Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
    98 research outputs found

    IDENTITAS ISLAM PADA SENI PAGELARAN TARAWANGSA (KAJIAN LIVING RELIGIONS DENGAN PENDEKATAN NETNOGRAFI)

    Full text link
    ABSTRAK Tarawangsa berawal dari ritual yang sakral atas rasa kesyukuran warga Rancakalong karena panen yang melimpah. Pada fase perkembangan berikutnya Tarawangsa berubah menjadi dua bentuk yakni seni pertunjukan dan seni yang sakral masih tetap ada. Fenomena tersebut coba digali melalui pendekatan netnografi. Yakni memanfaatkan perkemabngan digital dalam memahamai fenomena Tarawangsa yang ada. Hasil penelitian menemukan bahwa identitas Islam masuk dan mewarnai perkembangan Tarawngsa. Islam sebagai agama samawi tidak menjadi ancaman terhadap pertunjukan Tarawangsa di Rancakalong. Justru akulturasi budaya nampak terlihat dimana Islam memberikan input nilai pada pertunjukan Tarawangsa, terutama model busana hijab dan kopiah yang dipakai oleh para pelaku Tarawangsa. Maka dari itu dalam living religions study baik Islam maupun Tarawangsa sendiri menjadi living dan hidup karena kedua saling memberi nilai yang sama akan pelestarian alam, rasa bersyukur dan kesejahteraan dalam kehidupan. Kata kunci : Tarawangsa, Identitas Islam, Agama Lokal, Agama yang Hidup ABSTRACT Tarawangsa is sacred music that is played as a form of gratitude for an abundant harvest. In subsequent developments, tarwangsa changed its function to become sacred music and entertainment. The phenomenon was explored using a netnographic approach. This approach uses digital developments to search for facts. the results of this study found that Islamic identity entered and colored the development of contemporary Tarawangsa. Islam as a divine religion does not threaten the Tarawangsa show in Rancakalong. Cultural acculturation occurs where Islam gives value to Tarawangsa performances which can be seen from the hijab fashion. In the perspective of living religions, Tarawangsa and Islam become living because they give value to each other for the preservation of nature, gratitude and well-being Key word: Tarawangsa, Islamic Identity, Idigineous Religions, Living Religion

    KOMODIFIKASI TRADISI SAWER DALAM ADAT PERNIKAHAN SUNDA DI KOTA BANDUNG (STUDI PADA PADEPOKAN GURUMINDA)

    Full text link
    ABSTRAK Artikel ini membahas komodifikasi dari Padepokan Guruminda dalam mempertahankan tradisi sawer pada upacara adat pernikahan Sunda di Kota Bandung. Penelitian ini berfokus pada bentuk dan struktur penyajian sawer, serta bentuk komodifikasi yang dilakukan oleh Padepokan Guruminda. Landasan teori yang digunakan adalah teori struktural fungsionalisme Talcot Parsons serta ditunjang dengan metode komodifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan teknik pengambilan data melalui observasi, studi pustaka, dokumentasi, dan wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa bentuk dan struktur penyajian tradisi sawer gaya Padepokan Guruminda masih otentik. Keotentikan yang masih dijaga oleh Padepokan Guruminda menjadikan nilai tambah yang positif. Nilai lebih tersebut yang menjadi nilai jual sehingga terjadilah komodifikasi. Kata Kunci: Komodifikasi, Padepokan Guruminda, Tradisi Sawer ABSTRACT This article discusses the commodification of Padepokan Guruminda in maintaining the sawer tradition at the Sundanese wedding ceremony in Bandung. This study focuses on the form and structure of the sawer presentation, as well as the form of commodification carried out by Padepokan Guruminda. The theoretical basis used is the structural functionalism theory of Talcot Parsons and is supported by the commodification method. The research method in this study is a qualitative method, with data collection techniques through observation, literature study, documentation, and unstructured interviews. The results of this study suggest that the form and structure of the presentation of the Sawer tradition in the Padepokan Guruminda style is still authentic. The authenticity that is still maintained by the Guruminda Padepokan is a positive added value. This surplus value becomes the selling point so that commodification occurs. Keywords: Commodification, Padepokan Guruminda, Sawer Tradition

    KOMODIFIKASI BUDAYA MINUM KOPI DI KEDAI SANG PEJOANG LEMBANG

    Full text link
    ABSTRAK Budaya minum kopi sambil menyaksikan live music saat ini menjadi trend dan marak dimana-mana khusunya di kedai Kopi Sang Pejoang kota Lembang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komodifikasi oleh Karl Marx dan Vincent Mosco. Teori ini digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana budaya minum kopi di kedai Kopi Sang Pejoang Lembang dan pengaruhnya yang didapatkan melalui live music terhadap aktivitas yang terjadi serta menjelaskan perubahan setelah adanya komodifikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif di mana penulis disini mendeskripsikan hasil analisis data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian yang dihasilkan adalah 1) budaya minum kopi, 2) pengaruh live music, dan 3) gaya hidup yang terjadi di kedai kopi Sang Pejoang Lembang. Kata Kunci : Kopi, Live music, Komodifikasi. ABSTRACT The culture of drinking coffee while watching live music is now trendy and rife everywhere, especially at the Sang Pejoang Coffee shop in Lembang. The theory used in this study is the theory of commodification by Karl Marx and Vincent Mosco. This theory is used to describe how the culture of drinking coffee at the Kopi Sang Pejoang Lembang shop and its influence through live music on the activities that occur and explain the changes after the commodification. This study uses qualitative research methods where the author here describes the results of data analysis through observation, interviews, and documentation. The results of the research are 1) the culture of drinking coffee, 2) the influence of live music, and 3) the lifestyle that occurs at the coffee shop Sang Pejoang Lembang. Keywords: Coffee, Live music, Commodification

    KESENIAN ALE-ALE SEBAGAI KALANGAN PERBANTAHAN BUDAYAWAN DAN SENIMAN PADA MASYARAKAT SASAK

    Full text link
    ABSTRAK Artikel ini membincangkan tentang kesenian Ale-ale sebagai arena perbantahan antara seniman dan budayawan di tengah masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perbantahan tersebut dipicu oleh menguatnya jarak antara seni yang dipandang adiluhung dengan seni yang dinilai profan seperti kesenian Ale-ale. Namun juga di balik itu, perbantahan tersebut telah menunjukkan pemungsian simbol budaya sebagai alat mempertahankan otoritas dan menjadikan kesenian Ale-ale sebagai kalangan pengekalan kekuasaan budaya. Merujuk pada persoalan ini, tulisan ini mengemukakan dua persoalan, yaitu bagaimanakah bentuk perbantahan seniman dan budayawan dan bagaimanakah mereka menggunakan kesenian Ale-ale sebagai arena perbantahan. Untuk menemukan persoalan mendalam yang terjadi pada kesenian Ale-ale, artikel ini menggunakan pendekatan cultural studies yang ditopang oleh metode kualitatif. Kata kunci: Kesenian Ale-ale, Perbantahan, Kekuasaan Budaya ABSTRACT This article discusses the art of Ale-ale as an arena of disputes between artists and culturalists in the sasak community, Lombok, West Nusa Tenggara. The dispute was triggered by the increasing distance between art that is considered adiluhung with profanely judged art such as Ale-ale art. But also behind it, the dispute has shown the preservation of cultural symbols as a means of maintaining authority and making the art of Ale-ale as a circle of cultural power preservation. Referring to this question, this paper raises two questions, namely how artists and cultural disputes are and how they use Ale-ale art as an arena of contention. To discover the profound problems that occur in the art of Ale-ale, this article uses a cultural studies approach supported by qualitative methods. Key Words: The art of Ale-ale, dispute, cultural power

    STRUKTUR DAN FUNGSI KESENIAN DZIKIR BERDAH DI DUSUN SUNGAI MELAYU DESA MUARO JAMBI KECAMATAN MUARO SEBO KABUPATEN MUARO JAMBI

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan struktur kesenian dzikir berdah di Dusun Sungai Melayu Desa Muaro Jambi Kecamatan Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi dan mengetahui fungsi dan kedudukan dari kesenian dzikir berdah berdasarkan sudut pandang masyarakat dan pelaku seni dzikir berdah, serta Menganalisis eksistensi kesenian dzikir berdah di Dusun Sungai Melayu Desa Muaro Jambi menggunakan Teori Struktural Fungsional Talcott Parsons. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menggunakan Teknik Pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Struktur pertunjukan kesenian dzikir berdah terdiri dari tiga tahapan yaitu pra-pertunjukan, pertunjukan, dan pasca pertunjukan serta elemen-elemen pertunjukan yang mendukung di dalamnya. Kesenian dzikir berdah memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat antara lain sebagai sarana pemenuh kebutuhan estetis, sarana pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat, media dakwah, sarana integratif bagi sesama anggota masyarakatnya, serta sarana pelestarian budaya tradisional. Kata Kunci : Kesenian dzikir berdah, Desa Muaro Jambi, Struktural Fungsional Talcott Parsons ABSTRACT This study aims to describe the structure of dzikir berdah art in Sungai Melayu Hamlet, Muaro Jambi Village, Muaro Sebo District, Muaro Jambi Regency and to find out the function and position of dzikir berdah art based on the perspective of the community and performers of dzikir berdah art, as well as to analyze the existence of dzikir berdah art in Sungai Hamlet. Muaro Jambi Village uses Talcott Parsons\u27 Structural Functional Theory. This research is a qualitative descriptive study. Using data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the structure of the performing arts of dzikir berdah consists of three stages, namely pre-show, performance, and post-performance as well as supporting performance elements in it. The art of dzikir berdah has functions in people\u27s lives, among others, as a means of fulfilling aesthetic needs, a means of fulfilling the spiritual needs of the community, media for da\u27wah, an integrative means for fellow community members, as well as a means of preserving traditional culture. Keywords: Art of dzikir berdah, Muaro Jambi Village, Structural Functional Talcott Parson

    EKSISTENSI TARI THENGUL DI ERA GLOBAL

    Full text link
    ABSTRAK Kesenian tradisional merupakan salah satu warisan yang berasal dari nenek moyang dan telah menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum, suku, ataupun bangsa tertentu. Kehadiran kesenian di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah hasil dari daya kreativitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik sebagai sarana ritual, sosial, ekonomi, legitimasi penguasa, hiburan, dan sebagainya. Era global sendiri ditandai dengan adanya sentuhan budaya yang berasal dari luar ke dalam ruang lingkup masyarakat tanpa adanya sekat, dan berdampak pada kehidupan budaya serta seni pada suatu daerah maupun negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengenai eksistensi dari salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Bojonegoro yakni Tari Thengul di era globalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pada era globalisasi kesenian tradisional, khususnya Tari Thengul sempat mengalami penurunan minat dari masyarakat. Namun, dengan berjalannya waktu pemerintah mulai melakukan berbagai gebrakan baru. Kata kunci: Eksistensi, Thengul, Era Global ABSTRACT Traditional art is one of the legacies that comes from our ancestors and has become a part of people\u27s lives in a certain people, tribe, or nation. The presence of art in the midst of people\u27s lives is the result of human creativity to meet the needs of life, whether as a means of ritual, social, economic, authority legitimacy, entertainment, and so on. The global era itself is marked by a cultural touch that comes from outside into the scope of society without any partitions, and has an impact on cultural and artistic life in a region or country. This study aims to analyze the existence of one of the traditional arts originating from Bojonegoro Regency, namely the Thengul Dance in the era of globalization. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach. The results obtained in this study indicate that in the era of globalization, traditional arts, especially the Thengul dance, experienced a decline in public interest. However, with the passage of time the government began to make various new moves. Keywords: Existence, Thengul, Global Er

    MITOS EYANG PAPAK DI DESA CINUNUK, KECAMATAN WANARAJA, KABUPATEN GARUT

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai struktur pada mitos Eyang Papak di Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Pembahasan dalam penelitian ini berfokus pada analisis mitos perspektif teoretik strukturalisme (Claude Levi-Strauss) yang merujuk pada penafsiran atas mitem atau disebut juga ceritem. Langkah-langkah analisis mitos: penulis mencari mitem (mytheme) atau disebut juga ceritem berlanjut pada upaya menjelaskan struktur terdalamnya. Metode penelitiannya menggunakan kualitatif: studi pustaka, dokumentasi, observasi, serta wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dalam mitos Eyang Papak terdapat struktur luar yang menunjukkan alur kehidupan dari Eyang Papak. Sedangkan, struktur dalam menunjukkan makna yang menjelaskan logika nalar masyarakat dalam memandang kehidupan dan kondisi sosial-budayanya. Dengan demikian, mitos Eyang bukan hanya cerita hiburan semata, tetapi di dalamnya penjelasan mengenai kondisi sosial budaya, ekonomi, ekologis, sistem kekerabatan, kepercayaan serta nilai-nilai dan falsafah hidup. Kata Kunci: Mitos, Eyang Papak, Struktur Luar, Struktur Dalam ABSTRACT This study discusses about the structure of Eyang Papak, the myth occurs in Cinunuk Village, Wanaraja District, Garut Regency. The study focuses on the myths analysis through the theoretical perspective of structuralism (Claude Levi-Strauss) which refers to the interpretation of mytheme, also known as Ceritheme. The steps used within this myth analysis: the writer pursues for the mytheme or also known as the ceritheme and it continues as an explanation endeavor to its deepest structure. The method used in this research is qualitative by collecting literature study, documentation, observation, and unstructured interviews. The result of the study suggests which in the myth of Eyang Papak there was an surface structure that shows the life flow of Eyang Papak. Meanwhile, the deep structure shows the meaning that explains the logic of society’s reasoning in viewing their life according to the socio-cultural conditions. Thus, the Eyang Papak myth is not just an entertainment story, nevertheless it includes an explanation of socio-cultural, economic, ecological conditions, kinship systems, beliefs, values and philosophy of life. Keywords: Myth, Eyang Papak, Surface Structure, Deep Structur

    KEBERTAHANAN MUSIK ORKES MINANG KINI: KAJIAN ANTROPOLOGI MUSIK PADA MUSIK ORKES TAMAN BUNGA

    Full text link
    ABSTRAK Tulisan ini menggambarkan kelangsungan hidup musik Orkestra Minang saat ini, khususnya Kelompok Musik Orkestra Taman Bunga di kota Padangpanjang, Provinsi Sumatera Barat. Di tengah gempuran industri musik yang berorientasi pasar. Menggunakan premis Kontra Hegemoni Gramsci, bagaimana kelompok ini bertahan dengan ideologi musik mereka. Penelitian ini bertumpu pada pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis dalam perspektif Antropologi Musik menjelaskan secara mendalam dan holistik kelangsungan hidup kelompok musik ini. Counter Hegemony sebagai alat analisis dalam melihat apa yang memotivasi kelompok ini untuk memilih genre musik orkestra Minang dan kelangsungan hidup kelompok ini dalam menghadapi industri musik saat ini. Temuan menunjukkan bahwa perjuangan ideologis antara ideologi kelompok ini dan ideologi pasar semakin kuat, menunjukkan adanya kekuatan hegemonik di pasar industri musik di Indonesia. Kegigihan dalam ideologi musik mereka mampu bertahan dengan tidak mengganggu atau mengubah bentuk musik mereka. Prinsip kekeluargaan adalah modal utama bagi kelangsungan hidup kelompok musik ini. Kata kunci: Musik Orkestra Minang, Survival, Antropologi Musik, Kontra Hegemoni ABSTRACT This paper describes the survival of the Minang Orchestra music today, specifically the Taman Bunga Orchestra Music Group in the city of Padangpanjang, West Sumatra Province. In the midst of the onslaught of market-oriented music industry. Using the premise of Gramsci\u27s Counter Hegemony, how this group survives with their musical ideology. The research relies on a descriptive qualitative approach. The analysis in the perspective of Music Anthropology explains deeply and holistically the survival of this musical group. Counter Hegemony as an analytical tool in seeing what motivates this group to choose the genre of Minang orchestra music and the survival of this group in facing the current music industry. The findings show that the ideological struggle between this group\u27s ideology and the market ideology is getting stronger, indicating the presence of hegemonic power in the music industry market in Indonesia. Persistence in their musical ideology is able to survive by not disrupting or changing the shape of their music. The principle of kinship is the main capital for the survival of this musical group. Keywords: Minang Orchestra Music, Survival, Musical Anthropology, Counter Hegemon

    Ritual Numbal dalam Syukuran Terowongan Kereta Api Sasaksaat di Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari Kab. Bandung Barat

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini memfokuskan pada permasalahan bagaimana sebuah ritual numbal dalam syukuran Terowongan Kereta Api Sasaksaat dapat memunculkan ketentraman bagi komunitas pekerja Jalan Jembatan Kereta Api Daop 2 Bandung dan masyarakat Kampung Cihanjuang. Tujuan penelitian adalah menjelaskan proses ritual yang dapat memunculkan rasa tentram pada komunitas pekerja JJ dan masyarakat Kampung Cihanjuang dengan analisis teoriliminalitas. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara, observasi, serta dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori Liminalitas Victor Turner untuk menganalisis ritual dalam konteks transisional. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat ruang liminalitas pada ritual numbal yang dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat membawa masyarakat pada situasi hidup yang lebih damai. Lewat penyelenggaraan ritual tersebut masyarakat Kampung Cihanjuang dan komunitas pekerja JJ Daop 2 Bandung akan mendapatkan ketentraman dan ketenangan psikologis karena merasa bahwa kekhawatiran yang sebelumnya menghantui mereka telah ternetralisir oleh ritual numbal.Kata kunci: ritual numbal, syukuran terowongan, liminalitas ABSTRACT This study focuses on the problem of how a numbal ritual in the thanksgiving of the Sasaksaat Railway Tunnel can bring peace to the working community of the Daop 2 Bandung Railway Bridge Road and the Cihanjuang Village community. The purpose of this research is to explain the ritual process that can create a sense of peace in the community of JJ workers and the people of Cihanjuang Village community by analyzing the theory of liminality. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of literature study, interviews, observations, and documentation. The theory used is Victor Turner\u27s Liminality theory to analyze rituals in a transitional context. The results show that there is a space of liminality in the numbal ritual that can prevent unwanted things from happening and can bring people to a more peaceful life situation. Through the implementation of this ritual, the people of Cihanjuang Village and the working community of JJ Daop 2 Bandung will get peace and psychological calm because they feel that the worries that previously haunted them have been neutralized by the numbal ritualKeywords: numbal ritual, tunnel thanksgiving, liminalit

    Intersubjectivity dalam Sosial Media: Gelak Tawa hingga Street Fashion

    Full text link
    ABSTRAK. Sosial media merupakan ruang bagi masyarakat untuk berbagi dan menyampaikan informasi, hanya dalam hitungan detik gambar dan video yang dibagikan di sosial media menjadi perhatian masyarakat. Netizen – biasa disebut – selalu mencari tren yang ada di masyarakat – sosial media – saat ini. Salah satunya, video remaja-remaja pinggiran Jakarta yang katanya sedang “menguasai kawasan SCBD Dukuh Atas” sebagai ruang bagi mereka berkreasi di masyarakat. Citayam fashion week yang menjadi istilah bagi aksi remaja-remaja di kawasan tersebut, memicu netizen untuk ikut serta menghidupkan tren ini. Bagaimana ini dijelaskan? Interaksi sebagai perilaku sosial dalam bentuk respon seperti like dan komentar harus dimaknai lebih dalam lagi sebagai sebuah proses interaksi yang saling mempengaruhi. Metode social media etnography digunakan untuk melihat interaksi yang terjadi tersebut mempengaruhi dan mendorong netizen untuk ikut berkreasi dalam tren tersebut. Tulisan ini akan membahas mengenai “link to action” di mana satu tren yang sedang terjadi kemudian menjadi stimulan bagi aksi yang sama di wilayah lain yang termediasi sosial media. Tren spontan ini hadir sebagai upaya suatu kelompok berkreativitas di ruang publik, namun dalam kenyataannya tren ini sebagai upaya “menampilkan diri” – dalam tren – untuk mendapatkan representasi diri di sosial media.Kata kunci: Sosial Media, Intersubjektivitas, Representasi, TelecopresenceABSTRACT. Social media is a space for people to share and convey information, just seconds, the images and videos shared on social media become the public attention. Netizens – commonly called – are always looking for trends in society – social media – today. One of them is a video of teenagers on the outskirts of Jakarta who are said "controlling the Dukuh Atas SCBD area" as a space for them to be creative in society. Citayam fashion week, which became the term for the actions of teenagers in the area, triggered netizens to participate in bringing this trend to life. How is this explained? Interaction as social behavior in the form of responses such as likes and comments must be interpreted more deeply as a process of interaction that influences each other. The social media ethnography method used to see how the interactions that occur affect and encourage netizens to be creative in this trend. This paper will discuss the “link to action” where one trend that is currently happening then becomes a stimulant for the same action in other areas mediated by social media. This spontaneous trend is present as an effort by a creative group in the public sphere, but in reality, this trend is an attempt to “show oneself” – in trend – to get a self-representation on social media.Keywords: Social Media, Intersubjectivity, Representation, Telecopresenc

    98

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Budaya Etnika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇