Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
Not a member yet
147 research outputs found
Sort by
Analisa Balancing Rotor Terhadap Resiko Kerusakan Turbocharger Lokomotif Diesel
This research was conducted with the aim of looking at the level of effectiveness of the balancing rotor on the turbocharger component and knowing the effect of the balancing rotor on the risk of damage to the turbocharger. The data used is primary data in the form of the results of the initial and final balancing of the turbocharger rotor. The data is used to determine the level of effectiveness of the balancing that has been done. Data from interviews with Yogyakarta Balaiyasa technicians will show how much influence the balancing has had on the balance of the rotor. From the results of data processing and analysis that has been carried out, it is known that the average percentage of balancing effectiveness on the blower is 91.5%, while the average percentage of balancing effectiveness on the turbine is 94.5%. So the average effectiveness of balancing on both the blower and turbine is 93%. The unbalance tolerance allowed in the balancing process is 0.56 grams. From the results of interviews with Yogyakarta Balaiyasa technicians, it is known that if the unbalance exceeds 0.56 grams it will result in several things including damage to the bearing in the long term because it holds the rotor rotation is not balanced and there is an unstable rotation so that the turbine and casing rub against each other and result in risk. cracked or broken.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat tingkat efektifitas balancing rotor pada komponen turbocharger dan mengetahui pengaruh balancing rotor terhadap resiko kerusakan turbocharger. Data yang digunakan adalah data primer berupa hasil balancing awal dan akhir rotor turbocharger. Data tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat efektifitas balancing yang telah dilakukan. Data wawancara dengan teknisi Balaiyasa Yogyakarta akan menunjukkan seberapa besarnya pengaruh balancing yang telah dilakukan terhadap keseimbangan rotor. Dari hasil pengolahan dan analisa data yang telah dilakukan, diketahui bahwa persentase rata-rata dari efektifitas balancing pada blower sebesar 91,5%, sedangkan persentase rata-rata dari efektifitas balancing pada turbin sebesar 94,5%. Jadi rata-rata efektifitas balancing baik pada blower maupun turbin adalah sebesar 93%. Toleransi unbalance yang diizinkan dalam proses balancing adalah 0,56 gram. Dari hasil wawancara dengan teknisi Balaiyasa Yogyakarta diketahui bahwa apabila unbalance melebihi 0,56 gram maka akan mengakibatkan beberapa beberapa hal diantaranya rusaknya bearing dalam jangka waktu lama karena menahan putaran rotor yang tidak seimbang serta terjadi putaran yang tidak stabil sehingga turbin dan casing bergesekan dan mengakibatkan resiko retak atau pecah
Rancang Bangun Teknologi Automatic Surface Treatmen Untuk Meningkatkan Ketahanan Jalan Rel Kereta Api
The rail rod functions as a load that holds the weight of the train traveling on it. The large circuit weight can result in excessive friction and wear, requiring a hard, wear-resistant rail surface. The purpose of this research is to design a prototype tool which serves as an effort to increase the resistance on the rail road surface. The method used in the concept of this research is the flame hardening theory, namely heating the railroad using oxy-acetylene gas then quenching quickly to increase the hardness on the railroad surface. Prototyping begins with hardware design which includes Surface Treatment tools and designing automatic control program software. The results of the prototype were tested for the successful functioning of a tool that can be operated properly using manual mode with a maximum speed of 0.1 m/s and an automatic mode of 0.08 m/s.Batang rel berfungsi sebagai penahan berat beban dari rangkaian kereta api yang berjalan diatasnya. Berat yang besar pada rangkaian dapat mengakibatkan gesekan dan keausan yang berlebihan sehingga dibutuhkan permukaan rel yang keras dan tahan terhadap keausan. Tujuan pada penelitian ini adalah rancang bangun prototype alat yang berfungsi sebagai upaya meningkatkan ketahanan pada permukaan jalan rel kereta api. Metode yang digunakan pada konsep penelitian ini dengan teori flame hardening yaitu dengan pemanasan rel kereta api menggunakan gas oxy-asetilen kemudian dilakukan quenching secara cepat untuk meningkatkan kekerasan pada permukaan rel kereta api. Pembuatan prototype dimulai dengan perancangan hardware yang meliputi alat Surface Treatment dan perancangan perangkat software program control automatic. Hasil prototype dilakukan uji fungsi keberhasilan alat yang dapat dioperasikan dengan baik menggunakan mode manual dengan kecepatan maksimal 0.1 m/s dan mode otomatis 0.08 m/s
Pembuatan Alat Bantu Pemasang Dan Pelepas Penambat E-Clip Berbasis Hidrolik
Maintenance of the mooring system is an effort to keep the moorings on the railroad tracks in good condition. Installing and removing fastenings in Indonesia uses manual tools, namely hammers and panpullers so that it takes a long time and is less effective, so the development of the tool is aimed at minimizing the use of human labor, being more effective and not requiring a lot of time to install and remove fasteners. In this final project, the manufacture of a hydraulic-based fastening installation and release tool is carried out with the development of an old tool with a new tool. The hydraulic-based fastening installation and removal tool have a length of 105 cm, a width of 67 cm and a height of 91 cm which is able to minimize the use of human labor and is more effective in installing and removing the fasteners. The use of these tools by placing the tool on the rail and positioning the hydraulic cylinder in front of the fasteners, then pump using the hydraulic pump lever until the fasteners can be attached or removed. From the results of the development of this tool, it can be seen that the installation and removal of fasteners can be done by minimizing human labor and requires an effective time of 50 seconds.Perawatan sistem penambat merupakan upaya dilakukan agar penambat pada rel kereta api tetap dalam kondisi yang baik. Memasang dan melepas penambat di Indonesia menggunakan alat manual yaitu palu dan panpuller sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama dan kurang efektif, sehingga pengembangan alat ditujukan agar dapat meminimalisir penggunaan tenaga manusia, lebih efektif dan tidak memerlukan banyak waktu untuk memasang dan melepas penambat. Pembuatan alat pemasang dan pelepas penambat berbasis hidrolik ini dilakukan pengembangan alat lama menjadi alat baru. Alat pemasang dan pelepas penambat berbasis hidrolik memiliki panjang 105 cm, lebar 67 cm dan tinggi 91 cm yang mampu meminimalisir penggunaan tenaga manusia dan lebih efektif dalam pemasangan maupun pelepasan penambat. Penggunaan alat tersebut dengan cara menempatkan alat diatas rel dan memposisikan silinder hidrolik di depan penambat, kemudian pompa dengan menggunakan tuas pompa hidrolik hingga penambat dapat terpasang maupun terlepas. Dari hasil pengembangan alat ini dapat diketahui pemasangan dan pelepasan penambat dapat dilakukan dengan meminimalisir tenaga manusia dan memerlukan waktu yang efektif yaitu 50 detik untuk proses pemasangan atau proses pelepasan 1 penambat tipe e-clip
Analisis Pemahaman dan Pelanggaran Early Warning System (EWS) terhadap Angka Kecelakaan di Perlintasan Sebidang dengan Metode Chi-Square
The research aims to determine the understanding of EWS and the number of violations with the number of accidents in the crossing of a field that occurred at the crossing of KM 287 + 8.This type of research is a case study that is research on pre-defined subjects and objects. The number of respondents examined in this study was 360 respondents, observations were conducted against the number of violations and the number of accidents carried out during 20 days of observation and understanding of respondents, while the method of analysis used was correlational method using cross tabulation (crosstab) and pearson chisqure. The results show that understanding EWS has a very weak relationship and is in line with the accident rate at the level crossing, this shows that the higher the level of understanding of a motorist\u27s EWS, it will be able to suppress or minimize the number of accidents that occur at level crossings that have EWS and the number violations have a moderate relationship with the number of accidents at a level crossing, this shows that the higher the number of violations, the more the number of accidents that occur.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman EWS dan jumlah pelanggaran dengan angka kecelakaan di perlintasan sebidang yang terjadi di perlintasan sebidang KM 287+8.Jenis penelitian ini merupakan studi kasus yang merupakan penelitian terhadap subjek dan objek yang telah ditentukan sebelumnya. Jumlah responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebanyak 360 responden, pengamatan dilakukan terhadap jumlah pelanggaran dan angka kecelakaan yang dilakukan selama 20 hari pengamatan dan pemahaman responden, sementara metode analisa yang digunakan adalah metode korelasional dengan menggunakan tabulasi silang (crosstab) dan pearson chisqure. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman EWS memiliki hubungan yang sangat lemah dan searah dengan angka kecelakaan di perlintasan sebidang, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pemahaman EWS seorang pengendara, maka akan dapat menekan atau menimalisir jumlah kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang yang memiliki EWS dan jumlah pelanggaran memiliki hubungan yang sedang dan searah dengan angka kecelakaan di perlintasan sebidang, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah pelanggaran, maka akan semakin meningkatkan jumlah kecelakaan
Study of Concrete Bearing Behavior for 1067 mm Track Width with Variation in Track Quality Index (TQI) Values
There are many factors that affect the decline in the quality of the railways including the stability of the geometry, the resistance of the upper structure and the lowwer structure of the railways. This research was conducted to determine the effect of geometry instability on the resistance railways structure that is focused on the structure of the railways. In assessing the geometry deviation value of the path using the calculation of the standard deviation each measurement parameter which is then processed into a track quality indexs (TQI). Measurement parameter data is obtained from Galunggung measuring train for 2018 and EM-120 measuring train for 2019. Differences in the calculation of the value of railways quality (TQI) with different years are used as a benchmark for determining the location of a manual survey using a measurement tool and meter listring. The results of field geometry measurements are modeled with a program to help calculate structural strength. Model simulation by analyzing using Finite Element Method (FEM) for several conditions according to the geometry deviation category (TQI). The results of this study found that, concrete sleeper material properties, with concrete compressive (Fc \u27) 54 MPa and 1400 MPa prestressed wire strength (Fy), rail type is R.54 and ballast property according to PM.60 of 2012. The axial load is working at 16,241 kg, From the analysis of the geometric deviation value of category 3 (25 <TQI <40), it was found that concrete sleeper specimen (B4) experienced compressive stress of 15,566 MPa and tensile stress of 5,178 MPa. Analysis of these conditions, concrete bearings can not rely on the required tensile force that is, 4,632 MPa (0.32 Fc0.67).Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui pengaruh ketidakstabilan geometri terhadap ketahanan struktur jalan rel yang difokuskan pada struktur atas jalan rel. Dalam mengkaji nilai penyimpangan geometri lintasan menggunakan perhitungan standar deviasi pada setiap parameter pengukuran, yang selanjutnya diolah menjadi nilai track kualitas indeks (TQI). Data parameter pengukuran di dapatkan dari kereta ukur Galunggung untuk tahun 2018 dan kereta ukur EM-120 untuk tahun 2019. Perbedaan hasil perhitungan nilai kualitas jalan rel (TQI) dengan tahun yang berbeda, dijadikan patokan untuk penentuan lokasi survey manual dengan menggunakan alat ukur matisa dan meter listring. Hasil pengukuran geometri dilapangan dimodelkan dengan program bantu perhitungan kekuatan struktural. Simulasi model dengan melakukan analisis menggunakan Finite Elemen Method (FEM) terhadap beberapa kondisi sesuai dengan kategori penyimpangan geometri (TQI). Hasil penelitian ini didapatkan bahwa, propertis material bantalan, dengan kaut tekan beton (Fc’) 54 MPa dan kuat tarik wire prestressed (Fy) 1400 MPa, tipe rel adalah R.54, serta properti balas sesuai PM.60 tahun 2012. Beban aksial yang bekerja sebesar 16.241 Kg, Dari hasil analisa pada nilai penyimpangan geometri kategori 3 (25<TQI<40), didapatkan spesimen bantalan (B4) mengalami tegangan tekan 15.566 MPa dan tegangan tarik sebesar 5.178 MPa. Analisa kondisi tersebut, material beton tidak dapat menumpu gaya tarik yang dipersyaratkan yaitu, 4.632 MPa (0.32 Fc0.67). Demikian terjadi juga, pada kondisi penyimpangan geometri kategori 4 (TQI > 40)
Ketahanan Bisnis Perkeretaapian di Masa Pandemi COVID - 19
The COVID-19 pandemic has resulted in decreasing on volume and revenue railway passenger in Indonesia by around 53%, while freight transport has decreased by about 5% compared to 2019. Policies that can be implemented to overcome the impact of a pandemic include Operational Optimization based on operating efficiency, and Pandemic Adaptation based on minimizing 3C conditions. (Closed Space, Crowded Place, Closed Contact Setting).
The impact of implementing the policy needs to be simulated its effect on operating costs (BO) and operating income (PO). The results of the comparison of PO and BO values, hereinafter referred to as POBO, are an indicator of how strong the railway business is able to survive during a pandemic. A POBO value above 1.0 indicates that the business is still able to reach the Break Event Point (BEP), which means that the operator is able to achieve revenue equivalent to costs (fixed and variable). The critical point of railway operation occurs at the shutdown point, which indicates that revenue cannot cover fixed costs. At the shutdown point, it is feared that the railway business will stop.
The calculation results show that the POBO values of the two policies are 1.08 (optimization policy) and 1.09 (pandemic adaptation policy). This profile shows the resilience of the railroad business at the threshold value of the Break Event Point (BEP), far below the POBO value in previous years. This shows that the impact of the pandemic is very significant on the company\u27s cash flow. The critical point for the shutdown point occurred in the volume of goods and passengers by up to 40% compared to the volume in 2019. This volume was lower than the basic calculation, namely passenger volume of 50.5% - 55.5%; and the volume of goods by 81.5% compared to the volume in 2019. This figure shows that the railroad business still has resilience before experiencing a critical shutdown point.Pembatasan operasional kereta api di masa pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan volume dan pendapatan angkutan penumpang KA di Indonesia sekitar 53%, sementara angkutan barang mengalami penurunan sekitar 5% dibandingkan tahun 2019. Kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengatasi dampak pandemi mencakup Optimasi Operasi yang berbasis efisiensi operasi, serta Adaptasi Pandemi yang berbasis minimalisasi kondisi 3C (Closed Space, Crowded Place, Closed Contact Setting).
Dampak penerapan kebijakan tersebut perlu disimulasikan pengaruhnya terhadap biaya operasi (BO) dan pendapatan operasi (PO). Hasil perbandingan nilai PO dan BO (POBO), menjadi indikator seberapa kuat bisnis perkeretaapian mampu bertahan di masa pandemi. Nilai POBO di atas 1,0 menunjukkan bisnis masih mampu mencapai Break Event Point (BEP) yang berarti operator mampu mencapai pendapatan setara dengan biaya (tetap dan variabel). Titik kritis operasi perkeretaapian terjadi pada shutdown point yang menunjukkan pendapatan tidak mampu menutupi biaya tetap (fixed cost). Pada nilai shutdown point, bisnis perkeretaapian dikhawatirkan akan berhenti.
Hasil perhitungan menunjukkan nilai POBO kedua kebijakan adalah 1,08 (kebijakan optimasi) dan 1,09 (kebijakan adaptasi pandemi). Profil ini menunjukkan ketahanan bisnis perkeretaapian berada pada ambang batas nilai Break Event Point (BEP), jauh di bawah nilai POBO pada tahun-tahun sebelum. Hal ini memperlihatkan bahwa dampak pandemi sangat signifikan terhadap cash flow perusahaan. Titik kritis shutdown point terjadi pada volume barang dan penumpang hingga sebesar 40% dibandingkan tahun 2019. Volume tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi saat ini yaitu volume penumpang sebesar 50,5% - 55,5%; serta volume barang sebesar 81,5% dibandingkan volume tahun 2019. Besaran ini menunjukkan bahwa bisnis perkeretaapian masih memiliki daya tahan sebelum mengalami titik kritis shutdown point
Kajian Perlintasan sebidang kereta api No 112A Km 93+100 Desa Dadirejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan
Jumlah kecelakaan di perlintasan kereta api di lintas utara jawa cukup tinggi. Pembangunan jalur ganda kereta api pada lintas utara jawa mengakibatkan peningkatan kapaistas lintas kereta api. Perlintasan sebidang kereta api no 112 A di desa Dadirejo Kecamatan Tirto Kabupaten pekalongan berada pada jalan lokal primer dengan lebar jalan 4 meter dengan pengaturan lalu lintas 2 arah. Berdasarkan data survey Lalulintas Harian total rata-rata terdapat 7.410 kendaraan dengan 3.746 smp. Jenis kendaraan yang lewat paling banyak adalah sepeda motor yaitu 81% selanjutnya dikuti oleh sepeda yaitu 16% selanjutnya diikuti dengan pickup dan becak sekitar 1%. Berdasarkan Gapeka 2020, kereta api yang melintas pada perlintasan adalah 66 kereta dengan rincian 20 Kereta Barang dan 46 kereta penumpang, dengan kecepatan maksimum kereta 105 km/jam. Jumlah SMPK pada perlintasan tersebut adalah 247.236 SMPK dan sudah saatnya ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang ataupun perlu peningkatan fasilitas sarana dan prasarana jalan untuk meningkatkan keselamatan di jalan rayaJumlah kecelakaan di perlintasan kereta api di lintas utara jawa cukup tinggi. Pembangunan jalur ganda kereta api pada lintas utara jawa mengakibatkan peningkatan kapaistas lintas kereta api. Perlintasan sebidang kereta api no 112 A di desa Dadirejo Kecamatan Tirto Kabupaten pekalongan berada pada jalan lokal primer dengan lebar jalan 4 meter dengan pengaturan lalu lintas 2 arah. Berdasarkan data survey Lalulintas Harian total rata-rata terdapat 7.410 kendaraan dengan 3.746 smp. Jenis kendaraan yang lewat paling banyak adalah sepeda motor yaitu 81% selanjutnya dikuti oleh sepeda yaitu 16% selanjutnya diikuti dengan pickup dan becak sekitar 1%. Berdasarkan Gapeka 2020, kereta api yang melintas pada perlintasan adalah 66 kereta dengan rincian 20 Kereta Barang dan 46 kereta penumpang, dengan kecepatan maksimum kereta 105 km/jam. Jumlah SMPK pada perlintasan tersebut adalah 247.236 SMPK dan sudah saatnya ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang ataupun perlu peningkatan fasilitas sarana dan prasarana jalan untuk meningkatkan keselamatan di jalan ray
Analisis Kinerja Fasilitas Operasi Perlintasan Sebidang (Studi Pada Resort 4.6 Smt)
PT Kereta Api Indonesia (KAI) during 2019 and 2018 calculated that there had been 655 accidents at level rail crossings. Accidents often occur in high traffic areas such as the Telecommunication Signal Resort 4.6 SMT. So the researchers conducted research in order to find out the performance of the railway operating facilities under the auspices of the Telecommunication Signal Resort 4.6 SMT as well as public perceptions of its performance. Researchers used a sound level meter to measure the loudness level of the level rail crossings siren sound at the research location. Furthermore, it is compared with the standards stipulated in the Minister of Transportation Regulation Number 44 of 2018. Then tested using Anova to find out whether the population mean will be of the same value using data from each population. Furthermore, an unstructured interview was conducted to hear the perceptions of road users on the performance of the operational facilities at level rail crossings which became the research object. The results showed that the five level rail crossings which were the object of the study had the loudness level of the siren sound below the set standard. In contrast, flat cross lights perform well. Meanwhile, the public perception of the operational facilities at level rail crossings is that they are functioning well.
Keywords: level rail crossing, operating facility, railwayPT Kereta Api Indonesia (KAI) selama tahun 2019 dan 2018 menghitung telah terjadi 655 kecelakaan pada perlintasan kereta api sebidang. Kecelakaan sering terjadi di daerah yang lalu lintasnya padat seperti di Resort Sinyal Telekomunikasi 4.6 SMT. Sehingga peneliti melakukan riset agar mengetahui kinerja fasilitas operasi perkeretaapian di bawah naungan Resort 4.6 SMT serta persepsi masyarakat terhadap kinerjanya. Peneliti menggunakan sound level meter untuk mengukur tingkat kekerasan suara sirine JPL pada lokasi penelitian. Selanjutnya dibandingkan dengan standart yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 44 Tahun 2018. Lalu diuji menggunakan Anova untuk mengetahui apakah mean populasi akan bernilai sama dengan menggunakan data dari masing-masing populasi. Selanjutnya dilakukan wawancara tidak terstuktur untuk mendengar persepsi pengguna jalan pada kinerja fasilitas operasi pada JPL yang menjadi obyek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kelima JPL yang menjadi obyek penelitian, level kekerasan suara sirinenya di bawah standar yang ditetapkan. Sebaliknya lampu silang datar berkinerja baik. Sedangkan persepsi masyarakat untuk fasilitas operasi pada JPL menilai berfungsi dengan baik.
Kata kunci: Jalur Perlintasan Langsung, Fasilitas Operasi, Kereta Ap
Analisis Tingkat Kepuasan Calon Penumpang Kereta Api Terhadap Penerapan Protokol Kesehatan Di Stasiun Nganjuk Pada Masa Pandemi Covid – 19
Nganjuk Station is a class 1 (one) station located in Mangundikaran, Nganjuk city, included in the 7 Madiun Operational Area. During the Covid-19 pandemic at Nganjuk Station, health protocols were applied to prevent or reduce the transmission of the corona virus following the regulation of the Minister of Transportation No. PM 18 of 2020. This study aims to determine the level of satisfaction with the application of health protocols at Nganjuk Station during the Covid-19 pandemic and what attributes must be maintained or improved. This study uses the Customer Satisfaction Index (CSI) in calculating how much the passenger\u27s perception of satisfaction with the application of health protocols is, and uses the IPA (Importance Performances Analysis) method to identify which attributes are very important and need improvement for passengers to improve the implementation of health protocols in Indonesia. Nganjuk Station. From the results of this study, the level of satisfaction of prospective passengers with the application of health protocols is 84.97%, which is included in the Very Satisfied category.Stasiun Nganjuk adalah stasiun kelas 1 (satu) yang berada di Mangundikaran, kota Nganjuk, termasuk dalam Daerah Operasi 7 Madiun. Selama masa pandemi Covid – 19 di Stasiun Nganjuk diterapkan protokol kesehatan untuk mencegah atau mengurangi penularan virus corona mengikuti peraturan Menteri Perhubungan No. PM 18 Tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan atas penerapan protokol kesehatan di Stasiun Nganjuk pada masa pandemic Covid – 19 serta atribut apa saja yang harus dipertahankan atau ditingkatkan. Penelitian ini menggunakan Costumer Satisfaction Index (CSI) dalam menghitung seberapa besar persepsi kepuasan calon penumpang terhadap penerapan protokol kesehatan, dan menggunakan metode IPA (Importance Performances Analysis) untuk mengenal atribut mana yang sangat penting dan butuh perbaikan bagi penumpang untuk upaya peningkatan penerapan protokol kesehatan di Stasiun Nganjuk. Dari hasil penelitian ini tingkat kepuasan calon penumpang terhadap penerapan protokol kesehatan adalah sebesar 84,97 % masuk dalam kategori Sangat Puas
KONTRIBUSI KEBERLANGSUNGAN USAHA JASA LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK KERETA REL LISTRIK COMMUTER LINE TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO SUB SEKTOR ANGKUTAN DARAT
Keberlangsungan usaha jasa layanan KRL Commuter Line berdampak terhadap meningkatnya produk domestik bruto sub sektor angkutan darat. Sub sektor angkutan darat masih mendominasi, yakni lebih dari 55 persen dari total PDB transportasi dan pergudangan. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis, pengaruh keberlangsungan usaha jasa layanan transportasi publik kereta rel listrik Commuter Line.terhadap produk domestik bruto sub sektor angkutan darat. Metode analisa yang digunakan adalah regresi linier dengan teknik Ordinary Least Square (OLS) dan desain penelitian explanatory research, dengan menggunakan data sekunder runtut waktu selama 11(sebelas) tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2020. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha jasa layanan transportasi publik kereta rel listrik Commuter Line berpengaruh signifikan dan positif .terhadap produk domestik bruto sub sektor angkutan daratABSTRAK
Keberlangsungan usaha jasa layanan KRL Commuter Line berdampak terhadap meningkatnya produk domestik bruto sub sektor angkutan darat. Sub sektor angkutan darat masih mendominasi, yakni lebih dari 55 persen dari total PDB transportasi dan pergudangan. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis, pengaruh keberlangsungan usaha jasa layanan transportasi publik kereta rel listrik Commuter Line.terhadap produk domestik bruto sub sektor angkutan darat. Metode analisa yang digunakan adalah regresi linier dengan teknik Ordinary Least Square (OLS) dan desain penelitian explanatory research, dengan menggunakan data sekunder runtut waktu selama 11(sebelas) tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2020. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha jasa layanan transportasi publik kereta rel listrik Commuter Line berpengaruh signifikan dan positif .terhadap produk domestik bruto sub sektor angkutan darat