Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
    98 research outputs found

    TRADISI RITUAL PENJAMASAN JIMAT DI DESA KALISALAK, KABUPATEN BANYUMAS (TAFSIR ATAS SIMBOL DAN MAKNA)

    Full text link
    ABSTRAK Dalam penelitian ini penulis membahas mengenai simbol dan makna pada tradisi ritual Penjamasan Jimat di desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Analisis penelitian menggunakan teori interpretatif simbolik Geertz terhadap simbol dan makna pada jimat yang di jamas. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan prosesi penjamasan, simbol dan makna ritual Penjamasan Jimat, dan manfaat ritual bagi kehidupan masyarakat. Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat menambah perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang Antropologi Budaya. Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar tentang sejarah, simbol, serta makna upacara ritual tradisi Penjamasan Jimat dimana dapat dijadikan sebagai suatu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pada akhirnya bisa dipahami bahwa upacara tradisi ini adalah suatu bentuk pelestarian dan rasa menghargai pada peninggalan nenek moyang untuk tetap dijaga bersama. Hasil penelitian menemukan adanya simbol dan makna di setiap bagian baik artefak jimatnya maupun sarana rritualnya, terungkap adanya manfaat dari ritual penjamasan. Kata kunci: Penjamasan Jimat, Interpretatif Simbolik, Makna, Manfaat Bagi Masyarakat ABSTRACT In this study, the author discusses the symbols and meanings of the Penjamasan Jimat ritual tradition in the village of Kalisalak, Banyumas Regency. This research uses descriptive analytic method. The research analysis uses Geertz\u27s symbolic interpretive theory of the symbols and meanings of the amulets in the jamas. The purpose of this study is to describe the penjamasan procession, the symbol and meaning of the talisman penjamasan ritual, and the benefits of the ritual for people\u27s lives. The benefits of this research are expected to increase the development of science, especially in the field of Cultural Anthropology. The practical benefits of this research are expected to provide benefits to the surrounding community regarding the history, symbols, and meanings of the traditional ritual ceremony of the talisman penjamasan which can be used as a form of gratitude to God Almighty and in the end it can be understood that this traditional ceremony is a form of preservation. and a sense of respect for the heritage of our ancestors to be maintained together. The results of the study found that there were symbols and meanings in each part of both the talisman artefact and the ritual means, revealing the benefits of the penjamasan ritual. Keywords: Penjamasan Jimat, Interpretative Symbolic, Meaning, Benefits for Society

    KESENIAN BADAWANG DAN PERKEMBANGANNYA (KECAMATAN RANCAEKEK, KABUPATEN BANDUNG)

    Full text link
    ABSTRAK Seni badawang merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang hidup dan berkembang di wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Kabupaten Bandung. Pada awalnya, kesenian badawang khususnya di Rancaekek diperkenalkan oleh seniman bernama Pak Een Rachmat. Kemudian Pak Een Rachmat mendirikan Lingkung Seni Tumaritis sebagai wadah seniman badawang di Rancaekek. Saat ini kesenian badawang dilanjutkan oleh generasi penerusnya yang merupakan anggota grup Tumaritis untuk dapat mempertahankan kesenian badawang sebagai warisan budaya. Seiring perkembangannya, kesenian badawang yang semakin dikenal juga memberi pengaruh terhadap hadirnya grup kesenian badawang yang baru di Rancaekek. Regenerasi itu berlangsung sebagai salah satu usaha untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan kesenian tersebut. Tulisan ini, merupakan deskripsi analisis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teori yang digunakan, yaitu teori pewarisan budaya. Temuan dari hasil penelitian ini yaitu, membahas hasil model pewarisan budaya dari Lingkung Seni Tumaritis dengan transmisi vertikal, transmisi horizontal, dan transmisi miring. Proses pewarisan kesenian ini dilakukan menggunakan konsep internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Ada pun beberapa faktor internal dan eksternal sebagai pendukung ataupun penghambat dalam proses pewarisan seni badawang. Kata Kunci: Kesenian Badawang, Lingkung Seni Tumaritis, dan Pewarisan Budaya   ABSTRACT Badawang art is a form of folk art that lives and develops in the West Java region, especially in the Bandung Regency area. At first, badawang art, especially in Rancaekek, was introduced by an artist named Pak Een Rachmat. Then Mr. Een Rachmat founded the Tumaritis Art Circle as a forum for badawang artists in Rancaekek. Currently badawang art is continued by the next generation who are members of the Tumaritis group to be able to maintain badawang art as a cultural heritage. Along with its development, the art of badawang which is increasingly recognized also has an influence on the presence of a new badawang art group in Rancaekek. The regeneration takes place as one of the efforts to be able to maintain and develop the arts. This paper is a description of the analysis using qualitative research methods. The theory used is the theory of cultural transmission. The findings of this study are discussing the results of the cultural inheritance model from the Lingkung Seni Tumaritis with vertical transmission, horizontal transmission, and oblique transmission. The process of art inheritance is carried out using the concepts of internalization, socialization, and enculturation. There are also several internal and external factors that support or hinder the process of inheriting the art of badawang. Keywords: Badawang Art, Lingkung Seni Tumaritis, Cultural Transmission

    RELIGIOMAGIS TUJUH PUSAKA INTI KERAJAAN SUMEDANG LARANG

    Full text link
    ABSTRAK Kerajaan Sumedang Larang merupakan kerajaan bercorak Islam di Jawa Barat yang berdiri sekitar abad ke-8 masehi. Kerajaan ini meninggalkan benda-benda pusaka yang sampai saat ini masih dapat disaksikan masyarakat. Kerajaan Sumedang Larang memiliki 7 pusaka inti yang dijaga kelestariannya melalui upaya kolektif masyarakat melalui ritual Ngumbah Pusaka dan juga melalui edukasi historis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami unsur religiomagis yang terkandung dalam 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur religiomagis pada 7 pusaka inti terletak pada kepercayaan masyarakat Kerajaan Sumedang Larang dalam proses pembuatan benda-benda pusaka yang bercampur dengan unsur spiritualitas pembuatnya seperti pemberian ritus-ritus, doa-doa atau melakukan puasa, sehingga mengonstruksi persepsi kesakralan dan kekeramatan terhadap 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang. Kata kunci: religiomagis, Kerajaan Sumedang Larang, tujuh pusaka inti   ABSTRACT The Sumedang Larang Kingdom was a kingdom in West Java. The kingdom has bequeathed heirlooms that are still observable in the present time. The objective of this study is to comprehend the magical and religious aspects present in the 7 fundamental artifacts of the Sumedang Larang Kingdom. This study employs a descriptive and qualitative research approach, utilizing data collection methods such as interviews, observation, and literature review. The employed data analysis technique encompasses data reduction, data display, and conclusion formulation. The study\u27s findings indicate that the magical and religious aspects of the 7 key heirlooms are rooted in the beliefs of the people of the Sumedang Larang Kingdom. These elements are intertwined with the spiritual aspects of the creators, which involve performing rituals, offering prayers, and observing fasting. This arrangement evokes a sense of the sacred and divine nature of the 7 fundamental relics of the Sumedang Larang Kingdom. Key words: Religious-Magic, Seven Key Heirlooms, Sumedang Larang Kingdo

    UPACARA MARAK LAUK DI SUNGAI CIKUBANG, KAMPUNG PARAKANSALAM, DESA NYALINDUNG, KECAMATAN CIPATAT

    Full text link
    ABSTRAK Kearifan lokal upacara marak lauk di sungai adalah tradisi budaya yang menggambarkan perilaku manusia dalam memanfaatkan sungai untuk dikonsumsi ikannya, guna mencukupi kebutuhan pangan. Upacara marak lauk merupakan warisan budaya leluhur yang diekspresikan untuk memuliakan alam sebagai titipan Tuhan. Tradisi budaya marak lauk mengajarkan bagaimana cara yang layak dan pantas dalam menangkap ikan. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana proses upacara marak lauk dan persepsi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat masih melakukan upacara lauk ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upacara marak lauk dilakukan sebagai bentuk perwujudan manusia dalam menghormati dan menghargai lingkungan alam dan mahluk halus penunggu sungai. Semua rangkaian acara sangat terstruktur, terintegrasi, memiliki standar operasional prosedur walaupun tidak tertulis. Inilah bentuk kebudayaan adiluhung masyarakat sunda Kampung Parakansalam desa Nyalindung kecamatan Cipatat kabupaten Bandung Barat dalam menangkap ikan di sungai. Semoga tradisi ini bisa membangun kesadaran masyarakat, dan pemerintah dalam memelihara lingkungan sungai. Kata kunci: Upacara Marak Lauk, Pemangku Adat, Sungai, Persepsi. ABSTRACT The local wisdom of the marak lauk ceremony in the river is a cultural tradition that describes human behavior in using the river to consume fish in order to meet food needs. The marak lauk ceremony is an ancestral cultural heritage expressed to glorify nature as a gift from God. The widespread cultural tradition of marak lauk teaches how to properly and appropriately catch fish. Qualitative research methods were used in this research to examine the process of the marak lauk ceremony and public perceptions. The aim of this research is to see how people perceive that they still carry out this side dish ceremony as part of local wisdom that needs to be preserved. The results of this research show that the marak lauk ceremony is done as a form of human manifestation of respecting and appreciating the natural environment and the spirits that guard rivers. All series of events are very structured, integrated, and have standard operating procedures, even though they are not written. This is a form of noble culture of the Sundanese people of Parakansalam Village, Nyalindung Village, Cipatat Sub-District, West Bandung Regency, in catching fish in the river. Hopefully, this tradition can build public and government awareness about maintaining the river environment. Keywords: Marak Lauk Ceremony, Traditional Authority, Perception

    GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS DI KOTA BANDUNG (PRODUKSI-DIRI MASYARAKAT)

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai perjuangan yang dilakukan komunitas metal Ujungberung Rebels dalam melakukan suatu tindakan produksi diri nasyarakat sebagai suatu langkah melawan dominasi major label. Serta melihat peran indie label serta infrastruktur musik lainnya sebagai siasat yang dilakukan oleh komunitas metal Ujungberung Rebels dalam memperebutkan pangsa pasar musik dengan major label. Penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara serta observasi baik secara langsung ataupun melalui literatur serta media lainnya seperti film. Hasil dari penelitian ini yaitu mengemukakan tentang 1) Perjuangan Ujungberung Rebels. 2) Siasat yang diluncurkan Ujungberung Rebels dalam melawan dominasi major label. Kata kunci: Ujungberung Rebels, Produksi-diri Masyarakat, Indie label, Do It Yourself ABSTRACT This research explains the struggles made by the Ujungberung Rebels metal community in carrying out an act of self-production as a step against the dominance of major labels. As well as seeing the role of indie labels and other music infrastructure as a strategy carried out by the Ujungberung Rebels metal community in fighting for music market share with major labels. This research was conducted through qualitative research methods with data collection techniques using interview and observation methods either directly or through literature and other media such as films. The result of this study is to bring up about 1) The Struggle of Ujungberung Rebels. 2) The tactics that The Rebels launched in countering the dominance of major labels. Keywords: Ujungberung Rebels, The self-production of society, Indie label, Do It Yoursel

    ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM PROSESI TRADISI PERNIKAHAN SUKU BANGSA BATAK MANDAILING DI TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA

    Full text link
    ABSTRAK Tujuan pada penelitian ini ialah untuk menganalisis mengenai makna simbolik pada tradisi pernikahan suku Mandailing. Metode pada penelitian ini ialah menggunakan analissi deskriptif dengan menggunakabn metode pengumpulan data triangulasi. Hasil dari penelitian ini yakni: pada tradisi pernikahan sudah menjadi sebuah ritual di setiap suku kebudayaan Indonesia, salah satunya ialah pada suku batak Mandailing. Suku batak Mandailing merupakan salahsatu bagian dari suku daerah provinsi Sumatera Utara, yang terletak di kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam tradisi suku batak Mandailing memiliki beberapa prosesi yang harus dilakukan didalamnya, juga tersirat didalamnya mengenai makna simbol, serta nilai-nilai Islam tentang pernikahan suku batak Mandailing. Islam merupakan agama bersifat Rahmatan lil a’lamin, agama yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Pernikahan dalam Islam merupakan ajaran agama guna untuk menjalankan sunnah rasulullah, serta untuk beribadah. Pernikahan suku batak Mandailing ini ialah merupakan suatu ritual kebudayaan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Menanggapi tentang prosesi adat pernikahan yang sangat menarik yang dimiliki di dalam suku batak Mandailing. Pernikahan pada suku batak Mandailing merupakan sebuah simbol sebagai bentuk pencurahan rasa syukur pada Allah yang maha esa, serta ucapan doa harapan untuk kedua mempelai, penyampaian pesan nasehat untuk bekal dalam mengarungi kehidupan yang baru. Kata kunci: Makna, Simbol, Pernikahan, Suku Batak Mandailing ABSTRACT The aim of this research is to analyze the symbolic meaning of the Mandailing tribe\u27s wedding traditions. The method in this research is to use descriptive analysis using triangulation data collection methods. The results of this research are: the tradition of marriage has become a ritual in every Indonesian cultural tribe, one of which is the Mandailing Batak tribe. The Mandailing Batak tribe is a part of the regional tribes of North Sumatra province, which is located in South Tapanuli district. In the tradition of the Mandailing Batak tribe, there are several processions that must be carried out in it, it also contains the meaning of symbols and Islamic values regarding weddings of the Mandailing Batak tribe. Islam is a religion that is Rahmatan lil a\u27lamin, a religion that was revealed to be a guide for humans and a blessing for all nature. Marriage in Islam is a religious teaching to carry out the sunnah of the Prophet Muhammad, as well as to worship. The Mandailing Batak tribe wedding is a cultural ritual aimed at strengthening ties between families. Responding to the very interesting traditional wedding procession that the Mandailing Batak tribe has. Marriage in the Mandailing Batak tribe is a symbol as a form of expressing gratitude to Almighty Allah, as well as saying prayers of hope for the bride and groom, conveying messages of advice to provide provisions for navigating a new life. Keywords: Meaning, Symbols, Marriage, Mandailing Batak Tribe

    POTRET KEHIDUPAN GAY DI KOTA KENDARI

    Full text link
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan potret kehidupan gay di Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan teori Michel Foucault tentang Seks dan Kekuasaan, yang menyatakan bahwa seseorang bebas menentukan pilihan hidupnya tanpa ada intervensi dari pihak lain. Ada kuasa dalam setiap diri untuk menjadi gay dan bahkan memilih untuk menjadi "waria". Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kelompok gay memahami bahwa orientasi seksual sesama jenis tidak lagi hanya sekedar pemuas hasrat tetapi diubah menjadi sebuah profesi yang memiliki nilai ekonomi. Selain perubahan kepribadian yang awalnya lebih mudah bergaul dan terbuka, setelah menjadi gay mereka juga menjadi tertutup dan lebih berhati-hati untuk sekedar mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Kata kunci: gay, penyakit menular, homoseks   ABSTRACT The purpose of this study is to find out and describe the portrait of gay life in Kendari City. This study uses Michel Foucault\u27s theory of Sex and Power, according to which a person is free to make life choices without any intervention from other parties. There is power in every self to be gay and even choose to be "transsexual". This study used descriptive qualitative method. The results of the study show that some gay groups understand that same-sex sexual orientation is no longer just a matter of satisfying desires but converted into a profession that has economic value. before, namely to become a woman. Apart from changing their personality, at first they are more sociable and open, after becoming gay they are also introverted and more careful to just express their feelings to other people. Key words: gay, infectious disease, homosexua

    APROPRIASI BUDAYA TRADISI UNDUKAN DORO DI KAMPUNG SETRO II KOTA SURABAYA

    Full text link
    ABSTRAK Undukan doro adalah tradisi adu kecepatan burung burung merpati. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama di Kota Surabaya dan identik dengan aktivitas perjudian. Meskipun identik dengan perjudian, undukan doro masih dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara pergeseran nilai dan perampasan budaya pada tradisi undukan doro di Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan faktor pergeseran nilai dan ambiguitas kedudukan tradisi undukan doro sebagai kearifan lokal dengan eksistensi moralitas. Faktor yang mendasari pergeseran makna tradisi undukan doro yakni adanya fenomena cultural appropriation karena perilaku penyalahgunaan makna tradisi. Degradasi nilai pada tradisi undukan doro menimbulkan stereotip negatif sehingga mengancam keberadaan komunitas undukan doro. Bentuk ancaman terhadap keberadaan komunitas undukan doro adalah punahnya tradisi akibat adanya tekanan masyarakat.  Kata kunci : Undukan doro, cultural appropriation, stereotip   ABSTRACT Undukan doro is a tradition of pigeon speed competition. This tradition has been held for a long-term period in Surabaya and is identical to gambling activity. Although identical to gambling, undukan doro is still being done. This research analyzes the correlation between value displacement and cultural appropriation on undukan doro in Gading Village, Tambaksari District, Surabaya City. The method that is used in this research is descriptive qualitative. All the data for this research is collected by observation and interview. The result from the research shows factors that caused the change of meaning in undukan doro tradition and ambiguity between undukan doro existence as a local tradition and its contradictive point to morality. The main factor of undukan doro tradition meaning change is caused by cultural appropriation phenomenon due to misappropriating the meaning of tradition.  Value degradation in the undukan doro tradition has caused negative stereotypes and threatens the existence of the undukan doro community. The form of threat to undukan doro existence is the traditional extinction due to societal pressure. Keywords: Undukan doro, cultural appropriation, stereotyp

    PELAJARAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN CIREBON

    Full text link
    ABSTRAK Perda No 5 Tahun 2003 menegaskan bahasa ibu masyarakat jawa barat terdiri dari Sunda, Cirebon dan melayu-betawi. Praktik kebijakan ini di jalankan melalui muatan lokal mata pelajaran bahasa daerah yang diatur dalam dinas pendidikan kabupaten/kota. Bahasa Cirebon menjadi salah satu dari mulok yang wajib diajarkan di wilayah penutur bahasa Cirebon. Adapun dalam praktiknya bahasa Sunda masih ditemukan diajarkan di sekolah-sekolah yang masyarakat sekitarnya tidak berbicara bahasa sunda termasuk di kabupaten Cirebon. Hal ini tentunya menjadi masalah khusunya bagi para siswa yang sejak kecil berbahasa Cirebon. Hasil penelitian menemukan penyelenggaraan pendidikan bahasa daerah  sudah sesuai dengan payung hukum yang dibuat namun dalam praktiknya mengalami berbagai macam kendala. Dampaknya penyelenggaraan kebijakan di tiap sekolah tidak saling bersinergi dan berintegrasi. Faktor-faktor yang memengaruhi adalah anggaran, kurikulum, dan SDM tiap satuan pendidikan yang berbeda-beda. Implikasinya siswa yang mempelajari bahasa Sunda mengalami kesulitan dengan tingkat dan derajat masing-masing. Kata kunci: Kabupaten Cirebon, Bahasa daerah, kebijakan pendidikan   ABSTRACT Regional Regulation No. 5 of 2003 confirms that the mother tongue of the people of West Java consists of Sunda, Cirebon and Malay-Betawi. The practice of this policy is carried out through the local content of regional language subjects regulated in the district/city education office. Cirebon language is one of the mulok that must be taught in Cirebon language-speaking areas. In practice, Sundanese is still found being taught in schools where the surrounding community does not speak Sundanese, including in Cirebon district. This is certainly a problem, especially for students who have spoken Cirebon since childhood. The results of the study found that the implementation of regional language education was in accordance with the legal umbrella made but in practice encountered various kinds of obstacles. The impact is that the implementation of policies in each school does not synergize and integrate with each other. The influencing factors are the different budgets, curriculum, and human resources of each educational unit. The implication is that students who study Sundanese have difficulty with their respective levels and degrees. Keywords: Cirebon Regency, regional language, education polic

    KEAGENAN KELOMPOK ALUNAN NUSANTARA TERHADAP HABITUS SELERA MUSIK INDONESIA 1977–1980

    Full text link
    ABSTRAK Penulisan ini mengangkat tentang fenomena populernya kembali musik lawas Indonesia 1977—1980, khususnya musik dari Gank Pegangsaan. Kelompok Alunan Nusantara sebagai agen yang berperan dalam mempopulerkan kembali musik lawas Indonesia menjadi objek dari Penulisan ini. Selanjutnya, kelompok ini disesuaikan dengan konsep habitus, disertai analisis berdasarkan teori nostalgia. Penulisan ini merupakan Penulisan kualitatif dengan metode observasi partisipasi, wawancara, dan studi pustaka. Penulisan ini menghasilkan simpulan bahwa: 1) Alunan Nusantara menularkan selera musik Indonesia 1977—1980 lewat konten instagram yang menarik, 2) orang tua dari masing- masing aktor Alunan Nusantara berperan penting dalam membagikan nostalgia, 3) musik Indonesia 1977—1980, yaitu Gank Pegangsaan, merupakan puncak kreativitas musik Indonesia. Hal ini dapat diketahui lewat syair dan aransemen musiknya yang berbeda dari musik Indonesia pada umumnya saat itu serta banyak terpengaruh dari elemen musik rok progresif. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi aktor Alunan Nusantara. Kata kunci: Alunan Nusantara, Nostalgia, Selera Musik, Rok Progresif, Habitus Selera ABSTRACT This research talks about the phenomenon of the re-popularity of 1977—1980 Indonesian music, especially the music of Gank Pegangsaan. The Alunan Nusantara group as an agent that plays a role in the re-popularization of this music is the main object of this research. Afterwards, this group is adjusted to the concept of habitus, and analyzed with nostalgia theory. This research is a qualitative research with some method, such as participatory observation, interview, and literature study. The concludes from this research is: 1) Alunan Nusantara introduce 1977—1980 Indonesian musical tastes through interesting Instagram content, 2) the parents of each Alunan Nusantara’s actor played an important role in sharing their nostalgia, 3) Indonesian music from 1977—1980, namely Gank Pegangsaan, is the peak of creativity of Indonesian musi. This can be seen through the lyrics and musical arrangements, which are different from Indonesian musics in general at that time and are heavily influenced by progressive rock’s element. This is the main attraction for Alunan Nusantara actors Key words: Alunan Nusantara, Nostalgia, Musical Taste, Progressive Rock, Taste Habitu

    98

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Budaya Etnika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇