Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
    98 research outputs found

    MAKNA SIMBOLIK RITUAL PUPUT PUSEUR DAN NGAGEULANGAN DI DUSUN LEBAKJATI DESA CILELES KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini membahas pemaknaan ritual puput puseur dan ngageulangan, serta struktur ritual puput puseur dan ngageulangan dalam ritual pasca kelahiran pada masyarakat Lebakjati. Pemaknaan yang dihasilkan didapat melalui analisa dari informan, dari tindakan ritual, dan relasi simbol satu dengan yang lainnya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskripsi kualitatif, dengan pendekatan antropologi simbolik sebagai landasan teori. Hasil penelitian menemukan bahwa ritual puput puseur dan ngageulangan ini dilakukan sebagai: 1) simbol permohonan, simbol penolak bala, simbol syukur, dan simbol penghormatan, 2) Makna puput puseur dan ngageulangan dapat dilihat dari tindakan budaya yang tampak, 3) Ritual puput puseur dan ngageulangan memiliki relasi antara simbol satu dengan simbol lainnya, yang memiliki tujuan untuk dapat keseimbangan dalam hidup. Kata Kunci: Ritual, puput puseur dan ngageulangan, antropologi simbolik.   ABSTRACT This study discusses the meaning of the puput puseur and ngageulangan, the rituals structure of the puput puseur and ngageulangan rituals in post-birth rituals in the Lebakjati community. The meaning generated through the analysis of the informants, from ritual actions, and the relation of symbols to one another. This research i conducted using a qualitative description method. This study uses a symbolic anthropological approach as the theoretical framework. The results of the study found that the puput puseur and ngageulangan rituals were carried out as: 1) Symbol of request, symbol of petition, symbol of repelling reinforcements, symbols of gratitude, and symbols of respect, 2) The meaning of puput puseur and ngageulangan can be seen from cultural actions 3) Ritual Puput puseur and the ngageulangan has a relationship between one symbol and another, which is the aim is to balance in life. Keywords: rituals, puput puseur and ngageulangan, symbolic anthropolog

    KONSEP KEHIDUPAN ORANG SUNDA DI LIRIK LAGU CIGAWIRAN

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini menganalisis tentang korelasi lirik lagu Cigawiran dengan konsep pandangan hidup orang Sunda, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan kualitatif. Langkah-langkah penelitian dilakukan melalui wawancara dengan narasumber Cigawiran dan melalui studi pustaka. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa konsep hidup orang Sunda yang terdapat dalam lirik lagu Cigawiran dibagi menjadi 5 bagian yaitu: tentang manusia dengan Tuhan, tentang manusia dengan alam, tentang manusia dengan lingkungan sekitar, tentang manusia sebagai pribadinya, dan tentang manusia dalam mengejar kepuasan lahiriah dan batiniahnya. Sedangkan bahasa simbolik yang digunakan dalam lirik lagu Cigawiran untuk mengungkap konsep kehidupan orang Sunda adalah melalui teori interaksi simbolik, dan gaya bahasa pada lirik lagu. Kata kunci: konsep kehidupan orang Sunda, lirik lagu Cigawiran ABSTRACT This study analyzes the correlation of the lyrics of the song Cigawiran with the concept of the Sundanese view of life, this study uses a descriptive analytic method, with a qualitative approach. The research steps were carried out through interviews with Cigawiran resource persons and through literature studies. From the results of the research conducted, it can be seen that the Sundanese concept of life contained in the lyrics of the song Cigawiran is divided into 5 parts, namely: about humans and God, about humans and nature, about humans and the surrounding environment, about humans as individuals, and about humans in pursuit of life. Inner and outer satisfaction. While the symbolic language used in the lyrics of the song Cigawiran to reveal the concept of Sundanese life is through the theory of symbolic interaction, and the style of language in the lyrics of the song. Keywords: the concept of life of the Sundanese, the lyrics of the song Cigawira

    MEME REFRAIN LIRIK HUMOR LAGU NESTAPA (HAREUDANG) DARI KELOMPOK MUSIK PASUKAN PERANG DI KOTA BANDUNG

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai gejala meme yang terjadi pada refrain lirik humor lagu Nestapa (Hareudang) milik kelompok musik Pasukan Perang dari kota Bandung yang viral di beragam media sosial salah satunya media TikTok. Serta bagaimana gejala lirik tersebut bisa viral hingga menjadi bahan bercandaan Artis nasional dan menjadi bahan materi iklan salah satu obat nyamuk bakar VAPE. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi pada media sosial TikTok dan Youtube. Hasil penelitian mengemukakan tentang 1) lirik lagu Nestapa (Hareudang) yang mengandung multitafsir bagi beberapa kalangan pendengar. 2) Respon masyarakat terhadap refrain lagu Nestapa (Hareudang) 3) Tafsir Pasukan Perang terhadap gejala meme yang muncul pada lirik refrain lagu Nestapa (Hareudang). Kata kunci: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang. ABSTRACT This study explains the meme symptoms that occur in the humorous refrain of the song Nestapa (Hareudang) belonging to the Pasukan Perang music group from the city of Bandung which is viral on various social media, one of which is TikTok media. And how the symptoms of these lyrics can go viral to become a joke for national artists and become an advertisement material for one of the VAPE-fueled mosquito coils. This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using interview and observation techniques on social media TikTok and Youtube. The results of the study suggest 1) the lyrics of the song Nestapa (Hareudang) which contain multiple interpretations for several listeners. 2) Community response to the refrain of Nestapa (Hareudang) 3) Pasukan Perang’s interpretation of the meme symptoms that appear in the chorus of Nestapa (Hareudang) song. Keywords: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang

    KEBIASAAN MINUM BERALKOHOL IMPOR (STUDI ETNOGRAFI KELOMPOK MAHASISWI BERJILBAB CAP DI BANDUNG)

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang bagaimana para mahasiswi berjilbab memiliki kegemaran minum minuman beralkohol impor yang tergabung pada kelompok CAP di Bandung, serta mengungkapkan bagaimana pengetahuan kelompok mahasiswi berjilbab CAP mengenai minuman beralkohol impor dan makna minum bagi mereka. Metode penelitian yang digunakan yakni metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnosains James Spradley yang berupa etnografi dan narasi personal, data yang dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi serta validasi data yang dilakukan dengan cara mereduksi data dan pengorganisasian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman beralkohol impor bagi kelompok CAP dapat menaikan prestise, dan merasa mendapatkan kepercayaan diri. Kemudian, kelompok CAP memiliki pengetahuan mengenai minuman beralkohol impor yaitu pengetahuan tentang mencampuri minuman beralkohol impor dengan minuman jenis lain, pengetahuan khas yang hanya berlaku di kelompok CAP, serta mereka memaknai minuman beralkohol impor sebagai jembatan dan pengerat tali kasih pertemanan mereka dalam kelompok CAP. Kata kunci: kelompok CAP, kebiasaan, minuman beralkohol impor, etnosains   ABSTRACT This study discusses how the veiled female students have a penchant for drinking imported alcoholic beverages who are members of the CAP group in Bandung, and reveals how the knowledge of the CAP veiled female student group about imported alcoholic beverages and the meaning of drinking for them. The research method used is a qualitative research method with James Spradley\u27s ethnoscience approach in the form of ethnography and personal narrative, data collected through literature study, participatory observation, in-depth interviews, and documentation and data validation by reducing data and organizing data. The results show that imported alcoholic beverages for the CAP group can increase prestige, and feel confident. Then, the CAP group has knowledge about imported alcoholic beverages, namely knowledge about mixing imported alcoholic beverages with other types of drinks, special knowledge that only applies to the CAP group, and they interpret imported alcoholic beverages as a bridge and strengthen their friendship in the CAP group. Keywords: CAP group, habits, imported alcoholic beverages, ethnoscienc

    PEWARISAN BUDAYA SEBAGAI SUMBER PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT ADAT MIDUANA KABUPATEN CIANJUR

    Full text link
    ABSTRAK Pewarisan budaya dapat memberikan dampak positif dalam berbagai aspek termasuk pada perekonomian masyarakat adat Miduana, karena  ketaatan melaksanakan budaya leluhurnya yang masih terjaga menjadi daya tarik dan obyek   wisata, dengan demikian pewarisan budaya bukan hanya memperkaya identitas masyarakatnya, tetapi juga dapat  menjadi sumber  bagi pertumbuhan dan peningkatan  ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakatnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menggali potensi yang dimiliki untuk dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan dan lapangan pekerjaan baru, yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Penelitian kualitatif dengan metode deskriftif analitis, dengan tahapan pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi literatur, adapun hasil penelitian ini dapat menggali potensi dan budaya lokal, sebagai sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat adat. Kata kunci: Budaya Lokal, Pemberdayaan Ekonomi, Masyarakat Adat   ABSTRACT Cultural inheritance can have a positive impact in various aspects, including on the economy of the Miduana indigenous people, among others. It is because adherence to the ancestral culture shown by its people has attracted tourists and becomes a tourist destination. Regarding this, cultural inheritance not only enriches the identity of the people but also becomes a source of sustainable economic growth for its people. The research aims to explore the Miduana indigenous people\u27s potentials that can be a source of income and for jobs that eventually will contribute to people\u27s welfare. It uses a qualitative method along with an analytical descriptive technique. The data were collected through observation, interviews, and literature studies. The results of this research are the potential and local culture as a source of economic empowerment for indigenous people. Key words: Local Culture, Economic Empowerment, Indigenous Peopl

    MAKNA DAN SIMBOL TRADISI BROKOHAN DI DESA KLAMPISAN

    Full text link
    ABSTRAK Di Indonesia, terdapat beragam tradisi, termasuk di antaranya adalah upacara menyambut kelahiran bayi. Seperti yang diterapkan oleh masyarakat Desa Klampisan, setiap kali ada yang baru melahirkan, mereka melaksanakan suatu tradisi yang dikenal sebagai brokohan. Penelitian ini berusaha menggali tentang tradisi brokohan yang dilakukan oleh warga Desa Klampisan sekaligus mencari makna dan simbol dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penggalian data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Teori yang dipakai dalam peneltian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Tradisi Brokohan merupakan tradisi yang masih dilestarikan di Desa Klampisan. Sebagaimana tradisi-tradisi lainya tradisi brokohan mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai ajaran gama Islam. Tradisi Brokohan dilakuakan dengan acara doa bersama dan diakhiri dengan acara berkatan (sajian). Dan setiap sajian tersebut mengandung makna filosofis tersendiri. Di antara sajian-sajian yang disajikan dalam acara brokohan di Desa Klampisan adalah Nasi ambengan, jenang merah. Ingkung, telur dan urap-urap. Kata kunci: Brokohan; sajian; makna. ABSTRACT In Indonesia, a variety of traditions exists, one of which revolves around welcoming the birth of a newborn. As practiced by the residents of Klampisan Village, whenever someone gives birth, they engage in a customary ritual known as brokohan. This study aims to delve into the brokohan tradition, seeking to unveil the meanings and symbols embedded in this cultural practice. Qualitative research methods are employed, utilizing observation and interview techniques for data collection. The theoretical framework applied in this study draws upon Roland Barthes\u27 semiotic theory. The findings of this investigation uncover that the Brokohan Tradition continues to thrive in Klampisan Village. Similar to other traditions, the brokohan ritual has adapted to align with the values espoused by Islamic teachings. The tradition involves a collective prayer event and culminates with a berkatan (serving) ceremony, where each dish holds its own philosophical significance. Among the dishes presented during the brokohan ceremony in Klampisan Village are Nasi Ambengan, red porridge (jenang merah), Ingkung (a traditional Javanese chicken dish), eggs, and urap-urap (a Javanese salad). Keywords: Brokohan, dishes, meanings

    PARIWISATA TEMATIK DAN HARAPAN BARU: ANALISA PENGEMBANGAN KAMPUNG BUDAYA POLOWIJEN BERBASIS TOURISM AREA LIFE CYCLE (TALC)

    Full text link
    ABSTRAK Fenomena tourist boom mendorong pembangunan destinasi pariwisata, termasuk Kota Malang. Potensi berbeda digunakan oleh Kota Malang dalam mengembangkan industri pariwisatanya, yaitu melalui potensi budaya yang akhirnya melahirkan kampung-kampung tematik. Sebagai salah satu kampung tematik di Kota Malang, Kampung Budaya Polowijen hadir dengan mengangkat sejarah dan tradisi yang ada di Polowijen. Pembentukan KBP didasari oleh kesadaran masyarakatnya akan potensi budaya yang dapat modal dalam membentuk destinasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan Kampung Budaya Polowijen melalui Kurva Tourism Area Life Cycle milik Butler. Selain itu, juga untuk mengetahui seberapa besar peran masyarakat lokal dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen. Penelitian ini dilakukan di kawasan Kampung Budaya Polowijen, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dan netnografi. Penggalian data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi partisipasi serta dokumentasi baik secara langsung maupun termediasi oleh internet. Informan yang dipilih adalah aktor pengembangan, wisatawan, masyarakat lokal penggiat Kampung Budaya Polowijen dan masyarakat di luar dari Kampung Budaya Polowijen. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat tiga jenis peran masyarakat dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen. Pertama, berperan aktif, berupa keterlibatan sebagai penggiat Kampung Budaya Polowijen. Kedua, berperan pasif, yaitu mendukung kegiatan yang ada di Kampung Budaya Polowijen dan tidak berperan sama sekali. Selain itu, melalui Kurva Tourism Area Life Cycle, Kampung Budaya Polowijen belum melewati siklus yang ada. Hingga saat ini, Kampung Budaya Polowijen masih menempati tahapan keterlibatan, meski begitu terdapat karakteristik yang beranjak ke tahap perkembangan dan yang masih tertinggal di tahap eksplorasi. Selain itu, terdapat fenomena-fenomena yang terjadi dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen yaitu penggunaan identitas dan warisan budaya dalam pengembangan, permasalahan lokasi di perkampungan dan kegiatan yang tidak berjalan konsisten. Kata Kunci: Peran Masyarakat, TALC, Pariwisata, Kampung Tematik, Budaya. ABSTRACT The phenomenon of tourist boom encourages the development of tourism destination, including Malang. Malang has different potential used in developing its tourism industry, namely through its cultural potential which eventually cause the thematic kampongs to emerge. As one of thematic kampong in Malang, Kampung Budaya Polowijen is present by promoting the history and traditions in Polowijen. Kampung Budaya Polowijen was established based on the awareness of its community about cultural potential which can be asset for forming tourism destination. This study intends to know the development of Kampung Budaya Polowijen through Butler’s Tourism Area Life Cycle Curve. Moreover, it is also to know how significant role of local community is in the development. This study is located in Kampung Budaya Polowijen, in Polowijen, Blimbing, Malang. This study uses ethnography and netnography methods. The data are obtained by doing interviews, participatory observations and documentations both directly and mediated by the internet. Chosen informant are development actors, tourists, local community including the ones who involve in Kampung Budaya Polowijen, and the ones who do not. The result of this study is there are three roles in local community in the development of Kampung Budaya Polowijen. The first role plays an active role as an activist. Next is the passive role who play as a supporter in the activities. Then, the last are those who do not play any roles. Furthermore, through Tourism Area Life Cycle Curve, Kampung Budaya Polowijen have not passed the cycle yet. Now, Kampung Budaya Polowijen is still in involvement stage. However, there are characteristics which are moving to development stage and stuck in exploration stage. Additionally, this study also found some phenomena in the development of Kampung Budaya Polowijen. They are cultural heritage and identity used in the development, problems in kampong area and inconsistently of the activities. Key words: Community Involvement, TALC, Tourism, Thematic Kampong, Culture

    REMPUG TARUNG ADU TOMAT (KOMODIFIKASI SENI PERGELARAN HELARAN DI DUSUN CIKAREUMBI, DESA CIKIDANG, KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT)

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini berfokus terjadinya komodifikasi budaya pada tradisi Rempug Tarung Adu Tomat. Tujuan penelitian adalah mengungkapkan struktur pertunjukan Rempug Tarung Adu Tomat, bentuk komodifikasi yang terjadi pada Rempug Tarung Adu Tomat, dampak komodifikasi Rempug Tarung Adu Tomat terhadap masyarakat setempat. Manfaat teoretis pada penelitian ini adalah dapat memberi kontribusi bagi disiplin ilmu antropologi tentang konsep komodifikasi terhadap budaya serta menambahkan wawasan bagi peneliti lainnya mengenai Rempug Tarung Adu Tomat. Manfaat praktis pada penelitian ini memberikan pemahaman serta menunjukan adanya komodifikasi budaya pada tradisi Rempug Tarung Adu Tomat yang berada di RW 03 Dusun CIkareumbi. Landasan teoretikanya konsep teoretis komodifikasi. Metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada tradisi Rempug Tarung Adu Tomat ini terdapat praktik komodifikasi budaya yang pada awalnya hanya memiliki nilai guna berubah dengan adanya nilai tukar (jual). Praktik komodifikasi berdampak pada penghasilan masyarakat sekitar dan terbentuknya lapangan pekerjaan. Masyarakat memperoleh dampak penambahan pendapatan ekonomi rumah tangga. Komodifikasi memberi pertumbuhan sektor perekonomian sekaligus memperkenalkan potensi suatu wilayah. Kata kunci: tradisi, perang tomat, komodifikasi budaya, industri pariwisata ABSTRACT This research focuses on the occurrence of cultural commodification in the Rempug Tarung Adu Tomat tradition. The purpose of this research is to reveal the structure of the Rempug Tarung Adu Tomat performance, the form of commodification that occurs in Rempug Tarung Adu Tomat, and the impact of thecommodification Rempug Tarung Adu Tomato on the local community. The benefits of this research are theoretical at this research can not give a contribution to the discipline of Anthropology on the concept of commodification of culture as well as add insight for other researchers about the Rempug Tarung Adu Tomat. Practical benefits in this study gave the understanding as well as show the commodification of culture on tradition Rempug Tarung Adu Tomat which is located in RW 03 Dusun CIkareumbi. The theory used is the theory of the concept of commodification. The method in this study uses qualitative methods with data collection techniques in the form of library studies, interviews, field observations and documentation. The results of this study indicate that in thetradition Rempug Tarung Adu Tomat there is a cultural commodification practice which at first only has a use value that changes with the exchange value (selling). Initially the Rempug Tarung Adu Tomat tradition was only a cultural tradition, now it has become a tourism commodity (tourism industry) not only that, it can be seen from the implementation of the entrance ticket system, and the sale of souvenirs with the attributes of thetradition Rempug Tarung Adu Tomat, with the practice of commodification it has an impact on people\u27s income. Environment and the formation of employment, the impact obtained by the community is of course the economic impact. Because the purpose of the practice of commodification is to build the economic sector and introduce the potential of the region. Keywords: tradition, tomato fighting, commodification of culture, tourism industry

    STRUKTUR DALAM MITOS PENGUBURAN ARI-ARI BAYI DI KAMPUNG BLOK TEMPE KOTA BANDUNG

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai struktur yang terdapat pada mitos penguburan ari-ari yang berada di Kampung Blok Tempe Kota Bandung. Pembahasan dalam penelitian ini meliputi prosesi penguburan ari-ari dilanjutkan dengan, mitos yang terdapat pada ramuan yang diperlukan dalam penguburan ari-ari dan struktur dalam yang merupakan logika nalar budaya di belakang tindakan penguburan ari-ari. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan kualitatif: studi pustaka, dokumentasi, observasi, serta wawancara tidak terstruktur. Hasil dari peneliti ini yaitu, mitos pada penguburan ari-ari tidak hanya terbentuk begitu saja tanpa memilki makna dan maksud tertentu. Melainkan terdapat makna terdalam di dalamnya. Seperti nilai-nilai budaya tersebut mengendalikan tata cara bertingkah-laku, pola pemikiran masyarakat membentuk mitos tersebut untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan dengan tugas pokoknya sebagai manusia. Selain itu, bertujuan untuk memberikan keharmonisan berkehidupan sosial sesama manusia sebagai makhluk sosial yang sudah pasti memerlukan manusia lain dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: mitos, ari-ari, logika nalar budaya ABSTRACT This study discusses the structure contained in the myth. The burial of the placenta in the blok tempe of Bandung city. The discussion in this study includes the procession of the burial of the placenta followed by the myths contained in the ingredients needed in the burial of the placenta and the internal structure: the logic of cultural reasoning in the burial of the placenta. The method used in this research is qualitative: literature study, documentation, observation, and unstructured interviews. The result of this research is that the myth of the burial of the placenta is not just formed without having a specific meaning and purpose. But there is a deep meaning in it. As these cultural values control the procedures for behaving, the mindset of the community forms the myth to create balance in life with its main duties as humans, besides that, it aims to provide harmony in the social life of fellow humans as social beings who definitely need other humans in their life. everyday life. Keywords: Myth, placenta, logic of reaso

    STRUKTUR DALAM DAN TRITANGTU: KAWIN CAI DI BABAKAN MULYA, KUNINGAN, JAWA BARAT

    Full text link
    ABSTRAK Upacara ritual sebagai salah satu bentuk kesadaran masyarakat secara kolektif, masih diselenggarakan oleh masyarakat sebagai salah satu bentuk tradisi yang di lestarikan. Masyrakat Sunda merupakan salah satu suku yang hidup di Provinsi Jawa Barat, dan masyarakat ini secara kolektif masih melaksanakan berbagai upacara ritual sebagai bentuk pendukung tradisi. Salah satunya adalah kawin cai merupakan upacara ritual untuk kesuburan dan rasa syukur atas alam, masih dilaksanakan oleh masyarakat Kuningan, Jawa Barat. Penelitian ini berfokus untuk melihat bagaimana struktur ritual ini dalam masyarakat Sunda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, untuk mendeskripsikan bagaimana tritangtu dari gejala simbolisasi materi dalam stuktur upacara ritual kawin cai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upacara ini merupakan ritus kesuburan dari pola perkawinan antara dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah, sebagai cara masyarakat untuk merawat sumber kehidupan, simbol-simbol yang tersirat dalam rangkaian upacara ritual, dan nilai upacara ritual kawin cai ini yaitu nilai material, nilai vital, dan kerohanian. Kata kunci: kawin cai, tritangtu, ritual, struktur, simbol ABSTRACT Ritual ceremonies as a form of collective community awareness, are still held by the community as a form of tradition that is preserved. Sundanese people are one of the tribes living in West Java Province, and this community collectively still carries out various ritual ceremonies as a form of supporting tradition. One of them is kawin cai is a ritual ceremony for fertility and gratitude for nature, still carried out by the people of Kuningan, West Java. This study focuses on looking at how this ritual structure in Sundanese society. The method used in this study is a qualitative research method, to describe how the tritangtu of the symptoms of material symbolization in the structure of the cai mating ritual ceremony. The results of this study show that this ceremony is a fertility rite of marriage pattern between the upper world, middle world, and lower world, as a way for people to care for the source of life, symbols implied in the series of ritual ceremonies, and the value of this cai mating ritual ceremony is material value, vital value, and spirituality. Keywords: kawin cai, tritangtu, ritual, structure, symbo

    98

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Budaya Etnika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇