Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
PERGESERAN NILAI PADA TRADISI PESTA SYUKUR LAUT DI PANTAI PAMAYANGSARI CIPATUJAH TASIKMALAYA
ABSTRAK Tradisi Pesta Syukur Laut merupakan kegiatan kebudayaan dalam masyarakat Pantai Pamayangsari Cipatujah. Kegiatan ini mengandung nilai-nilai, salah satunya nilai tradisi. Namun, seiring berjalannya waktu nilai tersebut tergeser oleh beberapa faktor di antaranya, perubahan sosial dalam masyarakat sehingga hal itu berpengaruh kepada perubahan bentuk ritual dan juga pandangan masyarakat. Adapun yang menjadi latar belakang penulisan ini adalah untuk mengkaji faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai pada tradisi Pesta Syukur Laut di Pantai Pamayangsari Cipatujah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomonologi yang mengacu pada hasil riset ke lapangan secara langsung. Teknik analisis data yang digunakan meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori perubahan sosial dan teori simbol. Hasil penelitian menunjukan bahwa Beberapa prosesi dalam kegiatan Pesta Syukur Laut seperti Larung Jempana dan Ruwatan Laut sengaja dihilangkan dan tidak dilakukan kembali karena dipandang tidak sesuai dengan syariat agama Islam. Pergeseran nilai yang terjadi pada Pesta Syukur Laut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya masuknya nilai- nilai agama Islam yang berpengaruh kepada kepercayaan masyarakat yang semakin memudar mengenai adanya mitos Nyi Roro Kidul yang selama ini menjadi objek utama digelarnya ritual. Perubahan tersebut menyebabkan kegiatan yang semula digelar dengan sakral kini menjadi kegiatan yang dijadikan hiburan semata.Kata Kunci: Pesta Syukur Laut, Pamayangsari, Pergeseran Nilai, Cipatujah ABSTRACT Pesta Syukur Laut Tradition is a public cultural of Pamayangsari’s Beach community. This event containing values and meaning. But, as time goes by these values are displaced by some factor like, social change. So, that thing causing ritual modification and public view. The background of this essay is to study te reason of shifting values in Pesta Syukur Laut in Pamayangsari’s beach Cipatujah Tasikmlaya. This research using qualitative researching method by phenomenologic approaching which referring to result of field research. The analyzing data technique we used like gathering data, reduction data, presentation data, and conclusion drawing. The theories we used in this research are sosial transformation and symbol theory. The research result is showing that some procession in Pesta Syukur Laut like Larung Jempana and Ruwatan Laut are removed and no longer done because those are against Islamic shari’a. The shifting values happened ini Pesta Syukur Laut are caused by the inclusion of Islamic values which causing effect in public believe which getting fading in Nyi Roro Kidul’s myth which previously become ritual’s object. Those changing make the event is become entertaining instead of sacred event.Keywords: Pesta Syukur Laut, Pamayangsari, Values Shifting, Cipatuja
PEWARISAN BUDAYA DALAM KESENIAN BRINGBRUNG DI KELURAHAN LEDENG, KECAMATAN CIDADAP HILIR, KOTA BANDUNG
ABSTRAK Skripsi ini adalah hasil penelitian Antropologi budaya mengenai pewarisan budaya dalam kesenian, yaitu kesenian Bringbrung di Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap Hilir, Kota Bandung. Penelitian berjudul “Pewarisan Budaya dalam kesenian Bringbrung di Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap Hilir, Kota Bandung”, pembahasannya menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik. Teori yang digunakan adalah teori sosial dan budaya yang mengungkap pewarisan budaya secara sosialisasi, enkulturasi dan internaslisasi. Penelitian ini, bertujuan untuk menjelaskan sistem sosial dalam pewarisan budaya kesenian Bringbrung di Kelurahan Ledeng Kecamatan Cidadap Hilir, Kota Bandung. Hasil penelitian ini adalah mengungkap tentang: 1) Proses pewarisan dalam Kesenian Bringbrung dilakukan secara Sosialisasi, Enkulturasi dan Internalisasi; 2) Media pewarisan meliputi praktek menabuh terebang, menyayikan lagu-lagu, menari dan pengelolaan keorganisasian; 3) Faktor pendukung dalam pewarisan adalah masyarakat, orang-tua, pemerintah, media sosial, seniman dan sanggar seni Bringbrung; sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan mengenal budaya leluhur, profit seni Bringbrung tidak menjamin kehidupan, dan derasnya globalisasi yang memarjinalkan seni tradisional. Pewarisan budaya yang dilakukan oleh seniman Bringbrung kepada generasi-generasi penerus bertujuan agar kesenian Bringbrung dapat dilestarikan keberadaannya.Kata Kunci: Bringbrung, Pewarisan Budaya, Kelurahan Ledeng ABSTRACT This thesis is the result of cultural anthropology research on cultural inheritance in art, namely Bringbrung art in Ledeng sub-district, Cidadap Hilir, Bandung.The research with the title \u27Cultural Heritage in Bringbrung art in Ledeng sub-district of Cidadap Hilir, Bandung\u27, discussion uses a qualitative approach with descriptive analytic methods. The theory that is used in this research is a social and cultural theory that reveals cultural inheritance through socialization, enculturation, and internalization. This study aims to explain the social system in the cultural inheritance of Bringbrung art in Ledeng sub-district, Cidadap Hilir, Bandung. The results of this study are revealing about: 1) The process of inheritance in Bringbrung Art is carried out in socialization, enculturation and internalization; 2) Media of inheritance includes the practice of beating beats, singing songs, dancing and organizational management; 3) The supporting factors in inheritance are the community, parents, government, social media, artists and Bringbrung art studios: while inhibiting factors include limitations on knowing the ancestral culture, Bringbrung\u27s art profit does not guarantee life, the rapid globalization that marginalizes traditional art. The cultural heritage carried out by Bringbrung artists to future generations aims to preserve the existence of Bringbrung art.Keywords: Bringbrung, Cultural Heritage, Ledeng Villag
GENDER DALAM KOMUNITAS SUKU DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU INDRAMAYU
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan gender dalam komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Masyarakat komunitas tersebut begitu menjunjung tinggi kaum perempuan, sehingga peran perempuan yang pada umumnya mempunyai peran domestik dalam rumah tangga. Seperti memasak, menjaga kerapihan dan kebersihan rumah tangga dilakukan oleh kaum laki-laki (suami). Hal ini berkaitan dengan ajaran yang mereka anut, yaitu Alam ngaji rasa. Dimana inti dari ajarannya bahwa hidup harus mendekat dengan alam. Alam adalah Rahim dari bumi yang telah memberikan kehidupan bagi semua makhluk yang tinggal di bumi dan perempuan adalah mahluk yang memiliki organ Rahim, yang mampu melahirkan keturunan, memperikan sumber hidup manusia pertama kali. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kajian gender teori nature dan nurture dengan metode kualitatif.Kata kunci: Gender, Komunitas, Alam Ngaji Rasa. ABSTRACT The purpose of this research is to explain gender in the Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. The community is so upholding women, so the role of women who generally have a domestic role in the hosehold. Like cooking, maintaining neatness and household hygiene is done by men (husband). This is related to the teaching they profess, namely the Alam ngaji rasa. Where is the core of this teaching that life must be close to nature. Nature is the womb of the earth that has given life to all living things on earth and women are creatures that have the organs of rahim, capeble of giving birth tooffspring, the first source of human life. In this study the authors use the study of gender theory of nature and the nurture with qualitative methods. Keywords: Gender, Community, Alam ngaji rasa
MOTIF BATIK SEBAGAI IKON DAN MITOS BARU IDENTITAS KABUPATEN LEBAK
ABSTRAK Permasalahan penelitian ini ialah bagaimana proses terbentuknya mitos baru yang berupa dua-belas motif batik Lebak dari sisi historis menjadi ikon bagi identitas daerah Lebak. Tujuan penelitian adalah menjelaskan proses pertanda yang bersifat ikonik yang berwujud motif batik sebagai identitas sebuah daerah yang merupakan mitos baru menurut perspektif semiotika pos-struktural. Manfaat teoretisnya adalah mengembangkan penelitian antropologi tentang batik dalam pendekatan semiotika. Manfaat praktisnya berupa pengetahuan mengenai batik sebagai sebuah identitas daerah Kabupaten Lebak. Metode penelitian adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Populasi penelitian adalah empat belas orang masyarakat Kabupaten Lebak yang dibagi sesuai jenis pekerjaan. Variabel penelitian meliputi ikon, mitos, dan identitas. Hasil penelitian menemukan bahwa kedua-belas motif batik Lebak yang terinspirasi dari potensi kekayaan daerah dianggap sebagai cermin dari Kabupaten Lebak. Berkaitan dengan itu, Pemerintah daerah Kabupaten Lebak juga membuat kebijakan perihal dua-belas motif batik yang dijadikan ikon bagi identitas Kabupaten Lebak.Kata kunci: Batik Lebak, Identitas, Ikon, Mitos ABSTRACT The case of this study is to analyze how the process the new mites was formed which is in the form of twelve Batik Lebak design from the history, and it has been an icon of Lebak region identity. The purpose of this research was explain about the process that is iconic which is Batik design formed as an region identity that is the new mites according to semiotics perspective post-structural. The benefit of the theory is developing anthropology research about batik in the term of semiotics approach. Another benefit is a science that related to Batik as an identity of Lebak Regency. The method of this research is qualitative by collected of the data through references, interview, and documentation. The population of this research took fourteen people from Lebak Regency which is divided according to their Profession. The variables of the research are icon, mites, and Identity. The result of the research found out that twelve Batik of Lebak which was inspired of region wealth as an reflected of Lebak Regency. Because of that the Government of Lebak Regency made a policy about twelve Batik design as an Identity of Lebak Regency.Keywords: Batik Lebak, Identity, Icon, Mite
PERUBAHAN FUNGSI PERTUNJUKAN WAYANG GOLEK PURWA DARI SAKRAL KE PROFAN PADA SYUKUR LAUT PAMAYANGSARI
ABSTRAK Tradisi syukur laut sudah ada sejak tahun 1975, diisi dengan ritual pelarungan jempana dan diakhiri pertunjukan wayang golek purwa. Fungsi awal sebagai media ruwatan berubah menjadi hiburan. Perubahan tersebut menarik perhatian untuk diteliti. Dengan rumusan, bagaimana struktur dan perubahan fungsi pertunjukan wayang. Adapun tujuan penelitian yaitu ingin mendeskripsikan struktur pertunjukkan dan perubahan fungsinya tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan tahapan pengumpulan data menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian, pengolahan data membuat transkrip hasil pengamatan dan wawancara mendalam. Selanjutnya, dianalisa dengan teori fungsionalisme Malinowski. Hasil penelitian ini adalah telah terjadi perubahan fungsi pertunjukkan wayang golek purwa dari sakral menjadi profan/hiburan, disebabkan oleh berubahnya sistem kepercayaan masyarakat, cara berpikir modern, kebutuhan masyarakat akan hiburan, adanya konflik, bencana alam tsunami, dan pengaruh kebudayaan luar, serta didukung oleh sponsor dan anjuran dari Bupati Kabupaten Tasikmalaya untuk menghilangkan unsur sesaji.Kata Kunci: Wayang, Sakral, Profan, dan Syukur Laut. ABSTRACT The tradition of sea gratitude has existed since 1975, filled with jempana rituals and ending with the purwa puppet show.It’s initial function as a medium for ruwatan turned into entertainment. These changes attract attention to research. With the formulation, how the structure and function changes of wayang performances. The research objective is to describe the structure of the performance and changes in its function. This research uses qualitative methods, with the stages of data collection using participant observation techniques, interviews, and documentation studies. Then, data processing makes transcripts of observations and in-depth interviews. Furthermore, it is analyzed by Malinowski\u27s theory of functionalism. The results of this study are that there has been a change in the function of the purwa puppet show from sacred to profane / entertainment, caused by changes in people\u27s belief systems, modern ways of thinking, people\u27s needs for entertainment, conflicts, natural disasters, tsunamis and external cultural influences, as well as being supported by sponsorship and advice from the Regent of Tasikmalaya Regency to eliminate the element of offerings.Keywords: Wayang, Sacred, Profan, and Gratitude for the Se
TRADISI MAPAG MENAK DI KAMPUNG NAGRAK KECAMATAN PACET KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT
ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Tradisi Mapag Menak di Kampung Nagrak Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung Jawa Barat”. Dalam penelitian ini penulis melibatkan beberapa narasumber seperti ketua padepokan Saunglangit Pancanitis, masyarakat setempat, kepala bagian kebudayaan kabupaten Bandung. Tradisi masih menjadi salah satu warisan turun temurun yang masih bertahan dan berkembang hingga saat ini. Salah satu tradisi yang masih bertahan yaitu tradisi Mapag Menak adalah tradisi penyambutan tamu. Tradisi Mapag Menak menjadi salah satu warisan non benda yang hingga kini masih bertahan. Tujuan dari hasil penelitian yaitu, membahas stuktur pelaksanaan tradisi Mapag Menak Dengan menggunakan teori Fenomenologi dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun temuan yang ditemukan oleh penulis bahwa stuktur pelaksanaan tradisi mapag menak terdiri dari 3 tahap, yaitu prapelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Hasil penelitian ini diajukan saran kepada para peneliti selanjutnya untuk tetap melestarikan tradisi mapag menak hingga keunikannya menjadi informasi tentang lokal genius nenek moyang pada masa lalu untuk dipahami nilai esensialnya.Kata kunci: Tradisi, Fenomenologi, Tradisi Mapag Menak ABSTRACTThis study is titled "The tradition of Mapag Menak in Kampung Panca, Pacet Subdistrict, Bandung West Java Regency (A Phenomenology Study)". In this study the authors involved several speakers such as the head of the Saunglangit Pancanitis padepokan, the local community, the head of the Bandung district\u27s culture section. Tradition is still one of the hereditary legacies that still survive and develop to this day. One of the traditions that still survive is the Mapag Menak tradition is the tradition of welcoming in Pacet Village. The Mapag Menak tradition has been one of the non-inherited legacies which still survives. The purpose of this research is to discuss the implementation structure of the Mapag Menak tradition by using the phenomenology theory by using qualitative research methods. The findings found by the author that the structure of the implementation of the traditional mapag tradition consists of 3 stages, namely the implementation, implementation, and post-implementation. The results of this study are suggested by the next researchers to continue to preserve the traditional mapag tradition until its uniqueness becomes information about the local genius of the ancestors in the past to understand its essential value. Keywords: Tradition, Phenomenology, Menag Mapak Traditio
TRADISI BUDIDAYA KOPI ORGANIK GUNUNG PUNTANG SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA BUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA CAMPAKAMULYA KECAMATAN CIMAUNG KABUPATEN BANDUNG
ABSTRAK Realitas yang terjadi di masyarakat Gunung Puntang telah menjadi tradisi budidaya kopi organik, sebagai lumbung perekonomian rakyat yang berkembang menjadi daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal. Terkait dengan adanya tradisi sistem pertanian rakyat dalam bentuk budidaya tanaman kopi organik tersebut, pada perkembangannya berdampak kepada sektor lain, yaitu bidang pariwisata. Sektor pariwisata yang kini sedang menjadi trand dalam percaturan industri kepariwisataan berbasis kearifan lokal. Isu kearifan lokal yang menjadi daya tarik dan bernilai ekonomis tinggi, menjadi peluang besar untuk dikembangkan oleh masyarakat lokal setempat. Perubahan pada tradisi bertani kopi yang dikembangkan oleh masyarakat desa hutan di Gunung Puntang, bukan semata-mata masyarakatnya untuk mencari keuntungan, namun ada faktor internal yang harus dijaga, bahwa masyarakat petani kopi Gunung Puntang merasa termotivasi dengan situasi alam dan lingkungan yang subur sebagai lahan pertanian. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya komodifikasi antara lain dipengaruhi oleh adanya peluang dan tatangan kondisi perekonomian di era teknologi dan informatika sekarang. Itulah yang membuat tradisi bertani kopi organik ini sangat kuat untuk dipertahankan dan sudah melekat di mata masyarakat karena telah memberikan manfaat banyak bagi masyarakat daerah. Tulisan ini merupakan deskripsi ilmiah dari sebuah penelitian lapangan yang menggambarkan peran petani dalam menjaga hutan konservasi atau hutan sosial di Gunung Puntang dinilai penting agar pengetahuan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan tersebut tidak hilang oleh adanya arus moderenisasi.Kata Kunci: Tradisi Budidaya Kopi Organik, Komodifikasi, Pengembangan Pariwisata Budaya, Gunung Puntang.ABSTRACT The reality that occurs in the community of Gunung Puntang has become a tradition of organic coffee cultivation, as a barn of the people\u27s economy that develops into the appeal of local wisdom-based tourism. Related to the tradition of the people\u27s agricultural system in the form of organic coffee crop cultivation, in the development impact to other sectors, namely the tourism industry. The tourism industry is now being new in the world of local wisdom-based tourist industry. The issue of local wisdom that becomes an attraction and high economical value, becomes a great opportunity to be developed by local communities. The traditions changes of farming coffee are developed by the community of Forest villages in Gunung Puntang, not merely the people to seek profit, but there are internal factors to be guarded, that the community of coffee farmers Gunung Puntang feel motivated by the situation of natural and fertile environment as farmland. As for the external factors that affect the occurrence of commodification, among others, is influenced by the opportunity and the level of economic conditions in the era of technology and informatics now. That is what makes this tradition of organic coffee farming is very strong to be maintained and already inherent in the eyes of society because it has provided many benefits to the local community. This paper is a scientific description of a field study describing the role of farmers in preserving the forest of conservations or social forests at Gunung Puntang is important to make knowledge of people\u27s wisdom in utilizing the plant is not lost by the presence of modernization.Keywords: The Tradition Of Organic Coffee Cultivation, Commodification, Tourism Development, Gunung Puntang
Perubahan Bertingkah-laku Berjabat-tangan di Masa Pandemi Covid-19 di Politeknik Kridatama Kota Bandung
ABSTRAK Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia sejak bulan Maret 2020 membuat pemerintah mengeluarkan himbauan agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi penyebaran virus tersebut. Selain itu, masyarakat pun dihimbau untuk mematuhi protokol kesehatan saat keluar rumah, salah satunya dengan menghindari berjabat tangan ketika bertemu dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan budaya jabat tangan yang terjadi pada dosen-dosen di Politeknik Kridatama pada masa pandemi Covid-19. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi, studi pustaka, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadiperubahan budaya jabat tangan di kalangan dosen-dosen Politeknik Kridatama yang menyebabkan dosen-dosen tersebut tidak perlu bersentuhan tangan antara satu dengan yang lainnya ketika bertemu. Simpulan dari penelitian ini adalah dengan adanya pandemi Covid-19 telah membuat perubahan budaya jabat tangan di kalangan dosen Politeknik Kridatama, yang awalnya berjabat tangan dengan saling menggenggam erat, kini berubah dengan menggunakan jabat tangan ala Sunda yaitu dengan meletakkan kedua tangan di dada sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, ada pula yang menggunakan salam siku yaitu dengan menyentuhkan siku pada siku dosen yang lain.Kata Kunci: budaya, jabat tangan, pandemi ABSTRACT The Covid-19 pandemic that broke out in Indonesia since March 2020 prompted the government to issue an appeal for people to limit activities outside the home to reduce the spread of the virus. In addition, people are urged to comply with health protocols when leaving the house, one of which is by avoiding shaking hands when meeting other people.This study aims to examine the changes in the handshake culture that occurred in lecturers at the Kridatama Polytechnic during the Covid-19 pandemic.The research method used is descriptive qualitative method with data collection techniques through interviews, documentation, literature study, and observation.The results showed that there was a change in the handshake culture among the lecturers of Kridatama Polytechnic which caused the lecturers to not have to touch each other\u27s hands when they met.The conclusion of this study is that the Covid-19 pandemic has made a change in the handshake culture among Kridatama Polytechnic lecturers, who initially shook hands with tight grasping, now changing to using a Sundanese handshake, namely by placing both hands on the chest while smiling and nodded their head, some used elbow greetings, namely by touching the elbow to the elbow of another lecturer.Keywords: Changes within behavior, handshake, pandemi
KESENIAN TERBANG GEDE DALAM TRADISI NGARAK PANJANG MULUD DI MASYARAKAT BANTEN
ABSTRACT The routine for the people of Banten, especially the Serang region, in commemoration of the birth of Prophet Muhammad S.A.W, was held in the tradition of “panjang mulud” or “ngeropok”. This tradition grew and developed in the community both in the villages, in umahan and in large events carried out by the local government. Panjang mulud with egg ornaments and other ornamentations at the front store of each house before being taken and paraded by the local community, it is said that according to the Serang community when participating in carrying out the Panjang Mulud tradition will get blessings. This activity is not solely for certain pleasures, but this activity is a form of gratitude to the Prophet as Muslims by giving alms. Keywords: Banten community routine in commemoration of the birth of the Prophet Muhammad SAW. ABSTRAK Rutinitas bagi masyarakat Banten khususnya wilayah Serang, dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W, di selenggarakan tradisi panjang mulud atau “ngeropok“. Tradisi ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik di kampung-kampung, di umahan maupun event besar yang di laksanakan pemerintah setempat. Panjang mulud dengan hiasan telur dan ornamentasi lainnya di simpan depan rumah masing-masing sebelum di ambil dan diarak oleh masyarakat setempat, konon menurut masyarakat Serang apabila ikut serta dalam melaksanakan tradisi panjang mulud akan mendapat keberkahan. Kegiatan ini bukan semata-mata untuk kesenangan tertentu saja, akan tetapi kegiatan ini merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Nabi sebagai umat muslim dengan cara bersedekah. Kata Kunci: Rutinitas masyarakat Banten dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW
COKEK SEBAGAI PENGARUH PENETRATION PASIPIQUE ETNIS TIONGHOA DI BETAWI
ABSTRACT Tionghoa ethnic becomes part of the formation of the Betawi community which also plays a role in the assimilation of Betawi culture. Cokek art is one of the results of the assimilation which is also part of the Betawi culture. The forms and functions of Cokek art that change from time to time are also influenced by the policies of the Jakarta City Government and the people who oppose them.The community does not only need to know about the changes in the shape and function of Cokek art from time to time, but also need to know how the cokek becomes part of the Betawi culture. This is related to the way in which new elements of culture enter the Betawi society from the standpoint of social anthropology.Based on the use of descriptive qualitative methods with interpretive points of view in the study, it is known that cokek is a penetration influence of Tionghoa ethnic pasipique in Betawi. Key words: Cokek, Penetration Pasipique, Tionghoa Ethnic, Betawi. ABSTRAK Etnis Tionghoa turut menjadi bagian dari pembentukan masyarakat Betawi yang juga berperan dalam asimilasi kebudayaan Betawi itu sendiri. Kesenian cokek merupakan salah satu hasil asimilasi tersebut yang juga menjadi bagian dari kebudayaan Betawi. Adapun bentuk dan fungsi kesenian Cokek yang berubah dari waktu ke waktu turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Kota Jakarta dan masyarakat penyanggahnya.Masyarakat tak hanya perlu mengetahui tentang perubahan bentuk dan fungsi kesenian Cokek dari waktu ke waktu, tetapi juga perlu diketahui cara Cokek menjadi bagian dari kebudayaan Betawi. Hal ini berhubungan dengan cara masuknya unsur kebudayaan baru dalam masyarakat Betawi dari sudut pandang antropologi sosial.Berdasarkan pemanfaatan metode kualitatif deskriptif dengan sudut pandang interpretif dalam penelitian, diketahui bahwa Cokek sebagai pengaruh penetration pasipique etnis Tionghoa di Betawi. Kata Kunci: Cokek, Penetration Pasipique, Etnis Tionghoa, Betawi