ITB Journal
Not a member yet
5999 research outputs found
Sort by
The Impact of Different Media Materiality on the Creative Process
As a complex phenomenon, the creative process is shaped by multiple factors such as emotions, cognitive abilities, and contexts. Media materiality, as one of the contextual aspects of the creative process, has a significant impact on shaping and informing creative outcomes. To better understand the impact of different media materiality on the creative process, nineteen published studies were analyzed adhering to the PRISMA guidelines, focusing on four comparison groups: physical media vs non-immersive 2D/3D media, physical media vs immersive 3D media, digital 2D media vs immersive 3D media, and non-immersive 3D media vs immersive 3D media. The findings suggest that the choice of media materiality significantly influences the creative process, impacting factors such as ideation, expression, collaboration, and the overall experience of creating. This review concluded that media materiality in immersive virtual reality has the potential to enhance creativity, but traditional media may have more significant psychological benefits compared to virtual reality experiences. Future research directions in fine arts and design will be discussed based on the review results
Komposisi Dan Karakteristik Bata Merah Heritage
Abstrak
Dalam mewujudkan pengembangan Cagar Budaya berkelanjutan dan menjaga warisan budaya, maka dibutuhkan konsep pemugaran cagar budaya yang tepat serta material pemugaran yang sesuai dengan fungsinya, salah satunya adalah material bata merah heritage buildings. Bata merah saat ini berbeda dengan bata merah heritage/jaman Belanda, dibuktikan secara visual baik bentuk maupun warna. Kandungan bata merah perlu diteliti sehingga dapat ditemukan karakteristik dan komposisi bata merah heritage sehingga dapat digunakan sebagai bahan pemugaran cagar budaya di Indonesia. Tujuan penelitian untuk menganalisis karakteristik dan komposisi bata merah heritage. Metode yang digunakan adalah eksperimen dan pengujian di lapangan serta laboratorium. Karakteristik bata merah heritage secara sifat fisik seluruh bata merah heritage berbentuk persegi panjang, dengan dimensi berbeda meski dalam satu wilayah yang sama, rata-rata dimensi adalah 5,5x14x25,5, seluruhnya permukaan rata, siku tajam, dan sudut tajam serta warna berbeda-beda. Pengujian ukuran bata merah tidak memenuhi SNI 15-2094-2000 karena perbedaan dimensi serta terdapat nilai susut karena umur. Hasil pengujian karakteristik sifat mekanik yaitu serap air, kerapatan semu, dan kuat tekan seluruh bata merah heritage memiliki nilai yang berbeda meski dalam wilayah yang sama. Kerapatan semu tertinggi sebesar 2,624, terendah 1,333; Nilai minimum uji serapan air 14%, maksimum 27%; kuat tekan terbesar: 69,11 kg/cm2, terendah 32,35 kg/cm2
Kata-kata Kunci: Bata merah heritage, cagar budaya, komposisi, karakteristik, material.
Abstract
Dalam mewujudkan pengembangan Cagar Budaya yang berkelanjutan dan menjaga warisan budaya, maka sangat dibutuhkan konsep pemugaran cagar budaya yang tepat, sehingga dibutuhkan material pemugaran yang sesuai dengan fungsinya, salah satunya adalah material bata merah heritage buildings. Bata merah saat ini berbeda dengan bata merah heritage/jaman Belanda, hal itu dibuktikan secara visual baik bentuk maupun warna. Kandungan bata merah perlu diteliti sehingga dapat ditemukan karakteristik dan komposisi bata merah heritage sehingga dapat digunakan sebagai bahan pemugaran cagar budaya di Indonesia. Tujuan penelitian untuk menganalisis karakteristik dan komposisi bata merah heritage. Metode yang digunakan adalah eksperimen dan pengujian di lapangan serta laboratorium. Karakteristik bata merah heritage secara sifat fisik seluruh bata merah heritage berbentuk persegi panjang, dengan dimensi berbeda-beda meski dalam satu wilayah yang sama, rata-rata dimensi adalah 5,5x14x25,5, seluruhnya permukaan rata, kesikuan tajam, dan sudut tajam serta warna yang berbeda-beda. Seluruh pengujian sifat tampak sesuai SNI 15-2094-2000. Pengujian ukuran bata merah tidak memenuhi SNI 15-2094-2000 karena perbedaan dimensi serta terdapat nilai susut melihat umur. Hasil pengujian karakteristik sifat mekanik yaitu serap air, kerapatan semu, dan kuat tekan seluruh bata merah heritage memiliki nilai yang berbeda. Kerapatan semu tertinggi dengan nilai rata-rata sebesar 336,13 gram, serapan air terbesar dengan nilai rata-rata 13,17 gram, dan kuat desak tertinggi dengan nilai rata-rata 83,67 kN
Molecular Docking and In Vitro Studies of Synthesized Oxadiazole Derivatives as Urease Inhibitors
A novel sequence of 1,3,4-oxadiazoles (7a–h) was synthesized. The compounds were characterized by IR, ¹H NMR, and MS analyses. They were also examined to determine whether they could prevent urease from functioning. Molecular docking was done with AutoDock Vina, and the findings were visualized in Discovery Studio. The H NMR spectra showed peaks at δ 10.20 to 10.69 ppm for NH protons, δ 7.16 to 8.01 ppm for aromatic protons, and δ 4.21 to 4.37 ppm for 2H and CH₂ groups, confirming the structural details. The EI-MS spectra showed molecular ion peaks at 337 m/z with an intensity of 14-67%. Among the bioactivity-tested compounds, 7d resulted in robust activity with IC50 values of 161.6 ± 5.8 µM; compound 7e exhibited the weakest activity, at 453.6 ± 5.8 µM; and no inhibition was discovered by the 7a, 7f, and 7h compounds when compared to the Thiourea, at 21.8 ± 1.51 µM. Molecular dockings confirmed compound 7d as the best-docked complex, with a minimum energy of -7.4 kcal/mol, an RMSD value of 1.573 Å, and hydrogen interactions at His593 with the active site residue, confirming the experimental results. It was determined that 1,3,4-oxadiazoles can be employed as urease inhibitors
Numerical Analisis Numerik Pengaruh Diameter dan Kedalaman Cavity Tunggal Bentuk Lingkaran dalam Lapisan Batu Kapur (Limestone) Terhadap Daya Dukung Fondasi Dangkal Di Atasnya
Abstrak
Penelitian ini menganalisis pengaruh diameter dan kedalaman cavity tunggal berbentuk lingkaran terhadap daya dukung fondasi dangkal pada lapisan batuan kapur (limestone) menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method). Parameter utama yang dievaluasi adalah daya dukung relatif (R) berdasarkan variasi diameter cavity (D) dan kedalaman cavity (H) yang relatif terhadap lebar fondasi (B). Karakteristik massa batuan dimodelkan menggunakan kriteria keruntuhan Hoek-Brown. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kondisi batuan lemah, mekanisme keruntuhan utama adalah punching failure, di mana fondasi menembus lapisan atas batuan yang tidak mampu menahan beban. Cavity dengan diameter besar (D>B) pada kedalaman dangkal (H<B) diidentifikasi sebagai kondisi risiko tinggi, dengan pengurangan daya dukung 70-90% dibandingkan kondisi tanpa cavity. Kondisi ini membutuhkan prioritas penanganan pertama. Penelitian ini juga mengidentifikasi hubungan eksponensial yang mempermudah interpretasi data tanpa melibatkan variabel lebar fondasi (B), sehingga lebih praktis untuk aplikasi teknis. Dalam studi kasus, tiga kriteria desain diajukan: menghindari cavity risiko tinggi, memperkuat cavity, dan menggunakan desain fondasi adaptif. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pengaruh cavity pada fondasi dangkal di kawasan karst dan menyediakan panduan teknis yang praktis.
Kata Kunci: Cavity, batuan kapur, daya dukung fondasi dangkal, finite element method, Hoek-Brown.
Abstract
This study analyzes the effects of circular single cavity diameter and depth on the bearing capacity of shallow foundations in limestone layers using the Finite Element Method. Key parameters include relative bearing capacity (R) based on cavity diameter (D) and depth (H) relative to foundation width (B). The rock mass was modeled using the Hoek-Brown failure criterion. The results show that in weak rock conditions, the dominant failure mechanism is punching failure, where the foundation penetrates the weak upper rock layer. Cavities with large diameters (D>B) at shallow depths (H<B) are identified as high-risk conditions, reducing bearing capacity by 70-90% compared to conditions without cavities. These conditions require priority handling. The study identifies an exponential relationship simplifying data interpretation without involving foundation width (B), making it more practical for technical applications. In the case study, three design criteria are proposed: avoiding high-risk cavities, reinforcing cavities, and adopting adaptive foundation designs. These findings contribute significantly to understanding cavity effects on shallow foundations and provide practical guidelines for karst region structures.
Keywords: Cavity, limestone, shallow foundation bearing capacity, finite element method, Hoek-Brown.Abstrak
Penelitian ini menganalisis pengaruh diameter dan kedalaman cavity tunggal berbentuk lingkaran terhadap daya dukung fondasi dangkal pada lapisan batuan kapur (limestone) menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method). Parameter utama yang dievaluasi adalah daya dukung relatif (R) berdasarkan variasi diameter cavity (D) dan kedalaman cavity (H) yang relatif terhadap lebar fondasi (B). Karakteristik massa batuan dimodelkan menggunakan kriteria keruntuhan Hoek-Brown. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kondisi batuan lemah, mekanisme keruntuhan utama adalah punching failure, di mana fondasi menembus lapisan atas batuan yang tidak mampu menahan beban. Cavity dengan diameter besar (D>B) pada kedalaman dangkal (H<B) diidentifikasi sebagai kondisi risiko tinggi, dengan pengurangan daya dukung 70-90% dibandingkan kondisi tanpa cavity. Kondisi ini membutuhkan prioritas penanganan pertama. Penelitian ini juga mengidentifikasi hubungan eksponensial yang mempermudah interpretasi data tanpa melibatkan variabel lebar fondasi (B), sehingga lebih praktis untuk aplikasi teknis. Dalam studi kasus, tiga kriteria desain diajukan: menghindari cavity risiko tinggi, memperkuat cavity, dan menggunakan desain fondasi adaptif. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pengaruh cavity pada fondasi dangkal di kawasan karst dan menyediakan panduan teknis yang praktis.
Kata Kunci: Cavity, batuan kapur, daya dukung fondasi dangkal, finite element method, Hoek-Brown.
Abstract
This study analyzes the effects of circular single cavity diameter and depth on the bearing capacity of shallow foundations in limestone layers using the Finite Element Method. Key parameters include relative bearing capacity (R) based on cavity diameter (D) and depth (H) relative to foundation width (B). The rock mass was modeled using the Hoek-Brown failure criterion. The results show that in weak rock conditions, the dominant failure mechanism is punching failure, where the foundation penetrates the weak upper rock layer. Cavities with large diameters (D>B) at shallow depths (H<B) are identified as high-risk conditions, reducing bearing capacity by 70-90% compared to conditions without cavities. These conditions require priority handling. The study identifies an exponential relationship simplifying data interpretation without involving foundation width (B), making it more practical for technical applications. In the case study, three design criteria are proposed: avoiding high-risk cavities, reinforcing cavities, and adopting adaptive foundation designs. These findings contribute significantly to understanding cavity effects on shallow foundations and provide practical guidelines for karst region structures.
Keywords: Cavity, limestone, shallow foundation bearing capacity, finite element method, Hoek-Brown
Self-Efficacy dalam Olahraga: Kajian Bibliometrik: Identifikasi Kontributor Utama dan Arah Perkembangan Penelitian Self-Efficacy dalam Olahraga melalui Pendekatan Bibliometrik
Objectives of this study are to map the historical developments, major trends, academic collaborations, and dominant themes in self-efficacy research in the field of sports and physical activity from 1982 to 2025. This study also identifies key contributors and future research directions using a bibliometric approach. Methods Data were collected from the Scopus and Web of Science databases using relevant keywords such as "self-efficacy" and "sport" or "physical activity. The analysis was conducted with the help of VOSviewer software to visualize collaboration networks, keyword co-occurrence, and thematic dynamics. Bibliometric indicators such as publication count, citations, h-index, and annual trends were used to describe the research landscape. The analysis shows that self- efficacy is a central concept strongly associated with motivation, athletic performance, rehabilitation, and mental health. More than 3,000 publications were identified during the analysis period, with a significant increase occurring since the early 2000s. The United States was recorded as the most productive country, with the University of Illinois as the top contributing institution, while Edward McAuley and Albert Bandura were identified as the most cited authors. The findings provide a foundation for developing evidence-based interventions and encourage multidisciplinary collaboration and more inclusive, sustainable sports policies.Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk memetakan perkembangan historis, tren utama, kolaborasi akademik, dan tema dominan dalam penelitian self-efficacy di bidang olahraga dan aktivitas fisik dari tahun 1982 hingga 2025. Kajian ini juga mengidentifikasi kontributor utama serta arah perkembangan penelitian di masa depan melalui pendekatan bibliometrik. Metode dari data diperoleh dari basis data Scopus dan Web of Science dengan menggunakan kata kunci yang relevan seperti "self-efficacy" dan "sport" atau "physical activity". Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak VOSviewer untuk memvisualisasikan jaringan kolaborasi, keterkaitan kata kunci, dan dinamika tematik. Indikator bibliometrik seperti jumlah publikasi, sitasi, h-index, dan tren tahunan digunakan untuk menggambarkan lanskap penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-efficacy merupakan konsep sentral yang terkait erat dengan motivasi, performa atlet, rehabilitasi, dan kesehatan mental. Sebanyak lebih dari 3.000 publikasi teridentifikasi selama periode analisis, dengan lonjakan signifikan terjadi sejak awal 2000-an. Amerika Serikat tercatat sebagai negara paling produktif, University of Illinois menjadi institusi dengan kontribusi publikasi tertinggi, sementara Edward McAuley dan Albert Bandura tercatat sebagai penulis dengan jumlah sitasi terbanyak. Kesimpulan dari temuan ini memberikan dasar untuk pengembangan intervensi berbasis bukti, serta mendorong kolaborasi multidisipliner dan kebijakan olahraga yang lebih inklusif dan berkelanjutan
Systematic Literature Riview: Peranan metode BIM dalam Integrated Project Delivery (IPD) untuk Mengoptimalkan Konstruktabilitas Proyek
Abstrak
Kemajuan teknologi informasi dalam industri konstruksi mendorong penggunaan Building Information Modeling (BIM) dalam proyek dengan metode Integrated Project Delivery (IPD) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan proyek. BIM memungkinkan koordinasi lintas disiplin melalui fitur clash detection dan clash avoidance guna mendeteksi serta mencegah benturan antar elemen desain sejak tahap awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran BIM dalam mengoptimalkan konstruktabilitas proyek IPD melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi BIM dan IPD tidak hanya mendukung kolaborasi antarpemangku kepentingan tetapi juga mengurangi kesalahan desain, mempercepat waktu pelaksanaan, dan menekan biaya konstruksi. Namun, beberapa keterbatasan, seperti ketergantungan pada kualitas data input, komunikasi antardisiplin, serta teknologi prediksi benturan, masih perlu diatasi untuk mencapai hasil yang optimal.
Kata-kata Kunci: Konstruktabilitas, clash detection, clash avoidance, BIM, IPD
Abstract
Advances in information technology in the construction industry encourage the use of Building Information Modeling (BIM) in projects using the Integrated Project Delivery (IPD) method to increase the effectiveness and efficiency of project implementation. BIM enables cross-disciplinary coordination through clash detection and clash avoidance features to detect and prevent clashes between design elements from an early stage. This research aims to identify the role of BIM in optimizing the constructability of IPD projects through a Systematic Literature Review (SLR) approach. The study results show that the integration of BIM and IPD not only supports collaboration between stakeholders but also reduces design errors, speeds up implementation time, and reduces construction costs. However, several limitations, such as dependence on input data quality, interdisciplinary communication, and collision prediction technology, still need to be overcome to achieve optimal results.
Keywords: Constructability, clash detection, clash avoidance, BIM, IPD
Kemajuan teknologi informasi dalam industri konstruksi mendorong penggunaan Building Information Modeling (BIM) dalam proyek dengan metode Integrated Project Delivery (IPD) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan proyek. BIM memungkinkan koordinasi lintas disiplin melalui fitur clash detection dan clash avoidance guna mendeteksi serta mencegah benturan antar elemen desain sejak tahap awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran BIM dalam mengoptimalkan konstruktabilitas proyek IPD melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi BIM dan IPD tidak hanya mendukung kolaborasi antarpemangku kepentingan tetapi juga mengurangi kesalahan desain, mempercepat waktu pelaksanaan, dan menekan biaya konstruksi. Namun, beberapa keterbatasan, seperti ketergantungan pada kualitas data input, komunikasi antardisiplin, serta teknologi prediksi benturan, masih perlu diatasi untuk mencapai hasil yang optimal
Inovasi Model Pembelajaran Geografi Melalui Teaching at The Right Level Untuk Meningkatkan Critical Thinking dan Problem Solving pada Kurikulum Merdeka
Critical thinking and problem solving are skills needed by students to deal with the complexity and ambiguity of information. The teaching at the right level (TaRL) approach is a learning approach that orients students to learn in a learning design based on ability levels. The implementation of the Kurikulum Merdeka (Independent Curriculum) is one of the efforts aimed at developing students' character as well as their critical thinking and problem-solving skills. The purpose of this study is to develop a geography learning model that utilizes the teaching at the right level approach to enhance critical thinking and problem-solving skills within the framework of the Independent Curriculum. This research method uses research and development, using a 4D development model (four-D model) with stages, namely, define, design, develop, and disseminate. The subjects of this study included validators, who were geographylecturers and teachers, as well as students from SMA Negeri 2 and SMA Negeri 7 in Banda Aceh. Data collection techniques used feasibility test sheets, tests, and questionnaires, which were analyzed with N-gain. Research Results: At the defining stage, the division of heterogeneous student groups made it difficult for teachers to develop students' critical thinking skills. The designing stage consisted of designing teaching modules, student worksheets, and assessment instruments. The development stage, expert validation, content, and construction of the developed model fall into the category of highly feasible implementation. During the dissemination stage, student N-gain increased by 50% in the medium category and by 23.3% in the high category. Student responses to the learning model were in the very good category, with a percentage of 93.8%.Critical thinking dan problem solving merupakan keterampilan yang diperlukan peserta didik untuk menghadapi kompleksitas dan ambiguitas informasi. Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL), yaitu pendekatan pembelajaran yang mengorientasikan peserta didik untuk belajar pada desain pembelajaran berbasis tingkat kemampuan. Implementasi Kurikulum merdeka merupakan salah satu upaya pengembangan karakter dan mengembangkan kemampuan critical thinking serta problem solving peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model pembelajaran geografi melalui Teaching at the Right Level untuk meningkatkan critical thinking dan problem solving pada Kurikulum Merdeka. Metode Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan (Research and Development), menggunakan model pengembangan 4D (four-D model) dengan tahapan yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan) dan dessimination (penyebaran). Subjek penelitian ini adalah validator yang merupakan dosen dan guru bidang studi Geografi serta peserta didik SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 7 Banda Aceh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan lembar uji kelayakan, tes dan angket, yang dianalisis dengan N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan termasuk kategori sangat layak untuk diimplementasikan. Hasil validasi ahli isi dan konstruk menujukan kategori sangat layak. Peningkatan N-gain siswa pada kategori sedang sebanyak 50% dan tinggi sebanyak 23,3%. Respon siswa terhadap model pembelajaran masuk ke kategori sangat baik dengan persentase 93,8%
LITERATURE REVIEW: KORELASI PENGETAHUAN TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI
Hypertension is often referred to as a “silent killer” because it is typically not accompanied by clinical symptoms, yet it silently damages vital organs in the body. Medication adherence among patients influencing the success of hypertension therapy, and medication adherence is strongly affected by the level of patient knowledge. The purpose of this literature review to analyze the relationship between patient knowledge and medication adherence based on previous studies. This review was conducted by searching primary literature in the PubMed and Google Scholar databases, focusing on articles published within the last 15 years, using keywords such as hypertension, medication adherence, and knowledge level. The results showed that there were 14 articles demonstrated a positive correlation between the level of hypertension-related knowledge and patient’s medication adherence. However, medication adherence is influenced by several factors, including the patient's motivation for treatment, the role of healthcare professionals, the accessibility of healthcare services, and the complexity of the therapy. Therefore, interventions aimed at improve medication adherence should not be limited to enhancing patient knowledge alone. Additional improvements can be made by strengthening the role of healthcare professionals to build patient trust, improving healthcare service systems, and selecting treatments that are appropriate to the patient's condition.Penyakit hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena biasanya tidak disertai penampakan gejala klinis, namun tanpa disadari merusak organ-organ yang vital di dalam tubuh. Keberhasilan terapi hipertensi salah satunya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatan dan kepatuhan tersebut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan pasien. Tujuan dari literature review ini untuk menganalisis hubungan pengetahuan pasien terhadap kepatuhan pengobatan berdasarkan beberapa penelitian terdahulu. Literature review ini dibuat dengan menelusuri pustaka primer pada database PubMed dan Google Scholar yang dipublikasi dalam 15 tahun terakhir menggunakan beberapa kata kunci, seperti hypertension, medication adherence, dan knowledge level. Hasil diperoleh artikel sebanyak 14 artikel yang menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pengetahuan terkait hipertensi terhadap kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Kepatuhan pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti motivasi pengobatan, peran tenaga kesehatan, kemudahan akses layanan kesehatan, dan kompleksitas terapi, sehingga intervensi untuk meningkatkan kepatuhan pasien tidak terbatas pada peningkatan pengetahuan pasien. Perbaikan lain yang dapat dilakukan dengan meningkatkan peran tenaga kesehatan untuk menigkatkan kepercayaan pasien, perbaikan sistem layanan kesehatan, dan pemilihan terapi yang sesuai kondisi pasien
POTENSI DESA WISATA BUDAYA SANGKANHURIP
Kabupaten Bandung merencanakan Desa Sangkanhurip untuk menjadi desa wisata. Untuk itu, diperlukan kajian mengenai potensi wisata sebagai daya tarik utama. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui wawancara terhadap perangkat desa dan masyarakat. Ditemukan kuatnya potensi wisata budaya yang menekankan pada pelibatan masyarakat, pelestarian budaya, serta potensi lokal sebagai daya tarik utama. Potensi tersebut terdiri dari pertunjukan seni budaya, padepokan silat, sanggar seni, produksi alat musik calung dan sangkar burung dari bambu, serta produk pangan lokal lamaya dan produk pangan inovatif lainnya. Kondisi saat ini menunjukkan adanya dukungan dari masyarakat, BUMDes, Karang Taruna, dan PKK di desa sebagai partisipasi masyarakat lokal
Eng
Craft products are among the most intricate and unique artifacts produced by indigenous people in the Malay Peninsula. They have also become a major attraction for tourists to come and visit Malaysia. For hundreds of years, the indigenous people known as Orang Asli have extensively produced different art forms that reflect their philosophy and belief system. This study aimed to investigate in-depth the artistic expressions of craft motifs and ornaments produced by Orang Asli, specifically in Kuala Lipis Pahang, Malaysia. The objectives of this study were to determine the types of motifs in Orang Asli craftwork; to investigate the different elements of motifs that appear in Orang Asli craftwork; and to analyze the meaning embedded in selected motifs of Orang Asli craftwork. This study employed a case study approach through a series of interviews with experts, or traditional craftsmen, followed by observations as well as document analysis. This study highlights the beauty of traditional Orang Asli craftsmanship, which needs to be revisited and showcased in order to preserve their important culture and heritage for future generations