Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
Not a member yet
    147 research outputs found

    Kecerdasan Buatan dalam Aplikasi Pengereman Regeneratif untuk Kereta Api: Sebuah Review Sistematis

    No full text
    The impact of Artificial Intelligence (AI) on different sectors, including railways, is now widely recognized. This paper shares the findings of a comprehensive literature review on how AI affects regenerative braking in railway transportation. The review focuses on various areas of regenerative braking, such as energy storage system, timetabling, and reversible substation. In the literature review, it was found that 57 scientific papers were published from 2017 to December 2022. The majority of these papers, specifically 70.2%, utilized AI to optimize the effectiveness of regenerative braking. However, the use of AI in reversible substation and a combination of methods for regenerative braking is still limited, even though several methods exist. With the continuous development of new AI innovations, it is anticipated that new strategies will be created to enhance energy efficiency in regenerative braking, particularly in rail transportation. Keywords: Artificial Intelligence, Regenerative Braking, Railway.Dampak kecerdasan buatan pada berbagai sektor, termasuk perkeretaapian, kini sudah diketahui secara luas. Makalah ini membagikan temuan tinjauan literatur komprehensif tentang bagaimana kecerdasan buatan memengaruhi pengereman regeneratif pada transportasi kereta api. Tinjauan ini berfokus pada berbagai bidang pengereman regeneratif, seperti sistem penyimpanan energi, penjadwalan, dan gardu induk reversibel. Dalam tinjauan pustaka, ditemukan 57 makalah ilmiah yang diterbitkan sejak tahun 2017 hingga Desember 2022. Mayoritas makalah tersebut, yaitu 70,2%, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan efektivitas pengereman regeneratif. Namun penggunaan kecerdasan buatan pada gardu induk reversibel dan kombinasi metode pengereman regeneratif masih terbatas, meskipun terdapat beberapa metode. Dengan terus berkembangnya inovasi kecerdasan buatan, diperkirakan akan tercipta strategi baru untuk meningkatkan efisiensi energi dalam pengereman regeneratif, khususnya pada transportasi kereta api. Kata Kunci: Kecerdasan Buatan, Pengereman Regeneratif, Kereta Api

    The efisiensi energi pada perkeretaapian listrik perkotaan

    No full text
    The world is moving towards zero CO2 production and limiting the global temperature increase to 1.5°C by 2050 by reducing the use of fossil fuels as an unsustainable energy source. As a transition from this reduction, electric energy has become the primary energy source in the industrial, transportation, construction, and other sectors. In the transportation sector, urban electric trains have become a preferred mode of transportation by people worldwide due to their high safety and service levels compared to other land transportation. However, electric trains require a significant amount of energy to operate, so efforts are needed to optimize total electricity usage. This paper provides a literature study related to electric energy efficiency in the field of urban electric trains, using train control methods and the utilization of regenerative braking systems as the most efficient energy recovery strategy.Dunia sedang bergerak menuju produksi nol CO2 dan membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C pada tahun 2050 dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi yang tidak berkelanjutan. Sebagai transisi dari pengurangan ini, energi listrik telah menjadi sumber energi utama di sektor industri, transportasi, konstruksi, dan sektor lainnya. Di sektor transportasi, kereta listrik perkotaan telah menjadi mode transportasi pilihan oleh masyarakat di seluruh dunia karena standar keselamatan yang tinggi dan pelayanan yang unggul dibandingkan dengan transportasi darat lainnya. Namun, kereta listrik memerlukan jumlah energi yang signifikan untuk beroperasi, sehingga diperlukan upaya untuk mengoptimalkan penggunaan listrik secara keseluruhan. Makalah ini menyajikan kajian literatur terkait efisiensi energi listrik dalam bidang kereta listrik perkotaan, dengan menggunakan metode pengendalian kereta dan pemanfaatan sistem pengereman regeneratif sebagai strategi pemulihan energi yang paling efisien

    Analisis Kebutuhan Struktur Bawah Jembatan Kereta Api di Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun

    No full text
    The purpose of railway bridge construction in Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun (PPIM) is to facilitate student learning. The limitation of the work area causes the abutment dimension, and the deep foundation type should be well considered. This study aims to design the bottom structure of a railway bridge in PPIM. The CPT (Cone Penetrometer Test) data is used to design the bottom structure of the bridge. Soil physical and technical characteristics were determined by the CPT data correlation method. Analysis of bottom structure load and stability refers to Indonesian building regulations. Based on CPT test data, the location of dense soil is 10 m in depth and dominated by sand. The analysis shows abutment base dimension is 6.5 m x 2.7 m in area and 2.2 m in depth. Considering the difficulties of heavy equipment in accessing the work area, the abutment will be supported by a caisson foundation of 80 cm in diameter and an embedded depth of 3 m.  Pembangunan jembatan kereta api di Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun (PPIM) bertujuan untuk menyediakan prasarana pendidikan taruna PPI Madiun. Keterbatasan ruang gerak saat pelaksanaan pekerjaan menyebabkan pemilihan dimensi struktur abutmen dan jenis pondasi dalam harus dipertimbangkan dengan baik. Studi ini bertujuan untuk merencanakan usulan struktur bawah jembatan kereta di PPIM. Perencanaan struktur bawah jembatan dilakukan menggunakan data hasil uji CPT (Cone Penetrometer Test). Penentuan karakteristik fisik dan teknis tanah menggunakan metode korelasi dari data CPT. Perhitungan beban jembatan dan dimensi struktur bawah jembatan mengacu pada peraturan yang berlaku di Indonesia. Berdasarkan data uji CPT, lokasi tanah keras berada di kedalaman 10 m dengan jenis tanah dasar didonimasi oleh pasir. Berdasarkan hasil analisis stabilitas abutmen diperoleh dimensi tapak sebesar 6.5 m x 2.7 m dan kedalaman 2.2 m. Dengan mempertimbangkan sulitnya akses alat berat menuju lokasi pekerjaan, abutmen direncanakan akan didukung oleh pondasi sumuran dengan diameter 80 cm dan kedalaman tanam 3 m

    Analisis Risiko Aset Infrastruktur Perkeretaapian dengan Menggunakan Identifikasi Bahaya dan Analisis FMEA pada Aset Jalur Kereta Api

    No full text
    Railway transportation in Indonesia is the primary choice due to its large capacity and high safety standards. However, maintaining the reliability of the infrastructure system requires careful safety-focused maintenance and risk management. Therefore, this research aims to investigate the risks associated with railway infrastructure, focusing on hazard identification and Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) on railway tracks. Through the collection of primary data via questionnaires, interviews, discussions, and secondary data from literature studies, the analysis revealed 28 significant hazards related to railway infrastructure. It was found that eleven failure modes had RPN values at the high-risk level and nine at the moderate-risk level, while only eight failure modes at the low-risk level. The best four failure modes with the highest risk were broken rail, skilu, buckling rail on railway geometry and cracked/defective rail. Recommendations for improvement were provided to reduce the RPN values from high and moderate-risk levels to moderate and low-risk levels and enhance railway safety. This analysis provides a solid foundation for developing more effective risk management strategies in the future, contributing to the understanding and improvement of railway infrastructure safety and facilitating effective maintenance strategies for sustainable railway operations.Kereta api di Indonesia menjadi pilihan utama dalam transportasi karena kapasitasnya yang besar dan tingkat keselamatan yang tinggi. Namun, menjaga keandalan sistem prasarana memerlukan perawatan yang fokus pada keselamatan dan manajemen risiko secara cermat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki risiko terkait prasarana kereta api, dengan fokus pada identifikasi bahaya dan analisis FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) pada jalur kereta api. Melalui pengumpulan data primer berupa kuesioner, wawancara serta diskusi dan data sekunder berupa studi literatur, analisis mengungkap 28 bahaya signifikan terkait prasarana kereta api. Ditemukan bahwa sebelas modus kegagalan memiliki nilai RPN pada level high risk dan sembilan modus kegagalan pada level moderate risk, sementara hanya 8 modus kegagalan pada level low risk. Empat besar modus kegagalan dengan risiko tertinggi adalah rel patah, skilu, rel spaten dan rel retak. Rekomendasi perbaikan diberikan sehingga menurunkan nilai RPN pada level high dan moderate risk menjadi level moderate dan low risk serta meningkatkan keamanan jalur kereta api. Analisis ini memberikan dasar yang kokoh untuk pengembangan strategi manajemen risiko yang lebih efektif di masa depan dan berkontribusi pada pemahaman dan peningkatan keamanan prasarana jalur kereta api serta memfasilitasi strategi perawatan yang efektif untuk operasi kereta api yang berkelanjutan

    Evaluasi metode inspeksi non-destruktif ultrasonik untuk penilaian integritas struktural gandar kereta barang

    No full text
    Structural integrity assessment aims to ensure compliance with specified safety, strength, and performance standards. It operates on the principle of damage tolerance, ensuring that failure is avoided as long as the structure remains within its load-bearing capacity, despite the presence of defects or cracks, according to fracture mechanics criteria. By combining the probability of detection from the NDI procedure, the damage tolerance concept ensures the safety of the axle during operation. This study examines the sensitivity of the NDI method in detecting damage and compares its results with the structural integrity assessment criteria outlined in BS 7910. To obtain accurate analysis results, this study utilized numerical simulations with the finite element method using ANSYS software. The results indicated that the critical defect size is 80 mm according to the criteria specified in BS7910. In addition, the sensitivity analysis of NDI showed that NDI can detect the smallest defect size of 4 mm, albeit with a very low indication pulse, and can detect defects with a sufficiently good detection pulse at a defect size of 10 mm.Penilaian integritas struktural bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan, kekuatan, dan kinerja yang ditentukan. Penilaian ini beroperasi berdasarkan prinsip toleransi kerusakan, memastikan bahwa kegagalan dapat dihindari selama struktur tetap berada dalam kapasitas penahan bebannya, meskipun terdapat cacat atau retakan, sesuai dengan kriteria mekanika retakan. Dengan menggabungkan probabilitas deteksi dari prosedur non-destructive inspections (NDI), konsep toleransi kerusakan memastikan keamanan gandar selama operasi. Studi ini menguji sensitivitas metode NDI dalam mendeteksi kerusakan dan membandingkan hasilnya dengan kriteria penilaian integritas struktural yang diuraikan dalam BS 7910. Untuk mendapatkan hasil analisis yang akurat, penelitian ini menggunakan simulasi numerik dengan metode elemen hingga menggunakan perangkat lunak ANSYS. Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran cacat kritis adalah 80 mm sesuai dengan kriteria yang ditentukan dalam BS7910. Selain itu, analisis sensitivitas NDI menunjukkan bahwa NDI dapat mendeteksi ukuran cacat terkecil sebesar 4 mm, meskipun dengan pulsa indikasi yang sangat rendah, dan dapat mendeteksi cacat dengan pulsa deteksi yang cukup baik pada ukuran cacat 10 mm

    Analisis Laju Korosi Proses Pelapisan Pada Plat Dinding Kereta Di Balai Yasa SGU

    Full text link
    Corrosion is the process of material damage that occurs due to the surrounding environment. One way to control corrosion of metal is by coating the surface of the carriage wall consisting of anti-rust paint (epoxy), putty, and color paint. This study aims to determine the effect of coating treatment and the effect of initial treatment on the corrosion rate with the salt mist test. Coating is one method that can inhibit corrosion of metal materials. The salt mist method is used to determine the level of resistance of metal materials to corrosion under certain conditions according to the ASTM B117 standard. Weight loss is one of the methods to determine the corrosion rate by calculating the difference between the weight of the specimen before the test and the specimen after the test. From this test, information will be obtained on the effectiveness of the coating in restraining the corrosion rate. From the test results, it was found that the initial wetblasting treatment with coating and wetblasting without coating had the highest corrosion rates of 0.00054 mmpy and 0.2190 mmpy. While the results of the initial treatment of sandpaper with coating and sandpaper without coating were lower, namely 0.000274 mmpy and 0.00192 mmpy. From the calculation results, it can be concluded that the sandpaper treatment is better than the wetblasting treatment in overcoming the corrosion rate of the galvanized material.Korosi merupakan proses kerusakan material yang terjadi akibat lingkungan sekitarnya. Salah satu cara untuk mengontrol korosi pada logam dengan melakukan pelapisan pada permukaan dinding kereta yang terdiri dari cat anti karat (epoxy), dempul, dan cat warna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akibat perlakuan coating dan akibat treatment awal terhadap laju korosi dengan uji kabut garam. Coating merupakan salah satu metode yang dapat menghambat terjadinya korosi pada material logam. Metode kabut garam untuk mengetahui tingkat ketahanan material logam terhadap korosi pada kondisi tertentu sesuai standar ASTM B117. Weight loss merupakan salah satu metode untuk mengetahui laju korosi dengan menghitung selisih antar berat dari berat spesimen sebelum uji dan berat spesimen setelah uji. Dari uji ini akan didapatkan informasi terhadap efektifitas coating dalam menahan laju korosi. Dari hasil pengujian didapat hasil bahwa treatment awal wetblasting dengan coating dan wetblasting tanpa coating memiliki laju korosi paling tinggi 0,00054 mmpy dan 0,2190 mmpy. Sedangkan hasil treatment awal amplas dengan coating dan amplas tanpa coating lebih rendah yaitu 0,000274 mmpy dan 0,00192 mmpy. Pada hasil perhitungan dapat disimpulkan treatment amplas lebih baik daripada treatment wetblasting dalam mengatasi laju korosi pada material galvanis

    Level of Quality of Service for Diesel Train of Surabaya-Sidoarjo Line Based on Servqual Method

    No full text
    Surabaya City as one of the metropolitan cities in Indonesia, serves as the centre of social and economic activities in East Java. The problem of housing makes these workers choose to live in satellite areas. In addition to road transport, movement from satellite areas such as Sidoarjo to Surabaya also uses rail transport. This study aims to determine the expected value and reality value of passengers on the Minimum Service Standards (MSS) of Diesel Train (KRD) Surabaya - Sidoarjo Line. As well as knowing the condition of SPM Diesel Train (KRD) Surabaya - Sidoarjo Line based on the dimensions expected by passengers. In this study using the servqual method obtained from surveys on passengers to optimise the level of public satisfaction. The result is that the measurable evidence dimension indicator has an expected value of 3.64 while the reality value is 3.32. In the reliability dimension, the expected value is 3.60 while the reality value is 3.48. The dimension of responsiveness has an expected value of 3.55 compared to the reality of 3.21. The guarantee dimension has an expected value of 3.64, for a reality value of 3.33. Finally, in the empathy dimension, the expected value is 3.45 while the reality value is 3.19. The Actual Servqual Score figure is 92%. This shows that the overall fulfilment of the Surabaya-S Sidoarjo KRD service has met 92% of passenger expectations compared to before using the train.Kota Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia, berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial maupun ekonomi di Jawa Timur. Permasalahan tempat tinggal, menjadikan para pekerja ini memilih berdomisili di daerah satelit. Selain angkutan jalan, pergerakan dari daerah satelit seperti Sidoarjo ke Surabaya juga menggunakan moda transportasi kereta api. Penelitian ini bermaksud mengetahui nilai harapan dan nilai realitas penumpang terhadap Standar Pelayanan Minimum (SPM) Kereta Api Diesel (KRD) Jalur Surabaya – Sidoarjo. Serta mengetahui kondisi SPM Kereta Api Diesel (KRD) Jalur Surabaya – Sidoarjo berdasarkan dimensi yang diharapkan penumpang. Dalam penelitian ini menggunakan metode servqual yang didapatkan dari survei pada penumpang untuk mengoptimalkan tingkat kepuasan masyarakat. Hasilnya adalah pada indikator dimensi bukti terukur memiliki nilai harapan 3,64 sedangkan nilai realitasnya 3,32. Pada dimensi kehandalan nilai harapannya sebesar 3,60 sedangkan nilai realitasnya 3,48. Untuk dimensi nilai tanggap memiliki nilai harapan 3,55 berbanding dengan realitasnya sebesar 3,21. Dimensi jaminan memiliki nilai harapan 3,64, untuk nilai realitasnya 3,33. Terakhir pada dimensi empati nilai harapannya sebesar 3,45 sedangkan nilai realitasnya sebesar 3,19. Angka Actual Servqual Score sebesar 92%. Perolehan ini menunjukkan bahwa pemenuhan pelayanan KRD Surabaya- Sidoarjo secara keseluruhan telah memenuhi 92% harapan penumpang dibandingkan sebelum menggunakan kereta tersebut

    Kajian Tingkat Konflik pada Pergerakan Keluar-Masuk KA Komuter di Stasiun Terminus

    Full text link
    Terminus station is a railway station that becomes the starting/ending point of a train journey. Bogor Station is one of the terminus stations that is very busy for Jabodetabek Commuter Train (KRL) trips. There are 8 lines to support train departing and arriving at this station. The departure line (IV to VIII) intersects with the KRL arrival line causing a conflict route. That is, the oncoming KRL is held back by the entry signal because it prioritises the departing KRL, so it is necessary to study the level of conflict. The conflict rate method is used to analyze the level of conflict by comparing variants of complex interlocking patterns at the station using the train movement definition table. The analysis results of existing conditions with loading on each route, found a conflict rate value of 81% (out of 329 trains, 266 trains are potentially affected by conflict routes). Then “path engineering” was carried out with various alternatives. Alternative 1 by changing the track list on some trains, the conflict rate value for passing trains dropped to 79% (260 trains affected). Alternative 2 with the addition of connecting lines, the conflict rate value dropped to 77% (253 trains affected). While alternative 3 with track extension, the conflict rate value drops to 74% (243 trains affected). The results show that alternative 3 is considered more efficient in supporting train operations than alternatives 1 and 2Stasiun Terminus adalah suatu stasiun Kereta Api (KA) yang menjadi titik awal/akhir perjalanan suatu KA. Stasiun Bogor merupakan stasiun salah satu stasiun terminus yang sangat sibuk bagi perjalanan KA Komuter (KRL) Jabodetabek. Terdapat 8 jalur untuk menunjang perjalanan KA di stasiun ini. Jalur keberangkatan (IV s.d VIII ) berpotongan dengan jalur kedatangan KRL menyebabkan konflik perjalanan (conflict route). Yaitu, KRL yang datang ditahan sinyal masuk karena diutamakan KRL yang berangkat, sehingga perlu dikaji tingkat konfliknya. Metode conflict rate digunakan untuk menganalisis tingkat konflik dengan membandingkan varian pola interlocking yang kompleks di stasiun menggunakan tabel definisi pergerakan KA. Hasil analisis kondisi eksisting dengan pembebanan pada masing-masing rute, ditemukan nilai conflict rate sebesar 81% (dari 329 KA, 266 KA berpotensi terdampak oleh rute konflik). Kemudian dilakukan rekayasa jalur dengan berbagai alternatif. Pada alternatif 1 dengan mengubah daftar jalur pada beberapa KA, nilai conflict rate untuk KA yang melintas turun menjadi 79% (260 KA terdampak). Pada alternatif 2 dengan penambahan jalur penghubung, nilai conflict rate turun menjadi 77% (253 KA terdampak). Sedangkan alternatif 3 dengan perpanjangan jalur/emplasemen, nilai conflict rate turun menjadi 74% (243 KA terdampak). Dengan melihat hasil di atas, maka alternatif 3 dinilai lebih efisien mendukung kegiatan operasi dibandingkan alternatif 1 dan 2

    Material Hibrid Komposit Nilon-Rami-Epoksi Untuk Roda Lori Inspeksi

    Full text link
    Inspection lorry very important role in the maintenance of railway infrastructure. Technological modifications in the development of inspection lorry at the Madiun Indonesian Railways Polytechnic are continuing. Development of inspection lorry wheels using composite materials using nylon fiber and hemp fiber as reinforcement and epoxy resin as the matrix. This research was conducted to reduce the load of the third generation inspection lorry which initially used wheels made of nodular cast iron. In designing the wheels of inspection lorry made from composites, this must be taken into account properly so that they do not drop or skid while walking and comply with the main requirements for lorry that are easy to lift and move. The method of making inspection lorry wheels made of composites uses the hand lay-up method. The initial steps taken in this study were designing, determining materials and conducting functional tests. Testing the mechanical properties of the lorry wheel composite materials by diametral tensile strength test with ASTM D695 standard specimens. From the results of the diametral tensile strength test conducted, it was obtained that the specimen had the highest diametral tensile strength value, namely sample 1B of 76.88 MPa and the lowest strength was sample 2B with a tensile strength of 22.73 MPa. The diametral tensile strength value is influenced by the volume of reinforcing fibers, the volume of the binding matrix and the press mold load given to the molding of the composite. Function tests on straight tracks, points, level crossings and curved tracks can run smoothly without any derailments occurring. Noise test wheels made of composites have a lower noise level compared to lorry wheels using nodular cast ironBahan pembuat roda telah menggunakan berbagai jenis bahan mulai dari menggunakan logam dan karet. Bahkan sekarang untuk mendapatkan bahan yang kuat dan ringan mulai berkembang roda dengan bahan dasar komposit. Dalam perancangan roda lori inspeksi berbahan komposit ini harus diperhitungkan dengan baik supaya tidak terjadi anjlok maupun selip saat berjalan dan sesuai dengan syarat utama lori yang mudah untuk diangkat dan dipindahkan. Pembuatan roda berbahan komposit masih jarang ditemui di dunia perkeretaapian. Pembuatan roda lori inspeksi berbahan komposit ini menggunakan serat nilon dan serat rami sebagai penguat dan resin epoksi sebagai matriksnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi beban lori inspeksi generasi ketiga yang awalnya menggunakan roda berbahan besi cor nodular. Metode pembuatan roda lori inspeksi berbahan komposit ini menggunakan metode hand lay-up. Langkah awal yang dilakukan pada penelitian ini adalah perancangan desain, penentuan bahan, melakukan pengujian kuat tarik diametral dengan standar spesimen ASTM D695, dan terakhir pembuatan roda komposit untuk dilakukannya uji lintas di rel PPI Madiun. Dari hasil pengujian kuat tarik diametral yang dilakukan diperoleh spesimen yang memiliki nilai kuat tarik diametral tertinggi yaitu sampel 1B sebesar 76,88 MPa dan kekuatan terendah adalah pada sampel 2B dengan kekuatan tarik sebesar 22,73 MPa. Uji fungsi pada track lurus, wesel, perlintasan sebidang dan jalur lengkung dapat berjalan dengan lancar tanpa terjadi peristiwa anjlokan. Uji kebisingan roda berbahan komposit memiliki tingkat kebisingan lebih rendah dibanding dengan roda lori yang menggunakan besi cor nodular

    Prototipe Battery Management System dengan mempertimbangkan State of Charge dan State of Health

    No full text
    The increasing importance of the battery used in everyday life, as well as to maintain the quality and reliability of the battery, makes a Battery Management System (BMS) indispensable. BMS can be used to avoid overcharging, short circuits, and extreme temperatures on batteries. The purpose of designing this BMS prototype is to monitor the SOC and SOH values of the battery in real-time. The SOC value is calculated using the Open Circuit Voltage (OCV) method and the Columb Counting (CC) method. Meanwhile, the SOH value is calculated by comparing the current load and the new condition load. In the BMS prototype, the voltage divider sensor, current sensor, and temperature sensor are connected to the battery. Data from the three sensors will be processed by Arduino and sent to the LabView software. LabView will display the battery\u27s voltage, current, temperature, SOC, and SOH values. From the test results using old and new batteries, the BMS sensor components function with high accuracy. New batteries have better charge and discharge performance than old batteries. Old batteries also have a hotter temperature than new batteries. Therefore, BMS is needed to maintain the condition of the battery so that it works properly.Semakin pentingnya baterai yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, serta untuk menjaga kualitas dan keandalan baterai, menyebabkan Battery Management System (BMS) sangat diperlukan. BMS dapat digunakan untuk menghindari over charge, short circuit dan suhu ekstrim pada baterai. Tujuan dari perancangan prototipe BMS ini yaitu untuk memonitoring nilai SOC dan SOH baterai secara real time. Nilai SOC dihitung dengan metode Open Circuit Voltage (OCV) dan metode Coloumb Counting (CC). Sedangkan nilai SOH dihitung dengan membandingkan muatan saat ini dan muatan kondisi baru. Pada prototipe BMS, sensor pembagi tegangan, sensor arus dan sensor suhu dihubungkan pada baterai. Data dari ketiga sensor tersebut akan diolah dengan Arduino dan dikirim ke software LabView. LabView akan menampilkan nilai tegangan, arus, suhu, SOC dan SOH baterai. Dari hasil pengujian menggunakan jenis baterai baru dan lama, komponen sensor BMS berfungsi dengan akurasi yang tinggi. Baterai baru memiliki kinerja pengisian dan pengosongan yang lebih baik daripada baterai lama. Baterai lama juga memiliki suhu yang lebih panas dibandingkan dengan baterai baru. Oleh karena itu, BMS sangat diperlukan untuk menjaga kondisi baterai agar bekerja dengan baik

    114

    full texts

    147

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇