E-Journal Universitas Dhyana Pura

E-Journal Universitas Dhyana Pura
Not a member yet
    3121 research outputs found

    COVER

    No full text
    COVE

    IMPLEMENTASI FRAMEWORK COBIT 5 UNTUK ANALISIS DAN EVALUASI TATA KELOLA PADA SISTEM INFORMASI AKADEMIK (SISKA) DI KAMPUS STMIK PRIMAKARA

    Get PDF
    ABSTRACTThe academic information system (SISKA) implemented by STMIK Primakara has not been implemented optimally as expected. Several problems arise, namely, the system suddenly becomes slow and does not respond when accessed, causing delays in the process of downloading grades and registering study plans (KRS). Regarding this condition, it appears that there is a gap between planning and the existing reality. Research on analyzing and evaluating the maturity level of IT governance and as a recommendation for improvements in the implementation of SISKA services at the Primakara STMIK Campus. This research uses qualitative and quantitative methods, with data collection from survey techniques, questionnaire instruments, document studies and interviews. The COBIT 5 framework as a tool, this study focuses on the process domain, namely EDM 4, BAI 4, APO 4, and MEA 1. Based on the results of the study, it shows that the average maturity level of IT governance in SISKA's current services is 2,30 categorized at capability level 2 (managed). Compared with the expected level 5 or (optimizing), the comparison results obtained a level of gap (gap), then used to formulate recommendations for improvement. To improve IT governance, it is recommended that agencies prepare resources that meet IT needs, competent human resources, manage IT innovation, document every activity of supervision, direction, and evaluation in SISKA service managementKeywords: COBIT 5 Framework, IT Governance, SISKA, Maturity Level.ABSTRAKSistem informasi akademik (SISKA) yang diterapkan oleh STMIK Primakara belum terlaksana secara optimal dengan yang diharapkan. beberapa masalah yang muncul yaitu, sistem tiba-tiba lambat dan tidak merespon saat diakses, menjadi keterlambatan dalam proses unduh nilai dan registrasi rencana studi (KRS). Mengenai kondisi tersebut nampak ada kesenjangan dari perencanaan dengan realita yang ada. Penelitian ini untuk menganalisis serta mengevaluasi tingkat kematangan tata kelola TI dan sebagai rekomendasi perbaikan dalam penerapan layanan SISKA di Kampus STMIK Primakara. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, dengan pengumpulan data dari teknik survei, instrument kuesioner, studi dokumen dan wawancara. Framework COBIT 5 sebagai alat bantu, penelitian ini berfokus pada domain proses, yaitu EDM 4, BAI 4, APO 4, dan MEA 1. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat kematangan tata kelola TI pada layanan SISKA saat ini, diperoleh sebesar 2,30 dikategorikan pada tingkat kapabilitas 2 (managed). dibandingkan dengan yang diharapkan pada level 5 atau (optimizing), dari hasil perbandingan tersebut diperoleh tingkat kesenjangan (gap), lalu digunakan untuk merumuskan rekomendasi perbaikan.Kata Kunci : Kerangka Kerja COBIT 5, Tata Kelola TI, SISKA, Tingkat Kematangan

    BAHASA WARNA DALAM KONTEKS BUDAYA BALI

    Get PDF
    ABSTRAKManusia adalah makhluk homo sapiens yang mampu berpikir dan menyampaikan pemikirandan gagasannya melalui bahasa baik bahasa verbal maupun nonverbal. Bahasa verbalmenggunakan kata-kata baik disampaikan secara lisan maupun tertulis. Sebaliknya, bahasanonverbal diaplikasikan dengan simbol. Eksistensi kedua jenis bahasa tentu hidup dimasyarakat mengingat tidak semua objek dapat diwakilkan dengan kata-kata secaramenyeluruh. Contoh bahasa nonverbal seperti gerakan mengepalkan jemari yang berartimemberi semangat, membuka tangan berarti tidak tahu, atau melambaikan tangan berartiselamat berpisah. Penggunaan bahasa warna sebagai salah satu bentuk bahasa nonverbalmerujuk pada pilihan warna beserta arti yang diwakilinya, misalnya tampak pada warnabendera, warna dinding, warna pakaian dan cat rambut. Bahasa warna dalam budaya Balimemiliki arti tersendiri direalisasikan dalam persembahan canang, segehan maupun caru.Setiap arah angin diwakili oleh warna tertentu sekaligus merujuk pada dewa penguasa mataangin tersebut. Warna hitam dipakai untuk arah utara dan mengangungkan dewa Wisnu. Warnaputih untuk arah timur sekaligus memuja dewa Iswara. Merah di selatan sebagai bentukpenghormatan kepada Dewa Brahma. Kuning di arah barat untuk pemujaan Dewa Mahadewa,sedangkan warna campuran (brumbun) di tengah sebagai bentuk pemujaaan bagi Dewa Siwa.Komposisi warna tersebut bersumber pada Dewa Pengider-Ider yang menguasai penjuru bumisesuai ajaran Hindu. Dengan demikian, warna tidak saja suatu bias cahaya yang ditangkap mata,melainkan mengandung nilai yang lebih dalam menyangkut keyakinan. Melalui warna tersebutmasyarakat Bali memuja keagungan dewata dan berbakti kepadaNya.Kata Kunci: bahasa nonverbal, simbol, warna, budaya Bali.ABSTRACTHumans are homo sapiens with the capability of thinking and conveying their thoughts andideas through language, both verbal and nonverbal. Verbal language uses words which isdelivered orally or written down. In the other side, nonverbal language is applied with symbols.The existence of these two types of language certainly lives in society since not all objects canbe explained completely by words. Examples of nonverbal language such as put a fist whichmeans encouraging or supporting, opening hands means have no ideas, or waving meanssaying goodbye. The use of color as a form of nonverbal language refers to the choice of colorsand the meanings they represent, for example flag colors, wall, uniform or hair paint. Thelanguage of color in Balinese culture has its own meaning which is realized in the offerings ofcanang, segehan and caru. In Bali, each direction is represented by a certain color and at thesame time refers to the god who rules it. The black color is used for the north and representDeva Vishnu. White color for the east to worship Deva Iswara. Red in the south as a form ofrespect for Deva Brahma. Yellow in the west is for worshiping Deva Mahadeva, while the mixedcolor (brumbun) in the middle is a form of worship for Deva Shiva. The color compositionoriginates from the God of Pengider-Ider who rules over the earth according to Hindu belief. Thus, color is not only a bias of light that is captured by the eyes, but contains a deeper valueregarding belief. Through certain colors, the Balinese people express the greatness of gods andworship Him.Keywords: nonverbal language, symbol, colors, Balinese cultur

    CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN A MOVIE ENTITLED JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

    Get PDF
    ABSTRACTCommunication is an action of giving and receiving information that occur betweentwo or more people. In a conversation, people tend to say more than what they want to say.Conversational implicature usually occur in daily conversation and movies as well. This studyis focused to determine the types of conversational implicature according to Grice (1975) andto determine the connotative meaning of the utterance by using a theory of Leech (1983). Theprimary data source of this study was taken from the movie itself on Netflix. The written data,the script of the movie, taken from a website. The method of collecting the data is note taking.The data from the movie is observed by watching the movie entitled Jumanji: Welcome to TheJungle multiple times and note taking conducted for collecting and separating the data.Qualitative method is used for analysing the data. Purposive random sampling method is usedto choose the data based on its uniqueness between each data. The result of the study showsthat there several conversational implicature uttered by main characters in the movie. There isconnotative meaning in the uttered conversational implicature by main characters that can befound by understanding certain context, circumstances, each characters’ social life in themovie, and their personality as well.Keywords: implicature, conversational implicature, connotativeABSTRAKKomunikasi adalah sebuah kegiatan memberi dan menerima infomasi yang terjadi diantaradua orang atau lebih. Pada sebuah percakapan, banyak orang ingin menyampaikan informasilebih dari apa yang mereka ucapkan. Implikatur percakapan biasanya terjadi padapercakapan sehari-hari dan di dalam film. Penelitian ini membahas mengenai tipe-tipeimplikatur dalam percakapan menurut teori Grice (1975) dan mengenai makna konotatif dariimplikatur tersebut dengan menggunakan teori dari Leech (1983). Metode untukmengumpulkan data yang digunakan dengan mencatat. Data-data dari film tersebut diamatidengan cara menonton film berjudul Jumanji: Welcome to The Jungle secara berulang-ulangdan data-data tersebut dikumpulkan dan dipisahkan sesuai tipe implikatur percakapan olehGrice (1975). Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis data-data tersebut. Metodesampel penelitian digunakan untuk memilih data berdasarkan keunikan data tersebut diantaradata-data yang lain. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada beberapa implikaturpercakapan yang diucapkan oleh pemeran-pemeran utama. Makna konotatif juga dapatditemukan dalam implikatur percakapan dengan memahami konteks-konteks tertentu,keadaan, latar belakang dan kepribadian karakter utama.Kata Kunci: implikatur, implikatur percakapan, konotati

    RESPECT AND ETIQUETTE ROUTINES THE JAVANESE AND WESTERN CONCEPT OF SUNGKAN: A COMPARATIVE STUDY

    Get PDF
    ABSTRACTCulture can be described through languages. The culture in western country is slightly differentfrom the one in eastern. The differences and similarities can be seen from their etiquettebehaviour, daily routines, etc. After finding Respect and Etiquette routines the Javanese conceptof Sungkan in Indonesia which represent eastern culture and good manners in Australia thatrepresent western culture. They have some differences and similarities. Australians have atradition of denigrating people who are achieve status for some reason other than sport. Theydo not have a culture similar to Javanese where respect is something separate and ingrained. .Inspecific situation western culture has the similarities to eastern, in this case the Indonesianespecially Javanese has a special. Emotional attitude of this kind is so elaborate. The peoplefrom lower class that is called caste or the younger people are taught to be Sungkan to upperclass and older people and it is untranslatable.Key words: Respect, etiquette, sungkan, good manners.ABSTRAKBudaya dapat digambarkan melalui bahasa. Budaya di negara barat sedikit berbeda dari yangada di timur. Perbedaan dan kesamaan dapat dilihat dari perilaku etiket mereka, rutinitas seharihari,dll. Setelah menemukan Respect and Etiquette rutin konsep Jawa Sungkan di Indonesiayang mewakili budaya timur dan sopan santun di Australia yang mewakili budaya barat.Mereka memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Orang Australia memiliki tradisimerendahkan orang-orang yang mencapai status untuk beberapa alasan selain olahraga. Merekatidak memiliki budaya yang mirip dengan bahasa Jawa di mana rasa hormat adalah sesuatuyang terpisah dan mendarah daging. . Dalam situasi tertentu budaya barat memiliki kesamaandengan timur, dalam hal ini orang Indonesia khususnya Jawa memiliki keistimewaan. Sikapemosional semacam ini sangat rumit. Orang-orang dari kelas bawah yang disebut kasta atauorang muda diajarkan untuk menjadi Sungkan untuk kelas atas dan orang tua dan itu tidak dapatditerjemahkan.Kata kunci: Rasa hormat, etiket, sungkan, sopan santun

    Kultur In Vitro Umbi Dan Tunas Bawang Putih (Allium Sativum L.) Dengan Ekstrak Daun Kelor Dan Arang Aktif

    Get PDF
    Ketersediaan bibit bawang putih masih terbatas. Salah satu penyediaan bibit adalah melalui Teknik kultur in vitro. Tujuan penelitian ini adalah perbanyakan eksplan umbi dan tunas bawang putih dengan esktrak daun kelor dan arang aktif untuk mengurangi kontaminasi dan meningkatkan pertumbuhan eksplan. Metode menggunakan rancangan acak lengkap. Konsentrasi perlakuan media antara lain (MS0) kontrol, (MS1) 1g/L arang aktif + 50 mL/L ekstrak daun kelor, (MS2) 1.5 g/L arang aktif +100 mL/L ekstrak daun kelor, (MS3) 2 g/L arang aktif +150 mL/L ekstrak daun kelor. Eksplan yang digunakan adalah umbi dan tunas. Masing-masing perlakuan pada eksplan dan media adalah 10 ulangan total 80 ulangan. Hasil kultur umbi persentase kontaminasi terendah pada MS1 dan MS3. Hari kontaminasi tercepat pada MS0 yaitu rata – rata 1,70 hari setelah tanam (hst). Persentase tumbuh terbanyak pada MS0, MS1 dan MS3. Kultur tunas menunjukkan persentase kelulusan hidupan yang paling tinggi pada perlakuan MS3. Persentase kontaminasi paling rendah MS3. Hari kontaminasi tercepat adalah MS0 dan paling lama MS3 yaitu rata – rata 13,80 hst. Persentase kontaminasi tertinggi pada MS0 sebesar 70%. Kata Kunci : Bawang putih, kelor, ekstrak, arang aktif, kultu

    PARADIGMA WORK FROM HOME DALAM PENGEMBANGAN KARIER WANITA

    No full text
    ABSTRAKMasyarakat modern saat ini memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi wanita untukmengembangkan jenjang karier. Namun dalam proses pengembangan kariernya, banyak sekalitantangan yang dihadapi oleh seorang wanita. Kodratnya menjadi seorang ibu, istri dan kepalarumah tangga mengambil peran penting bagi kelangsungan seorang wanita menapaki jenjangkariernya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana Work From Home (WFH) padapengembangan karier wanita sesuai siklus kariernya. Metodologi penelitian ini adalah sebuah studikepustakaan dalam memaknai sudut pandang wanita karier terhadap kebijakan WFH yangditerapkan oleh sebagian besar perusahaan di Wilayah Denpasar, akibat pandemic Covid-19 padaproses pengembangan kariernya. Diperoleh hasil bahwa WFH ini sangat mempengaruhi prosespengembangan karier wanita, tergantung dari siklus kariernya, dimana semakin baru/awal wanitamenapaki jenjang karier ini, mereka semakin merasa bahwa WFH adalah hambatan dalam berkarirdan sebaliknya semakin berada pada akhir karier WFH sangat mendukung mereka untukmenghadapi berbagai perannya.Kata Kunci : Pengembangan Karier Wanita, Siklus Karier, Work From Home

    EKSPOSISI KUALITAS AIR LAUT PADA PERAIRAN TELUK BENOA, BALI

    Get PDF
    Beban daya tampung perairan Teluk Benoa sebagai penyangga berbagai fungsi pemanfaatan perairan, seperti fungsi sebagai pelabuhan utama di Bali dengan berbagai limbah cair dari kapal dan berbagai pendukung limbah transportasi lainya, sebagai tampungan aliran buangan limbah cair industri perikanan dan sebagai perairan pendukung Pariwisata bahari, namun perairan Teluk Benoa ini dikelilingi oleh hutan mangrove yang sangat lebat menjadikan perairan ini sangat unik dan menarik untuk dikaji. Penelitian mengenai eksposisi kualitas air laut pada perairan Teluk Benoa telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status mutu perairan Teluk Benoa dan telah dilakukan selama tiga bulan yaitu bulan Maret, April dan Juni 2019. Dalam penelitian dibahas kualitas perairan Teluk Benoa ditinjau dari parameter fisik, kimia dan biologi yang diambil dari beberapa lokasi sampling di daerah Teluk Benoa. Selanjutnya hasil tersebut dianalisis dengan metode Storet menggunakan baku mutu perairan wisata bahari. Hasil analisis menunjukkan beberapa parameter masih berada diatas baku mutu perairan wisata bahari, diantaranya kecerahan, nitrit, detergen, ammonia, minyak lemak dan fenol. Hasil penilaian Storet untuk wilayah perairan Teluk Benoa memiliki status mutu buruk jika digunakan sebagai perairan wisata bahari karena memiliki skor lebih dari -31 dan dikategorikan tercemar berat. Kata kunci: Kualitas air, Teluk Benoa, Metode Storet

    PENGETAHUAN SISWA TERKAIT PENCEGAHAN MIKROORGANISME PENYEBAB KONTAMINASI PADA MAKANAN

    Get PDF
    Kontaminasi makanan yang disebabkan oleh mikroba dapat menyebabkan kasus foodborne disease. Pada negara berkembang, kasus foodborne disease masih terus terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pengetahuan pada siswa terkait pencegahan kontaminasi makanan. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimental Design dengan jenis One-Group Pretest-Postest. Sampel dalam penelitian adalah siswa kelas XII SMAN 3 Denpasar yaitu sebesar 183 responden. Analisis tingkat pengetahuan pre-test dan post-test siswa dilakukan menggunakan uji normalitas dan dilanjutkan dengan Wilcoxon Test. Hasil penelitian menunjukkan rerata nilai pre-test dan post-test siswa berturut-turut sebesar 6,16 ± 0,62 dan 9,29 ± 0,59 (

    Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Boga Dasar Kelas X TB 1 SMK Pariwisata Dwi Tunggal Tabanan

    No full text
    AbstrakPenerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share diharapkan siswa dapat mengembangkanketerampilan berpikir dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya, saling membantu dalam kelompokkecil. Di samping itu, model pembelajaran kooperatif Think Pair Share secara langsung dapat memecahkanmasalah. Memahami materi secara berkelompok karena saling membantu antara satu dengan yang lainnya,dalam membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas. Jenis penelitian ini adalahpenelitian tindakan kelas. Teknik analisis data deskriptif kuantitatif menunjukkan terjadi peningkatan hasilbelajar siswa pada siklus II sebesar 18.73%. Peningkatan ketuntasan klasikal dapat dilihat dari rata-rataketuntasan klasikal yaitu pada siklus I sebesar 46.88% sedangkan pada siklus II sebesar 100%. Analisis datamenunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 53.12%.Kata Kunci : Model pembelajaran Think Pair Share, Keaktifan Belajar Siswa, Hasil Belajar Siswa.AbstractThe implementation of the Think Pair Share cooperative learning model is expected that students candevelop thinking and answering skills in communication with each other, working together to help each other insmall groups. Think Pair Share cooperative learning models can directly solve problems, understand a materialin groups, help each other, make conclusions and present in front of the class as one of the evaluation steps oflearning activities that have been done. This type of research is class action research with quantitative deskritivedata analysis techniques. This study showed that there was an increase in student learning outcomes in thesecond cycle by 18.73%. The increase in classical completeness can be seen from the average classicalcompleteness of 46.88% in the first cycle while in the second cycle it is 100%. This indicates that there has beena 53.12% increase in student learning outcomes in the second cycle.Keywords : Think Pair Share learning model, Student Learning Activeness, Student Learning Outcome

    866

    full texts

    3,121

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Universitas Dhyana Pura is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage E-Journal Universitas Dhyana Pura? Access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard!