Student Journals
Not a member yet
16241 research outputs found
Sort by
PENGARUH KETERAMPILAN MENGAJAR GURU, FASILITAS BELAJAR DAN LITERASI DIGITAL TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH
Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1) Pengaruh Keterampilan Mengajar Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Wonosobo, 2) Pengaruh Fasilitas Belajar terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Wonosobo, 3) Pengaruh Literasi Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Wonosobo. Penelitian ini merupakan penelitian ex post-facto dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam Penelitian ini adalah siswa kelas XI Akuntansi dan Lembaga Keuangan SMK Negeri 1 Wonosobo sebanyak 68 orang. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji validitas dengan menggunakan korelasi Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s Alpha. Uji prasyarat analisis yang dilakukan meliputi, uji linieritas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedasitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Berpengaruh positif Keterampilan Mengajar Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Akuntansi dan Lembaga Keuangan SMK Negeri 1 Wonosobo. 2) Berpengaruh positif Fasilitas Belajar terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Akuntansi dan Lembaga Keuangan SMK Negeri 1 Wonosobo. 3) Berpengaruh positif Literasi Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Akuntansi dan Lembaga Keuangan SMK Negeri 1 Wonosobo. Semakin tinggi Keterampilan Mengajar Guru, Fasilitas Belajar, dan Literasi Digital maka akan semakin tinggi pula Motivasi Belajar Siswa. Sumbangan Efektif terhadap Motivasi Belajar dari variabel Keterampilan mengajar sebesar 8,69%, dan variabel Fasilitas Belajar sebesar 14,51%, dan Literasi Digital sebesar 10,20%.Kata kunci: Motivasi Belajar, Keterampilan Mengajar Guru, Fasilitas Belajar, Literasi Digita
PEMODELAN AKOR-AKOR MUSIK DALAM TANGGA NADA KROMATIK KE DALAM BENTUK GEOMETRI BANGUN DATAR
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan akor musik ke dalam representasi geometri bangun datar menggunakan poligon segi-12 serta menganalisis karakteristik kesamaan bentuk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, yang mencakup kajian terhadap teori geometri matematika dan teori akor musik. Proses analisis dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu analisis struktur akor musik, pemodelan geometri akor menggunakan pendekatan musical clock, analisis karakteristik geometris dari bentuk yang dihasilkan, dan analisis kekongruenan bangun geometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari berbagai kombinasi harmoni akor yang memungkinkan, terdapat 18 akor yang dapat dimodelkan melalui pendekatan musical clock dan representasi poligon segi-12. Dari pemodelan tersebut, diperoleh 6 akor dengan bentuk segitiga dan 12 akor dengan bentuk segiempat, menghasilkan total 13 bentuk geometri yang berbeda. Analisis kesebangunan dan kekongruenan mengungkapkan bahwa terdapat 4 pasang akor yang memiliki bentuk yang sebangun dan kongruen, di antaranya 3 pasang akor menunjukkan susunan sudut yang identik melalui rotasi, dan 2 pasang lainnya menunjukkan susunan sudut identik melalui refleksi. Dengan demikian, pemodelan akor ke dalam bentuk geometri bangun datar dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan alternatif untuk mengidentifikasi kesamaan susunan harmoni antar akor
OPTIMASI MASALAH KNAPSACK 0-1 DENGAN MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS
Optimasi merupakan aspek yang mendasar dalam pengambilan keputusan, di mana tujuannya adalah untuk mengidentifikasi solusi optimal dari sekumpulan alternatif yang kompleks. Contoh masalah sehari-hari yang memerlukan optimasi adalah masalah pemuatan barang (masalah knapsack), yang berdampak langsung pada efisiensi operasi logistik dan pada akhirnya berpengaruh pada biaya operasional. Salah satu variasi utama dalam masalah knapsack adalah masalah knapsack 0-1. Setiap item pada masalah knapsack 0-1 memiliki pilihan untuk dimuat ke dalam knapsack atau tidak. Masalah knapsack 0-1 merupakan masalah optimasi kombinatorial yang paling banyak dipelajari. Sebagai masalah yang tergolong NP-hard, masalah knapsack 0-1 memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Salah satu algoritma penyelesaian masalah knapsack 0-1 adalah pemrograman dinamis
KLASIFIKASI CORAK DAUN AGLAONEMA MENGGUNAKAN METODE ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION
Penelitian ini bertujuan mengklasifikasikan corak daun Aglaonema menggunakan Artificial Neural Network (ANN) dengan algoritma Backpropagation, serta meninjau pengaruh dari perbandingan rasio dataset, pemilihan fungsi aktivasi, dan arsitektur model Backpropagation terhadap hasil akurasi klasifikasi ANN Backpropagation. Data citra daun Aglaonema diolah menggunakan ekstraksi fitur GLCM (Graylevel co-occurrence matrix) sebagai input klasifikasi. Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini, yaitu pengambilan data citra daun Aglaonema, pengolahan citra digital pada tahap preprocessing data dan ekstraksi fitur tekstur GLCM, pembagian dataset dengan perbandingan 70:30 dan 80:20, membuat arsitektur model ANN Backpropagation, serta evaluasi model untuk memperoleh akurasi terbaik dalam klasifikasi. Hasil pengujian menunjukkan akurasi ANN Backpropagation mencapai 40% hingga 92%, dengan arsitektur terbaik 20-400-200-100-50-10 menggunakan fungsi aktivasi ELU (Exponential Linear Unit) pada hidden layer dan sigmoid pada output layer. Hasil evaluasi menunjukkan recall 95%, precision dan F1-score 93%
PENGARUH LKPD BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN JOTFORM TERHADAP KEMAMPUAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh LKPD berbasis Problem Based Learning berbantuan Jotform terhadap kemampuan literasi sains peserta didik pada materi pencemaran lingkungan. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain Pretest-Posttest Non-equivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini yaitu seluruh kelas VII SMP Negeri 2 Berbah yang berjumlah 4 kelas. Sampel penelitian ini adalah kelas VII A dan VII C yang diperoleh dengan cara diundi. Teknik pengumpulan data keterlaksanaan pembelajaran dengan observasi dan kemampuan literasi sains menggunakan tes. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen sebesar 95,65 dan pada kelas kontrol sebesar 97,62. Terdapat perbedaan signifikan hasil kemampuan literasi sains peserta didik antara kelas eksperimen yang menggunakan LKPD berbasis Problem Based Learning berbantuan Jotform dengan kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran dengan metode ceramah dibuktikan dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,001 0,05 pada uji Independent Sample T-Test. LKPD berbasis Problem Based Learning berbantuan Jotform berpengaruh signifikan terhadap kemampuan literasi sains peserta didik dibuktikan dengan hasil uji Effect Size yang diperoleh sebesar 0,91 termasuk dalam kategori besar. Kesimpulan penelitian ini yaitu LKPD berbasis Problem Based Learning berbantuan Jotform berpengaruh signifikan terhadap kemampuan literasi sains peserta didik pada materi pencemaran lingkungan
PENGARUH PEMBELAJARAN IPA BERPENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING BERBASIS INKUIRI PADA PEMBUATAN BATIK TERHADAP SIKAP KEBHINEKAAN GLOBAL DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran IPA berpendekatan Culturally Responsive Teaching berbasis inkuiri pada pembuatan batik terhadap sikap kebhinekaan global dan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi experiment dengan desain penelitian nonequivalent control group design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs Negeri 3 Bantul dengan sampel kelas VII A sebagai kelas kontrol dan kelas VII B sebagai kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (1) lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, (2) lembar angket sikap kebhinekaan global, dan (3) lembar soal pretest dan posttest berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran IPA berpendekatan Culturally Responsive Teaching berbasis inkuiri pada pembuatan batik terhadap sikap kebhinekaan global dan kemampuan berpikir kritis. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi multivariate test 0,05 yang menyatakkan bahwa Ha diterima
PEREMPUAN MODERN DALAM KUMPULAN CERPEN LIMA CERITA: KISAH-KISAH MENJADI DEWASA KARYA DESI ANWAR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggambaran perempuan modern pada kumpulan cerpen Lima Cerita : Kisah-Kisah Menjadi Dewasa (LCKKMD) karya Desi Anwar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Sumber penelitian ini yakni kumpulan cerpen LCKKMD karya Desi Anwar. Pada kumpulan cerpen ini terdapat lima cerpen di antaranya yaitu “Kematian”, “Cerita Delia”, “Pedihnya Pendewasaan”, “Cinta Sempurna”, dan “Ibu yang Baik”. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Keabsahan data diperoleh dengan validitas semantik serta reliabilitas intrarater dan reliabilitas interrater. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa penggambaran perempuan modern yang ditunjukkan pada kumpulan cerpen LCKKMD merupakan perempuan cerdas yang berpendidikan, perempuan yang mandiri, percaya diri, pekerja keras, melek keuangan, self love, berperan di sektor publik, dan berkontribusi untuk keluarga. Sementara itu, konflik batin yang dialami oleh tokoh perempuan modern dalam kumpulan cerpen LCKKMD yaitu denial, kecemasan, dilema, micro-cheating, codependent in relationship, dan kecewa. Untuk mengatasi konflik batin tersebut, para perempuan modern dalam LCKKMD yaitu bertumpu pada diri sendiri dan karakter lain.Kata kunci: konflik batin, perempuan modern, psikologi sastr
PROSES KREATIF MUHIDIN M. DAHLAN DALAM MENULIS NOVEL TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR!: KAJIAN PSIKOANALISIS SASTRA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) faktor yang berpengaruh dalam proses kreatif Muhidin M. Dahlan, (2) tahapan proses kreatif Muhidin M. Dahlan dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, dan (3) wujud proses kreatif Muhidin M. Dahlan dalam tema, tokoh, dan latar dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!. Penelitian ini menggunakan psikologi sastra yang berhubungan dengan proses kreatif seorang pengarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil dari penelitian antara lain: (1) faktor yang berpengaruh dalam proses kreatif Muhidin M. Dahlan adalah dorongan untuk menulis, lingkungan Yogyakarta, dan peristiwa yang terjadi di tahun 2000- 2003 (2) tahapan proses kreatif Muhidin M. Dahlan dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! yaitu tahap persiapan, inkubasi, inspirasi, penulisan, dan revisi, (3) wujud proses kreatif Muhidin M. Dahlan dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! berupa tema, tokoh, dan latar adalah representasi dari kehidupan nyata tokoh utama dari seorang Muslimah berhijab besar sampai memilih untuk menjadi pelacur.Kata Kunci: kajian ekspresif, novel, proses kreatif, psikoanalisis
Fleksibilitas dan peregangan untuk meningkatkan performa renang: Tinjauan komprehensif
Fleksibilitas merupakan komponen penting dalam biomotor fisik atlet renang. Fleksibilitas yang baik akan memengaruhi efisiensi pergerakan teknik renang, rentang gerak, serta dapat mencegah terjadinya cedera pada atlet. Penelitian ini meninjau secara komprehensif dari berbagai sumber literatur mengenai fleksibilitas yang dikaitkan dengan olahraga renang ditinjau dari teknik renang dalam cakupan performa atlet. Pendekatan yang dilakukan dengan mengkajian peran fleksibilitas dalam olahraga renang, peran fleksibilitas pada performa atlet, serta jenis dan metode latihan fleksibilitas pada olahraga renang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui pencarian jurnal PubMed, Google Scholar, Sinta, serta Scoopus. Setelah melakukan analisis mengenai fleksibilitas dan teknik gerak renang didapatkan kesimpulan bahwa program pelatihan fleksibilitas yang dirancang dengan baik, tidak hanya akan meningkatkan performa gerakan teknik renang saja, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan performa secara keseluruhan dan mengurangi risiko cedera muskuloskeletal. Peregangan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya berfokus pada fleksibilitas, namun juga pada kekuatan, keseimbangan, dan stabilitas inti. Otot yang teregang dengan baik, akan mengakibatkan sendi-sendi di sekelilingnya menjadi lebih fleksibel, hal tersebut mengakibatkan rentang gerak akan meningkat
Tingkat pengetahuan dan implementasi komponen latihan penurunan berat badan pada remaja overweight
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan implementasi komponen latihan penurunan berat badan pada remaja overweight. Penelitian ini mengukur tingkat kepahaman remaja overweight terhadap komponen latihan FITT dan implementasinya saat latihan. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif, melibatkan 301 remaja overweight. Data dikumpulkan melalui pengisian angket secara langsung, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 301 remaja overweight, tingkat pengetahuan pada komponen frekuensi 42,9% remaja paham tentang jumlah frekuensi latihan, sedangkan 57,1% tidak paham. Sebanyak 41,9% paham tentang intensitas, sedangkan 58,1% tidak paham. Sebanyak 49,8% mengetahui durasi latihan penurunan berat badan, sedangkan 50,2% tidak paham. Sebanyak 48,8% mengerti jenis latihan untuk menurunkan berat badan, sedangkan 51,2% tidak paham. Hasil penelitian tentang implementasi komponen latihan menunjukkan bahwa hanya (15,3%) yang melakukan latihan dengan frekuensi minimal 3 kali dalam satu minggu, sedangkan 84,7% tidak mampu memenuhi frekuensi latihan. Terdapat 10,9% yang mengukur denyut nadi selama latihan, sedangkan 89,1% tidak melakukan. Sebanyak 48,2% melakukan latihan dengan durasi minimal 30 menit, sedangkan 51,8% tidak memenuhi. Terdapat 55,8% melakukan latihan dengan jenis latihan aerobik, sedangkan 44,2% melakukan latihan dengan jenis latihan anareobik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada remaja overweight memiliki tingkat pengetahuan tentang komponen latihan untuk menurunkan berat badan dan juga implementasi atau penerapan wawasan tentang komponen latihan untuk menurunkan berat badan juga belum terpenuhi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bersama bahwa perlu adanya sosialiasi yang massive dan terukur untuk mengaktifkan para remaja overweight. Pemahaman dan kontrol terhadap implementasi latihan untuk penurunan berat badan di lapangan sangat penting dilakukan, hal ini dimaksudkan supaya komponen FITT program latihan untuk remaja overweight dapat terpenuhi dan memberikan hasil latihan yang maksimal.Knowledge level and implementation of weight loss exercise components in overweight adolescentsAbstract: This study aims to determine the level of knowledge and implementation of weight loss exercise components in overweight adolescents. This study measured the level of understanding of overweight adolescents of FITT exercise components and their implementation during exercise. The research method used descriptive quantitative, involving 301 overweight adolescents. Data was collected through direct questionnaire filling, then analysed using descriptive statistics. The results showed that out of 301 overweight adolescents, the level of knowledge on the frequency component 42.9% of adolescents understood the number of exercise frequencies, while 57.1% did not understand. A total of 41.9% understood about intensity, while 58.1% did not understand. 49.8% knew the duration of weight loss exercise, while 50.2% did not. A total of 48.8% understood the types of exercises for weight loss, while 51.2% did not understand. The results of the study on the implementation of the exercise component showed that only (15.3%) performed exercises with a frequency of at least 3 times a week, while 84.7% were unable to fulfil the frequency of exercise. There were 10.9% who measured pulse rate during exercise, while 89.1% did not. A total of 48.2% performed exercises with a minimum duration of 30 minutes, while 51.8% did not fulfil. There were 55.8% who performed aerobic exercise, while 44.2% performed anareobic exercise. The results of this study indicate that overweight adolescents have a level of knowledge about the components of exercise to lose weight and also the implementation or application of insight into the components of exercise to lose weight has also not been fulfilled. Based on the results of this study, it can be seen that there is a need for massive and measurable socialisation to activate overweight adolescents. Understanding and controlling the implementation of exercise for weight loss in the field is very important, this is intended so that the FITT component of the exercise programme for overweight adolescents can be fulfilled and provide maximum exercise results