Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Inovasi Leksikal Bahasa Sunda di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap
ABSTRAK. Masalah dalam penelitian ini adalah mengenai status bahasa Sunda Dayeuhluhur, inovasi leksikal dalam bahasa Sunda Dayeuhluhur serta distribusi geografisnya. Penelitian ini menggunakan teori yang diungkapkan oleh Ayatrohaedi (1985), Mahsun (2005), Sibarani (2004) dan Lauder (2007). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan metode deskriptif-sinkronis. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik cakap dan rekam. Hasil kajian menunjukkan bahwa jarak perbedaan bahasa Sunda Baku dengan bahasa Sunda Dayeuhluhur sebesar 31 persen berdasarkan penghitungan dialektometri leksikal, sehingga termasuk kategori perbedaan subdialek. Bahasa Sunda Dayeuhluhur mengalami inovasi internal yang terdiri dari inovasi fonologi dan morfofonemis, inovasi morfologi, dan inovasi leksikal. Inovasi eksternal yang berupa kata serapan dari bahasa lain juga ada dalam bahasa Sunda Dayeuhluhur. Ditemukan pula kosakata relik bahasa Sunda dan kosakata khas setempat. Dari pemetaan unsur bahasa diperoleh bahwa sebaran unsur bahasa berbeda-beda. Ada unsur bahasa yang tersebar luas di beberapa desa yang diteliti, ada pula yang hanya ditemukan di satu atau dua desa yang diteliti. KataKunci: Inovasi leksikal, Dialek, Bahasa SundaABSTRACT. The problem of this research is about the status, lexical innovation, and geographical distribution of Dayeuhluhur Sundanesse. This research applies some theories from Ayatrohaedi (1985), Mahsun (2005), Lauder (2007), Djajasudarma (2013), Wahya (2015), and Sariono (2016). The method adopted in this research was qualitative with descriptive-synchronies data. The data were collected by a methods refer to the conversation and recording techniques. The result showed the difference between Formal Sundanese and Dayeuhluhur Sundanese is 31 percent based on the Lexical Dialektometri calculation and categorized into subdialek difference. Dayeuhluhur Sundanese has been experiencing internal innovation consisting of phonological innovation and morphophonemic, morphological innovation, and lexical innovation. External innovation in the form of borrowed words from another language also exists in Dayeuhluhur Sundanese, and the researcher found Sundanese relics and special local vocabularies. From the language elements mapping, the researcher found a fact that the distribution of the language is different. There is element of language widespread in some villages studied as well as those that only found in one or two villages surveyed.Keywords: lexical innovation, dialect, Sundanes
Simbol dan Makna Tradisi Ngaruwat Jagat Situraja
ABSTRAK. Sumedang merupakan ikon budaya Sunda di wilayah Priangan, salah satunya yaitu adanya Tradisi Ngaruwat Jagat Situraja yang hampir di setiap teritorial masyarakat Sunda yang tergolong wilayah Pedesaan sampai dengan akhir tahun 1960-an hampir dapat dipastikan menyelenggarakan tradisi tahunan. Untuk menguji aspek utama dari tradisi ngaruwat jagat Situraja ini penulis menggunakan teori interpretivisme simbolik Clifford Geertz. Sebagian besar bahan teoritis dari penelitian ini dengan cara mengamati, “berpatisipasi” serta mewawancarai baik ditingkat formal maupun informal. Fokus utama masalah penelitian ini adalah mengenai Simbol dan Makna Pada Tradisisi Ngaruwat Jagat Situraja di Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kedalaman masalah penelitian digunakan disiplin ilmu antropologi.Kata Kunci: Tradisi Ngaruwat jagat, Situraja, simbol dan maknaABSTRACT. Sumedang is a Sundanese cultural icon in the Priangan region, one of which is the existence of the Ngaruwat Jagat Situraja Tradition which in almost every territory of the Sundanese people belonging to the Pilemburan area until the end of the 1960s almost certainly held an annual tradition. To examine the main aspects of the Situraja\u27s tradition of ngaruwat universe, the writer uses Clifford Geertz\u27s theory of symbolic interpretivism. Most of the theoretical material from this research is by observing, "Participating" and interviewing both at the formal and informal levels. The main focus of this research problem is the Symbol and meaning in the Ngaruwat Jagat Situraja Tradition in Sumedang Regency. The method used in this research is descriptive analysis method, with a qualitative approach to analyze the depth of the research problem used antropology discipline.Keywords: Ngaruwat Jagat Universe Tradition, Situraja, Symbol and Meanin
Fungsi Kekerabatan Kelompok Marga dalam Integrasi Ssosial pada Masyarakat di Dusun Jumamangkat Desa Pegagan Julu X Kabupaten Dairi
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui fungsi kekerabatan di Dusun Jumamangkat dan mengetahui fungsi marga berfungsi dalam menata integrasi di Dusun Jumamangkat. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teori yang digunakan teori AGIL oleh Talcott Parson. Proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara, langsung serta dokumentasi. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa kekerabatan yang terjalin di Desa Jumamangkat masih sangat berfungsi dengan baik di dalam masyarakat. Sebagaimana kekerabatan yang terjalin dapat mendorong masyarakat berintegrasi antara sesama masyarakat meskipun berbeda pandangan serta berbeda keyakinan. Keberagaman dalam memeluk agama, suku bangsa, budaya, dan pandangan hidup tidak dapat terhindarkan. Sebagaimana yang terjadi di Dusun Jumamangkat, Kab.Dairi, integrasi sosial tidak terlaksana apabila tidak ada hubungan yang baik antara sesama masyarakat yang berbeda suku bangsa, agama, serta pandangan hidup. Di Dusun Jumamangkat, Kab.Dairi, tidak hanya terdapat satu agama saja.Tetapi juga terdiri dari beberapa agama seperti, Islam, Kristen Protestan, dan Kristen Katholik. Sebagai dusun yang memiliki beragam kepercayaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, tentu saja hal tersebut sangat dekat dengan terjadinya konflik. Namun, di Dusun Jumamangkat kekerabatan berfungsi sebagai dasar apabila terjadi konflik di antara masyarakat di Dusun Jumamangkat. Penelitian ini memperlihatkan fungsi kekerabatan di dalam masyarakat berlangsung baik sehingga kekerabatan menjadi dasar dalam hidup bermasyarakat di Dusun Jumamangkat. Dalam penyelesaian konflik pun masyarakat Dusun Jumamangkat menggunakan fungsi kekerabatan terlebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan. Warga masyarakat mengundang tokoh-tokoh masyarakat di dusun (tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh lainnya) dalam rangka penyelesaian suatu masalah.Kata kunci: Fungsi, Kekerabatan, Integrasi.ABSTRACT This study aims to determine the function of kinship in Jumamangkat Hamlet and to find out how clan kinship functions and regulates integration in Jumamangkat Hamlet. In this study, the author uses a qualitative method with a descriptive approach. And the theory used in this study uses the AGIL theory by Talcott Parson. The process of collecting data using observation, interviews, direct and documentation. The results of the study found that the kinship that existed in Jumamangkat village was still very well functioning in the community. As the kinship that exists can make the community integrate among the community even though they have different views and different beliefs. Indonesian society is a pluralistic society. Diversity in embracing religion, ethnicity, culture, and outlook on life is unavoidable. As happened in Jumamangkat Hamlet, Kab. Dairi, social integration is not carried out if there is no good relationship between people of different ethnicity, religion, and outlook on life. In the village of Jumamangkat, Kab. Dairi, there is not only one religion. But it also consists of several religions such as, Islam, Protestant Christianity, and Catholic Christianity. As a village that has various beliefs in carrying out daily life, of course this is very close to the occurrence of conflict. However, in Jumamangkat hamlet, kinship functions as a basis in case of conflict between communities in Jumamangkat hamlet. This study aims to find out how kinship functions in society well so that kinship becomes the basis of social life in Jumamangkat hamlet. In resolving conflicts, the people of Dusun Jumamangkat use the kinship function first to solve problems. By bringing in important figures in the village.Such as traditional leaders, religious leaders, community leaders and other figures.Keywords: Function, Kinship, Integration
Makna Simbol Terebang Shalawat Modifikasi Kelompok Pusaka Wargi di Dusun Rancakalong Desa/Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang
ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang makna simbol dalam Terebang Shalawat modifikasi kelompok Pusaka Wargi di Dusun Rancakalong, Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Pembahasan dalam penelitian ini berfokus pada aspek simbol yang terdapat dalam prosesi pertunjukan, dan sesajen yang digunakan. Landasan teori yang digunakan adalah teori interpretatif simbolik Clifford Geertz. Makna simbol dalam penelitian ini menggunakan pendekatan emik dan etik. Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan teknik pengambilan data melalui observasi, studi pustaka, dokumentasi, dan wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitianini mengemukakanbahwa secara emik, makna simbol pada prosesi pertunjukan merupakan simbol dari siklus kehidupan manusia. Penyatuan komponen-komponen dalam sesajen dipercaya dapat mendatangkan daya magis yang mampu membawa kebaikan dan kemaslahatan hidup masyarakat. Sedangkan secara etik, makna simbol dalam tradisi ini memiliki beberapa makna, yakni makna sinkretisme, edukasi, estetika,dan solidaritas.Kata Kunci: Terebang Shalawat Modifikasi, Pusaka Wargi, dan Dusun Rancakalong.ABSTRACT This study discusses the meaning of symbols in the modified Terebang Shalawat of the Pusaka Wargi group in Rancakalong Hamlet, Rancakalong Village, Rancakalong District, Sumedang Regency. The discussion in this study focuses on aspects of the symbols contained in the procession of the performance, and the offerings used. The theoretical basis used is Clifford Geertz\u27s symbolic interpretive theory. The meaning of symbols in this study uses an emic and ethical approach. The research method in this study is a qualitative method, with data collection techniques through observation, literature study, documentation, and unstructured interviews. The results of this study suggest that emically, the meaning of the symbols in the performance procession is a symbol of the cycle of human life. The unification of the components in offerings is believed to bring magical power that is able to bring goodness and benefit to people\u27s lives. While ethically, the meaning of symbols in this tradition has several meanings, namely the meaning of syncretism, education, aesthetics, and solidarity.Keywords: Modification of Terebang Shalawat, Pusaka Wargi, and Rancakalong Hamle
Hubungan Tradisi Rewang, Budaya Bekerja, dan Modal Sosial pada Masyarakat Multietnis di Kabupaten OKU Timur
ABSTRAK. Rewang merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk membantu salah satu tetangga apabila sedang mengadakan acara pesta pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana pelaksanaan tradisi rewang dan untuk mengetahui bagaimana dampak tradisi rewang sebagai modal sosial mampu meningkatkan solidaritas antar masyarakat multietnis di Desa Sumberjaya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaannya tradisi rewang memiliki susunan kepanitiaan dan pembagian kerja. Hal ini tidak terlepas dari modal sosial. Modal sosial yang terdiri dari tiga komponen yaitu: kepercayaan (trust), norma (norms) dan jaringan (networks) dalam tradisi rewang ini mampu menunjukkan dampaknya bagi masyarakat Desa Sumberjaya. Modal sosial seharusnya (das sollen) dapat membentuk solidaritas yang memungkinkan individu menjalin hubungan sosial. Solidaritas sosial ini diwujudkan dalam solidaritas sosial organik dan mekanik. Namun fungsi tradisi rewang dalam perkembangann selanjutnya ternyata (das sein) tidak lagi sebagai modal sosial jadi hanya semacam penopang kebutuhan tuan rumah. Perubahan makna tradisi rewang juga terjadi karena munculnya jasa catering dan pandangan masyarakat terhadap tradisi rewang yang hanya sebatas sumbangan.Kata Kunci: Multietnis, Modal Sosial, Budaya KerjaABSTRACT. Rewang is one of the activities carried out by the society to help one of the neighbors when holding a wedding party. This study aims to describe dan analyze how the implementation of rewang tradition and to find out how the impact of rewang tradition as social capital is able to increase solidarity between multiethnic societies in Sumberjaya Village. Researcher uses a qualitative research method with an ethnographic approach. The data collection techniques use interviews, observation and documentation. The results show that in the implementation process of rewang tradition has a committee structure and division of work. This is inseparable from social capital. Social capital which consists of three components, which are trust, norms and networks in rewang tradition, is able to show its impact on the people of Sumberjaya Village. Social capital is should (das sollen) to be able to form solidarity that allows individuals to establish social relationships. This social solidarity is manifested in organic and mechanical social solidarity. However, the function of rewang tradition in the next development it turns out is no longer as social capital, so it is only a kind of support for Jurnal Budaya Etnika, Vol. 6 No. 2 Desember 2022 82 the needs of the host. The changes meaning of rewang tradition also occurred due to the emergence of catering services and the public\u27s view of rewang tradition which was only limited to sumbangan.Keywords: Multietnic, Social Capital, Work Cultur
Peranan Perbase dalam Kehidupan Masyarakat Suku Bangsa-Bangsa Ogan
ABSTRAK Perbase atau peribahasa Ogan merupakan nilai-nilai kehidupan masyarakat suku bangsa Ogan dan menggambarkan pola pikir serta cara pandang masyarakat Ogan. Hal tersebut dibuktikan dengan ungkapan peribahasa yang memiliki peran bagi kehidupan masyarakat Ogan dalam menggambarkan kondisi daerah, perilaku masyarakat, dan keragaman budaya yang tergambar dalam ungkapan peribahasa. Tujuan penelitian ini menjelaskan makna nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam perbase suku bangsa Ogan menggunakan kajian semantik dan menjelaskan bagaimana peran perbase dalam kehidupan masyarakat Ogan. Penelitian ini bermanfaat di bidang akademis sebagai landasan untuk penelitian selanjutnya, mampu menambah litelatur baru pada bidang pemerintahan khususnya bagian budaya, dan masyarakat mampu memahami identitas budaya dengan mengetahui fungsi, makna, dan peran peribahasa bagi kehidupan masyarakat Ogan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data lewat studi pustaka, wawancara, dan observasi.Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa perbase berperan bagi kehidupan masyarakat Ogan. Peribahasa Ogan dapat ditemukan dalam dua bentuk yaitu peribahasa asli dan peribahasa pengaruh bahasa asing. Penggunaan peribahasa berfungsi sebagai sarana pendidikan, tuntunan agama. Bermasyarakat, dan kritik sosial. Adapula makna dan peranan dalam menunjukkan kondisi daerah, perilaku masyarakat, dan keberagaman budaya.Kata kunci: Perbase, Nilai-nilai Kehidupan, Masyarakat Ogan ABSTRACT Perbase or Ogan proverb represents the values of the life of the Ogan tribe and describes the mindset and perspective of the Ogan people. This is evidenced by the proverbial expressions that have a role in the life of the Ogan people in describing local conditions, community behavior, and cultural diversity depicted in the proverbial expressions. This research meant to explain the meaning of the values of life contained in the Ogan tribal percentage using semantic studies and to explain how the role of the percentage in the life of the Ogan people. This research can be useful in academic field as an information for further research, and able to add more literature to the government especially in cultural field, and the community is able to identify and understand the culture by knowing the purpose of proverb in the life of Ogan people. method used in this research is descriptive qualitative method with data collection techniques through literature study, interviews, and observations in the field.Based on the research conclusion, it can be explained that perbase plays a role in the life of Ogan people. Ogan proverb could be found in two verses, first is the originally proverb and the second one is the proverb of foreign language influenced. The use of proverb can be useful in educational purpose, religion guidance, societal, and social criticism. There are also meanings and roles in showing local condition, community behavior and cultural diversity.Keywords: Perbase, The Values Of The Life, Ogan People
Tradisi Minum Tuak dalam Acara Margondang Di Desa Aek Nabara Tonga Kecamatan Aek Nabara Barumun Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara
ABSTRAK Di Desa Aek Nabara Tonga yang memiliki latar belakang beragama Islam, mereka memiliki sebuah tradisi mengonsumsi tuak pada acara margondang. Dalam artikel ini, terdapat dua faktor yang akan dibahas, yaitu (1) Apa yang menjadi latar belakang tuak menjadi minuman diacara margondang di desa Aek Nabara Tonga, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Kabupaten Padang Lawas. Dan (2) Bagaimana respon masyarakat terhadap tradisi mengonsumsi cuka pada acara margondang di desa Aek Nabara Tonga, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Kabupaten Padang Lawas. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Dalam hal ini untuk memperoleh data yang dimaksud, peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, Triangulasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori behavioralisme BF Skinner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi meminum tuak pada acara margondang sudah ada sejak zaman dahulu sebelum para leluhur suku bangsa Batak memeluk Islam. Para pengonsumsiadalah pemeluk agama Islam. Mereka mengonsumsi tuak karena dirasa memberi manfaat bagi tubuh mereka, seperti mencegah masuk angin, membuat tubuh bugar dan kuat bergadang. Berbagai respon masyarakat di desa tersebut yang memiliki latar belakang beragama Islam ada yang menganggap hal tersebut tidak bermanfaat disamping hukum konsumsinya yang haram dalam Islam. Ada juga yang menganggap sah dan baik karena memberi manfaat baik kepada tubuh terlepas dari halal dan haramnya tuak tersebut. Kata kunci: Tradisi, Meminum Tuak, Acara Margondang.ABSTRACT In the village of Aek Nabara Tonga, which has a Muslim background, they have a tradition of drinking palm wine at margondang events. In this study, there are two factors that will be discussed, namely (1) What is the background of tuak being a drink at a margondang event in Aek Nabara Tonga village, Aek Nabara Barumun District, Padang Lawas Regency. And (2) How is the community\u27s response to the tradition of consuming vinegar at the margondang event in Aek Nabara Tonga village, Aek Nabara Barumun District, Padang Lawas Regency. In this study the method used is a qualitative approach. In this case to obtain the data in question, the researchers conducted observations, interviews and documentation. The technique used in data analysis is data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. The triangulation used in this research is source triangulation. The results of this study indicate that the tradition of drinking tuak at the margondang event has existed since ancient times before the ancestors of the Batak tribe had not embraced Islam. The consumers are followers of Islam. They consume palm wine because it is considered beneficial for their bodies, such as preventing colds, making the body fit and staying up strong. Various responses from the community in the village who have a Muslim background there are those who consider this to be useless in addition to the consumption law which is forbidden in Islam. There are also those who consider it legitimate and good because it gives good benefits to the body regardless of the halal and haram of the palm wine. Keywords: Tradition, Drink Palm Wine, Margondang Traditio
Pusat Peradaban Masa Hindu-Budha di Kawasan Dataran Tinggi Malang
ABSTRAK. Dataran tinggi malang merupakan salah satu lingkungan alam yang menarik untuk di kaji, dikarenakan disana terdapat sejarah yang lebih kompleks yaitu dari masa prasejarah hingga masa konteporer. Namun dalam artikel ini hanya akan membahas pada masa hindu-budha yaitu dari abad ke 9 hingga 13 M. Dikatakan pula bahwa dataran tinggi Malang merupakan cekungan yang di apit oleh tiga gunung berapi aktif. Hal inilah yang akhirnya menjadikan pertanyaan tentang proses terbentuknya dataran tinggi malang? Akan dibahas pula tentang kondisi tanah yang subur hingga membahas bagaimana datangnya manusia dan terjadinya peradaban di dataran tinggi Malang abad 9-13 M? Hal ini dilakukan untuk meneliti apakah ada hubungan situs di kawasan dataran tinggi Malang dengan kondisi geologi pada kawasan tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori ekologi budaya. Dalam teori ini akan di bahas lebih dalam mengapa situs-situs yang berada pada dataran tinggi malang berada pada lembah, bukan di lerengnya. Kemudian terdapat pula dimensi kebentukan dan dimensi waktu, dimensi ini akan difokuskan pada pembahasan sebaran situs tinggalan sejarah yang berada di kawasan dataran tinggi Malang.Kata Kunci: Dataran Tinggi Malang, Masa Hindu-Budha, dan PeradabanABSTRACT. The Malang Highlands is one of the interesting natural environments to study, this is because there is a more complex history, from pre-historic times to contemporary times. However, in this article, we will only discuss the Hindu-Buddhist period, namely from the 9th to 13th centuries AD. It is also said that the Malang plateau is a basin flanked by three active volcanoes. This is what finally raises the question of the process of the formation of the Malang Highlands? It will also discuss the condition of fertile soil to discuss how the arrival of humans and the occurrence of civilization in the Malang highlands in the 9-13th century AD? This is done to examine whether there is a relationship between the site in the Malang highlands area and the geological conditions in the area. The theory used in this research is the theory of cultural ecology. In this theory, it will be discussed more deeply why the sites in the Malang highlands are in the valley, not on the slopes. Then there are also dimensions of formation and time dimensions, these dimensions will be focused on discussing the distribution of historical heritage sites in the highlands of Malang.Keywords: Malang Highlands, Hindu-Buddhist Period, and Civilizatio
IMPLEMENTATION OF THE AGENDA FOR MEDIA SETTINGS AS WATCHDOG FOR LAW ENFORCEMENT EFFORTS THROUGH DIGITAL AND PRINT ARTIFACTS
ABSTRAK Peliputan media atas sejumlah kasus adalah implementasi agenda setting metode penyampaian informasi. Sejumlah informasi disampaikan berdasarkan fakta yang dikonstruksi sebagai realitas media. Di antaranya, kasus Tempo melawan Tomy Winata, keterlibatan wartawan Metro TV Hilman Mattauch terhadap kasus korupsi e-KTP oleh Setya Novanto, dan upaya yang dilakukan media sebagai watchdog dalam kasus Lutfi Alfiandi. Penelitian meneliti artefak digital dan tercetak, observasi, dan wawancara. Sejumlah pertanyaan penelitian adalah: 1. Bagaimana konstruksi media sebagai watchdog dalam kasus hukum antara Tomy Winata versus Tempo? 2. Bagaimana penerapan watchdog media dalam kasus penegakan hukum e-KTP? 3. Bagaimana penerapan watchdog media dalam kasus penangkapan dan penyiksaan yang dialami pelajar STM bernama Lutfi Alfiandi? Hasil penelitian terhadap artefak digital dan media cetak, wawancara, dan observasi adalah: 1. Implementasi pers sebagai pengawas kasus Tomy Winata di Tanah Abang dilakukan oleh Tempo, meski hasilnya Tempo mendapat konsekuensi kekalahan di meja hijau atas gugatan Tomy Winata. 2. Pelaksanaan watchdog dalam upaya penegakan hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilakukan terhadap kuasa media yang melibatkan Hilman Mattauch dari Metro TV dan diungkap oleh media. 3. Peristiwa kasus polisi menangkap dan menyiksa Lutfi Alfiandi mendapatkan pelaksanaan agenda setting oleh media dalam peran watchdog sehingga korban yang semula dituntut hukuman tujuh tahun penjara dapat simpati publik mendorong majelis hakim memvonis bebas.Kata kunci: Pengawas Pers, Penegakan Hukum, Liputan Media ABSTRACT Several events received media coverage with an agenda-setting process which became a method of conveying information. Some information is conveyed based on facts constructed as media reality. Among them are the construction of media reality carried out in the Tempo case against Tomy Winata, the involvement of Metro TV journalist Hilman Mattauch in the e-KTP corruption case involving Setya Novanto, and the efforts made by the media as a watchdog in the Lutfi Alfiandi case. The research was conducted by examining digital and printed artifacts, observations, and interviews. Some research questions are 1. How is the construction of the media as a watchdog in the legal case between Tomy Winata and Tempo? 2. How is the application of watchdog media in the case of e-KTP law enforcement? 3. How is the application of the media watchdog in the case of arrest and torture experienced by STM student named Lutfi Alfiandi? The results of research on digital artifacts and print media, interviews, and observations are 1. Implementation of the watchdog press to reveal Tomy Winata in Tanah Abang was carried out by Tempo, although the result was that Tempo suffered the consequences of being defeated at the court table by the lawsuit filed by Tomy Winata. 2. The implementation of watchdog in law enforcement efforts by the Corruption Eradication Commission (KPK) was carried out against the power of the media which involved Hilman Mattauch from Metro TV and was exposed by the media. 3. The police\u27s arrest and torture of Lutfi Alfiandi resulted in the implementation of agenda-setting by the media in the role of a watchdog which succeeded in making the victim who was sentenced to seven years in prison get public sympathy and was released when the verdict was handed down by the panel of judges.Keywords: Watchdog Press, Law Enforcement, Media Coverag
Seni Burok Cirebon: Simbol dan makna
ABSTRAK Seni Burok merupakan seni tradisi berkembang di daerah Kabupaten Cirebon. Menurut penuturan masyarakat desa Kalimaro, seni Burok merupakan salah satu warisan budaya yang menajadi ciri khas desa dan memiliki nilai penting bagi masyarakat desa Kalimaro. Dewasa ini, seni Burok telah mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman sehingga membuat fungsi seni bergeser. Tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi simbol seni Burok karena masyarakat masih mampu menangkap makna yang disajikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan simbol dan makna pada Burok dalam pertunjukan Seni Burok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik penelitian melalui studi lapangan, wawancara langsung dengan informan, dan studi pustaka. Adapun teori yang digunakan untuk mengkaji makna dari simbol Burok adalah teori interpretivisme simbolik Clifford Geertz. Temuan dari hasil penelitian ini yaitu, mengungkapkan makna dan simbol Burok pada pertunjukan seni Burok yang memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat desa Kalimaro.Kata kunci: Burok, Makna, Simbol, Arak-arakanABSTRACT Burok art is a traditional art developed in Cirebon Regency. According to the narrative of the people of Kalimaro village, the art of Burok is one of the cultural heritages that has become the hallmark of the village and has important value for the people of Kalimaro village. Nowadays, Burok art has developed according to the times so that the function of art has shifted. However, this did not affect the senior Burok symbol because the community was still able to grasp the meaning presented. The purpose of this research is to explain the symbols and meaning of Burok in the art performance Burok. The research method used is a qualitative method with research techniques through field studies, direct interviews with informants, and literature study. The theory used to study the meaning of the Burok symbol is Clifford Geertz\u27s theory of symbolic interpretivism. The findings of this study are to reveal the meaning and symbol of Burok in the Burok art performance which has an influence on the life of the people of Kalimaro Village.Keywords: Burok, Meaning, Symbol, Arak-araka