75643 research outputs found
Sort by
Kemampuan Material Zeolit, Karbon Aktif, dan Lempung Untuk Menurunkan Salinitas Air Laut
Air merupakan kebutuhan pokok masyarakat, tetapi akan menjadi permasalahan ketika terjadi krisis air bersih. Apalagi di daerah sekitar pantai yang memiliki kualitas yang kurang baik, sehingga sulit mendapatkan air tawar untuk digunakan berbagai macam kebutuhan. Pada dasarnya ketersediaan air di bumi memiliki 97% adalah air asin yang tidak dapat dikonsumsi, dan hanya 3% air tawar. Air laut merupakan air yang memiliki jumlah yang berlimpah, memiliki rasa asin serta tingkat kadar garam (salinitas) yang sangat tinggi, dimana rata-rata air laut di lautan dunia memiliki salinitas sebesar 35 ppt. Pada penelitian ini dikaji tentang pemanfaatan material sorben yaitu zeolit, karbon aktif, dan lempung untuk menurunkan salinitas air laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material sorben yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desalinator air laut.
Penelitian ini diawali dengan proses penyiapan dan aktivasi material sorben. Penyiapan material merupakan proses penyeragaman ukuran material yang akan diaktivasi. Material digerus dan diayak sehingga memiliki ukuran lolos 150 mesh dan tidak lolos 250 mesh. Langkah selanjutnya adalah proses aktivasi menggunakan H2SO4 dengan konsentrasi yang divariasi, yaitu 1,5 M, 2 M, dan 2,5 M. Material yang sudah diaktivasi kemudian diaplikasikan dalam eksperimen reduksi salinitas air laut dengan metode reaktor batch. Kemampuan ketiga material dalam mereduksi salinitas air laut dilakukan dengan mengaplikasikan 10 gram material sorben dalam 100 ml air laut dengan salinitas awal 9,90 ppt. Dalam perlakuannya, material dan air laut di stirrer selama 2 jam kemudian didiamkan selama 22 jam. Tiap interval waktu 2 jam dilakukan pengukuran salinitas pada larutan uji menggunakan salinometer.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa konsentrasi larutan aktivator berpengaruh terhadap kemampuan material sorben dalam mereduksi salinitas air laut. Diperoleh bahwa sampel karbon aktif yang diaktivasi dengan H2SO4 2 M menunjukkan kemampuan reduksi salinitas yang paling tinggi yaitu 67,9% selama 20 jam penggunaan. Sementara itu, dengan kondisi eksperimen yang sama, secara berurutan sampel material zeolit dan lempung hanya mampu maksimum mereduksi salinitas sebesar 58,1% dan 63,6%. Hasil ini didukung oleh data foto SEM yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan sampel zeolit dan lempung, sampel karbon aktif memiliki morfologi permukaan yang lebih berpori dan lebih tidak rata yang diduga berkontribusi pada luas permukaan spesifik yang lebih besar. Sementara itu, berdasarkan analisis EDX diperoleh bahwa material yang digunakan adalah zeolit jenis mordenit dan lempung jenis montmorillonite
Analisis Penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi
Water is one of the basic needs that is very important for human life.
One of the most important things needed by humans is drinking water.
Now many companies are producing bottled drinking water to meet
the needs of the community. Along with these developments, the issue
of quality assurance and product safety, especially bottled drinking
water products, continues to grow according to consumers' demands
and requirements and the level of life and human well-being. One way
to attract consumer confidence in product safety is to ensure that the
drinking water products produced are safe for health and that the
treatment process complies with the government's standards. The
purpose of this study is to Analyze the application of Good
Manufacturing Practice, Assess the application of Good
Manufacturing Practice, and Recommend improvements related to the
application of Good Manufacturing Practice in CV. Sumber Tirta Jaya
Banyuwangi. Analysis of the application of GMP was carried out by
referring to the regulation of the Minister of Industry of the Republic
of Indonesia No. 75 of 2010 regarding how to process food processing
properly with a questionnaire accompanied by a fishbone method to
identify the factors of GMP irregularities and brainstorming methods
in order to recommend improvements from the deviation in the
application of GMP that occurred. Based on the study results, from
178 sub-aspects of GMP response examination taken from the
regulations of the Ministry of Industry of the Republic of Indonesia, 31
total deviations are consisting of 18 minor deviations, four significant
deviations and nine critical deviations. Critical deviations include the
aspects of buildings, employees, facilities sanitation, and process
control of machinery and product contamination
Knowledge, Participation and Collaboration Improve Family Behavior in Nursing the Elders during Pandemic of COVID-19
In the current pandemic era, the elders is themost vulnerable group of morbidity and mortality due to COVID-19 disease. The elders need special attention from family to provide an adequate daily care. This research aimed to analyze the knowledge, participation and collaboration of family in nursing the elders during pandemic of COVID-19 in Wuluhan Sub-district, Jember Regency. The research design was an analytical survey with a cross sectional approach and a univariate analysis to identify each variable and analysis to test its effect using ordinal regression test. The sampling technique was Cluster Random Sampling with a total sample of 100 respondents. The research result on the identification of the respondents’ age showed that most of the adults were 34-45 years old. Knowledge, self-esteem, mutual respect, and participation were included in the sufficient category. Meanwhile, information sharing and collaboration were included in good category. The facility was included in supporting category. Based on the results of the analysis of applying the ordinal regression, there was an effect between the factor of knowledge, participation and collaboration on the family behavior in nursing the elders during pandemic of COVID-19. On the other hand, the other factors such as, age, facility/infrastructure, self-esteem, mutual respect, and information sharing had no effect in this case. The dominant variable influencing family behavior in nursing the elders was the knowledge factor with P value = 0.000 and the value of Exp (B) was 31,595. It was expected that health services in providing health cares do not only focus on the elders but also involved in or empowered the family in every activity
Kinerja Perbankan dan Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia
Bank Indonesia menjelaskan pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan
melalui lembaga keuangan terutama bank. Bank merupakan lembaga perantara
keuangan dan merupakan alat transmisi kebijakan moneter serta lembaga yang
memiliki risiko tinggi dalam usahanya. Bank dengan ukuran besar memiliki
hubungan erat dengan risiko bank. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
pengaruh Kinerja bank BUKU IV di Indonesia terhadap stabilitas sistem
keuangan di Indonesia dengan menggunakan data sekunder dengan kurun waktu
tahun 2005-2020. Penelitian ini menggunakan estimasi regresi panel sederhana
yaitu Common Effect Model, Fixed Effect Model dan Random Effect Model. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel LDR dan NPL, NII berpengaruhh positif
terhadap stabilitas sistem keuangan, sedangkan variabel BOPO berpengaruh
negatif terhadap stabilitas sistem keuangan.Dr. Moh Adenan, M.M (Dosen Pembimbing)
Ciplis Gema Qoriah, S.E., M.Sc (Dosen Pembimbing
Bagaimanakah Kesehatan Mental Remaja Etnis Madura Yang Menikah DI Usia Dini?
Masyarakat etnis Madura memiliki nilai agama yang tinggi. Para pemimpin agama,
seperti Kyai, lebih diprioritaskan oleh mereka sebagai model peran dibandingkan
dengan tokoh pemerintah. Sebagian besar orang tua etnis tersebut berasumsi bahwa
pergaulan remaja saat ini mengkhawatirkan, sehingga perjodohan atau perkawinan
awal menjadi solusi positif untuk dilakukan. Budaya perkawinan dini dipandang oleh
sebagian besar etnis Madura sebagai alternatif yang paling tepat untuk melindungi anak
mereka dari penyimpangan pergaulan remaja. Kecamatan Sukowono, Kabupaten
Jember memiliki mayoritas etnis Madura dengan persentase tertinggi perempuan yang
sudah menikah kurang dari 20 tahun. Fenomena ini menarik peneliti melakukan studi
yang bertujuan untuk menentukan kesehatan mental di kalangan wanita muda etnis
Madura yang melakukan perkawinan dini. Studi ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan studi kasus kualitatif. Informan dalam studi ini berjumlah sembilan (9)
remaja putri yang telah menikah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan
cenderung memiliki perasaan tertekan baik ketika mereka akan menikah atau setelah
menikah. Merasa tertekan karena terlalu tinggi kecemasan yang mereka rasakan.
Mereka belum mampu beradaptasi dengan status mereka sebagai istri, serta memiliki
rasa aman dan nyaman yang sangat rendah untuk dapat tinggal di lingkungan baru,
sehingga informan cenderung memilih untuk tinggal di lingkungan lama
the Meaning of Blessing in the Islamic Boarding School of Nurul Qarnain Community Jember Regency
Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan pertama di tanah air dengan
model asrama yang didatangi oleh semua lapisan masyarakat, khususnya
masyarakat lapisan bawah dan rakyat jelata, berbeda dengan pendidikan dalam
Hindu-Budha yang hanya didatangi anak-anak golongan aristokrat. Model
pendidikan yang berasrama ini berorientasi pada pendidikan agama yang mampu
membangun rasa satu keluarga dan satu guru di kalangan para cantrik atau santri.
Perasaan satu ini tetap lestari meskipun mereka telah meninggalkan pesantren atau
perguron (Roqib: 2007).
Istilah berkah tidak lagi menjadi tabu di kalangan lingkungan pesantren,
karena mereka santri dididik dan diajari oleh ustaz serta para guru terutama kiai
untuk mempercayai hal gaib, salah satunya adalah berkah. Banyak sekali statemen
yang dikatakan oleh para alumni biasanya, “mondok harus rajin, taat sama ustaz
dan kiai, biar memperoleh berkah nanti saat kalian pulang ke masyarakat”. Ada
juga jargon yang sering terpampang di beberapa pondok pesantren, “Mondok
entara ngaji ben ngabdih” yang dalam terjemah bahasa Indonesia “Mondok itu
pergi untuk mengaji dan mengabdi”. Hal itu tak lain karena masyarakat di
lingkungan pesantren mempercayai adanya hal gaib yang berupa berkah.
Pada penelitian ini dijelaskan lebih mendalam mengenai pemahaman
masyarakat Pesantren tentang makna berkah. Seting sosial dipilih Pesantren Nurul
Qarnain yang bertempat di daerah jember bagian selatan dikarnakan tempatnya
yang terjangkau juga penulis beranggapan bahwa kepekatan kepercayaan akan
adanya berkah dalam setiap peraktik keseharian para santrinya masih sangat
kental.
Metode penggalian data berupa wawancara secara medalam agar dihasilkan
informasi dan narasi tentang pemahaman akan makna berkah menurut pada
komunitas pesantren. Wawancara dilakukan dengan pendekatan secara emosional
antara peneliti dan informan sehingga terbangun kedekatan dan dapa
menghasilkan informasi yang valid untuk bisa menjawab rumusan masalah dalam
penelitian ini. Metode keansahan data yang dilakukan dengan metode triagulasi
data untuk memastikan kebenaran data yang didapat dan menghasilkan sebuah
pembahasan yang merinci. Hasil dari kesimpulan penelitian yang telah penulis
lakukan ini Berdasarkan paparan data dan pembahasan dalam skripsi ini, tentang
makna berkah pada komunitas pesantren (studi di Pondok Pesantren Nurul
Qarnain Sukowono Jember), dapat disimpulkan sebagai berikut: Makna berkah
pada komunitas pesantren ada dua (2), yaitu makna ziyadatul khair (bertambahnya
kebaikan) dan khairun fi khairin (kebaikan di dalam kebaikan). Kedua makna ini,
baik dengan makna ziyadatul khair atau pun khairun fi khairin merupakan wasilah
(perantara) untuk kebaikan yang hakiki, yaitu mendekatkan diri kepada Allah
(taqarrub ila Allah).Dra. Elly Suhartini, M.Si (Dosen Pembimbing
Dinamika Kelompok pada Gapoktan Ternak Sapi Potong di Desa Karanganyar Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso
Validasi unggah file repositori_Kacung
Finalisasi unggah file repositori tanggal 21 April 2022_KurnadiPeternakan sapi potong menjadi salah satu subsektor peternakan yang perlu dikembangkan karena untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi masyarakat, tingkat populasi dan produktivitas ternak khususnya ternak sapi potong, serta program pemerintah untuk melakukan swasembada daging sapi. Desa di Kecamatan Tegalampel yang menyumbang populasi sapi potong salah satunya Desa Karanganyar yang memiliki gabungan kelompok tani ternak dengan kandang koloni terbesar di Bondowoso. Gabungan kelompok ternak sapi potong yang ada di Desa Karanganyar merupakan gapoktan ternak yang maju, hal tersebut dapat dilihat dari teknologi yang digunakan gapoktan ternak sapi potong. Tujuan Gabungan kelompok tani ternak sapi potong seiring dengan berjalannya waktu mengalami perubahan yaitu menjadikan gapoktan sebagai off taker untuk meningkatkan pemasaran sapi potong. Perubahan tujuan pada gapoktan menyebabkan terjadinya penambahan aktivitas gapoktan. Perubahan aktivitas pada gapoktan menyebabkan terjadinya perubahan jumlah anggota pada gapoktan. Perubahan jumlah anggota Gapoktan diakibatkan karena sistem keanggotaan Gapoktan sapi potong bersifat kontrak. Pada gapoktan ternak sapi potong terdapat struktur kelompok yang setiap tahunnya berubah karena setiap awal tahun gapoktan melakukan RAT untuk pemilihan pengurus baru. Gapoktan ternak sapi potong juga setelah terjadinya peningkatan akitvitas gapoktan terkait dengan tujuan gapoktan menjadi off taker, gapoktan memiliki aturan dimana peternak harus menjual atau memasarkan sapi potong ke pihak gapoktan, namun masih terdapat peternak yang melanggar aturan tersebuDosen Pembimbing utama : Dr. Rokhani, SP., M.S
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi: Analisis UU Perbankan dan Tanggungjawab Bank atas Kejahatan Karyawan
Tindak Penelitian normatif ini bertujuan untuk meneliti doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi yang ada dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 diubah menjadi Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan serta meneliti pertanggungjawaban sebuah bank terhadap kejahatan dari karyawannya. Penelitian ini menggunakan metode deduksi dan bahan hukum dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian yang didapat menjelaskan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 diubah menjadi Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan terdapat satu doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi yang dapat ditemukan pada Pasal 46 ayat (2) yaitu vicarious liability doctrine. Apabila dibandingkan dengan peraturan perundangundangan lain yang mengatur korporasi sebagai subjek hukum pidana dan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sebut saja Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ketiga peraturan tersebut formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi memiliki perbedaan dalam hal pembebanan pertanggungjawaban secara pidana dan sanksi pidana yang dapat dikenakan, kemudian apabila karyawan melakukan kejahatan maka bank atau korporasi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana hanya sebatas sanksi administratif
Optimasi Tween Dan Peg Dalam Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System Natrium Diklofenak Dengan Castor Oil
Osteoartritis (OA) adalah salah satu penyakit degeneratif yang ditandai
dengan adanya nyeri kronis dan kekakuan pada persendian, kelainan bentuk sendi,
ketidak stabilan artikular, dan keterbatasan aktivitas fisik serta kelemahan otot.
Menurut Dipiro. (2015) terapi OA dapat menggunakan obat-obatan golongan
Non-steroid antiiflamatory drug (NSAID) yaitu natrium diklofenak. Berdasarkan
Biopharmaceutics Classification System (BCS) natrium diklofenak
diklasifikasikan sebagai golongan kelas II dengan sifat permeabilitas tinggi tetapi
kelarutannya dalam media air tergolong rendah (Hitesh V & Indermeet Singh,
2010). Kelarutan natrium diklofenak di dalam air pada suhu 25ºC yaitu 2,37mg/L
sehingga menyebabkan bioavailabilitas dari obat tersebut menurun (Johnbull &
Awonyemi, 2020). Peningkatan bioavailabilitas natrium diklofenak dapat
dilakukan dengan memodifikasi sistem penghantarannya menjadi penghantaran
berbasis lipid yaitu SNEDDS (Baratam., 2017). SNEDDS (Self-Nanoemulsifying
Drug Delivery System) bekerja dengan cara me-encapsulasi bahan obat ke dalam
fase minyak pada ukuran yang relatif kecil dibanding mikroemulsi yaitu berkisar
20-200 nm sehingga dapat meningkatkan luas permukaan obat dan mempercepat
terjadinya proses absorpsi (Wahyuningsih dkk., 2017).
Komponen penyusun SNEDDS terdiri dari obat, minyak, surfaktan, dan
kosurfaktan yang akan membentuk self-nanoemulsi ketika bertemu fase air
dengan bantuan motilitas saluran pencernaan (Liu dkk., 2018). Surfaktan dan
kosurfaktan berguna menurunkan tegangan muka minyak dan air yang tidak
saling bercampur pada saat proses pembentukan emulsi surfaktan dan kosurfaktan
yang terpilih dalam penelitian ini yaitu tween 80 dan PEG 400. Tween 80
merupakan salah satu surfaktan non-ionik yang sering dipilih dalam pembuatan
SNEDDS karena toksisitasnya yang rendah dibandingkan dengan surfaktan ionik
lainnya. PEG 400 dipilih karena bersifat non-toksik dan non-iritan serta dapat
memodulasi waktu emulsifikasi dan ukuran droplet yang terbentuk (Date dkk.,
ix
2010). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengoptimasi pengaruh proporsi
surfaktan dan kosurfaktan dalam formulasi sediaan SNEDDS serta responnya
terhadap persen transmitan dan waktu emulsifikasi dengan metode simplex lattice
design yang akan menghasilkan formula optimum. Selanjutnya formula optimum
tersebut dilakukan uji verifikasi (persen transmitan dan waktu emulsifikasi) serta
karakterisasi meliputi organoleptis, pH, ukuran partikel, distribusi partikel, zeta
potential, kelarutan dan stabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bawah proporsi tween 80 dan PEG 400 dapat meningkatan nilai persen transmitan dan mempersingkat waktu emulsifikasi, selain itu tidak ditemukan adanya pengaruh interaksi antara tween
80 dan PEG 400 terhadap nilai persen transmitan dan waktu emulsifikasi. Proporsi
tween 80 memiliki pengaruh lebih besar dibanding PEG 400 dalam meningkatkan
persen transmitan dan waktu emulsifikasi. Formula optimum SNEDDS natrium
diklofenak yang terpilih terdiri atas 0,5 % castor oil, 7,75% tween 80 dan 1,75%
PEG 400 dalam formulasi sediaan 1mL. Hasil karakterisasi formula optimum
SNEDDS natrium diklofenak diperoleh tampilan visual yang jernih berwarna
kuning serta berbau khas castor oil, memiliki pH sebesar 6,927 ± 0,035, selain itu
hasil nanoemulsi yang diperoleh tergolong dalam tipe partikel monodispers
dengan nilai 0,133 dan memiliki ukuran partikel sebesar 183,8 nm ±124,5 nm;
serta nilai zeta potential sebesar -28,9 mV. Pada hasil uji kelarutan dapat
disimpulkan bahwa SNEDDS dapat meningkatkan kelarutan natrium diklofenak .
Hasil uji stabilitas formula optimum SNEDDS natrium diklofenak stabil, tidak
mengalami pengendapan, creaming, ataupun cracking.Dosen Pembimbing Utama : Dr. apt. Budipratiwi Wisudyaningsih, S.Farm., M.Sc
Disen pembinganggoapt. Dwi Nurahmanto
Isolasi Aktinomiset Pelarut Fosfat pada Perakaran Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Asal Jember
Fosfor (P) merupakan makronutrien terpenting kedua yang dibutuhkan tanaman. Fosfat dalam tanah berada dalam bentuk terikat oleh ion Fe3+, Al3+ dan Ca2+ sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mendapatkan aktinomiset sebagai agen pelarut fosfat dari perakaran tembakau (Nicotiana tabacum L.). Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengamatan morfologi secara makroskopis dan mikroskopis isolat pelarut fosfat terbaik. Sampel penelitian diambil dari Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Sampel tanah diambil dari bagian perakaran tanaman tembakau. Isolasi aktinomiset dilakukan dengan metode pengenceran dan disebar pada media SCA. Pemurnian dilakukan pada media ISP-2 atau ISP-4. Uji aktivitas pelarutan fosfat menggunakan media Pikovskaya dan diukur indeks pelarutan fosfatnya. Sebanyak 71 isolat aktinomiset berhasil diisolasi dari tanah perakaran tembakau di daerah Antirogo. Hasil skrining menunjukkan bahwa terdapat 28 isolat (39,4%) dari 71 isolat yang diperoleh, memiliki kemampuan melarutkan fosfat. Lima isolat tertinggi berdasarkan rangking indeks pelarut fosfat terbaik dilakukan karakterisasi morfologi makroskopis dan mikroskopis. Berdasarkan bentuk rantai spora, empat isolat aktinomiset yang memiliki rangking indeks pelarutan fosfat tertinggi termasuk dalam genus Streptomyces