Student Journals
Not a member yet
16241 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING BERBANTU PHET UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKPD berbasis Problem Based Learning berbantu PhET yang layak digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar peserta didik SMA. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan LKPD berbasis Problem Based Learning berbantu PhET, dan (2) mengetahui kelayakan LKPD berbasis Problem Based Learning berbantu PhET yang dikembangkan. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (RD) dengan model 4D. Model 4d terdiri dari 4 tahap yaitu: Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan) dan Disseminate (Penyebaran). Hasil penelitian ini menunjukan bahwan kelayakan perangkat pembelajaran fisika berupa LKPD berbasis Problem Based Learning berbantu PhET berhasil dikembangkan. Hasil uji validitas pada perangkat ini mendapat kriteria sangat baik dalam aspek kelayakan isi, penyajian, grafik dan sumber, dan bahasa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perangkat pembelajaran fisika berupa LKPD berbasis Problem Based Learning berbantu PhET berhasil dikembangkan dan layak untuk digunakan
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN METODE MAKE A MATCH TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA DAN PENCAPAIAN SIKAP KERJASAMA PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui adanya perbedaan peningkatan penguasaan materi Alat Optik dalam Kehidupan Sehari-hari antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran model kooperatif tipe STAD dengan Metode Make a Match, model pembelajaran kooperatif, dan model konvensional dengan metode ceramah; (2) mengetahui adanya perbedaan pencapaian sikap kerjasama antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran model kooperatif tipe STAD dengan metode Make a Match, model pembelajaran kooperatif, dan model konvensional dengan metode ceramah. Penelitian ini menggunakan metode quasi-eksperimental research dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas VIII salah satu SMP negeri di Kabupaten Sleman. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik Tes dan Non-Tes. Instrumen yang digunakan adalah RPP, LDPD, perangkat permainan Make a Match, lembar soal pretest dan posttest, lembar observasi sikap kerjasama peserta didik, lembar observasi keterlaksanaan RPP, dan lembar validasi instrumen. Teknik analisis yang digunakan adalah N-Gain, Manova, effect size, dan analisis ketercapaian sikap kerjasama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar pada materi Alat Optik dalam Kehidupan Sehari-hari yang ditunjukkan dengan nilai N-Gain untuk peserta didik yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode Make a Match sebesar 0,71 (tinggi), model pembelajaran kooperatif sebesar 0,49 (sedang) dan model pembelajaran konvensional sebesar 0,51 (sedang); (2) terdapat perbedaan pencapaian sikap kerjasama peserta didik yang ditunjukkan dengan ketercapaian sikap kerjasama untuk peserta didik yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode Make a Match sebesar 89,61% (sangat baik), model pembelajaran kooperatif sebesar 83,52% (sedang), dan model pembelajaran konvensional sebesar 80,00% (sedang)
KARAKTERISASI DAN APLIKASI NANOPARTIKEL PERAK IONIK DENGAN METODE ELEKTROLISIS SEBAGAI ANTIBAKTERI STREPTOCOCCUS PYOGENES
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu elektrolisis terhadap konsentrasi dan konduktivitas larutan, mengetahui karakteristik nanopartikel perak ionik, dan mengetahui efek konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes. Produksi nanopartikel perak ionik dilakukan dengan menggunakan elektroda perak dalam larutan akuades selama 100 menit dengan tegangan 20 volt. Konsentrasi dan konduktivitas larutan diukur setiap 10 menit. Larutan yang dihasilkan kemudian diuapkan dan diencerkan menjadi lima variasi konsentrasi. Nanopartikel perak ionik yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi menggunakan metode UV-Vis, AAS, dan PSA. Hasil penelitian menunjuukan semakin lama waktu elektrolisis, konsentrasi dan konduktivitas larutan semakin besarHasil uji spektrofotometer UV-Vis menunjukkan puncak absorbansi pada panjang gelombang 405 nm, 411 nm, 407 nm, dan 411 nm untuk konsentrasi 25-65 ppm dengan interval 10 ppm. Karakterisasi AAS menunjukkan konsentrasi larutan sebesar 43 ppm, 45 ppm, 60 ppm, 72 ppm, dan 89 ppm. Hasil uji PSA menunjukkan ukuran partikel 83,4 nm dan bersifat homogen. Uji antibakteri menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi nanopartikel perak ionik, semakin besar aktivitas antibakterinya terhadap Streptococcus pyogenes. Konsentrasi paling efektif adalah 65 ppm dengan diameter zona bening sebesar 10,7 mm
KAJIAN PENERAPAN FISIKA BIOMEDIS DALAM BIOMEKANIKA OLAHRAGA (SPORT SCIENCE): PENGOBATAN CEDERA TENDON AKIBAT KESALAHAN GERAK PADA CABANG OLAHRAGA SEPAKBOLA
Fisika Biomedis merupakan cabang fisika yang berkaitan dengan penerapan konsepdan metode fisika pada diagnosis, pengelolaan, dan pengobatan penyakit manusia. Secara khusus, kajian fisika biomedis sangat relevan dengan biomekanika olahraga, dimana studi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam teknik-teknik olahraga dan mengetahui cara melakukan teknik tersebut dengan benar. Pada penelitian ini, penulis mengkaji penerapan fisika biomedis dalam mekanika olahraga (Sport Science) sebagai pengobatan cedera tendon akibat kesalahan gerak pada cabang olahraga sepak bola. Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur menggunakan studi kepustakaan. Olahraga sepak bola adalah olahraga yang paling banyak digemari di seluruh dunia. Selama pemain sepak bola melakukan atihan rutindan dalam jangka waktu panjang serta bermain bersama lawan tentu para pemain pernah mengalami cedera. Cedera yang paling banyak dialami oleh pemain sepak bola adalah cederatendon. Cedera tendon memiliki gejala rasa nyeri pada kaki yang muncul secara tiba-tiba, rasanya bagian belakang betis seperti ditendang dan terdapat suara seperti retak atau patah pada kaki yang mengalami cedera tendon. Pengobatan cedera tendon dapat dilakukan dengan menggunakan terapi laser Multiwave Locked System (MLS). Terapi Laser MLS dapat mencegah kerusakan jaringan pada panjang gelombang terapeutik yang dapat merangsang aktivitas pada tingkat sel
PENINGKATAN PERFORMA AUDIO BIO HARMONIC SYSTEM (ABHS) BERTENAGA BATERAI
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui peningkatan performa ABHS bertenaga baterai ditinjau dari tiga hal yaitu lama waktu baterai digunakan untuk pemaparan bunyi, lama waktu pengisian baterai, dan jarak jangkauan taraf intensitas bunyi yang dihasilkan. Metode dalam penelitian ini meliputi persiapan, perbaikan alat, dan pengujian alat. Instrumen bunyi pada ABHS difokuskan pada penggantian komponen amplifier menjadi tipe PAM 8610, sedangkan instrumen daya listrik difokuskan pada pemasangan BMS yang tepat. Pengujian alat meliputi uji pengosongan baterai, uji pengisian baterai, dan uji taraf intensitas bunyi. Pengujian dilakukan di LAB FMIPA UNY dan area persawahan di daerah Wonogiri. Berdasarkan pengujian, didapatkan performa baru dari ABHS versi sebelumnya yaitu ABHS yang semula bertahan 3 jam 55 menit meningkat menjadi 5 jam 10 menit. Waktu pengisian baterai, yang semula 6 jam 50 menit menjadi hanya 2 jam 5 menit. Jarak jangkauan taraf intensitas bunyi pada jarak 1 meter, ABHS versi lama 105,2 dB meningkat menjadi 108,4 dB, sedangkan pada jarak 60 meter, ABHS versi lama menghasilkan 65,3 dB meningkat menjadi 69,3 dB
ANALISIS HUBUNGAN KESETARAAN ANTARA ENERGI LISTRIK DAN ENERGI PANAS (KALOR-LISTRIK) DALAM KALORIMETER
Pada dasarnya peralatan rumah tangga seperti teko pemanas, alat penanak nasi, kompor gas, dan peralatan listrik lainnya memiliki cara kerja mengubah energi listrik pada kawat menjadi energi panas/kalor. Proses ini menjadi objek penelitian dalam percobaan yang berhubungan dengan dua bentuk energi, yakni energi listrik dan energi kalor. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan besarnya energi listrik yang dilepas dalam kalorimeter, besarnya energi panas/kalor yang diterima kalorimeter, dan menentukan nilai kesetaraan (kalor – listrik). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengalirkan arus listrik pada kawat tahanan yang tercelup dalam air di dalam kalorimeter. Dalam konteks penelitian ini, prinsip kekekalan energi dan Asas Black digunakan untuk memahami perubahan energi panas yang terjadi pada air dan kalorimeter. Jumlah energi listrik yang dilepas akan diterima oleh air dalam kalorimeter dan kalorimeter itu sendiri, sehingga terjadi perubahan suhu pada keduanya. Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa energi listrik dilepasdan diterima oleh air dan kalorimeter, menyebabkan perubahan panas pada keduanya, sehingga metode yang digunakan dalam percobaan ini efektif untuk menentukan besarnya energi listrik yang dilepas, energi panas yang diterima, dan nilai kesetaraan kalor-listrik dalam peralatan rumah tangga
PENGARUH PENERAPAN CHEMISTRY LEARNING COMMUNITY BERBASIS DISCOVERY TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan minat belajar dan hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah mengikuti penerapan Chemistry Learning Community (CLC) berbasis discovery di kelas XI SMA N 2 Ngaglik pada materi Larutan Asam Basa. Penelitian ini merupakan penelitian pre-experiment dengan desain one-group pretest-posttest. Variable bebas penelitian berupa model pembelajaran yaitu CLC berbasis discovery dengan variabel terikatnya adalah minat dan hasil belajar Kimia. Pemilihan sample menggunakan teknik convenience sampling, dengan instrumen pengumpulan data berupa angket untuk minat belajar dan soal untuk hasil belajar kimia peserta didik. Analisis hasil belajar menggunakan uji Wilcoxon signed rank, sedangkan untuk minat belajar menggunakan uji Paired t-test. Hasil analisis paired sample t-test menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,000 untuk minat belajar yang menunjukkan adanya perbedaan minat belajar yang signifikan antara peserta didik sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran CLC berbasis discovery. Sementara hasil uji Wilcoxon signed rank sebesar 0,000 menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara peserta didik sebelum dan sesudah pembelajaran
EFEKTIVITAS LKPD DIGITAL BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATERI SISTEM EKSKRESI KELAS XI DI SMA NEGERI 1 PANGKALPINANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas LKPD digital berbasis Problem Based Learning terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Jenis penelitian berupa kuasi eksperimen dengan menggunakan nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Sampel penelitian yang diambil sebanyak dua kelas yaitu kelas XI MIPA 4 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIPA 1 sebagai kelas kontrol. Pemilihan sampel tersebut menggunakan teknik purposive sampling. Data keterampilan berpikir kritis dikumpulkan menggunakan tes berbentuk uraian. Analisis data dilakukan dengan uji Independent Sample T-test dan uji Effect Sizes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LKPD digital berbasis Problem Based Learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik didasarkan pada hasil Independent T-test nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,021 0,05. LKPD digital berbasis Problem Based Learning cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik dengan nilai cohen’s d sebesar 0,6 yang termasuk dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 73%. Hal ini bermakna bahwa peseta didik cukup maksimal mencapai target keterampilan berpikir kritis dengan menggunakan LKPD digital berbasis Problem Based Learning dalam pembelajarannya
PERBANDINGAN TINGKAT AKURASI METODE GAUSSIAN NAIVE BAYES DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) UNTUK KLASIFIKASI TANDA-TANDA VITAL PEROKOK
AbstrakTujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran hasil pemodelan klasifikasi tanda-tanda vital perokok menggunakan metode klasifikasi Gaussian Naive Bayes dan metode Learning Vector Quantization serta membandingkan kinerja kedua metode berdasarkan nilai akurasinya. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data tanda-tanda vital perokok yang diambil dari situs Kaggle.com dengan banyaknya data yaitu 1000. Data tersebut dilakukan tahap preprocessing untuk mendapatkan pemodelan terbaik kemudian data dibagi menjadi data training dan data testing dengan perbandingan 70:30, 75:25, 80:20, 85:15, 90:10, dan 95:5. Selain itu, digunakan nilai random state 0, 1, 30, dan 42. Pada metode Learning Vector Quantization digunakan nilai learning rate (α), pengurangan learning rate, dan maksimum epoh masing-masing sebesar 0,1; 0,5*α; dan 100. Setelah itu dilakukan pengklasifikasian menggunakan kedua metode kemudian dicari nilai akurasinya untuk dibandingkan. Hasil dari penelitian ini adalah pada kedua metode nilai akurasi terbaik diperoleh saat perbandingan data training dan data testing sebesar 90:10 dan nilai random state 42. Pada metode Gaussian Naïve Bayes diperoleh nilai akurasi sebesar 0,8 dan metode Learning Vector Quantization (LVQ) diperoleh nilai akurasi sebesar 0,809091. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua metode memiliki performa yang hampir sama.Kata kunci: analisis perbandingan akurasi, tanda vital perokok, Gaussian Naïve Bayes, Learning Vector Quantization
PROFIL TINGKAT KECEMASAN BELAJAR KIMIA SISWA KELAS XII IPA SEMESTER 1 PADA SMA NEGERI DI KABUPATEN KLATEN
Difficulties and failures in learning chemistry can lead to chemophobia or chemistry learning anxiety among students.. This study aims to measure the level of learning anxiety among 12th-grade science students in the odd semester of chemistry learning. This is a non-intervention quantitative study using a survey method. The result showed that the average level of learning anxiety among 12th-grade science students in the odd semester of chemistry learning was in the low category. Specifically, the distribution of anxiety levels is as follows: very high (2,63%); high (9,63%); moderately anxious (20,57%); low (42,01%); and very low (25,16%). These findings indicate that although a small portion of students experience high anxiety, the majority of students have a low level of anxiety in learning chemistry. These findings can serve as a basis of designing more effective teaching strategies to reduce anxiety about learning chemistry among students