The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
7815 research outputs found
Sort by
PENELITIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA SAVONIUS BERSUDU BANYAK DENGAN METODA PENGGESERAN MESH
Rotation of Savonius blades could be simulated using Sliding Mesh methode. The effective solution can be obtained by interfacing between moving zone and fixed zone by coordinating the linked cell. The number of tested blades 2,3,4 and 6. The result is the Savonius turbine with 3 blades having torque coefficient higher and efficiency level the compared which the other blades. The spacing of blade axis make airflow infiltrate and causing increase of force momen and negative drag force. By increasing the number of blades will result in the reduction of negative and positive force between one blade to the other. As a result, the performance will be reduced due to the increased number of blades. 
EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI ENZIM ENDONUKLEASE RESTRIKSI KASAR DARI BAKTERI Escherichia coli
Enzim Endonuklease diisolasi dari beberapa jenis bakteri termasuk Escherichia coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik enzim endonuklease restriksi kasar dari bakteri E. coli yang dipengaruhi kondisi suhu dan pH. E. coli diisolasi dari sampel air sumur dan ditumbuhkan pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Isolat bakteri E coli digunakan dalam pengukuran kurva pertumbuhan untuk mengetahui fase pertumbuhan bakteri serta mendapatkan waktu yang optimum untuk memproduksi ekstrak kasar enzim endonuklease. Proses produksi enzim endonuklease dengan metode sentrifugasi pada kecepatan 10000 rpm selama 30 menit pada suhu 4°C dan diulang 4 kali. Hasil sentrifugasi dikarakterisasi dengan fraksinasi menggunakan ammonium sulfat dengan tingkat kejenuhannya berbeda-beda yaitu, (0-20%, 20-40%, 40-60%, 60-80%, 80-100%) dan diukur aktivitas enzimnya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm. Hasil fraksinasi yang aktivitasnya paling optimum pada fraksi 0-20%. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas enzim dengan variasi suhu dan Ph menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 600 nm. Hasilnya pada variasi suhu aktivitas enzim paling optimum terjadi pada suhu 37°C, sedangkan pada variasi pH aktivitas optimum enzim terjadi pada pH 7
STRUKTUR KOMUNITAS CACING LAUT POLIKET (ANNELIDA) DI TELUK NURI, KALIMANTAN BARAT
Teluk Nuri merupakan perairan pesisir di Provinsi Kalimantan Barat yang diduga telah mengalami penurunan kualitas akibat berbagai aktivitas antropogenik di sekitar wilayah tersebut. Kesehatan ekosistem perairan pesisir, salah satunya, dapat dilihat dari struktur komunitas cacing laut poliket (filum Annelida). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji struktur komunitas cacing laut poliket kaitannya dengan kualitas perairan Teluk Nuri. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai November 2023. Sampel poliket diambil menggunakan Petite Ponar Grab. Parameter lingkungan yang diukur pada substrat meliputi tipe substrat dan total karbon organik, sedangkan pada air meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen dan karbondioksida terlarut. Pada penelitian ini, sebanyak 125 individu poliket yang terdiri atas 24 jenis (24 marga, 18 suku) diperoleh. Suku dengan kelimpahan tertinggi adalah Oenonidae, Nephtyidae, dan Nereididae. Keanekaragaman jenis cacing laut poliket di perairan Teluk Nuri tergolong sedang hingga rendah. Hasil pengukuran parameter lingkungan memperlihatkan bahwa kadar oksigen terlarut di perairan Teluk Nuri berada di bawah standar baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi ini, secara umum, menggambarkan kondisi kualitas perairan yang telah mengalami penurunan yang disebabkan oleh tingginya materi organik yang masuk ke Teluk Nuri. Penelitian lanjutan dengan jangkauan lokasi dan waktu yang lebih luas serta pengukuran parameter lingkungan yang lebih banyak diperlukan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Penelitian taksonomi, khususnya, akan mengungkap jenis-jenis poliket yang menghuni perairan Teluk Nuri dan berpotensi menemukan kandidat jenis baru serta jenis yang dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran perairan Teluk Nuri
ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK KASAR BAKTERI ENDOFIT DARI BIJI DAN BUNGA TANAMAN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI BIOKONTROL TERHADAP Fusarium oxysporum Isolat TLPI
Tanaman kelor (Moringa oleifera Lam) marupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua bagian tanaman kelor mengandung senyawa metabolit sekunder. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui kandungan senyawa bioaktif dari ekstrak heksana bakteri endofit dari bunga dan biji kelor. Isolat bakteri endofit yang diperoleh dikarakterisasi morfologi koloni, mikroskopis, pengujian biokimia dan diidentifikasi molekuler. Kandungan kimia bakteri endofit dianalisis dengan metode standar untuk skrining senyawa kimia. Uji aktivitas biokontrol dilakukan terhadap penyebab penyakit layu Fusarium dengan difusi agar. Hasil isolasi menujukkan adanya 8 isolat, dan 2 isolat yaitu BiK.1 dan BiK.3 menghasilkan senyawa bioaktif yang mampu menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium sp. Dua isolat BiK.1 dan BiK.3 memiliki golongan senyawa alkaloid, terpenoid dan saponin. Ekstrak kasar BiK.1 mempunyai zona hambat 3.1% terhadap Fusarium oxisporum TLPI, sedangkan isolat BiK.1 sebesar 1,2%. Identifikasi secara molekuler berdasarkan gen 16S rRNA diketahui bahwa isolat BiK.1 memiliki kemiripan genetik dengan Bacillus sp. dan BiK.3 dengan Bacillus cereus dengan nilai query cover mencapai 100%
IDENTIFIKASI IKAN LEPU BATU GENUS Synanceia (Perciformes: Synanceiidae) KOLEKSI MUSEUM ZOOLOGICUM BOGORIENSE
Ikan lepu batu genus Synanceia adalah kelompok ikan berbisa yang umum dijumpai di perairan tropis Indo-Pasifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi berdasarkan karakter morfologi pada spesimen ikan lepu batu genus Synanceia koleksi Museum Zoologicum Bogoriense. Karakter morfologi yang meliputi karakter meristik dan morfometrik dari 22 spesimen diperiksa dengan teliti. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua spesies yang teridentifikasi, yaitu Synanceia horrida dan Synanceia verrucosa. Kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan beberapa karakter, seperti jumlah jari-jari sirip dada, kondisi tulang di atas mata, kondisi membran di antara duri kedua dan ketiga sirip dorsal, panjang duri sirip dubur, dan diameter orbit. Informasi mengenai kandungan bisa dari ikan lepu batu dibahas dalam artikel ini
PERSEBARAN, TINGKAT PARASITASI, DAN TINGKAT PARASITISME Telenomus remus Nixon TERHADAP TELUR Spodoptera frugiperda PADA TANAMAN JAGUNG DI KABUPATEN SLEMAN, D.I. YOGYAKARTA
Salah satu musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi Spodoptera frugiperda di lapangan adalah parasitoid. Parasitoid yang telah diketahui potensial dalam mengendalikan populasi S. frugiperda adalah Telenomus remus. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis persebaran, tingkat parasitasi, dan tingkat parasitisme T. remus pada telur S. frugiperda di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lahan yang digunakan dalam pengambilan sampel telur ditentukan dengan metode stratified random, sedangkan pengambilan sampel pada lahan penelitian dilakukan dengan metode purposive. Sampel yang diambil berupa telur S. frugiperda dan dipelihara sampai telur menetas menjadi larva atau keluar parasitoidnya. Baik telur yang menetas ataupun tidak kemudian dihitung untuk menentukan tingkat parasitasi dan tingkat parasitisme T. remus. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa T. remus tersebar pada 17 kecamatan di Sleman dengan persebaran tertinggi di Sleman dan Pakem, sedangkan persebaran terendah di daerah Tempel, Minggir, dan Ngaglik. Tingkat parasitasi T. remus terhadap telur S. frugiperda masuk kedalam kategori tinggi cenderung sangat tinggi, sedangkan untuk Tingkat parasitisme mencapai 86%. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa persebaran dan kemampuan parasitasi T. remus terhadap telur S. frugiperda di Sleman tergolong baik. Sehubungan dengan hal tersebut untuk mendukung efektivitas pengendalian hayati ini, perlu dilakukan upaya pengurangan penggunaan pestisida kimia, misalnya melalui penerapan pengendalian hama terpadu (PHT), penggunaan pestisida selektif yang ramah musuh alami, serta peningkatan pelatihan petani terkait konservasi agen hayati
EFFECT OF GROWING MEDIA ON THE GROWTH OF Streptomyces sp. AND Trichoderma harzianum AS ANTHRACNOSE DISEASE BIOCONTROL
Streptomyces sp. and Trichoderma harzianum is a biological agent that is effective in controlling Colletotrichum capsici, the cause of disease in chili plants. Different growing media can affect the growth and activity of these two microorganisms. This study aims to evaluate the growth of Streptomyces sp. and Trichoderma harzianum on various media, namely rice washing water, coconut water, and sugar potato extract. The research phase includes growing media test, effectiveness test of Streptomyces sp. and Trichoderma harzianum in chili peppers, and effectiveness test of Streptomyces sp. and Trichoderma harzianum on chili seeds. The results showed that the medium of rice washing water is more suitable for Streptomyces sp., coconut water media is more suitable for Trichoderma harzianum, and rice washing water media is more suitable for the combination of the two biological agents. Optimal growth in these media affect the effectiveness of biocontrol in suppressing the severity of anthracnose disease in chili
CURRENT UNDERSTANDING IN THE ROLES OF WNT/RYK SIGNALING IN DEVELOPMENT AND HOMEOSTASIS
Wnt/Ryk signaling represents a critical yet underexplored branch of the Wnt pathway, with significant roles in embryonic development and tissue homeostasis. While canonical Wnt/β-catenin signaling has been extensively studied, emerging research highlights Ryk as a key noncanonical Wnt co-receptor influencing processes such as convergent extension, organogenesis, stem cell regulation, and inflammation. Wnt/Ryk signaling mediates diverse cellular outcomes through interactions with ligands like Wnt5a and Wnt11 and exhibits complex crosstalk with canonical pathways. Its dysregulation has been linked to developmental disorders, neurodegenerative diseases, and cancer progression. This review summarizes current insights into Wnt/Ryk function during development and homeostasis, highlights its relevance in human health, and identifies open questions regarding its molecular mechanisms and therapeutic potential. A deeper understanding of this pathway may offer novel strategies for regenerative medicine and targeted treatments for Wnt-related diseases
FOUR NEW SPECIES OF EPHOLCIS WATERHOUSE, 1875 (COLEOPTERA: SCARABAEIDAE: MELOLONTHINAE: MAECHIDIINI) FROM THE MOLUCCAS, INDONESIA
Here, we provide the first record of the chafer beetle genus Epholcis Waterhouse, 1875 fromthe Moluccan Islands, Indonesia. We describe four new species: E. acutus sp. nov., E. arcuatussp. nov., E. cakalele sp. nov., and E. obiensis sp. nov. A lectotype is designated for Maechidiusmoluccanus Moser, 1920, which is redescribed and transferred to the genus Epholcis as E.moluccanus (Moser) comb. nov