ITB Journal
Not a member yet
    5999 research outputs found

    Evaluasi Spasial Estimasi Curah Hujan pada Radar Cuaca Menggunakan Metode Z-R Marshall-Palmer di Wilayah Jawa Barat

    Get PDF
    Rainfall is one of the weather parameters that affect various sectors. High rainfall intensity can trigger hydrometeorological disasters, so rainfall observation data is vital to monitor rainfall conditions in an area. An automatic rain gauge is an instrument that measures rainfall at an observation point, but the instrument has reasonably low coverage and has yet to reach the entire region. Weather radar is a remote sensing instrument capable of spatially estimating rainfall. Weather radar data can be used to estimate rainfall using the Marshall-Palmer Z-R method. The application of the method can be an alternative for areas that do not have rainfall observation equipment. However, the estimation needs to be evaluated to improve the accuracy of the estimation value. Based on the evaluation, the highest coefficient of determination was 0.92, and the lowest was 0.67. The lowest RMSE value was 2.40, the highest was 6.76, the highest ME value was 16.59, and the lowest was 5.93; the highest bias was 12.90, and the lowest was 5.30. The study results show that the weather radar can operate according to the specifications of the maximum observation distance of up to 220 KM, but the farther the observation distance to a point, the higher the performance of rainfall estimation accuracy.Curah hujan merupakan salah satu parameter cuaca yang berpengaruh terhadap berbagai sektor. Intensitas curah hujan tinggi dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi sehingga data pengamatan curah hujan sangat penting untuk memantau kondisi curah hujan di suatu wilayah. Peralatan curah hujan otomatis merupakan instrumen mengukur curah hujan di suatu titik pengamatan, namun peralatan tersebut memiliki cakupan yang cukup rendah dan belum menjangkau seluruh wilayah. Radar cuaca merupakan salah satu instrumen penginderaan jauh yang mampu mengestimasi curah hujan secara spasial. Output data pengamatan radar cuaca dapat dijadikan estimasi curah hujan menggunakan metode pendekatan Z-R Marshall-Palmer. Penerapan metode tersebut dapat menjadi alternatif untuk wilayah yang belum memiliki peralatan pengamatan curah hujan. Namun, estimasi tersebut perlu dievaluasi sehingga dapat meningkatkan perfoma akurasi nilai estimasi tersebut. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, koefisien determinan tertinggi sebesar 0,92 dan terendah sebesar 0,67. Nilai RMSE terendah sebesar 2.40 dan tertinggi sebesar 6.76, nilai ME tertinggi sebesar 16.59 dan terendah 5.93, bias tertinggi sebesar 12,90 dan terendah 5.30. Hasil studi menunjukkan radar cuaca dapat beroperasi sesuai spesifikasi jarak maksimal pengamatan hingga 220 KM, namun semakin jauh jarak pengamatan terhadap suatu titik, mempengaruhi performa akurasi estimasi curah hujan

    Pengelompokkan Kondisi Fisik Cabang Olahraga Berdasarkan Daya Tahan Otot Tungkai dan VO2max Menggunakan Metode Single Linkage

    Get PDF
    The gathering of athletes' physical condition items, specifically leg muscle endurance and cardiorespiratory endurance (VO2max) in a variety of sports at the regional training facility in Banten Province is crucial for training based on leg muscle endurance and VO2Max. Methods: This quantitative descriptive study employs the single linkage approach to examine 119 athletes from 25 different sports in Serang, Banten. One-hour data retrieval of leg muscular endurance using the Hurdle Jump test and VO2Max using the Beep test. Data analysis with R-studio. Results: Based on the results of grouping using the single link method, the following can be stated: (1) Cluster 1 consists of six sports, including Kite Flying, Hanging, Aeromodelling, Paragliding, Rugby, and Motorized (Vo2 max and low endurance); (2) Cluster 2 consists of nine sports, including Taekwondo, Baseball, Cricket, Softball, Tarung Derajat, Kempo, Basketball, Sailing, and Karate. Cluster 3 is comprised of four sports: Athletics (Jumping), Pencak Silat, Hockey, and Badminton. (4) Cluster 4 comprises six sports, including Sepak Takraw, Judo, Roller Skating, Wushu, Wrestling, and Athletics, as representatives of the grouping of sports in the Serang region of Banten. Conclusion: the need for greater muscle endurance and fitness is directly related to the intensity of aerobic exercise. But not vice versa, because sports have different characteristics, even though cardiovascular fitness is the most important factor in supporting players' physical talents.Pengelompokkan item kondisi fisik atlet yaitu daya tahan otot tungkai dan daya tahan kardiorespiratori (VO2max) pada beberapa cabang olahraga di pusat latihan daerah (Puslatda) Provinsi Banten sangat diperlukan guna memetakan karakteristik cabang olahraga berdasarkan kemampuan daya tahan otot tungkai dan VO2Max. Metode: Studi deskriptif kuantitatif ini menggunakan metode single linkage dengan jumlah 25 jenis cabang olahraga yang melibatkan 119 atlet yang ada di Serang, Banten. Pengambilan data daya tahan otot tungkai menggunakan tes Hurdle Jump selama satu menit, sementara VO2Max menggunakan Beep test. Analisa data menggunakan R-studio. Hasil: Berdasarkan hasil clustering menggunakan metode single linkage dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Anggota Cluster 1 terdiri dari 6 cabang olahraga yaitu Terbang Layang, Gantole, Aeromedelling, Paralayang, Rugbi, dan Bermotor (Vo2 max dan daya tahan tungkai rendah); (2) Anggota Cluster 2 terdiri dari 9 cabang olahraga yaitu Taekwondo, Baseball, Cricket, Softball, Tarung Derajat, Kempo, Basket, Layar dan Karate. (3) Anggota Cluster 3 terdiri dari 4 cabang olahraga yaitu Atletik (Lompat), Pencak Silat, Hoki dan Bulutangkis. (4) Anggota Cluster 4 terdiri dari 6 cabang olahraga yaitu Sepak Takraw, Judo, Sepatu Roda, Wushu, Gulat dan Atletik (Lari Jarak Menengah) sebagai representative dari pengelompokkan cabang olahraga di daerah Serang, Banten. Kesimpulan: Olahraga dengan kebutuhan tinggi aerobik berbanding lurus dengan kebutuhan daya tahan otot dan kebugaran yang superior. Namun tidak berlaku sebaliknya, karena karakteristik cabang olahraga berbeda-beda meskipun kemampuan kardiovaskular menjadi komponen utama dalam mendukung kemampuan fisik atlet

    Simulation of Ultra-Short Laser Pulses Propagation and Ionization in Dual-Gas-Cells to Enhance the Quasi-Phase Matching of Harmonics Generation in Plasmas

    Get PDF
    A numerical model was designed and implemented to investigate the influence of plasma defocusing on laser characteristics. The effects of plasma defocusing were investigated by studying beam divergence, intensity reduction, and blue shifting. The diffusion of the ultra-intense laser beam in gas cells was within a Rayleigh range. Moreover, using dual-gas-cells, the impact of quasi-phase matching (QPM) on the creation of harmonic pulses in argon and hydrogen plasmas was studied. The alternating structure of argon and hydrogen gas cells showed a perfect build-up of the generated ultra-short harmonics pulses. The impact of electron density on laser diffusion and the creation of harmonic pulses were also investigated in this work. In the simulation, argon plasma with different plasma densities was used in an alternating structure to create dual-gas-cells and quasi-phase-matching. Noticeable conversion of the fundamental laser pulses to harmonics pulses was accomplished in the model by using the QPM concept

    Bahasa Inggeris

    No full text
    The global tourism industry has suffered significant losses due to the impact of global pandemic Covid-19. This paper examines the policies and efforts adopted by the local authorities of Indonesia and Brunei Darussalam to support their sustainable tourism industries and it seeks to draw lessons from both countries. The research will primarily focus on ecotourism issues and challenges in specific areas such as national parks, natural landscapes, and historical sites in both countries. Specific destinations within these eco-tourism categories for Indonesia’s; Bogor Botanical Garden, Onrust Archeological Park in Thousand Island Jakarta, and North Sulawesi Mountain Landscape. For Brunei Darussalam’s; Kampong Ayer, Sumbiling Eco-Village, and Ulu Temburong National Park. This study reveals challenges in tourism industry stakeholders’ participation level, inadequate and improper tourism infrastructure, a lack of skilled workforce employment. and insufficient public education on eco-tourism in both nations. Recommendations emphasize the importance of capacity building for stakeholder collaboration, infrastructure acquisition, and technology-driven knowledge transfer. The limitations of this study lie in the scarcity of research on empirical study and the unavailability of high-level official interviews. Therefore, for future research, it is important to assess the effectiveness of Indonesia and Brunei Darussalam government’s direct response such as funding mechanism policy, infrastructures development policy, and the utilization of digital platform policy. Besides, it is also important to assess the Indonesia and Brunei Darussalam government’s response to and anticipation of ecotourism issues for both countries.Industri pariwisata global mengalami kerugian yang cukup besar akibat pandemi Covid-19 secara global. Sejumlah penelitian menggarisbawahi pentingnya pariwisata berkelanjutan sebagai strategi pemulihan. Terlepas dari banyaknya hutan dan kekayaan alam yang membentang, komunitas lokal yang beragam, serta kekayaan budaya di Indonesia dan Brunei Darussalam, pemerintah daerah hanya menunjukkan upaya kecil menuju pariwisata yang berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji kebijakan dan upaya yang diadopsi oleh pemerintah daerah di Indonesia dan Brunei Darussalam untuk mendukung industri pariwisata berkelanjutan dan berupaya mengambil pelajaran dari kedua negara. Penelitian ini berfokus pada isu dan tantangan ekowisata di bidang tertentu seperti taman nasional, kekayaan alam, dan situs bersejarah di kedua negara. Destinasi khusus dalam kategori ekowisata ini untuk Indonesia; Kebun Raya Bogor, Taman Arkeologi Onrust di Pulau Seribu Jakarta dan Wisata Pegunungan Sulawesi Utara. Untuk Brunei Darussalam; Kampong Ayer, Eco-Village Sumbiling dan Taman Nasional Ulu Temburong. Studi ini menunjukkan tantangan dalam partisipasi pemangku kepentingan terkait eko-wisata, infrastruktur pariwisata yang memadai dan tepat, penggunaan tenaga kerja terampil, dan pendidikan masyarakat tentang ekowisata dari kedua negara. Hasil dan rekomendasi penelitian ini menekankan pada peningkatan kapasitas untuk berkolaborasi antar pemangku kepentingan, peningkatan infrastruktur, dan transfer pengetahuan berbasis teknologi. Keterbatasan penelitian ini terletak pada kurangnya jumlah penelitian pada bidang-bidang yang dipilih dan kurangnya wawancara resmi setingkat high-level. Sehingga, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat keterlibatan pemerintah di Indonesia dan Brunei Darussalam dalam menanggapi dan menyikapi isu eko-wisata yang ada di kedua negara

    Pengembangan Buku Ajar Geografi Pariwisata Berbasis Education For Sustainable Development (ESD)

    Get PDF
    This research aims to assess the feasibility and practicality of developing a tourism geography textbook based on Education for Sustainable Development (ESD) in the Social Sciences Education Study Program at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. This research employed the ADDIE development model from the Robert Maribe Branch for research and development (R&D), a process that encompasses analysis, development, implementation, and evaluation. The trial subjects for textbook products were geography lecturers and students in semesters 3rd and 9th of the 2023-2024 academic year. Data collection techniques included interviews, product validation questionnaires, and lecturer and student response questionnaires. The research instrument comprises interview guidelines, expert review questionnaires, and lecturer and student response questionnaires. The data analysis techniques include (1) preliminary research analysis of interview data; (2) validation questionnaire data analysis; and (3) analysis of lecturer response data and geography. The results of the research show that the feasibility of ESD based on tourism geography textbook materials and media received a score of 3.94 in the feasible category and 4.28 in the very feasible category. The practicalitytest conducted on students and lecturers received an average score of 3.85 and 4.0, respectively, indicating that the tourism geography textbook was considered practical by the students and very practical by the lecturers.Belum nampak adanya integrasi dan belum adanya buku ajar geografi pariwisata yang berbasis Education for Sustainable Development (ESD) mengantarkan pada tujuan penelitian ini untuk menguji kelayakan dan kepraktisan buku ajar geografi pariwisata yang dikembangkan dengan basis ESD di Prodi Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE dari Robert Maribe Branch yang terdiri dari Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Subjek Uji Coba produk buku ajar adalah dosen dan mahasiswa Geografi Semester 3 dan 9 Tahun Akademik 2023-2024. Teknik Pengumpulan Data melalui wawancara, angket validasi produk, serta angket respon dosen dan mahasiswa. Instrumen Penelitian terdiri dari Pedoman Wawancara, Angket Uji Ahli (Expert Review) dan Angket Respon Dosen dan Mahasiswa dengan Teknik Analisis Data terdiri dari (1) Analisis Data Wawancara (analisis penelitian pendahuluan); (2) Analisis Data Angket Validasi; (3) Analisis Data Respon Dosen dan Geografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelayakan materi dan media buku buku ajar geografi pariwisata berbasis ESD mendapatkan nilai 3,94 dengan kategori layak dan 4,28 dengan kategori sangat layak. Uji kepraktisan yang dilakukan pada mahasiswa dan dosen mendapat nilai rata-rata 3,85 dan 4,0 yang berarti buku ajar geografi pariwisata dinilai praktis oleh mahasiswa sangat praktis oleh dosen

    Kajian Implementasi Standar Protokol BIM Kementerian PUPR 2020 Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta

    Get PDF
    Abstrak Penerapan BIM di Indoensia perlu dianalisis dan dievaluasi agar dapat menciptakan penggunaan BIM yang lebih efektif dengan mengacu kepada standar protokol yang telah dibentuk oleh kementerian PUPR. Proyek yang ditinjau adalah proyek Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta yaitu proyek percobaan yang menerapkan BIM dengan pedoman Dokumen Protokol BIM Kementerian PUPR 2020. Penelitian yang dilakukan adalah menganalisis tingkat kepentingan dan tingkat kinerja faktor pelaksanaan BIM pada proyek untuk menentukan prioritas kebijakan dan evaluasi yang perlu dilakukan dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis. Selanjutnya, dilakukan juga analisis kesesuaian penerapan BIM pada proyek terhadap standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020. Dari 15 faktor penerapan yang ditinjau, kedua analisis tersebut memberikan hasil yaitu terdapat enam faktor yang pelaksanaannya sudah sesuai. Didapatkan juga hasil bahwa sejumlah faktor dievaluasi berlainan oleh tim pelaksana BIM antara sifat kuadran dan kesesuaiannya. Hal tersebut mengindikasikan adanya pemahaman terhadap standar protokol yang belum menyeluruh. Sehingga dibutuhkan adanya sosialisasi terkait dengan pelaksanaan BIM menurut standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020 oleh Kementerian PUPR untuk seluruh disiplin proyek. Kata-kata Kunci: Bangunan gedung, BIM, Evaluasi pelaksanaan, Industri konstruksi, Standar protokol, Teknologi informasi. Abstract The application of BIM in Indonesia needs to be analyzed and evaluated to create a more effective use of BIM with reference to standard protocols established by PUPR competition. The project under review is the Nahdlatul Ulama University project in Yogyakarta, which is a pilot project that implements BIM with the Ministry of PUPR's 2020 BIM Protocol Document guidelines. The research is conducted to analyze the level of Importance, and the performance factors for BIM implementation on projects that need to determine policy priorities and evaluations carried out using the Importance Performance Analysis method. Furthermore, the implementation of BIM for projects was also carried out against the Ministry of PUPR's 2020 BIM protocol standards. From 15 implementation factors reviewed, the two analyzes yielded results, six factors whose implementation was appropriate. The results also showed that several factors were evaluated differently by the BIM implementation team between the nature of the quadrants and their suitability. This indicates an understanding of standard protocols that is not comprehensive. So that there is a need for socialization related to the implementation of BIM according to the Ministry of PUPR's 2020 BIM protocol standards by the Ministry of PUPR for all project disciplines. Keywords: BIM, Building, Construction industry, Implementation evaluation, Information technology, Protocol standards.Penerapan BIM di Indoensia perlu dianalisis dan dievaluasi agar dapat menciptakan penggunaan BIM yang lebih efektif dengan mengacu kepada standar protokol yang telah dibentuk oleh kementerian PUPR. Proyek yang ditinjau adalah proyek Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta yaitu proyek percobaan yang menerapkan BIM dengan pedoman Dokumen Protokol BIM Kementerian PUPR 2020. Penelitian yang dilakukan adalah menganalisis tingkat kepentingan dan tingkat kinerja faktor pelaksanaan BIM pada proyek untuk menentukan prioritas kebijakan dan evaluasi yang perlu dilakukan dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis. Selanjutnya, dilakukan juga analisis kesesuaian penerapan BIM pada proyek terhadap standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020. Dari 15 faktor penerapan yang ditinjau, kedua analisis tersebut memberikan hasil yaitu terdapat enam faktor yang pelaksanaannya sudah sesuai. Didapatkan juga hasil bahwa sejumlah faktor dievaluasi berlainan oleh tim pelaksana BIM antara sifat kuadran dan kesesuaiannya. Hal tersebut mengindikasikan adanya pemahaman terhadap standar protokol yang belum menyeluruh. Sehingga dibutuhkan adanya sosialisasi terkait dengan pelaksanaan BIM menurut standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020 oleh Kementerian PUPR untuk seluruh disiplin proyek

    KAJIAN STABILISASI TANAH DENGAN SEMEN DAN BAHAN TAMBAH SEBAGAI LAPIS PONDASI PADA PERKERASAN JALAN (Studi Kasus : Tanah dari Kawasan Ibu Kota Nusantara)

    Get PDF
    Abstrak Pembangunan IKN yang masif berdampak pada tingginya kebutuhan agregat sehingga harus disuplai dari luar pulau yang menyebabkan tingginya biaya konstruksi pembangunan jalan. Kajian ini menyelidiki pemanfaatan tanah lokal sebagai lapis pondasi untuk mengurangi kebutuhan agregat dan biaya konstruksi. Sampel tanah dari IKN diklasifikasikan sebagai Silty Sand, dengan kandungan butiran halus rendah, tingkat keasaman rendah, kadar sulfat rendah, dan bebas dari bahan organik, sehingga tanah ini layak untuk campuran tanah semen. Suatu campuran tanah semen yang digunakan sebagai lapis pondasi harus mencapai kuat tekan target (7 hari) 2400 kPa dan kehilangan berat di bawah 7%. Pengujian UCS dan Wetting-Drying digunakan untuk mengevaluasi parameter kekuatan dan durabilitas tersebut. Campuran tanah semen tidak selalu memberikan sifat-sifat campuran yang memadai sebagai lapis pondasi. Campuran tanah dengan 13% semen memenuhi persyaratan kekuatan, tetapi tidak memenuhi persyaratan durabilitas karena kehilangan beratnya yang tinggi (15,90%). Penambahan bahan tambah pada campuran tanah semen dapat memperbaiki kinerja campuran. Penambahan 1% bahan tambah pada campuran tanah semen, dapat menurunkan kehilangan berat hingga 57,45%. Campuran tanah dengan 13% semen dan 1% bahan tambah menghasilkan kuat tekan (7 hari) sebesar 2964,6 kPa dan kehilangan berat sebesar 6,77%, sehingga campuran ini memenuhi persyaratan kekuatan dan durabilitas sebagai lapis pondasi tanah semen (SCB). Kata-kata Kunci: Kuat tekan, kehilangan berat, tanah semen, bahan tambah, lapis pondasi, perkerasan jalan, ibu kota nusantara. Abstract The massive development of Nusantara Capital City requires a large amount of aggregates, which must be transported from outside the island, increasing construction costs. This study investigates the use of local soil as a base layer to reduce aggregate demand and construction costs. Soil samples from the Nusantara Capital City area are classified as SM, with a high coarse fraction, low fines content (<50%), low acidity, low sulfate content, and free of organic matter, making them suitable for soil-cement mixtures. A soil-cement mixture used as a base layer must achieve a target compressive strength (7 days) of 2400 kPa and a weight loss below 7%. UCS and Wetting-Drying tests were used to evaluate these strength and durability parameters. The soil-cement mixture without additives did not meet the durability requirement due to high weight loss (15.90%). Adding 1% admixture reduced the weight loss by 57.45%. The mixture with 13% cement and 1% admixture achieved a 7-day compressive strength of 2964.6 kPa and a weight loss of 6.77%, meeting the strength and durability requirements for soil-cement base (SCB). Keywords: UCS, weight loss, soil cement, additive, base layer, pavement, nusantara capital city.Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sangat masif berdampak pada tingginya kebutuhan akan agregat. Agar pembangunan IKN dapat terus berjalan, agregat disuplai dari luar pulau. Hal ini mengakibatkan biaya konstruksi menjadi lebih mahal, termasuk dalam bidang pembangunan jalan. upaya yang dapat dilakukan untuk menekan kebutuhan agregat dan menekan biaya konstruksi yaitu menggunakan alternatif lapis pondasi lainnya seperti lapis pondasi tanah semen (SCB). Material tanah setempat memiliki daya dukung yang baik dan tersedia cukup banyak sehingga sangat mungkin untuk mengaplikasikan SCB pada perkerasan jalan. Suatu campuran tanah dengan semen tidak selalu memberikan sifat-sifat campuran yang memadai sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan. Penambahan bahan tambah pada campuran tanah semen dapat memperbaiki sifat-sifat campuran sehingga memenuhi persyaratan sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian stabilitasi tanah dari Kawasan Ibu Kota Nusantara dengan semen dan bahan tambah untuk digunakan sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan.   Sampel tanah dari kawasan Ibu Kota Nusantara merupakan tanah berbutir kasar berwarna coklat tua yang didominasi oleh fraksi pasir (75,92%), diklasifikasikan sebagai SM (Silty Sand) dengan fine content kurang dari 50% (23,30%), tingkat keasaman yang rendah (pH 6,32), kadar sulfat yang rendah (0,007356%), dan bebas dari bahan organik, sehingga tanah ini layak untuk digunakan sebagai bahan penyusun campuran tanah semen. Campuran yang dirancang menggunakan 13-15% semen dan 1-3% bahan tambah. Pengujian UCS dan Wetting-Drying dilakukan terhadap seluruh variasi campuran tanah semen baik tanpa bahan tambah maupun dengan bahan tambah. Hasil pengujian tersebut digunakan untuk mengevaluasi kekuatan dan durabilitas seluruh variasi campuran sesuai dengan persyaratan teknis sebagai lapis pondasi. Analisis struktur perkerasan dan biaya konstruksi dilakukan untuk mengevaluasi biaya konstruksi per sumbu kendaraan untuk mendapatkan campuran yang ekonomis.   Berdasarkan analisis kekuatan, seluruh variasi campuran baik campuran tanah semen (13-15%) tanpa bahan tambah maupun dengan bahan tambah (1-3%), menghasilkan nilai kuat tekan (7 hari) yang lebih tinggi dari nilai kuat tekan target (2400 kPa) sehingga memenuhi persyaratan kekuatan sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan. Campuran tanah semen tanpa bahan tambah memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan campuran tanah semen dengan bahan tambah pada umur pemeraman 3 dan 7 hari. Namun, pada umur pemeraman 28 hari, campuran tanah semen dengan bahan tambah memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan campuran tanah semen tanpa bahan tambah. Campuran tanah semen dengan 1%, 2%, dan 3% bahan tambah, masing-masing dapat menghasilkan kuat tekan (28 hari) 9,6%, 6,7%, dan 12,9% lebih tinggi dibandingkan campuran tanah semen tanpa bahan tambah.   Berdasarkan analisis durabilitas, campuran tanah semen tanpa bahan tambah menghasilkan kehilangan berat yang tinggi sehingga belum memenuhi persyaratan durabilitas sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan. Campuran tanah semen tanpa bahan tambah memiliki ketahanan yang rendah terhadap siklus basah-kering, dengan kehilangan berat tertinggi sebesar 15,90% pada kadar semen 13% dan terendah 13,74% pada kadar semen 15%. Sedangkan, campuran tanah semen dengan bahan tambah menghasilkan kehilangan berat di sekitar 7% sehingga memenuhi persyaratan durabilitas sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan. Campuran tanah semen dengan 1%, 2%, dan 3% bahan tambah, masing-masing dapat menghasilkan kehilangan berat 55%, 46%, dan 57% lebih rendah dibandingkan campuran tanah semen tanpa bahan tambah.   Kadar semen minimum yang menghasilkan kuat tekan target ³ 2400 kPa yaitu 13%, dan Kadar bahan tambah minimum yang menghasilkan kehilangan berat £ 7% yaitu 1%. Oleh sebab itu, kadar semen optimum dan kadar bahan tambah optimum masing-masing adalah 13% semen dan 1% bahan tambah.   Berdasarkan analisis biaya konstruksi per sumbu kendaraan, campuran tanah 13% semen dengan 1% bahan tambah merupakan campuran yang optimal karena menghasilkan biaya per sumbu paling rendah yaitu 0,033 Rp/m2/ESA. Campuran ini menghasilkan kombinasi terbaik antara biaya yang murah dan kinerja yang memadai. Penggunaan campuran tanah 13% semen dengan 1% bahan tambah sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan dapat menghemat biaya pembangunan jalan hingga 53,4% dibandingkan dengan perkerasan jalan yang menggunakan lapis pondasi berbutir.   Lapis pondasi tanah semen (SCB) dapat menjadi solusi yang tepat untuk menggantikan lapis pondasi berbutir pada perkerasan jalan. Keunggulan SCB, seperti lebih murah, lebih kuat, dan tahan lama, dapat menekan kebutuhan agregat dan menekan biaya konstruksi. Penggunaan SCB pada perkerasan jalan dapat mendorong pembangunan jalan yang lebih ekonomis dan dapat menghasilkan biaya pemeliharaan yang lebih rendah. Hal ini tentunya sejalan dengan tujuan pembangunan Ibu Kota Nusantara yang berkelanjutan.     Kata kunci: Kuat Tekan, Kehilangan Berat, Tanah Semen, Bahan Tambah, Lapis Pondasi, Perkerasan Jalan, Ibu Kota Nusantara. &nbsp

    The Effect of Photoperiod on the Growth of Stevia rebaudiana in vitro

    Get PDF
    Stevia rebaudiana, the source of non-caloric natural sweeteners in the form of steviol glycosides, is a plant with a poor germi- nation rate.Therefore, micropropagation is a potential alternative method to propagate the plants in a large number. Light is an important factor for photosynthesis, so changing the intensity, quality, and duration of lighting can affect plant growth. Photo- period, the duration of light within 24hour period, has been known to influence the growth of S. rebaudiana grown in ex vitro conditions. The purpose of this study is to investigate the effect of various photoperiod (8, 12, and 16 hours) on the growth of S. rebaudiana in vitro. The node segments from ex vitro grown S. rebaudiana plants were cultured on solid MS media supple- mented with 1.13mg/L BA and 0.35 mg/L IAA. The shoots were rooted on solid half-strength MS media containing 0.1 mg/L IAA. For acclimatization, therooted shoots were grown on a mixture of fertile soil, burnt rice husk, cocopeat, and manure. The photoperiod treatment was applied from the beginning to the end of the experiment. Our results showed that the highest shoot length was found under 16 hour photoperiod. On the otherhand, root number and root length were not affected by photoperiod. Additionally, a 16 hour photoperiod increased shoot length (5.9 cm) compared to a 12-hour (3.48 cm) and 8-hour photoperiod (3.08 cm) after 5 weeks of acclimatization. A 16 hour photoperiod also producedhighest total leaf fresh weight (0.2 g). Howev- er, different photoperiods did not significantly affect leaf number and leaf area. In conclusion, 16 hour photoperiod is the best condition for S. rebaudiana micropropagation

    Meningkatkan Kesadaran tentang Penyandang Autisme untuk Dewasa Muda melalui Animasi Eksperimental: Meningkatkan Kesadaran tentang Penyandang Autisme untuk Dewasa Muda melalui Animasi Eksperimental

    No full text
    Many with Autism Spectrum Disorder (ASD) struggle to achieve independence due to a lack of understanding and acceptance, particularly among young adults. To bridge this gap, this project proposes an experimental animation designed to foster empathy. Through a combination of literature review, interviews with psychologists and ASD companions, and participatory observations at an autism center, the project will gain insights into the lived experiences of ASD and the challenges young adults pose to social inclusion. The animation itself will leverage the flexibility of experimental animation to portray the frustrations and difficulties encountered by people with ASD due to social exclusion. Ultimately, the project aims to create a bridge of understanding through emotional connection, fostering empathy and acceptance among young adults towards individuals on the autism spectrum

    Evaluasi Kinerja Sistem Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus Pada Gedung Baja dengan Variasi Pemodelan Sendi Plastis

    Get PDF
    Abstrak Seringnya terjadi gempa bumi di Indonesia menuntut perencana struktur untuk menyediakan sistem pemikul beban lateral pada bangunan, tidak terlepas pada struktur bangunan baja. Di antara sistem-sistem struktur yang tersedia, Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) banyak diterapkan dikarenakan daktilitasnya yang tinggi dan disukai arsitek karena desainnya yang multifungsi. Penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik dari SRPMK pada gedung baja 5 lantai dengan fungsi apartemen, dirancang sesuai SNI 1726:2019, SNI 1729:2020, SNI 7860:2020 dan SNI 7972:2020. Kinerja struktur diperiksa terhadap dua level bahaya gempa—Desain Basis Earthquake (DBE) dan Maximum Considered Earthquake (MCE)—seperti yang dispesifikasikan oleh ASCE 41-17, menggunakan analisis pushover dengan dua pendekatan pemodelan sendi plastis. Model 1 menggunakan sendi plastis dengan tipe deformation-controlled untuk perilaku lentur balok dan perilaku aksial-lentur kolom. Untuk Model 2, sendi plastis pada kolom dirubah menjadi tipe force-controlled didasarkan telah terpenuhinya kriteria perancangan strong-column-weak-beam saat mendesain ukuran penampang. Dua metode evaluasi kinerja struktur yaitu Capacity Spectrum Method (CSM) dan Displacement Coefficient Method (DCM) digunakan untuk memeriksa kinerja struktur. Melalui dua metode tersebut, hasil penelitian menunjukkan pemodelan sendi plastis pada Model 1 menghasilkan evaluasi kinerja struktur yang lebih baik dibandingkan Model 2. Kata-kata Kunci: Analisis pushover, deformation-controlled, evaluasi kinerja, force-controlled, SRPMK. Abstract Indonesia's frequent seismic activity necessitates that structural engineers incorporate effective lateral load-resisting systems in building designs, particularly for steel structures. Among the available systems, the Special Moment Resisting Frame (SMRF) is widely adopted due to its ductility and is favored by architects for its design versatility. This study evaluates the seismic performance of an SMRF system in a five-story steel apartment building, designed in accordance with SNI 1726:2019, SNI 1729:2020, SNI 7860:2020, and SNI 7972:2020. The structural performance is assessed against two seismic hazard levels—Desain Basis Earthquake (DBE) and Maximum Considered Earthquake (MCE)—as specified in ASCE 41-17, using pushover analysis with two different plastic hinge modeling approaches. Model 1 employs deformation-controlled plastic hinges for both beam flexural behavior and column axial-flexural behavior, while Model 2 modifies the column hinges to be force-controlled, based on the fulfillment of the strong-column-weak-beam design criterion. Two methods of performance evaluation, the Capacity Spectrum Method (CSM) and the Displacement Coefficient Method (DCM), are used to assess the structural performance. Through these two methods, the results show that the plastic hinge modeling in Model 1 yields better structural performance evaluation compared to Model 2. Keywords: Deformation-controlled, force-controlled, SMRF, performance evaluation, pushover analysis.Abstrak Seringnya terjadi gempa bumi di Indonesia menuntut perencana struktur untuk menyediakan sistem pemikul beban lateral pada bangunan, tidak terlepas pada struktur bangunan baja. Di antara sistem-sistem struktur yang tersedia, Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) banyak diterapkan dikarenakan daktilitasnya yang tinggi dan disukai arsitek karena desainnya yang multifungsi. Penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik dari SRPMK pada gedung baja 5 lantai dengan fungsi apartemen, dirancang sesuai SNI 1726:2019, SNI 1729:2020, SNI 7860:2020 dan SNI 7972:2020. Kinerja struktur diperiksa terhadap dua level bahaya gempa—Desain Basis Earthquake (DBE) dan Maximum Considered Earthquake (MCE)—seperti yang dispesifikasikan oleh ASCE 41-17, menggunakan analisis pushover dengan dua pendekatan pemodelan sendi plastis. Model 1 menggunakan sendi plastis dengan tipe deformation-controlled untuk perilaku lentur balok dan perilaku aksial-lentur kolom. Untuk Model 2, sendi plastis pada kolom dirubah menjadi tipe force-controlled didasarkan telah terpenuhinya kriteria perancangan strong-column-weak-beam saat mendesain ukuran penampang. Dua metode evaluasi kinerja struktur yaitu Capacity Spectrum Method (CSM) dan Displacement Coefficient Method (DCM) digunakan untuk memeriksa kinerja struktur. Melalui dua metode tersebut, hasil penelitian menunjukkan pemodelan sendi plastis pada Model 1 menghasilkan evaluasi kinerja struktur yang lebih baik dibandingkan Model 2. Kata-kata Kunci: Analisis pushover, deformation-controlled, evaluasi kinerja, force-controlled, SRPMK. Abstract Indonesia's frequent seismic activity necessitates that structural engineers incorporate effective lateral load-resisting systems in building designs, particularly for steel structures. Among the available systems, the Special Moment Resisting Frame (SMRF) is widely adopted due to its ductility and is favored by architects for its design versatility. This study evaluates the seismic performance of an SMRF system in a five-story steel apartment building, designed in accordance with SNI 1726:2019, SNI 1729:2020, SNI 7860:2020, and SNI 7972:2020. The structural performance is assessed against two seismic hazard levels—Desain Basis Earthquake (DBE) and Maximum Considered Earthquake (MCE)—as specified in ASCE 41-17, using pushover analysis with two different plastic hinge modeling approaches. Model 1 employs deformation-controlled plastic hinges for both beam flexural behavior and column axial-flexural behavior, while Model 2 modifies the column hinges to be force-controlled, based on the fulfillment of the strong-column-weak-beam design criterion. Two methods of performance evaluation, the Capacity Spectrum Method (CSM) and the Displacement Coefficient Method (DCM), are used to assess the structural performance. Through these two methods, the results show that the plastic hinge modeling in Model 1 yields better structural performance evaluation compared to Model 2. Keywords: Deformation-controlled, force-controlled, SMRF, performance evaluation, pushover analysis

    4,516

    full texts

    5,999

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ITB Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇