestry studies and provides an alternative foundation for policymaking and sustainable landscape management that is more context-sensitive

    0

    full texts

    400

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Empiricism Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇