Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
E-SPORTS DAN INTERAKSI SUBKULTUR GAMER DI INDONESIA
Abstrak: Penelitian ini menyorot pada bagaimana e-sports sebagai suatu budaya massa yang mempengaruhi pola interaksi subkultur gamer di Indonesia, baik interaksi sesama gamer atau gamer dengan masyarakat luas. Penelitian ini juga menjelaskan jenis-jenis interaksi pada gamer dan berbagai macam klasifikasi gamer. Dalam hal ini, pengaruh perkembangan e-sports pada pola interaksi yang terbentuk dikaji melalui konsep medium is the message (teori dari Marshall McLuhan). Penelitian ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan metode teknik etnografi virtual Metode ini dipilih karena penelitian ini memiliki batasan data yaitu komunikasi dan interaksi yang hanya diambil dari media virtual, dalam hal ini; video platform Youtube Gaming; 4 video game yang bersifat kompetitif yaitu Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire. Hasil penelitian mengemukakan 1) Perkembangan e-sports sebagai ‘medium’ dan 2) Perubahan pola interaksi gamer Indonesia sebagai ‘the message’.
Kata kunci: Interaksi, Permainan video, E-sports, Youtube.
Abstrak: This study focuses on how e-sports as a mass culture influences the interaction patterns of gamer subcultures in Indonesia, both among gamers or gamers with the wider community. This study also describes the types of interactions among gamers and various classifications of gamers. In this case, the influence of the development of e-sports on the interaction patterns formed is studied through the concept of the medium is the message (the theory of Marshall McLuhan). This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using virtual ethnographic techniques. This method was chosen because this research has data limitations, namely communication and interaction which are only taken from virtual media, in this case; Youtube Gaming video platform; 4 competitive video games, specifically Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, and Free Fire. The results of the research suggest 1) The development of e-sports as a \u27medium\u27 and 2) Changes in the interaction pattern of Indonesian gamers as \u27the message\u27.
Keywords: Interaction, Video games, E-sports, Youtube
RESIPROSITAS DALAM JEJARING SOSIAL PAGUYUBAN TARI SUNDA DI KOTA BANDUNG
Abstrak: Artikel ini membahas tentang jejaring kesenian tari yang bertujuan memenuhi kebutuhan baik dari bidang ekonomi dan sosial. Kedua hal tersebut ditunjukan dari bagaimana pertukaran yang terjadi pada kelompok tersebut. Kesenian sebagai salah satu sub sektor dari industri kreatif merupakan sub sektor ekonomi nasional sehingga membutuhkan organisasi secara administratif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi para pelakunya tanpa menghilangkan esensi dan nilai dari kesenian tersebut. Artikel ini memiliki tujuan untuk menganalisa bagaimana resiprositas bekerja di dalam sebuah jejaring kelompok untuk pertahanan eksistensi kelompok tersebut. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi ini dibutuhkan untuk mendeskripsikan kelompok kebudayaan dengan cara mencatat, mengamati, dan menuliskannya dalam bentuk deskripsi yang radikal dan menyeluruh, atau holistik. Artikel ini mengerucutkan grup-grup kesenian yang tergabung di dalam satu komunitas besar yaitu Paguyuban Seni Tari Sunda Galih Pakuan yang sebelumnya sudah dikategorisasi melalui jejaring kesenian.
Kata kunci: Resiprositas, jejaring sosial, paguyuban tari Sunda
Abstract: This article discusses the dance arts network that aims to meet the needs of both the economic and social fields. Both of these things are shown from how the exchanges that occur in the group. Arts as a sub-sector of the creative industry is a sub-sector of the national economy so it requires administrative organization to meet the economic needs of its practitioners without eliminating the essence and value of the arts. This article aims to analyze how reciprocity works within a group network to maintain the group\u27s existence. The method used in this study is a qualitative method with an ethnographic approach. This ethnographic approach is needed to describe cultural groups by recording, observing, and writing them in the form of radical and comprehensive descriptions, or holistic. This article narrows down the art groups that are part of one large community, namely the Galih Pakuan Sundanese Dance Art Association, which was previously categorized through the art network.
Keywords: Reciprocity, social networking, Paguyuban tari Sund
TARI THENGUL DI BOJONEGORO: EKSISTENSINYA DI SEKOLAH-SEKOLAH
Abstrak: Bojonegoro memiliki berbagai macam kebudayaan yang menjadi kebanggaan untuk daerah penghasil migas yang tergolong besar. Pada masa sekarang kebudayaan dan kesenian mengalami penurunan peminat dan menyebabkan kepunahan seperti halnya pada Tari Thengul, Tari Thengul dihidupkan kembali dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Terciptanya Tari Thengul berawal dari keberadaan Wayang Thengul yang hampir punah, sehingga Joko Santoso dan Ibnu Sutowo seniman di Bojonegoro memiliki insiatif untuk tetap menjaga kesenian Wayang tersebut dengan cara mengangkat kembali unsur-unsur yang ada pada Wayang Thengul menjadi sebuah tarian. Tari Thengul juga dijadikan sebagai sarana belajar untuk kegiatan ekstrakurikuler Tari di sekolah hal ini dilakukan sebagai bentuk pengenalan kearifan budaya lokal dan nilai-nilai budaya local. Selain untuk kegiatan ekstrakurikuler Tari Thengul juga menjadi bagian dari pementasan yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan dijadikan ikon Bojonegoro sebagai tarian penyambutan tamu di Kabupaten Bojonegoro. Meskipun Tari Thengul dihadapkan dengan perkembangan globalisasi, Tari Thengul tetap menjadi bagian dari budaya dan menjadi ikon Bojonegoro dan Jawa Timur pada umumnya. Hal ini menunjukan bahwa tarian ini masih eksis dan sangat dihargai dengan baik di tingkat daerah ataupun di tingkat nasional. Tarian ini memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan local melalui unsur gerakan dan melalui kostum yang khas, tarian ini menggambarkan keunikan budaya setempat dan sikap menghormati warisan leluhur.
Kata kunci: Eksistensi, Tari Thengul, Seniman
Abstract: Bojonegoro has a variety of cultures that are a source of pride for the region, especially in the field of traditional arts and culture. However, in recent times, there has been a decline in interest in cultural and artistic activities, leading to the extinction of certain cultural practices like the Thengul Dance. To revive the Thengul Dance, adjustments have been made to adapt to the modern era. The creation of the Thengul Dance originated from the endangered Wayang Thengul tradition. Artists in Bojonegoro, such as Joko Santoso and Ibnu Sutowo, took the initiative to preserve the Wayang art form by transforming its elements into a dance performance. The Thengul Dance is not only used as a learning tool for extracurricular dance activities in schools but also serves as a means to introduce local cultural wisdom and values. Apart from being part of extracurricular activities, the Thengul Dance is featured in government-organized performances in Bojonegoro and is considered an iconic welcoming dance for visitors to the region. Despite the challenges posed by globalization, the Thengul Dance remains an integral part of the local culture and a symbol of Bojonegoro and East Java as a whole. This demonstrates the enduring significance and appreciation of this dance at both the regional and national levels. The dance embodies cultural values and local wisdom through its unique movements and distinctive costumes, portraying the local cultural heritage and a deep respect for ancestral traditions.
Keywords: Existence, Thengul Dance, Artis
KEPERCAYAAN MASYARAKAT MADURA TERHADAP BAMBU CINTA DI MAKAM KI AGENG JOKO TARUP PAMEKASAN
Abstrak: Cerita rakyat adalah cerita yang asal mulanya berasal dari masyarakat lampau yang diwariskan pada generasi selanjutnya melalui lisan. Latar belakang melakukan penelitian ini adalah mengembangkan hasil penelitian lain yang mempelajari mitos atau kepercayaan serta upaya mengungkap kepercayaan masyarakat terhadap bambu cinta pada kawasan makam Ki Ageng Joko Tarup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah atau histori. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara kepada juru kunci makam serta dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Madura percaya jika menuliskan nama seseorang yang dicintai pada bambu di kawasan makam Ki Ageng Joko Tarup menjadi jodoh. Masyarakat juga percaya bahwa bambu tersebut tumbuh karena Ki Ageng Joko Tarup adalah seorang ulama ternama yang menancapkan tusuk sate pada tanah sehingga menjadi sebuah bambu. Masyarakat Madura menyebutnya sekarang sebagai bambu cinta.
Kata kunci: Bambu Cinta, Cerita Rakyat, Kepercayaan Masyarakat, Sejarah Lampau
Abstract: Folklore is a story that originates from past societies and is passed down through generations orally. The background for conducting this research is to expand on previous studies focusing on myths or beliefs, and to uncover the community\u27s belief in \u27bambu cinta\u27 (love bamboo) at the gravesite of Ki Ageng Joko Tarup. The method used in this research is historical or historiographical. Data collection techniques include observation, interviews with caretakers of the grave, and documentation. Data analysis employs the Miles and Huberman method, involving data reduction, data display, and drawing conclusions The research findings indicate that the Madurese community believes that writing the name of a loved one on bamboo at Ki Ageng Joko Tarup\u27s grave site can determine one\u27s fate. They also believe that the bamboo grows there because Ki Ageng Joko Tarup, a renowned Islamic scholar, planted a skewer in the ground which later grew into bamboo. The Madurese now refer to it as \u27bambu cinta\u27 or love bamboo.
Keywords: Bamboo Love, Folklore, Public Beliefs, historical pas
BIDAI TIKAR DAYAK DALAM MENUNJANG EKONOMI MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA
Abstrak: Anyaman bidai adalah sebuah hasil dari kreativitas berbasis kearifan lokal yang memiliki berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu produk andalan UMKM Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan UMKM yang ada di Jagoi Babang sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat yang merupakan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Pengumpulan data pada tulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur, data yang digunakan pada tulisan ini lebih berupa data sekunder yang dikumpulkan melalui proses studi literatur. Lokasi ini dipilih karena dari data yang ditemukan menunjukkan aspek sosial yang menjadi penyebab perdagangan kerajinan. Kurangnya pengetahuan manajemen dan kewirausahaan pada masyarakat perbatasan; serta tidak adanya strategi yang dimiliki dalam pemasaran bidai, menyebabkan perajin berada pada keadaan yang lemah. Maka dari itu, diperlukan upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam memperdayakan masyarakat melalui pengenalan manajemen strategis dalam hal pemasaran, pelatihan pemasaran, dan menjalin mitra agar dapat meningkatkan daya tawar dan mengembangkan jaringan pemasaran yang lebih luas lagi, selain pada wilayah Serikin, Malaysia. Kata kunci: bidai, perbatasan, kerajinan Abstract: Bidai webbing is one of the results of creativity based on local wisdom that has the potential to be developed as one of the mainstay products of UMKM in Jagoi Babang District. The purpose of this study is to find out the role of the Regional Government in empowering UMKM as an effort to increase community income in Jagoi Babang District, which is an Indonesia-Malaysia border area. The data collection in this paper is carried out using a qualitative method, the data used in this paper is more in the form of secondary data collected through the literature study process. This location was chosen because the data found showed the social aspect that was the cause of the craft trade. Lack of management and entrepreneurship knowledge; As well as the absence of a proper and efficient strategy in marketing tea, causing artisans to be in a weak bargaining position. Therefore, community empowerment efforts are needed through the introduction of strategic marketing management, training of marketing personnel, and establishing partners in order to increase bargaining power and develop a wider marketing network, other than in the Serikin area, Malaysia. Keywords: bidai webbing, border, craft
SENI ADAT TUTUNGGULAN KAMPUNG ADAT CIKONDANG PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Abstrak: Tutunggulan merupakan salah satu tradisi Kampung adat Cikondang yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Budaya tersebut merupakan aset penting dalam menjaga tradisi yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Kampung adat Cikondang. Budaya ini sering dikaitkan dengan simbol-simbol dan rasa syukur atas rezeki yang diturunkan oleh Allah SWT. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik, mendeskripsikan dan mengamati budaya tutunggulan yang setiap tahun dilaksanakan tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang diperoleh dari data lapangan, wawancara mendalam bersama masyarakat dan studi literatur mengenai warisan budaya di Kampung adat Cikondang. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan, diantaranya (1) sejarah mengenai budaya tutunggulan, (2) arti dan makna simbolik dari budaya tutunggulan. Kata kunci: Tutungggulan, warisan, Leluhur Abstract: Tutunggulan is one of the traditions of Cikondang traditional village that has been carried out for generations. The culture is an important asset in maintaining the traditions carried out every year by the Cikondang indigenous village community. This culture is often associated with symbols and gratitude for the sustenance sent down by Allah SWT. This research aims to explore the symbolic meaning, describe and observe the tutunggulan culture that has been carried out every year. This article uses a descriptive qualitative approach obtained from field data, in-depth interviews with the community and literature studies on cultural heritage in Cikondang traditional village. This research produces findings, including (1) the history of tutunggulan culture, (2) the meaning and symbolic significance of tutunggulan culture. Keywords: Tutunggulan, Heritage, Ancesto
PENGARUH GLOBALISASI ATAS PEWARISAN BUDAYA SENI TERBANG BUHUN DI MAJALAYA KECAMATAN PASEH KABUPATEN BANDUNG
Abstrak: Penelitian ini memfokuskan pengaruh globalisasi terhadap pewarisan budaya di Majalaya Kecamatan Paseh. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pewarisan budaya dan pengaruh globalisasi apa saja yang terdapat pada Seni Terbang Buhun dengan analisis pengaruh globalisasi dan pewarisan budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data yang berupa observasi, studi Pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perubahan sosial William F Ougburn dan Pewarisan budaya J Berry untuk menganalisis Seni Terbang Buhun. Hasil peneltian bahwa perubahan yang terjadi dalam Seni Terbang Buhun dalam kebudayaan material serta immaterial dan pewarisan budaya dilakukan melalui tiga pola yaitu, pewarisan tegak, pewarisan datar dan pewarisan miring. Namun dalam pewarisan budaya terdapat kendala dalam penerusan budaya ke genarasi selanjutnya.
Kata kunci: pewarisan budaya, globalisasi, seni terbang buhun. Abstract: This study focuses on the influence of globalization on cultural inheritance in Majalaya, Paseh District. The purpose of this study is to explain the cultural inheritance and the effects of globalization on Seni Terbang Buhun by analyzing the effects of globalization and cultural inheritance. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of observation, literature study, interviews, and documentation. The theory used in this research is William F Ougburn\u27s social change and J Berry\u27s cultural inheritance to analyze Seni Terbang Buhun. The results of the research show that the changes that occur in Seni Terbang Buhun in material and immaterial culture and cultural inheritance are carried out through three patterns, namely, upright inheritance, flat inheritance and oblique inheritance. However, in cultural inheritance there are obstacles in transmitting culture to the next generation.
Keyword: heritage,globalitation, Seni Terbang Buhun
INOVASI JURNALISME SENI BUDAYA PADA INSTAGRAM NABIL MUHDOR @BILLMOHDOR
Abstrak: Penelitian ini menjelaskan bagaimana media sosial menjadi ruang partisipatif yang mendorong munculnya praktik jurnalisme warga yang kreatif dan edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten untuk mengkaji praktik jurnalisme seni budaya yang dilakukan oleh Nabil Muhdor melalui akun Instagram @billmohdor. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi digital, dan wawancara mendalam dengan kreator dan pengikut aktif. Konten visual, narasi, dan interaksi audiens dianalisis untuk memahami strategi komunikasi dan bentuk inovasi yang digunakan. Temuan menunjukkan bahwa Instagram tidak hanya menjadi sarana berbagi konten, tetapi juga ruang aktualisasi jurnalisme kreatif yang memadukan visual sederhana, narasi reflektif, dan nilai-nilai budaya lokal. Nabil berhasil menyajikan konten yang akurat, otentik, dan menyentuh, serta memanfaatkan fitur Instagram secara strategis untuk membangun komunikasi dua arah yang partisipatif. Inovasi ini berdampak pada pola konsumsi budaya audiens yang menjadi lebih aktif, reflektif, dan kolaboratif, serta memperkuat posisi media sosial sebagai ruang literasi dan pelestarian budaya di era digital.
Kata Kunci: Jurnalisme masyarakat, Difusi Inovasi, Jurnalisme Digital, Media Sosial Instagram, Seni Budaya. Abstract: This research explains how social media becomes a participatory space that encourages the emergence of creative and educative citizen journalism practices. This research uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method to examine the practice of cultural arts journalism carried out by Nabil Muhdor through the Instagram account @billmohdor. Data were collected through observation, digital documentation, and in-depth interviews with creators and active followers. Visual content, narratives, and audience interactions were analyzed to understand the communication strategies and forms of innovation used. The findings show that Instagram is not only a means of sharing content, but also a space for actualizing creative journalism that combines simple visuals, reflective narratives, and local cultural values. Nabil succeeded in presenting accurate, authentic and touching content, and strategically utilized Instagram features to build participatory two-way communication. This innovation has an impact on the audience\u27s cultural consumption patterns which have become more active, reflective and collaborative, and strengthens the position of social media as a space for literacy and cultural preservation in the digital era. Keywords: Citizen journalism, Diffusion of Innovation, Digital Journalism, Instagram Social Media, Cultural Art
TRADISI WIRID KARINDING DALAM PERSPEKTIF FUNGSI DAN MAKNA DI DAERAH CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG
Abstrak: Penelitian ini membahas persoalan Tradisi Wirid Karinding sebagai bentuk seni pertunjukan yang dikaji dengan perspektif antropologi budaya berbasis seni. Adapun fokus pengkajiannya mengarah kepada aspek fungsi dan makna yang terkandung dalam bentuk penyajian Tradisi Wirid Karinding. Untuk mengungkap persoalan fungsi dan makna tersebut, penulis menggunakan teori Struktural Fungsional dari Radcliffe Brown sebagai pisau bedah penganalisisan substansi permasalahan pokok. Adapun metode penelitianya menggunakan metode deskriptif Analisis dalam bentuk model penelitian Kualitatif. Dalam upaya menjelaskan dan membahas isu-isu penting terkait dengan pokok permasalahan, maka penulis mendeskripsikan secara sistematis dimulai dari Bab I Pendahuluan hingga Bab V Kesimpulan. Dengan demikian laporan hasil penelitian dalam bentuk Skripsi ini dapat memberikan penjelasan dan penganalisisan secara terperinci sesuai dengan sistematika penulisan. Kata Kunci: Wirid Karinding, Fungsi, Makna dan Tradisi Abstract: This study discusses the issue of the Wirid Karinding Tradition as a form of performing arts that is studied from the perspective of art-based cultural anthropology. The focus of the study is on aspects of function and meaning contained in the form of presenting the Wirid Karinding Tradition. To reveal the problem of function and meaning, the author uses the Structural Functional theory from Radcliffe Brown as a scalpel to analyze the substance of the main problem. The research method uses descriptive analysis method in the form of a qualitative research model. In an effort to explain and discuss important issues related to the subject matter, the authors describe systematically starting from Chapter I Introduction to Chapter V Conclusion. Thus the research report in the form of this thesis can provide a detailed explanation and analysis in accordance with the systematics of writing. Keywords: Wirid Karinding, Function, Meaning and Traditio
RITUAL BALIMAU MINANGKABAU: TRADISI PENYUCIAN DIRI DAN TRANSFORMASI SOSIAL
Abstrak: Artikel ini membahas ritual Balimau sebagai tradisi penyucian diri masyarakat Minangkabau menjelang Ramadan. Permasalahan penelitian mencakup asal-usul, makna, dan transformasi sosial dalam pelaksanaannya. Kajian ini berlandaskan pada teori fungsionalisme budaya dan simbolisme Clifford Geertz, dengan metode studi dokumentasi terhadap literatur budaya dan jurnal ilmiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa ritual Balimau memiliki dimensi religius dan sosial yang penting, namun mengalami pergeseran makna akibat modernisasi dan komersialisasi. Diskusi menyoroti perlunya pelestarian nilai-nilai adat dan keagamaan dalam praktik budaya lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian budaya dan menawarkan rekomendasi pelestarian tradisi Balimau yang sesuai konteks zaman. Kata kunci: Balimau, Minangkabau, Tradisi, Modernisasi, Simbolisme Abstract: This article explores the Balimau ritual, a Minangkabau tradition of physical and spiritual purification before Ramadan. The research addresses issues of origin, meaning, and socio-cultural transformation of the ritual. Grounded in cultural functionalism and Clifford Geertz’s symbolic theory, this study uses document-based research through literature and cultural archives. Findings reveal that Balimau holds strong religious and social values but has shifted in meaning due to modernization and commercialization. The discussion emphasizes the importance of preserving both traditional and spiritual values in the face of cultural change. This study contributes to cultural discourse and offers recommendations for sustaining the Balimau tradition in a contemporary context. Keywords: Balimau, Minangkabau, tradition, modernization, symbolis