Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
Not a member yet
    147 research outputs found

    Anti-Collition Device (ACD) Lokomotif Diesel Electric Seri CC201 Dengan Induksi Dual Tone Multiple Frequency (DTMF)

    Get PDF
    Railroad transportation has characteristics in the pattern of operation that a block block is only allowed to be passed by a train facility whose safety is guaranteed by the railroad signaling system. The existing signaling system in Indonesia currently uses a wayide signal aspect indicator and has not been equipped with a warning and protection system against violations of the unsafe signal aspect / SPAD (Signal Pass At Danger) or speed limit violations. To improve travel safety absolutely requires warning equipment for drivers about violations of signal aspects and violations of speed restrictions. This study discusses the calculation of the braking profile on the CC201 series electric locomotive and the Anti-Collition Device (ACD) prototype design using the Audio Frequency (AF) induction system using Dual Tone Multiple Frequency (DTMF) coding as well as the Atmel AT89S52 type Microcontroller control system. Based on the analysis of the braking distance at a speed of 120 Km / h using the minden method, the AF sensor is installed at a distance of 1,168.79 meters before the incoming signal. Based on the measurement results of the signal intensity received by the DTMF locomotive sensor, the biggest signal is at the gap gap between the AF sensors with a distance of 80 mm, while for the lowest reading level at a distance of 120mm.Angkutan kereta api mempunyai karakteristik dalam pola pengoperasiannya satu petak blok hanya diperbolehkan dilewati oleh satu sarana kereta api yang keselamatannya dijamin oleh sistem persinyalan perkeretaapian. Sistem persinyalan existing di Indonesia saat ini menggunakan penunjuk aspek sinyal wayside dan belum dilengkapi dengan sistem peringatan dan proteksi terhadap pelanggaran aspek sinyal tidak aman / SPAD (Signal Pass At Danger) maupun pelanggaran batas kecepatan. Untuk meningkatkan keselamatan perjalanan mutlak diperlukan peralatan pemberi peringatan kepada masinis terhadap pelanggaran aspek sinyal dan pelanggaran pembatasan kecepatan. Penelitian ini membahas tentang perhitungan profil pengereman pada lokomotif diesel electric seri CC201 dan desain prototype Anti- Collition Device (ACD) dengan menggunakan sistem induksi Audio Frekuensi (AF) dengan menggunakan pengkodean Dual Tone Multiple Frequency (DTMF) serta sistem kontrol Mikrokontroller tipe Atmel AT89S52. Berdasarkan hasil analisa jarak pengereman pada kecepatan 120 Km/jam dengan menggunakan metode minden, sensor AF dipasang pada jarak 1.168,79 meter sebelum sinyal masuk. Berdasarkan hasil pengukuran intensitas sinyal yang diterima Sensor lokomotif DTMF, sinyal yang paling besar yaitu pada jarak celah antar sensor AF dengan jarak 80 mm., sedangkan untuk tingkat pembacaan paling rendah yaitu pada jarak 120mm

    Penerapan Teknologi Automatic Level Crossing Di Indonesia

    Get PDF
    Indonesia has many Level Crossing (LC) all of which are still manual with poor performance. As a result, accidents often occur. This accident was caused by the guards who late lowered the doorstop, carelessness and impatience of road users. Erratic waiting times on LC cause delays and high queues and trigger road users to break through LC doors. In Jakarta, the LC manual causes significant disruption to road users; the delay is 158.46 seconds and the queue is 66.85 m as is the case in Malang, Pasuruan and Surakarta. Many countries have implemented Automatic Level Crossing (ALC) successfully, such as the United Kingdom, Japan and Australia. ALC not only reduces disruption to road users but also minimizes human error (especially for LC manual guards). The most suitable type of ALC for Indonesia is Crossing Barrier with Obstacle Detection (CBOD). This study proves that CBOD is able to reduce disruption to road users to delay to 125,393 seconds and queue to 60,778 m. On the other hand, to control the behavior of road users needs to be supported by the installation of traffic calming; noise band, traffic channel and countdown timer. Analysis of B / C Ratio in CBOD installations including traffic calming produces tilapia 1.24, which is feasible to apply.Indonesia memiliki banyak perlintasan sebidang (Level Crossing – LC) yang semuanya masih manual dengan performansi yang buruk. Akibatnya, sering terjadi kecelakaan. Kecelakaan ini disebabkan oleh penjaga yang telat menurunkan palang pintu, kecerobohan dan ketidaksabaran penguna jalan. Waktu tunggu yang tidak menentu pada LC menyebabkan tundaan dan antrian yang tinggi serta memicu pengguna jalan menerobos pintu LC. Di Jakarta, manual LC menyebabkan gangguan signifikan terhadap pengguna jalan; tundaan selama 158.46 detik dan antrian sepanjang 66.85 m seperti halnya dengan yang terjadi di Malang, Pasuruan dan Surakarta. Banyak negara telah menerapkan Automatic Level Crossing (ALC) dengan sukses, seperti Inggris Raya, Jepang dan Australia. ALC tidak hanya mengurangi gangguan terhadap pengguna jalan tetapi juga meminimalkan human error (khususnya bagi penjaga manual LC). Jenis ALC yang paling sesuai untuk Indonesia adalah Crossing Barrier with Obstacle Detection (CBOD). Studi ini membuktikan bahwa CBOD mampu mengurangi gangguan terhadap pengguna jalan untuk delay menjadi 125.393 detik dan queue menjadi 60.778 m. Disisi lain, untuk mengendalikan perilaku pengguna jalan perlu didukung dengan instalasi traffic calming; pita penggaduh, kanal lalu lintas dan countdown timer. Analisis B/C Ratio dalam instalasi CBOD termasuk traffic calming menghasilkan nila 1.24, dimana layak untuk diterapkan

    Kestabilan Dinding Penahan Tanah Jenis Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) Pada Pekerjaan Galian Abutmen Jembatan Bh 1751 Di Kecamatan Lok Ulo, Kebumen

    Get PDF
    Abutment bridge is a building under the bridge located on both sides of the bridge end. The process of building a bridge abutment often requires excavation to the depth of the abutment base so that the abutment reinforcement and casting work can be carried out. In deep excavation work, each side of the excavation needs to be installed in a flexible retaining wall type (plaster) first. In this study, CCSP stability analysis was carried out on earth excavation work for abutment bridge BH 1751. The calculation method starts from determining the lateral earth pressure acting on the soil, then determining the depth of CCSP planting that is able to produce CCSP stability on the rolling force. The analysis shows that the depth of CCSP planting that meets the safety requirements of the rolling force is 20 mAbutment jembatan merupakan bangunan bawah jembatan yang terletak di kedua sisi ujung jembatan. Proses pembangunan abutmen jembatan sering kali diperlukan adanya penggalian sampai kedalaman dasar abutmen agar pekerjaan penulangan dan pengecoran abutmen dapat dilaksanakan. Pada pekerjaan galian dalam, setiap sisi galian perlu untuk dipasang dinding penahan tanah tipe fleksibel (turap) terlebih dahulu.  Di dalam penelitian ini, dilakukan analisis kestabilan CCSP pada pekerjaan galian tanah untuk abutmen jembatan BH 1751. Metode perhitungan dimulai dari menentukan tekanan tanah lateral yang bekerja pada tanah, kemudian menentukan kedalaman penanaman CCSP yang mampu menghasilkan kestabilan CCSP terhadap gaya guling. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedalaman penanaman CCSP yang memenuhi syarat keamanan terhadap gaya guling adalah 20

    Analisis Perhitungan Teknis Brake Cylinder 10 inch dan 12 inch Pada Gerbong Terbuka (Studi Kasus : Gerbong Terbuka Di Balai Yasa Surabaya Gubeng)

    Get PDF
    This study was structured with the aim to determine the effect of changing the brake cylinder from 10 inches to 12 inches in the Open Carriage, because this Open Carriage is the only car that has two different brake cylinders from the other Carriage. The study was conducted by calculating the percentage of braking on the use of 10-inch and 12-inch type brake cylinders on the Open Carriage used at Balai Yasa Surabaya Gubeng. Calculate the working time and release time on the brake cylinder with a size of 10 inches and 12 inches of pressure 0.4 to 3.8 kg / cm2. Calculates the braking distance assuming the type of locomotive and the number of carriages drawn are the same. The study produced work time and release time that varied results, namely faster work time on BC 12 inch and faster release time on BC 10 inch. The results of the braking percentage that has been obtained from calculations with the standard braking percentage is 40% <l £ 120%. From the standard determined according to UIC, the use of a 10 inch brake cylinder does not meet the requirements of the braking percentage calculation when the load is full, and for a 12 inch brake cylinder can meet the specified requirements. The results of the percentage of brake block pressure that has been obtained from calculations with the standard braking percentage is 30% <þ 85%. From the standard determined according to UIC, the use of a 10 inch brake cylinder does not meet the requirements in the calculation of the percentage of the full charge brake block pressure, while for a 12 inch brake cylinder it meets. The braking distance obtained from the calculated simulation results with predetermined factors results in the braking distance for BC 12 inch being closer than that using 10 inch BC. To improve the results of this study it is necessary to test the brake cylinder components dynamically.Penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan brake cylinder dari ukuran 10 inch menjadi 12 inch pada Gerbong Terbuka, karena Gerbong Terbuka ini merupakan satu – satunya gerbong yang memiliki dua buah brake cylinder berbeda dengan gerbong yang lainnya. Penelitian dilakukan dengan menghitung presentase pengereman pada penggunaan brake cylinder tipe ukuran 10 inch dan 12 inch pada gerbong Terbuka yang digunakan di Balai Yasa Surabaya Gubeng. Menghitung waktu kerja dan waktu release pada brake cylinder dengan ukuran 10 inch dan 12 inch dari tekanan 0,4 – 3,8 kg/cm2. Menghitung jarak pengereman dengan asumsi jenis lokomotif dan jumlah gerbong yang ditarik sama. Penelitian menghasilkan waktu kerja dan waktu release mendapat hasil yang bervariasi yaitu waktu kerja lebih cepat pada BC 12 inch dan waktu release lebih cepat pada BC 10 inch. Hasil presentase pengereman yang sudah didapatkan dari penghitungan dengan standar presentase pengereman adalah 40 % <l£ 120 %. Dari standar yang ditentukan sesuai UIC, pada penggunaan brake cylinder 10 inch tidak memenuhi syarat pada hasil perhitungan presentase pengereman saat muatan penuh, dan untuk brake cylinder dengan ukuran 12 inch dapat memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Hasil presentase tekanan blok rem yang sudah didapatkan dari penghitungan dengan standar presentase pengereman adalah 30% <þ£85 %. Dari standar yang ditentukan sesuai UIC, pada penggunaan brake cylinder 10 inch tidak memenuhi syarat pada hasil perhitungan presentase tekanan blok rem muatan penuh, sedangkan untuk brake cylinder dengan ukuran 12 inch memenuhi. Jarak pengereman yang diperoleh dari hasil simulasi hitungan dengan faktor yang sudah ditentukan memperoleh hasil dengan jarak pengereman untuk BC 12 inch lebih dekat daripada yang menggunakan BC 10 inch. Untuk menyempurnakan hasil penelitian ini perlu dilakukan pengujian terhadap komponen brake cylinder secara dinamis

    Pemodelan Alat Penghitung Jumlah Penumpang Kereta Berbasis Mikrokontroler Atmega 2560

    Get PDF
    Prambanan Ekspres is a mode of transportation with 3500-5000 passengers per day, with a system of choosing its own seat and train. However, the lack of information on the number of passengers on each train causes several trains to build up. It is necessary to hold an innovation to improve the quality of facilities, comfort and service by making a model of the number of passengers based on the ATMega2560 microcontroller. The stages of this research include observation, design of planning tools, testing tools, taking data, and analyzing the results of research on the number of passengers. Based on the results of testing the tools and research data, it can be concluded that the accuracy of the equipment ranges from 85% to a minimum feasible limit of 60%. Then the model for detecting passengers is above the average eligibility Kereta Prambanan Ekspres merupakan moda transportasi dengan peminat 3500-5000 penumpang per hari., dengan sistem memilih tempat duduk dan kereta sendiri. Namun, kurangnya informasi jumlah penumpang pada tiap kereta menyebabkan beberapa kereta terjadi penumpukan penumpang. Hal ini perlu diadakannya inovasi untuk meningkatkan kualitas sarana, kenyamanan dan  pelayanan dengan pembuatan model alat penghitung jumlah penumpang berbasis mikrokontroler ATMega2560. Tahapan penelitian ini meliputi observasi, desain perencanaan alat, uji coba alat, pengambilan data, dan analisis hasil penelitian alat pendeteksi jumlah penumpang. Berdasarkan hasil pengujian alat dan penelitian data, di dapat kesimpulan keakurasian alat berkisar 85% sedangkat batas minimal layak adalah 60%. Maka model alat pendeteksi jumlah penumpang dinyatakan berada diatas rata-rata kelayaka

    Persepsi Dan Ekspektasi Pelanggan Terhadap Kualitas Layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta

    Get PDF
    The research objective is to determine customer perceptions and expectations of the Soekarno-Hatta Airport train service. Analysis of customer perceptions and expectations is used to find out the services desired, needed, and expected by passengers so as to create customer satisfaction. This research is a type of descriptive research using a quantitative approach. The study population is all passengers of the Soekarno-Hatta airport train. The sampling technique used is quota sampling technique. Research instruments using questionnaires and research data analysis using gap analysis and descriptive analysis. The results of this study are there are 4 dimensions that are considered unsatisfactory customers, namely the dimensions of physical evidence, responsiveness, reliability, and guarantees, and there are 1 service dimensions that are considered satisfactory customers, namely the empathy dimensionTujuan penelitian yaitu untuk mengetahui persepsi dan ekspektasi pelanggan terhadap layanan kereta Bandara Soekarno-Hatta. Analisis persepsi dan ekspektasi pelanggan digunakan untuk mengetahui layanan yang diinginkan, dibutuhkan, dan diharapkan oleh penumpang sehingga tercipta kepuasan pelanggan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian yaitu seluruh penumpang kereta bandara Soekarno-Hatta. Teknik sampling yang  digunakan  adalah  teknik sampling kuota. Instrumen penelitian menggunakan angket dan analisis data penelitian menggunakan analisis gap dan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat 4 dimensi yang dinilai pelanggan kurang memuaskan yaitu dimensi bukti fisik, daya tanggap, kehandalan, dan jaminan, serta terdapat 1 dimensi layanan yang dinilai pelanggan memuaskan yaitu dimensi empat

    Analisis Persepsi Keselamatan Perjalanan Kereta Api Terhadap Stres Kerja Masinis Di Stasiun Tugu Yogyakarta

    Get PDF
    The availability of qualified human resources will affect the safety of rail travel. Guaranteed safety of this trip materialized from the minimum number of train accidents that occurred. In identifying the causes of train accidents, the human error factor is largely the main cause. This is what causes human resources to become an important concern in the operation of trains. Data were collected by using questionnaires consisting of perception questionnaire on railway safety and work stress. Interviews were used to complete the questionnaire results. Data analysis was done by regression analysis to know the influence of safety perception to work stress. The results showed that 77% of the respondents had low safety perception, while the other 23% had high perception of safety. As many as 70% of machinists have high work stress, while 30% have low work stress. Safety perception proved to be related to work stress experienced by machinist. This is indicated by a variable of -, 338 which states that the relationship between perception of safety proved to have a relationship with job stress of 0.338 with a negative relationship. This relationship analysis is evidenced by Pearson Correlation. Regression analysis obtained correlation coefficient of 0.114 which states that 11.4% work stress is influenced by the perception of safetyKetersediaan sumber daya manusia yang berkualitas akan mempengaruhi keselamatan perjalanan kereta api. Dijamin keselamatan perjalanan ini terwujud dari jumlah minimum kecelakaan kereta api yang terjadi. Dalam mengidentifikasi penyebab kecelakaan kereta api, faktor kesalahan manusia sebagian besar merupakan penyebab utama. Inilah yang menyebabkan sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam pengoperasian kereta api. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner persepsi tentang keselamatan kereta api dan stres kerja. Wawancara digunakan untuk melengkapi hasil kuesioner. Analisis data dilakukan dengan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh persepsi keselamatan terhadap stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77% responden memiliki persepsi keselamatan yang rendah, sedangkan 23% lainnya memiliki persepsi keselamatan yang tinggi. Sebanyak 70% masinis memiliki stres kerja yang tinggi, sementara 30% memiliki stres kerja yang rendah. Persepsi keselamatan terbukti berhubungan dengan stres kerja yang dialami oleh masinis. Hal ini ditunjukkan oleh variabel -, 338 yang menyatakan bahwa hubungan antara persepsi keselamatan terbukti memiliki hubungan dengan stres kerja sebesar 0,338 dengan hubungan negatif. Analisis hubungan ini dibuktikan oleh Korelasi Pearson. Analisis regresi diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,114 yang menyatakan bahwa 11,4% stres kerja dipengaruhi oleh persepsi keselamata

    Perbandingan Pengukuran Radius Lengkung Dengan Menggunakan Benang, Total Station Dan Messreg CLS

    Get PDF
    An examination of the railroad curves that have been operated can be done with a variety of available gauges, however there has never been a comparison of the outputs of several gauges used to check rail curves. This study intends to examine the curvature of the railroad by comparing the results of measuring arrows manually and the use of digital measuring stations and Messreg CLS. This study also tries to provide recommendations on arch maintenance plans so that the arch conditions can be optimized for trains to pass. The measurement results show that manual curvature measurements (arrows thread) with digital measuring devices (total station and CLS messeg) give results that vary from one another, although not significantly different. The measurement results with Total Station and Messreg CLS show an average value that is greater than the measurement results using Arrows thread. The results of the inspection also showed that in order to make the railroad curvature more ideal for passing trains, it was necessary to move both in and out so that the value of the Arrows at each measured point approached the ideal value of 630 mm.Pemeriksaan terhadap lengkung jalan rel yang telah dioperasikan dapat dilakukan dengan berbagai alat ukur yang tersedia, namun demikian belum pernah dilakukan perbandingan terhadap output beberapa alat ukur yang digunakan untuk memeriksa lengkung jalan rel. Penelitian ini bermaksud untuk memeriksa lengkung jalan rel dengan membandikan hasil pengukuran anak panah secara manual dan penggunaan alat ukur digital total station dan Messreg CLS. Penelitian ini juga berusaha memberikan rekomendasi terhadap rencana pemeliharaan lengkung agar kondisi lengkung dapat dioptimalkan untuk dilewati kereta. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pengukuran lengkung secara manual (benang anak panah) dengan alat ukur digital (total station dan messreg CLS) memberikan hasil yang bervariasi satu sama lain, meskipun tidak berbeda secara signifikan. Hasil pengukuran dengan Total Station dan Messreg CLS menunjukkan nilai rata-rata yang lebih besar dibandingkan hasil pengukuran dengan menggunakan benang Anak Panah. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa agar kondisi lengkung jalan rel dapat menjadi lebih ideal untuk dilewati kereta api, perlu dilaksanakan penggeseran baik ke dalam maupun keluar agar nilai Anak Panah pada tiap-tiap titik yang diukur mendekati nilai ideal yaitu 630 mm

    Analisis Kinerja Perawatan Bulanan (P1,P3,P6) Dipo KRL Depok

    Get PDF
    Monthly Maintenance Depok Commuter Line Dipo is a place of care that forms inspection, preparation, storage, maintenance, and repair of rings counted monthly with regular maintenance, where P1 (maintenance every 1 month), P3 (maintenance every 3 months), and P6 (Treatment every 6 boasts). To support Commuter Line maintenance activities, the availability of spare parts / components, quantity and quality of human resources, work equipment, inspection equipment, location, conditions and supporting facilities are sufficient to facilitate maintenance. In conducting maintenance, Depok Commuter Line Dipo Monthly Maintenance has problems, including lack of maintenance equipment and maintenance personnel in the dipo are still lacking, both in terms of quality and quantity. To overcome this problem the method used is to identify the needs of the facility based on the MI (Maintenance Instructions) as a guide in carrying out maintenance and calculate the needs of employees both in number and quality or competence that must be owned by maintenance personnel. From the results of the analysis of the existing problems it can be concluded that the completeness of maintenance facilities in the form of work equipment is still damaged such as compressors and battery changers, lifting jacks, hydraulic jacks, and monthly manure Dipo KRL Depok still needs 24 additional maintenance personnel, and there are 19 People who have not yet participated in functional training competencies. Therefore, it is necessary to add work equipment facilities and increase human resources, as well as improve the quality and quantity of human resources to improve the performance of Depok Commuter Line Dipo Monthly MaintenancePerawatan Bulanan Dipo KRL Depok adalah tempat perawatan yang membentuk pemeriksaan, persiapan, penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan cincin dihitung per bulan secara berkala dengan pemeliharaan rutin, di mana P1 (perawatan setiap 1 bulan), P3 (perawatan setiap 3 bulan), dan P6 (Perawatan setiap 6 membanggakan). Untuk mendukung kegiatan pemeliharaan KRL, ketersediaan suku cadang / komponen, jumlah dan kualitas sumber daya manusia, peralatan kerja, peralatan pemeriksaan, lokasi, kondisi dan fasilitas pendukung cukup untuk memfasilitasi pemeliharaan. Dalam melakukan perawatan, Perawatan Bulanan Dipo KRL Depok memiliki masalah, termasuk peralatan peralatan pemeliharaan masih kurang dan personil pemeliharaan di dipo masih kurang, baik dari segi kualitas dan kuantitas. Untuk mengatasi masalah ini metode yang digunakan adalah mengidentifikasi kebutuhan fasilitas berdasarkan MI (Instruksi Perawatan) sebagai panduan dalam melakukan pemeliharaan dan menghitung kebutuhan karyawan baik jumlah dan kualitas atau kompetensi yang harus dimiliki oleh personil pemeliharaan. Dari hasil analisis terhadap masalah yang ada dapat disimpulkan bahwa kelengkapan fasilitas perawatan berupa peralatan kerja masih ada yang rusak seperti kompresor dan baterai changer, lifting jack, dongkrak hidrolik, dan bulanan pupuk kandang Dipo KRL Depok masih perlu tambahan 24 personil pemeliharaan, dan ada 19 Orang yang belum mengikuti kompetensi pelatihan fungsional. Oleh karena itu, perlu menambah fasilitas peralatan kerja dan penambahan sumber daya manusia, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja Perawatan Bulanan Dipo KRL Depo

    Perencanaan Dan Normalisasi Drainase Ring Dalam Kereta Api Di Akademi Perkeretaapian Indonesia Madiun

    Get PDF
    oai:ojs2.jurnal.ppi.ac.id:article/6Railway infrastructure is a railroad track, train station and train operation facilities so that trains can be operated. One component of the railway infrastructure is drainage. Railroad drainage is an infrastructure that functions to channel surface water to water bodies and / or artificial infiltration buildings. In the current field research the condition of the railroad drainage channel at the Indonesian Railroad Academy is not in the right conditions due to inundation and siltation which is mixed with the growth of wild plants caused by drainage structures that are not suitable for installation and not in accordance with the topography the area. From the facts in the field, a review of the problems in the drainage was conducted. The drainage flow pattern of the railroad should be flowed to the lake which is the final drainage channel, but this need has not been fully met. From the above problem an alternative is taken to solve the first problem namely Planning and Normalization of Drainage Channels includes (drainage cleaning, drainage elevation, construction of new drainage), the second solution is the construction of supporting buildings including the construction of culverts, construction of gates and construction of pump housesPrasarana perkeretaapian adalah jalur kereta api, stasiun kereta api dan fasilitas operasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan. Salah satu komponen penyusun prasarana perkeretaapian yakni drainase. Drainase jalan kereta api merupakan prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan resapan buatan. Pada penelitian di lapangan saat ini kondisi dari saluran drainase jalan kereta api di Akademi perkeretaapian Indonesia tidak dalam kondisi yang sesuai terjadi genangan dan endapan lumpur yang di campuri dengan tumbuh ya tanaman liar yang disebabkan karena bangunan drainase yang tidak sesuai dalam pemasangan dan tidak sesuai dengan topografi daerah tersebut. Dari fakta di lapangan dilakukan peninjauan terhadap masalah yang ada pada drainase tersebut. Pola aliran drainase jalan kereta api ini seharusnya di alirkan menuju danau yang mana merupakan saluran pembuangan akhir, namun kebutuhan ini belum terpenuhi sepenuhnya. Dari masalah diatas diambil alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut yang pertama yakni Perencanaan dan Normalisasi Saluran Drainase mencakup (pembersihan drainase, peninggian drainase, pembuatan drainase baru), solusi kedua yakni pembuatan bangunan penunjang mencakup pembuatan gorong-gorong, pembangunan pintu air dan pembuatan rumah pomp

    114

    full texts

    147

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇