ITB Journal
Not a member yet
5999 research outputs found
Sort by
Unveiling the Dynamics: An Inclusive Study on How Social Media is Impacting Purchase Intentions in the Ever-Evolving Travel World
This research explores the notable changes brought about by“social media on consumers' buying intentions in the travel sector. To achieve this, we utilized Davis's Technology Acceptance Model (TAM) from 1989, while introducing two additional factors: Trust and Tourists' Motivation, alongside Electronic Word-of-Mouth (E-WOM). The study employed a convenience sampling method and gathered data through an online survey instrument. Participants included Indian customers, and the collected data was analyzed using PLS 4.0 software. Results indicate that integrating TAM with elements of tourist motivation, trust, and E-WOM provides a robust framework for understanding how social media is shaping purchase intentions in the dynamic travel industry. The study highlights the necessity for further investigation into this topic, which will enhance our comprehension of the various factors influencing how social media impacts purchasing intentions in the continually evolving travel landscape. It is important to note that the research is focused solely on the Indian market. This research stands out by specifically examining the role of social media in influencing purchase intentions within the travel sector. Although social media has been extensively studied in other areas like fashion and hospitality, this study contributes a new perspective on its empathetic effects
Argument-Mapping menggunakan ChatGPT untuk Meningkatkan Kualitas Argumen Ilmiah bagi Mahasiswa
This study explores the impact of Argument Mapping (AM) assisted by ChatGPT on students' ability to write scientific arguments. While AM has been shown to enhance argumentative skills, there is limited research on integrating generative technologies like ChatGPT into the AM model for writing instruction. This study examines ChatGPT's role in helping students in the Nursing and Primary School Teacher Education (PGSD) programs develop clearer and more logical argument structures. A mixed-methods explanatory sequential design was used, incorporating quantitative pre- and post-tests to measure improvements in argumentative writing and qualitative semi-structured interviews to gather students' perceptions. Results show that AM supported by ChatGPT significantly enhances students' argumentative writing skills, particularly in clarity and argument structure in depth. The findings suggest that ChatGPT aids writing and fosters critical thinking. However, ethical considerations, including plagiarism awareness, are important when using this technology. This study contributes to the literature by highlighting AI's potential to improve argumentative writing skills and promoting the integration of technology in education for developing critical thinking.Penelitian ini mengeksplorasi dampak Pemetaan Argumen (Argument Mapping/AM) yang dibantu oleh ChatGPT terhadap kemampuan mahasiswa dalam menulis argumen ilmiah. Meskipun AM telah terbukti meningkatkan keterampilan berargumentasi, penelitian yang mengintegrasikan teknologi generatif seperti ChatGPT ke dalam model AM untuk pembelajaran menulis masih terbatas. Penelitian ini mengkaji peran ChatGPT dalam membantu mahasiswa program Keperawatan dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam mengembangkan struktur argumen yang lebih jelas dan logis. Desain metode campuran sekuensial eksplanatori digunakan dalam mengintegrasikan prates dan pascates kuantitatif untuk mengukur peningkatan kemampuan menulis argumentatif. Wawancara semiterstruktur kualitatif digunakan untuk mengumpulkan persepsi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan AM yang didukung oleh ChatGPT secara signifikan meningkatkan keterampilan menulis argumentatif mahasiswa, khususnya dalam hal kejelasan dan kedalaman struktur argumen. Temuan ini menunjukkan ChatGPT tidak hanya membantu proses menulis, tetapi juga mendorong pemikiran kritis. Namun demikian, pertimbangan etis, termasuk kesadaran mengenai plagiarisme, penting untuk diperhatikan dalam penggunaan teknologi ini. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur dengan menyoroti potensi AI dalam meningkatkan keterampilan menulis argumentatif dan mendorong integrasi teknologi dalam pendidikan untuk mengembangkan pemikiran kritis
Analisis Pemrograman Preservasi Jalan dengan Strategi Penanganan Sementara (Back-fall Strategy) Skala Jaringan menggunakan Metode IRMS V.3 dan MEPDG 2015
Abstrak
Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi metode prediksi kondisi jalan antara MEPDG 2015 dan IRMS V.3 sebagai dasar pemrograman preservasi jalan pada skala jaringan. Studi dilakukan pada enam ruas jalan nasional Pantura sepanjang 55,87 km dengan karakteristik lalu lintas beragam. Prediksi IRI metode MEPDG 2015 dihitung menggunakan pendekatan mekanistik-empiris dengan tiga jenis kalibrasi (Global, Arizona, dan Oregon), serta bantuan software ELMOD 6 dan KENPAVE. IRMS V.3 menggunakan pendekatan empiris berbasis data historis. Hasil prediksi dibandingkan dengan data aktual tahun 2021–2023 untuk menghitung deviasi relatif, kemudian dianalisis dalam program preservasi selama 20 tahun dengan dua skenario: unconstrained budget dan constrained budget menggunakan Back-fall Strategy (strategi menunda, bertahap, dan holding). MEPDG 2015 kalibrasi Oregon menunjukkan deviasi relatif terkecil (−15,48%) dan merupakan metode paling akurat. Dalam kondisi tanpa batasan anggaran, metode ini lebih hemat dibanding IRMS V.3. Dalam keterbatasan anggaran, strategi holding dengan MEPDG 2015 menghasilkan kemantapan jalan akhir 2–3 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan strategi lain, meskipun biayanya 1–2% lebih besar. Dengan demikian, MEPDG 2015 kalibrasi lokal Oregon dengan strategi holding direkomendasikan sebagai strategi terbaik saat terjadi keterbatasan anggaran di skala jaringan.
Kata-kata Kunci: Back-fall strategy, IRMS V.3, MEPDG 2015, preservasi.
Abstract
This study aims to compare the accuracy of road condition prediction methods between MEPDG 2015 and IRMS V.3 as a basis for network-level road preservation programming. The study was conducted on six continuous segments of the Pantura national road spanning 55.87 km with varying traffic characteristics. IRI prediction using the MEPDG 2015 method was calculated based on a mechanistic-empirical approach with three calibration types (Global, Arizona, and Oregon), supported by ELMOD 6 and KENPAVE software. Meanwhile, IRMS V.3 applies an empirical approach based on historical data. The prediction results were compared with actual field data from 2021–2023 to calculate relative deviation and analyzed in a 20-year preservation program under two budget scenarios: unconstrained and constrained budget using the Back-fall Strategy (postponed, gradual, and holding strategies). MEPDG 2015 with Oregon calibration showed the smallest relative deviation (−15.48%) and was the most accurate method. Under an unconstrained budget, it was also more cost-efficient than IRMS V.3. Under budget constraints, the holding strategy with MEPDG 2015 produced 2–3 times higher final road condition performance when compared to other strategies, despite requiring 1–2% more cost. Therefore, MEPDG 2015 with local Oregon calibration and holding strategy is recommended as the best option under limited budget conditions at the network level.
Keywords: Back-fall strategy, IRMS V.3, MEPDG 2015, preservation.Abstrak
Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi metode prediksi kondisi jalan antara MEPDG 2015 dan IRMS V.3 sebagai dasar pemrograman preservasi jalan pada skala jaringan. Studi dilakukan pada enam ruas jalan nasional Pantura sepanjang 55,87 km dengan karakteristik lalu lintas beragam. Prediksi IRI metode MEPDG 2015 dihitung menggunakan pendekatan mekanistik-empiris dengan tiga jenis kalibrasi (Global, Arizona, dan Oregon), serta bantuan software ELMOD 6 dan KENPAVE. IRMS V.3 menggunakan pendekatan empiris berbasis data historis. Hasil prediksi dibandingkan dengan data aktual tahun 2021–2023 untuk menghitung deviasi relatif, kemudian dianalisis dalam program preservasi selama 20 tahun dengan dua skenario: unconstrained budget dan constrained budget menggunakan Back-fall Strategy (strategi menunda, bertahap, dan holding). MEPDG 2015 kalibrasi Oregon menunjukkan deviasi relatif terkecil (−15,48%) dan merupakan metode paling akurat. Dalam kondisi tanpa batasan anggaran, metode ini lebih hemat dibanding IRMS V.3. Dalam keterbatasan anggaran, strategi holding dengan MEPDG 2015 menghasilkan kemantapan jalan akhir 2–3 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan strategi lain, meskipun biayanya 1–2% lebih besar. Dengan demikian, MEPDG 2015 kalibrasi lokal Oregon dengan strategi holding direkomendasikan sebagai strategi terbaik saat terjadi keterbatasan anggaran di skala jaringan.
Kata-kata Kunci: Back-fall strategy, IRMS V.3, MEPDG 2015, preservasi.
Abstract
This study aims to compare the accuracy of road condition prediction methods between MEPDG 2015 and IRMS V.3 as a basis for network-level road preservation programming. The study was conducted on six continuous segments of the Pantura national road spanning 55.87 km with varying traffic characteristics. IRI prediction using the MEPDG 2015 method was calculated based on a mechanistic-empirical approach with three calibration types (Global, Arizona, and Oregon), supported by ELMOD 6 and KENPAVE software. Meanwhile, IRMS V.3 applies an empirical approach based on historical data. The prediction results were compared with actual field data from 2021–2023 to calculate relative deviation and analyzed in a 20-year preservation program under two budget scenarios: unconstrained and constrained budget using the Back-fall Strategy (postponed, gradual, and holding strategies). MEPDG 2015 with Oregon calibration showed the smallest relative deviation (−15.48%) and was the most accurate method. Under an unconstrained budget, it was also more cost-efficient than IRMS V.3. Under budget constraints, the holding strategy with MEPDG 2015 produced 2–3 times higher final road condition performance when compared to other strategies, despite requiring 1–2% more cost. Therefore, MEPDG 2015 with local Oregon calibration and holding strategy is recommended as the best option under limited budget conditions at the network level.
Keywords: Back-fall strategy, IRMS V.3, MEPDG 2015, preservation
Erratum: Geometric Approach to Predator-Prey Model with Carrying Capacity on Prey Population
This erratum addresses inaccuracies found in the figure captions of the article titled "Geometric Approach to Predator-Prey Model with Carrying Capacity on Prey Population" [Marshellino, Tasman, H. and Rusin, R., Communication in Biomathematical Sciences, 7(2), pp. 162-176, 2024. DOI: 10.5614/cbms.2024.7.2.1]
PERAN PENTING TOKOH SRIKANDI SEBAGAI TOKOH TRANSEKSUAL DALAM MAHABARATA JAWA KARYA NANO RIANTIARNO
Penelitian ini mengupas keberadaan tokoh Srikandi, tokoh transseksual dalam kisah Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Tujuan penelitian ini adalah membedah bagaimana Srikandi ditampilkan dalam kisah Mahabarata sebagai wakil dari komunitas transgender dan transseksual serta posisinya dalam alur utama cerita. Penjabaran hasil pembacaan dekat mengenai Srikandi dalam teks Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno digunakan untuk menemukan posisi Srikandi. Hasil analisis menunjukkan tokoh Srikandi memiliki arti nama dan posisi penting dalam kisah Mahabarata. Ia menjadi kunci dari kemenangan Pandawa melawan pasukan Kurawa. Srikandi yang dididik layaknya anak laki-laki, berlaku dan berdandan seperti lelaki, dan bertukar kelamin dengan seorang raksasa ditampilkan sebagai kesatria yang gagah dan berani. Peran tokoh srikandi dalam kisah Mahabarata Jawa memperlihatkan pada pembaca, kelompok transgender dan transeksual serta transformasi mereka bisa menjadi kunci dari keberhasilan suatu perjuangan mencapai tujuan. Mereka juga pantas mendapatkan peran penting di tengah masyarakat.Penelitian ini berusaha mengupas keberadaan tokoh Srikandi dalam kisah Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno yang merupakan seorang transseksual. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis data deskriptif analitis. Data didapatkan melalui kegiatan studi literatur. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Srikandi ditampilkan dalam kisah Mahabarata dalam konteks mewakili komunitas transgender dan transseksual serta posisinya dalam alur utama cerita. Penjabaran hasil pembacaan dekat mengenai Srikandi dalam teks Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno akan dianalisis lebih lanjut untuk menemukan posisi Srikandi seperti yang tertulis dalam tujuan penelitian. Hasil analisis menunjukkan tokoh Srikandi memiliki arti nama dan posisi penting dalam kisah Mahabarata. Ia menjadi kunci dari kemenangan Pandawa melawan pasukan Kurawa. Srikandi yang dididik layaknya anak laki-laki, berlaku dan berdandan seperti lelaki dan melakukan pertukaran kelamin dengan seorang raksasa untuk menuntaskan masalahnya ditampilkan sebagai kesatria yang gagah dan berani. Transformasi Shikhandi menjadi pria adalah elemen kunci yang memungkinkan penuntasan dendam Amba dan berkontribusi signifikan terhadap kemenangan Pandawa dalam perang besar ini. Sama seperti Shikhandi, Srikandi dan peralihannya dari perempuan menjadi pria adalah kunci dari pembalasan dendam Amba dan kemenangan Pandawa
The Role of e-Government in Bogor City’s Smart City Strategy toward SPBE Enhancement
The increase in the electronic-based government system (SPBE) has increased by 4% throughout 2024 in Bogor City, showing the success of Bogor City's smart city in the aspect of e-goverment. On the other hand, Bogor City also has many awards. Therefore, this research will analyze the smart city strategy through e-government as an example of digital services. This research employs a qualitative method with a constructivist paradigm and a case study approach as proposed by Creswell. The case analyzed represents a positive example of how Bogor City has successfully implemented its smart city initiatives through the concept of e-governance. Data in this study were collected through in-depth interviews with six participants, consisting of three key informants, two supporting informants, and one expert informant. Data were analyzed using thematic analysis with the assistance of NVivo software to construct an understanding of Bogor City’s e-government strategies in enhancing the SPBE implementation. This study indicates that the Government of Bogor City has effective strategies like (1) strategic orientation and stakeholder mapping, (2) substantive policy underpinnings, and (3) symbolic action and hooked tagline. Implementation in Bogor smart city is (1) urban infrastructure and experiential signals, (2) strategic publicity and digital presence, and (3) public opinion and responsive governance.Peningkatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebesar 4% sepanjang tahun 2024 di Kota Bogor menunjukkan keberhasilan smart city Kota Bogor dalam aspek e-government. Di sisi lain, Kota Bogor juga telah meraih banyak penghargaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis strategi smart city melalui e-government sebagai contoh layanan digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan pendekatan studi kasus sebagaimana dikemukakan oleh Creswell. Kasus yang dianalisis merepresentasikan contoh positif tentang bagaimana Kota Bogor berhasil mengimplementasikan inisiatif smart city melalui konsep e-governance. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam partisipan, terdiri dari tiga informan kunci, dua informan pendukung, Peningkatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebesar 4% sepanjang tahun 2024 di Kota Bogor menunjukkan keberhasilan smart city Kota Bogor dalam aspek e-government. Di sisi lain, Kota Bogor juga telah meraih banyak penghargaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis strategi smart city melalui e-government sebagai contoh layanan digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan pendekatan studi kasus sebagaimana dikemukakan oleh Creswell. Kasus yang dianalisis merepresentasikan contoh positif tentang bagaimana Kota Bogor berhasil mengimplementasikan inisiatif smart city melalui konsep e-governance. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam partisipan, terdiri dari tiga informan kunci, dua informan pendukung
Desain Minimum Revenue Guarantee dan Clawback pada Proyek KPBU Jalan Tol: Kerangka Konseptual Berbasis Risiko
Abstrak
Proyek jalan tol secara alamiah melibatkan risiko dan ketidakpastian pendapatan yang signifikan. Untuk meningkatkan daya tarik investasi, pemerintah berbagi risiko dengan investor melalui instrumen Minimum Revenue Guarantee dan/atau Clawback (MRGÅCB). Tulisan ini memaparkan kerangka konseptual berbasis risiko untuk menguantifikasi nilai dan dampak MRGÅCB terhadap proyek dan pemerintah untuk keperluan desain alokasi risiko yang berimbang. Tulisan ini menggunakan pendekatan teoretis dan analitis dengan menitikberatkan pada pemodelan kerangka konseptual yang dapat menjadi landasan kebijakan dalam mendesain MRGÅCB bagi proyek-proyek infrastruktur yang memiliki risiko pendapatan tinggi. Capital Asset Pricing Model digunakan sebagai dasar teoretis yang diterapkan pada model satu periode. Instrumen MRG meningkatkan nilai proyek dengan meningkatkan ekspektasi pendapatan proyek dan mengurangi risiko pendapatan. Sebaliknya, CB menurunkan ekspektasi pendapatan dan risiko pendapatan sehingga dampak terhadap penurunan nilai proyek tergantung desain instrumen. Dukungan finansial yang diberikan melalui MRGÅCB dapat didesain ekuivalen dengan skema Availability Payment. Tiga skenario risiko pendapatan dianalisis untuk menentukan desain optimal instrumen MRGÅCB, dan pada setiap skenario, berbagai opsi desain alokasi risiko diusulkan. Hasil perhitungan divalidasi menggunakan simulasi Monte Carlo. Tulisan ini juga menguraikan implikasi kebijakan bagi pemerintah saat mempertimbangkan implementasi MRGÅCB. Temuan ini berkontribusi pada pendekatan yang lebih terstruktur dalam merancang mekanisme berbagi risiko untuk investasi jalan tol.
Kata-kata kunci: Jaminan pendapatan minimum, clawback, risiko pendapatan, Capital Asset Pricing Model, jalan tol.
Abstract
Toll road projects inherently involve significant revenue risks and uncertainties. To enhance investment attractiveness, governments may share these risks with investors through Minimum Revenue Guarantee and/or Clawback (MRGÅCB) instruments. This paper proposes a risk-based conceptual framework to quantify the value and impact of MRGÅCB on both the project and the government, serving as a foundation for balanced risk allocation design. A theoretical and analytical approach is adopted, applying the Capital Asset Pricing Model to a single-period model. The MRG instrument increases project value by raising expected revenues and reducing revenue risk. Conversely, the CB instrument lowers both expected revenues and risk, and its net effect on project value depends on its design. Financial support through MRGÅCB can be structured to mirror an availability payment scheme. Three revenue risk scenarios are analyzed to explore optimal instrument design, with alternative risk allocation strategies proposed for each. Monte Carlo simulations are used to validate the model. This paper outlines policy implications for governments considering the implementation of MRGÅCB and contributes to a more structured approach to designing revenue risk-sharing mechanisms in toll road investments.
Keywords: Minimum revenue guarantee, clawback, revenue risk, Capital Asset Pricing Model, toll roads.Abstrak
Proyek jalan tol secara alamiah melibatkan risiko dan ketidakpastian pendapatan yang signifikan. Untuk meningkatkan daya tarik investasi, pemerintah berbagi risiko dengan investor melalui instrumen Minimum Revenue Guarantee dan/atau Clawback (MRGÅCB). Tulisan ini memaparkan kerangka konseptual berbasis risiko untuk menguantifikasi nilai dan dampak MRGÅCB terhadap proyek dan pemerintah untuk keperluan desain alokasi risiko yang berimbang. Tulisan ini menggunakan pendekatan teoretis dan analitis dengan menitikberatkan pada pemodelan kerangka konseptual yang dapat menjadi landasan kebijakan dalam mendesain MRGÅCB bagi proyek-proyek infrastruktur yang memiliki risiko pendapatan tinggi. Capital Asset Pricing Model digunakan sebagai dasar teoretis yang diterapkan pada model satu periode. Instrumen MRG meningkatkan nilai proyek dengan meningkatkan ekspektasi pendapatan proyek dan mengurangi risiko pendapatan. Sebaliknya, CB menurunkan ekspektasi pendapatan dan risiko pendapatan sehingga dampak terhadap penurunan nilai proyek tergantung desain instrumen. Dukungan finansial yang diberikan melalui MRGÅCB dapat didesain ekuivalen dengan skema Availability Payment. Tiga skenario risiko pendapatan dianalisis untuk menentukan desain optimal instrumen MRGÅCB, dan pada setiap skenario, berbagai opsi desain alokasi risiko diusulkan. Hasil perhitungan divalidasi menggunakan simulasi Monte Carlo. Tulisan ini juga menguraikan implikasi kebijakan bagi pemerintah saat mempertimbangkan implementasi MRGÅCB. Temuan ini berkontribusi pada pendekatan yang lebih terstruktur dalam merancang mekanisme berbagi risiko untuk investasi jalan tol.
Kata-kata kunci: Jaminan pendapatan minimum, clawback, risiko pendapatan, Capital Asset Pricing Model, jalan tol.
Abstract
Toll road projects inherently involve significant revenue risks and uncertainties. To enhance investment attractiveness, governments may share these risks with investors through Minimum Revenue Guarantee and/or Clawback (MRGÅCB) instruments. This paper proposes a risk-based conceptual framework to quantify the value and impact of MRGÅCB on both the project and the government, serving as a foundation for balanced risk allocation design. A theoretical and analytical approach is adopted, applying the Capital Asset Pricing Model to a single-period model. The MRG instrument increases project value by raising expected revenues and reducing revenue risk. Conversely, the CB instrument lowers both expected revenues and risk, and its net effect on project value depends on its design. Financial support through MRGÅCB can be structured to mirror an availability payment scheme. Three revenue risk scenarios are analyzed to explore optimal instrument design, with alternative risk allocation strategies proposed for each. Monte Carlo simulations are used to validate the model. This paper outlines policy implications for governments considering the implementation of MRGÅCB and contributes to a more structured approach to designing revenue risk-sharing mechanisms in toll road investments.
Keywords: Minimum revenue guarantee, clawback, revenue risk, Capital Asset Pricing Model, toll roads
Enhancing Security of Databases through Anomaly Detection in Structured Workloads
In today’s world, the protection of databases in any global organization has become paramount due to the rapid growth of data and the new generations of cyber threats. This highlights the need for more enhanced security precautions to secure these databases containing sensitive information. One of the most advanced ways of enhancing database security is using an anomaly detection system, especially for structured workloads. Structured workloads typically exhibit predictable patterns of data access and usage, making them susceptible to displaying anomalies that may indicate unauthorized access, data manipulation, or other security breaches. Anomaly detection methods can identify patterns that are unusual, an indication of malicious activity, or a data security breach. The present research utilized the Isolation Forest algorithm to detect outliers in high-dimensional data sets. The main contribution and novelty of this research lies in leveraging the Isolation Forest algorithm for structured database workloads to proactively identify and mitigate potential security threats. Our study showed that the proposed model, with an accuracy of 85%, outperformed various state-of-the-art methods. Furthermore, anomaly detection systems powered by advanced algorithms and machine learning enable real-time database activities analysis, addressing challenges like preprocessing, model training and scalability
AUGMENTED REALITY CHILDREN STORYBOOK TIMUN MAS MEMBENTUK PERSEPSI VISUAL ANAK USIA DINI
Technology-based visual literacy reading activities are an implementation of the smart education concept that is starting to be popularly introduced to the digital native generation. The strategy to combine the power of visual-based learning media and virtual reality technology is a new innovation that seeks to present a more interesting and enjoyable reading experience for early childhood. The research aims to examine how the Augmented Reality Children Storybook (ARCS) Timun Mas media can shape early childhood cognitive-visual responses. The research was conducted using a qualitative case study method on children aged 4-6 years at Darrunajwa Kindergarten, Jombang District, East Java. The data collection techniques chosen to obtain in-depth information were observation, interviews, literature study, and documentation. The results showed that the Augmented Reality-based Timun Mas storybook media can form five indicators of children's visual-cognitive abilities including visual sensory, visual attantion, visual memory, visual spatial relation, and visual sequention memory. The visual response will then form a better visual perception of children towards the forms of visual elements, storylines to moral messages contained in the ARCS Timun Mas.Kegiatan membaca literasi visual berbasis teknologi merupakan implementasi dari konsep smart education yang mulai populer diperkenalkan kepada generasi digital native. Strategi untuk menggabungkan kekuatan media pembelajaran berbasis visual dan teknologi virtual reality merupakan inovasi baru yang berusaha menghadirkan pengalaman membaca yang lebih menarik dan menyenangkan untuk anak usia dini. Penelitian bertujuan untuk meneliti bagaimana media Augmented Reality Children Storybook (ARCS) Timun Mas dapat membentuk respon kognitif-visual anak usia dini. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus pada pada anak-anak usia 4-6 tahun di TK Darrunajwa Kecamatan Jombang, Jawa Timur. Teknik pengumpulan data yang dipilih untuk mendapatkan informasi secara mendalam adalah observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Buku cerita Timun Mas berbasis Augmented Realitydapat membentuk lima indikator kemampuan kognitif-visual anak diantaranya visual sensory, visual attantion, visual memory, visual spatial relation, dan visual sequention memory. Respon visual tersebut selanjutnya akan membentuk persepsi visual anak yang lebih baik terhadap bentuk-bentuk elemen visual, alur cerita hingga pesan moral yang terkandung pada media ARCS Timun Mas
Lighting for the Elderly in the Interior of Santa Maria Fatima Church, Magelang
The church is a place for religious communities to worship. Architecture within the church can be used to create spiritual experiences and strengthen religious identity. One of the elements capable of facilitating spiritual experiences for the congregation is the element of enlightenment. In addition to serving to arouse a spiritual atmosphere in the church, lighting also serves as a symbol of religion and illumination in the space. In the case study of the Church of St. Mary Fatima Magelang, the church is undergoing a reconstruction process in which the old church will be established and rebuilt using a new design. One of the special conditions of the church of Santa Maria Fatima Magelang is that the majority of the congregation in the church is elderly. The aim of this research is to find natural and artificial lighting designs that can provide visual comfort to the elderly during worship and maintain the spiritual atmosphere in the church of St. Mary Fatima Magelang. This research uses quantitative descriptive methods. The result of this study is the addition of vertical shading to the east side opening to regulate the intensity of light entering the worship room. In the case of artificial lighting, a number of applications of lighting colors, lighting types, angles, and lighting arrangements correspond to the Model 3 study, which has proven to provide visual comfort to the elders as well as a spiritual atmosphere at Mass