Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
    98 research outputs found

    KETAHANAN HIDUP MASYARAKAT KAMPUNG ADAT CIRENDEU DALAM PERSPETIF ANTROPOLOGIS

    Full text link
    ABSTRACT A portrait of the life of the Cireundeu Indigenous Village community located in Cimahi City, 15 km from the city of Bandung, is a corner of a cultural phenomenon that is unique to its variety of customs and traditions. The habit of the people in this village is unique, because the staple food is not rice as other communities around it. They also have strong environmental management procedures, spatial concepts, and customary rules, especially in regional development, patterns of diversification of food, staple food, and other activities that are strictly adhered to from generation to generation. The staple food of this community is rasi (cassava rice). This research was carried out by observing the patterns of consumption and food production in the Cireundeu Indigenous Village Community in the efforts of local food security, as well as analyzing the strengthening and weakening factors related to food self-sufficiency in the village. The method used is the primary survey with observation, interviews with traditional leaders, distributing questionnaires to 36 local respondents. Other analytical methods are spatial analysis and calculation of food deficit surplus. The Research results show that Cireundeu Indigenous Village Wisdom contributes to good food self-sufficiency and diversification with sufficient numbers and even a food production surplus, the follow-up of food self-sufficiency is the growth of the local economy based on local raw materials, food independence, and the growth of home industries and tourism activities. Keywords: Cireundeu Local Culture, Ancestral Traditions, Food Self-Sufficiency.  ABSTRAK             Potret kehidupan  masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang berlokasi di Kota Cimahi, berjarak 15 km dari Kota Bandung, adalah sebuah sudut fenomena budaya yang memiliki keunikan dengan ragam adat dan tradisinya. Kebiasaan masyarakat di kampung ini terbilang unik, karena makanan pokoknya bukan nasi sebagaimana masyarakat lain di sekitarnya. Mereka juga memiliki tata cara pengelolaan lingkungan, konsep tata ruang, dan aturan adat yang cukup kuat, khususnya dalam pembangunan kawasan, pola diversifikasi pangan, makanan pokok, dan kegiatan lainnya yang ditaatinya secara ketat secara turun temurun. Makanan pokok masyarakat ini adalah rasi (beras singkong). Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap pola konsumsi dan produksi pangan pada Masyarakat Kampung Adat Cireundeu dalam upaya ketahanan pangan lokal, serta melakukan analisis  terhadap faktor-faktor yang menguatkan dan melemahkan terkait swasembada pangan di kampung tersebut. Metode yang dilakukan yaitu survei primer dengan observasi, wawancara dengan tokoh adat, penyebaran kuesioner kepada 36 responden lokal. Metode analisis lainnya adalah analisis tata ruang dan perhitungan surplus defisit pangan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Kearifan Budaya Lokal Kampung Adat Cireundeu memiliki kontribusi terhadap swasembada dan diversifikasi pangan yang baik dengan angka kecukupan bahkan surplus produksi pangan, kegiatan ikutan dari swasembada pangan ini adalah tumbuhnya ekonomi lokal berbasis bahan baku setempat, kemandirian pangan, dan tumbuhnya industri rumahan serta kegiatan pariwisata.Kata Kunci: Budaya Lokal Cireundeu,Tradisi Leluhur,  Swasembada Pangan

    KIPRAH NANANG SUHARA DI DUNIA WAYANG GOLEK

    Full text link
    ABSTRAKSkripsi ini adalah hasil penelitian tentang Kiprah Nanang Suhara Di Dunia Wayang Golek. Nanang Suhara berkiprah di Kampung Kreatif Dago Pojok, Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Bandung. Adapun penelitian ini melibatkan sejumlah narasumber khususnya narasumber utama yaitu Nanang Suhara dan beberapa narasumber sekunder yakni Rahmat Jabaril, Sutina, Mang Udin, dan Ika Ismurdyahwati. Masalah inti yang diangkat dilatarbelakangi oleh keberhasilan Nanang Suhara di dalam menata, memberdayakan potensi masyarakat yang ada di Dago Pojok, dan mengembangkan potensi Kampung Kreatif Dago Pojok sebagai salah satu aset wisata di kota Bandung. Pertanyaan penelitian yang dikemukakan adalah (1) Bagaimana Kiprah Nanang Suhara di Kampung Kreatif Dago Pojok?.Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, penulisan akan dianalisis dengan menggunakan teori motivasi atau kebutuhan dasar dari Abraham Maslow dengan metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif dan pendekatan fenomenologis. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Proses analisis data dilakukan melalui reduksi data, display data, dan konklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nanang Suhara berperan aktif di dalam membangun, menata, dan mengembangkan Kampung Kreatif Dago Pojok. Melalui kiprahnya di Kampung Kreatif di Dago Pojok, kampung ini semakin hari semakin berkembang dan banyak dikunjungi oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Faktor pendorong di dalam upaya ini berupa faktor-faktor yang muncul dari dalam (bersifat intern) dan dari luar (bersifat ekstern). Faktor-faktor ini pada dasarnya menjadi stimulus terhadap perkembangan Kampung Kreatif di Dago Pojok. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada pihak terkait agar Kampung Kreatif di Dago Pojok ini mendapat perhatian yang serius untuk keberlangsungannya di masa yang akan datang.Kata Kunci: Kiprah, Wayang Golek, Kampung Kreatif Dago Pojok.ABSTRACTThis thesis is the result of the research Nanang Suhara in the Wayang Golek world. Nanang Suhara is aactive in Dago Pojok Creative Village, Dago village, Coblong District, Bandung. The main resourche persons are Nanang Suhara and several secondary sources is Rahmat Jabaril, Sutina, Mang Udin, and Ika Ismurdyahwati. The core problem raised was motivated by the success of Nanang Suhara in managing, empowering the potential of the people in Dago Pojok, and developing the potential of Kampung Kreatif Dago Pojok as one of the tourism assets in Bandung city. The research questions raised are (1) How is the Way of Nanang Suhara in Wayang Golek? To answer these two questions, the writing will be analyzed by using the theory of motivation or basic needs from Abraham Maslow with research methods namely qualitative descriptive and phenomenological approaches. The data collection is done through observation, interviews, and document analysis. The process of data analysis is done through data reduction, data display, and conclusion. The results showed that Nanang Suhara are active role in developing, managing and developing Kampung Kreatif Dago Pojok. Through his work in Kampung Kreatif Dago Pojok, this place is increasingly growing and visited by many domestic and foreign tourists. The driving factors in this effort are arise from within internal and external. These factors basically become a stimulus for the development of Kampung Kreatif in Dago Pojok. Based on the results of the study was suggested to related parties that the Kampung Kreatif Dago Pojok should get serious attention for sustainability in the future.Keywords: Gait, Wayang Golek, Dago Corner Creative Village

    EKSISTENSI SENI PATUNG ARBY SAMAH DARI REALIS KE ABSTRAK

    Full text link
    ABSTRACT The study was intended to comprehend the tendency of Arby Samah sculpture artwork from a realist to an abstract form, and to discuss the existence of Arby Samah in sculpture artwork until he decided to settle in his hometown of West Sumatra. This study uses qualitative methods namely observation, interviews and documents. the theory used refers to the opinions of Kartodirdjo, Becker, and Zolberg.Arby Samah continued his education at ASRI Yogyakarta in 1953 majoring in sculpture. In 1957 Arby Samah made a sculpture called abstract sculpture, the form of abstract at that time had not yet appeared so Arby Samah was known as a pioneer of abstract sculpture in Indonesia. After graduating from college Arby decided to work as an employee at the Yogyakarta army museum, and worked as a civil servant in Jakarta and returned to West Sumatra\u27s hometown working at the Ministry of Education and Culture. During his time as a civil servant his career as a sculptor began to disappear so Arby Samah in the eyes of his friends was considered lost in the development of sculpture in Indonesia. Keywords: Arby Samah, Experiment, Career, Sculpture.  ABSTRAK Penelitian dimaksudkan untuk memahami kecenderungan Arby Samah berkarya patung dari bentuk realis ke abstrak, serta  membahas eksistensi Arby Samah berkarya patung sampai memutuskan menetap di kampung halamannya Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara dan dokumen. teori yang digunakan merujuk kepada pendapat Kartodirdjo, Becker, dan Zolberg.Arby Samah melanjutkan pendidikannya ke ASRI Yogyakarta tahun 1953 mengambil minat seni patung. Pada tahun 1957 Arby Samah membuat bentuk patung yang dinamakan patung abstrak, bentuk abstrak waktu itu belum muncul sehingga Arby Samah dikenal sebagai pelopor patung abstrak di Indonesia. Setelah metamatkan kuliah Arby memutuskan bekerja pegawai di museum angkatan darat Yogyakarta, dan bekerja sebagai PNS P&K Jakarta dan kembali ke kampung halaman Sumatera Barat bekerja di DEPDIKBUD. Selama menjadi pegawai negeri karirnya sebagai pematung mulai hilang sehingga Arby Samah di mata teman-temannya dianggap hilang dalam perkembangan seni patung di Indonesia. Kata Kunci: Arby Samah, Eksperimen, Karir, Seni Patun

    MENYOAL TENTANG DAYA EKSPRESI GARAP PERTUNJUKAN SEORANG DALANG DALAM UPAYA MEMBANGUN KOMUNIKASI ESTETIK PADA PERTUNJUKAN WAYANG GOLEK

    Full text link
    ABSTRACT             This paper discusses the question of the aesthetic realm in the art of puppetry, all of which can be found in the role and position of a dalang with the process and the stages of his work. This paper is also part of the dissertation which became new findings in the study of aesthetics of Sundanese puppetry. Therefore in his dalm contains explanations about the aesthetic trinkets that are present in the form of expression work on a puppeteer. The method uses a multi-disciplinary aesthetic phenomenology as an attempt to enrich the description, analyzing how to conclude the end result of the study. One of the approaches used as a scalpel is, photographing the aesthetic phenomenon related to the realm of art communication within the scope of the Sunda puppet show. Keywords: Expression Work, Aesthetic Communication, Concept “Nyari”.  ABSTRAK Tulisan ini membahas persoalan ranah estetika dalam seni pedalangan yang kesemuanya dapat dijumpai pada peran dan kedudukan seorang dalang dengan proses dann tahapan berkaryanya. Tulisan ini pun merupakan bagain dari disertasi yang menjadi temuan baru dalam telaah estetika pedalangan Sunda. Oleh karena itu di dalmnya memuat penjelasan tentang pernak-pernik estetika yang tersajikan dalam bentuk ekspresi garap pertunjukan seorang dalang. Metode pendekatanya menggunakan studi fenomenologi estetik yang bersifat multidisiplin sebagai upaya memperkaya pendeskripsian, penganalisisan hinga menyimpulkan hasil akhir penelitian. Salah satu pendekatan yang dijadikan pisau bedahnya adalah, memotret fenomena estetik yang berkaitan dengan ranah komunikasi seni dalam ruang lingkup pertunjukan wayang golek Sunda. Kata Kunci: Ekspresi Garap, Komunikasi Estetik, Konsep “Nyari

    Harapan dan Tantangan Entrepreneur di Kota Palu

    Full text link
    ABSTRACT This paper begins with the phenomenon of the development of Young Entrepreneurs in the City of Palu which continues to develop both in terms of the number and type of business involved. The development of technology, easily accessible information flows and adequate infrastructure are supporting factors for the growth of the creative economy which is fronted by Entrepreneurs, espe-cially in Palu City. In the midst of the development of the creative economy, the hopes of young En-trepreneurs are tucked into building and advancing their efforts and challenges. Especially now that more and more competition and technology has become increasingly sophisticated, therefore as an Entrepreneur, it is required to try to create and innovate and also to be creative in doing everything so that our business continues to run smoothly as expected and desired. Keywords: Expectations, Challenges, Entrepreneurs and Young Entrepreneurs  ABSTRAK Tulisan ini bermula dengan fenomena berkembangnya Entrepreneur Muda di Kota Palu yang terus mengalami perkembangan baik dari segi jumlah maupun jenis bisnis yang digeluti. Perkem-bangan teknologi, arus infomasi yang mudah diakses serta infrastruktur yang memadai merupakan faktor penunjang tumbuhnya ekonomi kreatif yang digawangi oleh para Entrepreneur khususnya di Kota Palu. Di tengah perkembangan ekonomi kreatif, terselip harapan para Entrepreneur muda da-lam membangun dan memajukan usaha mereka serta tantangan. Apalagi sekarang ini makin banyaknya persaingan dan teknologi sudah semakin canggih, maka dari itu sebagai wirausaha dituntut harus berusaha menciptakan dan berinovasi dan juga harus kreatif dalam melakukan segala hal agar usaha kita tetap berjalan lancar sesuai yang diharapkan dan diinginkan. Kata Kunci: Harapan, Tantangan, Entrepreneur dan Entrepreneur Mud

    MITOS DI KAMPUNG PULO DAN CANDI CANGKUANG KECAMATAN LELES KABUPATEN GARUT

    Full text link
    ABSTRACT The Pulo’s village, is a custom’s village, place at Leles district, Garut regent’s, as a culture pledge tourism destination, have many uniqueness and special mythology, must obedient by his resident also by visitors. Is custom’s village can for a culture lab who appreciated his local genius value used for large society?Using short survey and limited supervision, and interview, got the result, truly the result was writed by researcher and surveyer before. Difference with visite the student and lecturer of ISBI Bandung, in mereover action basicly on the culture theories about custom village and his mythology.The result is Pulo’s village as a custom village, have some tradisional and mythology melted with paith as muslims, so that became syncretism between tradisional dan religi. Among bumpy mythologies is don’t visit wednesday; don’t have an affair with in pledge location; costum house don’t more six houses and one mosque; don’t take care of big animals four’s leg; don’t play on the goong. Beside invention about mithology, we are also see many people pray in front of the holy grave Lord Arief Muhammad who faithed full of mercy and holiness, of course all desire on the heart will be accepted. The collision on mithology will bring disaster, according to the testimony became real, among other things, tornados, suddenly rain and lightning, etc. Thing that can so as right or just right, like that according to Mr. Zaki Munawar as an officer in charge culture pledge at Pulo’s village. Keywords: Cangkuang, Myth, Sincretic.  ABSTRAK Kampung Pulo adalah kampung adat, berlokasi di kecamatan Leles, kabupaten Garut adalah destinasi wisata cagar budaya yang memiliki keunikan dan mitos tersendiri, yang harus ditaati oleh penduduk setempat juga harus diikuti oleh para pengunjung. Apakah kampung adat dapat dijadikan lab budaya yang dapat diapresiasi nilai-nilai kearifan lokalnya sehingga dapat dihayati dan dimanfaatkan untuk masyarakat yang lebih luas? Melalui survey singkat dan pengamatan terbatas, serta wawancara, maka diperoleh hasil, yang sesungguhnya hasil ini sudah banyak ditulis oleh para peneliti dan pengamat terdahulu. Perbedaan dengan kunjungan mahasiswa dan dosen antropologi budaya ISBI Bandung terletak pada tindakan kajian lebih lanjut berdasar teori-teori budaya tentang kampung adat dan mitologinya.Hasilnya adalah Kampung Pulo sebagai kampung Adat memiliki beberapa tradisi dan mitos yang larut dengan kepercayaan sekarang sebagai pemeluk agama Islam, sehingga terjadi semacam sinkretik antara tradisi dan agama. Di antara mitos yang menonjol antara lain: jangan berkunjung pada hari rabu; jangan berpacaran di lokasi cagar, rumah adat tidak boleh lebih dari enam rumah dan satu mesjid, jangan memelihara hewan besar berkaki empat, jangan menabuh goong. Di samping temuan tentang mitos, tersaksikan pula banyak pengunjung berdoa di depan makam Embah Dalem Arief Muhammad yang diyakini penuh barokah dan karomah, niscaya segala keinginan yang diangankan bakal terkabul.Pelanggaran terhadap mitos bisa membawa bencana, yang konon sudah terbukti antara lain, ada angin ribut, tiba-tiba hujan-petir, tiba-tiba putus cinta, dan sebagainya. Hal itu bisa jadi ‘kebetulan’ atau bisa jadi ‘betulan’ demikian menurut Zaki Munawar petugas di cagar budaya Kampung Pulo. Kata Kunci: Cangkuang, Mitos, Sinkreti

    STRUKTUR DAN FUNGSI PEMBERIAN ULOS PADA PERNIKAHAN ETNIK BATAK TOBA DI KOTA BANDUNG

    Full text link
    oai:ojs2.ojs.isbi.ac.id:article/1119ABSTRAKUpacara pernikahan etnik Batak Toba, merupakan kegiatan upacara adat yang menjalani prosesi sangat panjang. Upacara ini, dilakukan oleh masyarakat etnik Batak Toba baik yang menetap di provinsi Sumatera Utara maupun yang sudah tidak menetap di wilayah tersebut. Salah satu kota tujuan perantauan yang masih menggelar upacara pernikahan Etnik Batak Toba, yaitu Kota Bandung. Masyarakat Entik Batak Toba yang bermukim di Kota Bandung selalu menerapkan adat istiadatnya dalam kelangsungan hidupnya. Dalam pernikahan tersebut, terdapat adanya peranan ulos sebagai suatu simbol yang penuh akan makna. Pemberian ulos sangatlah penting dan merupakan suatu keharusan, ulos tersebut tidak sembarang orang yang memberikannya, melainkan sesuai dengan hubungan kekerabatan dari kedua mempelai dan pihak keluarga mempelai.Tulisan ini, merupakan deskripsi analisis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teori yang digunakan, yaitu strukturalisme fungsionalisme Radcliffe Brown. Penelitian ini, bertujuan untuk menggali stuktur sosial yang ada pada pemberian ulos dan fungsi pemberian ulos pada pernikahan masyarakat etnik Batak Toba di Kota Bandung.Kata kunci: Ulos, Pemberian Ulos, Struktur, dan FungsiABSTRACTBatak Toba’s Wedding Ceremony, is a long processed custom ceremony. This is done by the people of Toba either lived in North Sumatera or anywhere else outside. One of the province abroad that still uses this tradition is in Bandung. The people of Batak Toba which stayed in Bandung always apply this tradition in their daily life activities. On the wedding, there are ulos that used as one of the meaningful symbol towards the ceremony. The present of ulos are very crucial and it has to be done by either one with relation to the bride or groom’s family.This research, is an analysis research towards the material by using qualitative method. As for the theory, the writer uses Radcliffe Brown functional structuralism theory. This research is done to get a knowledge about the social structure found in the presenting the ulos and the function of ulos in the Batak Toba Ethnics wedding ceremony in Bandung.Keywords: Ulos, Presenting of Ulos, Structure and functio

    RITUAL NUMBAL DALAM UPACARA RUWATAN BUMI DI KAMPUNG BANCEUY-SUBANG (Kajian Liminalitas)

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat kedudukan ritual numbal dalam posisisnya dari keseluruhan upacara ruwatan bumi. Hal tersebut menyebabkan penulis berkeinginan untuk mengkaji mengenai ritual numbal dengan permasalahan sebagai berikut: 1) bagaimana memahami ritual numbal yang terdapat dalam upacara ruwatan bumi sebagai tinjauan gejala liminalitas?. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif, dengan mengambil lokasi di Kampung Banceuy Desa Sanca Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non partisipan, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner, masyarakat Kampung Banceuy mengalami kegelisahan yaitu “taun kolot kudu dingorakeun deui” (Tahun tua harus dimudahkan kembali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Ritual numbal dapat mengatasi kekhawatiran masyarakat Kampung Banceuy, 2) ritual numbal memiliki kedudukan yang penting yaitu sebagai inti dari pelaksanaan upacara ruwatan bumi. Kata Kunci: Numbal, Ruwatan, liminalitas  ABSTRACTThis research aims to see the position of numbal ritual in its position on the entire Ruwatan Bumi ceremony. This causes the writer wishes to study the numbal ritual with the following problems: 1) how to understand the numbal ritual contained in the Ruwatan Bumi ceremony as a review of the symptoms of liminality. The method that been used in this research is a qualitative method, located in Banceuy Village, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency. The techniques that been used to collect data in this research were non-participant observation, unstructured interviews, and documentation. The analysis that been used in this research are as follows: 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) conclusion. This research used the theory of liminality from Victor Turner, the people of Kampung Banceuy are having a concern of “taun kolot kudu dingorakeun deui” the (Old years must be made young again). The results showed that, 1) numbal ritual can overcome the concern of the people of Kampung Banceuy, 2) numbal ritual has an important position as the core of the Ruwatan Bumi ceremony. Keywords: Ritual, Ruwatan Bumi, Liminalit

    AKULTURASI DAN PERUBAHAN BUDAYA RITUAL MISALIN DI CIMARAGAS, CIAMIS

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini tentang akulturasi dan perubahan kebudayaan ritual misalin di Cimaragas, Ciamis. Informasi bersumber pada sejumlah informan seperti juru kunci, panitia pelaksana, budayawan Ciamis, sejarawan Ciamis dan masyarakat. Indikator menunjukkan akulturasi dan perubahan budaya akibat percampuran beberapa unsur kebudayaan. Pertanyaan penelitian pada budaya apa saja yang berakulturasi dan apa saja bentuk perubahan budaya dalam ritual misalin. Beberapa teori yang dirujuk di antaranya teori akulturasi dan perubahan kebudayaan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, studi lapangan dan wawancara terstruktur. Proses analisa data dilakukan melalui reduksi data dan konklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual misalin merupakan ritual bernuansa Islam yang tanpa disadari di dalamnya terdapat berbagai pengaruh unsur kebudayaan di luar Islam. Pengaruh-pengaruh tersebut kemudian berakulturasi sehingga membentuk satu kesatuan yang nyaris tidak dapat dipisahkan dalam ritual misalin. Selain itu, dalam ritual ini perubahan budaya terjadi pada beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut kemudian membentuk proses ritual misalin yang terlihat di masa kini. Adanya upaya pemerintah dalam melegalkan kegiatan secara administratif dan pembinaan kebijakan dan pendanaan serta dukungan dari masyarakat merupakan faktor pendorong yang berperan penting dalam pelestarian Misalin. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar tetap mendukung dan menjaga Ritual Misalin sebagai salah satu aset budaya yang dibanggakan secara kontinyu dan berkesinambungan. Kata Kunci: Ritual Misalin, Akulturasi, Perubahan Budaya.  ABSTRACTS This research is about the acculturation and cultural changes of misalin rituals in Cimaragas, Ciamis. The information was sourced from a number of informants such as caretakers, executive committees, Ciamis cultural experts, Ciamis historians and the society of Ciamis. The indicator shows that the acculturation and cultural changes due to mixing of several cultural elements. Questions of research on what cultures acculturate and what forms of cultural change in misalin rituals. Several theories are referred to the theory of evolution and cultural changes. The method that been used is descriptive qualitative method. Collecting data were done through literature studies, field studies and structured interviews. The data analysis process were done through data reduction and conclusions. The results showed that the misalin rituals is an Islamic nuance ritual without being realized that there are various influences of cultural elements outside of Islam. These influences were acculturating to form a unity that can hardly be separated in misalin rituals. In addition, in this ritual cultural changes occur in several aspects. The government efforts to legalize administrative activities and foster policy and funding as well as community support were the driving factors that play an important role in the preservation of Misalin. Based on the results of the study, it is suggested that it continues to support and maintain the Misalin Ritual as one of the cultural assets to be proud of continuously in the future. Keywords: Misalin Ritual, Acculturation, The Change Of Cultur

    EKSISTENSI ALAM MINANG DALAM LUKISAN SENIMAN SUMATERA BARAT

    Full text link
    ABSTRACT This study aims to record painting artists in West Sumatra who have worked with the Minangkabau concept. The method used refers to qualitative research methodology, namely observation, interviews and literature. Then for the research report, the collected data is presented based on citation data such as words / sentences and data in the form of interview scripts, field notes, photos, videos, personal documents or other official documents. The theory used refers to the opini of Kartodirjo, Becker, and Dwi Marianto.The presence of painting artists who raised the theme of Minangkabau nature such as: Kamal Guci, Afianto Arifin, Evalyna Dianita, Idran Wakidi, Yazid. Painting artists who work with this Minangkabau concept still exist to maintain their style of work, and not a few of art appreciators like or collect the work of the artist. It can be concluded that the presence of artists like this is very helpful in preserving the art of painting in West Sumatra which has been pioneered long time ago by painters like Wakidi and M.Syafei. Keywords: Minangkabau, Concept, Painting, West Sumatra.  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendata seniman lukis di Sumatera Barat yang eksis berkarya dengan konsep Minangkabau. Metode yang dipakai merujuk pada metodologi penelitian kualitatif, yaitu pengamatan, wawancara dan kepustakaan. Kemudian untuk laporan penelitian, data-data yang terhimpun disajikan berdasarkan kutipan data baik berupa kata/kalimat maupun data berupa naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi ataupun dokumen resmi lainnya. Teori yang digunakan merujuk kepada pendapat Kartodirjo, Becker, dan Dwi Marianto.Kehadiran seniman lukis yang mengangkat tema alam Minangkabau seperti: Kamal Guci, Afianto Arifin, Evalyna Dianita, Idran Wakidi, Yazid. Seniman lukis yang berkarya dengan konsep Minangkabau ini masih eksis mempertahankan corak karya mereka, dan tidak sedikit para penikmat seni menyukai atau mengoleksi karya seniman tersebut. Dapat disimpulkan bahwa kehadiran seniman seperti ini sangat membantu dalam dalam pelestarian seni lukis di Sumatera Barat yang sudah dirintis jauh hari oleh pelukis Wakidi dan M.Syafei. Kata Kunci: Minangkabau, Konsep, Seni Lukis, Sumatera Barat

    98

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Budaya Etnika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇