HISTOGRAM: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
    289 research outputs found

    ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA ARITMATIKA SOSIAL MENURUT TEORI KASTOLAN

    Full text link
    This study aims to analyze student errors and factors causing errors of cognitive style field independent (FI) and field dependent (FD) students. This study used a qualitative method with a descriptive approach to describe the errors of FI and FD students in solving social arithmetic story problems. The research was conducted at SMP Negeri 3 Dampelas with the research subjects amounted to 2 students each representing FI and FD cognitive styles. Data obtained by giving written tests and interviews. FD students and FI students made conceptual, procedural and technical errors. However, FD made more mistakes when compared to FI. This is intended from the errors made by FD students containing all error indicators, while FI students made errors in indicator 1 for conceptual errors, indicator 2 for procedural errors, and indicator 2 in technical errors. The factors causing the occurrence are not understanding the material taught, not being able to solve the problem according to the procedure properly, not being careful in calculations, and not checking back

    PENGARUH KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS DAN MODEL PEMBELAJARAN (KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION DAN PROBLEM BASED LEARNING) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN SELF AFFICACY SISWA DI MTSN 1 SINGKIL

    Full text link
    Tujuan riset ini yaitu: (1) Jika nilai probabilitas (sig) hipotesis pertama 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak; atau jika Ftabel memuat df1 = k-1 = 4-1 = 3 dan Fhitung ? Ftabel, dimana 79.027 ?2.816 maka H0 ditolak. Hasil penelitian menemukan maka kemahiran komunikasi matematis peserta didik mendapatkan hasil secara signifikan oleh kemampuan awal matematika yang dapat tergolong tinggi, sedang, atau rendah, dengan pengaruh yang cukup besar 67,5%; (2) Hipotesis kedua yang menghasilkan nilai probabilitas (sig) dengan 0,000 adapun tepat dibawah nilai signifikansi 0,05, menolak H0; atau Fhitung?Ftabel, dimana 30.182?2.816, menolak H0. Dengan besar pengaruh sebesar 70,5%, hasil tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri siswa dipengaruhi secara signifikan oleh kemampuan awal matematikanya (tinggi, sedang, buruk). Selanjutnya hipotesis ketiga juga ditolak karena adanya kemungkinan (sig) 0,000 lebih kecil dari 0,05 atau fakta bahwa Fhitung?Ftabel (80,134?2,816). Lalu model pembelajaran (STAD dan PBL) mengahdirkan pengaruh cukup besar sebesar 60,9% terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa; (4) Hipotesis keempat ditolak karena probabilitas (sig) sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 atau Fhitung?Ftabel, dimana 36,521?2,816; oleh karena itu, H0 ditolak. Dalam hal ini terdapat pengaruh yang cukup besar sebesar 67,2% model pembelajaran (STAD dan PBL) terhadap efikasi diri siswa; (5) Dari hipotesis kelima terbukti bahwa probabilitas (sig)  sebesar 1,000 lebih besar dari 0,05 atau  Fhitung?Ftabel dimana  0,000?2,816 maka H0 diterima. Karena kemampuan komunikasi matematis siswa tidak dipengaruhi oleh kemampuan awal matematika dan metodologi pembelajaran yang digunakan (STAD dan PBL), maka tes post hoc dihentikan. Model pembelajaran (STAD dan PBL) dikenakan pengaruh kumulatif (interaksi) sebesar 0,1% dari KAM (rendah, sedang, dan tinggi). (6) Pada hipotesis keenam terlihat bahwa nilai probabilitas (sig)  sebesar 2,020  lebih besar dari 0,05 atau Fhitung?Ftabel Jika 1.013?2.816, H0 disetujui. Kemudian tes post hoc ditiadakan karena kemampuan matematika awal (tinggi, sedang, dan rendah) dan mode pembelajaran (STAD dan PBL) tidak berinteraksi secara signifikan terhadap self-eficacy siswa. Sebesar 0,6%, gabungan pengaruh (interaksi) KAM rendah, sedang, dan tinggi pada model pembelajaran STAD dan PBL inilah yang berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan self-eficacy siswa

    ANALISIS KEMAMPUAN NUMBER SENSE SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIS

    Full text link
    Seorang siswa yang berlatih dan belajar matematika melalui algoritma secara teratur bisa mendapatkan nilai tinggi dalam ujian sekolah hingga tingkat tertentu, tetapi kinerja matematika di masa depan tidak hanya bergantung pada perolehan nilai tinggi dalam ujian sekolah. Hal ini sangat bergantung pada kemampuan number sense seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan number sense siswa dalam menyelesaikan masalah matematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilakukan di SMPN 3 Burau Kabupaten Luwu Timur. Pemilihan subjek penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes tertulis, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) siswa berkemampuan matematika tinggi memenuhi semua indikator number sense pada materi pecahan, 2) siswa dengan kemampuan sedang belum mampu menguasai konsep number sense secara keseluruhan karena hanya memenuhi 4 indikator number sense 3) Siswa dengan kemampuan rendah hanya mampu memenuhi 2 indikator yaitu mengidentifikasi keterurutan dan keteraturan pada sistem bilangan pecahan dan merepresentasikan urutan bilangan.   Kata Kunci: kemampuan matematika, number sense, masalah matemati

    LEARNING OBSTACLES MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PADA MATA KULIAH KALKULUS

    Full text link
    Research with the aim of uncovering students\u27 learning obstacles in calculus courses by applying the case method. To achieve this goal, learning obstacles were explored in calculus material after being taught by applying the case method. These learning obstacles were explored through Brousseau\u27s (2002) categories using observation, think aloud and in depth interviewing methods. The results obtained were that students in the Mathematics Education Study Program generally experienced epistemological obstacles in the calculus course, especially in the material on inequalities and operations on functions. Students have a very limited concept of the problem, so that when faced with a problem with a different editorial team, it is difficult for them to solve it. Apart from that, students also experience ontogenic obstacles in this material, they are not able to understand because the level of material being studied is too high, it is not connected to the knowledge they already have, students also experience didactical obstacles because the learning process during the Covid-19 pandemic is based online while the model This learning is not yet familiar to them

    Profil Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Limit Fungsi Ditinjau Dari Gaya Belajar Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sigi : Profil Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Limit Fungsi Ditinjau Dari Gaya Belajar Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sigi

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini mendeskripsikan kemampuan pemahaman konsep siswa bergaya belajar visual, auditorial dan kinestetik pada limit fungsi di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sigi. Jenis penelitian kualitatif, dengan 3 subjek dari 21 siswa, dikelompokkan berdasarkan gaya belajar. Data diperoleh menggunakan instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri, angket gaya belajar, tes tertulis serta wawancara dilakukan 2 kali diwaktu yang berbeda. Teknik analisis data menggunakan  kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) siswa bergaya belajar visual (GV) memenuhi empat indikator, menyatakan ulang konsep, memberikan contoh dan non-contoh, menyajikan konsep dalam bentuk tabel dan gambar, serta memilih metode dalam menyelesaikan tes limit fungsi. Ciri-cirinya mengerjakan soal dengan teliti, 2) siswa gaya bergaya belajar auditorial (GA) memenuhi tiga indikator, menyatakan ulang konsep, menyajikan konsep dalam bentuk tabel dan gambar serta memilih metode dalam menyelesaikan tes limit fungsi. Ciri-cirinya membaca soal dengan suara keras, dan 3) siswa bergaya belajar kinestetik (GK) memenuhi 2 indikator yaitu menyatakan ulang konsep dan menyajikan konsep dalam bentuk tabel dan gambar. Ciri-cirinya menunjuk soal dengan jari.   ABSTRACT This study describes the concept of understanding the ability of students with visual, auditorial, and kinesthetic learning styles to limit functions in class XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sigi. This type of research is qualitative, with three subjects from 21 students grouped by learning style. Data were obtained using research instruments, namely the researcher himself, a learning style questionnaire, written tests, and interviews conducted two times at different times. Data analysis techniques include data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The results showed: 1) visual learning style (GV) students fulfill four indicators, restate concepts, provide examples and non-examples, present concepts in tabular and pictorial form, and choose methods in solving the function limit test. His characteristics worked on the problem carefully: 2) auditorial learning style (GA) students met three indicators, restating concepts, presenting concepts in tabular and pictorial form, and choosing methods in solving the function limit test. His characteristics read the problem aloud, and 3) kinesthetic learning style students (GK) fulfill two indicators, namely restating concepts and presenting concepts in tabular and pictorial form. His characteristics point to the problem with his finger.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan pemahaman konsep siswa bergaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik pada materi limit fungsi. Jenis penelitian adalah kualitatif, dilakukan di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Sigi, menggunakan metode tes dan wawancara yang dilakukan dua kali diwaktu yang berbeda. Subjek penelitian terdiri dari 3 siswa yang dikelompokkan berdasarkan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik. Hasil penelitian menunjukkan: 1) siswa gaya belajar visual (GV) memenuhi 4 indikator pemahaman konsep yaitu menyatakan ulang konsep limit fungsi dengan bahasanya sendiri, memberikan contoh dan non contoh yaitu memberikan contoh fungsi yang memiliki nilai limit dan contoh fungsi yang tidak memiliki nilai limit, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis yaitu menyajikan konsep limit dalam bentuk tabel dan gambar, serta menggunakan, memanfaatkan dan memilih metode tertentu dalam menyelesaikan tes limit fungsi. Ciri-ciri dan karakteristiknya termasuk mengerjakan soal dengan teliti, mengulang-ulang pengerjaanya hingga mendapatkan jawaban yang diinginkan; 2) siswa gaya belajar auditorial (GA) memenuhi 3 indikator yaitu menyatakan ulang konsep limit fungsi dengan bahasanya sendiri, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis yaitu menyajikan konsep limit dalam bentuk tabel, dan gambar serta menggunakan, memanfaatkan dan memilih metode tertentu dalam menyelesaikan tes limit fungsi. Ciri-ciri dan karakteristiknya termasuk membaca soal dengan mengulang-ulang dengan suara keras; 3) siswa gaya belajar kinestetik (GK) hanya memenuhi 2 indikator yaitu menyatakan ulang konsep limit fungsi dengan bahasanya sendiri dan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis yaitu menyajikan konsep limit dalam bentuk tabel dan gambar. Ciri-ciri dan karakteristiknya termasuk membaca soal menunjuk dengan jari.Kata Kunci: Profil Kemampuan pemahaman konsep, limit fungsi, gaya belaja

    Pengembangan Edu-game Geometri "Petualangan Barudak" berorientasi Etnomatematika Banten

    No full text
    ABSTRACT In the digital era, educational games have become one of the trends in utilizing technology for learning. However, integrating culture into educational games is a challenge to ensure that the culture is preserved and can support learning to be more contextual and meaningful. There are only a few studies on the development of ethnomathematics-based Edu-games. Therefore, this research focuses on developing an Edu-game oriented towards Banten ethnomathematics with the topics of 3D and 2D shapes. Using Research and Development, the ADDIE method is employed to develop this Edu-game. In the development stage of the Edu-game, validation was carried out by three content experts and three media experts by completing questionnaires and interviews. Subsequently, a trial of the Edu-game\u27s use in learning was conducted in two elementary schools. A total of 35 students responded to the use of the game by completing questionnaires. As a result, the development of this Edu-game achieved an average percentage above 75% for each aspect, which means this Edu-game is "excellent". Thus, it can be concluded that the Edu-game "Petualangan Barudak" is suitable as a medium for teaching geometric shapes oriented towards the ethnomathematics of Banten.   ABSTRAK Di era digital, permainan edukasi telah menjadi salah satu tren dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. Namun, mengintegrasikan budaya ke dalam permainan edukasi merupakan tantangan untuk memastikan bahwa budaya tersebut dilestarikan dan dapat mendukung pembelajaran agar lebih kontekstual dan bermakna. Hanya ada beberapa studi tentang pengembangan Edu-game berbasis etnomatematika. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pengembangan Edu-game yang berorientasi pada etnomatematika Banten dengan topik bentuk 3D dan 2D. Dengan menggunakan Penelitian dan Pengembangan, metode ADDIE diterapkan sebagai tahap dalam pengembangan Edu-game ini. Pada tahap pengembangan Edu-game, validasi dilakukan oleh tiga ahli konten dan tiga ahli media melalui pengisian kuesioner dan wawancara. Selanjutnya, percobaan penggunaan Edu-game dalam pembelajaran dilakukan di dua sekolah dasar. Sebanyak 35 siswa memberikan tanggapan terhadap penggunaan permainan tersebut dengan mengisi kuesioner. Sebagai hasilnya, pengembangan Edu-game ini mencapai persentase rata-rata di atas 75% untuk setiap aspek, yang berarti Edu-game ini "sangat baik." Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Edu-game "Petualangan Barudak" cocok digunakan sebagai media untuk mengajarkan bentuk-bentuk geometri yang berorientasi pada etnomatematika Banten.Di era digital, permainan edukasi (Edu-game) telah menjadi salah satu tren dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. Namun, mengintegrasikan budaya ke dalam permainan edukasi merupakan tantangan untuk memastikan bahwa budaya tersebut dilestarikan dan dapat mendukung pembelajaran agar lebih kontekstual dan bermakna. Hanya ada beberapa studi tentang pengembangan Edu-game berbasis etnomatematika. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pengembangan Edu-game yang berorientasi pada etnomatematika Banten dengan topik bentuk 3D dan 2D. Dengan menggunakan Penelitian dan Pengembangan, metode ADDIE diterapkan sebagai tahap dalam pengembangan Edu-game ini. Pada tahap pengembangan Edu-game, validasi dilakukan oleh tiga ahli konten dan tiga ahli media melalui pengisian kuesioner dan wawancara. Selanjutnya, percobaan penggunaan Edu-game dalam pembelajaran dilakukan di dua sekolah dasar. Sebanyak 75 siswa memberikan tanggapan terhadap penggunaan permainan tersebut dengan mengisi kuesioner. Sebagai hasilnya, pengembangan Edu-game ini mencapai persentase rata-rata di atas 75% untuk setiap aspek, yang berarti Edu-game ini "sangat baik." Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Edu-game "Petualangan Barudak" cocok digunakan sebagai media untuk mengajarkan bentuk-bentuk geometri yang berorientasi pada etnomatematika Bante

    Local Instruktion Theory dalam Pembimbingan Riset di Bidang Pendidikan Matematika

    Full text link
    Untuk mempromosikan desain instruksional yang inovatif dalam pembimbingan riset di bidang pendidikan matematika, kami melakukan proyek penelitian berbasis riset untuk mengeksplorasi lintasan belajar mahasiswa dalam melakukan riset. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemikiran mahasiswa setiap tahapan lintasan belajar hipotesis (HLT) dan gambaran model teori instruksional lokal (LIT) dalam pembimbingan riset mahasiswa di bidang pendidikan matematika. Dalam artikel ini, kami menggunakan metode research desain dengan tahapan: (1) Preliminary Design; (2) Teaching Experiment; dan (3) Retrospective Analysis. 4 mahasiswa pendidikan matematika dan berada pada semester akhir berpartispasi dalam penelitian ini Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kami menemukan pola berdasarkan analisis retrospektif. Selanjutnya, kami merumuskan LIT untuk mendukung pembimbingan riset di bidang pendidikan matematika, yakni: (1) mahasiswa memahami etika penulisan karya ilmiah; (2) mahasiswa memanfaatkan peluang mendapatkan ide melalui review artikel; (3) mahasiswa menetapkan tema penelitian berdasarkan hasil narrative review; (4) mahasiswa menetapkan desain penelitian; (5) mahasiswa melakukan studi pilot untuk mendukung tema penelitian yang diambil; (6) mahasiswa melakukan analisis dan interpretasi data hasil penelitian; (7) mahasiswa mengomparasikan temuan dan hasil penelitian sebelumnya; dan (8) mahasiswa mendesiminasikan atau mempublikasikan hasil penelitian. Model LIT yang dihasilkan memberikan kontribusi sebagai kerangka acuan dalam pembimbingan riset dibidang pendidikan matematika

    METAKOGNISI SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA PADA MATERI MATRIKS

    Full text link
    Kemampuan metakognisi siswa dalam hal pemecahan masalah terkait matematika matriks dideskripsikan pada penelitian ini. Data kualitatif digunakan oleh peneliti guna memperoleh gambaran terkait metakognisi siswa dalam memecahkan suatu masalah mengenai matematika matriks. Maka, penelitian deskriptif-kualitatif termasuk dalam penelitian ini. Siswa kelas XII SMA Negeri 1 Tukdana menjadi subjek penelitian yang dipilih oleh peneliti. Dari delapan belas siswa dipilih tiga siswa dengan kemampuan metakognisi rendah, sedang dan tinggi. Soal tes dan wawancara diterapkan oleh peneliti sebagai teknik pengumpulan data. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti, memperlihatkan bahwa: Subjek S1 mempunyai metakognisi dengan kemampuan tinggi mampu menjalankan kegiatan terkait metakognisi seperti, melakukan pemantauan pada tiap-tiap langkahnya, melakukan suatu perencanaan, melakukan evaluasi tindakan pada masing-masing tahapan pemecahan dan melakukan evaluasi untuk hasil akhir, serta dapat melaksanakan seluruh kegiatan metakognisi untuk memecahkan suatu masalah di tahap Polya. Subjek S2 memiliki metakognisi dengan kemampuan sedang, karena S2 dapat melakukan kegiatan metakognisi di tahap pemahaman masalah, serta melakukan perencanaan pemecahan masalah, tetapi S2 kurang maksimal dalam melakukan aktivitas memantau dan evaluasi hasil yang diperolehnya. Subjek S3 memiliki metakognisi rendah, karena S3 belum mampu melaksanakan aktivitas metakognisi dengan baik

    EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA MAKANAN TRADISIONAL DUMBEG KHAS DAERAH REMBANG

    Full text link
    Makanan tradisional dumbeg khas daerah Rembang merupakan makanan favorit para Wali pada zaman dahulu sekitar abad 15 sampai 16 Masehi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep dan aktivitas matematika pada makanan tradisional dumbeg khas daerah Rembang. Metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap proses pembuatan makanan tradisional dumbeg khas daerah Rembang.  Untuk menguji keabsahan data dari data yang diperoleh yaitu menggunakan metode triangulasi data. Hasil dari penelitian ini adalah masyarakat daerah Rembang mengetahui bahwa dalam proses pembuatan dan bentuk makanan tradisional dumbeg ini terdapat beberapa aktivitas matematika seperti menghitung dan mengukur, serta konsep matematika diantaranya konsep matematika geometri, konsep matematika aljabar, dan konsep matematika aritmatika

    EFEKTIVITAS LKPD BERBASIS ETNOMATEMATIKA KESENIAN BARONG TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

    Full text link
    Siswa telah terpengaruh oleh pandangan tentang mata pelajaran matematika yang dianggap sulit untuk dipahami. Hal tersebut mempengaruhi motivasi dan membuat peserta didik lebih rentan terhadap sikap malas atau rasa putus asa ketika belajar matematika. langkah yang dapat diambil oleh pendidik untuk membuat proses pembelajaran lebih inovatif salah satunya dengan mengintegrasikan LKPD berbasis etnomatematika. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas LKPD berbasis etnomatematika kesenian barong terhadap motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini mengaplikasikan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Siswa kelas VIIIA dan VIIB MTs Al-Huda Kunduran, menjadi sampel pada penelitian ini. Data dikumpulkan melalui tes serta angket. Adapun analisis data dijalankan dengan uji-t yaitu indepndent sample t-test. Hasil penelitian ialah pengimplementasian LKPD berbasis etnomatematika kesenian barong lebih efektif dalam menunjang motivasi belajar peserta didik daripada LKPD konvensional. Tidak hanya motivasi belajar, namun hasil belajar peserta didik juga turut meningkat secara signifikan seusai pengimplemntasian LKPD berbasis etnomatematika

    254

    full texts

    289

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    HISTOGRAM: Jurnal Pendidikan Matematika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇