Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
    98 research outputs found

    SISTEM PEWARISAN BUDAYA PADA KESENIAN LONGSER GRUP PANCAWARNA DI DESA RANCAMANYAR KECAMATAN

    Full text link
    ABSTRAKSeni longser merupakan kesenian dengan jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Bandung. Pada awalnya, kesenian longser pertama kali diperkenalkan oleh seniman bernama Bang Tilil. Kiprahnya sebagai seniman longser, mampu menghasilkan beberapa grup seni longser di wilayah Bandung salah satunya, yaitu seni longser Grup Pancawarna yang dipimpin oleh Ateng Japar. Setelah Ateng Japar wafat, kesenian tersebut masih dilanjutkan oleh anggota grup atau penerusnya untuk dapat mempertahankan kesenian longser s ebagai warisan budaya. Sebagai salah satu usaha untuk dapat mempertahankan kesenian tersebut. Tulisan ini, merupakan deskripsi analisis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teori yang digunakan, yaitu teori pewarisan budaya. Temuan dari hasil penelitian yaitu, membahas hasil pola pewarisan budaya dari Ateng Japar sebagai pendiri grup Pancarwarna kepada para penerusnya. Proses pewarisan kesenian ini dilakukan menggunakan konsep enkulturasi dan sosialisasi. Ada beberapa aspek yang berubah dari proses pewarisan kesenian longser Pancawarna, aspek tersebut yaitu bentuk atau struktur pertunjukan.Kata Kunci: Kesenian Longser, Grup Pancawarna, dan Pewarisan BudayaABSTRACTLongser is one of popular arts that live within areas in West Java, particularly in a beautiful town called Bandung. The art of longser was firstly introduced by an artist, Bang Tilil. His performance as a longser artist had made some of group of longser art in the area, one of the most well known among people was called a group Pancawarna that was lead by Ateng Japar. Despite is death, he inspire other members of the group, which is also his successor, to continue preserving this longser art as a cultural heritage. This research is a descriptive analysis with qualitative approach, and using a theory of cultural inheritance. The research discovers the patterns resulted from a cultural inheritance that was passed down to the younger generation from Ateng Japar as the founder of Pancawarna group. This longser inheritance was passed down using the enculturation and socialization concepts. During this process, several aspects change slowly within the longser of Pancawarna group. Those aspects are longser’s forms or performing structures.Keywords: Longser, Pancawarna Group, Enculturation, Socialization, and Cultural Inheritance

    AKULTURASI BUDAYA PADA PERTUNJUKAN KESENIAN KOROMONG

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada kesenian Koromong dalam perubahan-perubahan yang disebabkan oleh adanya akulturasi budaya antara kepercayaan lokal dengan agama Islam sehingga dapat berdampingan. Akibat adanya akulturasi membuat beberapa aspek mengalami pembauran kedua unsur tersebut serta munculkan struktur baru dalam pertunjukan kesenian Koromong. Pandangan mengenai pemaknaan memberikan dua sudut yang berbeda sesuai dengan kepercayaan nya masing-masing. Penulisan ini hasil penelitian yang di deskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik lapangan yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan mendokumentasikan. Landasan teori dalam penelitian menggunakan teori akulturasi budaya dimana hasil dari penelitian lapangan dapat dipecahkan melalui teori ini. Kata Kunci: Akulturasi, Kesenian, Koromong, Kepercayaan dan Islam.  ABSTRACT This research study focuses on the art of Koromong in the changes that caused by the cultural acculturation between local beliefs and Islamic teachings in order to make them live coexisted. As a result of the acculturation, several aspects have experienced mixing of these two elements and have emerged into a new form which could be deflected in Koromong art peerformances. The meaning of this art performance could be seen in two different angles according to their respective beliefs.This study is the result of research that described by using qualitative methods. Field techniques are carried out through observation, interviews, and documenting. The theoretical foundation of research uses cultural acculturation theory where the results of field research can be solved through this theory. Keywords: Acculturation, Art, Koromong, Trust and Islam

    SENI LAGA KETANGKASAN DOMBA GARUT DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL DI DESA CIKANDANG KECAMATAN CIKAJANG KABUPATEN GARUT

    Full text link
    ABSTRAKSeni Laga Ketangkasan Domba Garut merupakan seni tradisi kearifan lokal budaya masyarakat Kabupaten Garut khususnya Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang Garut yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Namun, di balik kelestariannya Seni Laga Ketangkasan Domba Garut tidak luput dari pro dan kontra sebab kegiatan ini dianggap menyimpang. Dengan demikian, dari pro dan kontranya seni tradisi ini masyarakat Garut tetap memepertahankan dan melestarikannya secara perspektif struktural dan fungsional. Pokok masalahnya melahirkan pertanyaan penelitian tentang bagaimana struktur sosial dan fungsi sosial yang menyebabkan Seni Laga Ketangkasan Domba Garut dapat mempertahankan keberadaannya saat ini? Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan struktur dan fungsi masyarakat Seni Laga Ketangkasan Domba Garut dalam mempertahankan dan melestarikannya.Untuk menjawab inti pertanyaan tersebut, penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan sinkronik. Adapun teori yang digunakan yaitu teori struktural fungsional A.R Redcliffe Brown. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Seni Laga Ketangkasan Domba Garut merupakan seni tradisi yang menjadi warisan budaya masyarakat yang ditunjang kelestariannya oleh struktur sosial dan fungsi sosial masyarakat peternak Desa Cikandang Kecamatan Cikajang Garut.Kata kunci: Seni Laga Ketangkasan Domba Garut, struktur sosial, fungsi sosial, perspektif struktural fungsional.ABSTRACTDexterity fight art of Garut’s Sheep is an ancient traditional art that born from garut city, especially in cikandang village, cikajang district that still conserve this culture. But beyond its sustainability, Dexterity fight art of Garut’s Sheep is not excluded from pros and cons. Because this activity is consodered as diverge. So, from this pros and cons people of garut still preserve in structural perspective and functional. The main problem giving us a question about how social structure and social function that caused Dexterity fight art of Garut’s Sheep can maintain its exsistence right now? The purpose of this research is for explaining structure and public function Dexterity fight art of Garut’s Sheep in maintain and conserve.For answer that main question, this research using descriptive qualitative research metode. Approach of this research is using syncronic approach. There is also theory that used such as A. R. Redcliffe Brown functional structure. A result from this research can be concluded that Dexterity fight art of Garut’s Sheep can be a cultural heritage supported its sustainability by social structure and public social function of people of cikandang village from cikajang district.Keywords: Dexterity fight art of Garut’s Sheep, social structure, social function, functional structure perspective

    SENI DIGITAL WISATA TEKNOLOGI AR PASUA PA BERBASIS KEARIFAN LOKAL

    Full text link
    ABSTRAKIndonesia memiliki beragam potensi alam, seni, budaya, pendidikan, kuliner, sejarah, teknologi, dan religi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik utama wisata. Tulisan ini merupakan hasil penelitian Konsorsium Kemenristekdikti dengan mengangkat seni tradisi dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, ISBI Papua, dan ISBI Aceh. Penelitian ini menerapkan teknologi Augmented Reality (AR) pada kesenian yang ada di Papua, Sunda, dan Aceh (PASUA) sebagai Performent Art (PA), sehingga seni wisata digital ini menjadi sebuah produk karya seni budaya AR Pasua PA, yang secara khusus menggarap perkembangan seni tradisi sebagai kearifan lokaldalam perkembangan seni digital sebagai salah satu bentuk pengemasan seni wisata.Potensi seni digital AR Pasua PA cukup menarik menjadi salah satu asset wisata devisa non migas yang perlu ditingkatkan pengelolaan dan pemberdayaannya. Oleh karena itu, kesiapan pembuatan AR Pasua PA dalam pengembangan wisata seni digital masih perlu ditingkatkan di era industri 4.0 berbasis kearifan lokal. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk memetakan zonasi pengembangan pariwisata yang sesuai dengan karakter masyarakat wilayah Timur dari Papua, selanjutnya Tengah dari Sunda, dan Barat dari Aceh, seperti perjalanan matahari dari terbit di Tanah Papua , selanjutnya bersinar di Tanah Parahyangan , dan akhirnya terbenam di Serambi Aceh. Analisis sistem pengembangan pariwisata berbasis seni digital diterapkan di Perguruan Tinggi Seni di Indonesia, sehingga perlu dilakukan tercipta model AR Pasua PA dalam pengembangan dan pengelolaan wisata berbasis teknologi augmented reality. Hasil penelitian yang diharapkan adalah terciptanya sebuah model pengembangan pariwisata seni digital yang terpadu berbasis kearifan lokal, khususnya Papua, Sunda, dan Aceh, yang dapat diterapkan di seluruh PT Seni di Indonesia, khususnya di wilayah ISBI Bandung, ISBI Papua, dan ISBI Aceh.Kata kunci: wisata seni digital, teknologi augmented reality, kearifan lolal.ABSTRACTSIndonesia has a variety of natural, artistic, cultural, educational, culinary, historical, technological and religious potentials that can be developed as the main tourist attraction.This paper is the result of a research by the Consortium of the Ministry of Research, Technology and Higher Education (Kemenristekdikti) by bringing up traditional arts from the Indonesian Cultural Arts Institute (ISBI) Bandung, ISBI Papua, and ISBI Aceh. This study applies Augmented Reality (AR) technology to arts in Papua, Sunda and Aceh (PASUA) as Performance Art (PA), so that this digital tourism art becomes a product of AR Pasua PA cultural art, which specifically works on the development traditional art as local wisdom in the development of digital art as a form of tourist art packaging.The potential of AR Pasua PA digital art is quite interesting being one of the non-oil and gas foreign exchange tourism assets that needs to be improved in its management and empowerment. Therefore, the readiness to make AR Pasua PA in the development of digital art tourism still needs to be improved in the er

    FUNGSI SOSIAL DARI RITUAL MIASIH BUMI NAGARA PADANG BAGI MASYARAKAT KAMPUNG TUTUGAN DESA RAWABOGO KECAMATAN CIWIDEY PROVINSI JAWA BARAT

    Full text link
    ABSTRAK Ritual miasih bumi nagara padang berawal dari ritual hajat bumi yang dilaksanakan di sirah cai berecek, namun saat ini sirah cai berecek sudah tidak berfungsi lagi sebagai mata air. Sesepuh Padepokan Nagara Padang yaitu Abah Undang mengembangkan kembali ritual tersebut dari beberapa ritual sebelumnya, terlebih desa Rawabogo sudah ditetapkan menjadi desa wisata. Maka dari itu apakah ritual miasih bumi nagara padang mempunyai fungsi sosial atau fungsi lain. Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme Malinowski dan menggunakan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan untuk menentukan keabsahanya peneliti menggunakan triangulasi. Dalam hal ini kajian peneliti tidak menemukan fungsi sosial, namun peneliti menemukan fungsi lain dari ritual miasih bumi nagara padang. Teori yang digunakan tidak relevan, peneliti menemukan bahwa ritual miaisih bumi nagara padang berfungsi bagi pengembangan pariwisata yang berdampak pada masyarakat setempat. Kata kunci: Miasih Bumi Nagara Padang, Sirah Cai Berecek, Fungsi Sosial, Desa Wisata.  ABSTRACT The ritual of Miasih Bumi Nagara Padang starts from the ritual of Hajat Bumi which was carried out in sirah cai berecek, but now sirah cai berecek has no longer functioned as a spring. The Padepokan Nagara Padang’s elder, Abah Undang, rebuilt the ritual from a number of previous ritual, moreover, the Rawabogo village has been designated as a tourist village. So, The ritual of Miasih Bumi Nagara Padang has social functions or other functions. This study uses Malinowski\u27s functionalism theory and qualitative methods. Data collected by observations, interviews, documentation, and to determine the validity of researchers using triangulation. In this case the study of researchers did not find social function, but researcher found other functions of the ritual of Miasih Bumi Nagara Padang. The theory that has been used is irrelevant, researchers found that the Miasih Bumi Nagara Padang ritual serves for the development of tourism which has an impact for the local community. Keywords: Miasih Bumi Nagara Padang, Sirah Cai Berekek, Social Function, Tourism Village

    FENOMENA MALIM DALAM TRADISI SENI KUDA LUMPING

    Full text link
    ABSTRACT  Kuda Lumping art performance is seen as a reality of cultural arts that is dense with mystical cultural traditions. The show takes the form of helaran which features Kuda Lumping dance accompanied by tetabuhan music that reinforces the sacred nuances as its trademark. The presence of a Malim in the performance of Kuda Lumping, is seen as a central role that controls the performance of the show. Malim acts as a person who is able to communicate transcendently using his spells. This was an attempt to invite the spirits to enter together with the spirit of the player Kuda Lumping to become possessed (trance).This paper is a form of scientific description of the results of a field study using descriptive analysis methods as one of the characteristics of qualitative research. The approach uses phenomenological studies as an effort to elevate the cultural reality surrounding the tradition of performing Kuda Lumping art. The object studied was taking samples of Malim figures who were considered representative with the depth of their knowledge and experience while becoming Malim Kuda Lumping. Research in the form of a description of this analysis will eventually become a scientific article that can be published in scientific journals.  Keywords: Malim, Kuda Lumping, Kasurupan and Transcendent.  ABSTRAK             Pertunjukan seni Kuda Lumping dipandang sebagai sebuah realitas seni budaya yang kental dengan tradisi budaya mistisnya. Pertunjukannya berbentuk helaran yang menampilkan tarian Kuda Lumping dengan diiringi musik tetabuhan yang mempertegas nuansa sakral sebagai ciri khasnya. Kehadiran seorang Malim dalam pertunjukan Kuda Lumping, dipandang sebagai peran sentral yang mengendalikan jalannya pertunjukan. Malim berperan sebagai sosok yang mampu berkomunuikasi secara transenden dengan menggunakan mantra-mantranya. Hal tersebut sebagai upaya mengundang roh halus untuk masuk menyatu dengan roh si pemain Kuda Lumping hingga menjadi kerasukan (trans).Tulisan ini merupakan bentuk deskripsi ilmiah hasil dari sebuah penelitian lapangan dengan menggunakan metode deksripsi analisis sebagai salah satu ciri bentuk penenlitian kualitatif. Adapun pendekatannya menggunakan studi fenomenologi sebagai sebuah upaya mengangkat realitas budaya yang terdapat di seputar tradisi pertunjukan seni Kuda Lumping. Objek yang dikaji adalah mengambil sampel tokoh Malim yang dianggap representatif dengan kedalaman ilmu dan pengalamannya selama menjadi Malim Kuda Lumping. Penelitian dalam bentuk deskripsi analisis ini, pada akhirnya akan dijadikan artikel ilmiah yang dapat dimuat di jurnal ilmiah.  Kata Kunci: Malim, Kuda Lumping, Kasurupan dan Transenden

    FOLKLOR CANDI CANGKUANG: DESTINASI WISATA BERBASIS BUDAYA, SEJARAH, DAN RELIGI

    Full text link
    ABSTRACT West Java has a variety of cultural, historical and religious potential that can be developed as the main tourist attraction, especially in Cangkuang Temple, Leles District, Garut Regency. Cangkuang Temple is one form of non-verbal folklore (artifact) inherited from two religions, namely Hinduism and Islam. The relics of Hinduism are the statue of Lord Shiva which is thought to date from the VIII century and the relics of Islam originated in the seventeenth century with the remains of the tomb of the Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. The potential of Cangkuang Temple is quite interesting as one of the non-oil and gas foreign exchange tourism assets that needs to be improved in its management and empowerment. Therefore, the readiness of the Kampung Pulo community in developing tourism based on culture, history and religion still needs to be improved. Unpreparedness can be seen from the form of tourism development in each segment that has not been holistic and has not yet synergized with each other, regardless of the socio-cultural diversity of each, as well as the unclear market segments that will be targeted for development. Thus it is necessary to conduct research that aims to map the zoning of tourism development in accordance with the character of the community in the Garut Regency region. Analysis of the system of tourism-based development of culture, history, and religion that is suitable to be applied in the region also needs to be done in order to create an ideal model in tourism development and management in the Garut Regency region. The expected research results are the creation of an integrated tourism development model based on culture, history, and religion that can be applied in West Java, especially the Cangkuang Temple area. Keywords: Tourism Zoning, Cultural Tourism, Historical Tourism, Religious Tourism, Cangkuang Temple.  ABSTRAK Jawa Barat memiliki beragam potensi budaya, sejarah, dan religi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik utama wisata, khususnya di Candi Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi Cangkuang adalah salah satu bentuk folklor bukan lisan (artefak) peninggalan dari dua agama, yaitu Hindu dan Islam. Peninggalan agama Hindu adalah patung Dewa Siwa yang diperkirakan berasal dari abad VIII dan peninggalan agama Islam berasal dari abad XVII dengan adanya peninggalan makam dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Potensi Candi Cangkuang cukup menarik menjadi salah satu asset wisata devisa non migas yang perlu ditingkatkan pengelolaan dan pemberdayaannya. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat Kampung Pulo dalam pengembangan wisata berbasis budaya, sejarah, dan religi masih perlu ditingkatkan. Ketidaksiapan dapat terlihat dari bentuk pengembangan pariwisata masing-masing segmen yang belum holistik dan belum sinergi satu sama lain, tanpa memperhatikan keragaman socio-cultural masing-masing, serta adanya ketidakjelasan segmen pasar yang akan dijadikan sasaran pengembangannya. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memetakan zonasi pengembangan pariwisata yang sesuai dengan karakter masyarakat wilayah Kabupaten Garut. Analisis sistem pengembangan pariwisata berbasis budaya, sejarah, dan religi yang sesuai diterapkan di kawasan tersebut juga perlu dilakukan agar tercipta model yang ideal dalam pengembangan dan pengelolaan wisata di wilayah Kabupaten Garut. Hasil penelitian yang diharapkan adalah terciptanya sebuah model pengembangan pariwisata yang terpadu berbasis budaya, sejarah, dan religi yang dapat diterapkan di Jawa Barat, khususnya wilayah Candi Cangkuang. Kata Kunci: Zonasi Wisata, Wisata Budaya, Wisata Sejarah, Wisata Religi, Candi Cangkuang

    ANALISIS LIMINALITAS PADA UPACARA NYAWEN DAN MAHINUM DI DUSUN SINDANG RANCAKALONG SUMEDANG

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian skripsi dengan judul “Analisis Liminalitas dalam Upacara nyawen dan mahinum di Dusun Sindang Rancakalong Sumedang” bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa ritual nyawen dan mahinum menggunakan teori Liminalitas. Dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan data sesuai fakta-fakta yang ada. Dalam penelitian ini menggunakan teori Liminalitas Victor Turner yang menjadi landasan untuk menganalisis. Data yang dikumpulkan berupa data hasil observasi, wawancara, studi pustaka yang terdiri dari buku, jurnal dan skripsi yang menunjang serta dokumentasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan data mengenai ritual yang dilakukan pada masa kehamilan dan kelahiran yang dilakukan merupakan sarana untuk mendapatkan keselamatan semasa kehamilan hingga kelahiran bayinya. Begitu pula teori yang diajukan terdapat kemiripan sehingga masih relevan dengan studi kasus yang terjadi sekarang ini. Kata kunci: ritual, nyawen, mahinum.  ABSTRACT This research is about “Analysis of nyawen and mahinum ceremony in Sindang village of Rancakalong, Sumedang” was conducted with the aim of describing and analyzing the ritual of nyawen and mahinum using the theory of liminality. The analysis of this research was conducted using qualitative descriptive methods in accordance with the fact. The theory that used for this research is the theory of liminality from Victor Tuner. The data that has been collected by observation, interviews, documentation, and literature studies of related books, journals and thesis. The results of this study tells about the ritual that carried out during pregnancy and birth which are mean to get safety during pregnancy until the birth of her baby. The proposed theory has similarities, so it’s still relevant to the case studies that are happening now. Keywords: rituals, nyawen, mahinum

    98

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Budaya Etnika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇