The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
    7815 research outputs found

    ANALISIS BEBAN HENTAK STRUKTUR PENYANGGA LANDING GEAR PESAWAT NIR AWAK LSU03 (SHOCK LOAD ANALYSIZES FOR THE LSU03 UAVS LANDING GEAR SUPPORT STRUCTURE)

    No full text
    Pesawat nir awak LSU03 adalah pesawat nir awak yang dikembangkan oleh Lapan, untuk misi pembawa muatan kamera foto maupun video. Dalam operasinya, LSU03 akan melalui siklus terbang dan mendarat dengan frekuensi yang cukup tinggi, khususnya untuk pengisian bahan bakar dan perawatan. Pada saat awal pendaratan di landasan udara, terjadi beban hentak yang dapat mempengaruhi keandalan struktur. Melalui metode analitis persamaan beban hentak, masukan data konfigurasi pesawat nir awak LSU03, dan pernyataan misi karakteristik, telah dilakukan penelitian dan analisis beban hentak struktur penyangga landing gear pesawat nir awak LSU03 pada saat awal pendaratan di landasan. Dari analisis hasil penelitian diketahui bahwa struktur penyangga yang berukuran tebal 2 mm, lebar 8 mm, terbuat dari komposit jenis serat e-glass mampu menerima beban hentak tersebut

    PELAPISAN PERMUKAAN DALAM NOSEL ROKET RKX100 DENGAN Cr2C3-NiCr HVOF: OPTIMASI KEKUATAN LEKAT MELALUI VARIASI KEKASARAN PERMUKAAN

    No full text
    Nozzle of RKX100 rocket contributes 30 percent to the total weight of the structure, so that allowing further research on weight reduction. An alternative for this is by substitution of massive graphite, which is currently used as thermal protector in the nozzle, with thin layer of HVOF (High Velocity Oxy-Fuel) thermal spray layer. A series of study on the characteristics of various type of HVOF coating material have been being conducted. This paper presented the investigation on the HVOF Cr2C3-NiCr thermal spray coating, in particular, the optimization of bonding strength by varying surface roughness of substrates. Characterization included bonding strength test, micro hardness measurement and micro structural observation with optical microscope and scanning electron micriscope (SEM). The results showed that grit blasting pressure increass the surface roughness from 4,54 um to 5.72 um at the pressure of 6 bar. Average micro hardness of the coating was 631 VHN 300. Coating applied to the surface with rougness of 5.42 um possessed the highest bonding strength, 44 MPa. Microstructural observation by using optical microscope and scanning electron microscope (SEM) confirmed dense lamellae structure with variable composition. High coating adherence was found to be due to mechanical interlocking

    Potensi Penurunan Emisi CO2 Sektor Ketenagalistrikan di Provinsi Kalimantan Barat Melalui Bauran Energi Bersih

    No full text
    Increasing greenhouse gas emissions and climate change have become urgent global challenges. Greenhouse gases, such as carbon dioxide (CO2), are primarily produced by the electricity sector, especially from burning fossil fuels. West Kalimantan Province faces specific challenges in developing its electricity sector due to the ban on bauxite exports and the increasing energy demand resulting from the expansion of smelter industries. This study aims to assess the potential reduction of CO2 emissions in West Kalimantan's electricity sector by implementing a clean energy mix, including hydropower, solar energy, and nuclear energy. A system dynamics approach is employed to model complex changes and policy impacts. The projection results indicate that developing clean energy can decrease CO2 emissions, but achieving a net-zero emission target by 2060 still requires further measures to address fossil fuel power plants. Abstrak Peningkatan emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim menjadi tantangan global yang mendesak. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) salah satunya dihasilkan oleh sektor ketenagalistrikan, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Provinsi Kalimantan Barat menghadapi tantangan khusus dalam pengembangan sektor ketenagalistrikan akibat larangan ekspor bauksit dan kebutuhan energi yang meningkat karena pengembangan industri smelter. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi penurunan emisi CO2 di sektor ketenagalistrikan Kalimantan Barat melalui penerapan bauran energi bersih, termasuk energi air, surya dan nuklir. Pendekatan sistem dinamik digunakan untuk memodelkan perubahan yang kompleks dan dampak kebijakan. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih dapat mengurangi emisi CO2, tetapi target net-zero emission di tahun 2060 masih memerlukan penanganan lebih lanjut terhadap pembangkit berbahan bakar fosil

    VALUASI KOMODITAS LINGKUNGAN BERDASARKAN CONTINGENT VALUATION METHOD

    No full text
    Valuasi lingkungan merupakan bagian dari ekonomi lingkungan, yang bertujuan untuk melakukan valuasi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. Valuasi ini bertujuan untuk memberikan penilaian moneter terhadap sumberdaya lingkungan. Terdapat beberapa metode Valuasi komoditas lingkungan, misalnya Travel cost method, preference method, contingent valuation method, dll. Namun yang memiliki penerapan lebih luas adalah contingent valuation method. Metode valuasi lingkungan ini merupakan metode penelitian terhadap komoditas lingkungan yang akan memberikan masukan-masukan kepada pembuat kebijakan dalam mengelola lingkungan berdasarkan partisipasi masyarakat, berupa pajak yang mereka bayar, karena eksternalitas negatip yang mereka lakukan. Walaupun demikian ternyata metode ini dapat menimbulkan berbagai bias, dalam penelitiannya. Bias ini dapat timbul dari desain kuesioner, elisitasi yang dilakukan, proses penyampaian kuesioner, agregasi respon kuesioner, dan sebagainya. Artikel ini merupakan pengantar yang menjelaskan dasar-dasar dan berbagai kesalahan yang dapat timbul dalam metode valuasi lingkungan ini. Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi bias yang timbul dalam penelitian ini adalah dengan melakukan eksperimental desain terhadap sampel populasi yang akan diambil responnya

    Uji Coba Resin Penukar Ion Indion 225 H sebagai Adsorben pada Penurunan Kadar Kromium di Dalam Air Limbah

    No full text
    ABSTRACT Chromium is extensively used in the leather tanning process, with only 60 - 70% utilized, leaving the remainder as waste. Effective waste management is essential to mitigating environmental impact. This study aims to conduct tests and understand the effectiveness of Indion 225 H as an adsorbent for removing chromium from wastewater by analyzing variables such as the mass of adsorbent per wastewater volume and contact time. The study seeks to optimize chromium removal and develop a mathematical model to explain the adsorption process.  Experiments were conducted using a batch system with adsorbent masses ranging from 0.1 to 0.6 grams per 20 ml of wastewater and contact time from 3 to 5 hours. Results indicate that Indion 225 H can reduce chromium content in the solution by 33%, with optimal conditions being a contact time of 5 hours and adsorbent chromium content in the solution by 33%, with optimal conditions being 0.6 grams per 20 ml of wastewater. The Langmuir Isotherm model accurately describes the adsorption phenomena, and the adsorption kinetics follow a second-order model. ABSTRAK Gambut tropis memiliki nilai ekologis tinggi bagi ekosistem global, dan keberlangsungannya bergantung pada keterlibatan masyarakat. Dukungan masyarakat merupakan elemen penting keberhasilan pengembangan ekowisata di Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Kahayan-Sebangau. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat berperan menjaga ekosistem. Dukungan dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan ekowisata. Partisipasi tersebut bermanfaat di bidang ekonomi, sosial, maupun ekologis seperti keberlangsungan ekowisata, mencegah potensi konflik, dan degradasi lingkungan. Penelitian ini meneliti faktor-faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan yang memengaruhi dukungan masyarakat lokal terhadap pariwisata ekologis di lahan gambut Kalimantan Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif digunakan, dan dianalisis melalui partial least squares-structural equation modeling (PLS-SEM). Temuan penelitian menunjukkan dampak ekonomi dan sosial berpengaruh signifikan terhadap dukungan masyarakat, ketika dampak lingkungan memoderasi hubungan yang terjadi. Dampak ekonomi positif meliputi peningkatkan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, dan pembangunan infrastruktur pariwisata. Secara sosial meliputi peningkatan interaksi dan program pemberdayaan masyarakat. Namun, ada juga dampak negatif seperti pembangunan yang tidak seimbang, konflik antar masyarakat, dan degradasi lingkungan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner kepada 100 masyarakat lokal, jawaban menggunakan skala Likert dan responden mewakili berbagai kelompok umur, tingkat pendidikan, dan sektor pekerjaan. Analisis menunjukkan validitas konvergen dan diskriminan terpenuhi dengan nilai loading factor >0,708 dan nilai average variance extraction (AVE) >0,5. Model penelitian memenuhi kriteria fit standardization root mean square (SRMR) <0,1. Kesimpulan penelitian bahwa dukungan masyarakat lokal sangat bergantung pada dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Mengembangkan ekowisata yang memperhatikan ketiga aspek tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

    MODEL ESTIMASI DATA INTENSITAS RADIASI MATAHARI UNTUK WILAYAH BANTEN

    No full text
    Data intensitas radiasi matahari (Rs, MJ/m2/day) memiliki peran yang sangat penting dalam pemodelan cuaca dan iklim guna mengkuantifikasi panas yang dipertukarkan antara permukaan dan atmosfer. Namun, keterbatasan jumlah titik pengamatan intensitas radiasi matahari menjadikan pemodelan sebagai alternatif solusi yang relatif mudah dan murah untuk pengambilan data intensitas radiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa model dalam mengestimasi nilai intensitas radiasi matahari di wilayah penelitian menggunakan dua pendekatan model yang berbeda, yaitu model empiris oleh Keiser, Arkansas (AR) dan model deterministik. Tiga variabel utama cuaca yang digunakan sebagai input data model adalah curah hujan (mm), suhu maksimum (°C), dan suhu minimum (°C). Kedua model tersebut dipilih karena dapat diterapkan dengan hanya melibatkan variabel utama atmosfer yang tersedia dalam waktu yang panjang di lokasi penelitian. Hasil prediksi yang dilakukan dengan model kemudian dibandingkan dengan data reanalisis National Centers for Environmental Prediction (NCEP) pada titik koordinat wilayah Stasiun Klimatologi Pondok Betung. Hasilnya menunjukkan performa model empirik lebih baik dalam menggambarkan variasi temporal dan prediksi variabel intensitas matahari dibandingkan model deterministik. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai korelasi yang cukup baik, yakni mencapai 0,72 (korelasi kuat) dan nilai Root Mean Square Error (RMSE) 2,0. Atas dasar hasil pemodelan yang cukup representatif di lokasi penelitian, analisis secara spasial kemudian diterapkan untuk skala wilayah yang lebih luas, yaitu Provinsi Banten. Berdasarkan tinjauan secara spasial di wilayah kajian, model empirik memiliki performa yang bervariasi di wilayah Provinsi Banten. Hasil prediksi intensitas radiasi matahari di wilayah bagian barat memiliki performa yang lebih baik dibandingkan wilayah bagian timur

    ANALISIS PROFIL CAPE (CONVECTIVE AVAILABLE POTENTIAL ENERGY) SELAMA KEGIATAN INTENSIVE OBSERVATION PERIOD DI DRAMAGA BOGOR

    No full text
    Profil nilai CAPE(Convective Available Potential Energy) telah didapatkan dari analisis data Radiometer untuk wilayah Dramaga Kabupaten Bogor dan sekitarnya. Kegiatan pengamatan dilakukan dari tanggal 18 Januari – 16 Februari 2016. Radiometer mampu mengamati profil atmosfer sampai level ketinggian 10 km. Dengan kemampuan tersebut maka kandungan air (Liquid Water Content), kelembaban relatif (RH) dan suhu bisa teramati sampai level atas. Hasil pengolahan dan analisis menunjukkan bahwa nilai CAPE, sesaat akan terjadi hujan, cenderung terlihat turun dan bernilai mendekati 0 (nol). Ketika terjadi hujan dengan instensitas sedang maka nilai CAPE turun perlahan dan mendekati 0 (nol), ketika terjadi hujan dengan instensitas ringan maka nilai CAPE turun namun tidak mendekati 0 (nol) dan nilai CAPE ketika hari tidak hujan cenderung tidak ada yang mendekati 0 (nol). Besarnya nilai CAPE tidak berpengaruh terhadap intensitas curah hujan. Pada saat hari terjadi hujan maka akan disertai terjadinya penurunan nilai CAPE karena tidak ada konveksi

    ANALISIS KEJADIAN EL NINO TAHUN 2015 DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENINGKATAN TITIK API DI WILAYAH SUMATERA DAN KALIMANTAN

    No full text
    Kejadian El Nino yang berdampak pada sebagian besar wilayah Indonesia akan selalu berasosiasi dengan kekeringan akibat dari berkurangnya intensitas curah hujan. Lebih jauh akibat dari kekeringan tersebut telah menimbulkan meningkatnya titik api secara signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dimana hal tersebut telah mengakibatkan terjadinya bencana asap pada tahun 2015. Tujuan utama penulisan karya tulis ini adalah untuk menganalisis kejadian El Nino pada tahun 2015 dan pengaruhnya terhadap peningkatan titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan baik dalam skala temporal maupun spasial. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter NINO 3.4 SST Indeks dan Southern Oscillation Index (SOI) pada tahun 2015 telah terjadi fenomana El Nino pada level kuat yang ditandai dengan adanya pelemahan sirkulasi walker sehingga pusat tekanan rendah perpindah dari Samudera Pasifik bagian Barat ke Samudera Pasifik bagian Timur, dimana hal ini telah menyebabkan adanya penurunan intensitas curah hujan (anomali negatif) disebagian besar wilayah Indonesia terutama pada bulan Juli hingga Oktober 2015 dan oleh karena itulah pada bulan Juli hingga Oktober 2015 tersebut terjadi peningkatan jumlah titik api yang sangat tajam di wilayah Indonesia dimana persebaran titik api tersebut sebagian besar terkonsentrasi di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah

    PENENTUAN DISTRIBUSI TIPE AWAN DI PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MTSAT IR1

    No full text
    Penentuan distribusi tipe awan berdasarkan diagram temperatur kecerahan (TBB) – perbedaan TBB dilakukan dengan menggunakan data citra satelit MTSAT IR1 dan IR2 pada bulan Januari dan Maret 2014 di 4 (empat) titik kajian di Provinsi Riau. Terdapat 6 (enam) tipe awan yang dikategorikan dalam diagram TBB-DT antara lain awan dingin dengan ketebalan optik besar (tipe awan Cumulonimbus/Cb), awan hangat dengan ketebalan optik besar (tipe awan Cumulus/Cu atau Stratocumulus/Sc), awan dingin dengan ketebalan optik kecil (tipe awan Cirrus/Ci yang cukup padat atau dense), awan hangat dengan ketebalan optik kecil (tipe awan Ci), serta awan tipe N yang merupakan tipe awan tipis di level rendah.  Dari seluruh data yang ada dalam pada bulan Januari 2014 dan Maret 2014, distribusi awan di daerah kajian didominasi oleh tipe awan Cirrus (Ci tipis, Ci tebal, dan Ci solid). Karakteristik wilayah Riau yang cenderung kering di bulan Januari maupun Maret 2014 mempengaruhi pertumbuhan awan di daerah tersebut dan kondisi cuaca didominasi oleh cuaca cerah. Dari perbandingan yang dilakukan antara hujan dengan tipe awan di 4 (empat) titik kajian, penentuan jenis awan penghasil hujan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengambil data TRMM dan data TBB di suatu titik karena tidak menunjukkan adanya hubungan antara hujan dengan tipe awannya. Hujan yang jatuh di titik kajian bisa jadi tidak berasal dari awan yang berada tepat di atasnya karena faktor angin

    EFEK INTERAKSI DOSIS INOKULUM RAGI DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP KEPADATAN SEL VIABEL BAKTERI ASAM LAKTAT DAN KUALITAS PRODUK SILASE DARI LIMBAH AMPAS TEH (Camellia sinensis)

    No full text
    Industri minuman teh dalam kemasan menghasilkan limbah ampas teh dalam jumlah besar yang dapat mencemari lingkungan. Upaya pemanfaatannya sebagai pakan ternak terhambat oleh tingginya kandungan zat antinutrisi seperti tanin dan serat kasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh waktu fermentasi dan dosis inokulum ragi terhadap kepadatan bakteri asam laktat (BAL) serta kualitas silase dari limbah ampas teh. Ampas teh direndam dalam larutan abu gosok 15% (b/v) untuk proses detanisasi, kemudian diinokulasi dengan ragi dalam dosis 0%, 2%, 4%, dan 6% (b/b), dan diinkubasi secara anaerob pada suhu ruang selama 0, 14, dan 21 hari. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, pH, kepadatan BAL, kadar asam laktat, nilai Fleigh, kadar protein kasar, serat kasar, dan tanin. Hasil menunjukkan adanya interaksi signifikan antara waktu fermentasi dan dosis inokulum terhadap peningkatan kepadatan BAL, kadar asam laktat, nilai Fleigh, serta penurunan pH dan kadar tanin. Perlakuan terbaik diperoleh pada dosis ragi 6% dan waktu fermentasi 21 hari, dengan kepadatan BAL batang dan kokus masing-masing sebesar 3,90 × 10⁴ dan 3,93 × 10⁴ sel/g, kadar asam laktat 1,79%, pH 3,77, nilai Fleigh 136,28, dan tanin 0,64%. Meski kandungan serat kasar masih cukup tinggi (22,57%), dan protein kasar tertinggi tercapai pada dosis 4% (18,04%), hasil ini menunjukkan bahwa fermentasi dengan ragi efektif meningkatkan kualitas silase ampas teh sebagai pakan alternatif

    7

    full texts

    7,815

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇